Post is pinned.Post has shared content
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salaam Silaturrohim Sahabat Ukhuwah Fillah Yang di Rahmati Allah SWT
Santun Malam Sahabat - Sahabatku.
Photo

Post has shared content
Apa yang Diucapkan Ketika Tersandung atau Terpeleset?
****************************************************************
Kadang-kadang ketika seseorang sedang berjalan atau berkendara, tiba-tiba ia tersandung atau terpeleset sehingga jatuh… Karena kesal, terkadang keluarlah ucapan-ucapan yang mengungkapkan kekesalannya ataupun caci maki : “Aduh sialan!”, ada juga yang ber-istirja’: “inna lillaahi wa inna ilaihi roji’un!”… dan ada juga yang mencela syaithon: “Setan sialan!”… dan seterusnya.

Sebenarnya ada ucapan yang diajarkan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dalam hal ini, dan tuntunan beliau tentu lebih layak untuk diikuti.

Dalam hadits Abul Malih, dari seorang shohabat yang sedang boncengan sama Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَثَرَتْ دَابَّةٌ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ بِقُوَّتِي وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

“Aku pernah boncengan bersama Nabi shollallohu alaihi wa sallam, lalu hewan tunggangan kami tersandung, akupun mengatakan: “celakalah setan!”. Maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata kepadaku: “jangan engkau katakan: ‘celakalah setan’, karena jika engkau mengucapkan itu maka setan itu akan semakin besar hingga besarnya seperti sebuah rumah dan setan akan berkata : ‘ini terjadi karena kekuatanku’, akan tetapi katakanlah: ‘BISMILLAH’, karena jika engkau mengucapkan itu, setan akan mengecil sampai seperti lalat.”

[HR. Abu Dawud, Ahmad, an-Nasa’i, al-Hakim, dll. Dishohihkan syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Shohih al-Kalim ath-Thoyyib 1/174]

https://ummushofi.wordpress.com/
Photo

Post has shared content
Yakinlah bahwa pilihan Allah itu yang terbaik.
*****************************************************************
Begitu seringnya apabila kita diuji (diberikan cobaan) oleh Allah lantas mengeluh, menggerutu bahkan tidak sedikit di antara kita yang tidak terima dengan takdir yang telah Allah tetapkan atas dirinya hingga ia pun mencacimaki Allah, seakan-akan ia lebih mengetahui kebaikan atas dirinya daripada Allah سبحانه و تعالىٰ. Padahal di dalam al-Qur-an, Allah عز وجل telah menegaskan bahwa boleh jadi seorang hamba membenci sesuatu padahal itu baik bagi dirinya, serta mungkin boleh jadi ia menyukai sesuatu namun itu buruk bagi dirinya... karena Allah ﷻ lebih mengetahui apa-apa yang terbaik bagi seorang hamba daripada hamba itu sendiri.

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah [2] : 216)

Maka sudah sepatutnya bagi seorang hamba utamanya yang saat ini diuji (diberikan cobaan) untuk senantiasa berhusnudzan (berprasangka baik) kepada Allah سبحانه و تعالىٰ agar Dia juga senantiasa berprasangka baik kepadanya.

Dari Abu Hurairah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
'Aku sesuai prasangka seorang hamba kepada-Ku.'"
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 7405, 7505, Muslim, no. 2675, Ahmad, II/251 no. 7422, at-Tirmidzi, no. 2388, 3603, Ibnu Majah, no. 3822, an-Nasaa-i, no. 7730, ad-Darimi, no. 2731, dan Ibnu Hibbaan, no. 808, 809, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 4315, 8136, 8137, 8138)

Wallaahi, tidak mungkin Allah عز وجل memberikan ujian (baca : cobaan) bagi seorang hamba baik musibah hilangnya harta benda, sakit, atau diwafatkannya orang-orang tercinta, melainkan dibalik itu akan selalu ada pelajaran dan hikmah.

Allah ﷻ berfirman :
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
(QS. Al-'Ankabut [29] : 2 - 3)

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang semisal (di bawah) mereka, kemudian orang yang semisal (di bawah) mereka."
(Shahiih, HR. Ahmad, I/172, 174, 180, 185, at-Tirmidzi, IV/602, no. 2398, Ibnu Majah, II/1334, no. 4023, dan ad-Darimi, II/228, no. 2786)

Mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat (do'a) agar Dia tetapkan hati kita di atas kesabaran dan petunjuk-Nya.

