Post has attachment
Hot Promo !!!
Bonus 10% Untuk Kekalahan Berturut-turut Game Sabung Ayam.
Bonus Ini Hanya Di B-o-l-a-v-i-t-a Agen Sabung Ayam Terbesar Dan Terpercaya Di Indonesia.

Kontak CS B-o-l-a-v-i-t-a :
Wechat : B-o-l-a-v-i-t-a
WA : +6-2-8-1-3-7-7-0-5--5-0-0-2
Line : c-s_b-o-l-a-v-i-t-a
BBM PIN : B-O-L-A-V-I-T-A
https://i.imgur.com/SsijgdT.jpg

Tenang......

Post has attachment
Ngambil dari mbah google:
Photo

Post has attachment
SAYA MENOLAK VAKSIN MR/MMR ATAS DASAR TAUHID.

Ngeri memang kalau membaca iklannya, apalagi ada kata kesakitan,kecacatan dan kematian. Pastilah orang tua takut dan kuatir. Rasa sayang orang tua lah yang akhirnya memutuskan untuk ikut vaksin sebagai bentuk ikhtiar juga. Tidak ada yang salah dengan itu.

Tapi, akan lebih ngeri lagi kalau kata-kata di iklan itu membunuh kesadaran lalu pelan-pelan merubah cara pandang kita bahwa vaksin menyelamatkan anak kita. Sama halnya kita meyakini obat-obatan dari dokter atau komersil yang menyembuhkan kita dari sakit. Berangsur-angsur kita menjadi "Drugs-minded". Tanpa sadar kita mengimani bahwa obat lah penyembuhnya.
Saya yakin mayoritas kita begitu baik disadari atau tidak.
Cara pandang inilah yang diamini oleh ilmuwan kesehatan terutama bangsa barat yang memang dari segi agama mereka tidak punya yang namanya ilmu "Tauhid". Bahkan mayoritas mereka meyakini mereka punya hak mengubah nasib dan takdir nya. Di film-film pun sering ditunjukkan. Kita, orang Islam tergiring oleh pola pikir mereka. Apapun dibikin untuk melupakan kuasa Tuhan. Salah satunya obat-obatan dan segala yang terkait termasuk vaksin.

Bukan berarti saya anti obat-obatan. Saya hanya berusaha sekuat mungkin memposisikan apa fungsi obat, apa fungsi Tuhan dalam hal ini Allah. Saya yakini betul bahwa obat yang saya minum tidak akan bereaksi apa-apa kecuali Allah yang berkehendak membuatnya bereaksi yang akhirnya meredakan sakit. Redanya sakit pun bukan lantaran obat tetapi Allah yang berkehendak. Jadi hakekatnya saya tidak minum obat tapi minum TAUHID. Tauhid saya melalui obat itulah yang berperan penuh. Bukan obatnya. Dengan begini, saya jadi jarang mengkonsumsi obat-obatan. Bahkan di beberapa kesempatan saya sempat minta maaf kepada Allah dulu sebelum meminum obat karena batas kemampuan tubuh saya cuma segini. Jadi saya minum obat bukan karena obat itu bisa meredakan sakit tapi karena terpaksa sambil meyakini bukan obat yang meredakan sakit saya.

Sama halnya dengan vaksin. Kalau cara berpikir kita sudah jelas, tauhidnya jelas, kita akan menyadari seberapa besar peran vaksin, seberapa besar peran Allah.

Masalahnya, bukan saya yang divaksin melainkan anak saya yang Tauhidnya masih tumbuh pelan-pelan. Membuat saya lebih kuatir, belum lagi buta akan kandungan dalam vaksin itu. Tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan dengan gamblang "Ini lho kandungan vaksin nya, terbuat dari minyak xxx ditambah ini, dicampur ini sehingga dapat mencegah penyakit xxx, jadi aman untuk anak." Yang ditunjukkan cuma dampaknya yang membuat takut orang tua. Belum lagi data-data tentang siapa di balik WHO, siapa yang mempeloporinya dan lain-lain. Saya dibuat bingung, di satu sisi kuatir dampaknya, di sisi lain mempertanyakan kelompok-kelompok tertentu di baliknya. Maka yang paling baik adalah kembali kepada Tauhid. Saya berdaulat kepada Allah, tidak kepada vaksin. Allah pemegang hidup dan mati, sehat tidaknya seluruh makhluk termasuk saya, istri dan anak-anak saya. Atas dasar itulah saya menolak vaksin terhadap anak saya.

Saya tidak membenci adanya program vaksin, sebab cara pandang dan sudut pandang masing-masing orang berbeda. Tapi TAUHID HARUS DAN WAJIB SAMA. Hanya kepada Allah Subhanahuwata'ala (SWT). Bukan yang lain.


Salam,
Islam Inside
Photo

Post has attachment
Nasehat seorang guru yang selalu kuingat......


