Post has attachment

Ruang yang sempit dengan udara pengap
Sesak meremas hendak menghentikan nafas
Beningnya udara membasuh paru
Oksigen keluar masuk menyucikan darah
Mata yang jernih melepas pandangan
Alam menghijau dengan wewangian bunga
Menenggelamkan logika dalam maya
Udara berhembus dengan kelembaban
Membasuh ranting yang layu kehausan
Bening embun bak mutiara di rerumputan
Gugur seiring senyuman hangat sang mentari
Tereguk akar rerumputan
Besok menghijaukan setiap helaian
Teduhkan mata dari kegersangan
Suburkan pohon apel yang tumbuh di perkebunan
Hasrat menunggu dengan gelisah
Kapan apel itu akan berbuah yang manis
Semanis dalam belantara angan dan impian
Penantian yang penuh kecemasan
Dari kumbang dan belalang yang dapat menggugurkan
Bunga bakal buah atau menghabiskan helaian daunnya
Hingga pohon apel tak dapat menyajikan buahnya yang manis
Hanya tinggal ranting ranting yang keras dan lesu

kalbu berkelana dari setiap sudut
dan lorong waktu terus menyembunyikan setiap rahasia
bertanya dan bertanya
mencari jawaban atas kebenaran
siapa yang berhak menjawab dengan kebenaran
benarkah itu suatu kebenaran
atau muslihat dari para penyihir
yang dianggap sebagai suatu kebenaran
bukankah kebenaran itu sangat dekat dengan dirimu
kenapa kamu tak mengenali sedikitpun
jiwa jiwa pendosa
sucikan dan murnikan kembali dirimu
biar kamu bisa melihat mengenali kebenaran yang hakiki

kelam dalam cahaya
suatu nanti bukan mimpi
akhir keputusan

awan bergerak pelahan
hembusan angin yang sejuk
langitpun mulai cerah membiru
hangat surya mulai menusuk pori
mengalirkan darah dari jantung
ke setiap sudut nadi
dari kepala ke ujung kaki
nafaspun keluar masuk tanpa terhambat
lega lega dan lega

gerimis di fajar pagi
merayap beku menyelimuti bumi
menahan keramaian jalanan
dari para manusia
berharap sang mentari bangun
dengan membawa secawan kopi panas
untuk penghangat
untuk mencairkan kebekuan bumi
kebekuan keinginan para insan
mimpi mimpi yang telah tergoreskan pada kanvas
biarkan terpatri dan mengering
hingga menjadi prasasti
untuk cerita anak cucunya

sendirian........

telaga bening dikaki gunung
gagah perkasa menjulang menggapai langit
berbaris pepohonan dalam keseimbangan
di tepi telaga sekelompok kupu berpesta
di taman bunga beraneka warna
hidangan aneka nektar dalam cawan mahkota
berwarna warni dan penuh aroma wangi
angin berhembus diantara pepohonan
sajikan musik bernuansa alam
sang kolibri melantunkan nyanyian kebebasan
mengiringi meramaikan melengkapi pesta
keseimbangan alami dalam keagungan
keindahan kuasa Illahi

malam yang sunyi tenggelam dalam gelap
terkulai tubuh lelah seperti tak bertulang
mata redup saat kantuk mulai menyerang
mata setengah usia dari sekian waktu memandang
fenomena alam dari waktu ke waktu
membaca setiap cerita yang selalu berganti
mengalir terus mengikuti
kadang membuat tersenyum kadang membuat menangis
sebuah lakon setiap jiwa yang menjadi kenangan
tercipta dari cita rasa dan karsa
dari pengetahuan yang dangkal
tak pernah mendapat jawaban dari angan
biarkan mengalir seperti darah dalam nadi
atau air mengalir dari gunung ke samudra

Wait while more posts are being loaded