Post has attachment
MATAHARI TELAH PULANG

Oleh KH. Husain muhammad

Langit Desember Yang Murung

Jam 19.00, satu hari menjelang tahun 2009 berganti, HP berdering mengganggu makan malam gratis saya di rumah makan “Jepun”, milik N, sahabat saya. Jay, wartawan Koran Sindo mengkonfimasi kabar mengejutkan. “Bagaimana Gus Dur, aku dengar beliau wafat”, katanya tegang. Dengan dada berdegup, saya segera menghubungi A.W. Maryanto, teman yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. Jawabannya tak meyakinkan. Katanya : “Aku baru saja istirahat dan sekarang sedang makan. Jam 17.00 tadi, 18 orang dokter khusus telah memeriksa kesehatan Bapak dan beliau sudah baik”. Tetapi saya penasaran. Yenni, putri kedua Gus Dur, saya kontak. “Bapak meninggal, mbak Yenni di dalam”, suara Innayah, putri bungsunya, lirih bergetar, tersekat. Dan saya terkulai lemas. Langit 30 Desember 2009 tiba-tiba menjadi muram, murung. Saya segera sms Ibu Shinta, isteri tercinta Gus Dur : “Ibu, saya sangat menyesal tidak berada di samping bapak, seperti sebelumnya, mohon maaf”. Ya seperti sebelumnya ketika Gus Dur beberapa kali berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saya menjenguknya sekaligus mendo’akan kesembuhannya dengan segera. Dan saya merasa mendapat kehormatan, ketika beliau meminta saya berdo’a bagi kesehatannya. Dengan tetap berbaring di tempatnya, di didampingi ibu Nur, isterinya yang setia dan orang-orang yang hadir, Gus Dur dan mereka mengamininya.

“Kita harus berangkat ke Jakarta sekarang juga”, kata saya kepada isteri. Sepanjang jalan dari Cirebon ke Ciganjur, sms dari teman-teman dari segala macam identitas diri; Kiyai, Santri, Abangan, Pendeta, Romo, Bhiku, penganut Konghuchu dan Ahmadiyah, terus berhamburan masuk ke HP saya. Mereka menyatakan duka nestapa teramat dalam dan rasa kehilangan atas kepergian orang yang dicintainya. Saya tak mengerti mengapa mereka mengirim sms, selain ingin mengabari saya tentang wafatnya Gus Dur dan mendo’akan bagi orang yang mereka kagumi dan keluarga yang ditinggalkannya. Saya membalasnya singkat: “Dia yang selalu membagi kegembiraan, cinta dan harapan pada bangsa, Negara dan mereka yang tak berdaya, telah kembali kepada kekasihnya, dalam damai abadi”.

Dini hari yang sejuk, jam 03.00, ketika saya tiba, jalan Warung Sila sampai rumah duka, karangan bunga berwarna-warni, tanda duka cita, berjejer tak berjarak, berserak dan bertumpuk, bagi “Presiden ke 4”, bukan “Mantan Presiden”. Saya tak bisa menghitung jumlahnya. Beberapa jam sebelumnya jalan ini macet total. Ratusan kendaraan dan pejalan kaki seakan tak bergerak. Stagnan. Semuanya sengaja datang ke Ciganjur, ke rumah Gus Dur, menyambut kedatangannya dan menyampaikan ta’ziyah kepada keluarganya. Ketika saya tiba, ribuan orang masih berjaga di ruang-ruang di sekitar rumah. Masjid al Munawwaroh, tempat Gus Dur mengaji kitab “al Hikam”, karya Ibnu Athaillah, seorang sufi besar, dan kitab-kitab yang lain, masih gemuruh dengan bacaan ayat-ayat suci al Qur’an. Saya segera masuk rumah. Jenazah sudah dibaringkan. Wajah Gus Dur yang tertutup kelambu putih yang tipis, terlihat jelas, seakan-akan sengaja dibiarkan demikian agar para pelayat bisa melihatnya. Saya segera mendapat giliran entah untuk yang ke berapa puluh kali, memimpin shalat janazah, tahlil dan berdo’a.

Di hadapan tubuh yang masih utuh itu, saya teringat kata-kata dalam sebuah buku tasawuf : “Ketika jiwa pergi dalam keadaan bersih, tanpa membawa serta bersamanya hasrat-hasrat rendah duniawi yang menciptakan ketergantungan, yang selama hidupnya selalu dihindari dan tak pernah dibiarkan menguasi diri; menjadi diri sendiri dan menempatkan perpisahan jiwa dari badan sebagai tujuan dan bahan permenungan… maka jiwa itu telah siap untuk memasuki wilayah kasat mata (alam musyahadah) di mana para bijak-bestari tinggal”.

Ya, inilah jiwa yang telah matang. Ia yang hatinya telah menjadi hati orang-orang yang ditinggalkannya, yang dicintainya. Ia yang telah membagi cinta kepada mereka yang hatinya remuk-redam, tak berdaya dan tanpa gantungan. Ia yang bicara begitu bebas, tanpa beban, polos, karena tak punya hasrat rendah apapun dan tak tergantung pada siapapun, kecuali kepada Tuhan. Ia yang tak pernah peduli dengan gelar-gelar kehormatan yang dianugerahkan dunia kepadanya. Ia yang pikirannya mampu menjangkau masa depan dan melampaui zaman, tetapi yang tetap bisa bertahan dengan kokoh menjalani tradisinya. Ia yang tak pernah gentar untuk melawan setiap tangan tirani dan korup. Ia yang tak mau kompromi terhadapnya dan tak peduli pada cibiran orang kepadanya.

Begitu usai, saya masuk ke bagian dalam rumah yang kamar-kamarnya sudah lama saya hapal. Mencari ibu Shinta. Ibu sudah di dalam kamarnya yang tampak remang, didampingi tiga putriya, tentu dalam rinai tangis yang mengiris. Saya tak bisa menemui beliau untuk ta’ziyah, membesarkan hatinya dengan kesabaran dan ketulusan. Begitu cara berta’ziyah yang saya terima dari persantren. Saya hanya bertemu Lissa, putri pertamanya dan menyampaikan ta’ziyah itu. Matanya masih tampak lebam dengan wajah sendu, tak bergairah, meski tetap bisa senyum. Saya diminta mengantarnya untuk melihat ayahnya, membuka tirai yang menutup wajahnya, lalu membaca tahlil dan berdoa. Lissa tertunduk dan terisak-isak lirih. Kami melihat dengan jelas wajah Gus Dur, sungguh, tampak ceria, tenang dan teduh. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan tulus dan diridhai-Nya. Amin”. Ayat suci ini saya baca berulang.

Masih dalam posisi berdiri sambil menunduk, saya segera teringat kembali syair yang acapkali ditembangkan Gus Dur :

ولدتك امك يا ابن آدم باكيا والناس حولك يضحكون سرورا

فاجهد لنفسك ان تكون إذا بكوا فى يوم موتك ضاحكا مسرورا

Ketika ibumu melahirkanmu, Wahai anak cucu Adam
Engkau menangis, sedang orang-orang di sekitarmu
Menyambutmu dengan riang
Maka, bekerjalah sungguh-sungguh untukmu sendiri
ketika engkau tak lagi bersama mereka selamanya,
mereka menangis tersedu-sedu
Sedang engkau pulang sendiri sambil tersenyum manis

Seperti bunyi syair di atas, ribuan orang di seluruh negeri, malam itu, berduka dan menangis tersedu-sedu. Sebagian histeris. Sementara Gus Dur memang pulang sendirian dengan riang. Beliau akan segera memasuki gerbang rumah abadi yang damai. Usai shalat subuh dan ketika matahari beranjak naik, jenazah dibawa dan diantar dengan kehormatan kenegaraan, menuju Bandara Halim Perdana Kusuma dan terus ke rumah asal Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di sana jenazah akan diistirahkan selama-lamanya di samping ayah; K.H. Wahid Hasyim dan kakeknya; Hadratusyeikh K.H. Hasyim Asy’ari. Para santri biasa menyebut Gus Dur, ayah dan kakeknya yang amat dihormati dengan “al Karim Ibn al Karim Ibn al Karim” (orang yang mulia putra orang yang mulia putra orang yang mulia). Kaum bangsawan Jawa mungkin menyebutnya : “Gus Dur adalah seorang darah biru putra seorang darah biru putra seorang darah biru”. Langit biru bening dilapis awan putih berarak, bergerak pelan-pelan mengantar pesawat yang membawa jasad Gus Dur.

