Post has attachment
PENGUMUMAN
Dalam rangka mengurangi jumlah penduduk yang putus sekolah di desa Tanjung Pasir.Kec Pangkalan Susu.yang punya prestasi disekolahnya kami siap membimbing untuk merai cita-citanya sampai keperguruan tinggi secara gratis.dari tingkat SD.SMP dan SMU/SMK.
Bagi yang berminat silahkan mendaftar.
PhotoPhotoPhotoPhotoPhoto
03/10/16
5 Photos - View album

Post has attachment
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Salam pagi sahabat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim)

Semoga selalu dipermudah dalam urusan dunia ..dan nikmat dlm urusan ahiratnya aamiin😇😇😇😇😇
Photo

Post has attachment

Post has attachment
Sukses juga tidak dilihat dari kondisinya saat ini. Jika ada orang yang tidak punya apa-apa, tidak punya rumah, tidak punya mobil, tidak punya gadget yang bagus, apakah dia pantas disebut sukses? Ya, kita perlu melihat pencapainya. Bisa saja dia memang tidak punya apa-apa tetapi dia sudah berhasil mencapai keinginannya yaitu bebas dari utang. Dia sukses membebaskan diri dari utang, meski dia tidak (atau belum) punya apa-apa saat ini.
Photo

Post has attachment
Jika Anda salah mendefinisikan sesuatu, maka Anda tidak akan pernah mendapatkannya. Jika Anda tidak tahu dimana Jakarta, Anda tidak akan pernah menemukan Jakarta, bahkan saat Anda sudah di Jakarta sekali pun. Nah, Anda tidak akan pernah meraih sukses jika Anda tidak mengetahui apa itu sukses.
Photo

Post has attachment
Terkadang, kadar kasih sayang antara seorang ibu dan ayah seperti tidak seimbang besarnya terhadap anak. Ini mungkin dikarenakan  ibu lebih mengekspresikan kasih sayangnya terhadap anak- anaknya dibanding bapak. Jadi terlihat seperti tidak seimbang. Dan memang, hampir semua anak lebih nyaman menceritakan masalahnya kepada seorang ibu. Ini bisa dimaklumi karena hampir disetiap aktifitas anak semasa kecil,, seorang ibu selalu ada di dekatnya. Sementara sang ayah atau bapak sibuk mencari nafkah untuk anak istrinya. Sosok ayah atau bapak seperti "diabaikan" dalam kehidupan. Entah karena tertutupi kemulian sosok seorang ibu atau mungkin seorang ayah atau bapak yang notabene seorang laki - laki tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Padahal dalam kehidupan sehari - hari kita sering menyaksikan keuletan seorang bapak atau ayah dalam mencari nafkah. Pulang larut malam, mencari penghasilan sampingan meski sudah memiliki pekerjaan. Semua dilakukannya untuk keluarga kecilnya. Tanggung jawab seorang ayah atau bapak cukup besar dalam menafkahi keluarganya. Dalam arti lain, sebuah keluarga tidak akan makan bila seorang bapak atau ayah tidak menjalani tanggung jawabnya mencari nafkah. Kadang kita tidak tahu, mungkin ketika dia bekerja, pernah dimarahi bosnya waktu bekerja di kantor atau mungkin dicaci maki orang di pasar ketika berjualan di pasar. Bahkan mungkin digebukin orang sekampung, karena dianggap maling ketika mencari barang rongsokan. Begitulah perjuangan seorang ayah atau bapak.
Photo

Dampak negatif kurang berfungsinya ayah dalam keluarga ternyata begitu banyak. Anak yang kurang menikmati pelukan, kasih sayang, pujian, nasihat, dan didikan ayahnya berpotensi menjadi anak yang bermasalah. Karena itu, ayah dituntut komitmennya untuk mendahulukan keluarga dibanding ambisi pribadi dan pelayanannya.
Bila ayah menjalankan seluruh tanggung jawab keayahannya, apakah ada jaminan bahwa anak-anak akan tumbuh sehat tanpa masalah? Jawabannya adalah tidak. Namun kemungkinan anak tumbuh bermasalah diminimalisir oleh ayah yang menjalankan fungsi keayahannya secara memadai. Mari kita tunaikan tugas kita!

