Indonesia patut bersyukur sebagai sebuah negara yang merdeka. Miliknya adalah segala apa yang ada dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur. Segala apa yang ada dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Tercatat ada ratusan suku daerah dan etnis yang mendiami tiga puluh tiga provinsinya. Ada ratusan bahasa daerah beserta dialeknya masing-masing. Ada ratusan jenis tarian daerah, ratusan jenis pangan lokal, keindahan alamnya yang dipuja dunia, juga beribu kearifan hidup yang menjadi potensi baginya untuk menjadi sebuah bangsa besar yang banyak menyimpan narasi peradaban.

Walau jaman terus bergulir, perubahan semakin niscaya, ia senantiasa berusaha untuk tetap bergeming. Tak membiarkan dahsyatnya gelombang globaliasai yang membuat hubungan antar manusia hampir tak lagi berbatas melukai dan menghantamnya. Sebisa mungkin ia menangkis tantangan memabukkan yang setiap saat menggodanya yang kemudian membuatnya kehilangan identitas dan kekhasan.

Memang, harus juga diakui, perubahan demia perubahan yang dicipatakan dan dihadirkan dunia, membuatnya linglung dan mulai nampak berjalan tanpa arah. Arus informasi yang luar biasa dahysatnya, program-program televisi yang lebih memilih mendustai dan mengkhianatinya, secara perlahan mulai mereduksi identitas dan kekhasannya sebagai sebuah bangsa yang penuh warna kekhasan. Bahasa-bahasa daerah tak lagi seksi untuk dipelajari, tarian-tarian daerah semakin kurang diminati, dan kearifan-kearifan yang dimilikinya semakin hilang dari keseharian. Anasir-anasir yang membentuknya sebagai sebuah bangsa, mulai berbicara kemerdakaan, kebebasan, dan kepongahan. Indonesia kita semakin pudar dari kebhinekaannya.

Pun demikian, dalam lorong gelap tak mau kemana arah untuk bertemu cahaya diujung terowongan, beberapa daerah kebanggaanya tetap berusaha setia pada jalan hidup identitas kedaerahan yang sudah terlanjur mengakar dari generasi ke generasi. Bukan untuk menerjemahkan ulang arti ragam perbedaan yang dikatakan pendiri bangsa terdahulu, namun semata karena sudah menjadi jalan hidup yang tak bisa dipisahkan. Justru, kealpaan akannya membuat ruh kedaerahan yang melekat padanya akan hilang dan tak bernama.

Adalah  Manggarai, sebuah daerah di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur yang menjadi salahsatu diantara daerah yang tetap setia pada ruh kekhasan daerah dalam kesehariannya. Ragam aktivitas hidup yang dilakoni masyarakatnya sedikitnya masih mencerminkan identitas dan kekhasan yang membanggakan. Entah berbentuk kearifan dalam berhubungan dengan sesama dan alam maupun dalam bentuk artefak  budaya yang menjadi ciri khas yang dibanggakannya. Dari sekian kearifan dan artefak budaya yang hingga kini masih hidup dalam keseharian warga Manggarai, baik Kabupaten Manggarai sendiri, Kab Manggarai Barat dan Kab Manggarai Timur adalah budaya Reis atau Ruis dan anyaman pandan.

Budaya Reis/Ruis, Kearifan Manggarai dalam Memuliakan Tamu

Reis untuk Manggarai bagian Timur (tana eta) atau ruis/ris untuk Manggarai Barat (kempo) adalah konsep kearifan dalam memuliakan tamu ala orang Manggarai yang masih bertahan hingga hari ini. Adagium yang mengatakan tamu adalah raja benar-benar sangat dipahami oleh orang Manggarai dalam budayanya. Kebaikan dan kerahaman seseorang dalam budaya orang Manggarai dapat diukur dari seberapa jauh pemahaman dan aplikasi ris/ruis ini dalam kesehariannya.

Ris adalah cara penyambutan seorang tuan rumah (ngara sekang) jika ada tamu (mekka) yang berkunjung (lambu) kerumahnya. Setelah tamu masuk kedalam rumah, tuan rumah mempersilahkannya duduk. Entah duduk bersila atau duduk di kursi. Tergantung dari kondisi rumah yang dikunjungi.

Biasanya, setelah sang tamu duduk, tuan rumah (semua tuan rumah yang ada pada saat tamu berkunjung; ayah, ibu, anak yang sudah dewasa) akan menyalami sang tamu. Jika tamunya lebih dari satu, harus menyalami semuanya. Bahkan dalam acara adat resmi seperti pernikahan, semua tamu disalami tak peduli tua muda, kecil besar, kecuali memang masih anak-anak. Setelah salaman, maka disitulah sang tuan rumah melakukan reis/ris.
Mengucap beberapa kalimat dalam Bahasa Manggarai. Diantara kalimat reis/ruis yang sering diucap pada tamu oleh tuan rumah setelah salaman adalah sebagai berikut.
"Mai ce'e bao go ite....?"
"Ngger cee ro ite....?"
"Mau lambu baong....?"
" Nana, mai ce'e baong?"
"Inuk, lako cee baong...?"