Di tempat peristirahatannya yang terakhir itu, sebelum tubuhnya diturunkan ke bumi, Gus Dur mungkin masih membagi kegembiraan dan pesan kepada para pengantarnya untuk tidak menangisi kepulangannya, seperti pesan Maulana Jalaluddin Rumi ini :

Jangan menangis: “Aduhai kenapa pergi!”
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah bahagia!
Jangan katakan, “Selamat tinggal”
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi! (D911)

Bila datang ke makamku
Untuk mengunjungiku
Jangan datang ke makamku tanpa genderang
Karena pada perjamuan Tuhan,
Orang berduka tidak diberi tempat

Gus Dur... Kami rindu padamu
AL Fatihah
Photo

INSYA ALLAH BERMANFAAT...

Ada banyak Jamaah Shalat jum'at yang pulang begitu saja setelah jumatan usai, padahal banyak faidah yang tersembunyi apabila jamaah melakukan wirid/amalan setelah shalat, berikut kami tampilkan faidah-faidah tersebut:

Beberapa Faidah

1. Ibni Abbas ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda barang siapa setelah usai Shalat Jum’at membaca سبحان الله العظيم وبحمده 100x maka ia diampuni seratus ribu dosanya, dan kedua orang tuanya diampuni Dua Puluh empat ribu dosanya.

2. Dari Sayyid abdil Wahhab Assya’rani “ Barang siapa istiqomah membaca dua bait ini pada setiap hari jumat, maka Allah akan mengambil nyawanya dalam keadaan Islam dengan tanpa ragu,
Dua bait itu adalah:
: إلهي لست للفردوس أهلا * * ولا أقوى على نار الجحيم
فهب لي توبة، واغفر ذنوبي * * فإنك غافر الذنب العظيم

Dan sebagian Ulama berpendapat “dua bait diatas dibaca lima kali setiap setelah Shalat Jum’at”.

3. Dari Irak ibni Malik ‘’bahwasanya setiap selesai shalat jumat lalu berdiri pada pintu masjid dan berdo’a:

: اللهم أجبت دعوتك، وصليت فريضتك، وانتشرت كما أمرتني، فارزقني من فضلك وأنت خير الرازقين، وقد قلت وقولك الحق

I’anatu Tholibin Juz 2 Hal 106

Kemudian dalam kitab Bughyah juga dijelaskan

Faidah: Barangsiapa membaca surat alfatihah, al-ikhlas dan surat al-mu’awwidzatain masing-masing tujuh kali setelah ia salam dari shalat jumat sebelum ia melipat kedua kakinya(dalam arti kakinya masih dalam posisi Tasyahud Akhir) maka diampunilah dosa yang telah ia jalani, diberikan pahalanya orang beriman pada Allah dan rasulNya, dan dijanjikan diajauhkan dari kejelekan hingga jumat berikutnya, dalam sebuah riwayat ditambah keterangan dan sebelum ia berbicara dijaga baginya agamanya, dunianya, keluarganya dan anaknya dan setelah itu ia membaca Do’a empat kali yaitu :

: اللهم يا غني يا حميد ، يا مبدىء يا معيد ، يا رحيم يا ودود ، أغنني بحلالك عن حرامك ، وبطاعتك عن معصيتك ، وبفضلك عمن سواك

Dari Kitab Bughyah al-Mustarsyidiin 175

Wallahu a'lam.

Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

Post has attachment
INSYA ALLAH BERMANFAAT...

Ada banyak Jamaah Shalat jum'at yang pulang begitu saja setelah jumatan usai, padahal banyak faidah yang tersembunyi apabila jamaah melakukan wirid/amalan setelah shalat, berikut kami tampilkan faidah-faidah tersebut:

Beberapa Faidah

1. Ibni Abbas ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda barang siapa setelah usai Shalat Jum’at membaca سبحان الله العظيم وبحمده 100x maka ia diampuni seratus ribu dosanya, dan kedua orang tuanya diampuni Dua Puluh empat ribu dosanya.

2. Dari Sayyid abdil Wahhab Assya’rani “ Barang siapa istiqomah membaca dua bait ini pada setiap hari jumat, maka Allah akan mengambil nyawanya dalam keadaan Islam dengan tanpa ragu,
Dua bait itu adalah:
: إلهي لست للفردوس أهلا * * ولا أقوى على نار الجحيم
فهب لي توبة، واغفر ذنوبي * * فإنك غافر الذنب العظيم

Dan sebagian Ulama berpendapat “dua bait diatas dibaca lima kali setiap setelah Shalat Jum’at”.

3. Dari Irak ibni Malik ‘’bahwasanya setiap selesai shalat jumat lalu berdiri pada pintu masjid dan berdo’a:

: اللهم أجبت دعوتك، وصليت فريضتك، وانتشرت كما أمرتني، فارزقني من فضلك وأنت خير الرازقين، وقد قلت وقولك الحق

I’anatu Tholibin Juz 2 Hal 106

Kemudian dalam kitab Bughyah juga dijelaskan

Faidah: Barangsiapa membaca surat alfatihah, al-ikhlas dan surat al-mu’awwidzatain masing-masing tujuh kali setelah ia salam dari shalat jumat sebelum ia melipat kedua kakinya(dalam arti kakinya masih dalam posisi Tasyahud Akhir) maka diampunilah dosa yang telah ia jalani, diberikan pahalanya orang beriman pada Allah dan rasulNya, dan dijanjikan diajauhkan dari kejelekan hingga jumat berikutnya, dalam sebuah riwayat ditambah keterangan dan sebelum ia berbicara dijaga baginya agamanya, dunianya, keluarganya dan anaknya dan setelah itu ia membaca Do’a empat kali yaitu :

: اللهم يا غني يا حميد ، يا مبدىء يا معيد ، يا رحيم يا ودود ، أغنني بحلالك عن حرامك ، وبطاعتك عن معصيتك ، وبفضلك عمن سواك

Dari Kitab Bughyah al-Mustarsyidiin 175

Wallahu a'lam.

Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.
Photo

Khasiat fadhilah dan manfaat Kedahsyatan Sholawat Ibrahimiyah:

Sholawat ini terdapat dalam bacaan tasyahud akhir shalat.Sholawat ini dinamakan sholawat Ibrahimiyah karena sholawat tersebut merupakan bentuk sholawat yang paling utama, banyak menimbulkan pengaruh yang besar sekali apabila dibaca tiap-tiap harisecara istiqomah, terutama, bagi yang mempunyai keinginan besar untuk menunaikan ibadah haji, maka perbanyaklah membaca sholawat ini secara istiqomah, karena sholawat ini diajarkan oleh Rasuluuah saw. Adapun kalimatnya yaitu :ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN KAMAA SHALLAITA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIMA WA’ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAHIIA WABAARIK ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA’ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIMA WA ‘ALAA AALI SAYYIDINA IBRAAHIMA, FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIIDUN.Artinya : Ya Allah , berilah kasih saying kepada junjungan kitanabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi kasih sayangmMu kepada junjungan kita Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah kepada junjungan kita nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkati junjungan kita nabi Ibrahim dan kelurganya diantara makhluk makhlukmu,sesungguhnya EngkauMaha Terpuji dan Maha Mulia.Shalawat Ibrahimiyahialah shalawat yang senantiasa dibaca ketika shalat,baik shalat fardhu maupunsunnah. Shalawat yang redaksinya langsung dari Allah SWT diberikan kepadaRasulullaah SAW hingga diajarkan kepada seluruh umat-umatnya. Shalawat ibrohimyah bila di amalkan secara rutin dan istiqamah mempunyai fadhilah yang luar biasa, diantara hikmah dan fadhilah yang pernah dirasakan oleh orang-orang yang pernah mengamalkan Shalawat Ibrahimiyah ini diantaranya:

1.Bertambah giat dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

2.Merasakan nikmatnya berzikir sehingga tumbuh kepekaan dan rasa cinta kepada Allah dan Rasulullaah SAW.

3.Selalu nyaman dan tentram di dalam menjalani kehidupan ini, dan insya Allah akan membawa keselamatan di akherat kelak nanti.

4.Hidup selalu merasa di awasi, sehingga tidak berani mengerjakan sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasulnya.

5.Selalu mendapatkan Rahmatdan Keridhaan Allah SWT

.7.Hati Merasa tenang,gembira dan lapang.

8.Memperkuat hati (keyakinan) dan badan.

9.Menumbuhkan cahaya di hati dan wajah.

10.Bertambah Muroqobah kepada Allah SWT, seolah-olah melihatnya ketika menyembah kepadanya.

