Post has attachment

Post has attachment
○●○●○●○
🔰 Silsilah Fatawa Aqidah 🔰
_______________________
🔘 UCAPAN "ANDA MENGETAHUI ILMU GHOIB" NAMUN BERCANDA DENGAN UCAPANNYA, APAKAH KELUAR DARI ISLAM DAN MURTAD?
_______________________

🎓 Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah

✒_PERTANYAAN:

Jika ada seseorang berkata kepada yang lain: "Anda adalah orang yang mengetahui ilmu ghoib." Namun dia bercanda dengan perkataan tersebut, apakah (ucapan) tersebut mengeluarkan dari Islam? Apakah orang yang mengatakan ucapan ini dihukumi murtad?

🔐 J A W A B A N:

👋🏻 Jika maksud dia (dengan ucapan ini) hanya bercanda,

👉🏻 Atau dia bermaksud dengan ucapan ini dikarenakan Anda adalah orang yang cerdas,

👋🏻 Maka hal ini tidak bermadhorot dan tidak mengeluarkan dari Islam, karena tidak meyakini bahwa dia itu mengetahui ilmu ghoib.

👉🏻 AKAN TETAPI JIKA DIA MEYAKINI MENGETAHUI ILMU GHOIB MAKA DIA MENJADI MURTAD.

📔 Sumber:
Pelajaran dalam Syarhu Nawaqidhil Islam (penjelasan pembatal-pembatal keislaman) hal. 34

*_________________🇸🇦🇮🇩

السؤال:
إذا قال شخص لآخر: "أنت تعلم الغيب"، من باب المزاح فهل قوله هذا ردة؟ وهل يحكم عليه بالردة؟

الجواب:
إذا كان قصده المزاح أو أنه يقصد بذلك أنك صاحب فطنة، هذا لا يضر وليس بردة، لأنه لا يعتقد أنه يعلم الغيب، ولكن إذا اعتقد أنه يعلم الغيب صار مرتداً.

المصدر:
دروس في شرح نواقض الإسلام، ص. ٣٤ - الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه اللّه

✏_Alih Bahasa: Azmi Abu 'Ubaidah Sangatta hafizhahullah
_______________________
🌏 WA Ahlus Sunnah Karawang ll www.ahlussunnahkarawang.com

Post has attachment
Photo

Post has attachment
💥SETIAP MAKSIAT ADALAH JENIS KESYIRIKAN

🎁Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah:

"Setiap kemaksiatan adalah jenis kesyirikan"

Sabda Nabi shallallahu 'alahi wa sallam: "Jangan engkau beri kabar gembira mereka " yakni jangan engkau beri kabar mereka dan لا adalah larangan.

Maksud hadits tersebut adalah Allah tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukan Dia dengan sesuatupun dan kemaksiatan itu terampuni dengan merealisasikan tauhid, namun Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk mengabarkan kepada mereka; agar tidak bersandar kepada kabar gembira ini tanpa merealisasikan konsekuensinya; karena merealisasikan tauhid mengharuskan untuk menjauhi maksiat; karena maksiat itu bersumber dari hawa nafsu yang merupakan jenis kesyirikan, Allah ta'ala berfirman: "Maka apakah engkau pernah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya." (Al-Jatsiyyah:23)
Kesesuaian hadits tersebut dengan judul adalah: keutamaan tauhid dan bahwasannya tauhid penghalang siksa Allah ta'ala.
📂Halaman 21
Maka maksiat itu dari sisi arti yang umum atau jenis yang umum kita bisa menganggapnya termasuk kesyirikan. Adapun dengan arti yang khusus, terbagi menjadi beberapa macam:
1. Syirik besar
2. Syirik kecil
3. Maksiat besar
4. Maksiat kecil

Maksiat-maksiat ini diantaranya ada yang berkaitan dengan hak Allah, hak seseorang dengan dirinya dan dengan hak manusia.
Merealisasikan kalimat Laa ilaaha illallah adalah perkara yang sangat sulit, sehingga sebagian salaf berkata: "Setiap maksiat adalah jenis kesyirikan."

