Hijrah . . .

 Aku…
Hanya seseorang yang ingin berhijrah
Perlahan, aku tinggalkan hal-hal yang mendekatkanku dengan kemaksiatan.
Godaan, rintangan, silih berganti menghampiriku.
Ejekan, cibiran bahkan pernah terdengar di telingaku…
Kehilangan teman, kehilangan kekasih pernah kurasakan..
Namun, aku bertanya..
Hijrah ini untuk siapa??

Masa laluku, buruk. Bahkan sangat buruk.
Karena itu, aku ingin memperbaiki, aku tak tau kapan hidupku berakhir, aku tak tau kapan usiaku terhenti.
Yang aku tau, setiap hari usiaku semakin berkurang, namun dosaku semakin bertambha..

Dulu, aku seorang pendosa, bahkan sampai sekarang. Namun aku tau Allah Ya Ghafuur. Allah Maha Mengampuni. Karena itu aku putuskan untuk berhijrah..
Dulu, aku jarang melakukan ibadah, shalat hanya untuk menuntaskan kewajiban. Al-Quran hanya bisa kupandangi. Namun aku tau Allah Ya Fattah. Allah Maha Pembuka Rahmat. Karena itu kuputuskan untuk berhijrah..

Seseorang pasti mempunyai masa lalu yang buruk. Namun adakalanya hidayah itu dating. Hidayah selalu datang kepada kita, namun kita tidak segera meraihnya. Ya. Kita mengabaikannya. Yang kita lakukan hanyalah menunggu.. menunggu kapan hidayah itu akan menghampiri kita. Padahal, hidayah bukan untuk ditunggu, melainkan untuk diraih.

Ketika Allah sudah mengetuk hati kita, bukalah hati kita lebar-lebar. Perkenankan hidayah itu masuk ke dalam hati kita.
Jika kita meninggalkan sesuatu hal karena Allah. Yakinlah Allah pasti mengganti sesuatu itu dengan yang lebih baik.

Hijrah butuh proses. Hargailah proses hijrah seseorang. Jangan hanya bisa berkomentar lantaran masa lalunya yang buruk.
Namun cobalah untuk mengikuti jalan hijrahnya. Raihlah kemenangan itu. Inshaa Allah, Allah akan memudahkan jalan hijrahmu

Setiap manusia pasti mendapat beragam nikmat dari Allah.
Salah satunya adalah nikmat umur. Umur seseorang bisa pendek atau singkat dan bisa panjang. Pendek dan panjangnya usia tidak lepas karena takdir Allah. Karena titipan Allah maka menjadi kewajiban bagi umat untuk memanfaatkan dan memeliharanya.
Allah tidak mungkin memberi sesuatu yang tidak berfaedah kepa
da umatnya.
Kalau demikian mengapa kita tidak mengoptimumkannya? Mengapa masih saja ada yang bermalas-malasan dan melakukan maksiat sementara ada yang begitu aktif dan produktif melakukan ibadah seruan Allah?
Disinilah harus dipahami makna umur secara subtantif dan kaitannya dengan kewajiban kita di dunia.
Pertama : kita sadar hidup di dunia ini begitu singkat.
Kedua : agama selalu mengajarkan pada kita untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan.
Ketiga : janganlah pesimis dan berputus asa kalau akan dan sedang melakukan suatu kegiatan.

"tidak sakit"

Orang2 yang melatih dirinya menerima pukulan keras di perut, setiap hari dilatih, dilatih, dilatih, maka setelah bertahun2 berlalu, perutnya ternyata bisa menerima pukulan mematikan sekalipun dan dia tetap baik2 saja. Segar bugar.

Tapi apakah kita bisa menghilangkan fakta: Karena dia sudah terbiasa, maka kita bisa bilang hal itu biasa2 saja baginya? Tidak. Pukulan itu tetap mematikan, menyakitkan.

Orang2 yang berlatih bersabar, setiap hari dia harus pergi 10 kilometer mengambil air, karena susahnya air bersih di sana, dengan membawa ember di atas kepala. Berjalan tiap pagi, bolak-balik. Bertahun2 berlalu, dia amat terbiasa dgn pekerjaan berat itu. Baik2 saja.

Tapi apakah kita bisa menghilangkan fakta : Karena dia sudah terbiasa, maka kita bisa bilang hal itu biasa2 saja baginya? Tidak. Perjalanan 10 km setiap hari itu tetap melelahkan.

Orang2 yang 'berlatih' makan sekali hanya sehari. Hei, banyak loh orang2 yg hanya makan sekali sehari di kampung2. Bukan karena mereka mau sok hebat bisa begitu, tapi karena memang tidak mampu, jadilah hanya makan sekali sehari. Bertahun2 berlalu, dan dia baik-baik saja. Sehat.

Tapi apakah kita bisa menghilangkan fakta: Karena dia sudah terbiasa, maka kita bisa bilang hal itu biasa2 saja baginya? Tidak. Makan sehari sekali itu tetap kondisi yang menyedihkan.

Manusia adalah mahkluk dengan kemampuan menakjubkan. Mereka beradaptasi begitu baik dengan kondisi apapun. Dalam situasi perang, susah makan, seorang Ibu yang janda bisa terus bertahan menghidupi lima anak2nya. Dalam situasi bencana, kekeringan, kelaparan, seorang Ayah juga tetap bisa bertahan mencari jalan keluar demi keluarganya.

Akan tetapi, ketika seseorang sudah terbiasa atas hal tersebut, maka bukan berarti hal tersebut tidak menyakitkan lagi. Tetap sakit. Tetap berat. Tetap susah hati. Tapi dia telah melampui batas-batasnya.

Ketika kita sudah terbiasa atas sesuatu, maka bukan berarti hilang hakikat sesuatu tersebut. Kita-lah yang tumbuh lebih tegar. Lebih gagah. Karena jelas, kehidupan ini harus dilewati dengan tegak. Bukan merangkak.

Sombong", perlukah ??!!!

Bismillah...
Pada hakekatnya, apa yang kita miliki saat ini hanyalah pinjaman dari ALLAH.
"dimana-mana yang namanya pinjaman, suatu saat pasti akan dikembalikan kepada pemilik aslinya"

* Saat pinjaman itu ada pada kita, yang harus kita lakukan adalah merawatnya, menjaganya, dan menggunakannya untuk kebaikan di jalan ALLAH, supaya bisa mendatangkan manfaat bagi diri (berupa amal) dan untuk orang lain. Sehingga pada saat pinjaman itu diambil kembali, kita tidak akan menyesal atau sedih karena kita telah menggunakannya untuk kebaikan di jalan ALLAH, dan in sya' Allah akan tetap meninggalkan bekas berupa amal yang terus ada pada kita, yang menemani kita di kehidupan selanjutnya...

* SEDIH, ketika semua yang ada pada kita yang pada hakekatnya bukan benar-benar milik kita sepenuhnya diambil kembali oleh Sang Maha Pemilik Kekal???? gag perlu lah... ^_^

Jika kita sudah tahu bahwa sebenarnya semua yang kita miliki itu hanyalah sebuah TITIPAN, lantas KENAPA KITA SOMBONG DENGAN APA YANG KITA MILIKI SAAT INI ?????
Wait while more posts are being loaded