11.Selamat dari godaan syetan,bahayasihir,guna-guna dari jin dan manusia

.12.Mahabbah khusus dan umum.

13.Selamat ketika menghadapi pertempuran dengan musuh Allah SWT.

14.Membuka pintu yang agung dari pintu-pintu makrifat,jika zikir semakin banyak,makrifat pun semakin bertambah.

15.Bisa untuk kebatinan,mengetahui semua rahasia dibalik rahasia.

16.Untuk penyembuhan segala penyakit dengan izin Allah SWT.

17.Setiap orang yang susah dan kebingungan dengan izin Allah akan datangkepada orang yang mengamalkan shalawat ibrohimiyah ini baik melalui mimpi ataupun kabaruntuk meminta bantuan kepadanya.

18.Akan menyaksikanbanyak cahaya yang indah.

19.Bila mempunyai suatu hajat akan cepat berhasil

.20.Jiwa orang yang mengamalkan shalawat ibrohimiyah ini akan menjadi banyak jika dilihat oleh kaca mata batin. Jiwa tersebut mirip dengan orang yang mengamalkannya, mereka akan membimbing dan turut mendoakannya

.21.Terkadang Mursyid atau pembimbing selalu berada disamping orang yang mengamalkan shalawat ibrohimiyah ini.

22.Menarik dan memperluas rezeki yang sebanyak-banyaknya.

23.Apa-apa yang dikerjakan selalu tepat sasarannya,dengan izin Allah tentunya.

24.Pengasihan untuk dagang.

25.Mempermudah mencari nafkah

.26.Untuk memperagakan berbagai jenis pencaksilat dan mengusainya secara cepat.

27.Selamat dari berbagai fitnah orangzhalim
28.Bisa untuk melihatdan menerawang alam ghaib.

29.Selamat dari gangguan pencurian dan perampokan.

30.Ketika menghadapatasan atau pembesarditerima baik pembicaraannya.

31.Sangat cocok untuk para pembisnisinternet untuk menambah banyak dan kecintaan para pengunjung ke websitenya setelah ikhtiar dengan beriklan.

32.Mempermudah mendapatkan jodoh baik laki-laki ataupun perempuan.
33.Jika ada bahaya yang datangnya tidak diketahui, maka akan selamat dengan tiba-tiba secara reflek.
34.Apabila kita dalammenghafalkan suatu pelajaran atau apa saja mudah lupa, seakan hafalan tersebut sulit sekali menancap dalam pikiran kita, maka cobalah membaca shalawat ibrohimiyah setiap selesai berwudhu sebanyak 11 kali, lakukanlah berkali-kali,insya Allah akan diberikan kemudahan Allah SWT,(Di ijazahkan dari KH.M.Yasin kolakwonorejo kediri).

35.Untuk mendapatkan segala macam kebutuhan hidup di dunia dan di akherat.
36Untuk mendapatkan kewibawaan yang sangat besar terhadap orang lain.
37.Untuk mendatangkan segalamacam hajat dan mempercepat tercapainya semua cita-cita yang di inginkan. dan lain sebagainya.semoga bermanfaat.

Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

Syekh Abdul Qadir Jaelani (WALI YANG TAAT PADA IBUNYA)

Beliau adalah tuan kita, teladan dari semua wali terbaik, papan arah menuju arah yang benar, beliau adalah poros ketuhanan (Qutub Rabbani), nama lengkap beliau adalah Abu Shalih Sayyidi ‘Abdul Qadir bin Musa bin ‘Abbdullah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa al-Jun bin ‘Abdullah al-Mahdhi bin al-Hasan al-Musatanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau yang terkenal dengan nama ‘Abdul Qadir al-Jailani. Beliau lahir pada tahun 470 H, dan wafat pada tahun 561 H. dimakamkan di Baghdad.
Ibu beliau adalah Ummul Khair (dalam bahasa arab berarti ibu kebaikan), ia pernah berkisah: “Ketika aku melahirkan ‘Abdul Qadir al-Jailani, dia tidak mau menyusu ke puntingku selama siang hari bulan Ramadhan. Bulan baru Ramadhan suatu kali tertutup awan sehingga orang-orang datang kepadaku dan bertanya tentang ‘Abdul Qadir al-Jailani, maka aku katakan kepada mereka, bahwa ‘dia tidak menyusu pada puntiingku hari ini.’ Hal itu kemudian menjadi isyarat yang jelas bahwa hari itu adalah awal Ramadhan.”
Kabar tersebut lalu menyebar luas, bahwa seorang bocah (‘Abdul Qadir al-Jailani) lahir dengan membawa berbagai kemuliaan (keajaiban), dan bahwa ia adalah bayi yang tidak mau menyusu di siang hari Ramadhan. Dan dikabarkan pula, bahwa sang Ibunda mengandungnya ketika berusia 16th. Dikatakan bahwa, tidak mungkin ada gadis 16th bisa hamil kecuali dia perempuan Quraisy, dan tidak ada gadis 16th yang bisa punya anak kecuali dia pasti orang Arab.
Ketika ‘Abdul Qadir al-Jailani lahir, sang bayi disambut oleh tangan-tangan keanugerahan yang agung, dan sang bayi diliputi oleh cahaya petunjuk di belakangnya maupun di depannya.
Ketika ‘Abdul Qadir al-Jailani berusia 5th, sang ibu mengirimkannya ke sebuah madrasah lokal di Jilan. Beliau menuntut ilmu di madrasah tersebut hingga berumur 10th. Selama belajar di madrasah tersebut, beberapa peristiwa menakjubkan terjadi. Setiap kali ‘Abdul Qadir al-Jailani akan memasuki madrasah, beliau melihat sosok-sosok bercahaya yang berjalan di depanya sambil berkata, “Beri jalan untuk Wali Allah!” Dan ketika beliau pernah ditanya kapan beliau mengetahui bahwa dirinya menerima walayah (pangkat kewalian), beliau menjawab, “Ketika aku berusia sepuluh tahun, kulihat para malaikat berjalan mengiringiku dalam perjalanan menuju madrasah, dan mereka selalu berkata, “Beri jalan untuk Wali Allah.” Kejadian itu terus menerus berulang sampai aku paham bahwa aku dianugerahi walayah.”

Berpisah dengan Sang Bunda
Adalah Syekh Muhammad bin Qa’id al-Awani yang berkata, bahwa al-Jailani muda meminta izin kepada sang Bunda untuk pergi ke Baghdad menimba ilmu, beliau berkata “Bunda, berilah aku kesempatan untuk menuju Allah Swt. Izinkan aku pergi ke Baghdad, di mana aku akan berusaha memperoleh ilmu pengetahuan dan di sana aku akan bertemu dengan orang-orang shalih.” Sang Bunda menangis mendengar beliau akan pergi, kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil uang sebanyak delapan puluh dinar. Uang itu adalah warisan dari ayahanda beliau. Kemudian sang Bunda memasukkan uang tersebut ke dalam saku beliau empat puluh dinar, dan sisanya dimasukkan ke saku baju mantel beliau. Sang Bunda meminta beliau berjanji untuk selalu berlaku jujur dalam keadaan apapun. Ketika sang Bunda mengantar beliau sampai di depan pintu rumah, sang Bunda mengucapkan selamat tinggal dan berkata, “Anakku, pergilah, karena aku telah melepaskan engkau demi mencari Allah. Aku tahu, mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengan wajahmu hingga hari kebangkitan kelak.” Maka pergilah beliau menuju Baghdad.
Sejarah hidup beliau terus berlanjut sampai akhirnya beliau menetap di Baghdad, dan waktu itu umur beliau 18th. Pada masa itu, khalifah yang berkuasa di Baghdad adalah al-Mustazhir. Ketika beliau akan memasuki kota Baghdad, beliau dihadang oleh al-Khidir sembari berkata kepadanya, “Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu masuk ke kota Baghdad sampai tujuh tahun ke depan.” Beliau akhirnya tinggal di pinggiran sungai tigris selama tujuh tahun dengan hanya memakan dedaunan dari jenis yang boleh dimakan sampai suatu kali leher beliau berubah warna menjadi hijau.
Pada suatu malam beliau mendengar suara yang mengatakan, “Wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani, sekarang masuklah ke Baghdad.” Setelah mendengar suara itu, beliau segera memasuki Baghdad. Malam itu cuaca sangat dingin dan hujan, maka ‘Abdul Qadir al-Jailani mendekati zawiyah (pondokan sufi) Syekh Hammad bin Muslim ad-Dabbas. Akan tetapi, Syekh Hammad berkata kepada muridnya, “Kuncilah pintu zawiyah, tetapi buatlah cahaya lampu tetap menyinari ke arah luar zawiyah.”
‘Abdul Qadir al-Jailani hanya duduk di samping pintu, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan kantuk kepadanya hingga beliau tertidur. Saat terbangun, beliau dalam keadaan hadats besar (mimpi basah), maka dengan segera beliau mandi besar. Kemudian Allah ta’ala menurunkan kantuk lagi kepada beliau, dan beliau pun tertidur lagi. Saat bangun, beliau hadats besar lagi, lalu beliau segera mandi besar lagi. Demikian itu terjadi berulang-ulang hingga 17 kali. Akhirnya, ketika fajar menyingsing, pintu zawiyah terbuka dan ‘Abdul Qadir al-Jailani melangkah masuk.
Syekh Hammad ad-Dabbas segera melangkah maju menyambut beliau, lalu memeluk erat beliau, dan memberi beliau rangkulan yang hangat. Airmata menetes di pipi Syekh al-Dabbas sembari ia berkata, “Oh anakku, ‘Abdul Qadir al-Jailani, hari ini adalah tanggungjawab kami di sini (zawiyah ini), jika nanti kamu telah memegangnya, maka bimbinglah si tua yang rambutnya telah memutih ini.”