Allah عز وجل berfirman :
"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
(QS. Al-Baqarah [2] : 45 - 46)

Dari Tsauban رضي الله تعالىٰ عنه berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali do'a, dan tidak ada yang dapat memberi tambahan pada umur kecuali kebajikan. Dan seseorang benar-benar dihalangi dari rizki disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya."
(Shahiih, HR. Ahmad, V/277, 280, 282, al-Hakim, I/493, Ibnu Majah, no. 90, 4022, at-Tirmidzi, no. 139, 2139, al-Baghawi, XIII/6, Ibnu Hibban, no. 1090, dan ath-Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsaar, VIII/78, 79, no. 3068 - 3069)

Dari 'Abdullah bin 'Umar رضي الله تعالىٰ عنهما, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Do'a itu bermanfaat terhadap apa yang sudah menimpa (terjadi) atau yang belum menimpa (terjadi). Oleh karena itu wahai sekalian hamba Allah, hendaklah kalian berdo'a."
(Shahiih, HR. At-Tirmidzi, no. 3548, dan al-Hakim, I/493, Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir, no. 3409)

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

✒ Abu 'Aisyah Aziz Arief_
Photo

Post has shared content
[ AYAT-AYAT RUQYAH ]
************************************
{ Dianjurkan untuk mengamalkan ruqyah mandiri atau dibaca sendiri. Jangan pernah meminta diruqyah selama masih sadar, karna akan menghilangkan kesempatan masuk Syurga tanpa hisab }

📃✍️ Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah ;

Al-Quran di dalamnya ada obat dan rahmat bagi manusia. Kami berharap anda bisa menyebutkan ayat-ayat yang disyariatkan untuk dibacakan kepada orang sakit, berapa kali dibaca dan bagaimana tata cara meniupnya. Semoga Allah membalas Anda kebaikan. Karena disisi kami ada seorang yang tertimpa sakit dan kami ingin meruqyahnya?

Jawaban:

Setiap Al-Quran itu adalah obat, setiap Al-Quran itu obat dari awalnya hingga akhirnya. Dan jika membaca Surat Al-Fatihah maka itu surat yang paling agung dalam Al-Quran. Mengulang-ulangnya, sebagaimana shahabat membacakannya untuk meruqyah orang yang tersengat (binatang berbisa) ketika melewatinya di sebagian perkampungan arab. Sebagian shahabat membaca surat Al-Fatihah dan mengulang-ulangnya kemudian Allah menyembuhkannya.

Maka jika membaca surat Al-Fatihah dan ditambah membaca ayat kursi bersamanya atau sebagian ayat lainnya, semuanya bagus. Dan jika membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-Falaq dan surat An-Nas dibaca tiga kali itu juga bagus, termasuk sebab kesembuhan. Dan setiap Al-Quran itu adalah obat. Jika membaca darinya apa yang Allah mudahkan dari Surat Al-Baqarah, surat Ali Imran, surat An-Nisa, surat Al-Maidah, dari surat Al-Quran yang lainnya, semuanya obat. Sebagaimana Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi berfirman :

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاء

”Katakanlah, Al-Quran itu adalah petunjuk dan obat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Fushshilat 44)

Allah berfirman :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

”Dan Kami turunkan dari Al-Quran berupa obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra 82)

Yakni semuanya obat. Maka jika dia memilih sebagian ayat-ayat dan membacanya, semuanya bagus. Akan tetapi yang paling penting dibaca adalah Al-Fatihah dan ayat kursi, surat Al-Ikhlas dan Al-Mu’awwidzatain (surat An-Nas dan Al-Falaq). Semua surat ini yang paling penting dibacakan kepada orang sakit.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/21122

الله تعالى أعلم.
Photo

Post has shared content

Post has shared content
Sebesar-besarnya kedustaan, melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan terjaga (sadar).

Jika ada seseorang yang mengklaim (baca : mengaku) melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan terjaga (baca : dalam kondisi sadar), maka ketahuilah bahwa dia telah berdusta, hal ini dapat diketahui dari beberapa sisi, diantaranya :

[1]. Tatkala dia mengklaim seperti itu, akan ada sebuah pertanyaan besar yang mengganjal yaitu :

"Apakah Rasulullah ﷺ yang ia lihat (hadir) pada saat itu dalam bentuk ruh atau ruh bersama jasad (bangkit dari kubur)?"

Jika dikatakan dalam bentuk ruh, maka sungguh ia telah berdusta karena Allah عز وجل berfirman :
"Allah memegang jiwa saat ia mati dan memegang pula jiwa yang belum mati (saat tidurnya), maka Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir."
(QS. Az-Zumar [39] : 42)

Di dalam ayat yang mulia ini, Allah سبحانه و تعالىٰ telah mengkhabarkan kepada kita bahwasanya ruh yang telah meninggal berada di tangan-Nya dengan menahan (baca : memisahkan) dari jasadnya.