Kalian mengenal, mengetahui, memahami banyak tentang rasulullah dariku. Tapi itu semua tidak akan menjadikan ku seorang nabi atau rasul. Aku hanya perantara. Aku hanya referensi. Aku hanya meneruskan. Aku bukan panutan sebab aku hanyalah manusia biasa yang hatinya bisa condong ke kanan atau ke kiri tanpa kalian ketahui. Wajib bagi kalian untuk tidak menjadikanku sebagai panutan apalagi junjungan.
Akan tetapi, tanpa kyai, ustadz, ulama kalian bisa jadi buta meski kalian bisa merasakan. Adanya mereka menjadikan kalian mampu melihat sekaligus merasakan. Sekarang, karena kalian sudah bisa melihat dan merasakan,  kalian akan dihadapkan pada banyak jalan yang harus kalian tentukan sendiri. Asal ujung-ujungnya menuju Allah dan Muhammad, maka itulah jalan yang terbaik.
Hormatilah kyai, ustadz, ulama. Sedikit banyak dari merekalah hidayah Allah sampai kepada kalian. Namun, jangan berlebihan, jangan melampaui batas. Apalagi menjadikan mereka junjunganmu, panutanmu.  Sungguh Allah tidak menyukai manusia yang melampaui batas dan berlebihan.
Supaya kita tetap "manut" pada nabi Muhammad,  supaya kita tetap mengimani rasulullah; bukan yang lain, termasuk aku. Tak ada alasan bagi kalian menjadikanku sebagai panutan selama aku masih berkata Qola rasulullah.
Lha wong panutanku rasulullah, kenapa kalian menjadikanku sebagai panutan apalagi junjungan?
Photo

Assalamualaikum,
To all members of Islam Inside. Mohon maaf karena saya jarang meng-upload postingan. Semoga senantiasa mendapat pencerahan lahir batin.

Post has attachment
Musuhmu Adalah Dirimu Itu Sendiri

Setelah setengah hari melawati jalan-jalan setapak kaki gunung, Dar Gombes dan Mukiyo sampai di gubuknya Mbah Sepuh. Disambut gembira dan tanda tanya serta secangkir teh murni yang tak mereka jumpai di kota. Konon, Mbah Sepuh adalah sesepuhnya kampung mereka yang disegani dan di “gugu” meski pada suatu saat beliau memutuskan untuk memilih jalan sunyi dan sekarang bertengger di atas bukit di sebuah gubuk. “Apa yang membawa kalian kesini?,” tanyanya. Mukiyo langsung jawab, “di bawah sedang banyak darurat mbah. salah satunya darurat komunis.” “Entah benar atau tidak,” tikung Dargombes. “Tapi rame sekali mbah. Seperti bencana yang tidak kunjung reda. Kami berdua juga ikut ribut ngomongin ini, akhirnya si Dar usul menemui mbah Sepuh, untuk minta wejangan,” cergah Mukiyo. “atau pemikiran yang bisa menengahi pandangan kami berdua,” imbuh Dar Gombes. Dengan santai mbah Sepuh mengupasnya sambil mengepulkan asap rokok, “Lha kalau itu memang kehendak Allah terus gimana? Allah berkehendak ada komunis, berkehendak kalian saling ribut, ya terserah Allah kan??” Beku, kaku, tablo seluruh tubuh Dar dan Mukiyo. Tampaknya keberatan tapi tidak tahu harus bilang apa. “Lalu atas kehendak Allah juga kalian berdua kesini, menjenguk penyepi tua seperti aku yang memang dari dua hari kemarin aku mimpi kalian datang kesini.” Mukiyo melongo, Dar Gombes memecahkan keheningan dengan menyeruput teh dan menyulut rokok. Mbah Sepuh memulai lagi “Bukankah Baginda Nabi sudah mengatakan bahwa suatu saat umat Islam itu seperti buih di lautan. berkuantitas tapi tidak berkualitas? Maka Allah menguji kalian. Kalau yang terjadi di bawah kalian sebut bencana, siapa tahu memang itu KehendakNya.

“Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki bencana terhadap kamu atau jika Dia menghendaki keuntungan bagimu? Sungguh, Allah Mahateliti dengan apa yang kamu kerjakan.” (Al-Fath : 11).

Mengangguk, menerawang, sesekali mengepulkan asap rokok, itulah yang bisa dilakukan Dar Gombes dan Mukiyo. Mbah Sepuh membiarkan sepi dalam nyanyian hewan-hewan pohon.
Karena terasa lama tak dilanjutkan, Mukiyo menimpali, “Tapi Mbah, kalau darurat komunis berdampak kerusuhan apalagi peperangan di negeri sendiri, gimana?”
“Ya, berarti Islammu cuma sebatas itu, rahmatan lil alamiin-mu cuma sedangkal itu. Komunis itu kecil bagi bangsa kita yang kenyang berjuang. Islam itu insyaallah nggak kalah sama faham-faham apapun buatan manusia. Kasih aku bukti Islam pernah kalah oleh komunisme dan sejenisnya. Mana ada? Islam memang tingkatnya setinggi itu, jadi nggak usah cengeng, sedikit-sedikit ribut, sok membela Islam padahal Islamlah yang membela kamu, bukan kamu yang membela Islam. Hakikatnya kan begitu. Lha Kok malah merendahkan Islammu sendiri.