🔊 Dan berkata sebagian salaf yang lainnya: " Tidaklah sesuatu yang aku berusaha dengan sungguh-sungguh terhadap diriku memeranginya diatas keikhlasan."
Tidaklah mengetahui hal ini melainkan seorang mukmin, adapun selain mukmin; tidaklah memerangi dirinya untuk ikhlas,
➡pernah dikatakan kepada Ibu Abbas radhiyallahu 'anhuma: Sesungguhnya orang-orang Yahudi berkata: Kami tidak merasa waswas dalam shalat
.Beliaupun berkata: Apa yang akan setan perbuat dengan hati yang runtuh?!; Setan tidaklah datang untuk meruntuhkan sesuatu yang roboh, namun dia datang untuk meruntuhkan sesuatu yang makmur

➡dan pernah dikeluhkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasannya seseorang mendapati dalam dirinya sesuatu yang dia pandang penting untuk membicarakannya; Beliaupun bersabda: Kalian mendapati hal itu? mereka menjawab: Ya. Beliau bersabda: Itulah keimanan yang jelas yakni itulah tanda yang jelas atas jelasnya keimananmu karena telah datang atasnya, dan tidaklah datang melainkan atas hati yang benar lagi ikhlas.

📚Kitab al-Qaulul Mufid

💻🔍
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=135939

🌈WHATSAPP AL-UKHUWWAH

🇸🇦

يقول الشيخ العثيمين رحمه الله في كتاب القول المفيد لشرح كتاب التوحيد

"كل معصية، فهي نوع من الشرك"


قوله: "لا تبشرهم"، أي: لا تخبرهم، ولا ناهية.

ومعنى الحديث أن الله لا يعذب من لا يشرك به شيئاً، وأن المعاصي تكون مغفورة بتحقيق التوحيد، ونهى صلى الله عليه و سلم عن إخبارهم؛ لئلا يعتمدوا على هذه البشرى دون تحقيق مقتضاها؛ لأن تحقيق التوحيد يستلزم اجتناب المعاصي؛ لأن المعاصي صادرة عن الهوى، وهذا نوع من الشرك، قال تعالى: )أفرأيت من اتخذ إلهه هواه( [الجاثية: 23].

ومناسبة الحديث للترجمة: فضيلة التوحيد، وأنه مانع من عذاب الله.

الصفحة 21

وقال الله - عز وجل ـ: )أفرأيت من اتخذ إلهه هواه( [الجاثية: 23].

فالمعاصي من حيث المعنى العام أو الجنس العام يمكن أن نعتبرها من الشرك. وأما بالمعنى الأخص؛ فتنقسم إلى أنواع:

1- شرك أكبر.

2- شرك أصغر.

3- معصية كبيرة.

4- معصية صغيرة.

وهذه المعاصي منها ما يتعلق بحق الله، ومنها ما يتعلق بحق الإنسان نفسه، ومنها ما يتعلق بحق الخلق.

وتحقيق لا إله إلا الله أمر في غاية الصعوبة، ولهذا قال بعض السلف: "كل معصية، فهي نوع من الشرك".

وقال بعض السلف: "ما جاهدت نفسي على شيء مجاهدتها على الإخلاص"، ولا يعرف هذا إلا المؤمن، أما غير المؤمن؛ فلا يجاهد نفسه على الإخلاص، ولهذا قيل لابن عباس: "إنّ اليهود يقولون: نحن لا نوسوس في الصلاة. قال: فما يصنع الشيطان بقلبٍ خرب؟!"؛ فالشيطان لا يأتي ليخرّب المهدوم، ولكن يأتي ليخرّب المعمور، ولهذا لما شُكي إلى النبي r أن الرجل يجد في نفسه ما يستعظم أن يتكلم به؛ قال: "وجدتم ذلك؟". قالوا: نعم.

قال: "ذاك صريح الإيمان"(1)؛ أي: أن ذاك هو العلامة البينة على أنّ إيمانكم صريح لأنّه ورد عليه، ولا يرد إلا على قلب صحيح خالص.

