Post has attachment

Post has shared content

Post has shared content

Post has shared content

Post has shared content
Inilah Keajaiban Taruh Es Batu di Tengkuk Leher

Tahukah Anda, bahwa ada suatu tempat di tubuh manusia, di mana jika Anda menempelkan es batu pada titik tersebut selama beberapa saat, dapat sangat berdampak positif terhadap kesehatan Anda.

Tempat tersebut adalah titik tekanan yang terletak di dasar tengkorak tepat di bawah punggungan bawah batok tengkorak di atas leher, atau titik dimana leher dan kepala terhubung. Dalam ilmu Akupunktur Cina titik tersebut dikenal dengan nama Feng Fu, yang artinya “rumah angin”.

Menurut pengobatan tradisional Cina, metode titik Feng Fu tidak untuk mengobati penyakit. Bahkan, ia membawa tubuh kembali pada keseimbangan fisiologis alaminya, memberikan stimulasi emosional yang positif dan meremajakan seluruh tubuh.

Inilah Keajaiban yang Akan Terjadi Jika Anda Menempelkan Es Batu pada Titik Feng FuCobalah melakukan terapi tersebut ketika badan Anda terasa lelah atau kepala terasa pusing, maka Anda akan menemukan diri Anda menjadi ringan, lebih berenergi dan perasaan lelah atau penyakit pun seolah menghilang. Beberapa penderita migrain pun bahkan telah merasakan manfaatnya dan membuktikan sendiri, bahwa melakukan terapi menggunakan metode ini ternyata jauh lebih cepat dan efektif mengatasi migrain dibandingkan dengan konsumsi obat-obatan.

Satu-satunya hal yang perlu Anda lakukan untuk melakukan terapi ini hanyalah menempatkan es batu pada titik Feng Fu dan tahanlah disana selama 10 hingga 20 menit. Pada awalnya mungkin Anda akan merasa dingin selama 30-40 detik, tapi perlahan-lahan titik tersebut akan mulai menghangat.

Menempelkan es batu pada titik Fung Fu berkhasiat untuk:

1. Mengatasi sakit kepala dan migrain
2. Meringankan sakit gigi dan nyeri sendi
3. Menciptakan efek relaksasi
4. Membangkitkan energi dan mengusir kelelahan
5. Meningkatkan kualitas tidur Anda
6. Memperbaiki sistem pernapasan dan sistem kardiovaskular Anda
7. Mengatasi Asma
8. Mencegah sering pilek dan hidung meler
9. Mengatasi gangguan neurologis dan perubahan degeneratif pada tulang belakang
10. Memperbaiki sistem pencernaan
11. Menyembuhkan infeksi saluran pencernaan dan infeksi menular seksual
12. Mengatasi gangguan pada saluran pencernaan, obesitas dan malnutrisi
13. Mengatasi gangguan kelenjar tiroid
14. Membantu masalah arthritis, hipertensi dan hipotensi
15. Menghilangkan selulit
16. Mengatasi gangguan menstruasi, impotensi, frigiditas, endokrin, infertilitas
17. Mengatasi gangguan psiko-emosional, stres, kelelahan kronis, depresi, insomnia
Luar biasa sekali bukan? Sayangnya terapi dengan metode Feng Fu ini masih belum banyak diketahui oleh banyak orang, oleh karena itu sebarkanlah supaya orang lain juga dapat merasakan manfaatnya.

