Post is pinned.
KESAKSIAN BUNG HATTA TENTANG GESTAPU/PKI

Oleh: Poeng W. I. Lubis
Berikut saya sampaikan kesaksian dari Bung Hatta, bapak bangsa, dan salah-satu dari Dwi-Proklamator Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kita semua tahu bahwa bung Hatta dikenal sebagai tokoh pemikir, yang tidak pernah emosional dan sangat tajam analisanya.
Saya cuplikan dari buku “Bung Hatta Menjawab”, sebagai berikut :

…Yang penting pertama-tama diketahui adalah tujuan PKI untuk merebut kekuasaan. Dan mereka tahu, bahwa kalau tidak meyakinkan Soekarno dulu, mereka tidak akan mendapat kekuatan. Ini prinsip pokok PKI waktu itu berdasar pengetahuan kita dari sejarah komunis di dunia, sejarah PKI di Indonesia, dan feeling berdasar kesadaran kita tentang keadaan masyarakat dan tingkat perkembangannya waktu itu. Kampanye PKI akan memilih Soekarno jadi Presiden kalau ia menang dalam Pemilihan Umum tahun 1955, membantu dengan “gigih” gerakan untuk merebut Irian Barat dengan kekerasan (Trikora) dan gerakan Ganyanhg Malaysia (Dwikora), semuanya adalah gerakan yang kita sudah tahu ke arah mana geraknya. Karena itu kita tak heran kalau Aidit sampai mengusulkan dibentuknya Angkatan ke-5, disamping Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Kepolisian, yang dipersenjatai dan dianjurkannya agar terdiri dari para petani dan kaum buruh. Semua itu tentu adalah persiapan ke Lobang Buaya, tempat penyembelihan dan pembunuhan yang ngeri dan di luar perikemanusiaan atas pemimpin-pemimpin Angkatan Darat. Jelas sekali hal ini menurut pola RRC, suatu hal yang sisa-sisa pikiran itu masih nampak dalam pola-pola Tri Panji dan Perjuta-nya sisa-sisa PKI latent yang nampak dari pemberontakan-pemberontakan Blitar (Jawa Timur) dan PKS/Paraku di Kalimantan Barat. Untunglah waktu itu belum sampai terbentuk Angkatan ke-5 itu. Tetapi usaha-usaha Aidit ke arah perebutan kekuasaan makin hebat sejak awal tahun 1965. Apa saja digunakan nya sebaik-baiknya. Saya ingat sekali, waktu PNI mengadakan kongres tahun 1965, tak lama sesudah itu PKI mengadakan Hari Ulang Tahun (HUT) pula. Semua pigura dan hiasan untuk Kongres PNI terus saja dipakai PKI untuk HUT nya. Pohon-pohon kayu, tembok-tembok, rumah-rumah orang, kantor-kantor, habis dicoreti gambar-gambar palu-arit. Hal ini mengingatkan kembali kepada cara-cara PKI di Delanggu waktu RI di Yogya dulu. Saya sudah merasa, kalau PKI menang, Soekarno malah akan disingkirkannya, bukannya diangkat. Bagi tiap orang yang tidak buta hati, pasti akan arif dia, ke mana suasana sedang berkembang dan apa yang suatu waktu pasti akan meledak dan akan mengagetkan serta membukakan mata setiap orang…. (Hal 60-61)

… Waktu itu yang saya lihat, bahwa satu-satunya yang sanggup menghadapi PKI hanya tentara, Angkatan Darat yang dipimpin oleh Jendral Yani… (Hal 61)