Para Guru Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani
‘Abdul Qadir al-Jailani memperoleh latihan spiritual di Baghdad dari dua sufi terbesar di zaman itu, Syekh Sayyid Abu al-Khair Hammad bin Muslim ad-Dabbas dan Syekh Qadhi Abu Sa’id Mubarak al-Makhzumi. Meskipun beliau memperoleh banyak berkah dari kedua guru tersebut, namun beliau belum memberi baiat alias menduduki posisi mursyid.
Kemudian beliau menjadi murid Syekh Qadhi Abu Sa’id Mubarak al-Makhzumi sekaligus bergabung dalam halaqah dan tarekatnya. Syekh Qadhi Abu Sa’id al-Makhzumi menunjukkan rasa cintanya yang sangat besar terhadap murid istimewanya ini, dan memberkahinya dengan mutu-manikam spiritualis dan tasawuf. Suatu kali ‘Abdul Qadir al-Jailani dan para murid yang lain sedang duduk bersama dengan Syekh, kemudian Syekh meminta ‘Abdul Qadir al-Jailani untuk pergi mengambil sesuatu. Setelah ia pergi, Syekh al-Makhzumi berkata kepada murid-muridnya yang lain, “Suatu hari nanti, kaki pemuda itu akan menginjak tengkuk semua Auliya’ (para wali Allah).”
Setelah beberapa waktu tinggal di Baghdad, ‘Abdul Qadir al-Jailani mengikuti pendidikan di Jami’ah Nizhamiyah yang tersohor sebagai pusat pendidikan dan ilmu keruhanian di dunia Islam. ‘Abdul Qadir al-Jailani menuntut ilmu dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Di antara guru-guru beliau yang memberikan ilmu Qira’at, Tafsir, Hadits, Fiqih, Syari’at, dan Tarekat adalah: Abul Wafa’ ‘Ali bin ‘Aqil, Abu Zakaria Yahya bin ‘Ali at-Tabrizi, Abu Sa’id bin ‘Abdul Karim, Abul Ana’im Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad, Abu Sa’id bin Mubarak al-Makhzumi, dan Abul Khair Hammad bin Muslim ad-Dabbas.
Dalam bidang adab salah satu guru beliau yang merupakan seorang ‘Alim besar pada masa itu ialah al-‘Allamah Zakariya at-Tabrizi. Dan dalam bidang Fiqih dan ushul Fiqih guru-guru beliau adalah: Syekh Abul Wafa’ bin ‘Aqil al-Hanbali, Abul Hasan Muhammad bin Qadhi Abul Ula, Syekh Abul Khatab Mahfuzh al-Hanbali, dan Qadhi Abu Sa’id al-Mubarak bin Ali al-Makhzumi al-Hanbali. Dalam bidang Hadits, beliau menerima ilmu dari para ulama sebagai berikut: Sayyid Abul Barakat Thalhah al-Aquli, Abul Ana’im Muhammad bin ‘Ali bin Maimun al-Farsi, Abu ‘Uthman Isma’il bin Muhammad al-Ishbihani, Abu Ghalib Muhammad bin Hasan al-Baqillani, Abu Muhammad Ja’far bin Ahmad bin al-Husaini, Sayyid Muhammad Mukhtar al-Hasyimi, Sayyid abu Manshur ‘Abdur Rahman al-Qaz’az, dan Abul Qasim ‘Ali bin Ahmad Ban’an al-Karghi. Setelah menempuh pendidikan dengan tekun, ‘Abdul Qadir al-Jailani lulus dari Jami’ah Nizhamiyah. Pada masa itu tidak ada satupun ‘Alim di muka bumi yang lebih faqih dan saleh dibandingkan dengan ‘Abdul Qadir al-Jailani.

Belajar kepada al-Khidir
Abu as-Sa’ud al-Huraimi mengisahkan, aku suatu kali mendengar tuan kami Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Aku tinggal di kawasan padang gersang Irak selama 25th, sebagai pengembara terasing. Aku tidak tau apa dan siapa saja makhluk yang mengikutiku, dan mereka juga tidak ingin tau aku. Yang selalu mengunjungiku adalah manusia-manusia dari alam gaib (rijal al-Ghaib), sebangsa jin. Aku biasa mengajari mereka tentang jalan menuju Allah Swt. (tarekat).”
Aku juga dipertemukan dengan al-Khidhir a.s. ketika aku memasuki kota Irak untuk kali pertamanya, meskipun waktu itu aku tidak tau siapa dia sebenarnya, dan dia pernah berkata kepadaku bahwa aku tidak boleh menentangnya. Ketika kami mencapai sebuah kawasan, dia berkata kepadaku, “Duduklah dan tinggallah di sini,” maka aku duduk dan tinggal di tempat itu sebagaimana dia memerintahkanku. Selama kurun waktu tiga tahun penuh, dia akan datang kepadaku setiap tahunnya, dan dia berkata kepadaku, “Tetaplah tinggal di situ sampai aku kembali.” Segala pesona dunia serta daya tariknya selalu datang kepadaku dalam berbagai bentuk dan tipu muslihat. Setan-setan juga mendatangiku dalam berbagai wujud serta mengoda dengan keahliannya. Tidak sedikit dari setan-setan itu yang terlibat perkelahian denganku, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala selalu menguatkanku dalam menghadapi mereka.
Aku tinggal selama waktu yang lama di kawasan-kawasan gersang kota-kota Irak. Aku memaksa jiwa rendahku untuk melakukan tugas-tugas berat melalui metode disiplin spiritual. Kemudian aku menghabiskan waktu selama satu tahun dengan hanya makan dari sisa-sisa sampah tanpa minum air sedikitpun, kemudian selama satu tahun berikutnya sambil minum air. Kemudian selama satu tahun penuh dengan hanya minum air, tetapi tanpa menyantap apapun, dan di tahun berikutnya aku tidak minum, tidak juga makan, dan tidak tidur sama sekali. Aku juga bermukim selama beberapa tahun di kawasan gersang nan tandus di sebuah daerah pinggiran kuno kota Baghdad, di mana satu-satunya sumber makananku adalah dedaunan lontar. Pada setiap awal tahun, seseorang akan datang kepadaku dengan mengenakan jubah yang terbuat dari wol.
Aku sudah memasuki seribu lebih kondisi wujud yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk membebaskan diri dari dunia milik kalian ini, dan keadaan yang menimpaku itu hanya dapat dipandang sebagai bentuk ketololan, kegilaan, dan ketidakwarasan. Aku biasa berjalan tanpa alas kaki, melewati onak duri, kerikil tajam, dan tempat-tempat berbahaya sejenisnya. Tidak pernah sekalipun jiwa rendahku menang atas diriku, tidak juga ada satupun kemilau dunia yang mampu mengodaku”.

Ujian dari al-Khidir
Beliau, al-Khidhir, datang kepadaku untuk memberikan suatu ujian, sebagaimana ia telah menguji para wali-wali Allah yang lain sebelumku. Dia menyingkap kepadaku rahasia dari wujudnya dengan cara menampakkan wawasan menuju materi-materi yang aku dapatkan bersamanya, kemudian aku berkata kepadanya, “Wahai Khidhir, jika benar engkau pernah berkata pada Musa a.s. (kamu tidak akan pernah dapat bersabar bersamaku), maka sekarang aku akan katakan kepadamu, “Wahai Khidhir, bahwa kamu tidak akan pernah bersabar bersamaku, kamu seorang Israili, sementara aku adalah seorang Muhammadi, inilah kita, kamu dan aku, dan ini adalah bola polonya, celanaku masih terikat kuat dan pedangku belum disarungkan.”