Setelah mendengar sang tuan rumah mengucapkan salahsatu kalimat reis/ris diatas, maka sang tamu akan menjawab dengan,
"Ioo.... ite"
"Io...tanta"
:"Iooo... ame"
"Iooo...ine"

Sebenarnya jika dilihat dari struktur kalimat ruis ini sederhana, maka ia berbentuk kata tanya. Arti dalam bahasa Indonesianya kira-kira,
" (kamu) datang tadi...?".
" Nana,,, datang tadi", "
"Inuk,,, kesini tadi?"

Sebuah pertanyaan yang tak perlu dan tak penting sebenarnya. Ngapain bertanya apakah sang tamu datang kerumah kita padahal  kita juga sudah tahu bahwa dia memang datang dan sedang ada dirumah kita? Tapi, yah disitulah bentuk penghargaan sang tuan rumahnya. Memang jika diartikan kedalam bahasa Indonesia akan menjadi seperti itu. Tapi jika diucapkan dalam bahasa Manggarai seperti beberapa kalimat diatas, maka akan terasa sakral dan melebihi makna arti terjemahan Bahasa Indonesianya. Ketika sang tuan rumah mengucapkan kalimat ruis, maka itu berarti ia menerima sang tamu dengan tangan terbuka dan dengan segenap keramahan yang ia punya. Sang tamu pun akan merasa dihargai dan kedatangannya disenangi. Maka ia menjawab,

" Iooo... ite"-   "Iya,,,, Pak/Bu (terimakasih)".

Setelah proses reis/ruis dilakukan, barulah sang tamu bisa mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya kepada tuan rumah. Pun jika sang tamu hanya datang berkunjung dan silaturahim biasa, maka setelah ruis barulah bisa membicarakan topik yang menarik untuk diperbincangkan. Biasanya topik yang sering dibahas dalam silaturahim warga Manggarai (terutama di kampung-kampung pelosok) adalah seputar keadaan kebun, harga Kemiri, Kopi, Sawah, dan topik seputar pertanian lainnnya. Namun jika sedang musim pemilu, maka topik seputar figur calon, anggota DPRD petahana, dan hal-hal lain terkait pemilun akan menjadi topik yang panjang untuk diperbincangkan. Pokoknya tergantung konteks dan situasi kapan sang tamu berkunjung.

Nah, tak lama setelah ruis, dan atau jika perbincangan sudah hangat, maka istri tuan rumah akan ke dapur. Menyalakan perapian (kebanyakan kampung di Manggarai masih menggunakan kayu bakar dalam memasak, kecuali di kota). Membuat beberapa gelas kopi hitam sesuai jumlah orang yang sedang berbincang. Bagi warga Manggarai, ruis dan Kopi hitam atau teh yang disuguhkan oleh sang tuan rumah adalah sebuah bentuk penyambutan terhadap tamu yang paling ideal. Perkawinan dua kearifan yang akan menyejukkan dan menentramkan hati sang tamu. Tuan rumah dianggap tidak menghargai tamu jika tidak melakukan ruis dan menyuguhkan kopi atau teh. Khusus untuk Kopi atau teh, bisa tidak disuguhkan jika tuan rumah memang benar-benar  mempunyai alasan yang kuat untuk tidak melakukannya. Seperti istri tidak sedang di tempat atau hal-hal lain yang diterima secara budaya dan pemakluman umum.

Jika kopi telah habis dan tak ada topik yang diperbincangkan, barulah lambu berakhir. Biasanya sang tamu dengan penuh sopan akan pamit, juga dalam bahasa Manggarai.

Demikianlah kearifan orang Manggarai dalam memuliakan tamunya. Sebuah konsep yang hingga hari ini masih bertahan dan dipraktikan oleh ame-ine (ayah-ibu) di Manggarai maupun warga Manggarai di perantauan; pelajar mahasiswa dan pekerja. Bagi warga Manggarai di perantauan, selain memahami pribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, juga tetap menjunjung tinggi kearifan hidup yang diwariskan tanah dading (kampung lahir). Pun jika tamu yang datang berkunjung bukan orang Manggarai dan tidak mengerti Bahasa Manggarai, maka ia akan tetap disalami dan 'diruis'. Jika itu dilakukan, seringkali sang tamu akan senyum-seyum penuh bingung yang membuat tuan rumah menjelaskan apa makna salaman dan ruis yang dimaksud.

Karena masalah ruis ini juga, kadang para orang tua di Manggarai mewanti-wanti putra-putranya di perantauan agar berhati-hati memilih wanita sebagai istri. Bisa memilih wanita diluar Manggarai, yang penting bisa memahami budaya dan keartifan lokal Manggarai. Tidak perlu cantik yang penting bisa 'ruis' ramah terhadap tamu dan bisa menyuguhkan kopi. Tentu mendapat gadis luar Manggarai yang cantik plus bisa ruis ala Manggarai adalah jodoh yang paling ideal juga tentunya. hahaha.