… Saya mendengar pertama-tama berita penculikan dan pembunuhan pimpinan Angkatan Darat dari Simatupang, pagi tanggal 1 Oktober 1965 dan bahwasanya Nasution lolos dengan lari melompati pagar pekarang belakang rumahnya dan bersembunyi di balik sebuah pohon di sana, serta berita bahwa anaknya yang bernama Ade Irma Suryani terbunuh. Waktu Wangsa Widjaja, Sekretaris saya datang, saya suruh mencek lagi mengenai berita itu. Kabar selanjutnya mengatakan bahwa Nasution setelah keluar dari persembunyiannya terus pergi ke Kostrad. Didapainya Soeharto sudah mengambil tindakan. Mula-mula Untung menguasai RRI, kemudian terdengar pidatonya dan pengumuman mengeani Dewan Revolusi dan sebagainya. Tetapi malamnya terdengarlah pidato Soeharto, selaku Panglima Kostrad, setelah ia merebut RRI kembali serta menguasai keadaan seperti semula. Reaksi batin saya pertama-tama mendenga itu, ialah bahwa in pasti PKI lagi…… (Hal 74)

….Dari pihak Islam reaksi itu amat kuat, terutama mereka yang selama ini merasa tertekan…
….. Setelah orang-orang Islam tahu bahwa PKI mengadakan kup, tentara telah bertindak di bawah pimpinan Soeharto, maka rakyat pun ikut bergerak dan bertindak membantu tentara sampai hampir sukar untuk dikendalikan… (Hal 75)

…. Tindakan rakyat yang selama ini tertekan dan kemudian membalas tidak tanggung-tanggung, menunjukkan bahwa perkiraan Aidit itu tidak benar. Rakyat dulu yang dia kira di belakangnya, ternyata tidak sebanyak yang diperkirakannya. Hal itu disebabkan karena cara-cara Aidit selama ini ang didasarkan kepada pengerahan-pengerahan massa berbondong-bondong, disertai agitasi dan terror mental, sehingga banya orang hanya ikut-ikutan untuk mengamankan dirinya saja. Itulah akibat dari kenyataan, bahwa faktor pendidikan dan keinsyafan tidak didahulukannya, bahkan diabaikannya, dibandingkan dengan gerakan-gerakan agitasi dan pengerahan-pengerahan secarai beramai-ramai. Jadi prinsip-prinsip yang dianutnya itu belum berakar dan belum dimengerti orang banyak….(Hal 76)

…. Mestinya kader yang betul mengerti dan insaf dibina lebih dulu oleh PKI sehingga mencapai jumlah yang cukup besar untu mendukung massa yang dikerahkan itu barulah cukup kuat. Tetapi mereka telah merasa kuat dan bangga dengan massa ramai-ramai dan selogan-selogan serta tempik sorak di lapangan rapat-rapat terbuka yang sering dibikin seperti keranjingan. Tapi semuanya tanpa akar yang tertanam kuat dalam masyarakat. Jadi kalau dalam rapat-rapat umum dan pidato-pidato yang hebat, nampaknya rakyat setuju semua. Tetapi di luar itu rakyat sebenarnya jengkel. Ini kurang diketahui oleh PKI…(hal 76-77)

KORBAN KOMUNIS DISELURUH DUNIA

Oleh : Raidah Athirah
Saya mengingat topik ini terkait dengan seorang brother asal Polandia yang memang tertarik kepada sejarah bertanya kepada saya perihal bagaimana komunisme bisa berada di negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia (red: Indonesia )

Ini pertanyaan yang cukup sulit. Kami kemudian berdiskusi bahwa sejarah Polandia juga tidak bisa lepas dari kisah pilu komunis.

Polandia dan Indonesia memang memiliki banyak kesaamaan sejarah, dijajah dan juga ditindas.

Sama-sama merupakan pemeluk mayoritas sebuah agama besar. Polandia dikenal sebagai negara dengan jumlah mayoritas pemeluk Katolik dan Indonesia sendiri adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam.

Salah satu cerpen saya yang saya kirimkan kepada Bilik Sastra juga mengangkat tema kota sejarah Gdańsk yang menceritakan hari bersejarah berakhirnya masa komunis di negeri Sang Paulus ini.

Dunia selalu mengingat korban pembantaian Nazi, tapi dunia juga tak bisa melupakan kekejaman dan pembantaian yang dilakukan rezim komunis di seluruh dunia.

Korban dari rezim komunis bukanlah angka kecil.

Jumlahnya tak tanggung-tanggung; 100 juta darah manusia tercecer dari paham yang menghalalkan segala cara.