Semoga bermanfaat
Photo

Post has shared content
Kisah Islamnya Umar ibnu khottob

Umar gelisah tak bisa tidur malam itu. Ia kemudian keluar
rumah. Purnama bersinar terang menerangi jalan-jalan kota
Mekah yang sepi. Sejenak, Umar melihat seorang berjalan
perlahan mendekati Ka'bah. Langkahnya begitu teratur, agak
perlahan sebab jalan memang sedikit terjal. Orangnya
berperawakan sedang, tidak tinggi, juga tidak pendek. Namun,
berkesan ada kekuatan mengelilinginya. Umar segera tersadar,
Orang itulah yang dibencinya sangat. Orang yang telah
membawa banyak problema bagi masyarakat Mekah akibat
ajakannya pada Agama baru. Orang yang telah menantang
tetuhanan yang telah mereka sembah sejak beberapa abad.
Bahkan dengan gamblang Orang tsb menyebutnya sebagai
tuhan-tuhan palsu. Dan lebih lagi, Ia justru mengajak pada
Tuhan yang Satu. Orang yang telah memecah belah Bangsa
Quraish, memisahkan antara anak dan orang tua, menimbulkan
perang antar saudara, penyebab bercerainya suami dan istri.
Umar naik pitam. Tapi mencoba menahan diri. Ia berfikir,
mestinya ada perhitungan dengan Muhammad, paling tidak
agar da'wanya berjalan tersendat.
Perjumpaan dengan Ummu Abdullah
Pagi sebelumnya, Umar berjumpa Ummu Abdullah, sepupunya
sendiri. Ia mendapatinya sedang dalam persiapan hijrah ke
Abisinia. Umar sempat berucap "Engkau juga akan pergi?"
"Ya!", sahut Ummu Abdulah. "Umar! Engkau telah menyulitkan
kehidupan kami",sambung Ummu Abdullah. "Satu-satunya celah
menurutmu, hanya karena kami mempercayai Allah." Umar
terdiam, sebab ia sendiri tak punya alasan tepat untuk
membenci sepupunya itu. Perasaan sedih juga merasut dalam
dadanya, meyaksikan beberapa anggota klannya sediri
meninggalkan Mekah. Tak sadar, Umar berucap menimpali
kata-kata Ummu Abdullah "Mudah-mudahan Tuhan
bersamamu" Maka sejak itulah Ummu Abdullah punya keyakinan
bahwa, mungkin suatu ketika Umar akan menjadi seorang
muslim. Disampaikannya harapan itu pada suaminya, Amier.
"Ah...tak mungkin!", kata Amier. "Seluruh keturunan Khattab
boleh saja menjadi muslim, tapi dengan Umar...rasanya sangat
jauh. Hatinya lebih keras dari karang."
Bagi Umar sendiri, percakapannya dengan Ummu Abdullah
meninggalkan kesan cukup dalam. Ia tak menemukan legitimasi
atas penyiksaan yang telah dilakukannya pada orang-orang
muslim. Sesungguhnya Umar merasa bersalah. Tapi gengsi dan
rasa sombong masih melekat dalam dadanya, karena itulah ia
gelisah, tak bisa tidur. Sampai akhirnya malam itu,
mendapatkan Muhammad menghampiri Ka'bah. Umar masih
dengan gumannya sendiri, sembari mengawasi bayangan Nabi.
"Bukankah orang ini biang kerok dari semua masalah?
Penyebab kegoncangan keluarga dan membuat banyak orang-
orang seperti tersihir?" Dan kali ini, Ia justru berjalan dengan
tenanganya menuju Ka'bah, seolah-olah tak punya rasa takut.
Umar semakin jengkel. Ia berkata-kata sendiri."Umar!
Bukankah engkau orang yang paling berani sekota Mekah?
Juga tidakkah Engkau membenci Islam? Terlebih pada orang
yang menjadi sumbernya? Yang sekarang justru dengan
tenangnya mendekati Ka'bah. Karena itu, buatlah perhitungan
Umar!" Umar, mengendap mengikuti arah Nabi. Kata-kata
Ummu Abdullah kembali mengiang di telinganya.
Mengitip di Ka'bah
Begitu Umar melangkah memasuki Masjidil Haram, Nabi
Muhammad SAW sudah berada di sana melaksanakan Shalat.
Beliau menghadap ke Utara, arah Jerussalem. Sebenarnya