Dari Abu Hurairah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah ﷻ akan mengembalikan ruhku hingga aku menjawab salamnya."
(Hasan, HR. Abu Dawud, no. 2041, Shahiih Sunan Abi Dawud, I/570)

Di dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ telah mengkhabarkan bahwa Allah سبحانه و تعالىٰ akan mengembalikan ruh beliau ﷺ hanya untuk menjawab salam, tidak dikatakan untuk jalan-jalan atau mendatangi seorang pun dari kalangan ummat beliau, dan itu terbukti tatkala di hari Kiamat Rasulullah ﷺ sendiri tidak mengetahui keadaan ummat beliau, dimana ada sebagian ummat beliau yang terusir dari telaga Rasulullah ﷺ karena berbuat bid'ah.

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Aku akan mendahului kalian di al-Haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-Haudh, mereka dijauhkan (diusir) dariku."
Aku lantas berkata,
"Wahai Rabbku, mereka adalah ummatku."
Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
"Engkau tidak tahu (bid'ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 6576, 7049, Muslim, no. 2297, dan Ahmad, no. 3457)

Dalam lafazh yang lain disebutkan :
"Wahai Rabbku, sungguh mereka bagian dari pengikutku."
Lalu Allah عز وجل berfirman :
"Sungguh, engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu."
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,
"Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti (merubah) ajaranku sepeninggalku."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 7050, dan Muslim, no. 2290, 2291)

Al-'Aini رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Hadits-hadits yang menjelaskan orang-orang yang demikian yaitu yang dikenal oleh Nabi ﷺ sebagai ummatnya namun ada penghalang antara mereka dan Nabi ﷺ, dikarenakan yang mereka ada-adakan setelah Nabi ﷺ wafat. Ini menunjukkan setiap orang yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama yang tidak di ridhai Allah سبحانه و تعالىٰ itu tidak termasuk jama'ah kaum muslimin. Seluruh ahlul bid'ah itu adalah orang-orang yang gemar mengganti ajaran agama dan mengada-ada."
(Umdatul Qaari, VI/10)

Ini adalah setegas-tegasnya dalil bahwa beliau tidak mengetahui keadaan ummatnya setelah beliau ﷺ wafat (baca : meninggal dunia) sebab jikalau ruh beliau ﷺ kembali untuk berjalan-jalan niscaya akan dengan mudah beliau ﷺ ketahui keadaan ummatnya, namun justru nash tersebut membantah argumentasi tersebut.

Kemudian, jika dikatakan Rasulullah ﷺ hadir dalam bentuk ruh dan jasad maka ini adalah sebesar-besarnya kedustaan, karena nash hadits begitu jelas dan gamblang bahwasanya Rasulullah ﷺ adalah orang yang pertama kali dibangkitkan pada hari Kiamat yang maknanya tidak mungkin beliau ﷺ bangkit dari kubur dalam keadaan ruh bersama jasad beliau.

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari Kiamat, orang yang pertama kali keluar (dibangkitkan) dari kubur."
(Shahiih, HR. Muslim, no. 2278, Abu Dawud, no. 4673, dan Ibnu Majah, no. 4308)

Jadi Rasulullah ﷺ tidak akan bangkit (baca : keluar dari kubur), kecuali setelah hari Kiamat dan beliau lah orang yang pertama kali dibangkitkan.

[2]. Jika dia mengklaim melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan terjaga (baca : sadar), maka dapatlah dipastikan ia sebagai Shahabat Nabi ﷺ, sebab para 'ulamaa telah mendefinisikan Shahabat Nabi ﷺ adalah mereka yang pernah bertemu Nabi ﷺ dalam keadaan beriman dan wafat di atas Islam sebagaimana penjelasan Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله تعالىٰ.

Beliau رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Siapa saja yang menyertai Rasulullah ﷺ setahun, sebulan, sehari, sesaat atau melihat beliau ﷺ (dalam keadaan beriman) maka ia termasuk Shahabat Nabi ﷺ."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ya'la dalam ath-Thabaqaat, I/243, Al-Khathib al-Baghdaadi dalam al-Kifaayah, hal. 51, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu' Fataawaa, XX/298)

al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalani رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Pendapat paling benar yang aku pegang ialah bahwa Shahabat Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan beriman kepada beliau ﷺ dan meninggal di atas Islam. Masuk juga dalam pengertian ini setiap orang (beriman) yang bertemu dengan beliau ﷺ baik lama maupun sebentar dalam menyertai beliau ﷺ, yang meriwayatkan hadits dari beliau ﷺ maupun yang tidak, yang berperang bersama beliau ﷺ maupun tidak, yang pernah sekali melihat beliau ﷺ meskipun tidak ikut duduk bersama, dan yang tidak pernah melihat beliau ﷺ karena suatu penghalang seperti orang yang buta."
(Al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah, I/7)

