Post has attachment
update

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment
Lucu asli natural menurut aku...Tolong Share ke temen ya and Subscribe

Post has attachment
Blog Artikel Tip dan Resep..pilihan. Masih banyak yang lainnya tentunya kamu pengen berlangganan hal yang unik terbaru Update tapi dengan syarat kamu harus daftar atau login masukkan email kamu lalu shre atai sharing and subscribe keteman juga ya buat nambah pahal...he he he...jangn lupa ya salam sahabat bloger.

Post has attachment
Manusia Terbaik dan Terburuk

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالَّذِي ل يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا

“Permisalan seorang mukmin yang membaca (mempelajari) al-Qur’an seperti buah limau, enak rasanya, dan harum baunya. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti buah kurma, enak rasanya tetapi tidak ada baunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dua jenis manusia ini adalah golongan manusia yang terbaik. Sebab, manusia terbagi menjadi empat jenis:

1. Manusia yang memiliki kebaikan untuk dirinya sendiri dan orang lain

Inilah jenis manusia yang terbaik, yaitu seorang mukmin yang membaca al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Ia diberkahi di mana pun berada. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala tentang Nabi Isa ‘Alaihissalam,
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Maryam: 31)

2. Manusia yang memiliki kebaikan pada dirinya sendiri
Dia adalah seorang mukmin yang tidak memiliki ilmu agama yang dapat diajarkan kepada orang lain. Dua jenis manusia ini adalah manusia yang terbaik. Sumber kebaikan yang ada pada keduanya terletak pada keimanan mereka, baik keimanan tersebut bermanfaat bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan keadaan setiap mukmin.

3. Manusia yang tidak memiliki kebaikan, tetapi kejelekannya tidak berpengaruh kepada orang lain

4. Manusia yang memiliki kejelekan dan berpengaruh kepada orang lain

Inilah jenis manusia yang terburuk. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ
“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan karena mereka selalu berbuat kerusakan.” (an-Nahl: 88)

Jadi, seluruh kebaikan bersumber dari keimanan pada diri seseorang dan yang menyertai keimanan tersebut. Adapun seluruh kejelekan bersumber dari ketiadaan iman pada diri seseorang dan adanya sifat-sifat yang bertentangan dengan keimanan dalam dirinya. Wallahul muwaffiq. Ini semakna dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala dari mukmin yang lemah, dan semua (mukmin) memiliki kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membagi orang mukmin menjadi dua golongan:

Golongan mukmin yang kuat beramal, kuat keimanannya, kuat memberikan manfaat kepada orang lain, dan
Golongan mukmin yang lemah dalam hal tersebut.
Meski demikian, beliau menjelaskan bahwa kedua golongan mukmin tersebut tetap memiliki kebaikan. Sebab, keimanan dan buah-buahnya, semuanya adalah kebaikan, walaupun setiap mukmin berbeda tingkatannya dalam kebaikan tersebut. Ini pun semisal dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي ل يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
“Seorang mukmin yang berkumpul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak berkumpul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

Dipahami dari hadits sahih di atas, seseorang yang tidak memiliki keimanan berarti tidak ada sedikit pun kebaikan pada dirinya. Sebab, orang yang tidak memiliki keimanan bisa jadi keadaannya selalu jelek, membahayakan dirinya sendiri dan masyarakatnya dalam segala sisi. Bisa jadi pula, dia memiliki sedikit kebaikan yang larut dalam kejelekannya. Kejelekannya akan mengalahkan kebaikannya karena ketika kebaikan terlarut dan tenggelam dalam kerusakan, ia akan menjadi kejelekan.

Kebaikan yang ada padanya akan diimbangi oleh kejelekan yang semisal. Akhirnya, gugurlah kebaikan dan kejelekan tersebut. Yang tersisa hanyalah kejelekan yang tiada lagi kebaikan untuk mengimbanginya. Siapa pun yang memerhatikan kenyataan yang ada pada manusia akan mendapati keadaan mereka sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam. 
Photo

Post has attachment
9 Sebab Lapangnya Dada ...???

ini jawabannya..:

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa perkara penting yang menyebabkan kelapangan dada. Perkara tersebut adalah:

1. AT TAUHID - Semakin sempurna dan semakin kuat seseorang dalam mengesakan Allah subhanahu wata'ala maka akan semakin lapanglah dadanya.

2. NURUL IMAN - (cahaya keimanan dalam hati) - Jika cahaya keimanan ini mengecil atau bahkan mati maka hati seorang hamba akan semakin sempit.

3. AL ILMU - Orang yang berilmu akan senantiasa lapang dadanya tidak seperti orang yang jahil, bodoh terhadap agama Allah ta'ala. Dada orang yang jahil akan terus menerus terasa sempit.

4. AL INAABAH ILALLAH - Selalu kembali kepada Allah, mencintai-Nya dengan sepenuh hati dan menjadikan ibadah sebagai nikmat bukan sebagai beban.

5. DAWAAMU DZIKRILLAH – Senantiasa berdzikir, mengingat Allah ta'ala. Orang yang lalai dari dzikirillah, hatinya akan merasa tidak plong, selalu terbebani.

6. AS SAJAA'AH (keberanian) – Orang yang berani, tidak takut kecuali hanya kepada Allah, maka hatinya pun akan terasa luas. Berbeda dengan seorang pengecut yang senantiasa merasa sempit dadanya di mana pun dia berada.

7. AL IHSAAN – Berbuat baik kepada sesama. Mencurahkan harta, benda, jiwa, kemuliaan agar dapat memberikan manfaat semaksimal mungkin kepada mereka.

8. IKHRAAJ DAGHALIL QALB – Mengeluarkan segala sesuatu yang mengotori hati berupa sifat-sifat yang tercela lalu menggantinya dengan sifat-sifat kemuliaan. Ini adalah salah satu sebab terbesar bagi lapangnya dada seorang hamba.

9. TARKUL FUDHUL – Meninggalkan sikap berlebihan-lebihan dalam segala perkara: Memandang, berbicara, makan, minum, makan, bergaul dan yang semisalnya. Karena berlebih-lebihan dalam perkara ini justru akan menyebabkan kegalauan dan kegelisahan dalam hati.
Photo

Disini menawarkan ajang silaturahmi antar berbagai warnet seindonesia untuk saling mengenal satu sama lain, baik mengenai informasi seputar dunia game online maupun wacana berita daerah.
Wait while more posts are being loaded