Umar hingga saat itu belum pernah mendengar ayat-ayat
Quran, yang menurut cerita orang-orang mengandung
kekuatan. Hanya buruk sangka yang menyelemutinya selama
ini. Tapi, rasa ingin tahu muncul juga dalam dadanya. Ia
menarik tirai pada Ka'bah dan bersebunyi disitu. "Kata-kata
apa gerangan yang akan keluar dari mulutmu Muhammad?
Bicaralah!!" Gumannya disertai gercikan gigi pertanda geram.
Tiba-tiba, seperti jawaban, suara Nabi membedah keheningan
malam. Beliau membaca Surah Al Haqqah.
Hari kepastian!. Apakah hari kepastian itu? Dan, apa yang
boleh menyadarkan kamu tentang hari kepastian? (QS Al-
Haqqah).
Umar maju selangkah, konsentrasi penuh, tak ingin tertinggal
sepenggal kata pun. Tertegung oleh keindahan dan keagungan
Alquran yang dibaca oleh Nabi. "Sungguh, kalimat-kalimat itu
menakjubkan, ia mengandung kekuatan",sahutnya. Umar
mencoba mengerti maknanya, lalu terbetik dalam pikirannya
"Kedengarannya seperti syair, yah...syair yang punya
kekuatan. Syair berkekuatan inilah yang telah menyesatkan
orang-orang Quraish". Umar yang terbawa oleh pikirannya
sendiri kembali tersentak oleh suara Nabi yang melantunkan:
Sesungguhnya Alquran itu adalah benar-benar wahyu yang
diturunkan Allah kepada RasulNya yang mulia. Alquran itu
bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu
beriman kepadanya.
Umar terpana. "Apakah orang ini mampu membaca pikiran
orang lain? Oh...jika demikian, maka ia adalah tukang tenung.
Tukang tenunglah yang bisa tahu kata hati orang lain".
Kembali suara Nabi menghentak Umar.
Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu
mengambil pelajaran daripadanya. Ini adalah wahyu yang
diturunkan dari Tuhan semesta alam. Sekiranya Dia Muhammad
mengadakan/menambah perkataan atas nama Kami. Niscaya
benar-benar Kami beri tindakan sekeras-kerasnya, kemudian
benar-benar Kami potong urat tali jantungnya (QS 69:42-46).
Tak pernah sebelumnya Umar dihadapkan pada kondisi yang
demikian krusial. Semua prasangka dan argumennya tak
berdaya. "Jika Muhammad berbohong, jika Ia tak menerima
wahyu dari Tuhan, maka Tuhannya pasti telah
membinasaknnya", pikir Umar.Umar tak tahan lagi, Ia merasa
kalah. Lemas, lalu membalikan badannya parlahan kemudian
pulang menyusuri padang pasir ke rumahnya.
Jalan-jalan kota Mekah yang semakin sepi menyertai perang
yang sedang berkecamuk dalam benak dan hati Umar. Ia
merasa kesal sekaligus memandang bahwa ketarbedayaannya
menghadapi kekuatan Kalimat-kalimat Quran sebagai
kelemahan baginya. Karenanya, Umar kembali marah. Akan
tetapi Umar juga tahu dan sadar bahwa Muhammad adalah
orang yang ikhlas, orang yang punya integritas, yang
ajarannya jauh melampaui ajaran yang Umar pernah dengar
sebelumnya. Umar memasuki rumahnya dengan pikiran yang
berkecamuk.
Rumah Arqam
Kaum minoritas muslim yang sebagian besar penganut baru
sering dianiaya. Mereka sulit melaksanakan ajaran agama
secara terbuka, juga tak boleh shalat di Ka'bah. Sementara
itu, markas Besar Rasul, dimana ia sering memberi pengajaran
pada shahabatnya, berlokasi di sekitar bukit Shafa, di rumah
Arqam. Orang-orang muslim mengujungi tempat ini, belajar
Alquran dan bahkan kadang-kadang nginap beberapa hari.
Selain ditempa di Rumah Arqam oleh Rasul, orang-orang muslim
saling mengujungi antar sesama. Rumah Rasul, tentu saja juga
menjadi bagian yang sangat penting. Penganut senior
mengajari penganut yang baru.