“Tapi khilafah tumbang berkali-kali kan mbah?! Khilafah Usman atau ottaman juga runtuh,” sahut Mukiyo lagi
"Yang kamu maksud ummatnya kan? Bukan Islamnya. Nah, berarti ummat Islam bisa kalah oleh…?”
“Faham Barat,” jawab Mukiyo
“Mana buktinya?” Kejar mbah Sepuh
Dar Gombes yang sedari tadi lebih menikmati rokoknya akhirnya nyeletuk, “Ummat Islam kalahnya ya oleh Ummat Islam sendiri.”
“Nah! Itu dia. Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri! Dengan kata lain musuh terbesar Islam adalah Islam sendiri, dengan kata lain golonganmu sendiri. Faham Barat tidak pernah dan tidak akan pernah bisa mengalahkan Islam. Makanya mereka membuat Islam tandingan untuk menghasut, memecah belah dan akhirnya menghancurkan umat Islam. Bagaimana negara-negara timur tengah kocar-kacir itu buktinya. Makanya, kuatirlah terhadap golonganmu sendiri.”

“Lalu apa yang harus kami lakukan mbah?” tanggap Mukiyo
“Banyak! Kalian itu sedang mengangini diri kalian sendiri dalam pusaran syariat belaka, menafsirkan tanpa tadabbur, menelan firman-firman Allah tanpa mengunyahnya dan menganggap firman Allah hanya Al-Qur’an, ketidakmampuan membedakan wasilah dan ghayah, furu’ dan ushul, ketidaksanggupan menangkap sinyal-sinyal rahmat Allah pada apapun yang terjadi, mematerikan agama, bahkan mematerikan Tuhan, ibadah-ibadah yang sebatas numpuk-numpuk pahala biar bisa membeli surga, sukur-sukur bisa pesan kavling…itu baru sebagian permasalahan. Jadi, apapun yang terjadi harus kita “counter” dengan memperbaiki Islam dalam diri kita. Nggak usah ikut-ikutan apalagi tanpa kemampuan analisa dan pemahaman. Ingat! Musuhmu adalah dirimu sendiri. Andai kalian berdua hidup di dunia yang cuma kalian berdua yang beragama Islam, apa kalian akan cengeng dengan mengatakan kalian di kelilingi oleh kondisi darurat dan bencana, gitu? Mending minta disegerakan mati atau kiamat saja, gitu? Atau pada puncak depresi kalian memutuskan untuk ikut-ikutan murtad, gitu? Untuk sebuah tauhid yang kuat, syariat yang kuat, hakikat yang kuat sampai makrifat yang kuat dengan kata lain Islam yang kuat, Allah punya banyak alat uji entah itu berupa marxisme, yahudisme, komunisme, demokrasi, sampai isme-isme dari golonganmu sendiri dan lain sebagainya. Kalau fokusmu cuma pada alat ujinya, hatimu senang kalau menang, tapi Islammu nggak kemana-mana. hatimu menyempit oleh kesemuan, kesementaraan, kebendaan. Pikiranmu rakus menumbangkan alat ujiNya, menganggap itu tujuanmu. Alat uji yang harusnya menguatkan Islammu, malah jadi objek kalah-menangmu. Kamu merasa sudah kuat, sudah Islam. Padahal Iblis sudah disetujui ditangguhkan sampai kiamat. Masa’ masih kurang paham juga?!”




Salam,
Islam Inside 
Photo

Post has attachment
Assalaamu Alaikum all

Post has attachment
AssalaamuAlaikum...
Alangkah baiknya kita awali pagi ini dengan membaca Al-Quran dan mendengarkan Nasehat-nasehat islami yang di sampaikan dengan LUCU...., HALUS..., LEMAH LEMBUT & SOPAN. InsyaAllah membuat hati kita lebih BAHAGIA... Aamiin..

Post has attachment
Sahabat-sahabat Islam Inside,

Semoga hari-hari berlalu dengan baik dan bermanfaat. Semoga banyaknya guyuran Posting ini itu tidak menjadikan kita penuh tapi tak berisi. Ada kalanya kita kesampingkan, pilih satu lalu amalkan. Itu lebih baik dari pada ribuan posting yang kita dapat dan upload tanpa kita amalkan.

Tak perlu berkecil hati karena punya ilmu sedikit. Sedikit tapi diamalkan adalah lebih baik daripada banyak tapi didiamkan.

Salam,
Islam Inside
Photo
Wait while more posts are being loaded