Post has attachment
Apakah anda setuju, bahwa balik anak yang hebat, ada Ibu sederhana yang selalu berada disisinya.

Hikayat Ibuku

Kalimat yang terucap dari bibirmu tajam …
Kelembutan yang aku harapkan darimu tak sesuai dengan harapanku
Aku bahkan berhayal engkau pergi dalam wujud di impianku.

Teguranmu sering melemahkan tulang-tulangku
Pukulan yang engkau berikan mengeraskan hatiku dan jiwaku.

Namun ….
Waktu yang bergulir membuatku memahami arti dan makna ucapanmu
Bertambah usiaku membuatku merinduakan ketajaman nasehatmu
Ibarat padi yang awalnya tampak seperti rerumputan dan akhirnya menghasilkan
Yang bermanfaat bagi umatNYA.

Pesanmu, “Hai anakkujanganlahpertimbangandankebijaksanaanitumenjadidarimatamu,
perliharalahitu, makaituakanmenjadikehidupanbagijiwamudanperhiasanbagilehermu”.

Ibu,tetaplahmenjadi guru yang baikbagiku.
Akurindusemuatentangdirimu.

Inilahhikayatibuku, wanita yang mencintaikudengancara yang tidakseindahpuisidanlagu.

Impian bersama Cakrawala

Tidak perlu takut dan gusar mengatakan, “aku mampu” kepada mentari pagi …
TIdak perlu bimban gmengatakan,”aku pasti sukses ”kepada Sang rembulan..

Sampaikan kepada jutaaan Bintang-bintang di langit, mimpi-mimpimu yang hebat.

Hebat ! ! !
Hebat diawali oleh sebuah mimpi …
Satu impian akan menghasilkan sepuluh harapan
Dua impian akan menghasilkan duapuluh harapan
Banyak impian akan menjadi virus harapan bagi sesama.
Berhenti bermimpi berarti berhenti berharap.

Wujudkan SERIBU MIMPI mu menjadi Jutaan harapan….



Balikpapan, 26 April 2017

Aku diperkosa oleh kekasihku

Setelah menyelesaikan pendidikanku dari sekolah guru, aku diterima mengajar di sebuah Sekolah Dasar di sebuah Kabupaten yang letaknya jauh dari perkotaan.

Bukan hal yang mudah buatku untuk beradabtasi di tempat yang jauh dari keramaian, serta jauh dari keluarga. Pukul 5 pagi aku bangun memasak sarapan dan bekal makan siangku di sekolah. Tempat tinggalku tidak terlalu jauh dari sekolah, dengan berjalan kaki hanya menempuh waktu 10 menit.

“Selamat pagi anak-anak, bagaimana kabarnya hari ini ?”, tanya ku dengan semangat

“Selamat pagi Bu guru”, dengan serempak dan semangat sejumlah 25 siswa menjawab sapaanku. Melihat semangat serta tawa dan canda mereka, memberikan semangat yang baru buatku. Anak-anak yang masih polos, yang mereka pikirkan hanya bagimana bisa bermain dan bermain.

Di kota itu juga aku bertemu dengan seseorang yang mampu membuat jantungku berdebar lebih cepat dari detak normal, seseorang yang mampu membuatku terkadang tersenyum atau tertawa sendiri.

Suatu siang saat istirahat makan siang, di atas mejaku ada amplop putih berukuran kecil. Dengan penasaran aku cepat-cepat membuka amplop tersebut, dan isinya membuatku serasa terbang di langit ke tujuh. Isinya sangat singkat namun aku gemetar membacanya,”aku tunggu jam 16.00 di parkiran sekolah”.

“Pegangan yang kuat Mirna, semakin sore jalanan semakin padat kendaraan, saya tidak mau kulit halusmu lecet karena jatuh dari motor”, Satria menyadarkan lamunanku.

“Sayang sekali gadis secantik kamu ternyata tidak bisa bicara, dari tadi di tanyain diam saja”, Satria kembali membuyarkan lamunaku.



Satria bekerja di sebuah perusahaan swasta, pria yang baik dan bertanggung jawab. Persahabatan kami terbina terbina kurang lebih dua tahunan.

Aku pikir bahagia ini akan menjadi milik kami selamanya !. Aku terlalu percaya dengan kekuatan cinta dan aku terhempas jauh karena cinta yang aku yakini ternyata tidak seperti yang aku bayangkan.

“Maafkan aku Mirna, aku harus menikahinya, pilihan yang sulit tapi aku harus memilih dan membuat keputusan”, berkali-kali Satria memohon maaf padaku.