So, jika ada diantara Kompasianers yang suatu saat berkunjung ke Manggarai, bersiap-siaplah untuk menjawab ruis dari tuan rumah. Jika anda di ruis dengan penuh senyum, itu berarti they are more than just pleased to welcome you. :)


Anyaman Pandan

Identias budaya berikutnya yang sangat melekat dengan orang Manggarai adalah anyaman pandan, topi re'a (songkok pandan) dan loce (tikar).

Topi rea

Bagi orang Manggarai topi rea- mereka menyebut songkok dengan topi-, adalah sebuah artefak budaya yang sakral dan menjadi kebanggaan. Terbuat dari daun pandan, songkok ini telah menjadi aksesoris busana adat yang bukan saja dikenakan oleh warga biasa pada saat acara-acara resmi adat seperti pernikahan, kematian, dan acara-acara adat lainnya, namun juga telah menjadi songkok resmi untuk acara-acara pemerintahan.

Kabupaten Manggarai Barat sendiri, dibawah pemerintahan Bupati Agsutinus CH Dula dan wakilnya Maximus Gasa  (2010-2015) telah menjadikan dan 'mematenkan' songkok yang dianyam dari daunan tumbuhan monokotil dari genus Pandanus ini sebagai songkok resmi pejabat di jajaran pemerintahan daerah Manggarai Barat.

Bahkan kini setiap ada tamu dari Jakarta yang berkunjung ke Labuan Bajo, selain disambut dengan tuak ruis (tuak penyambutan), juga sang tamu akan dipakaikan songkok rea selain selempangan songke Manggarai.

Saya tidak tau, apakah Presiden SBY dan Ibu Ani dalam dua kali kunjungan mereka ke Labuan Bajo (2012 dan Sail Komodo 2013) juga mendapat 'hadiah' songkok tradisional ini juga atau tidak. Karena sejauh yang saya search di dunia maya, saya hanya mendapati foto-foto pak SBY dan Ibu Ani dalam busana tenunan  songke Manggarai yang cantik.

Hampir semua ibu-ibu di Manggarai bisa menganyam songkok ini. Namun khusus untuk wilayah Kabupaten Manggarai Barat, sentra anyamannya adalah di Kampung Daleng, Sano Nggoang, sekitar 2 jam dari Kota Labuan Bajo dengan sepeda motor.
Disini, songkok rea dianyam secara massal. Sebagiannya dijual ke kantor-kantor dinas daerah se Manggarai, juga diikutkan di pameran kain tradisional secara berkala baik yang diadakan oleh pemda, pemprov, maupun nasional.

Tersedia anyaman songkok dengan motif dan gambar yang beragam. gambar komodo, tulisan nama, dan berbagai motif dan warna  lainnya. Satu buah topi re'a dibandrol mulai dari  Rp 50.000 hingga Rp. 100.000.

Jika Kompasianers jalan-jalan ke tanah eksotik yang berdekatan dengan Pulau Sumbawa ini, akan banyak dijumpai warga Manggarai laki-laki mengenakan songkok rea. Itu songkok asli made-in Manggarai Flores Nusa Tenggara Timur.





Loce (Tikar)

Anyaman pandan berikutnya yang tak kalah penting bagi orang Manggarai adalah loce (tikar). Bagi daerah di luar Manggarai, fungsi utama tikar mungkin hanyalah untuk alas tidur ataupun untuk alas duduk. Namun bagi orang Manggarai, loce lebih dari sekedar anyaman pandan biasa. Ia adalah juga salahsatu artefak budaya yang menjadi unsur penting dalam berbagai acara adat di Manggarai khususnya pernikahan, dan kematian. Selain itu, loce juga merupakan salahsatu alat komunikasi penting dalam menjaga hubungan antara keluarga laki-laki dan perempuan setelah pernikahan. Hubungan iname (pihak perempuan) dan woe (pihak laki-laki) sedikti banyak dipengaruhi oleh anyaman satu ini.

Prosesnya anyamannya pun rumit sebagaimana menganyam songkok rea.  Bagi ibu-ibu Manggarai (khususnya Ibu-ibu pelosok), menganyam pandan ibarat beternak kebahagiaan. Satu buah tikar membutuhkan waktu berhari-hari. Pertama-tama, mereka harus memotong daun pandan berkualitas baik- daun pandan berduri.  Kedua, setelah dikeringkan harus disobek-sobek memanjang seukuran 1 cm, ketiga, dikeringkan lagi dengan cara digulung, baru kemudian diwarnai sesuai selera dengan menggunakan kesumba. Setelah diangin-anginkan selama beberapa saat, barulah mulai dianyam.

Demikianlah arti pandan dan anyamannya bagi orang Manggarai. Darinya artefak budaya yang mejadi kekhasan dan identitas daerah tercipta sempurna. Oleh tangan-tangan penuh magis yang keahlian mengayamnya diperoleh secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Bisa dibayangkan bagaimana kalau tanaman ini punah dari tanah Manggarai….!!
Itulah Manggarai, setia memelihara kearifan, setia memelihara Indonesia.
Wait while more posts are being loaded