Anugerah Jubah Sufi
Beliau juga berkata, “Selama sebelas tahun aku membetahkan diriku tinggal direruntuhan benteng yang saat ini disebut menara Persia. Tempat itu menjadi pemukiman panjangku. Di tempat itu aku membuat perjanjian dengan Allah Swt. bahwa aku tidak akan pernah makan sampai akhirnya ada yang menyediakan makanan buatku, dan aku tidak akan pernah minum sampai ada yang memberiku sarana untuk memuaskan dahagaku. Kemudian aku tinggal di situ selama empat puluh hari tanpa makan dan minum. Pada hari keempat puluh, datang seorang laki-laki membawa sepotong roti dan beberapa makanan, dia meletakannya di depanku dan segera beranjak pergi meninggalkanku sendiri. Nafsuku kemudian cepat-cepat memaksakan keinginan untuk menyambar makanan tersebut, maka aku katakana, “Demi Allah, makanan ini tidak sejalan dengan perjanjian yang aku ikrarkan kepada Allah,” kemudian di dalam batinku aku mendengar suara yang keras dan berteriak, “Lapar!” tapi aku tetap menolak untuk menurutinya.
Kebetulan pada saat itu Syekh Abu Sa’id al-Makarimi melintas di depanku dan mendengar suara teriakan itu, lalu ia mendekatiku dan bertanya kepadaku, “Apa arti teriakan tadi, wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani?” Aku menjawab, “Tadi itu hanyalah bisikan jiwa rendahku, seperti halnya ruh, ia akan reda dengan sendirinya.” Kemudian ia berkata kepadaku, “Datanglah ke gerbang Al-Azaj.” Lalu ia pergi meninggalkanku, dan aku berkata kepada diriku sendiri, “Aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini, kecuali Tuhan sendiri yang memerintahkanku.”
Kemudian al-Khidhir a.s. datang kepadaku dan berkata, “Bangunlah dan pergilah ke Abu Sa’id al-Makarimi.” Maka akupun bergegas pergi, dan di sana aku menjumpainya sedang berdiri di depan rumahnya tengah menanti kedatanganku. “Wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani,” katanya kepadaku, “Apakah belum cukup bagiku ketika aku katakana, “Datanglah kepadaku,” kemudian ia menganugerahkan jubah sufi dengan tangannya sendiri, dan semenjak saat itu, aku dengan tekun membaktikan diriku kepadanya, dan menjadi muridnya yang rajin. Semoga Allah meridhoinya.

Melayang saat Berdakwah
Al-Khatab, pembantu Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, berkata: suatu hari ketika Syekh sedang memberikan ceramah, beliau tiba-tiba naik beberapa langkah ke angkasa dan beliau berkata, “Wahai Israil, berhentilah dan dengarkan kata-kata Sang Muhammad!” Kemudian beliau kembali ke tempat duduknya semula. Ketika beliau diminta untuk menjelaskan kejadian tersebut, beliau menjawab, “Abu al-Abbas al-Khidhir berada di atas sana. Tadi ia sedang melintasi majelis kita ini, maka aku memintanya berhenti dan berkata kepadanya apa saja yang aku dakwahkan kepada kalian semua.”

Diludahi Nabi Saw. Tujuh Kali, Ali Enam Kali
Ini diriwayatkan oleh Syekh Abu Muhammad al-Juba’I, bahwasannya beliau Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata, “Aku suatu kali berjumpa dengan Rasulullah Saw. dalam penampakan ruhani sebelum waktu zuhur, dan beliau Saw. berkata kepadaku, “Wahai anakku terkasih, kenapa engkau tidak berbicara (berdakwah) kepada manusia?” Maka aku menjawab, “Wahai bapakku terkasih, aku adalah seorang ‘Ajam (bukan orang Arab), lalu bagaimana aku bisa berkata-kata dengan fasih di tengah-tengah orang Baghdad yang jelas mereka pandai berbahasa Arab.” Kemudian beliau Saw. Berkata, “Sekarang, bukalah mulutmu!” Maka aku membuka mulutku lebar-lebar, dan beliau meludahiku sebanyak tujuh kali. Kemudian beliau Saw. berkata kepadaku, “Kamu harus berdakwah kepada manusia sekarang, ajaklah mereka menuju jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik.” Aku kemudian menunaikan shalat zuhur, dan kemudian aku duduk setelah itu hendak berceramah, namun aku masih kehilangan kata-kataku. Kemudian aku melihat penampakan Sayidina ‘Ali kwh., dan beliau berkata, “Bukalah mulutmu!” Aku lalu membuka mulutku, dan beliau meludahiku sebanyak enam kali, lalu aku bertanya kepada beliau, “Kenapa engkau tidak meludahiku sebanyak tujuh kali seperti halnya Rasulullah Saw. Melakukannya?” Beliau menjawab, “Sebagai adab penghormatanku kepada Rasulullah.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, beliau pergi.

Menghilang ke Balik Matahari
Pengasuh Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani menceritakan, bahwa sewaktu beliau masih kecil seringkali ketika dia menggendong sang Syekh, mendadak beliau sudah tidak ada lagi di tangannya. Dia mengatakan, bahwa kemudian dia melihat Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani terbang ke langit dan bersembunyi di balik cahaya matahari.
Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani sudah dewasa, sang pengasuhnya mengunjunginya dan bertanya, apakah beliau masih sering melakukan hal yang dulu sewaktu kecil beliau lakukan. Kemudian Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani menjawab, “Itu dulu ketika aku masih kecil, dan pada waktu itu aku masih lemah, maka aku bersembunyi di balik matahari, namun kini daya dan kekuatanku telah sedemikian besar, sehingga bila 1000 matahari dating, pasti mereka semua akan bersembunyi di balik diriku.”

Bertarung Melawan Setan, Iblis, dan Hawa Nafsu
Kisah ini diriwayatkan oleh Syekh ‘Utsman as-Sirafani, baliau berkata, Aku suatu kali mendengar tuan kita, Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berkata:
“Aku pernah bermukim sendirian di sebuah kawasan gersang. Setiap hari dan setiap malam setan-setan sering datang kepadaku berbaris-baris dalam wujud manusia jadi-jadian yang membawa berbagai macam senjata serta memikul berbagai benda yang berbunyi sangat keras. Mereka terlibat perkelahian denganku dan melempariku dengan bola api. Saat menghadapi keadaan seperti itu, aku mendapati di dalam hatiku suatu rasa tentram yang sulit terucapkan dengan kata-kata, aku mendengar suara dalam hatiku yang berkata, “Berdirilah dan serang mereka wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani, karena Kami selalu siap menambah kekuatanmu, dan Kami akan datang dengan pasukan yang tidak mungkin terkalahkan oleh mereka.” Dan saat aku melemparkan satu serangan kepada para setan itu, mereka sontak berlari tunggang langgang dan pergi menghilang.
Setelah itu, ada sesosok setan datang dari tengah-tengah para setan yang berlari menjauh dariku. Setan itu menghampiriku dan berkata kepadaku, “Pergilah dari sini atau aku akan melakukan begini dan begitu kepadamu.” Dia memperingatkanku akan akibat apa saja jika aku tidak pergi dari wilayah itu, maka kemudian aku menamparnya dengan tanganku dan diapun melarikan diri dariku, lalu aku berucap, “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Setan itu diterkam oleh api dan aku melihatnya terbakar hangus.
Pada waktu yang lain, aku didatangi oleh sosok yang penampilanya benar-benar menakutkan, dan bau badannya sangat menjijikkan, baunya sangat bacin dan memuakkan, dia berkata kepadaku, “Aku adalah iblis. Aku datang kepadamu dengan maksud untuk menjadi budakmu, karena kamu telah berhasil menggagalkan segala upayaku dan mengalahkan pengikutku.” Aku berkata kepadanya, “Pergilah! karena aku tidak percaya sama sekali kepadamu.” Tapi pada saat itu sebuah tangan turun dari sisi iblis dan memukul tengkorak kepalanya dengan kekuatan yang sangat besar hingga membuat iblis itu terjungkal keras melesat ke dalam tanah, dan dia pun menghilang entah ke mana.
Iblis itu datang kembali kepadaku untuk kedua kalinya dengan membawa anak panah api di tangannya dan hendak menyerangku, tetapi dengan cepat seseorang yang memakai jubah penutup kepala lari menuju diriku dengan menaiki kuda berwarna kelabu dan dengan tangkas melemparkan pedang kepadaku. Melihat itu, iblis secepat kilat langsung lari terbirit-birit dari hadapanku.
Dan ketika aku bertemu dengannya lagi untuk yang ketiga kalinya, iblis itu sedang duduk dengan jarak yang agak jauh dariku, berlinangan air mata, sekujur tubuhnya dipenuhi oleh debu, dan ia berkata, “Aku sungguh telah putus asa menghadapi orang sepertimu, wahai ‘Abdul Qadir al-Jailani.” Aku lalu berkata kepadanya, “Enyahlah kau dari sini, sang terkutuk! karena aku tidak akan pernah berhenti membentengi diriku sendiri (dengan perlindungan Allah) untuk melawanmu. Dan dia berkata, “Apa yang telah kau ucapkan itu lebih menyakitkan bagiku ketimbang jepitan besi neraka.”