قوله: "من شهد أن لا إله إلا الله"، من: شرطية، وجواب الشرط: "أدخله الله الجنة على ما كان من العمل".

(1) مسلم: كتاب الإيمان/ باب الوسوسة في الإيمان.

الصفحة 31 من كتاب القول المفيد لشرح كتاب التوحيد للشيخ العثيمين رحمه الله

〰〰〰〰〰〰〰

7 Amalan Sederhana yang Akan dibalas Dengan Istana di Surga (Asy-Syaikh Badr Al-Badr)

admin August 26, 2015 7 Amalan Sederhana yang Akan dibalas Dengan Istana di Surga (Asy-Syaikh Badr Al-Badr)2015-08-27T03:08:48+00:00Artikel & Fatawa Akhlaq No Comment

Berjalan di bawah bimbingan Ulama' Rabbaniyyin merupakan jalan keselamatan di masa penuh fitnah seperti saat ini

Alhamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Alihi wa Shahbihi wa man walah, wa ba’du:

Berikut ini adalah beberapa amalan yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya barangsiapa yang mengamalkannya akan Allah bangunkan untuknya istana di jannah (surga).

Orang yang Membangun Masjid Karena Allah

Dari Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ‘alaihis Shalatu was Salam bersabda, “Barangsiapa membangun masjid karena mengharap wajah Allah, maka akan Allah bangunkan untuknya sebuah Istana di jannah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam permasalahan ini ada beberapa hadits, di antaranya ialah,

Hadits Pertama: dari Ali Radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no.744) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’(no.6127)

Hadits Kedua: dari Jabir Radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no.745) dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (no.1292), Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (no.6128), dan (Muqbil) Al-Wadi’I dalam Ash-Shahih Al-Musnad (no.224)

Hadits Ketiga: dari Ibnu ‘AbbasRadhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Ahmad (no.2156) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalamShahih Al-Jami’ (no.6129)

Hadits Keempat: dari Amr bin ‘AbasahRadhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Ahmad (no.19386) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (no.6130)

Hadits Kelima: dari Ibnu UmarRadhiallahu ‘anhuma diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (no.6130)

Hadits Keenam: dari Umar bin Al-Khattab Radhiallahu ‘anhudiriwayatkan Ibnu Majah (no.742), dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no.1606), dan dishahihkan Al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah (no.742)

Hadits Ketujuh: dari Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallahu ‘anhu dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no.1608)

Membaca Surat Al-Ikhlas Sebanyak Sepuluh Kali (dalam sehari)

Dari Mu’adz bin Anas Radhiallahu ‘anhubeliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,“Barangsiapa membaca Qul Huwallahu Ahad hingga menyelesaikannya sebanyak sepuluh kali, maka akan Allah bangunkan untuknya sebuah istana di jannah.”

Diriwayatkan Ahmad (no.155788) dan Al-Albani berkata di dalam Ash-Shahihah (no.589), “Hasan dengan syawahid (penguat)nya.”

Shalat Dhuha Empat Raka’at dan Qobliyah Zhuhur Empat Raka’at

Dari Abu Musa Radhiallahu ‘anhubahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa shalat Dhuha empat raka’at dan sebelum (shalat) yang pertama (yakni Zhuhur) empat raka’at, maka akan dibangunkan untuknya istana di jannah.”

Diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath (1/59), Al-Albani berkata dalam Ash-Shahihah (no.2349), “Sanadnya Hasan”

Shalat Empat Raka’at Qobliyah Zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah Isya’, dan dua raka’at sebelum shalat fajar (shubuh).

