Post is pinned.Post has attachment
KEMULIAAN AYAT KHOTAMAN NUBUWWAH

بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اَللُهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، تَوَجَّهُ حَيْثُ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَنْصُوْر.

Madsud ayat Khatamun Nubuwwah:

"Allah Dia jualah Tuhan yang Tunggal, Tiada sekutu bagiNya, Muhammad itu hamba dan utusannya,  Berhadaplah walau ke mana sahaja yang engkau (Muhammad) kehendaki. Maka sesungguhnya engkau akan mendapat pertolongan"

Tanda Khatamun Nubuwwah ini ada pada diri Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan baginda adalah penamat/penutup bagi segala Nabi dan Rasul (Baginda adalah Nabi dan Rasul yang terakhir).
Tanda ini dikatakan ada pada belikat Rasullullah.

Ulama-ulama berbeza pendapat bagi bentuk Khatamun Nubuwwah ini. Namun bentuk yang paling mashyur digambarkan adalah berbentuk seperti telur burung merpati iaitu gumpalan daging yang menonjol di sebelah kiri bahagian atas, memancarkan cahaya, kelihatan berwibawa dan berbau wangi.

Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Saidina Ali R.A di dalam kitab mahamatnainiah yang bermaksud;

"Barangsiapa yang menjadikan lukisan Khatamun Nubuwwah aku perhiasan, dipelihara oleh Allah baginya daripada penyakit taun dan wabak dan tidak mati melainkan mati dalam iman dan dimasukkan ke dalam syurga tanpa hisab"

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Anas R.A, baginda SAW bersabda yang bermaksud;

"Bermula rumah yang ada lukisan Khatamun Nubuwwah aku di dalamnya, maka dipelihara Allah baginya daripada kebakaran dan kecurian dan daripada tiap-tiap musuh, dan tidak dimatikan melainkan tempatnya di syurga dan diluaskan oleh Allah kuburnya dan diterangi olehNya dengan cahaya"

Dapatlah difahami di sini, siapa yang menjadikan tanda ini sebagai perhiasan di rumah, maka ahli rumah tersebut akan terpelihara daripada penyakit, terhindar daripada bencana kecurian atau kebakaran.

Hadis lain meriwayatkan;

"Barangsiapa yang melihat Khatamun Nubuwwah dalam berkeadaan wuduk pada waktu subuh, nescaya dipelihara oleh Allah akan dia hingga ke petang, pada waktu Maghrib terpeliharalah dia hingga ke pagi, ketika berjalan (bermusafir) maka jadilah sepanjang perjalannya berkat dan selamat dan sesiapa yang mati dalam tahun tersebut maka dimatikan dalam iman"

Imam At-Tarmizi R.A

Apakah yang dimaksudkan dengan melihat? Adakah dengan menampalnya di dinding atau dijadikan wallpaper/screen saver PC agar boleh dilihat pada bila-bila masa? Menurut pemahaman, yang dimaksudkan dengan melihat adalah menghayatinya ke dalam diri semasa mengamalkannya.

Jika kalian mampu, amalkanlah hizib tauhid ini, kerana Allah. Kerana amat besar faedahnya. Insya Allah akan mudah mendapat pertolongan dari Allah.

Saya izinkan untuk perkongsian

والله أعلمُ بالـصـواب
Photo

Post has attachment
"Saat kunang² menasehati ku"
~
Apakah kamu tidak mengambil hikmah dariku..?
Meskipun di taman ini gelap,
saya tidak menyalahkan gelap dan malam,
Justru gelaplah yg Membuatku menjadi indah...!
~
Menyalahkan orang lain tidak akan
menjadikan dirimu menjadi lebih baik...
AWAL dari KEHANCURAN diri dan keluarga
Saat MERASA diri BENAR atau PALING BENAR...
~
Membicarakan kesalahan orang lain
Sama hal nya membicarakan kesalahanmu sendiri...
Mengumbar keburukan orang lain
Sama hal nya mengumbar keburukan mu sendiri...
~
Bagaimana mau mengenal Allah
Jika belum memandang semua adalah Allah...
Bagaimana mau mengenal Rosulullah
Jika belum memandang semua adalah Rosulullah...
~
Merendah lah hingga tidak ada yg merendahkan mu
Mengalah lah hingga tidak ada yg mengalahkan mu
Mengaku salah hingga tidak ada yg menyalahkan mu
InsyaAllah itu lebih baik untuk mu kedepan nya...🙏🙏🙏
~
Photo

Post has attachment
Rayuan Pada Keagungan Nya

Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.

“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.

“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.

Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.

Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

*

Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.

Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.

“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.

“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.


“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.

“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.

“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.

“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.

“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.

“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.

“Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).

Banyak orang yang mengamalkan doa rayuan kepada Tuhan ini.
Photo

Post has attachment
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Photo

Post has attachment
Aziz Mahmud Hüdai Hazretleri; Mehdi as'amdan ve Allah'ın Mehdi as'ama yazdırdığı Kitaptan Konuşmuştur.