Menembus Jarak
Diriwayatkan dari Syekh Umar, beliau berkata: aku suatu kali mendengar tuan kami Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani bercerita:
keadaan ruhani (ahwal) pernah datang kepadaku tanpa terduga sama sekali. Pada awal masa-masa aku melakukan pengembaraan dan berada di padang tandus di wilayah Baghdad, aku berlari melewati jarak kira-kira satu jam perjalanan, dan aku benar-benar tidak sadar bahwa aku sedang berlari, saat aku kembali dalam kesadaranku yang normal, aku mendapati diriku sampai di kawasan Syastar, di mana jarak tersebut dengan Baghdad kira-kira sekitar dua belas hari perjalanan. Ketika sampai di sana, aku berdiri dan melihat-lihat sekeliling, lalu seorang wanita datang kepadaku sambil berkata, “Apakah yang kamu alami itu membuatmu terkejut dan heran, padahal kamu tidak lain adalah ‘Abdul Qadir al-Jailani?!”

Melihat al-Lauh al-Mahfudz
Tertulis dalam riwayat, bahwa Syekh Abul Hafash menyatakan, “Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani biasa melayang di udara dan berkata ‘Matahari tidak pernah terbit tanpa mengucapkan salam kepadaku. Demi kemuliaan dan murka Allah, aku melihat semua manusia yang baik maupun yang jahat, mataku tertuju pada al-Lauh al-Mahfudz. Berkali-kali aku menyelam ke samudera ilmu dan kebijaksanaan yang dianugrahkan oleh Allah, dan akulah kebaikan murni Allah kepada manusia dan utusan khusus kakekku, Rasulullah Saw., dan akulah khalifah beliau di bumi.”

Kuasa atas Raja Jin
Syekh Abu Futub Muhammad bin Abul ‘Ash Yusuf bin Isma’il bin Ahmad ‘Ali Qarsyi at-Tamimi al-Bakari al-Baghdadi meriwayatkan, bahwa suatu ketika Syekh Abu Sa’id ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad al-Baghdadi al-Azja’i datang kepada Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani dan mengatakan bahwa putrinya yang berusia 16th, Fatimah yang sangat cantik, kemarin naik ke tingkat rumah, tapi tiba-tiba dia lenyap dari sana. Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani mendengar hal ini, beliau menghiburnya dan mengatakan kepadanya agar tidak perlu khawatir.
Sang Wali Agung kemudian memerintahkan dia untuk pergi ke sebuah hutan pada malam hari. Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani menyatakan bahwa di dalam hutan dia akan melihat banyak gundukan pasir. Dia harus duduk di gundukan pasir keenam yang dilewatinya, dan harus membuat sebuah gambar lingkaran di sekeliling dirinya sambil berkata, “Bismillah,” dan kemudian berkata, “Abdul Qadir.”
Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berkata, “Menjelang sepertiga malam terakhir kau akan melihat pasukan jin berlalu. Mereka tampak sangat mengerikan dan ganas, tetapi engkau tak perlu takut, engkau harus tetap duduk dan menunggu. Tepat pada saat cahaya matahari pertama tampak, raja jin yang paling berkuasa akan lewat, dan dia akan menghampirimu lalu menanyakan permasalahanmu. Jelaskanlah permasalahanmu kepadanya, dan katakan bahwa aku yang mengutusmu. Beritahukan kepada raja jin itu tentang putrimu yang hilang.”
Syekh Muhammad al-Baghdadi berkata, “Aku mengerjakan apa yang Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani perintahkan. Aku duduk di gundukan pasir tersebut dan menunggu. Setelah beberapa waktu, aku melihat pasukan jin dalam rupa-rupa yang mengerikan melintas. Mereka sangat marah kepadaku karena aku duduk di tengah-tengah jalannya, namun mereka tetap berlalu tanpa mengucap sepatah katapun, karena mereka tidak berani memasuki lingkaran tersebut. Pada waktu fajar, sang raja jin melintas, lalu menanyakan permasalahanku. Ketika aku mengatakan bahwa yang mengutusku adalah Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, maka dia segera turun dari kudanya dan berdiri dengan penuh hormat mendengarkan perkataanku, lalu dia mengutus para jin untuk mencari jin yang telah menculik putriku. Akhirnya, putrikupun kembali, dan jin yang telah menculik putriku itu dihukum oleh sang raja jin.”

Pengakuan 360 Wali
‘Abdullah al-Jubbai suatu kali berkata: “Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani memiliki seorang murid bernama ‘Umar al-Hawali, dia meninggalkan Baghdad dan tinggal di tempat lain selama beberapa tahun. Ketika ia akhirnya kembali ke Baghdad, maka aku berkata kepadanya, “Sekian lama ini kamu berada di mana?” Dia menjawab, “Aku mengembara menyinggahi kota-kota di Suriah, Mesir, Persia, dan aku bertemu dengan tiga ratus enam puluh Syekh, yang kesemuanya adalah para wali Allah. Tidak ada seorangpun dari mereka yang tidak berkata, “Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani adalah Syekh kami, dan merupakan pembimbing teladan kami menuju Allah Swt.”
Syekh Hammad ad-Dabbas konon berkata, “Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani yang pada waktu itu masih remaja, disebut dalam majelisnya “Aku melihat dua tanda di kepalanya, yang terpasang tegak di antara kebinatangan terendah dan kedaulatan tertinggi. Dan aku telah mendengar tentara kerajaannya memangil-mangilnya dengan suara yang keras lagi jelas pada cakrawala tertinggi. Semoga Allah meridhoinya.”
Syekh Hammad ad-Dabbas kemudian berkata, “Kamu adalah penghulu para ‘Arifin di zamanmu nanti. Panjimu tertancap kuat untuk dibentangkan, baik dari kawasan timur sampai kawasan barat. Pundak orang-orang di zamanmu akan tunduk di bawah kendalimu, dan kamu akan diangkat pada suatu tingkatan spiritual yang mengungguli semua orang yang sebaya denganmu.”

Pernyataan “Kakiku Berada di Tengkuk Para Wali”
Diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu al-Izz ‘Abd al-Mugtis bin Harb al-Baghdadi beserta banyak lagi lainya, “Kami menghadiri majelis Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Di ruang tamu beliau banyak sekali para Syekh dan wali yang mengikuti majelis beliau waktu itu. Ada sekitar kurang lebihnya empat puluh tujuh para Syekh, dan masih banyak lagi yang berada dalam majelisnya. Ketika Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani berbicara, tampak sekali hati beliau dalam keadaan kesadaran penuh, yakni ketika beliau menyatakan, “Kakiku Berada di Atas Tengkuk Para Wali Allah.” Syekh ‘Ali bin al-Haiti melangkahkan kakinya saat itu juga, lalu naik beberapa langkah ke mimbar Sang Syekh, di mana kemudian dia memegang kaki Sang Syekh dan meletakkannya di atas tengkuknya sembari memposisikan kepalanya di bawah keliman jubah Syekh. Semua yang hadir di situpun membungkuk seperti yang dilakukan oleh Syekh al-Haiti. Dan tidak ada satupun seorang wali Allah di muka bumi ini yang pada saat itu tidak menundukkan tengkuknya sebagai pengakuan tulus terhadap Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, serta sebagai penghormatan kedudukan ruhani beliau yang khusus. Ada 300 auliya’ Allah dan 700 rijaul ghaib yang hadir di majelis itu. Bahkan kumpulan para jin berkumpul pada saat itu. Para jin shalih tersebut keluar dari segala penjuru cakrawala demi menghormati pernyataan beliau tersebut. Mereka mengucapkan selamat kepada Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani dan menunjukkan laku taubat melalui tangan beliau.
Syekh al-Makarimi menyatakan, “Pada hari itu, seluruh Wali Allah tahu, bahwa panji kesultanan wali telah tertancapkan di sisi Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Semua wali dari timur hingga barat serentak membungkukkan badan mematuhi pernyataan beliau ini.”
Sayyid Syekh Khalifatul Akbar berkisah, “Aku bermimpi bertemu dengan Rasul Saw. tercinta, dan aku bertanya kepada beliau tentang pernyataan Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani tersebut. Rasul Saw. Menjawab, “‘Abdul Qadir al-Jailani telah mengatakan hal yang sebenarnya, karena dia sang Quthb, dan dia kuberikan tempat di bawah sayapku dan dalam perlindunganku.”