Jika klaim mereka yang melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan terjaga (baca : sadar) bisa diterima maka akan begitu banyak 'Shahabat-Shahabat' baru utamanya dari Indonesia, dan yang melihat 'Shahabat-Shahabat' ini akan menjadi 'Tabi'in-Tabi'in' baru, jikalau demikian apalah faidahnya hadits ini, sebab jikalau kita menerima klaim tersebut para 'Shahabat dan Tabi'in' baru akan selalu ada sampai hari Kiamat.

Dari Abu Musa al-Asy'ariy رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Bintang-bintang adalah pemberi rasa aman bagi langit. Maka, apabila bintang-bintang itu telah pergi, niscaya langit akan mengalami apa yang telah dijanjikan kepadanya. Aku adalah pemberi rasa aman bagi para Shahabatku. Maka, apabila aku telah pergi, niscaya akan datang kepada para Shahabatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka. Dan semua Shahabatku adalah pemberi rasa aman bagi ummatku. Maka, apabila semua Shahabatku telah pergi, niscaya akan datang kepada ummatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka."
(Shahiih, HR. Muslim, no. 2531)

Begitu pun perkataan 'Abdullah bin Mas'ud رضي الله تعالىٰ عنه untuk meneladani Shahabat Nabi ﷺ.

Beliau رضي الله تعالىٰ عنه berkata,
"Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah ﷺ. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling lurus ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, kesemak mereka berada di jalan yang lurus."
(Diriwayatkan oleh Ahmad, IV/126 - 127, Abu Dawud, no. 4607, at-Tirmidzi, no. 2676, Ibnu Majah, no. 42, ad-Darimi, I/44, al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, I/205, dan al-Hakim, I/95, Irwaa-ul Ghaliil, no. 2455)

Jika ada 'Shahabat' baru sementara hakikatnya tidak, niscaya akan hancur agama ini, sebab bagaimana mungkin kita meneladani 'Shahabat' baru sebagaimana anjuran 'Abdullah bin Mas'ud رضي الله تعالىٰ عنه diatas.

Ketahuilah bahwasanya melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan terjaga (baca : sadar) adalah sebuah kemustahilan (baca : kedustaan), adapun dalam mimpi mungkin saja terjadi namun itu pun harus dicek dan diteliti akan kebenarannya dari ciri-ciri yang ada di dalam mimpi tersebut apakah itu seperti dan sesuai dengan ciri-ciri Rasulullah ﷺ yang telah disebutkan dalam hadits ataukah sebaliknya. Memang syaithan tidak bisa menyerupai Rasulullah ﷺ namun syaithan bisa mengaku-aku sebagai Rasulullah ﷺ di dalam mimpi seorang hamba.

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

✒ Abu 'Aisyah Aziz Arief_
Photo

Post has shared content

Post has shared content
Inilah pentingnya mempelajari tauhid sejak dini, karena Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)

Seluruh para nabi dan rasul da'wahnya adalah tauhid yakni menyeru beribadah berdo'a dan meminta hanya kepada Allah سبحانه و تعالىٰ . Dan tidak ada seorang nabi dan rasul pun yang berda'wah pertama kali kepada kaumnya dengan politik.

Allah تبارك و‏تعالىٰ berfirman :
"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah (tuhan yang berhak diibadahi dengan benar) selain Aku (Allah), maka beribadahlah kepada-Ku."
(QS. Al-Anbiyaa' [21] : 25)

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya ialah Neraka dan tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun."
(QS. Al-Maa'idah [5] : 72)

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

Copas.
Photo

Post has shared content
KEUTAMAAN BERJALAN KAKI KE MASJID

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
“Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajat.” (HR. Muslim no. 1553)
Photo

Post has attachment
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sahabat...
Tahukan Amalan Peghapus Dosa Pengangkat Derajat..???
Salah satu amalan penghapus dosa dan yang mengangkat derajat manusia ada 3:
1. Menyempurnakan Wudhu di Saat yang Sulit
2. Melangkahkan kaki ke masjid untuk sholat berjamaah
3. Menunggu sholat setelah sholat
Untuk penjelasannya silahkan simak kajian pejuang subuh dg tema Amalan Penghapus Dosa dan Pengangkat Derajat.

Simak video kajiannya => https://youtu.be/B23MP8oGoIY
Wait while more posts are being loaded