Post has shared content


MENULIS BERITA BENAR,
MENGHINDARI HOAX

Oleh : Waluyo Setyobudi

Pendahuluan
Anda pernah menulis berita Hoax ? Atau minimal pernah membaca di media sosial ? Apa sih Hoax itu ?. Untuk paham tentang Hoax, perhatikan kasus berikut, yang pernah viral di media sosial. Adalah seorang guru pada salah satu SMK di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Ia berinisial AR, di facebook pakai nama akun Abu Uwais.
AR dianggap telah menyebarkan berita Hoax. Ia menyebarkan isu provokatif. Tidak hanya itu, AR atau Abu Uwais juga mengunggah foto yang bergambar uang ratusan ribu rupiah, dan mengunggahnya dari tempat tidurnya pada tanggal 2 Desember 2016. Akibat perilaku AR itu, isu Rush Money menyebar. Netizen memperbincangkan di media sosial. AR mengajak masyarakat agar segera ambil uang tabungan atau apapun bentuknya yang disimpan di Bank BUMN maupun Swasta. Untunglah Pemerintah dengan cepat bertindak dan menanggapi. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani menghimbau, agar masyarakat tidak mudah terhasut. Isu Rush Money ternyata tidak benar. Atas tindakan AR atau Abu Uwais, polisi dalam hal ini Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus, menangkapnya pada tanggal 24 Desember 2016 dengan tuduhan menyebarkan issu Rush Money. Abu Uwais diancam karena melanggar UU Nomor 11 tahun 2008 pasal 28 ayat (2) tentang Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman 6 bulan. Pihak kepolisian telah menyatakan bahwa isu Rush Money itu Hoax. Pernyataan Kadiv Humas Polri sangat tegas, bahwa penyebar isu memiliki modus mengganggu keamanan, terutama di bidang ekonomi. Beruntunglah AR atau Abu Uwais hanya dikenai wajib lapor, karena yang bersangkutan telah menyadari dan menyesali bahwa berita itu tidak benar.
Lain lagi dengan Sukirdja, seorang guru BP/BK SMP Negeri 1 Kokap Kulonprogo, Yogyakarta. Oknum guru ini harus bertanggungjawab atas tindakkannya sendiri. Ia diadili masyarakat setempat di Balai Desa Kalirejo, Kulonprogo pada tanggal 24 Maret 2017. Warga menuntut pada oknum guru ini, karena telah menyebarkan berita Hoax yang meresahkan anggota masyarakat. Awalnya, Sukirdja iseng mengunggah berita Hoax ini melalui chatting whatshap siswa SMP Negeri 1 Kokap, tanggal 18 Maret 2017. Sukirdja menulis tentang peristiwa bencana alam di daerah itu. Pesan chatting melalui whatshap siswa tersebut mengabarkan bahwa di Pedukuhan Sengir telah terjadi bencana tanah longsor yang mengakibatkan 76 rumah rusak, 9 orang meninggal dunia, 32 luka-luka, 39 orang belum ditemukan, dan 247 orang warga harus mengungsi. Sontak, berita itu menyebar dengan cepat. Padahal, kenyataanya warga di padukuhan Sengir, seperti dikatakan kepala desa Kalirejo, Lana, hanya 84 rumah saja yang terkena bencana, namun Sukirdja telah menulis berita Hoax. Akibat pemberitaan itu, warga masyarakat dan pejabat desa di Kalirejo maupun warga yang berada di perantauan menjadi resah. Bahkan berita hoax ini juga diterima oleh komunitas radio Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kulonprogo dan mengkonfirmasikannya kepada para relawan kebencanaan setempat, termasuk sibejo yaitu Komunitas Siaga Bencana Kalirejo. Akibat dari pemberitaan yang tidak benar, akhirnya warga masyarakat menuntutnya. Maka oknum gurupun, diadili oleh masyarakat setempat. Ia diwajibkan menyampaikan permohonan maaf melalui media massa sebanyak tiga kali pada setiap hari Senin. Tidak hanya itu, warga juga menuntut agar Sukirdja membantu pengadaan beberapa unit penerangan jalan di padukuhan itu.