Post has attachment
Masyaallah ...! Hadist Ini lah Yang Ditakutkan Para Waliyullah

.
para wali Allah itu tidak takut penjara,tidak takut miskin,tidak takut apapun yang menimpa mereka didunia ini,meskipun di siksa dengan silet,dicambuk,ditoreh,dilukai dengan benda panas,apalagi cuma di hina,pokoknya mereka itu tidak pernah takut dengan apapun, tidak pernah lagi ada rasa kesedihan karena hal hal duniawi,mereka hanya takut kepada Allah,mereka takut membuat Allah murka,pokoknya setiap waktu,setiap saat mereka menjaga hati mereka agar jangan bermaksiat (menjaga anggota tubuh apakan lagi) kalau sedikit saja hati mereka bermaksiat,maka cepat cepat mereka menangis bertaubat juta'an kali,supaya cinta kasih Allah kepada mereka jangan ada perubahan,karena kalau berubah,maka pangkat kewalian mereka akan dicopot,kecintaan Allah berubah kemurkaan,dan kematian yang mengerikan (su-ul khatimah) akan menanti mereka,

ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون

dan hal terbesar yang paling ditakuti oleh para wali Allah adalah pada waktu roh berpisah dari jasad,
disana itu lah babak penentuan hidup kita,apakah celaka (syaqiyyun) ataukh bahagia (sa'idun).
pedoman para wali Allah ini adalah sebuah hadist yang berbunyi:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ اﻟﺼﺎﺩﻕ اﻟﻤﺼﺪﻭﻕ: "ﺇﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻳﺠﻤﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﻓﻲ ﺑﻄﻦ ﺃﻣﻪ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻧﻄﻔﺔ، ﺛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻘﺔ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ، ﺛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻀﻐﺔ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ، ﺛﻢ ﻳﺮﺳﻞ ﺇﻟﻴﻪ اﻟﻤﻠﻚ ﻓﻴﻨﻔﺦ ﻓﻴﻪ اﻟﺮﻭﺡ، ﻭﻳﺆﻣﺮ ﺑﺄﺭﺑﻊ ﻛﻠﻤﺎﺕ: ﺑﻜﺘﺐ ﺭﺯﻗﻪ ﻭﺃﺟﻠﻪ ﻭﻋﻤﻠﻪ ﻭﺷﻘﻲ ﺃﻭ ﺳﻌﻴﺪ. ﻓﻮ اﻟﻠﻪ اﻟﺬﻱ ﻻ ﺇﻟﻪ ﻏﻴﺮﻩ ﺇﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻟﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﺠﻨﺔ ﺣﺘﻰ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻬﺎ ﺇﻻ ﺫﺭاﻉ ﻓﻴﺴﺒﻖ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﻨﺎﺭ ﻓﻴﺪﺧﻠﻬﺎ، ﻭﺇﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻟﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﻨﺎﺭ ﺣﺘﻰ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻬﺎ ﺇﻻ ﺫﺭاﻉ ﻓﻴﺴﺒﻖ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﺠﻨﺔ ﻓﻴﺪﺧﻠﻬﺎ" ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ.

kata nabi: demi Allah yang tiada tuhan lagi selain dia,sesungguhnya ada seseorang yang selama hidupnya rajin beribadah,beramal dengan amalan para ahli sorga,sampai-sampai jarak antara dia dan sorga tinggal sehasta,namun tulisan dikitab lauh mahfuz dia masuk neraka,lalu di detik-detik akhir hayatnya dia dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli neraka,lalu dia mati,dan pada akhirnya dia masuk neraka,su-ul khatimah

sebaliknya ada juga seseorang yang selama hidupnya beramal dengan amalan ahli neraka,(memacari anak orang,mangacak susu anak orang,mancium pipi bibir anak orang,kada kawa malihat susu ta'antang lalu ja handak mangacak,melihat burit handak mangacak,nang makan zenit inya jua,nang ma'uluakan judi inya jw,puluhan ikung binian digombalinya,smpy kawa main diranjang,smpai 5 ikung di hamilinya binian,nang manyuntan inya jw,nang membajak menagih duit paksa inya jua,betato,pokoknya bini orang bini inya jua,sudahnya dipambatuan inya terkenal dah tukang rasai lahung-lahung disana brata'an)

sampai-sampai jarak antara dia dan neraka tinggal sehasta,
namun tulisan di kitab lauh mahfuz dia ini ahli sorga,akhirnya di detik detik akhir hayatnya dia diberi taufik dan hidayah,bertaubat dengan sungguh2 beramal ibadah dengan amal ahli sorga,dia menangis hingga air matanya habis dan wafat saat itu,
akhirnya dia mati husnul khatimah,masuk sorga,

hadist ini lah yang paling di takuti oleh para wali,sehingga para wali itu mereka mensiasatinya dengan cara setiap detik setiap nafas selalu mengingat Allah, bahkan ada wali yang satu detik saja bila dia lupa kepada Allah,maka dia hukumkan dirinya kafir,
kenapa para wali harus melakukan ini?
karena saat hadist ini datang,ada hadist tandingan yang bisa memprediksi syaqiyyun (celaka) dan sa'idun (bahagia) pada diri seseorang itu,yg berbunyi:

كل ميسر لما خلق له
setiap orang akan dimudahkan untuk menuju takdirnya

jika dia ditakdirkan akan masuk neraka,maka selama dia hidup dia akan dimudahkan untuk beramal amalan ahli neraka,sulit untuk beramal amalan ahli sorga,menghadiri pengajian malas2n,mendengar ayat alquran kepanasan,membela orang kafir yg menistakan alquran,menghina zuriyat rasulullah,menghina para wali Allah,membela wali syaithon,dll...

jika dia ditakdirkan akan masuk sorga,maka disini jalan atau thoriqah para wali,mereka dalam setiap detik,setiap saat takkan melupakan Allah,slalu mengingat Allah dalam hati,dalam pandangan,dalam pendengaran,dalam langkah,dalam gerakan,dalam setiap aktivitas,agar nanti di akhir hayat akan dimudahkan juga seperti itu,
ibadah setiap waktu slalu memandang nur muhammad,takkan tergeser walau sekejap,

sekarang tinggal pilih,kemana arah tujuan hidup kita,apakah ngikut hamba akhirat (para wali Allah,dan ulama yang berjuang menghancurkan musuh Allah)
ataukah ngikut hamba dunia (ulama yang membela musuh Allah demi kepentingan perut ataupun golongan),
Photo

Post has attachment

Post has attachment
HADIAH DI BULAN MULIA

Apa hadiah yang paling indah untuk Rasulullah ﷺ yang bisa kita berikan dibulan Rabi ul-Awwal?

Dijawab oleh Sayyidi Alhabib Umar bin Hafidz:

"Pada kenyataannya kita tidak dapat memberikan faedah pada Rasulullah ﷺ‎ dengan cara apapun, tapi apa yang menyenangkan bagi beliau ﷺ‎ adalah jika kita dapat memahami kata-kata dan ajaran-ajarannya dan kemudian beramal sesuai tuntunannya untuk bisa mengangkat derajat kita ke maqam yg lebih tinggi.
Rasulullah ﷺ‎ sangat ridho dengan apa saja yang bisa menguntungkan kita.

Salah satu Hal yang terbesar (seperti yang kita pahami dari KitabAllah dan Sunnah) adalah jika kita bisa menjadi sarana untuk membina orang lain, Orang itu mungkin non-Muslim yang mau menerima Islam atau menuntun Muslim yang tak taat atau lalai agar bertobat dan kembali ke jalan lurus.

