Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Persoalan Pangan, Sandang dan Papan, untuk orang minang telah tercover dari: Sawah pergiliran, Kebun dan Rumah Gadang. Model ini dapat diupgrade menjadi Usaha Bersama Bisnis untuk pangan, perluasan tanah ulayat dan rumah bersama untuk kaum atau komunitas.

Setelah itu, orang minang akan menaiki jenjang pergerakan kepada tata kelola pemerintahan (menjadi niniak mamak), keilmuan (cadiak pandai) dan menjadi teladan dalam agama Islam (alim ulama).

Kepala adalah tempatnya cadiak pandai, hati adalah tempatnya alim ulama dan anggota tubuh adalah tempatnya niniek mamak. Satu dalam kesatuan dalam pribadi orang minangkabau.

Post has attachment

Post has shared content
Tanah adat masarakat kampar dirimbo panjang di per jual beli kan oleh oknum oknum MAFIA TANAH
Tanah tanah yang telah diolah oleh kelompok kelompok masarakat adat kampar di ganggu dan dimusnahkan
PhotoPhotoPhoto
11/09/16
3 Photos - View album

Ba.a kaba sanak rantau di mano sajo

Post has shared content

Assalamualaikum..uda..uni ..sarato sanak yg saya hormati..ambo nio batanyo saketek...yaitu nyo tantang sarat sarat jadi penghulu...karano ambo kurang mangarati...mohon bantuan nyo..tarimokasih..

Post has attachment
MASYARAKAT NAN SAKATO, PANDANGAN HIDUP MINANG

Masyarakat Minang adalah masyarakat yang arif dan kaya akan nilai-nilai kebudayan dan filosofi. Orang Minang mengenal pepatah-pepatah yang erat dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minang merupakan masyarakat yang lekat dengan syariat islam. Oleh karena itu semua bentuk kebudayaannya sesuai dengan kitab suci Al-Qur’an. Walaupun begitu, dalam beberapa aspek tertentu masih relatif berbeda dengan ajaran Islam.

Kehidupan masyarakat Minang juga sangat lekat dengan alam, dikenal sebagai masyarakat yang hidup secara komunal dan mengedepankan kekeluargaan serta nilai-nilai kerukunan. Keluhuran tradisi masyarakat Minang ini tentu saja dilatarbelakangi oleh keluhuran falsafah hidup yang diwariskan oleh nenek moyang orang Minang. Falsafah orang Minang disebut dengan Falsafah Samo atau sama yang bermakna persamaan, kesamaan dan kebersamaan antar individu, antar kaum dan antar desa.

Masyarakat Minang juga dikenal sebagai masyrakat yang egaliter yang berarti bersifat sama; sederajat. Berdasarakan hal itulah nenek moyang masyarakat Minang mewariskan tujuan-tujuan hidup yang ingin diwujudkan oleh anak cucunya. Tujuan itu demi membentuk masyarakat yang aman, damai, sejahtera dan berkah. Tujuan tersebut hanya dapat diwujudkan dengan membentuk tatanan masyarakat yang ideal sesuai adat Minang, yaitu Masyarakat nan Sakato sebagai pandangan hidup orang Minang.

Masyarakat Nan Sakato berarti masyarakat yang sekata, sependapat dan semufakat. Hal tersebut bermakna bahwa masyarakat Minang harus menjadi masyarakat yang hidup rukun tanpa banyak pertentangan pendapat demi kehidupan yang lebih baik. Tipe masyarakat ideal yang merupakan cita-cita masyarakat Minang ini akan bisa terwujud dengan memperhatikan unsur-unsur yang harus dibangun dalam masyarakat Minang itu sendiri.  Unsur-unsur itu adalah masyarakat yang Saiyo Sakato, Sahino Samalu, Anggo Tanggo, dan Sapikua Sajinjiang.

Saiyo Sakato berari mufakat dalam mengambil keputusan. Dengan demikian adat Minang mengenal musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan. Perbedaan pendapat memang lumrah terjadi di kalangan masyarakat manapun untuk itulah jalan musyawarah adalah cara untuk mencari kata mufakat tersebut. Masyarakat Minang adalah masyarakat yang demokratis, sekalipun dalam ruang lingkup keluarga. Kepala keluarga harus selalu mengambil jalan musyawarah dalam mengambil keputusan. Karena itulah sikap otoriter tidak disukai oleh orang Minang.

Sahino Samalu merupakan prinsip orang Minang dalam membangun masyarkat yang Saiyo Sakato. Prisnsip ini mengedepan aspek kedekatan dan kekeluargaan masyarakat Minang. Dengan memegang teguh prinsip ini menjadikan harga diri individu sama dengan harga diri kelompok atau suku. Dengan kata lain prinsip ini adalah prinsip persatuan dan kesatuan orang Minang

Prinsip Anggo Tanggo adalah kepatuhan masyarakat Minang terhadap aturan-aturan adat yang berlaku. Dengan mematuhi aturan-aturan yang berlaku maka akan tercipta tatanan masyarakat yang tertib dan aman. Dan terakhir adalah prinsip  Sapikua Sajinjiang yang berarti saling membantu dan tolong menolong. Prinsip ini sama dengan pepatah  “berat sama dipikul ringan sama dijinjing” yang berarti gotong royong. Prinsip ini merupakan tipikal masyarakat komunal di suku manapun, dengan hidup berdampingan dan saling membantu dalam mengerjakan sesuatu.

Keempat prinsip ini adalah karakter dan pandangan hidup orang Minang yang harus selalu diperthankan demi menciptakan tatanan masyarakat Minang yang ideal yaitu Masyarakat Saiyo Sakato. Dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip tersebut diharapkan masyarakat Minang mampu mewujudkan cita-cita nenek moyang orang Minang “Bumi Sanang Padi Manjadi Padi Masak Jaguang Maupiah Anak Buah Sanang Santoso Taranak Bakambang Biak Bapak Kayo Mande Batuah Mamak Disambah Urang Pulo”.

 

Sumber Rujukan:

Abqary, Qusthan. 2006. Merantau : Antara Dorongan Ekonomi dan Budaya. (http://jurnalmahasiswa.filsafat.ugm.ac.id/nus-7.htm diakses tanggal 2 Januari 2012 pukul 11.58 WIB)

………, 2012. Filsafat Adat Minangkabau. (http://www.oocities.org/asia/mo3ly4d1/hfilsafat.htm diakses tanggal 2 Januari 2012 pukul 11.58 WIB)

…………., 2011. Falsafah Adat Minangkabau. (http://makmureffendi.wordpress.com/falsafah-adat-minangkabau/ diakses tanggal 2 Januari 2012 pukul 12.14 WIB)

…………., 2011. Budaya Minang. (http://sosbud.kompasiana.com/2011/08/12/budaya-minang/ adat-minangkabau/ diakses tanggal 2 Januari 2012 pukul 12.23 WIB)

………….., 2012. Sejarah Minangkabau. (http://www.pandaisikek.net/index.php/artikel/artikel-islam/sejarah-minangkabau/566-sejarah-minangkabau-bag-8 diakses tanggal 2 Januari 2012 pukul 12.23 WIB)
#minangkabau  
Wait while more posts are being loaded