Post has attachment
Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan
1. Partisipasi Masyarakat
Kata “partisipasi masyarakat” dalam pembangunan menunjukkan pengertian pada keikutsertaan mereka dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil dan evaluasi program pembangunan (United Nation, 1975). Partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan Indonesia, perlu ditumbuhkan adanya kemauan dan kemampuan warga atau kelompok masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan . Sebaliknya pihak pemerintah atau Negara juga memberikan ruang atau kesempatan kepada warga atau kelompok masyarakat untuk berpartispasi seluas mungkin sehingga kita bisa mencetuskan sebuah ide yang kreatif dan imajinatif dalam pengembangan pendidikan, seperti pepatah orang jawa ‘’ Rawe-rawe rantas , malang-malang putung’’ atau dalam Bahasa indonesianya ‘’Bercerai kita runtuh, Bersatu kita teguh’’. Partisipasi masyarakat dalam pendidikan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk :
1. Partisipasi finansial
Berupa dukungan dana sesuai dengan kekuatan dan kemampuan masyarakat. Termasuk juga orangtua secara kolektif dapat mendukung dana yang diperlukan sekolah, yang benar-benar dapat dipertanggung jawabkan untuk keberhasilan pendidikan. Selain itu, lembaga bisnis dan industri diharapkan dapat menyisihkan anggaran untuk pemberian beasiswa pendidikan.
2. Partisipasi material
Diwujudkan dengan sumbangan bahan-bahan yang berkenaan dengan material bangunan, untuk penyempurnaan bangunan ruang dan tempat untuk kegiatan belajar agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Demikian juga masyarakat mendukung terciptanya lingkungan fisik yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar.
3. Partisipasi akademik
Kepedulian masyarakat terhadap penyelenggaraan kegiatan akademik yang lebih berkualitas. Dukungan dapat diwujudkan dengan dukungan orangtua dan masyarakat untuk mengawasi dan membimbing belajar anak di rumah. Selain itu banyak lembaga-lembaga pemerintahan maupun non pemerintahan yang dapat memberikan kesempatan untuk praktek atau magang. Hal ini dilakukan untuk memberikan wawasan secara nyata kepada peserta didik.
4. Partisipasi kultural
Perhatian masyarakat terhadap terpeliharanya nilai kultural dan moral yang terdapat di lingkungan sekitar sekolah sehingga sekolah mampu menyesuaikan diri dengan budaya setempat.
5. Partisipasi evaluatif
Keterlibatan masyarakat dalam melakukan pengendalian dan kontrol terhadap penyelenggaraan pendidikan, sehingga masyarakat dapat memberikan umpan balik dan penilaian terhadap kinerja lembaga pendidikan. Selain itu, masyarakat juga dapat berperan dalam penyusunan atau pemberi masukan dalam penyusunan kurikulum bagi sekolah. Agar kurikulum itu sesuai dengan kebutuhan siswa.
Photo

Post has attachment
. Faktor Budaya
Faktor budaya yang di maksudkan di sini adalah terkait dengan kebiasaan masyarakat di sekitarnya. Yaitu, rendahnya kesadaran orang tua atau masyarakat akan pentingnya pendidikan. Perilaku masyarakat pedesaan dalam menyekolahkan anaknya lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan. Mereka beranggapan tanpa bersekolah pun anak-anak mereka dapat hidup layak seperti anak lainnya yang bersekolah. Oleh karena di desa jumlah anak yang tidak bersekolah lebih banyak dan mereka dapat hidup layak maka kondisi seperti itu dijadikan landasan dalam menentukan masa depan anaknya. Kendala budaya yang dimaksudkan adalah pandangan masyarakat yang menganggap bahwa pendidikan tidak penting. Pandangan banyak anak banyak rejeki membuat masyarakat di pedesaan lebih banyak mengarahkan anaknya yang masih usia sekolah diarahkan untuk membantu orang tua dalam mencari nafkah.
http://maziragrup.blogspot.co.id/

. http://maziragrup.blogspot.co.id/
Faktor Kurangnya Perhatian Orang Tua

Rendahnya perhatian orang tua terhadap anak dapat disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga atau rendahnya pendapatan orang tua si anak sehingga perhatian orang tua lebih banyak tercurah pada upaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Persentase anak yang tidak dan putus sekolah karena rendahnya kurangnya perhatian orang tua. Dalam keluarga miskin cenderung timbul berbagai masalah yang berkaitan dengan pembiayaan hidup anak, sehingga mengganggu kegiatan belajar dan kesulitan mengikuti pelajaran. Banyak sekali anak yang putus sekolah ini diakibatkan karena keadaan dirumahnya, biasanya dialami pada masa SMP dan SMA, karena pada masa itu anak sedang mencari jati dirinya sendiri, sehingga sangat sulit untuk dinasehati orang tunya. Itu berakibat hubungan sang orang tua dengan anak menjadi tidak harmonis lagi.
Wait while more posts are being loaded