Allah'ın bu kadar Sevgisini Kazanmak.

Bütün liyakatlara layık olmak.

Sevilmek Sevilmek Sevilmek.

Bütün bu üçlüde, üçünüzün sevgisi gizli.

Onu ben bile idrak edemiyorum.

Ağlayan Gözlere Kıyamıyor, Gülen gözlere bakmaya duyamıyorum.

Bize bunu O söylüyor, içinizin sesi ile Ey Allah'ın Sevgilisi bu Kainat çınlıyor!.

Aziz Mahmud Hüdai Hazretleri


Allah'ın bu kadar Sevgisini Kazanmak. 👉👉👉

(Bu sözleri ile Allah'ın Mehdi as'ma yazdırdığı Risalet Nurları

KAADİRİ MUTLAK SURESİ'nde şöyle geçer

"SENİ EN ÇOK SEVENİZ, EN ÇOK SENİ SEVENİZ."

Bütün liyakatlara layık olmak.👉👉👉

(Bu sözleri ile Allah'ın Mehdi as'ma yazdırdığı Risalet Nurları

MARİFET SURESİ'nde


"AKLINA GELEN İSİMLERİN ÇOK ÖTESİNE GEÇECEKSİN. ÇÜNKÜ SANA İLMİ MARİFETİ BÜTÜNÜYLE İHSAN ETTİK. BU MUHAKKAKKİ BİZDEKİ BÜTÜN DEĞİLDİR. SANA İHSAN EYLEDİĞİMİZ İLİM NAS'A İHSAN EYLEDİĞİMİZ İLMİN BÜTÜNÜDÜR. ONU İDRAK EYLEDİKÇE BÜTÜN EVLİYAYI YAKINDAN TANIYACAKSIN. ONLAR SENİN KATIMIZDAKİ RÜTBENİ BİLİRLER. SANA YAPACAKLARI HÜRMETİN SENİ GURURLANDIRMAYACAĞINI, ŞÜKRÜNÜ ARTTIRACAĞINI BİLİRİZ."

Sevilmek Sevilmek Sevilmek.👉👉👉

(Bu sözleri ile Allah'ın Mehdi as'ma yazdırdığı Risalet Nurları

KAADİRİ MUTLAK SURESİ'nde

"SENİ EN ÇOK SEVENİZ, EN ÇOK SENİ SEVENİZ."

MARİFET SURESİ'nde

"BİZİ EN YAKINDAN TANIYAN SENSİN. SEN SEVGİLİ KULUMUZSUN. HAY OLANLARIN İÇİNDE EN SEVGİLİ, EN ÇOK İLİM VE MARİFET İHSAN ETTİĞİMİZ KULUMUZSUN."

Bütün bu üçlüde, üçünüzün sevgisi gizli.

Onu ben bile idrak edemiyorum.👉👉👉


(Bu sözleri ile Allah'ın Mehdi as'ma yazdırdığı Risalet Nurları

VAZİFE SURESİ'nde

"EY BENİM SEVGİLİ KULUM. SANA NASIL GÜNAH YAZARIM? SENİ ÖYLE SEVİYORUM Kİ EĞER HER ŞEYİ BİR ÖLÇÜ DAHİLİNDE YARATMASA İDİM VE SENİ HELÂK ETMESEYDİ BÜTÜN İHSANLARIMIZA SENİ BİR ANDA GİRİFTAR EDERDİM."

Ağlayan Gözlere Kıyamıyor, Gülen gözlere bakmaya duyamıyorum.👉👉👉

(Bu sözleri ile Allah'ın Mehdi as'ma yazdırdığı Risalet Nurları

KAADİRİ MUTLAK SURESİ'nde şöyle geçer

"SENİN GÖZYAŞLARIN HABİBİM KATIMIZDA EN KIYMETLİ HAZİNEDİR. ONLARI SİLME." ile

"HABİBİM SENİN GÖZYAŞLARIN NEZDİMİZDE KIYMETLİ BİR HAZİNEDİR."

İNZAL SURESI'nde

O'NUN GÖZYAŞLARI NEZDİMİZDE KIYMETLİ BİR HAZİNEDİR. ile

MÜJDE SURESİ

Bismillahirrahmanirrahim

SENİN GÖZYAŞLARIN HABİBİM KATIMIZDA KIYMETLİ BİR HAZİNEDİR. ONLARI SİLME ONLAR KALBİN YIKAYICISIDIR.

VAZİFE SURESİ'nde

SENİN VAZİFELERİN ÇOKTUR. UZUN BİR SÜRE DÜNYADA KALACAKSIN. SENİN GÖZYAŞLARIN HABİBİM KATIMIZDA EN KIYMETLİ HAZİNEDİR. ONLARI SİLME VE YÜZÜNÜ ABDEST ALANA KADAR YIKAMA.

Bize bunu O söylüyor, içinizin sesi ile Ey Allah'ın Sevgilisi bu Kainat çınlıyor!.👉👉👉

(Bu sözleri ile Allah'ın Mehdi as'ma yazdırdığı Risalet Nurları

ANLAŞMAZLIK SURESİ'nde

"HABİBİM SEN EMRİMİZİ TEBLİĞ ET. SABIRLI OL VE ÜZÜLME."


HACET NAMAZI

Namazda aşağıdaki âyetler okunur:

1. Rekâtta: Subhaneke + Fâtiha + 3 Âyetel Kürsî
2. Rekâtta: Fâtiha + İhlâs + Felâk + Nas.
2. Rekâtin sonunda : Ettehiyyâtü
3. Rekâtta: Subhaneke + Fâtiha + İhlâs + Felâk + Nas.
4. Rekâtta: Fâtiha + İhlâs + Felâk + Nas.

Namaz tamamlandıktan sonra Allah'tan hacet neyse o istenir. Allah'tan mürşid istemek için bu namaz kılındıysa mürşid istenir.

Bu namazdan sonra hiç konuşmadan yatmak gerekir. Yatarken kıbleyi sağa alacak şekilde yatak kurulur. Vücudun ön cephesi kıbleye çevrilerek yan üstü yatılır. 3 Âyetel Kürsî okunur ve Allah'tan mürşid istenir. Eğer kişinin haceti mürşid değil de başka bir hedefe ulaşmaksa (zahirî veya batinî bir hedef olabilir) o hedefe ulaşmak istenir. Sessiz zikir (hafî zikir) bu istekten sonra başlar. Yan üstü yatıldığı için sağ kulak yastığa gelecektir. Baş biraz sağa, sola oynatılarak kulakta kalbin atışlarının, basınç sebebiyle rahatça duyulacağı pozisyona gelinir. Ve kalbin her çift atışında "Allah, Allah" diyerek kişi Allah'ı zikr-i hafî ile (yani sessiz olarak) içinden zikredecektir


https://youtu.be/2XkV5rr9vkA

Ayrntılı Bilgi için bakınız...

https://www.mihr.com/kitaplar/21/risalet_nurlari

Post has attachment
4jenis kematian'';
4jenis kematian'';
cintasebenar-illahi.blogspot.com

Post has attachment
Mautu Anta Qabla Antal Maut

"Matikanlah dirimu sebelum engkau dimatikan."

Karena hidup, berarti ia Kuasa, Berkehendak, Mengetahui, Mendengar, Bercakap, Bernama dan Berbuat. Dan jika yang hidup itu hanya satu. Maka yang selainnya adalah dihidupkan namun mati jua adanya.

Hidup dan matipun itu sebenarnya hanya sebuah makna antara ada dan tiada. Hidup sekalian diri karena nafas, hidup nafas karena ruh, hidup ruh karena rahasia dan Rahasia itu Esa Adanya.

Sering - seringlah mematikan diri guna mendapat apa yang dicari. Siapa yang rindu berjumpa dengan ALLAH maka ALLAHpun rindu untuk jumpa dengannya.

Syekh Abu Bakar bin Salim Rh memberikan pengertian tentang bagaimana perjuangan kaum Arifin dalam mematikan diri mereka. Mereka berkata : "Jika aku melihat selain daripada ALLAH, maka aku butakan mataku. Jika aku mendengar selain daripada ALLAH maka aku tulikan telingaku dan jika aku berkata selain daripada yang dari ALLAH, maka aku potong lidahku".

Mereka berjuang karena ALLAH, Yang Hidup, kuasa, berkehendak, mengetahui, mendengar, melihat, bercakap, bernama dan berbuat hanyalah ALLAH, dan segala sesuatu selain ALLAH adalah Bathil.

Apabila tiba waktunya maka akan seperti yang ALLAH Ta'ala firmankan : "Sesungguhnya hambaKu jika telah Aku cintai maka akan Aku bunuh. Dan jika sudah Aku bunuh, maka Akulah gantinya".

Sedikit keterangan ini semoga bermanfaat. Pada hakikatnya kita tidak akan bisa mematikan diri karena memang tidak punya diri.

#Salam
Photo

Post has attachment
CAHAYA MU CAHAYA MUHAMATSAW''
CAHAYA MU CAHAYA MUHAMATSAW''
cintasebenar-illahi.blogspot.com

Post has attachment
Semakin banyak Kitab yg dipelajari...!!!
Semakin Merasa Benar dan Sombong...!!!
Buang Semua kitab² diluar diri,
Dan Biarkan Ilmu Nya mengalir,
Itulah Sebenar² Ilmu...!!!
Photo

السلام عليكم ...terima kasih buat admin sudah nerima di group ini,moga jadi ladang saya untuk menambah ilmu pemahaman tentang agama yang mulia,sekali lagi terima kasih
Wait while more posts are being loaded