Dalam beberapa sumber literatur dunia terkait politik komunisme setidaknya kurang lebih 75 negara yang mengalami sejarah kelam, berdarah-darah dan sangat menderita.

Hitler yang terkenal kejam membunuh 30 juta manusia dan itu sudah merupakan kekejaman yang selalu jadi pembicaraan menarik terkait sejarah.

Lantas bagaimana dengan Stalin di Rusia? Pemimpin tertinggi komunis ini justru membuat rekor baru yakni 40 juta manusia dibunuh dan juga disiksa. Ini belum termasuk angka manusia yang sakit dan kelaparan akibat paham komunis.

Ini juga masih terbilang rekor kecil bila membandingkan dengan korban komunis di Cina di masa Mao Zedong yakni 60 juta.

Polandia, Ukraina, Yugoslavia, Ghana, Congo, Azerbaijan, Cuba dan masih banyak lagi di beberapa negara Asia seperti Vietnam, Korea Utara yang bila dijumlahkan maka inilah paham yang menghasilkan korban paling tinggi dalam sejarah genosida umat manusia.

Saya memang tidak lahir di rezim komunis tapi saya pastikan data yang saya tulis bisa dipertanggung jawabkan.

1.http://www.dailymail.co.uk/home/moslive/article-2091670/Hitler-Stalin-The-murderous

2.https://historyofrussia.org/stalin

3 .http://www.independent.co.uk/arts-entertainment/books/news/maos-great-leap-forward-killed-45-million-in-four-years-2081630.html

4.http://www.communistcrimes.org/en/Database/Poland/Poland-Communist-Era

*

Mengapa komunisme merupakan paham yang menghasilkan genosida terbesar dalam sejarah peradaban?

Hal ini karena ajaran Komunisme mengajarkan tentang hanya kelas yang kuat yang dapat hidup.

Paham komunisme sendiri menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Maka tak heran paham ini menghasilkan revolusi berdarah-darah yang disesuaikan dengan prinsip -prinsip komunisme dalam berhadapan dengan musuh atau lawan.

Dasar ideologi ini sendiri lahir dari dua anak muda revolusioner yakni Karl Marx (30) dan Friedrich Engels (28). Nama Marx yang memang sudah melekat dengan paham ini.

Seperti yang pernah diungkapkan Marx , ”Jika kelas dan ras terlalu lemah, tidak memiliki kesempatan menyesuaikan syarat hidup baru, harus memberi jalan kepada orang lain, jika tidak, mereka pasti akan “dilenyapkan oleh pembunuhan besar revolusi.”

Mengutip dari buku Manifesto Komunis (1848) telah dijelaskan tujuan dari ideologi ini, "Merebut kekuasaan dengan kekerasan, menggulingkan seluruh kekuatan sosial yang ada."

Tujuan ideologi yang digariskan pada abad 19 masih berlaku sampai abad 21 ini.

Maka jangan heran paham ini bagai syaitan yang menakutkan. Seperti sebuah teror peradaban. Dan hasilnya memang melahirkan Genosida.

Saya pribadi sudah sangat sering berdiskusi dengan beberapa kawan kampus yang sering disebut anak-anak kiri. Buku-buku Marx sendiri bukan topik baru bagi saya mengingat saya juga terkadang membaca buku-buku ini.

Salah satu yang menarik bagi saya adalah data statistik korban Komunisme. Saya selalu berpikir bahwa Nazi adalah pembantai manusia paling keji dan terbanyak sepanjang sejarah.

Ternyata setelah menengok isi buku " The Black Book of Communism " data korban yang disebut merupakan angka statistik yang paling menakutkan

”, Pada abad ke-20, korban meninggal dalam revolusi komunisme seluruh dunia, hampir mencapai 100 juta orang, diantaranya Soviet sebanyak 20 juta orang, RRT 65 juta orang, Vietnam 1 juta orang, Korea Utara 2 juta orang, Kamboja 2 juta orang, Eropa Timur 1 juta orang, Amerika Latin 150 ribu orang, Afrika 1,7 juta orang, Afganistan 1,5 juta orang, sebanyak 10 ribu orang meninggal dinegara yang tidak dikuasai oleh gerakan komunisme"

Beberapa ilmuwan dan sejarawan juga berpendapat bahwa angka yang tertera diatas lebih rendah dari angka sesungguhnya .Masih banyak lagi korban meninggal yang tidak tercatat .

