Post is pinned.Post has attachment

Post has attachment
Ternyata Mengenalkan TPA / TPQ Pada Anak Itu Mudah Lhoo..

Bismillah, kami coba share bagaimana cara kami mengenalkan TPA pada anak kami. Sehingga saat sudah masuk TPA, anak kami semangat untuk belajar disana, meski beberapa kali menangis saat sudah masuk fase dilatih untuk sendiri di kelas. Semangat perang Badar masih menggelora dalam jiwanya. :) Berikut ini yang 'kronologi'nya.

Pertama, anak kami akrab dengan anak rekan kami yang sudah TPA, kemudian kami beritahu soal aktivitas anak tersebut pada anak kami. Ini sebagai langkah awal untuk mengenalkan TPA pada anak. Sebelumnya dirumah sudah dibentuk dulu kegemaran membaca dan menuntut ilmu ya..

Dua, kami melakukan survey ke TPA anak rekan kami tersebut. Jadi pertemanan di point pertama itu pertemanan tertarget ya. Saat survey usahakan anak melihat temannya tersebut. Hal ini berguna agar nanti saat anak masuk TPA tersebut sudah punya 'modal' pertemanan.

Tiga, lakukan proses diskusi atau dialog dengan anak tentang asyiknya belajar dan menuntut ilmu dalam Islam. Sehingga anak lebih terdorong untuk belajar membaca Al Quran di TPA.

Empat, dampingi ananda untuk belajar di TPA. Perhatian yang tulus dan ikhlas dari orangtuanya insyaa Allah akan mampu meluluhkan hati si kecil untuk menerima proses belajar mengajar di TPA.

Semoga 4 hal yang kami lakukan diatas bisa bermanfaat buat Sahabat semua. Bagaimana untuk mengenalkan TPA pada anak dimana tidak ada teman sama sekali disana? Kami rasa point 2 (meski belum ada teman disana), 3 dan 4 sudah bisa mencukupi insyaa Allah.


+Kaos Bapak Sholeh
~ Inspiring Muslim Family
Photo

Post has attachment

Post has attachment
Kereta Prameks dan Lunturnya Kebaikan Sebagian Manusia..


Edisi lebaran kali ini kami pergi mudik ke beberapa tempat. Salah duanya adalah Klaten dan Sukoharjo. Dengan pertimbangan efektifitas, kami memilih menggunakan kereta Prameks, mengingat jalan raya Jogja ke Klaten sering macet saat hari libur lebaran. Ditambah istri sedang hamil dan ada 2 anak kami yang masih berusia 3 tahun dan 1,5 tahun.

Selasa pagi kami berangkat ke statiun Lempuyangan dan membeli tiket Prameks. Sebagaimana layaknya libur lebaran, penumpang kereta api juga banyak bertumpuk. Setelah meunggunggu akhirnya kereta datang dan kami berempat pun mulai naik. Kami mulai meluncur mencari kursi cadangan untuk orang tua, yang membawa anak serta, orang sakit atau ibu hamil. Karena ramai, kursi cadangan sudah dipakai oleh orang lain. Seorang ibu yang duduk di kursi cadangan menyarankan kami untuk ke belakang, katanya masih kosong. Karena tidak mau gambling akhirnya kami tetap berdiri hingga ke stasiun Klaten. Apakah tidak ada orang yang melihat kami membawa anak-anak kecil. Kami yakin ada, namun seakan setiap orang merasa 'berhak' atas kursi dan merasa nyaman dengan keadaan mereka.

Sehari kemudian, setelah 1 malam ditempat saudara di Klaten, kami berlanjut ke Sukoharjo, di kereta Prameks kami juga mengalami hal yang sama, tidak ada orang yang legowo untuk memberikan kursi mereka pada orang yang membawa 2 anak balita. Yang lebih mengherankan lagi adalah kejadian saat pulang dari Sukoarjo ke Jogja. Dimana di dekat kami ada anggota TNI AU aktif (kami tidak ambil foto bapak tersebut, semoga tidak dianggap hoax..) yang gagah perkasa, namun tetap tidak bergeming melihat ada anak balita duduk dibawah didepannya. Astaghfirullah..

Kami menyadari bahwa kehidupan kapitalisme sekuler saat ini menciptakan individu yang banyak memikirkan diri sendiri (individualis). Namun tidak disangka sedemikian 'bebal' dan cuek terhadap kondisi seperti yang kami alami di kereta tempo hari. Kejadian di kreta tersebut hanyalah satu potret kecil kehidupan kita, dalam aktivitas lainnya, banyak juga orang yang 'tega' seperti itu.. Orang baik semakin langka, kalau kata orang-orang..

Kami yakin, jika sentuhan islam dalam setiap sendi kehidupan diterapkan, akan banyak memunculkan orang-orang yang peduli akan orang lain. Dan semoga kita bisa mendidik diri kita dan anak istri kita untuk peduli dengan nasib orang lain...


Kaos Bapak Sholeh
~ Inspiring Muslim Family
Photo

Post has attachment
Menjadi calon pengantin terkadang harus mempersiapkan banyak hal sebelum hari H pernikahan. Berbagai kegiatan dilakukan oleh calon mempelai pria maupun wanita, meskipun calon mempelai wanita lebih dominan untuk mempersiapkan pernikahan. Contoh kegiatan yang bisa jadi sahabat lakukan adalah meeting dengan pihak catering, wedding organizer, jasa foto pernikahan. Selain itu juga masih harus memutuskan banyak perkara yang akan mempengaruhi pskis yang bisa berakibat pada kurangnya jam tidur serta rasa lelah. Jangan sampai ketika pas hari pernikahan calon mempelai jatuh sakit. Tentu hal ini tidak kita inginkan bukan?