Hoax Lebih Menarik

Pada saat ini, trend membaca berita dari media sosial sudah menjadi kebutuhan masyarakat pengguna media sosial. Dengan selalu tahu persoalan berita yang sedang marak dapat dibilang memiliki nilai plus bagi Netizen, yakni warga internet, pengguna internet, masyarakat internet dan orang-orang yang berperan aktif serta memiliki jaringan di dalam media internet antara satu dengan lainnya. Netizen atau pengguna internet memang memiliki kebebasan terhadap penggunaan dan kebebasan mengobrol, menyampaikan pendapat. Hal ini sudah menjadi kebiasaan yang sering terlihat. Namun kebiasaan menggunakan kebebasan berpendapat dapat menimbulkan Hoax.
Istilah Hoax, diyakini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, yakni dari kata hocus pocus, frasa yang kerap disebut oleh pesulap. Serupa dengan : sim salabim. Bahasa aslinya dari kata hocus pocus, berasal dari bahasa latin hoc est corpus. Kata ini biasa digunakan oleh penyihir untuk mengklaim bahwa sesuatu adalah benar, padahal belum tentu benar.
Alexander Boese, dalam Musium of Hoaxes pernah mencatat bahwa Hoax pertama yang dipublikasikan adalah penanggalan / kalender palsu yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift tahun 1709 untuk meramalkan kematian John Patridge. Agar ramalannya menyakinkan, ia membuat obituari palsu tentang Patridge, tentang kapan hari kematiannya. Swift mengarang informasi tersebut dengan tujuan mempermalukan Patridge di mata umum. Patridge pun berhenti membuat kalender astrologi setelah enam tahun Hoax itu berhenti.
Pertanyaan kita, mengapa kadangkala kita menerima berita bohong atau Hoax ?. Mungkin saja ketika teman atau orang lain mengirim berita ke kita, pengirim sekedar iseng atau lelucon. Tanpa niat menyebarkan ke masyarakat luas. Namun, kadang kita ikut latah dalam penggunaan media sosial tanpa kita sadari. Kita pun ikut mengirimnya. Barulah disadari bahwa berita itu bohong. Sehingga Hoax pun tersebar luas. Perlu diketahui bahwa kecepatan dan sifat media sosial mudah dibagikan, shareability sangat berperan dalam penyebaran berita. Oleh karena itu, sebaiknya setelah kita menerima berita melalui media sosial. Kita membiasakan berpikir kritis, jangan ikut-ikutan latah lalu asal nge-share. Dengan demikian, sikap introspeksi diri untuk tidak mendukung berita Hoax sangat diperlukan, seperti membiasakan memeriksa fakta atas kebenaran berita/informasi yang kita terima sebelum ikut menyebarkannya atau nge-share.
Menurut Deddy Mulyana, guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung, menyebut ada faktor utama yang menyebabkan informasi palsu atau Hoax menyebar. Faktor itu adalah karakter asli masyarakat yang dinilai tidak terbiasa berbeda pendapat atau berdemokrasi secara sehat. Menurutnya, sejak dulu orang Indonesia suka berkumpul dan bercerita. Apa yang diceritakan belum tentu benar. Sebab Budaya Kolektivisme itu tidak diiringi dengan kemampuan mengolah data. Akibatnya berita atau informasi yang diterima ditelan mentah dan Hoax pun mudah dikonsumsi. Jadi, semakin maju teknologi hampir setiap orang atau masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan informasi dari media mana pun. Namun tidak semua berita yang didapat itu jelas kebenaran dan sumbernya. Dan tentu saja ada penyebab, mengapa masyarakat kita banyak yang mendapat informasi Hoax dari pemberitaan media sosial atau grup di aplikasi chatting ?
Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), bahwa internet di Indonesia mencapai sekitar 132 juta dan lebih dari 100 juta menggunakan smartphone yang mudah dan cepat mengakses ke media sosial di dunia maya. Akibatnya informasi yang bersifat Hoax menyebar dengan cepat, baik melalui saluran media sosial maupun grup di aplikasi chatting, seperti WhatsAPP, BBM, Facebook, dan masih banyak lagi. Apabila ada informasi dari orang lain yang sesuai dengan opini dan sikap yang kita miliki, maka kita akan lebih cenderung mempercayai Hoax. Hal ini timbul secara alami, dalam diri kita apabila ada orang yang menegaskan atau afirmasi kembali terhadap apa yang kita yakini. Perasaan terafirmasi ini juga menjadi pemicu pada diri kita untuk dengan mudah meneruskan informasi Hoax ke teman kita dan teman kita ke pihak lain. Inilah salah satu penyebab mengapa masyarakat sering menerima informasi Hoax.
Dalam dunia pendidikan, memberikan petunjuk kepada peserta didik (khususnya dari pendidikan dasar, SD/SMP) untuk memahami apa itu Hoax dan bagaimana mengurangi serta mencegah Hoax berkembang dan dampak negatif bagi masyarakat luas menjadi tugas pendidik. Pembiasaan untuk memberikan informasi dan petunjuk ini, dapat pula dilakukan liwat berbagai kesempatan, misalnya pada saat upacara bendera melalui pesan pembina upacara, ketika guru melakukan kegiatan belajar mengajar, dll. Pembiasaan untuk menghentikan Hoax juga dapat dilakukan liwat pembiasaan pembinaan kerohanian peserta didik. Pada sisi lain, ketika peserta didik dihimbau agar memiliki pengetahuan tentang Hoax, maka dari para pendidik pun harus memiliki pengetahuan dan pemahaman sama. Jangan sampai terjadi Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari.
Langkah kecil untuk menghentikan Hoax, dapat dimulai dari diri sendiri. Maka milikilah kesadaran diri dan tidak membuat Hoax yang baru. Biasakan untuk menginformasikan atau menulis berita yang benar, sehingga mengurangi berita Hoax. Informasi Hoax dapat menimbulkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan menyadari bahaya dan dampak negatif dari konten Hoax bagi publik, kita sudah mengurangi kerugian immateri dan materi.
Langkah ringan mengenali informasi atau berita Hoax dapat dilihat dari frasa yang terlihat. Kebanyakan informasi atau berita Hoax tanpa menyebutkan sumbernya, misal hanya menuliskan : “Copas dari group sebelah !”.
Ketika di Cilacap “musim gempa“ apalagi setelah peristiwa gempa di Pengandaran yang menyebabkan Tsunami dan dampaknya hingga Cilacap. Masyarakat sering mendapat berita atau informasi liwat SMS / WhatsaPP, setiap ada gempa sering muncul informasi akan terjadi Tsunami. Akibatnya, masyarakat yang tinggal di permukiman/perumahan sekitar jalur timur / selatan menjadi was-was. Setelah mendapatkan penjelasan atau sosialisasi dari pemerintah setempat, masyarakat saat ini menjadi tenang. Oleh karena itu, ketika kita mendapatkan berita yang diduga diragukan kebenarannya, sebaiknya cek alamat situs web berita itu atau URL-nya. Pastikan situs tersebut memiliki identitas jelas. Jika tidak ada, bisa dipastikan bahwa informasi itu Hoax.
Dengan teknologi yang kita miliki, marilah kita menjadi pengguna yang cerdas. Karena itu, lakukanlah dan biasakan dengan : MENULIS BERITA BENAR, sehingga MENGHINDARI HOAX.

-----------------------------------
Wait while more posts are being loaded