Banyak ilmuwan berpendapat, angka yang tertera diatas jelas lebih rendah dari angka meninggal sesungguhnya, misalnya di RRT sedikitnya ada 80 juta orang meninggal.

Bila ingin ditulis lebih detail niscaya status Fesbuk ini tidak cukup untuk memaparkan fakta -fakta yang ada.

Jadi, mari gunakan akal sehat untuk berpikir "Siapa sebenarnya Serigala Berbulu Domba?"

Polandia,20 September 2017

Diolah dari berbagai sumber

Pembelajar Sejarah

Post has shared content

Post has attachment

PKI MADIUN MERUSAK PONDOK GONTOR..


“Pondok Bobrok, langgar bubar, santri mati,” inilah yel-yel penuh kebencian yang diteriakkan PKI Madiun pada tahun 1948.

Sejak 18 September 1948, Muso memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun. Slogan itu terus berkumandang dari seluruh anggota sipil PKI Muso dan tentara Muso yang bernama Front Demokratik Rakyat (FDR).


Melalui slogan itu, PKI merusak bangunan pondok pesantren, langgar dibubarkan dan santri dibantai diluar batas kemanusiaan. Lebih ngeri lagi, sebelum slogan itu dikumandangkan di berbadai desa, kota, jalan dan gang-gang. Para anggota PKI sudah menyiapkan lubang-lubang untuk membantai para kyai dan santri. Di berbagai lubang itulah, para kyai dan santri disembelih secara masal. (Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, 2016,Ayat-ayat yang disembelih, Jakarta : Jagat Publising. Hal. 109)

September 1948, Muso telah menguasai daerah karesidenan Madiun,meliputi Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi.Pondok Modern Darussalam yang berada di Gontor Ponorogo juga tidak lepas dari ancaman PKI.

Hijrah atau Melawan PKI

Kyai Sahal dan Kyai Imam Zarkasyi berembug sangat serius dengan santri senior. Setelah lama berembug, akhirnya ditetapkan bahwa melawan PKI yang lengkap dengan senjata sangatlah tidak mungkin. Akibatnya akan banyak santri yang menjadi korban. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri dengan cara mengungsi.

Ada sebuah kisah menarik siapa yang akan tinggal menunggu pondok. Kedua kyai ini benar-benar mengajarkan “Itsar”, bagaimana mereka tidak rela saudaranya menderita. Kyai Imam Zarkasyi berkata “Sudah, pak Sahal, kamu saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kyai Gontor itu ya kamu. Biar saya yang menjaga pesantren, tidak akan dikenali saya ini.”.

Namun, mendengar kalimat itu Kyai Sahal malah gantian menyanggah, “Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu saja Zar. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu.”.

Kedua Kyai itu berusaha meminta salah satu dari mereka untuk pergi mengungsi. Sungguh bukan nasib mereka yang dipikirkan, tetapi nasib saudaranya dan para santrinya. Akhirnya diputuskanlah para kyai berdua pergi mengungsi dengan para santri.

Penjagaan pesantren diberikan kepada KH. Rahmat Soekarto. Lurah Gontor sekaligus Imam Jumatan di Gontor. Belum sampai melakukan pengungsian, ternyata Pesantren Gontor sudah disambangi utusan PKI yang membawa sepucuk surat. Isi surat itu adalah perintah dari pasukan PKI Muso agar seluruh warga Pesantren Gontor tidak meninggalkan tempat. Jika meninggalkan tempat, akan terjadi bencana besar yang dibuat oleh para tentara PKI Muso.

Menerima surat itu, Kyai Sahal dan Kyai Zarkasyi hampir saja mengurungkan niatnya untuk mengungsi. Namun, karena ajakan yang cukup kuat dari para santri untuk mengungsi, akhirnya kedua kyai tersebut berangkat mengunsi bersama para santri.