Banyaknya kegiatan yang menuntut fokus kita juga bisa menjadikan kita lupa akan jam makan. Terkadang makan dengan makanan seadanya tanpa memperhatikan asupan nutrisi. Padahal saat tubuh melakukan aktivitas yang banyak, selain istirahat yang cukup juga diperlukan nutrisi yang mencukupi. Yang menjadi harapan kita adalah saat hari pernikahah kondisi pasangan pengantin segar bugar dan menjalani segala aktivitas pada saat pernikahan dan pasca pernikahan (malam pertama, pembubaran panitia atau silah ukhuwah ke saudara) dengan lancar.

More :

Melihat Anak Makan Lahap Adalah Rizki..

Banyak orangtua yang "mumet" karena anaknya tidak mau makan. Bukan karena tidak punya makanan, bahkan berlebih dan mewah. Tentu hal tersebut menjadi beban pikiran tersendiri bagi ayah bunda. Apalagi saat melihat tubuh ananda tambah kecil dari hari kehari.

Kami bersyukur karena dikaruniai 2 orang anak yang Alhamdulillah sampai saat ini masih dalam tahap doyan atau bahkan lahap jika soal makanan, yang mana tips yang kami terapkan sudah pernah dishare beberapa waktu lalu.

Bagian yang tak kalah penting selain mengupayakan area yang bisa dikuasai semaksimal mungkin adalah, bahwa apa yang terjadi pada kami ini merupakan karunia dari Sang Pencipta. Sebuah Rizki dari Nya. Mari lakukan bagian kita sebagai orangtua yang membuat pantas mendapatkan karunia dari Nya.

Suryono

Founder +Kaos Bapak Sholeh


#notetomyself
#anaklucu
#anaksholeh

Post has attachment
Banyak kejadian anak-anak tidak memiliki adab kepada orang yang lebih tua. Kondisi ini akan berbahaya manakala sampai dewasa. Smoga tips menanamkan adab bagi anak ini bermanfaat..

1. Tanamkanlah akidah yang kuat pada anak | Aqidah yang kuat membuat anak tanpa ragu berakhlaq Islam #adabAnak

2. Tanamkan pemahaman bahwa adab dan sopan-santun merupakan bagian dari akhlak terpuji, yang merupakan bagian dari hukum syariah. #adabAnak

3. Ajarkanlah keteladanan Rasulullah dalam memelihara adab dan sopan-santun disetiap kesempatan. #adabAnak

4. Berilah keteladanan kepada anak dari orangtua dan orang-orang terdekat | Perlu komunikasi intern ayah bunda dan sanak saudara. #adabAnak

5. Biasakanlah mengucapkan kalimat thayyibah. #adabAnak

6. Jauhkan anak dari lingkungan yang buruk. #adabAnak

7. Selektiflah orangtua dalam memilihkan program tayangan media untuk anak, jika perlu tidak usah memiliki televisi :) #adabAnak

8. Bijaklah dalam memberi peringatan atau nasihat. #adabAnak

9. Ciptakanlah lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga sikap dan perilakunya. #adabAnak

Supported by Kaos Bapak Sholeh

https://kaosbapaksholeh.com
Photo

Post has attachment
14 Cara Mengasuh Anak..
Semoga bermanfaat.
PhotoPhotoPhotoPhotoPhoto
3/29/17
15 Photos - View album

Post has attachment

Pengantar

Kota pelajar berduka. Entah apa mau dikata ketika darah pelajar tertumpah ‘sia-sia’ di Yogyakarta. Ironi dan sungguh memprihatinkan. Beragam aksi kekerasan pelajar telah marak terjadi. Klitih, penganiayaan/bullying, perusakan sekolah bahkan tawuran kerap terdengar sebagai berita sehari-hari. Bahkan, peristiwa klitih pelajar tempo hari sampai berujung pada hilangnya nyawa. Tak diberitakan detil oleh media apa motif mereka. Apapun itu, tentunya tetap tidaklah dapat membuat tindakan anarkisme liar tersebut menjadi legal.

Assalamualaikum wa rohmatullaah wa barokaatuh
Kepada para pendidik anak yang dirohmati Allah SWT. ada hal yang ingin saya tanyakan tentang bagaimana cara mendidik dan membimbing anak, dimana anak yg sedang saya bimbing mengalami kesulitan untuk belajar namun sulit untuk diajak belajar. Bilamana waktunya belajar dia menangis, dengan alasan tidak bisa, capek, dan ingin menonton serial tv favoritnya. Dan saya bingung apa yang harus saya lakukan, sementara orang tua dari anak tsb menitipkan agar bisa baca. Dan saya yang belum berpengalaman menjadi orang tua mengalami kesulitan untuk menghadapi masalah ini. Mohon kiranya ada jawaban dari pertanyaan ini saya nanti sebagai bahan belajar saya menjadi pembimbing yang lebih baik.
Jazakumullaah
Wassalamu`alaikum wa rohmatullaahi wa batokaatuh.
Wait while more posts are being loaded