Kegiatan utama dalam sekolah, sejak TK sampai perguruan tinggi, adalah mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Ternyata, sekolah tidak membuat kita otomatis menjadi pendengar, pembicara, pembaca dan penulis yang baik.

Malah, dalam kehidupan sehari-hari kita sering kesulitan mengklasifikasi kapan saatnya kita harus menjadi pendengar atau pembicara. Karena tidak terlatih urusan klasifikasi ini, dan kita pun tidak terlatih menjadi pendengar dan pembicara yang baik. Salah satu akibatnya, kita mudah tersulut api konflik.

Dalam hal kemampuan membaca, kita sebagai bangsa berada di dasar jurang The Most Literate Nations (survei Central Connecticut State University, 2016, urutan ke-60 dari 61 negara). Dalam kemampuan menulis, jumlah judul buku yang terbit setiap tahun di negara kita (dengan penduduk 250 juta jiwa lebih) hanya 32.000.

Sedih? Tak perlu. Sebab, yang diperlukan hanyalah berbuat sesuatu mulai sekarang. Salah satunya, menyadari bahwa Menulis Bukan Bakat. Dengan menulis, kita bisa menjadi cinta membaca. Banyak membaca, kita punya pengetahuan untuk menjadi pembicara yang baik. Dengan keterampilan membaca yang baik, kita punya modal untuk terampil mencerna apa yang kita dengarkan dan kita lihat.

Jangan terlalu berharap pada persekolahan, karena dunia persekolahan sudah terkikis menjadi arena perburuan angka-angka keterampilan menjawab soal ujian semata. Lewat Google+ saja. Yuk! 
Wait while more posts are being loaded