Hal lain adalah menghidupkan Sunnah dan beramal dengannya. Jika kita berhasil menghidupkan Sunnah di dalam rumah kita dan mengajarkannya kepada anak-anak kita, tentunya ini akan membuat beliau ﷺ‎ senang dan ridho, karena kita jelas akan memperoleh manfaat besar dari hal ini.
Nabi ﷺ‎ bersabda: "Barangsiapa menghidupkan Sunnahku pada saat kerusakan hadir dalam umatku akan memiliki pahala seorang syahid" (atau dalam riwayat lain : "seratus syuhadah").

Selain itu kita juga dianjurkan untuk melakukan kebaikan terhadap sesama manusia pada umumnya, dan pada orang-orang beriman secara khususnya serta lebih khusus lagi terhadap para sholehiin.

Lalu selanjutnya agar kita memperkuat cinta kita pada orang beriman, untuk orang-orang dari keluarga Nabi dan untuk para sahabat sahabat beliau ﷺ‎.

Dan pada Akhirnya, marilah kita membuat niat besar dalam Rabi 'al-Awwal ini, seperti berkumpul bersama untuk merayakan kegembiraan atas maulid Nabi ﷺ‎ dan menyebarkan pengetahuan serta akhlak baik".

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّم وبَارِك عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، والخاتِم لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الحقِّ بَالحَقِّ، والهادي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ، صلَّى اللهُ علَيهِ وعَلَى آلِهِ وصحبِهِ، حَقَّ قَدْرِهِ ومِقْدَارِهِ العَظِيم.

Ya Allah, limpahkan sholawat dan salam serta barokah kepada junjungan kami Sayyidina Muhammad, pembuka bagi segala yang terkunci, khatam (segel) bagi segala hal yang terjadi sebelumnya, penolong Kebenaran dengan kebenaran, penuntun untuk jalan yang lurus (yg telah ditetapkan-Mu).
Semoga Sholawat Allah atas dirinya dan keluarganya dan sahabat-sahabatnya, demi hak kedudukannya yg istimewa disamping-Mu..dan kebesarannya.
Photo

Post has attachment
KISAH-KISAH "KECINTAAN" PARA SAHABAT RASULULLAH SAW...

Syekh Abdul Qadir Al Jailani ra adalah orang yang hebat...Beliau adalah orang yang ahli ibadah, orang yang alim. Didalam riwayat, pernah ditanya oleh seseorang, "Wahai Syekh Abdul Qadir, anda ini orang yang istimewa dan anda orang yang hebat...Namun lebih mulia mana, anda dengan sahabat-sahabat Rasulullah Saw?".

Mendengar pertanyaan seperti itu, Syekh Abdul Qadir terkejut dan menjawab, "Ketahuilah bahwa debu dari sandal sahabat Nabi yang paling terakhir tertinggalnya dan debu sandal tanah yang ada dibawah sandal mereka adalah lebih mulia daripada aku...Karena mereka para sahabat Nabi sangatlah mulia dan nyawa mereka murah, hanya untuk membela Rasulullah Saw".

Contoh kecil saja...Dahulu disaat terjadi peperangan dan ada anak panah yang terbang kearah Rasulullah, maka kaum Muhajirin dan Anshar berebut meloncat demi untuk menangkis anak panah supaya tidak mengenai Rasulullah...Mereka menghalangi anak panah dengan badan mereka, mereka rela kalau anak panah itu mengenai wajah atau badan mereka, asalkan anak panah itu tidak menancap pada diri Rasulullah Saw. Mereka bukannya takut malah semakin berani melakukannya demi menjaga Rasulullah agar tidak terluka.

Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Ali Sayyidina Muhammad.
Photo

Post has attachment

بسم اللّه الرحمن الرحيم

INDAHNYA MAJELIS ILMU DAN URGENSINYA


Wahai saudaraku....,,, ilmu yang Allah turunkan di majelis-majelis para ULAMA bermanfa'at terhadap hati manusia. Setiap hari, hati manusia memerlukan makanan seperti halnya JASAD juga butuh terhadap makanan. Diri manusia terbagi menjadi 3 unsur yang kesemuanya memerlukan makanan, yaitu:

JASAD memerlukan makanan dhohir,

RUH makanannya adalah dzikir,

sedangkan HATI makanannya adalah ilmu dan Nasehat.

Apabila dalam waktu 3 hari saja seseorang tidak mendapatkan ilmu, hati tersebut akan terjangkit penyakit disebabkan ia berkumpul dengan orang-orang yang lalai. Jika dibiarkan maka menjadilah hati tersebut rusak atau berkarat, tidak bisa menerima sesuatu yang baik, apabila dibiarkan hati tersebut akan mati.

Jika hati telah mati semua cahaya kebaikan tidak akan pernah masuk kedalamnya, keinginannya selalu membangkang syariat, ceramah dan nasehat pun tiada manfaat. Ibarat mayat walaupun tubuhnya dipotong dengan pedang ia tidak akan merasakan apa-apa, begitu pula hati yang mati walaupun nasehat dari lisan sang Nabi atau berupa kalam ILAHI ia tidak merasakan apa-apa. NA'UDZUBILLAH.

Lain halnya dengan hati yang hidup, tabiatnya selalu menerima kebaikan, nasehat dan perkataan tidak pernah diabaikan walaupun datang dari mulut seekor hewan. Mereka laksana orang hidup yang merasa sakit jika tertusuk sesuatu walaupun dengan sekecil duri. Hati orang-orang seperti ini lembut, setiap perkataan orang lain kepadanya ia terima dengan lapang dada, lebih-lebih nasehat yang bisa menjadikannya sebagai MUHASABAH (intropeksi) diri, cerminan akhlak dan budi pekerti sehingga bermanfaat kehidupannya terhadap orang lain. Semoga Alloh menggolongkan kita semua termasuk orang-orang yang hidup hatinya... امين.

Maka duduklah di dalam majelis-majelis yang penuh dengan ilmu dan hikmah. Di dalamnya terdapat kenikmatan dari kenikmatan surga. Engkau akan mendapatinya disetiap langkahmu, di dalam kehidupanmu dan keluargamu. Janganlah pernah engkau tinggalkan majelis walaupun engkau orang yang sering bermaksiat. Dan jangan pernah berkata "Apa manfaat hadir majelis, sedangkan aku orang ahli maksiat dan aku masih belum bisa meninggalkannya..?" Katakan kepada orang semacam ini: "Hendaknya orang yang terburu tetap mencari buruannya, jika ia tidak mendapatkannya hari ini, maka ia akan mendapatkannya esok".

Al-Habib Abdullah bin Husein bin Tohir berkata :

ياتار كا للمدارس ليس هذا حسن #
مجالس العلم ما تترك و فيها المنن
"Wahai orang-orang yang meninggalkan belajar, bukanlah ini sesuatu yang baik bagi dirimu # Majelis ilmu tidak engkau tinggalkan kecuali di dalamnya terdapat anugerah dan kebaikan"

مجالس الخير فيها كل فضل ومن #
مجالس الخير تدفع للفتن والمحن
"Majelis-majelis kebaikan di dalamnya setiap keutamaan dan pemberian # Majelis-majelis kebaikan bisa menolak musibah dan malapetaka yang menakutkan"

مجالس العلم تحوي الخير في كل فن #
ظوبى لعبد جعلها ماله والسكن
"Majelis-majelis ilmu mengumpulkan kebaikan dari setiap sisi # Sungguh beruntung bagi hamba yang dengannya mengambil kebaikan"

مجالس العلم تذهب بالكدر والدرن #
بها بها يصلح الظاهر وما قد بطن
"Majelis-majelis ilmu akan menghilangkan penyakit hati dan kotoran # Dengannya dhohir dan batinmu penuh dengan kedamaian dan ketenangan"

Dahulu di zaman Rasulullah SAW ketika beliau duduk bersama para sahabat di dalam masjid datang 3 orang. Dua diantaranya duduk di majelis Rasul, sedangkan satunya pergi. Salah satu dari mereka duduk ketika melihat tempat kosong, adapun satunya duduk di belakang majelis. Sedangkan orang ketiga pergi meninggalkan majelis. Setelah selesai Rasulullah SAW bersabda: "Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang tiga orang tersebut..? Adapun yang pertama ia menyambut Allah (duduk di depan) dan Allah pun menyambutnya, sedangkan yang kedua ia malu kepada Allah (duduk dibelakang) maka Allah pun malu kepadanya. Adapun yang ketiga ia berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya".

Oleh karena itu..., hadirilah majelis-majelis ilmu.., dengannya kita akan mendapatkan kebahagiaan Hakiki yang Kekal Abadi.. amiiiiin...
PhotoPhotoPhoto
15/12/16
3 Photos - View album
Wait while more posts are being loaded