Dari Ummu Habibah Radhiallahu ‘anhaberkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat sunnah sebanyak dua belas raka’at dalam sehari semalam, maka akan Allah bangunkan untuknya istana di jannah.” Diriwayatkan Muslim (no.728), Abu Daud (no.1136), dan Ibnu Hibban dalam shahihnya (no.2442)

Dalam lafazh At-Tirmidzi dan dishahihkannya, “Barangsiapa melakukan shalat (sunnah) sebanyak dua belas raka’at dalam sehari semalam, maka akan dibangunkan untuknya istana di jannah, yaitu: empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya’, dan dua raka’at sebelum shalat Al-Ghodah (yakni shalat shubuh).” Dishahihkan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (no.1188), Ibnu Hibban dalam Shahihnya (no.2443), dan Al-Albani dalam Al-Jami’ (no.6362)

Riwayat ini memiliki penguat dari Aisyah Radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang terus menerus mengerjakan dua belas raka’at shalat sunnah, maka akan Allah bangunkan untuknya sebuah istana di jannah, yaitu: empat raka’at sebelum zhuhur dan dua raka’at setelahnya, dua raka’at setelah maghrib, dua raka’at setelah isya’, dan dua raka’at sebelum (shalat) fajar.” Al-Mubarakfuri dalam At-Tuhfah (2/255) mengatakan, “Sanadnya tidak turun dari derajat hasan.”

Perangai yang Baik, Meninggalkan Perdebatan dan Kedustaan

Dari Abu Umamah Radhiallahu ‘anhuberkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Aku akan menjamin dengan istana di pinggiran jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun pada posisi benar, aku menjamin dengan istana di tengah jannah bagi orang yang meninggalkan dusta walaupun sedang bercanda, dan aku menjamin dengan jannah yang paling tinggi bagi orang yang baik perangainya.” Diriwayatkan Abu Daud, dan dikatakan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no.273): “hasan dengan penguat-penguatnya.”

Bersabar dan Mengharap Pahala Ketika Anaknya Meninggal

Dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah berfirman kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’

Malaikat menjawab, ‘benar’,

Allah berfirman lagi, ‘apakah kalian mencabut nyawa buat hati hamba-Ku?’

Malaikat menjawab, ‘benar’

Allah berfirman, ‘apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?’

Malaikat menjawab, ‘dia memuji Engkau dan beristirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,pen),

maka Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku tersebut sebuah istana di jannah dan namailah istana tersebut dengan baitul hamdi (istana pujian).”

Diriwayatkan at-Tirmidzi (no.1021) dan beliau berkata, “hadits hasan gharib.” Dan dishahihkan Ibnu Hibban (no.2937)

Berdo’a Ketika Memasuki Pasar

Dari Salim bin Abdullah bin Umar dari bapaknya Radhiallahu ‘anhumabahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,“Barangsiapa berkata di pasar,

لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيء قدير

(artinya) tidak ada sesembahan yang hak diibadahi selain Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Maha menghidupkan dan Maha mematikan, Dia hidup tidak mati, di tangan-Nya lah segala kebaikan. Dan Dia Maha mampu atas segala sesuatu.”

Maka Allah akan menuliskan untuknya satu juta kebaikan dan menghapuskan darinya satu juta kejelekan, dan akan dibangunkan baginya sebuah istana di jannahh.”

Diriwayatkan at-Tirmidzi (no.3429) dan dihasankan Al-Albani. Berkata Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/539), “Hadits shahih.”

Ditulis oleh:

Badar bin Muhammad Al-Badar

Sumber:http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=154404

💻warisansalaf.com/2015/08/26/7-amalan-sederhana-yang-akan-dibalas-dengan-istana-di-surga-asy-syaikh-badr-al-badr/

Post has attachment
Photo

🚧HUKUM MENGHINA JENGGOT
〰〰〰〰〰〰〰

📬 Ditanya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh رحمه الله ( Ketua Dewan Fatwa Saudi - sebelum Syaikh bin Baaz ) tentang ucapan yang mengatakan bahwa jenggot adalah sesuatu yang kotor. Apakah ucapan tersebut bisa mengeluarkan pelakunya dari islam?

📞Beliau menjawab :

💡🔓 Perlu ditinjau, bila ia mengucapkan dalam keadaan mengetahui bahwa jenggot adalah sunnah, berati ia telah memperolok ajaran Nabi shallahu ' Alahi wasallam dan pantas baginya untuk divonis keluar dari islam.

📚 Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh 12/ 195

==================

ﺳﺌﻞ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ
ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢﺁﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ – ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ– ﻋﻦﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﻮﻝ:ﺇﻥﺍﻟﻠﺤﻴﺔﻭﺳﺎﺧﺔ ﻫﻞ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻣﺮﺗﺪﺍً ؟

ﻓﺄﺟﺎﺏ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ﻓﻴﻪ ﺗﺄﻣﻞ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻧﻪﺛﺎﺑﺖ ﻋﻦ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻓﻬﺬﺍ ﺍﺳﺘﻬﺰﺍﺀ ﺑﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﺑﻪﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺤﺮﻱ ﺃﻥﻳﺤﻜﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻟﻚ

ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺳﻤﺎﺣﺘﻪ 12/195

____🔰Salafy Tegal🔰__

========================
⭐🌈 WA Riyadhul Jannah As-Salafy
========================
💎🌾🌴💎🌾🌴💎🌾🌴

Post has attachment
💥✒📂🌺 BOLEHKAH MENULIS HUKUM TAJWID DIATAS AYAT PADA MUSHAF

✒📂 Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah

📫 Pertanyaan : Bolehkah penulisan hukum-hukum tajwid diletakkan diatas ayat-ayat al Qur'an didalam mushaf?

🔓 Jawaban : Tidak diperbolehkan menulis apapun. Mushaf al Qur'an tidak boleh dituliskan padanya apapun kecuali Kalamullah jalla wa'ala.

✔ Tidak boleh menuliskan padanya footnote, tanda-tanda tajwid atau semisalnya. Dikarenakan al Qur'an harus dibersihkan dari semua perkara lain dan hanya diperuntukkan untuk Kalamullah Azza wajalla

📚 http://www.binbaz.org.sa/node/11280

📝 Alih bahasa : Syabab Forum Salafy

💻 Arsip WSI http://forumsalafy.net/bolehkah-menulis-hukum-tajwid-diatas-ayat-pada-mushaf/
-----------------
كتابة بعض الأحكام التجويدية فوق الآيات في المصحف

السؤال: هل تجوز كتابة بعض الأحكام التجويدية فوق الآيات في المصحف؟

الجواب: لا يجوز أن يكتب شيء، المصحف لا يكتب فيه شيء، مجرد إلا من كلام الله- جل وعلا-، لا يكتب حواشي, ولا علامات تجويدية ولا غير ذلك؛ لأن المصحف يجب أن يجرده، ويكون خالصاً لكلام الله- عز وجل

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📱📡 Turut Mempublikasikan :

📚 Tholibul Ilmi Cikarang
_________________________
#koleksi-nasehat


🌺🌼🌺🌼

BIDÂDÃRI DI SURGÄ YANG CÄNTIK & JELITÄ ✨✨

🍂🍃🍂🍂🍃🍂🍃

Al-Qur’an yang mulia sering menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman yang akan diperoleh kelak di surga, karena memang surga adalah tempat bersenang-senang dalam keridhaan ar-Rahman.

Berbeda halnya dengan dunia sebagai darul ibtila’ wal imtihan, negeri tempat ujian dan cobaan.
Di dalam surga, penghuninya akan beroleh apa saja yang mereka inginkan. Allah kabarkan dalam kalam-Nya yang agung:
“Di dalam surga itu terdapat segala apa yang diidamkan oleh jiwa dan sedap (dipandang) mata.”
(az-Zukhruf: 71)

Al-‘Allamah Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di menafsirkan ayat di atas dengan ucapannya:
“Kalimat (dalam ayat) ini merupakan lafadz yang jami’ (mengumpulkan semuanya). Ia mencakup seluruh kenikmatan dan kegembiraan, penenteram mata, dan penyenang jiwa.

Jadi, seluruh yang diinginkan jiwa, baik makanan, minuman, pakaian, maupun pergaulan dengan pasangan hidup, demikian pula hal-hal yang menyenangkan pandangan mata berupa pemandangan yang bagus, pepohonan yang indah, hewan-hewan ternak, dan bangunan-bangunan yang dihiasi, semuanya bisa didapatkan di dalam surga.

Semuanya telah tersedia bagi penghuninya dengan cara yang paling sempurna dan paling utama.”
(Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 769)

Di antara kenikmatan surga adalah beroleh pasangan/istri berupa bidadari surga yang jelita. Al-Qur’anul Karim menggambarkan sifat dan kemolekan mereka dalam banyak ayat, di antaranya:

🌸 1. Gadis Perawan yang Sebaya Umurnya

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan beroleh kesenangan, (yaitu) kebun-kebun, buah anggur, dan kawa’ib atraba (gadis-gadis perawan yang sebaya).”
(an-Naba’: 31—33)

Ibnu Abbas, Mujahid, dan selainnya menafsirkan bahwa kawa’ib adalah nawahid, yakni buah dada bidadari-bidadari tersebut tegak, tidak terkulai jatuh, karena mereka adalah gadis-gadis perawan yang atrab, yaitu sama umurnya/sebaya.
(Tafsir Ibni Katsir, 7/241)

🌸2. Diciptakan sudah langsung dalam bentuk Gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita surga) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.”
(al-Waqi’ah: 35—37)

Wanita penduduk surga diciptakan Allah dengan penciptaan yang tidak sama dengan keadaannya ketika di dunia. Mereka diciptakan dengan bentuk dan sifat yang paling sempurna yang tidak dapat binasa.

Mereka semuanya, baik bidadari surga maupun wanita penduduk dunia yang menghuni surga, dijadikan Allah sebagai gadis-gadis yang perawan selamanya dalam seluruh keadaan.

Mereka senantiasa mengundang kecintaan suami mereka dengan tutur kata yang baik, bentuk dan penampilan yang indah, kecantikan paras, serta rasa cintanya kepada suami.

Apabila wanita surga ini berbicara, orang yang mendengarnya ingin andai ucapannya tidak pernah berhenti, khususnya ketika wanita surga berdendang dengan suara mereka yang lembut dan merdu menawan hati.

Apabila suaminya melihat adab, sifat, dan kemanjaannya, penuhlah hati si suami dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Apabila si wanita surga berpindah dari satu tempat ke tempat lain, penuhlah tempat tersebut dengan wangi yang semerbak dan cahaya.

Saat “berhubungan” dengan suaminya, ia melakukan yang terbaik.
Usia mereka, para wanita surga ini, sebaya, 33 tahun, sebagai usia puncak/matang dan akhir usia anak muda.

Allah menciptakan mereka sebagai perempuan yang selalu gadis lagi sebaya, selalu sepakat satu dengan yang lain, tidak pernah berselisih, saling dekat, ridha dan diridhai, tidak pernah bersedih, tidak pula membuat sedih yang lain.

Bahkan, mereka adalah jiwa-jiwa yang bahagia, menyejukkan mata, dan mencemerlangkan pandangan.
(Lihat keterangan al-Allamah as-Sa’di t dalam Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 834)

🌸3. Belum pernah di sentuh oleh siapapun , Keindahannya seakan akan bagai Permata, Yakut dan Marjan

“Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan? Di ranjang-ranjang itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.”
(ar-Rahman: 55—58)

Mereka menundukkan pandangan dari melihat selain suami-suami mereka sehingga mereka tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus daripada suami-suami mereka.

Demikian yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas dan lainnya.

Diriwayatkan bahwa salah seorang dari mereka berkata kepada suaminya:
“Demi Allah! Aku tidak pernah melihat di dalam surga ini sesuatu yang lebih bagus daripada dirimu. Tidak ada di dalam surga ini sesuatu yang lebih kucintai daripada dirimu. Segala puji bagi Allah yang Dia menjadikanmu untukku dan menjadikanku untukmu.”
(Tafsir Ibni Katsir, 7/385)

Bidadari yang menjadi pasangan hamba yang beriman tersebut adalah gadis perawan yang tidak pernah digauli oleh seorang pun sebelum suami-suami mereka dari kalangan manusia dan jin.

Mereka diibaratkan permata yakut yang bersih bening dan marjan yang putih karena bidadari surga memang berkulit putih yang bagus lagi bersih.
(Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 385)

🌸4. Baik Akhlaknya dan Sungguh Cantik rupanya

“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik (akhlaknya) lagi cantik-cantik parasnya.”
(ar-Rahman: 70)

Terkumpullah kecantikan lahir dan batin pada bidadari atau wanita surga itu.
(Taisir al-Karimir Rahman hlm. 832)

🌸5. Jelita, Putih Bersih dan dipingit dalam rumah

“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dan dipingit di dalam rumah.”
(ar-Rahman: 72)

Rumah mereka dari mutiara. Mereka menyiapkan diri untuk suami mereka. Namun, bisa jadi mereka pun keluar berjalan-jalan di kebun-kebun dan taman-taman surga, sebagaimana hal ini biasa dilakukan oleh para putri raja dan yang semisalnya.
(Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 832)

🌸6. Bermata Jeli dan berbinar

“Sesungguhnya orang-orang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari-bidadari.”
(ad-Dukhan: 51—54)

Wanita yang berparas jelita dengan kecantikan yang luar biasa sempurna, dengan mata-mata mereka yang jeli, lebar, dan berbinar.
(Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 775)

🌸 7. Tubuh mereka bersih dan indah dengan kulit yang bagus dan Pandangan matanya Selalu terjaga.

“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharf) dan jeli matanya, seakan-akan mereka adalah telur burung unta yang tersimpan dengan baik.”
(ash-Shaffat: 48—49)

Qashiratuth tharf adalah afifat, yakni wanita-wanita yang menjaga kehormatan diri. Mereka tidak memandang lelaki selain suami mereka.
Demikian kata Ibnu Abbas, Mujahid, Zaid bin Aslam, Qatadah, as-Suddi, dan selainnya.

Mata mereka bagus, indah, lebar, dan berbinar-binar. Tubuh mereka bersih dan indah dengan kulit yang bagus.

Ibnu Abbas berkata:
“Mereka ibarat mutiara yang tersimpan.”

Al-Imam al-Hasan al-Bashri mengatakan:
“Mereka terjaga, tidak pernah disentuh oleh tangan.”
(Tafsir Ibni Katsir, 7/11)

Ini menunjukkan ketampanan lelaki dan kecantikan wanita di surga. Sebagiannya mencintai yang lain dengan cinta yang membuatnya tidak memiliki hasrat kepada yang lain.

Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka seluruhnya menjaga kehormatan diri, tidak ada hasad di dalam surga, tidak ada saling benci dan permusuhan, karena tidak adanya sebab yang bisa memicu ke sana.
(Taisir al-Karimir ar-Rahman, hlm. 703)


Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk beramal dengan amalan yang dapat menyampaikan kepada ridha-Nya dan memasukkan kita ke negeri kemuliaan-Nya. Amin.

🌿🍂🌾🌿🍂🌾🌿🍂🌾

Sumber :
📚Majalah Asy-Syariah no. 074
oleh :
📝Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah )

📱📡 Turut Mempublikasikan :

📚 Tholibul Ilmi Cikarang
_________________________

#kisah-renungan-dan-motifasi

Post has attachment
5⃣📚🔪📣 AUDIO SEPUTAR
HUKUM IBADAH KURBAN

✅ 5. Apa saja jenis hewan yang bisa untuk di kurban (Udhiyah) ?

💺 Disampaikan oleh:
Al Ustadz Abu 'Abdillah Luqman bin Muhammad Ba'abduh hafizhahullah

📝 📢 Masjid Ma'had as Salafy Jember || 20 Dzulqa'dah 1435 H ll 14 September 2014 M

🌺 WhatsApp Salafy Indonesia
http://forumsalafy.net

➖➖➖➖🔽🔽➖➖➖➖

📱📡 Turut Mempublikasikan :

📚 Tholibul Ilmi Cikarang
_________________________
150824-WA0004

Unduh di Https://docs.google.com/uc?export=download&id=0B0eMdltVSHpTX2pSdjZ2bmZrVU0

#AUDIO-SEPUTAR-HUKUM-IBADAH-KURBAN
Wait while more posts are being loaded