Berangkatlah rombongan Hijrah Kyai Gontor kearah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal di Trenggalek. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Dengan untaian air mata karena meninggalkan pondok tercinta.

Saat itulah tercetuslah ucapan dari kyai sahal,“Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sak nyawane pisan” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan”.

Pesantren Gontor Diacak-acak PKI

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pesantren gontor.

Tepat pukul 15.00 WIB, PKI mulai menyerang pondok. Sejumlah letusan senjata, mewarnai ketegangan situasi itu dibeberapa tempat. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang didalam pondok. Setelah tak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok gontor sudah dijadikan markas tentara.

Pukul 17.00 WIB, mereka akhirnya menyerbu kedalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu ditaksir sekitar 400 orang.

Dengan mengendarai kuda putih pimpinan tentara PKI berhenti didepan rumah pendopo lurah KH. Rahmat Soekarto. Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka.

Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. “Pertama, kami datang untuk menemui pimpinan pondok. Kedua, kami mohon diizinkan untuk meriksa seluruh isi pondok” sergahnya kasar.

Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat, nekat masuk tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kyai Gontor. “Endi kyai-ne, endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene …” (Mana Kyainya, mana kyainya? Surah menghadapi PKI sini…).

Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri terbuat dari bambu dirusak. Kasur-kasur dibakar, buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sara peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Al-Qur’an mereka injak dan bakar.

Suasana begitu mencekam. PKI pun kembali kerumah lurah Rahmat, lalu berusaha masuk kerumah untuk membunuh KH. Rahmat Soekarto. Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini).

Namun, tak berapa lama sebelum mereka bisa masuk kerumah lurah Rahmat. Datanglah laskar Hizbullah dan pasukan Siliwangi. Pasukan itu dipimpin KH. Yusuf Hasyim, putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari. Pasukan PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena sebuan itu. Mereka meninggalkan apa yang mereka bawa dan akhirnya membiarkan Gontor dalam keadaan porak poranda.

Kejahatan, kezaliman PKI itu bukan hanya isu semata. Tetapi fakta sejarah dinegeri ini. Bagaimana dengan kata-kata dan perbuatan mereka membuat berbagai kerusakan. Bahkan mereka banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin dinegeri ini.

Generasi muda merupakan pelanjut estafet perjuangan ini. Sudah selayaknya untuk memahami sepak terjang kejahatan PKI. Orang bijak adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari kejadian dimasa lalu. Agar Jangan sampai terjerumus kedalam lubang yang sama.

Penulis: Ustad Anwar Ihsanuddin

Diambil dari majalah Islam An-Najah edisi 130 September 2016 rubrik Jelajah. (Sumber: suaraumat.id)

Post has attachment

Post has attachment
IBNU KHALDUN, PELETAK DASAR SOSIOLOGI

Ketika Daulah Hafshiyah memerintah wilayah Tunisia, lahirlah seorang ilmuwan Muslim yang dikenal dengan Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun memiliki nama lengkap Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan bin Jabi bin Khaldun Al Hadhrami lahir pada 2 Ramadhan di Tunisia.

Ia telah menghapal Al Qur'an sejak anak-anak. Ia juga dikenal dari keluarga yang dalam akan ilmu juga sastra. Keluarganya ketika itu pindah ke Tunisia abad ke 7, sebelumnya mereka tinggal di Andalusia.

Ibnu Khaldun langsung mendapat pembelajaran ilmu dari ayahnya. Sementara para kakeknya sibuk menjadi bagian peletak pondasi politik dan agama di Andalusia. Ketika usianya menanjak 17 tahun, ia harus kehilangan kedua orang tuanya karena wabah kolera. Wabah ini juga yang banyak menewaskan guru-guru di sana.