Suatu pagi di kediaman Rasul, suasana begitu mengharukan.
Kabar sampai ke pihak mereka bahwa Abu Jahl, musuh besar
islam yang lain, bersama Umar, sedang merencanakan
rangkaian penganiayaan terhadap penganut Islam. Karena itu,
sebagian yang hadir di rumah Rasul ketika itu hanya ada dua
pilihan, yakni bersembunyi atau disiksa. Salah seorang di
antara mereka berucap,"Masalahnya tidak cukup jumlah kita
untuk mengadakan perlawanan...lihatlah! Lagipula, beberapa di
antara kita adalah bekas budak, dan sebagaian besar masih
terlalu muda. Apa yang kita bisa lakukan melawan kaum Quraish
yang besar? Sebenarnya kita butuh orang-orang kuat di
antara kita." Yang lain senyum sedih, tetapi setuju, mendengar
ungakapan itu. Nabi yang berada di tengah mereka, perlahan
menegadahkan tangan sambil berdoa,"Ya Allah, Tunjukilah
kami dan Kuatkanlah Islam. Beri petunjuk Abu Jahl Ibnu
Hisyam atau Umar Ibnu Khattab. Ya Allah, siapa pun dari
keduanya yang Engkau cintai, tunjuki ia ke Islam. Semua yang
hadir mendengar doa itu, dan menirukannya dalam hati.
Seketika Rasul selesai berdoa, serentak terdengar ucapan,
Aamin.
Kegoncangan Umar
Sementara itu, Umar kelihatan semakin galak. Apa yang
disaksikannya di Ka'bah malam itu senantiasa lengket dalam
benaknya, menghantuinya, hingga kadang-kadang
menjagakannya dari tidur. Suatu malam, ia tak tahan lagi,
puncak amarah menembus ubun-ubunnya. Ia memutuskan untuk
segera saja menhabisi jiwa orang yang dianngapnya biang
kerok. Segera ia mengambil pedang, menghunusnya, lalu keluar
rumah. Sisa purnama masih ada. Orang-orang sepanjang jalan
sulit untuk tidak mengenali Singa padang Pasir yang lagi geram
ini. Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan sepupunya
Nu'aim ibnu Abdullah Annahm. Mata Nuaim hampir silau oleh
pedang Umar yang mengkilat terhunus. Nu'aim yang agak
gugup mencoba tetap diam. Tapi kemudian bertanya dengan
lembut, "Hendak kemana Umar?" Umar yang di puncak
amarah, setengah berteriak,"Kemana!?...Ha!!" "Masih tanya
juga!" "Yah...kemana lagi kalau bukan untuk menghabisi orang
yang selama ini menjadi biang kerok, orang yang telah
menghina agama nenek moyang Quraish serta merendahkan
Tuhan-tuhan kita." Nuaim diam. "Orang itu tak akan menghina
lagi", sambung Umar sembari menebaskan pedangnya ke udara.
Orang-orang yang rumahnya di pinggiran jalan hanya kuasa
mengintip dari balik jendela. Sementara Nuaim kendati gugup
punya keberanian menimpali,"Siapa yang mengajarimu bahwa
Kamu dapat membunuh Muhammad dengan mudah?" Apa Kamu
pikir, kalo berhasil membunhnya lalu kamu bisa bebas begitu
saja?" Apa Kamu tidak sadar akan jumlah darah balasan yang
akan dimintakan oleh pihak Banu Hasyim terhadap banu kita,
banu Abi? Keduanya, kelihatan sedang beradu argumen. "Aku
tahu sekarang! Engkau juga sudah tersihir oleh Muhammad",
balas Umar. "Mendekatlah ke sini, akan kuobati engkau dengan
pedang ini", lanjut Umar."Engkau tertipu", kata Nuaim
menimpali. "Ternyata Engkau tak tahu bahwa saudaramu
sendiri seorang muslim. Yah... Fatimah dan Suaminya, Said jauh
lebih bijaksana dari pada Engkau. Mereka berdua tidak dungu
untuk berpegang teguh pada ajaran jahilliyah begitu mereka
mendengar kebenaran. "Bohong!", bantah Umar. Ia kemudian
merubah arah jalannya, menuju rumah saudaranya itu. "Jika
demikian, maka merekalah yang harus mampus lebih dulu",
ketusnya. Jarak ke rumah Fatimah cukup jauh, karena itu
amarah Umar sempat mereda sesampai di depan pintu. Ia
mendengar penghuni rumah sedang membacakan Ayat-ayat
Quran. Sejenak Umar berhenti. Lalu diketuknya pintu agak
keras. Seisi rumah, Fatimah, suaminya Said dan Habbab,
pembimbing mereka, berhenti membaca Quran. "Siapa di
luar?", tanya Fatimah. "Umar ibnu Khattab!" Mendengar
suara itu, Habbab gugup lalu meuju ke kamar belakang,
bersembunyi. "Cepat, sembunyikan rontal itu", bisik Said.
Fatimah kemudian memasukkannya ke dalam gaungnya. Umar
kembali mengetuk dengan ketukan yang lebih keras. Said
membuka pintu, dan tampak olehnya Umar dengan pedang
terhunus.
"Kalian sedang apa? Kamu pikir saya tak mendengarnya?",
gertak Umar. "Tidak ada apa-apa", jawab Fatimah tenang.
"Kami sedang ngobrol biasa." Umar naik pitam, "Bohong!
Pengecut!" katanya. "Saya tahu bahwa kamu ikut tersihir".
Fatimah dan Said saling berpandangan. Lalu Said kemudian
berujar, "Kini Umar telah tahu, tak ada yang patut
disembunyikan. Tapi ketahuilah Umar, kebenaran itu bukan
seperti yang Anda pahami". Ucapan ini keterlaluan bagi Umar.
Ia marah, dan mencoba menyerang Said. Umar terlalu kuat,
Said terjatuh. Menyaksikan itu, Fatimah menghentak Umar,
dengan sekuat tenaga mencoba membela Suaminya, sekaligus
saudara Muslimya."Lepaskan Dia!" Merasa terhalangi, Umar
menampar saudara perempuannya sendiri. Pipi Fatimah merah,
tapi ia menantang Umar, "Hai musuh Allah!", katanya. "Engkau
membenci kami hanya karena kami beriman?" "Benar", kata
Umar. " Sekarang, lakukan apa saja yang kau mau", Suara
Fatimah menyambar bagai petir. "Kami bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah.
Engkau tak kuasa mengubah keyakinan kami. Apapun yang
terjadi, kami tak akan pernah meninggalkan Islam. Umar
terkesan mendengar keteguhan hati saudarinya itu,
amarahnya seperti tersiram salju. Perlahan-lahan, Umar
meredah, relax. Kemudian dengan suara perlahan, ia berkata,
"Baiklah Saudariku! Perlihatkanlah padaku apa yang sedang
kalian baca! Sekiranya ia mengadung kebenaran, apa salahnya
engkau memberi tahu Aku." Fatimah ragu, ia memandang
suaminya. "Saya berjanji tak akan mebuangnya", tambah
Umar. "Akan Aku kembalikan", Umar meyakinkan. "Baiklah!",
sahut Fatimah. "Tapi, basuh duluh wajahmu dengan air, Engkau
tidak dalam kondisi membaca ayat suci". Umar kemudian
menuju mengambil air, Habbab keluar dari kamar
berbisik,"Bagaimana Engkau percaya pada orang yang
demikian keras dan kejam?" "Aku tahu karakter saudarku",
jawab Fatimah. Malah saya punya harapan besar bahwa Allah
akan memberinya petunjuk. Habbab, meyaksikan umar, kembali
bersembunyi. Dengan doa dalam hati, Fatimah meyerahkan
rontal, pada Saudaranya. Umar membaca:
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi
bertasbih kepada Allah. Dan Dialah yang Maha Kuasa atas
segala sesuatu. KepunyaanNyalah kerajaan langit dan bumi,
Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang zhahir
dan Yang Bathin; Dan Dia maha Mengetahui segala sesuatu.
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa;
Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa
yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya
dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadaNya.
Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah
Maha melihat apa yang kamu kerjakan. KepunyaanNyalah
kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah lah dikembalikan
segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang
dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha
mengetahui Segala isi hati. (QS 57:1-6)
Kini Umar kembali tertegung akan keagungan ayat-ayat suci
itu. Ia mulai insyaf akan kekeliruannya selama ini, Muhammad
kini diakuinya sebagai benar-benar Nabi. Mata hatinya kini
terbuka, tak mungkin ada Tuhan lain selain Allah. Kata yang
pertama terucap baginya setelah membaca, "Cepat! Dimana
Muhammad? Beri tahulah aku!" Ipar dan saudarinya berdiri.
Habbab yang keluar dari persembunyian berbisik pada Said,
"Apakah ini menunjukan bahwa Doa Nabi terkabul?" Said diam
saja, sembari memberi kode pada Fatimah, untuk memberi tahu
di mana Nabi. Pedang yang terhunus sejak awal disarungkan
kembali oleh Umar. Ia kemudian menuju Rumah Arqam.
Di dalam, Nabi dan para shahabat sedang duduk, Hamzah dan
Talha berjaga di depan pintu. Umar mengetuk. "Siapa di
luar?", tanya Talha. Umar memberi respons, dan seketika
suasana terdiam. Melihat gelagat para shahabat seolah
ketakutan, Hamzah berucap, "Kenapa takut? Mungkin ia
datang dengan maksud baik, untuk memeluk islam. Kalau tidak,
tak soal, kita dengan mudah bisa meringkusnya." Ia kemudian
memberi isyarat pada Talha untuk membuka pintu. Umar
melangkah masuk. Hamzah dan Talha memegang tangan Umar
dan membawanya menuju Nabi. Tapi, Nabi meminta mereka
berdua untuk membiarkan Umar. Umar tak melangkah lagi.
Nabi mendekat, Beliau membisiki Umar meletakkan pedang.
Umar tak kuasa menolak, ia pasrah, bahkan berkesan tak
bergerak. Nabi lalu angkat bicara, Umar! Tinggalkanlah
perbuatan maksiat, sebelum murka Allah menimpahmu. Umar,
terimalah Islam. Oh..Allah, beri dia petujuk." Umar hanya bisa
menjawab, "Apa yang seharusnya saya ucapkan?" Hamzah pun
bicara, "Persaksikan bahwa Tidak ada Tuhan yang patut
disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah".
Umar menoleh ke arah Hamzah, lalu ke arah Nabi, kemudian
berucap, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
Engkau Muhammad adalah Rasul Allah". Mendengar deklarasi
itu, para shahabat serentak berucap, "Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Allahu Akbar".
Belum semenit memeluk Islam, Umar menambah kekuatan pada
barisan kaum muslimin. Dukungannya terhadap Islam begitu
antusias, melebihi antusiasnya ketika sebagai musuh. "Ya
Rasulullah, kita harus memperjuangkan kebenaran ini sekarang
juga?" Ya, tentu saja, jawab Nabi SAW. Kalau begitu, mari kita
keluar memproklamirkan keyakinan kita ini secara terbuka, Ayo!
Kita shalat di depan Ka'bah". Rasulullah mengiyakan. Para
shahabat kemudian berbaris dua menuju Ka'bah yang satu
dipimpin oleh Umar, lainnya lagi oleh Hamzah, keduanya adalah
pemimpin Makkah yang sangat disegani.
Antusiasme keislaman Umar dibuktikan dengan mendatangi
beberapa pemimpin utama kaum Quraish, termasuk paman Nabi
sendiri, Abu Jahal. Bukan itu saja, Ia bahkan mendatangi
kerumunan kaum kafir seorang diri memproklamirkan
keislamanya. Orang yang berani mempersalahkannya
dihadapinya semua. Tapi, memang inilah yang diharapkan Umar.
Keislaman Umar mengubah peta kekuatan Kota Mekah. Kaum
kafir quraish tak semena-mena lagi melakukan penganiayaan
terhadap kaum minoritas muslim.

Post has attachment
Photo

Post has attachment
Photo

Post has attachment
Photo

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded