Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has shared content
Secarik permohonan maaf...
Assalamualaikum... Teman2.. Sewu ora jamu ya.. ??Hehehe suwe ora ketemu..

Maaf selama ini ana lagi.. semedi merenungi.. apa aja yg telah ana lakukan di group ini..
Ternyata setelah sy menimbang nimbang.. ana banyak salah sama temen muslim dan non muslim di group ini.. baik yg disengaja maupun tdk disengaja..

Ana mau menyampaikan mohon maaf sebesar besarnya..

Dengan hati yg tulus ini.. ana berharap temen2 sekalian bs memaafkan ana..

Mungkin hanya secuil ini yg ana bs sampaikan...

Klu mungkin ada kesempatan mungkin ada akan hadir lagi.. tapi utk menebus kesalahan.. dan mencoba selalu berbuat yg terbaik.. Krn ana tdk ingin menyiapkan musuh di hari penghitungan kelak..

Akhir.. kata..
Semoga group ini bs bermanfaat bagi sesama.. mendekatkan yg jauh dan menghimpun yg berserakan.. menjalin ukhuwah Islamiyyah.. dan persaudaraan sebangsa .. Aamiin..

Wassalam....

Post has shared content
ENGKAU ASING BAGINYA...

Bismillaah...

Wahai suami..ketahuilah bahwa engkau adalah orang asing baginya..tentunya hitungan tahun tak akan sama dengan hitungan jam engkau bersamanya. Lembaran ta’aruf itu pun tak kan mampu mewakili siapakah dirinya yang sebenarnya.

DIALAH SANG GELAS-GELAS KACA...

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada kaum lelaki, yakni :

“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita)” [HR. Al-Bukhari].

Ramahurmuziy mengatakan, “Para wanita diumpamakan dengan gelas kaca karena lemah, lembutnya, dan tidak mampu bergerak gesit. Para wanita disamakan dengan gelas kaca karena lemah, halus dan tubuhnya yang lemah”.

Ulama lain berpendapat, “Para wanita disamakan dengan gelas kaca karena cepatnya mereka berubah dari ridha menjadi tidak ridha, mudah pikirannya berubah. Layaknya gelas kaca mereka sangat cepat pecah dan tidak dapat menerima perlakuan kasar dan keras”

DIALAH TULANG RUSUK YANG BENGKOK...

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik.” [HR. Al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186].

Ini adalah perkara yang wajib bagi para ayah, saudara laki-laki, suami dan laki-laki pada umumnya, supaya bertaqwa kepada Allah dalam urusan wanita dan memberikan haq-haq mereka. Telah diketahui bahwa tulang rusuk yang paling atas itu mengikuti tumbuhnya tulang rusuk, dan sesungguhnya pada tulang rusuk itu terdapat kebengkokan, ini adalah perkara yang telah diketahui. Maknanya adalah bahwasanya selalu terdapat sesuatu yang bengkok dan kurang dalam sikapnya. Oleh karena itu telah ditetapkan dalam hadits lain dalam Ash Shahihaini, bahwa Rasulullah ṣhallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

"Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya menghilangkan akal seorang laki-laki yang tegas dan bagus dalam memutuskan perkara dari pada salah seorang dari kalian (wanita)." [HR. Al-Bukhari]

Wahai suami, itulah hakikat istri yang berada di hadapanmu saat ini..dialah gelas-gelas kaca yang selama ini engkau dengar…dialah tulang rusuk yang bengkok yang selama ini engkau cari untuk melengkapi hidupmu.

DIALAH YANG HARUS ENGKAU MULIAKAN...

Wahai suami..engkaulah pemuda shalih yang telah sekian lama ia nantikan, engkaulah orang yang dinilai bertaqwa kepada Allah oleh orang tuanya, sehingga mereka rela menikahkanmu dengan putri kesayangan mereka.

Seorang lelaki berkata kepada Hasan Al-Bashri rahumahullah : “Saya memiliki seorang putri yang telah menginjak usia menikah, sudah banyak orang yang melamarnya. Kepada siapakah saya harus menikahkannya?!” Hasan menjawab,

“Nikahkanlah ia dengan seorang yang takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya. Sebab, kalau ia mencintainya maka ia akan memuliakannya (istri) dan apabila ia membencinya maka ia tidak akan menzhaliminya.”

Maka, muliakanlah ia dengan cintamu dan janganlah engkau menyakitinya karena kebencianmu kepadanya. Karena sesungguhnya ketika engkau membenci satu sisi darinya, akan ada sisi yang lain yang engkau sukai.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS An-Nisaa' : 19)
 
ENGKAULAH SANG NAHKODA...

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS an-Nisaa`: 34).

Ketahuilah wahai suami...sekarang engkau adalah pemimpin dalam keluargamu. Engkaulah yang berkewajiban mengatur arah kemanakah kemajuan istana kecilmu ini akan dipesatkan. Karena engkau telah dilebihkan oleh Allah dari segi akal dan fisik, dari segi jasamu memberikan nafkah untuk keluarga. Sehingga dengan akalmu engkau dapat memikirkan bagaimana membawa bahtera dengan penumpang serupa gelas-gelas kaca ini akan selamat sampai ke tujuan. Dengan nafkah yang engkau berikan (biidznillah) para penumpang mampu hidup dan membantumu menerjang angin dan badai.

Ingatlah ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya tentang hak seorang istri atas suaminya, beliau bersabda :

“Hendaknya dia memberi (nafkah untuk) makanan bagi istrinya sebagaimana yang dimakannya, memberi (nafkah untuk) pakaian baginya sebagaimana yang dipakainya, tidak memukul wajahnya, tidak mendokan keburukan baginya (mencelanya), dan tidak memboikotnya kecuali di dalam rumah (saja)” [HR. Abu Dawud, shahih]

Oleh karena itu, memimpinlah dengan berwibawa dan hiasilah kewibawaanmu dengan kelembutan. Kelembutan ketika berucap, kelembutan ketika menasehati, kelembutan ketika bersikap…karena ingatlah ia adalah tulang rusuk yang bengkok.

Berbahagialah kalian wahai sejoli..Inilah anugrah Islam terindah untuk kalian berdua..Akan terlantun doa keberkahan untuk kalian berdua dari orang-orang terkasih yang mencintaimu karena Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak diketahui [yang lebih bermanfaat] bagi dua orang yang saling mencinta semisal pernikahan” [HR. Ibnu Majah no. 1847, As- silsilah As-shahihah no. 624]

“Semoga Allah memberikan keberkahan untukmu dan menjadikan keberkahan meliputimu dengan anugerah keberkahan pada keturunanmu, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud no. 2130, dishahihkan oleh Al-Albani).

Oleh : Rinautami Ardhi Putri

Murojaah : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Maraji’:

Surat Terbuka Untuk Para Suami, Ummu Ihsan dan Abu Ihsan Al Atsary

https://alhijroh.com/tafsir/gelas-gelas-kaca/http://muslim.or.id/9275-bebas-memilih-pintu-surga.html

Sumber : www.muslimah.or.id
Photo

Post has shared content
KETAHUILAH, SEMUA BID'AH ITU SESAT

Bismillaah.

MENAMBAH atau  MENGURANGI dalam URUSAN 'AGAMA'BID'AH =  SESAT

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Barang siapa yang mengada-adakan (BID'AH) sesuatu amalan dalam urusan AGAMA yang bukan datang dari kami (Allah dan Rasul-Nya), maka tertolaklah amalnya " (SHAHIH, riwayat Muslim Juz 5,133)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap BID'AH adalah SESAT.” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

Untuk memahami arti bid’ah secarabahasa, mari kita simak terlebih dahulu beberapa arti kata “bid’ah” yang terdapat dalam kamus-kamus bahasa Arab populer:

Dalam kamus al-Muhith, Juz III hal. 3 disebutkan bahwa bid’ah adalah:

اَلاْمَرْ ُالَّذِيْ يَكُوْنُ أَوَّلاًَ 

(Sesuatu barang yang pertama adanya).

Dalam kamus Mukhtarus  Shihah, 379 disebutkan bahwa bid’ah adalah:

اِخْتَرَعَهُ لاَ عَلَى مِثَالٍِ 

(Mengadakan sesuatu tidak menurut contoh).

Dalam kamus al-Mu’tamad, 28 disebutkan bid’ah adalah:

اِخْتَرَعَهُ وَاَنْشَأَهُ لاَ عَلَى مِثَالٍِ 

(Diciptakan tanpa contoh).

Dalam kamus al-Munjid, 27 disebutkan bid’ah adalah:

مَاأُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍِ سَابِقٍٍ 

(Menciptakan dan membuat sesuatu tanpa contoh sebelumnya).

Dari beberapa penjelasan kamus di atas, dapat di pahami bahwa bid’ah dalam bahasa berarti sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya

Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” 

Lalu ada yang mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untukbertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka  dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk.  Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.  Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR.Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ

“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam),  janganlah membuat bid’ah.  Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian.  Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

Perlu diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama)’, ‘setiap bid’ah adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah dineraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/88, Ta’liq Dr. Nashir Abdul Karim Al ‘Aql)

Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93)

Perlu pembaca sekalian pahami bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya : semua) pada hadits,

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum.

Asy Syatibhi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)

Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah itu sesat walaupun sebagian orang menganggapnya baik. 

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

Juga terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلىالله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang.  Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang  jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan(bid’ah)?”

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Mereka menjawab, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

Lihatlah kedua sahabat ini (yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud) memaknai bid’ah dengan keumumannya tanpa membedakan adanya bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang jelek (sayyi’ah).

HUKUM BID’AH DALAM ISLAM

Hukum semua bid’ah adalah terlarang. Namun, hukum tersebut bertingkat-tingkat.

Tingkatan Pertama : Bid’ah yang menyebabkan kekafiran sebagaimana bid’ah orang-orang Jahiliyah yang telah diperingatkan oleh Al Qur’an. Contohnya adalah pada ayat,

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka : “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”.” (QS. Al An’am [6]: 136)

Tingkatan Kedua : Bid’ah yang termasuk maksiat yang tidak menyebabkan kafir atau dipersilisihkan kekafirannya. Seperti bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang Khowarij, Qodariyah (penolak takdir) dan Murji’ah (yang tidak memasukkan amal dalam definisi iman secara istilah).

Tingkatan Ketiga : Bid’ah yang termasuk maksiat seperti bid’ah hidup membujang (kerahiban) dan berpuasa diterik matahari.

Tingkatan Keempat : Bid’ah yang makruh seperti berkumpulnya manusia di masjid-masjid untuk berdo’a pada sore hari saat hari Arofah.

Jadi setiap bid’ah tidak berada dalam satu tingkatan. Ada bid’ah yang besar dan ada bid’ah yang kecil (ringan).

Namun bid’ah itu dikatakan bid’ah yang ringan jika memenuhi beberapa syarat sebagaimana disebutkan oleh Asy Syatibi, yaitu:

✅ Tidak dilakukan terus  menerus.

✅ Orang yang berbuat bid’ah (mubtadi’) tidak mengajak pada bid’ahnya.

✅ Tidak dilakukan di tempat yang dilihat oleh orang banyak sehingga orang awam mengikutinya.

✅ Tidak menganggap remeh bid’ah yang dilakukan.

Apabila syarat di atas terpenuhi, maka bid’ah yang semula disangka ringan lama kelamaan akan menumpuk sedikit demi sedikit sehingga jadilah bid’ah yang besar. Sebagaimana maksiat juga demikian. (Pembahasan pada point ini disarikan dari Al Bida’ Al Hawliyah, Abdullah At Tuwaijiri, www.islamspirit.com)

Bid'ah itu perkara ibadah bukan alat/benda/urusan dunia...seperti sabda Rasul, "Dalam perkara ibadah lihatlah Aku, sedangkan urusan Dunia kamu lebih tahu."

Contohnya : Sholat, Zakat, puasa, haji....Lihatlah Dalil yang diperintahkan Allah dalam Alquran kemudian lihatlah bagaimana Rasul mempraktekkan perintah Allah.

Sedangkan Contoh urusan dunia : Fb, twitter, Tv, Mobil pesawat, kereta semua ini adalah alat/benda yang dapat digunakan untuk mempermudah Ibadah kita kepada Allah.

Manusia Diciptakan Allah semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah....Dan Allah Maha pemurah sehingga memberikan fasilitas Dunia sebagai alat untuk mempermudah Ibadah kepada Allah...

Wallahu a'lam...

Sumber : http://ep.upy.ac.id/2016/06/22/ketahuilah-semua-bidah-itu-sesat-menambah-atau-mengurangi-dalam-urusan-agama-bidah-sesat/
Photo

Post has shared content
Inilah Mereka yang Tidak Menghormati Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam
↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔▪↔

Di saat Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilecehkan, dihina direndahkan oleh orang kafir, moment seperti ini dapat dijadikan oleh setiap muslim sebagai sebuah barometer, “Apakah ia seorang muslim yang membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau malah ia seorang yang menghina atau melecehkannya?!?”.

Saudaraku muslim…

📙👇 Di bawah ini disebutkan tanda-tanda seorang yang menghina, mencela dan tidak menghormati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

❌👉 Mencintai selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kecintaan yang melebihi cinta kepada beliau.

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ هِشَامٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « الآنَ يَا عُمَرُ » .

Artinya: “Abdullah bin Hisyam berkata: Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menggandeng tangan Umar bin Khaththab, lalu Umra berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai darisegala apapun kecuali dari diriku”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak (demikian), demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri”, Umar berkata: Sesungguhnya sekarang demi Allah, sungguh engkau kebih aku cintai sampai dari diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sekarang wahai Umar (benar-benar kamu beriman-pen).” HR. Bukhari.

Siapa yang masih lebih mencintai hartanya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perlu dipertanyakan pembelaannya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Siapa yang masih lebih mentaati selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, patut dipertanyakan, menungkin meremehkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ketaatan hasil dari kecintaan.

❌👉 Menjauhi ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, baik secara lahir ataupun batin

Allah Ta’ala berfirman:

{ وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} [النساء: 115]

Artinya: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’: 115)

Bagaimana sikap Anda terhadap ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Bagaimana keyakinan Anda dibandingkan keyakinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Apakah Anda mentauhid Allah semata, tidak mensyirikkan-Nya, tidak percaya terhadap peramal, dukun, jimat, sesajen dan semisalnya

Bagaimana Ibadah Anda dibandingkan dengan Ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Apakah shalat Anda mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah dzikir Anda sesuai dengan cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah puasa Anda mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Bagaimana tingkahlaku dan interaksi Anda mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah Anda pernah berdusta, berbuat zhalim, sombong menolak kebenaran dan merendahkan oranglain, 4

❌👉 Membenci bahkan cenderung menghina ajaran Nabi shallallahu ‘alaih wasallam dan melecehkan seorang yang berpegang teguh dengan ajaran dan sunnahnya

termasuk di dalamnya meremehkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dibacakan kepadanya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يقول: « فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى ».

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan dariku.”

Siapa yang membenci ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perlu dipertanyakan pembelaanya.

Siapa yang membenci tauhid, sunnah, jilbab wanita muslimah yang sesuai syariat, memanjangkan jenggot, mengangkat celana di atas dua mata kaki, makan dan minum dengan tangan kanan, siapa yang membenci semua ini, perlu dipertanyakan, “apakah ia sedang menghina Rasulullah atau menghinanya shallallahu ‘alaihi wasallam?”

❌👉 Menolak hadits-hadits shahih

عَنْ أَبِى رَافِعٍ وَغَيْرُهُ رَفَعَهُ قَالَ « لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ أَمْرٌ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لاَ أَدْرِى مَا وَجَدْنَا فِى كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ ».

Artinya: “Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak mendapati salah seorang dari kalian bersandar di atas kasur mewahnya, datang kepadanya sebuah perintah, yang aku perintahkan atau aku telah melarangnya, ia berkata: “Aku tidak tahu, apa yang kami dapatkan di dalam Al Quran (itu) yang kami ikuti.” (HR. Tirmidzi)

Siapa yang menolak hadits yang shahih, baik yang masuk dalam logikanya atau tidak, maka jangan mengaku-ngaku dia membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Siapa yang menolak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih karena lebih mendahulukan hawa nafsunya, adatnya, madzhabnya, maka bisa dipastikan ia tidak membela beliau.

❌👉 Meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Karena keyakinan ini telah bertentangan dengan Firman Allah dan Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا} [الأحزاب: 40]

Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. Al Ahzab: 40

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى يَعْبُدُوا الأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ».

Artinya: “Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dibangkitkan hari kiamat sampai kabilah-kabilah dari umatku bersatu dengan kaum musyrik, dan samapi mereka menyembah berhala-berhala, dan sesungguhnya akan ada di dalam umatku 30 orang tukang dusta, seluruhnya mengaku bahwa ia adalah seorang nabi padahal aku adalah penutup para nabi tidak ada nabi setelahku.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 7418)

❌👉 Mendahulukan perkataan seorang makhluk selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ } [الحجرات: 1]

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. Al Hujurat:1.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah:

النهي عن التقدم بين يدي الله ورسوله

وقال تعالى يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله واتقوا الله إن الله سميع عليم أي لا تقولوا حتى يقول ولا تأمروا حتى يأمر ولا تفتوا حتى يفتي ولا تقطعوا أمرا حتى يكون هو الذي يحكم فيه ويمضيه روى علي بن أبي طلحة عن ابن عباس رضي الله عنهما لا تقولوا خلاف الكتاب والسنة وروى العوفي عنه قال نهوا أن يتكلوا بين يدي كلامه. والقول الجامع في معنى الآية لا تعجلوا بقول ولا فعل قبل أن يقول رسول الله صلى الله عليه وسلم – أو يفعل

Artinya: “(Pasal) Larangan Mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ } [الحجرات: 1]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya adalah jangan kalian berkata sebelum ia berkata, jangan kalian memerintah sebelum ia memerintah, jangan kalian berfatwa sebelum ia berfatwa, jangan kalian memutuskan sebuah perkara sampai ia yang menjadi pemutus keputusan di dalamnya dan yang menentukannya, Ali bin Abu Thalhah meriwayatkan dari Abdullan bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma; “Janganlah kalian berkata yang menyelisihi Al Quran As Sunnah, Al ‘Aufy meriwayatkan dari beliau (juga): “Mereka dilarang untuk berbicara mendahului perkataannya.” Dan Perkataan yang menyeluruh dalam makna ayat (ini): Janganlah kalian tergesa-gesa dengan perkataan atau perbuatan sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya atau melakukannya.” Lihat kitab I’lam Al Muwaqqi’in, 1/51.

Dan keyakinan ini akhirnya diamalkan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum sampai kepada para imam, yaitu tidak berbuat dan berkata yang mendahului perbuatan dan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggalkan perkataan dan perbuatan siapapun dari makhluk jika sudah jelas perkataan dan perbuatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mari perhatikan perkataan-perkataan berikut:

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

تَمَتَّعَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم. فَقَالَ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ عَنِ الْمُتْعَةِ. فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ مَا يَقُولُ عُرَيَّةُ قَالَ يَقُولُ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ عَنِ الْمُتْعَةِ. فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم وَيَقُولُ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ.

Artinya: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berhaji dengan cara tamattu'”, lalu berkata ‘Urwah bin Az Zubair: “Abu bakar dan Umar melarang akan haji tamattu'”, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bertanya: “Apa yang dikatakan oleh Urayyah?”, dijawab: “Ia mengatakan bahwa Abu bakar dan Umar melarang akan haji tamattu'”, maka Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menanggapinya: “Aku berpendapat mereka akan celaka, aku sedang mengatakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dan ia (malah) mengatakan Abu Bakar dan Umar melarang(nya).” HR. Ahmad

Perhatikan saudaraku muslim…

Jika perkataan dua orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Abu Bakar dan Umar saja tidak boleh ditanding dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana dengan seorang yang kedudukan tidak seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.!!!

Pantaslah dikatakan menghina dan merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seorang yang lebih mendahulukan perkataan kyainya, habibnya, tuan gurunya, ustadznya daripada hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Perhatikan perkataan Imam Nashir As Sunnah (pembela sunnah) Al Imam Asy Syafi’ie rahimahullah berkata:

( أجمعَ الناسُ على أنه مَن استبانَتْ له سنةُ رسولِ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلَّم لَمْ يكنْ له أنْ يدَعَها لقولِ أحدٍ )

Artinya: “Para ulama bersepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sebuah sunnah/ajaran/hadits Rasulullah, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena perkataan seorangpun.” Lihat kitab Ar Ruh, 264 dan kitab I’lam Al Muwaqqi’in, 2/282, kedua karya Ibnul Qayyim dan kitab Al Ittiba’, hal. 24, karya Ibnu Abu Al ‘Izz.

Perhatikan juga perkataan Imam Ahlus Sunnah Al Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah:

” عجبت لقوم عرفوا الإسناد وصحته ويذهبون إلى رأي سفيان – أي الثوري – والله تعالى يقول : ((فَلْيَحْذَرِ الَذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ)) أتدري ما الفتنة؟ الفتنة الشرك، لعله إذا ردّ بعض قوله ، أن يقع في قلبه شيء من الزيغ فيهلك .

Artinya: “Aku heran terhadap suatu kaum yang telah mengetahui sanad dan keshahihannya, mereka (malah) pergi kepada pendapatnya Sufyan (Ats Tsaury), padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

((فَلْيَحْذَرِ الَذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ))

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”, tahukah kamu apa itu fitnah/cobaan?, fitnah/cobaan itu adalah kesyirikan, mungkin jika ia menolak sebagian sabdanya, akan terdapat di dalam hatinya sesuatu dari penyimpangan maka akhirnya ia binasa.” Lihat kitab Al Furu’, 6/375, karya Ibnu Muflih dan kitab Ash Sharim Al Maslul, karya Syaikhul Islam, 2/116-117.

❌👉 Tidak Mengenal Sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Terasa aneh seseorang yang tidak mengenal sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengaku membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi, bukankah pembelaan adalah buah hasil mencintai dan bukti seseorang mencintai adalah selalu mengingatnya, dan mengingatnya tidak akan sempurna kecuali dengan mengenal sejarahnya. Oleh sebab itulah para ulama mengatakan:

إِنَّ مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ

Artinya: “Sesungguhnya Barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan banyak mengingatnya.”

Mungkin ada dari sebagian orang yang mengaku membela Rasulullah lebih mengenal sejarah orang lain dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan lebih ironi lagi orang lain itu adalah orang kafir!!

Padahal umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya 63 tahun, yang mana sejarah beliau dengan mudah dibaca apalagi buku-buku sejarah di zaman sekarang sudah diterjemahkan dan diteliti riwayat-riwayatnya!

❌👉 Melakukan bid’ah di dalam beragama

Melakukan perbuatan bid’ah dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan amalan pelaku bid’ah tidak akan diterima berdasarkan penegasan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

” مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهُوَ رَدٌّ “

Artinya: “Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalannya tertolak.” HR. Muslim

Dan hal ini termasuk meyakini adanya bid’ah hasanah, karena siapa yang melakukan atau mengaku adanya bid’ah di dalam Islam maka secara tidak langsung ia telah menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak amanah, berkhianat terhadap Allah akan beban risalah yang telah diwahyukan oleh Allah Ta’ala kepada beliau agar disampaikan kepada umatnya. Mari perhatikan perkataan Imam Darul hijrah Al Imam Malik rahimahullah:

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة ، لأن الله يقول : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فما لم يكن يومئذ دينا ، فلا يكون اليوم دينا

Artinya: “Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah, karena Allah Ta’ala berfirman: “Hari telah Ku sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Jadi, apa saja yang pada hari ini bukan sebagai agama, maka tidaklah hari ini dia menjadi agama.” Lihat kitab Al ‘Itisham, 1/49.

❌👉 Tidak bershalawat ketika disebutkan nama Nabi shaallallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya

Seorang yang malas bershalawat terutama ketika diucapkan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya, maka perlu dipertanyakan pembelaannya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena ia adalah orang yang bakhil!

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang bakhil adalah yang aku disebutkan di hadapannya dan ia tidak bershalawat atasku.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih AL Jami’, no. 2878.

Saudaraku muslim…

Masih banyak tanda seorang yang melecehkan, menghina dan merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga yang sedikit ini bermanfaat. wallahu a’lam.


________________________________
Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
Artikel Muslim.Or.Id
Photo

Post has attachment
Ensiklopedi Akhir Zaman

Era 2000 hingga 2009 menjadi musim ‘panas’ bagi tema tema futuristik. Banyak buku yang mengupas tentang tanda tanda kiamat, akhir zaman Imam Mahdi,Dajjal dan topik semisal yang diterbitkan dan beredar luas di masyarakat.

Mungkin lebih dari 70 judul buku-buku bertemakan akhir zaman yang telah terbit. Lalu memasuki tahun 2010 tema-tema tersebut berkurang kwantitasnya. Namun tak lama setelah itu kita dikejutkan dengan apa yang tengah terjadi di Timur Tengah.Arab spring ato angin revolusi arab berhembus sedemikian kencangnya menerpa ke negara negara teluk.

Beragam analisa dan spekulasi tentang makin dekatnya tanda tanda akhir zaman makin ramai dibicarakan. Dan buku-buku dengan tema akhir zaman mulai membanjiri kembali ranah publik indonesia dengan berbagai corak dan ragam. Semua seakan berlomba untuk menyuguhkan yang menarik kepada pembaca. Inilah diantara keunggulan karya doktor mubayyadh ini dibandingkan karya yang lainnya adalah:

Penulis telah menjelaskan manhaj atau metodelogi penulisan buku ini dalam muqoddimahnya. Yang paling mendasar adalah penjelasan tentang status hadist ata atsar yang termuat penjelasan makna dari kosakata hadits dan penjelasan kontektual hadits tersebut secara realita kekinian.

Penulis membagi tanda-tanda akhir zaman dengan metode yang belum juga dilakukan oleh para penulis sebelumnya bukan hanya menjelaskan mana yang masuk dalam tanda kiamat kecil dan mana yang masuk tanda kiamat besar.

Penulis juga sangat piawai dalam melakukan aktualisasi dan kontektualisasi hadits-hadits bid’ah yang masih musykil. Tidak membiarkan keingungan atas makna dan hakikat nubuwat tersebut, namun juga tidak liar dalam interprestasi.

Penulis banyak sekali memaparkan hadits-hadits yang jarang di temukan dalam pembahasan tentang fitnah dan petaka akhir zaman hadits tentang munculnya kendaraan setan (mobil), hadits tentang An-Nafsu Az-Zaakiyah yang terbunuh sebelum datangnya Al-Mahdi.

Dan yang terpenting, penulis juga banyak memaparkan solusi dan langkah yang harus di ambil oleh kaum muslimin untuk menghadapi berbagai persoalan fitnah yang menimpa mereka.

Selamat Membaca..

Pemesanan
083 844 502 375

Discount 25%
Jadi
210000 x 25% = Rp 157.500
Photo

Post has attachment

Post has attachment
Serial sahabat dijamin masuk surga 2
Dapatkan discount 25%

Pemesanan
083 844 502 375
Photo
Wait while more posts are being loaded