Selama ini aku pikir menikah karena hutang budi hanya ada di novel yang sering aku baca atau sinetron.

“Keluargaku berhutang hutang budi, salah satu cara untuk membalas kebaikan mereka adalah dengan menikahi Shinta. Ayahku bekerja puluhan tahun sebagai supir pribadi dikeluarga Shinta. Sejak kecil aku dan shinta tumbuh bersama, aku menganggap dia sudah seperti adikku sendiri, tapi rupanya Shinta memiliki perasaan yang berbeda dengan yang aku rasakan”, untuk semua ini aku mohon maaf.


Inilah awal kehancuran ku yang PERTAMA !

Mengambil keputusan disaat sedang marah atau terluka bukanlah waktu yang tepat. Aku pikir dengan menerima kehadiran Natan dalam hiduku, aku bisa pulih dengan cepat.

Natan adalah sosok yang baik, sabar dan begitu mencintaiku, namun dia hadir di saat yang tidak tepat. Dikala hari ini masih porak-poranda, aku memberanikan diri menerima kehadiran nya didalam hidupku.
Melihat cinta Natan yang demikian besar, aku besar kepala, aku sering memperlakukannya dengan tidak adil, membanding-bandingkannya dengan Satria, pria yang sudah mencuri banyak hal dari hidupku.

Aku melupakan bahwa Natan juga punya hati dan harga diri sebagai seorang laki-laki. Berbulan-bulan Natan mencoba mencuri hatiku, dan berharap dengan kami menikah aku akan melupakan Satria seutuhnya.

Aku setuju untuk menerima pinangan Natan, mulai mencari-cari dimana tempat pernikahan kami akan dilangsungkan, tanggal yang baik untuk tanggal pernikahan, bahkan kami sudah memesan baju pengantin.

Kenangan bersama Satria masih begitu kuat dalam ingatanku, aku masih berharap dia tidak berbahagia dengan pernikahannya dan kembali ke pelukanku.

Aku melupakan satu hal, Natan juga punya hati yang ingin di hargai. Selama berbulan-bulan mencoba untuk meraih hatiku dan tak kunjung berhasil, rupaya menimbulkan rasa lelah di hati Satria.

“Mirna, terimakasih sudah menjadi sahabat yang terbaik selama beberapa bulan ini, aku berharap kebersamaan kita dapat melupakan masa lalumu. Aku sudah mencoba untuk menjadi bagian yang terbaik dalam hidupmu, dan aku sadar itu hal yang mustahil untuk aku lakukan. Mulai hari ini, aku iklas melepasmu dan mencari bahagiamu”.

Inilah kata-kata terakhir dari Natan, dan inilah kehancuran hidupku yang ke DUA !

Luka yang aku toreh terlalu dalam bagi Natan, maafku sudah tidak mampu untuk mengetuk pintu hatinya untuk tetap melanjutkan rencana pernikahan kami.

Empat tahun aku membohongi diriku sendiri, menutup diri dari orang-orang yang ingin mendekatiku, karena pikirku tidak seorangpun akan mampu untuk mengobati lukaku yang dalam, aku menutup diri setiap kali ada yang mencoba meraih hatiku.

Dengan tertatih-tatih aku membangun kembali kepercayaan diriku. Terlalu tinggi tembok yang terbentang di depanku, aku tidak tau apa yang aku mau dan apa yang aku cari di depan sana.

Namanya Abin, awalnya pertemanan kami sebatas teman, namun perhatiannya dapt mencairkan gunung es yang membekukan hatiku.

Aku akui bahwa cinta itu buta, aku tidak belajar dari dua kali kegagalanku. Cinta sudah menutup logikaku, bahkan saat aku mengetahui status Abin sudah tidak lagi sendiri, tidak membuatku mundur untuk tetap mencintainya dan ingin memilikinya.

"Percayalah padaku, secepatnya aku akan menceraikan istriku ! Hubungan kami sudah hambar, rasanya tidak baik untuk dipertahankan", itu janji yang selalu dia tebarkan dari mulut manisnya dan anehnya aku percaya.

Hubungan yang kami bina berjalan baik dan sehat, Abin begitu menjaga perasaanku, dia memperlakukanku ibarat Kristal yang rentan pecah jika tidak di jaga dengan baik dan hati-hati.

Aku sangat menyadari sepanjang aku masih bersamanya, akan sulit bagiku untuk membuka kembali hubungan dengan yang lain. Belum lagi pembicaraan miring yang mencurigai hubungan kami tentunya sudah jauh.

Satu setengah tahun berlalu, Abin belum juga menceraikan istrinya. Ketika aku menagih janjinya, jawaban yang di berikan tidak sama dengan yang pernah dia janjikan, "aku tidak mungkin menceraikan istriku, bagaimana dengan anak-anak, aku tidak siap berpisah dengan anak-anakku".

Aku tidak percaya mendengar kalimat tegas yang keluar dari bibir Abin, namun sejujurnya aku belum cukup kuat untuk berpisah dengannya.

Sejak peristiwa itu, aku belajar menyusun puing-puing hatiku yang telah porak-poranda. Abin beberapa kali mencoba meyakinkanku bahwa cintanya tidak berubah padaku, tetap sama dari dulu hingga saat ini, namun aku terlalu terluka dengan kenyataan yang harus aku hadapi jika tetap bersamanya.

Berpisah dengan Abin bukanlah hal yang mudah bagiku, dan aku ingin pulih, aku ingin memulai hidup yang baru. Hubungan kami mulai renggang, aku selalu mencari alasan setiap kali dia hendak bertemu dengan ku.

Namanya David, pria ini berbeda dengan Abin yang lemah lembut, selalu membuat pipiku bersemu karena pujian-pujianya, dan tentunya sangat berbeda dengan Satria, laki-laki penakut dan tidak punya kekuatan untuk mengambil sikap tegas.


Abin tidak menerima keputusanku untuk berpisah darinya dan memulai hidup baru dengan pria lain, "aku tidak ingin kamu menjadi milik orang lain, aku memang pernah mengatakan kalau aku tidak bisa menceraikan istriku, aku berubah pikiran aku akan melamarmu bulan depan ! ! ".

“Aku memang mencintaimu, namun aku menyadari dengan merebutmu, itu sama artinya aku melukai istrimu dan ke dua anak-anakmu. Dulu aku buta, dan takut untuk kecewa, tapi aku menyadari bahwa langkah kita salah, dan aku ingin menghentikan kebodohan kita”, aku menolak tegas rencana Abin.

Aku berharap banyak dengan hubunganku yang baru ini, aku ingin melupakan semua kengangan buruk dalam hidupku. Aku ingin menggantungkan harapan dan masa depanku padanya, semoga david persinggahanku yang terakhir.

“Bagaimana kalau akhir pekan ini kita keluar kota, semoga dengan suasana baru dapat menghilangkan kepenatan ?´ David menyampaikan rencananya.

David memperlakukanku dengan baik dan sopan, sepanjang perjalanan aku dapat merasakan perhatian dan kebaikannya.

Kami tiba di kota jami sudah larut malam, David menyarankan agar beristirahat di rumahnya, besok pagi baru diantar pulang kekosku. Pikirku tidak ada salahnya, lagi pula aku percaya padanya dengan apa yang aku lihat selama ini.

David mempersilahkan aku ber istirahat di kamarnya, sementara dia beristiratat di ruang tamu.


“Ada apa ini, kenapa ada yang mendekapku demikian kerasnya”, aku berusaha berterak sekerasa-kerasnya, namun aku tidak mampu melawan kekuatan ini.

“Aku di perkosa ! Aku menangisi kebodohanku, penyesalan yang terlambat.


Di sela-sela tangis, aku bertanya kenapa dia tega melukaiku seperti ini.

“Beberapa hari yang lalu Abin menemuiku, dia memintaku untuk menjauhimu, dan ketika aku menolak permintaanya, dia mentartawaiku.”

“David, masih banyak wanita yang lebih baik dari Mirna, hubungan kami sudah seperti suami istri, apa kamu mau mendapatkan wanita yang sudah tidak gadis lagi?”.


Aku pulang ke kosku sendirian, aku tidak ingin lelaki bejat itu mengantarku pulang ! Aku membencinya ! ! !
Setelah peristiwa malam itu, aku tidak ingin bertemu dengan siapapun juga dan yang lebih menyakitkan lagi Abin mentertawai apa yang aku alami, dia puas telah menghancurkan hidupku.

Aku benci laki-laki ! ! ! aku menjadi tertutup dan kehilangan semangat untuk hidup. . . ..

Aku larut dengan kesedihanku, tak terpikir olehku bahwa hasil perkosaan malam itu bisa membuatku hamil, dan memang benar ! Aku HAMIL !

Aku berharap David bahagia dengan khabar ini, tapi ternyata yang aku dapat hanya makian. Sambil tertawa sinis, dia berkata padaku,"kamu salah kalau datang padaku, apa bukti kalau aku ayah biologis dari bayi yang ada dikandunganmu ! ! sudah pergi sana, dasar pelacur !"

Aku pikir suatu saat dia akan berubah dan menyadari kalau apa yang dia lakukan salah, tapi ternyata itu hanya harapan belaka. Saat aku mencoba mengunjunginya untuk kedua kalinya, ternyata dia sudah berhenti dari pekerjaannya dan kembali ke Medan. Pupuslah sudah harapanku, aku harus menanggung aib ini sendirian.

Aku panik dan berusaha menggugurkan janin yang tidak berdoa ini dengan meminum jamu yang aku harap bisa menjatuhkan janin yang ada di rahimku. Suatu sore, saat mandi aku lihat ada gumpalan darah dilantai, aku senang sekali karena terlepas dari aib hamil diluar nikah. Tapi ternyata rahimku belum bersih, masih ada yang tersisa dan harus di bersihkan "kerok" oleh dokter. Keteledoranku sangat fatal dan aku baru menyadarinya saat aku ditemukan jatuh pingsan tepat didepan dokter praktek kandungan. Aku tau ini bukan kebetulan, tapi Tuhan masih sayang padaku.

Ternyata sisa janin yang ada di rahimku telah membentuk jaringan, dan kalau tidak dibersihkan "kerok", jaringan itu akan membusuk dan bisa menyebabkan kematian bagiku.

Belum selesai masalah yang aku tanggung, aku mendapat khabar yang lebih membuatku terpuruk, perusahaan tempatku bekerja bangkrut dan beberapa karyawan harus di PHK, salah satunya adalah aku.

Aku kehilangan segala-galanya, aku tidak punya keberanian untuk kembali ke orang tuaku, aku tidak ingin orang tuaku kecewa apalagi papa sudah tua. Aku putuskan untuk bertahan dan mencari pekerjaan yang baru.

Aku cukup lama menjadi pengangguran, aku mencoba memulai hidup yang baru, dan kesabaranku tidak sia-sia, aku akhirnya mendapatkan pekerjaan yang baru, walau gajinya lebih kecil dibanding tempatku dulu bekerja.

Aku pindah kos dan bergabung dengan teman-teman yang tidak tau masa laluku, dan inilah awal kehancuranku yang ke LIMA !

Aku belum mampu melupakan kepahitan yang aku alami, diperkosa oleh kekasih sendiri, di hianati oleh orang yang aku cintai. Aku masih sering meratapi nasibku, bersungut-sungut dengan kesialan yang aku alami.

Dalam situasi labil, aku bertemu dengan Darma, sama seperti lelaki sebelumnya dia sangat baik dan perhatian. Dan aku melakukan kebodohan yang sama, aku tidur dengannya dan aku HAMIL untuk kedua kalinya.

Dia berjanji menikahiku tapi kami belum cukup dana untuk menikah, dan saat usia kandunganku sudah tujuh bulan kami pulang kampung menemui orang tuaku. Aku begitu bahagia, karena sebentar lagi akan punya keluarga, aku berjanji menjadi ibu dan istri yang baik.

Tapi kembali hatiku tersayat-sayat, orang tua Darma tidak menyetujui pernikahan kami, dengan alasan aku bukan wanita yang pantas untuk anak lelakinya. Darma diminta meninggalkanku dan yang lebih menyakitkan lagi dia mengikuti permintaan orang tuanya. Dia meninggalkanku dan anak kami yang akan lahir kedunia satu bulan lagi.

Aku tak mampu lagi untuk menangis, aku tak mampu lagi untuk marah, aku tak mampu lagi untuk mengutuk orang-orang yang telah menghancurkan hidupku.

Tidak ada gunanya menyalahkan orang lain menjadi penyebab kegagalanku, aku harus bangkit dari belengu rasa bersalah pada diri sendiri.

Satu bulan kemudian, anakku lahir kedunia, dia begitu manis, lucu dan cantik . . . . Aku tidak ingin kesalahan yang ibunya lakukan menimpa anakku.

Sudah cukup kesalahan yang aku lakukan selama ini, aku ingin memulai hidup yang baru dan membesarkan anakku.

[Aku tidak mungkin bisa menghapus kejadian dimasa lalu, tapi aku belajar untuk melupakan dan memaafkan]














Wait while more posts are being loaded