Di Tunisia, Ibnu Khaldun menghabiskan sebagian besar hidupnya. Ia sempat 'menghilang' selama 4 tahun. Dikehilangannya itulah ia melakukan penelitian dibidang ilmu sosiologi. Hingga akhirnya ia menulis sebuah buku yang fenomenal yaitu, Muqqomidah. Ia adalah peletak dasar ilmu sosiologi. Ia berhasil menyusun teori dasar ilmu sosiologi dengan menjadikan manusia sebagai objek kajiannya. Ia juga mengkaji sejarah berdirinya sebuah negara dan kerajaan.

Dalam kajiannya tersebut, ia menyebutkan beberapa sebab kerajaan memiliki jangka hidup alami. Ia juga menorehkan menagapa kerajaan dapat runtuh begitu juga pembentukkannya. Pajak dan Zakat juga tidak luput dari kajian Ibnu Khaldun. Teorinya tentang ini diadopsi oleh Ronald Reagan (Presiden AS) pada tahun 1981.

Karya-karya besar lainnya dari Ibnu Khaldun ialah 7 jilid yang membahas gramatika Bahasa Arab, hari-hari Bangsa Arab, kisah tentang orang non-Arab dan Berber, tentang para penguasa, dan beberapa cabang ilmu lainnyalainnya. Bagian pertama buku inilah yang kelak dikenal dengan Muqqomidah.

Ibnu Khaldun wafat di Kairo pada 808 H. Ketika di Kairo ini ia sempat menjabat sebagai hakim sekaligus guru besar.

http://idprajuritpena.blogspot.com/2016/08/ibnu-khaldun-peletak-dasar-sosiologi.html

Post has attachment
Jejak Soekarno di Arab Saudi

Nama Pahlawan Proklamator Indonesia, Soekarno tidak hanya harum di Indonesia tapi juga di luar negeri. Dunia mengenal ide dan pemikiran Soekarno yang peduli sesama. Kepedulian Soekarno ini terlihat pada suatu hari mengunjungi padang tandus Arafah di Makkah.


Ketika itu Soekarno merasakan panasnya terik matahari ketika mengunjungi padang tandus ini. Kunjungan Soekarno ini dilandasi oleh niatan untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 1955. Ia pun juga melihat umat Islam yang lain merasakan hal yang sama ketika berada di Padang Arafah.

Lalu Soekarno mengajukan usulan kepada Raja Arab Saudi , Saud bin Abdulaziz al Saud untuk menanam ribuan pohon yang rindang. Tidak hanya memberikan usulan semata, Soekarno lalu memerikan ribuan bibit pohon mimba atau sejenis pohon mindi untuk ditanam di Arafah. Bahkan Soekarno juga mengirimkan ahli tanaman untuk memelihara dan menjaga kesuburan tanaman tersebut.

Inisiataif kecil dari Soekarno ini menginspirasi pembentukan proyek Wakaf (endowment) untuk penanaman pohon di Arafah. Abdul Rahman Fakieh selaku pengusaha Arab Saudi pemrakarsa proyek ini sangat antusias sehingga ia selalu meninjaunya ketika sehabis solat subuh.

Soekarno sebagai pemimpin yang dikenal dunia sebagai seorang yang anti-imperialisme dan anti-kolonialisme sangat dihormati oleh Raja Fahd bin Abdulaziz al Saud. Raja yang berkuasa di Arab Saudi pada dekade 1980 ini mengenang jasa-jasa Soekarno di Padang Arafah. Atas dasar itu, pohon-pohon yang ditanam di Padang Arafah dirubah namanya menjadi “Pohon Soekarno” oleh Raja Fahd.

Pohon tersebut memang cocok untuk tanah yang agak tandus. Selain itu, juga cocok pada daerah yang sangat kering, di pinggir jalan, atau di hutan yang terbuka.

Soekarno memang sosok penting bagi Indonesia juga dunia. Tentu kita ingat bahwa Soekarno dengan gagahnya membentuk Gerakan Non Blok yang menjadi tempat bagi negara-negara baru yang merdeka dari genggaman kolonialisme dan imperialisme.

Kunjungi yaa idprajuritpena.blogspot.com I ig: idprajuritpena
Photo

Post has attachment
SEJARAH UANG KERTAS dan AKIBATNYA BAGI RAKYAT

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded