Post has shared content
Bukti Terbaru G30S/PKI : Soeharto Dalang Pembunuhan Ahmad Yani?



Ahmad Yanuana Samantho 2 tahun yang lalu

Bukti Terbaru G30S/PKI : Soeharto Dalang Pembunuhan Ahmad Yani?

Jenderal Ahmad Yani
Kesaksian mantan Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama HARYA SUDIRJA bahwa Bung Karno menginginkan Menpangad Letjen Achmad Yani menjadi Presiden kedua bila kesehatan Proklamator itu menurun, ternyata sudah lebih dahulu diketahui isteri dan putra-putri pahlawan revolusi tersebut.

“Bapak sendiri sudah cerita kepada kami (isteri dan putra-putri Yani) bahwa dia bakal menjadiPresiden.Waktu itu Bapak berpesan, jangan dulu bilang sama orang lain”, ujar putra-putri Achmad Yani : Rully Yani, Elina Yani,Yuni Yani dan Edi Yani – Sebelumnya diberitakan dalam acara diskusi “Jakarta – Forum Live, Peristiwa G-30S/PKI, Upaya Mencari Kebenaran” terungkap kesaksian baru, yaitu beberapa hari sebelum peristiwa kelam dalam sejarah republik ini meletus, Bung Karno pernah meminta Menpangad Letjen Achmad Yani menggantikandirinya menjadi presiden bila kesehatan proklamator itu menurun.

Kesaksian tersebut disampaikan salah satu peserta diskusi: Harya Sudirja. Menurut mantan Menteri Pengairan Dasar zaman Orde Lama ini, hal itu disampaikan oleh Letjen Achmad Yanisecara pribadi pada dirinya dalam perjalanan menuju Istana Bogor tanggal 11 September 1965. Putra-putri Achmad Yani kemudian menjelaskan, kabar baik itu sudah diketahui pihak keluarga 2 (dua) bulan sebelum meletusnya peristiwa berdarah G-30S/PKI. “Waktu itu ketika pulang dari rapat dengan Bung Karno beserta para petinggi negara, Bapak cerita sama ibu bahwa kelak bakal jadi presiden”, kenang Yuni Yani, putri keenam Achmad Yani. “Setelah cerita sama ibu, esok harinya sepulang main golf, Bapak juga menceritakan itu kepada kami putra-putrinya. Sambil tertawa, kami bertanya, “Benar nih Pak?” Jawab Bapak ketika itu, “Ya”, ucapnya. Menurut Yuni, berita baik itu juga mereka dengar dari ajudan Bapak yang mengatakan Bapak bakal jadi presiden. Makanya ajudan menyarankan supaya siap-siap pindah ke Istana.

Sedangkan menurut Elina Yani (putri keempat), saat kakaknya Amelia Yani menyusun buku tentang Bapak, mereka menemui Letjen Sarwo Edhie Wibowo sebagai salah satu nara sumber. “Waktu itu, Pak Sarwo cerita bahwa Bapak dulu diminta Bung Karno menjadi presiden bila kesehatan Proklamator itu tidak juga membaik. Permintaan itu disampaikan Bung Karno dalam rapat petinggi negara. Di situ antara lain, ada Soebandrio, Chaerul Saleh dan AH Nasution”, katanya. “Bung Karno bilang, Yani kalau kesehatan saya belum membaik kamu yang jadi Presiden”, kata Sarwo Edhie seperti ditirukan Elina.

Pada prinsipnya, tambah Yuni pihak keluarga senang mendengar berita Bapak bakal jadi Presiden. Namun ibunya (Alm.Nyonya Yayuk Ruliah A.Yani) usai makan malam membuat ramalan bahwa kalau Bapak tidak jadi presiden, bisa dibunuh. “Ternyata ramalan ibu benar. Belum sempat menjadi presiden menggantikan Bung Karno,Bapak dibunuh secara kejam dengan disaksikan adik-adik kami. Untung dan Eddy. “Kalau Bapakmu tidak jadi presiden, ya nangendi (bahasa Jawa artinya :kemana) bisa dibunuh”, kata Nyonya Yani seperti ditirukanYuni. Lalu siapa pembunuhnya ?

Menurut Yuni, Ibu dulu mencurigai dalang pembunuhan ayahnya adalah petinggi militer yang membenci Achmad Yani. Dan yang dicurigai adalah Soeharto. Mengapa Soeharto membenci A.Yani ? Yuni mengatakan,sewaktu Soeharto menjual pentil dan ban yang menangkap adalah Bapaknya. “Bapak memang tidak suka militer berdagang.Tindakan Bapak ini tentunya menyinggung perasaan Soeharto”.

“Selain itu, usia Bapak juga lebih muda, sedangkan jabatannya lebih tinggi dari Soeharto”, katanya. Sedangkan Rully Yani (putri sulung) yakin pembunuh Bapaknya adalah prajurit yang disuruh oleh atasannya.”Siapa orangnya, ini yang perlu dicari”, katanya.Mungkin juga, lanjutnya, orang-orang yang tidak suka terhadap sikap Bapak yang menentang upaya mempersenjatai buruh, nelayan dan petani. “Bapak dulu kan tidak suka rakyat dipersenjatai.

Yang bisa dipersenjatai adalah militer saja”, katanya. Menurut dia, penjelasan mantan tahanan politik G-30S/PKI Abdul Latief bahwa Soeharto dalang G-30S/PKI sudah bisa menjadi dasar untuk melakukan penelitian oleh pihak yang berwajib. “Ini penting demi lurusnya sejarah. Dan kamipun merasa puas kalau sudah tahu dalang pembunuhan ayah kami”, katanya.

Dia berharap, kepada semua pelaku sejarah yang masih hidup bersaksilah supaya masalah itu bisa selesai dengan cepat dan tidak menjadi tanda tanya besar bagi generasi muda bangsa ini. Kesaksian istri dan putra-putri A.Yani bahwa Bapaknyalah yang ditunjuk Bung Karno untuk jadi Presiden kedua menggantikan dirinya, dibenarkan oleh mantan Asisten Bidang Operasi KOTI (Komando Operasi Tertinggi), Marsekal Madya (Purn) Sri Mulyono Herlambang dan ajudan A.Yani, Kolonel (Purn) Subardi.

Apa yang diucapkan putra-putri Jenderal A.Yani itu benar. Dikalangan petinggi militer informasi tersebut sudah santer dibicarakan. Apalagi hubungan Bung Karno dan A.Yani sangat dekat, ujar Herlambang. Baik Herlambang maupun Subardi menyebutkan, walaupun tidak terdengar langsung pernyataan Bung Karno bahwa dia memilih A.Yani sebagai Presiden kedua jika ia sakit, namun keduanya percaya akan berita itu.

“Hubungan Bung Karno dengan A.Yani akrab dan Yani memang terkenal cerdas, hingga wajar jika kemudian ditunjuk presiden”,kata Herlambang. “Hubungan saya dengan A.Yani sangat dekat, hingga saya tahu betapa dekatnya hubungan Bung Karno dengan A.Yani”, ujar Herlambang yang saat ini sedang menyusun buku putih peristiwa G-30S/PKI. Menyinggung tentang kecurigaan Yayuk Ruliah A.Yani (istri A.Yani), bahwa dalang pembunuhsuaminya adalah Soeharto, Herlambang mengatakan bisa jadi seperti itu. Pasalnya 2 (dua) bulan sebelum peristiwa berdarah PKI, Bung Karno sudah menunjuk A.Yani sebagai penggantinya.

Tentu saja hal ini membuat iri orang yang berambisi jadi presiden.Waktu itu peran CIA memang dicurigai ada, apalagi AS tidak menyukai Bung Karno karena terlalu vokal. Sedangkan Yani merupakan orang dekat Bung Karno. Ditambahkan Herlambang, hubungan A.Yani dengan Soeharto saat itu kurang harmonis. Soeharto memang benci pada A.Yani. Ini gara-gara Yani menangkap Soeharto dalam kasus penjualan pentil dan ban. Selain itu Soeharto juga merasa iri karena usia Yani lebih muda, sementara jabatannya lebih tinggi.

Terlebih saat A.Yani menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Bung Karno meningkatkan status KASAD menjadi Panglima Angkatan Darat. “Dan waktu itu A.Yani bisa melakukan apa saja atas petunjuk Panglima Tertinggi Soekarno, tentu saja hal ini membuat Soeharto iri pada A.Yani. Dijelaskan juga, sebenarnya mantan presiden Orde Baru itu tidak hanya membenci A.Yani,tapi semua Jenderal Pahlawan Revolusi. D.I.Panjaitan dibenci Soeharto gara-gara persoalan pengadaan barang dan juga berkaitan dengan penjualan pentil dan ban. Sedangkan kebenciannya terhadap MT. Haryono berkaitan dengan hasil sekolah di SESKOAD. Disitu Soeharto ingin dijagokan tapi MT.Haryono tidak setuju. Terhadap Sutoyo, gara-gara ia sebagai Oditur dipersiapkan untuk mengadili Soeharto dalam kasus penjualan pentil dan ban itu.

Menurut Subardi, ketahuan sekali dari raut wajah Soeharto kalau dia tidak menyukai A.Yani. Secara tidak langsung istri A.Yani mencurigai Soeharto. Dicontohkan, sebuah film Amerika yang ceritanya AD disuatu negara yang begitu dipercaya pemerintah, ternyata sebagai dalang kudeta terhadap pemerintahan itu. Caranya dengan meminjam tangan orang lain dan akhirnya pimpinan AD itulah yang menjadi presiden. “Peristiwa G-30S/PKI hampir sama dengan cerita film itu”, kata Nyonya Yani seperti ditirukan Subardi.



Catatan penulis:

Saya ambil artikel ini dari berbagai sumber dan milis-milis dengan harapan klarifikasi dari para pembaca yang budiman. Sampai saat ini masih menggelayut pertanyaan di setiap kepala rakyat Indonesia tentang bagaimana fakta yang sebenarnya dari peristiwa kelam ini. Masih ada tokohtokoh dan narasumber dari kisah kelam sejarah masa lalu ini yang masih hidup.

Disinilah perlunya penuntasan 100% dan jawaban yang adil dan penyelidikan yang transparan bagi masalah yang menyangkut peristiwa G30S. Masih diperlukan penyelidikan lanjutan yang independen untuk menyingkap fakta-fakta seputar sejarah kelam ini.

JASMERAH : Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah! demikian kata Bung Karno.

http://www.memobee.com/bukti-terbaru-g30s-pki-soeharto-dalang-pembunuhan-ahmadyani-

7262-eij.html



Dalam pembelaannya, Kol. Latief menyatakan, bahwa tidak ada maksud untuk membunuh para jendral, tetapi hanya ingin menghadapkannya kepada Presiden Sukarno untuk mengklarifikasi tentang adanya berita tentang rencana kudeta oleh Dewan Jendral yang akan dilakukan pada tgl 5.Oktober 1965.

Belakangan terungkap, bahwa yang menyuruh agar membunuh para jendral ternyata Komandan pasukan yang bernama Doel Arif.

Lettu. Doel Arif adalah tokoh yang bertanggung jawab dalam menangkap jenderaljenderal Angkatan Darat yang diduga akan membentuk Dewan Jenderal dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Sebagai komandan Pasukan Pasopati yang menjadi operator G30S, ia adalah tokoh kunci. Ia bertanggung jawab terhadap operasi penculikan jenderal-jenderal pimpinan AD.

Belakangan terungkap, bahwa Doel Arif adalah seorang kepercayaan, malah dibilang anak kesayangan Ali Murtopo. Dan Ali Murtopo bersama Yoga Sugama adalah dua tokoh utama yang bersama Suharto sebagai Trio (Suharto-Ali Murtopo-Yoga Sugama) yang berperan menentukan dalam setiap langkah Suharto dalam melancarkan kudeta merangkak, dengan dukungan Blok Barat dibawah pimpinan CIA /AS menggulingkanpemerintahan Presiden Sukarno.

Nasib Lettu. Doel Arief, yang ditangani langsung oleh Ali Moertopo, hilang bak ditelan bumi, sampai sekarang tidak ada yang tahu.

***

Sumber :

http://ochasaja.blogspot.de/2009/01/mengapa-soeharto-dituduh-sbg-dalang.html

http://www.memobee.com/fakta-g30s-pki-bung-karno-ingin-jenderal-ahmad-yani-yang-mengantikannya-sebagai-presiden-tetapi-keburu-ditelikung-3294-sms.html



Kenapa Suharto pantas diduga sebagai dalang dibalik G30S ?

Pada tanggal 21 September 1965, Kapten Soekarbi mengaku menerima radiogram dari Soeharto yang isinya perintah agar Yon 530 dipersiapkan dalam rangka HUT ABRI ke- 20 pada tanggal 5 Oktober 1965 di Jakarta dengan perlengkapan tempur garis pertama.

Setelah persiapan, pasukan diberangkatkan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 25,26,dan 27 September.

Pada tanggal 28 September pasukan diakomodasikan di kebun Jeruk bersama dengan Yon 454 dan Yon 328. Tanggal 30 September seluruh pasukan melakukan latihan upacara. Pukul tujuh malam semua Dan Ton dikumpulkan untuk mendapatkan briefing dari Dan Yon 530, Mayor Bambang Soepono. Dalam briefing tersebut disebutkan bahwa Ibu kota Jakarta dalam keadaan gawat. Ada kelompok Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan RI yang sah. Briefing berakhir pada pukul 00.00. Pukul dua pagi tanggal 1 Oktober, Kapten Soekarbi memimpin sisa Yon 530 menuju Monas. Di kompleks Monas mereka berkedudukan di depan istana. Pada saat itu, karena kedudukan mereka dekat Makostrad, pasukan pun sering keluar masuk Makostrad untuk ke kamar kecil. Karena tidak ada teguran dari Kostrad, berarti Kostrad tahu bahwa mereka ada di sana.

Pukul setengah delapan Kapten Soekarbi melapor pada Soeharto tentang keadaan ibu kota yang gawat serta adanya isu Dewan Jenderal. Namun Soeharto menyangkal berita tersebut.

Kapten Soekarbi sendiri mengaku tidak mengetahui terjadinya penculikan para Jenderal. Ia tetap merasa aman karena Pangkostrad Soeharto telah menjamin keadaan tersebut. Namun ia berpendapat bahwa Soeharto pasti lah tahu tragedi penculikan para Jenderal tersebut. Karena pada tanggal 25 September Kolonel Latief telah memberikanmasukan tentang keadaan yang cukup genting tersebut kepada Soeharto. Jadi sebenarnya mustahil apabila Soeharto tidak mengetahui tragedi tersebut.

Yang patut dipertanyakan lagi adalah mengapa Soeharto tidak melakukan pencegahan terjadinya tragedi tersebut. Kebiasaan dalam militer, apabila ada gerakan yang disinyalir akan membunuh atasan akan langsung dicegah. Namun kenyataanya Soeharto tidak sedikit pun mengambil sikap. Padahal apabila ditelusur ia sangat mampu mencegah kejadian tersebut. Pada saat itu, mereka sedang mempersiapkan HUT ABRI. Kostradlah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan acara tersebut. Jadi semua pasukan di Jakarta berada di bawah kendali Kostrad. Seharusnya Soeharto bisa memerintahkan pasukan untuk mencegahnya.

Dalam cerita versi Soeharto dan Orde Baru disebutkan terdapat pasukan liar di sekitar Monas. Kesaksian Kapten Soekarbi juga mematahkan pernyataan tersebut. Soeharto sendiri yang mengirimkan radiogram pada Kapten Soekarbi untuk mendatangkan pasukannya ke Jakarta. Tentunya ia mengenali pasukan siapa yang berada di Monas kala itu. Kostrad pun mengetahui kehadiran Yon 530. Namun pada kenyataannya Soeharto membiarkan pernyataan yang mengatakan bahwa terdapat pasukan liar pada saat itu.

*

Kejanggalan lain tampak dalam beberapa pengakuan Soeharto adalah pengakuan dan perkiraannya tentang kedatangan Kolonel Latief saat menjengu anaknya, Tomy Soeharto di Rumah Sakit Gatot Subroto. Dalam versinya ia hanya mengaku hanya melihat Kolonel Latief di zaal dimana anaknya dirawat. Namun kejadian yang sebenarnya adalah mereka sempat berbincang-bincang. Pada saat itu Kolonel Latief melaporkan bahwa besok pagi akan ada tujuh jenderal yang akan dihadapkan pada presiden. Namun pada saat itu Soeharto tidak bereaksi. Ia hanya menanyakan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Tapi dari hasil wawancara Soeharto dengan seorang wartawan Amerika, ia mengatakan”…….Kini menjadi jelas bagi saya, bahwa Latief ke rumah sakit malam itu bukan untuk menengok anak saya, melainkan sebenarnya untuk mengecek saya. Rupanya ia hendak membuktikan kebenaran berita , sekitar sakitnya anak saya, ……”.

Sedangkan dalam majalah Der Spiegel (Jerman Barat) Soeharto berkata.”Kira-kira jam 11 malam itu, Kolonel Latief dan komplotannya datang ke Rumah Sakit untuk membunuh saya, tetapi tampaknya ia tidak melaksanakan berhubung kekhawatirannya melakukan di tempat umum.” Dengan demikian ada tiga versi yang dikeluarkan oleh Soeharto sendiri tentang pertemuannya dengan Kolonel Latief. Hal ini sangat lah memancing kecurigaan bahwa Soeharti hanyalah mencari alibi untuk menghindari tanggung jawabnya.

*

Penyajian adegan penyiksaan ke enam jenderal dalam film G/30/S/PKI ternyata juga dapat digolongkan sebagai salah satu kejanggalan cerita versi Soeharto. Serka Bungkus adalah anggota Resimen Cakrabirawa. Pada saat itu ia mendapat tugas ”menjemput” M.T Haryono. Ia turut menyaksikan pula penembakan keenam Jenderal di Lubang Buaya. Ia menyatakan bahwa proses pembunuhan keenam Jenderal tidak melalui proses penyiksaan seperti pada film G/30/S/PKI. Satu per satu Jenderal dibawa kemudian duduk di pinggir lubang setelah itu ditembak dan akhirnya masuk ke dalam Lubang. Serka Bungkus mengetahui adanya visum dari dokter yang menyatakan tidakada tindak penganiayaan. Namun sepengetahuannya Soeharto melarang mengumumkan hal itu.

Selain itu salah satu dokter yang melakukan visum, Prof. Dr. Arif Budianto juga menyatakan bahwa tidak ada pelecehan seksual dan pencongkelan mata seperti yang ditayangkan dalam film. Memang pada saat dilakukan visum ada mayat dengan kondisi bola matanya ’copot’. Tapi hal itu terjadi karena sudah lebih dari tiga hari terendam bukan karena dicongkel paksa. Karena di sekitar tulang mata pun tidak adabagian yang tergores.

Tentu kita tidak dapat menduga-duga apa tujuan dan motif Soeharto menyembunyikan hasil visum. Dalam hal ini ia terkesan ingin memperparah citra PKI agar dugaan bahwa PKI lah yang ada di belakang tragedi ini semakin kuat. Kebencian masyarakat pada PKI pun akan memuncak dengan melihatnya.



*

Satu hal yang paling menjadi kontroversi dari tragedi tersebut adalah banyaknya orang-orang yang dituduh mendukung PKI dan pada akhirnya dijebloskan ke penjara. Antara lain adalah Kolonel Latief, Letkol Heru Atmodjo, Kapten Soekarbi, Laksda Omar Dani, Mayjen Mursyid, dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka ditahan tanpa melalui proses peradilan. Orang- orang tersebut kebanyakan mengetahui bagaimana sebenarnya hal itu terjadi. Seperti contohnya Kapten Soekarbi. Ia ditahan setelah membuat laporan tentang kejadian yang ia alami pada tanggal 30 September dan 1 Oktober 1965. Penahanan tanpa proses peradilan ini dapat disinyalir sebagaisebuah upaya yang dilakukan Soeharto agar saksi-saksi kunci tidak dapat menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada khalayak. Ketakutan yang dialami Soeharto ini tentunya justru semakin memperkuat anggapan bahwa dialah dalang di balik peristiwa G/30/S/PKI.

Sumber:

http://www.memobee.com/fakta-g30s-pki-bung-karno-ingin-jenderal-ahmad-yani-yang-mengantikannya-sebagai-presiden-tetapi-keburu-ditelikung-3294-sms.html
Photo

Post has shared content
KETIKA GUSDUR MENERTAWAKAN AMIEN RAIS

Ceritanya begini, kata Gusdur di awal-awal reformasi, " Sampai kiamat pun Amin (Amien Rais) tidak akan bisa jadi Presiden Republik Indonesia"

"Kenapa bisa begitu Gus.?", tanya seseorang.

Kemudian dijawab Gusdur dengan enteng, "Jadi Presiden Republik Indonesia itu tidak gampang, orangnya harus benar-benar pintar. Nilainya mesti A-Plus, sedangkan dia cuma A-min"
"Gimana caranya bisa jadi Presiden", ungkap Gusdur sambil tertawa.

Kenapa nilainya A-min?
Karena memang mencla-mencle ucapannya!


Wkwkkkk....bener kata kata Gus Dur yang di ucapkan buat kaum #ONTA
Kebanyakan kaum #kamprett gak bisa dipegang omongan nya
Mencla mencle alias labil otaknya...


#SALAMWARASSSSSSSSS

Photo

Post has shared content
#PERPPU-PAKDE-JOKOWI-DAN-KEUTUHAN-NKRI

Indonesia adalah satu-satunya negara yang unik di dunia. Setidaknya, negara ini memiliki pulau terbanyak dengan jumlah 17.504 pulau dan jumlah suku 740 serta bahasa lokal 746 bahasa. Hal ini menandakan bahwa bangsa ini memiliki tingkat keragaman yang sangat luar biasa. Agama yang dianut pun beragam. Untuk hidup berdampingan dibutuhkan sebuah sistem yang bisa mengakomodir semua golongan tersebut. Maka, lahirlah Bhinneka Tunggal Ika sebagai pedoman.

Pada awalnya, sesaat setelah kemerdekaan, bangsa ini hampir saja kembali terpecah. Padahal, perjuangan melepaskan diri dari kolonialisme tidaklah mudah. Butuh tenaga luar biasa dan korban jiwa yang tidak tanggung-tanggung. Peristiwa itu dikarenakan tujuh kata yang dinilai hanya memihak agama dan golongan tertentu di negara yang multi golongan dan agama ini. Maka, di antara debat yang sengit; menyita banyak tenaga; dan waktu, muncullah K.H. Wahid Hasyim sebagai salah satu dari tim sembilan dan tokoh muda NU memberi solusi yang tepat. Beliau menawarkan menghapus tujuh kata tersebut dengan pertimbangan kebersatuan bangsa dan ketenteraman masyarakatnya akan lebih terjamin. Semuanya sepakat.

Pun pada Munas Alim Ulama di Situbondo pada tahun 1983, NU secara tegas menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasinya yang dinyatakan dalam sebuah piagam resmi. Hal ini dikarenakan sikap visionernya organisasi terbesar di tanah air ini dalam menyikapi keberagaman dan kebersatuan bangsa yang terdiri dari berbagai golongan, suku dan agama.

Indonesia memang unik, ia tidak bisa disamakan dengan Negara-Negara Timur tengah yang notabeni masyarakatnya pemeluk Agama Islam atau pun Eropa yang mayoritas Kristen. Di negara yang penuh dengan keberagaman ini, semuanya hidup berdampingan. Layaknya saudara, kita harus saling melengkapi kekurangan dan menolong yang lemah. Sehingga, keputusan apa pun yang bersangkat-paut dengan masyarakat tidak boleh menguntungkan pihak-pihak tertentu saja.

Bhinneka Tunggal Ika adalah falsafah dari sebuah kebersamaan yang harus dirajut. Sebagaiaman rajutan, ia tidak akan pernah terjadi jika tidak pernah ada keberagaman. Namun, mereka akan menjadi sesuatu yang unik dan tidak terbayangkan dalam pikiran siapapun setelah dirajut oleh tangan-tangan andal dan kreativitas yang tinggi. Sehingga menerima Pancasila sebagai dasar bersama dengan pedoman Bhinneka Tunggal Ika yang dihayati sepenuhnya adalah kewajiban bagi setiap warga negara jika tidak ingin rajutan yang telah terlihat begitu indah hancur berkeping dan kita pun tidak berdaya di atas kepingan-kepingan itu.

HTI dan Ancman Keutuhan Negara

Sebagai sebuah bangsa, Negara Indonesia ibarat sebuah rumah besar untuk semua golongan yang telah menghuninya. Mereka sudah hidup begitu lama dan merasa sudah tenteram di sana. Hanya saja, akhir-akhir ini, ada beberapa kelompok yang mulai mengendap-endap hendak mencuri kedamaian tersebut. Entah dengan mencuri barang berharga atau sekadar merusak benda-benda dan aturan-aturan yang telah disepakati. Mereka mulai masuk ke kantong-kantong pemerintah dan swasta.

Dalam konteks bernegara, mereka dikenal dengan ormas yang mempunyai paham garis keras atau fundamentalis. Dalam Islam sendiri juga dikenal dengan Islam Transnasional. Mereka inilah kelompok-kelompok yang mencoba merong-rong bangunan yang telah mapan dan terbukti kemanjurannya dalam melindungi penghuninya dari serangan binatang buas dan cuaca buruk dengan konsep-konsep abstrak yang tidak jelas arah tujuannya.

Maka, kehadiran mereka adalah sebuah teror yang sangat mencemaskan meski tidak terasa menghentak seperti ledakan bom di pusat perbelanjaan atau di tempat-tempat tertentu yang sering menjadi sasaran teror bom bunuh diri akhir-akhir ini. Namun, jika dibiarkan mereka akan berkembang dan tumbuh besar hingga sulit ditumbangkan. Ibarat sebuah pohon, mereka akan terus menancapkan akar tunggangnya dengan memajangkan ranting dan merimbunkan daunnya.

Salah satu contoh ormas Islam Transnasional yang sudah menyebar di berbagai kota dan daerah di Indonesia adalah HTI. Pada awalnya, hanyalah orpol yang di Indonesia berkembang dan berbadan hukum ormas. Ia masuk ke negara ini pada tahun 1980-an di Bogor. Pada akhirnya, ormas yang hanya diikuti segelntir orang ini berhasil berkembang pesat. pada tahun 2007 terbukti, mereka bisa mengumpulkan 100 ribu orang dalam konferensi internasional dengan tema “Saatnya Khilafah Memimpin Dunia.”

Kita pun terperanjat. Setengah menggeleng dan setengah tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka bisa sepesat itu. Bahkan, mulai berani terang-terangan menentang Pancasila sebagai dasar negara dan mereka bercita-cita membentuk khilafah seperti yang pernah terjadi pada zaman sahabat dulu. Tumbuh kembangnya paham ini adalah sebuah keteledoran. Jika dibiarkan, tidak ayal negara yang telah dirintis oleh Ulama khos dan pejuang akan musnah dan pertengkaran kembali terjadi hingga tidak jelas kapan akan berakhir.

Tentu orang-orang di luar Islam tidak akan rela jika tanah airnya dipaksa mengikuti aturan agama yang tidak mereka anut, pun di internal kelompok-kelompok Islam Fundamentalis akan berdebat keras siapa yang berhak menjadi khalifah. Masih belum perdebatan di mana penempatan pusat pemerintahan yang tepat. Jika tidak ingin pohon itu tumbuh semakin subur dan mengakar tunggang yang hanya akan menyisakan kebencian dan pertengkaran yang tidak berujung, sudah saatnya pemerintah beraksi dan menyatakan sikap yang jelas dan tegas.

Lahirnya Perppu dan Proses Normalisasi

Pada akhirnya, setelah melewati fase yang sangat rumit, pada tanggal 10 Juli 2017, Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang ormas terlarang ditandatangani oleh presiden Jokowi. Hal ini merupakan salah satu langkah maju mengingat sudah cukup lama kegiatan ormas yang mengancam keutuhan NKRI ini terbiarkan karena tidak ada Undang-Undang yang cukup mewadahi pelarangannya. Setidaknya, Perppu ini akan menjadi langkah awal untuk menyeleksi dan mengukur berbagai ormas yang ada.

Bagaimana pun, Indonesia adalah rumah besar bersama yang dihuni oleh banyak golongan dan agama. Keterjaminan ketenangan dan ketenteraman mereka juga harus diutamakan. Jika ada di antara kelompok yang berbuat usil terhadap yang lain, sudah layak pemerintah sebagai orang tua yang mengawasi dan mengatur agar warga di dalam rumah dipastikan keamanannya, mencoba menerbitkan aturan baru. Bahkan, menghukum mereka yang manggkel itu adalah keniscayaan.

Jika kemudian terdengar beberapa nada-nada sumir dari segelintir orang ataupun kelompok, itu hanya percikan-percikan kecil dari sebuah kebijakan yang dijalankan. Penulis yakin, hakkul yakin, tidak ada aturan yang diterima di semua golongan dan kelompok. Namun, sejauh mana aturan itu mengakomodir mayoritas masyarkatnya, itulah yang diharapkan. Rumah besar bersama ini yang diberi nama Indonesia sudah terlalu indah untuk diubah dan diformat ulang. Ia sudah terbukti berjalan dengan baik hingga 72 tahun. Tinggal kita mengecatnya kembali dan menambal dinding yang mungkin mulai retak atau sudah bolong. Selanjutnya, selamat atas pemerintahan Jokowi yang telah melangkah lebih maju dalam menjaga keutuhan negeri tercinta ini dibanding pendahulunya. Salam.

Bizawi, Zainul Milal. 2014. Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949). Tanggerang: Pustaka Compass.http://m.kumparan.com/salmah-muslimah/sejarah-hizbut-tahrir-di-indonesiahttp://www.nu.or.id/post/read/64325/teks-deklarasi-hubungan-islam-pancasila-pada-munas-nu-1983Perppu no 2 tahun 2017Umam, Khairul. 2015. Bahasa Lokal dan Identitas Bangsa (tidak diterbitkan)

Post has shared content
#KAUM-SUMBU-PENDEK MEMBAKAR #ORANG HIDUP HIDUP LAYAKNYA SEPERTI DALAM #DUNIA-CERITA

Membakar orang hidup-hidup hanya layak dalam dunia cerita. Cerita tentang Dewi Sita yang hendak membuktikan kemurnian cintanya adalah contohnya. Ini pun dilakukan atas kehendak sendiri. Bukan orang lain yang membakarnya.

Kisah Dewi Sita ini menjadi agung dan layak dibaca dan diperdengarkan karena mengandung nilai keagamaan. Menuntun orang untuk mentahtakan kemurnian dari cinta. Cinta yang murni seperti dimiliki Dewi Sita untuk Sri Rama membuatnya tidak kehilangan harapan.

Segala tipu daya dan niat jahat Rawana tidak bisa menggoyahkan keteguhan hati Sita. Kesulitan dan tantangan hidup di Negeri Alengka bisa dilewati Dewi Sita karena anugerah cinta murninya. Dalam cinta murni itu ada kesetiaan. Segala bujuk rayu Raja Rahwana tidak didengarkan oleh Puteri Raja Janaka dari Kerajaan Mantili ini.

Kata-kata Dewi Sita di depan lingkaran api pun bergema tertuju kepada Rama:

“Karena hatiku tak pernah berpaling dari Rama
Maka biarlah dewa api saksi seluruh dunia melindungiku!
Karena Rama telah menuduhku walaupun aku tak berdosa maka biarlah dewa api saksi seluruh dunia melindungiku!
Karena aku tidak pernah dalam pikiran, kata dan tingkah tidak setia kepada Rama maka biarlah dewa api melindungiku!
…”
(Ramayana, 1995: p.320-321)

Api adalah simbol pembasmi dan penghancur segala kejahatan. Agama Samawi menempatkan api di Neraka sebagai lambang kisah penderitaan dan kehancuran yang tiada berkesudahan.

Dalam Kitab Ramayana, api hadir untuk menguji hingga membuktikan sebuah kemurnian. Api pun memiliki sifat suci karena hal ini. Bagi orang seperti Dewi Sita yang memiliki cinta yang murni tak dibuat takut oleh nyala api. Tentang ini, Dewa Api pun bersaksi kepada Sri Rama:

“Inilah istrimu, Sita, sama sekali tanpa noda. Ia tak pernah tidak setia, dalam pikiran, kata-kata, pandangan. Rawana menculiknya. Tetapi ia tetap murni hanya memikirkan kamu. Setia kepadamu…”

(Ramayana, 1995: p.323-324).

Mungkin orang akan menyalahkan Rama. Mengapa sebagai suami tega membiarkan istrinya memasuki kobaran dalam lingkaran api. Sebagai Raja, Rama harus mampu meyakinkan rakyatnya.

“Adalah penting, bahwa Sita diuji lebih dahulu dengan Ujian Api untuk meyakinkan rakyat.
Dia cantik sekali dia tinggal di istana Rawana lama sekali.
Kalau dia tidak diuji rakyat akan bergunjing, ‘Rama buta oleh birahi.’
Aku tentu tahu Sita setia padaku.

Sita bagiku adalah cahaya bagi matahari.
Aku tak mungkin meninggalkannya seperti nama baik tak mungkin meninggalkan manusia berkepribadian mulia.
Junjungan dunia penuh kasih, aku pasti mengikuti petunjukmu.”

(Ramayana, 1995: p.324-325)

Jelas bahwa untuk memahami kisah Sita yang membakar diri dalam Kitab Ramayana membutuhkan jalan perenungan yang mendalam. Makna di balik kisah itu yang mesti dipunguti secara berhati-hati. Nalar kritis dalam menafsirkan Kitab Suci diperlukan dengan proses hermeneutik yang asyik. Di sinilah peran ulama, pendeta, pandhita, bhiksu dan guru-guru kehidupan yang bertekun dengan Kitab Suci dan buku-buku suci lainnya menjadi penting dan pantas menjadi rujukan.

Dapat dibayangkan apabila menerapkan ajaran Kitab Keagamaan tanpa pikir panjang. Pelaksanaan hukuman penggal kepala, membakar orang hidup-hidup, hukuman rajam, jelas itu budaya Jahiliyah. Sayangnya, pada zaman modern ini yang jahiliyah dianggap syariah. Ah sudahlah.

Susah memang kalau orang tidak mengerti adanya perkembangan peradaban sesuai buah budi dan penalaran manysia. Bahwa keberadaban harus makin maju dan berkembang seturut nilai kemanusiaan. Hidup mesti makin manusiawi adalah prinsipnya. Tidak bisa lagi membabibuta dalam memahami Kitab Suci. Apalagi dana pengadaan Kitab Suci malah dikorupsi. Benar-benar bikin ngeri untuk kemudian geli. Kok senajis itu orang. Dana untuk pengadaan Kitab Suci hingga dikorupsi.

Padahal, kalau tidak dikorupsi kan makin banyak Kitab Suci yang dicetak. Makin banyak orang yang membaca. Makin bertambah pula orang yang dapat hidayah dan inayah hingga menjadi pengikut Baginda Rosul. Sayangnya, logika yang dibangun Iksan Abdullah, Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI sangat sulit memasuki akal sehat.
“Masih perlu kami kaji, tapi yang jelas kan ini korupsinya pengadaan Al-Quran. Bukan mengurangi ayat Al-Quran,” ujarnya.

Pak Iksan itu gimana ya cara berpikirnya? Namanya korupsi dana pengadaan berarti yang dikorupsi tidak hanya satu atau dua ayat, Pak… Seluruh ayat yang dikorupsi! Hadeuh, kalau otak mulai bergeser kena pengaruh gravitasi bumi datar memang tak berjumpa nalar waras.

Harusnya kalau mau ke zaman Jahiliyah, koruptor dana pengadaan Kitab Suci inilah yang layak dibakar hidup-hidup. Ingat, yang dikorupsi seluruh isi Kitab Suci Al Quran yang mestinya bisa dicetak. Tidak hanya korupsi satu atau dua ayat. Ini kan penistaan pada sumber ajaran agama Islam.

Sayangnya, bukan kabar pembakaran koruptor yang didengar bangsa ini. Sekarang, kita justru harus mendengar kabar meninggalnya sesorang berinisial MA yang dibakar hidup-hidup. Sangat sadis dan jauh dari perilaku agamis. Ini bukan zaman perang, ini negara hukum. Apalagi tuduhannya hanya dicurigai mencuri ampli. Itu pun belum tentu terbukti.

Supaya kita tidak kehilangan hati nurani dan empati, mari dengarkan ungkapan hati Siti Zubaidah. Istri almarhum MA yang berhijab dan kini tengah hamil 6 bulan:
“Kalau pun umpamanya suami saya bersalah, melakukan pencurian itu, tapi kan enggak harus sampai dianiaya atau dibakar begitu kan, dia bukan hewan.”

Referensi:P. Lal. 1995. Ramayana. (Jakarta: Balaipustaka).
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/08/03/21530681/-kalaupun-suami-saya-mencuri-enggak-harus-dibakar-dia-bukan-hewan–
Wait while more posts are being loaded