Post has shared content
HUKUM MELETAKKAN AL-QUR'AN DI LANTAI

Al-Qur'an adalah Kalamullah, maka setiap Mukmin wajib memuliakan Kalamullah. Allah Ta'ala mewahyukan:
Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS. Al-Hajj, 22:32)

Sesungguhnya Al-Qur'an Ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. Al-Waqia'ah, 56:77-79)

Memuliakan dan mengagungkan Mushaf Al-Qur'an merupakan salah satu bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah, dan sekaligus bukti keimanan dan ketakwaan seseorang. Oleh karena itu kita wajib memperlakukan Mushaf Al-Qur'an dengan penuh adab, sopan santun yang tinggi. Dan hendaknya kita juga mendidik anak-anak kita agar tidak meletakkan Al-Qur'an secara langsung di lantai tanpa alas apa pun yang mengangkatnya agak tinggi dari atas lantai.

Karena, barangsiapa meletakkan Mushaf secara langsung di lantai dengan niat untuk menghinakannya, maka DIA MENJADI MURTAD DAN KUFUR, keluar dari Islam, semoga Allah melindungi kita semua dari perbuatan semacam ini.

Dan jika seseorang meletakkan Mushaf Al-Qur'an di lantai secara langsung tanpa niat menghinakan Al-Qur'an, kendati TIDAK MENJADI MURTAD, akan tetapi ia SANGAT TIDAK BERADAB KEPADA AL-QUR'AN, telah memperlakukan Kitabullah dengan sangat buruk. (Diasarikan dari Fatwa Habib Umar bin Hafidz)

Syaikh Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairimi dalam kitab Tuhfatul Habib menyatakan:

وَ يَحْرُمُ وَضْعُ الْمُصْحَفِ عَلَى اْلأَرْضِ بَلْ لاَ بُدَّ مِنْ رَفْعِهِ عُرْفاً وَلَوْ قَلِيْلاً

Haram hukumnya meletakkan Mushaf di lantai, akan tetapi Mushaf tersebut harus diangkat, meskipun hanya sedikit.

Rasulullah saw tidak pernah meletakkan lembaran-lembaran Mushaf di lantai, bahkan ketika sejumlah Yahudi memberikan kepada beliau kitab Taurat, Rasulullah saw meletakkan Taurat tersebut di atas bantal.

أَتَى نَفْرٌ مِنْ يَهُودَ فَدَعُوا رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلّم إلَى الْقُفِّ، فأتَاهُمْ في بَيْتِ المِدْرَاسِ، فقالُوا: يَا أبَا الْقَاسِمِ إنَّ رَجُلاً مِنَّا زَنَى بامْرَأَةٍ فاحْكُمْ بَيْنَهُمْ، فَوَضَعُوا لِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلّم وِسَادَةً فَجَلَسَ عَلَيْهَا ثُمَّ قالَ: ائْتُونِي بالتَّوْرَاةِ، فأُتِيَ بِهَا، فَنَزَعَ الْوِسَادَةَ مِنْ تَحْتِهِ وَوَضَعَ التَّوْرَاةَ عَلَيْهَا وقالَ: آمَنْتُ بِكَ وَبِمَنْ أنْزَلَكَ.....

Beberapa orang Yahudi datang dan mengundang Rasulullah saw untuk hadir ke Quff (tempat dekat Madinah), lalu beliau mendatangi mereka di tempat yang biasa mereka gunakan untuk mengaji. Mereka berkata, "Wahai Abul Qasim, seorang laki-laki di antara kami berzina dengan seorang wanita, maka tetapkanlah hukum bagi mereka." Mereka lantas memberi bantal Rasulullah saw untuk digunakan duduk, beliau pun duduk. Kemudian beliau minta diambilkan Taurat, naskah Taurat itu lalu diberikan kepada beliau. Beliau menarik bantal yang didudukinya dan meletakkan Taurat tersebut di atasnya seraya bersabda: "Aku beriman kepadamu dan kepada Dzat Yang menurunkanmu....." (Sunan Abu Dawud, no.4443)

Hadits di atas secara jelas memperlihatkan bagaimana Rasulullah saw memperlakukan kitab Taurat yang telah dirubah-rubah oleh orang Yahudi tersebut di atas bantal, tentunya AL-QUR'AN lebih utama untuk diperlakukan seperti itu.

_____________________

✒️ Ustadz Muhammad Husein Al-Habsyi
Photo

Post has shared content
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاته.


DOA IBU LEBIH MULIA DARI ULAMA BESAR SEKALIPUN

(Sekedar Renungan)

Di Hadromaut (Yaman), Setiap orang yang datang menghadap Habib Salim atau Habaib Sepuh yang Alim di Tarim untuk minta di doakan, selalu mendapat pertanyaan yang sama :
"Apakah kamu masih memiliki permata (Ibu) di rumahmu ?"

Jika jawabannya, masih. Maka beliau dengan halus mengatakan :
"Tahukah kamu, bahwa doa ibu untukmu, lebih mulia dan Makbul dari pada Doa seorang Wali Besar sekalipun ?"

Ketika Habib Umar Bin Hafidz dan abangnya Habib Ali Masyhur Bin Hafidz masih bayi dan sering menangis,
Ibunda mereka Hubabah Zahra, akan memeluk dan membelai anak anaknya sambil mengusap kepala mereka.

Kepada Habib Ali Masyhur, beliau sering
berbisik "Mufti, Mufti". dan sekarang Habib Ali Masyhur telah menjadi Mufti Yaman.

Kepada Habib Umar sang ibu selalu berdoa
"Da'i, Da'i". Dan kini Habib Umar telah menjelma menjadi Da'i Islam terkenal di zaman ini.

Rasulullah ﷺ bersabda : "Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan pintu itu atau jagalah ia." (HR. TIRMIDZI).

Saudaraku,
Ibu adalah pintu Surga bagi anak2-nya, dan Ayah adalah jembatan menuju kepadanya.
Air susu Ibu yg kita minum adalah saripati makanan hasil jerih payah, keringat Ayah yang mencari nafkah untuk keluarga.
Karena itu Muliakan Mereka.
Mau keluar rumah ?. Jangan lupa cium tangan Ibu dan Ayah. (Ingatlah ketika kita masih kecil, kita selalu dipeluk dan diciumnya).

Bila kita sudah bekerja/ berkeluarga, atau tak tinggal serumah, sering2-lah mengunjunginya.
Bila tidak memungkinkan,
Telponlah, agar beliau senang dan ridho, atas seluruh jerih payah dan setiap tetesan susu yang telah menjadi darah daging kita.

Setidaknya, memberikan Perhatian kepada nya di Masa Tuanya...

Semoga ALLAH Ta'ala Meridhoi dan selalu memberikan Rahmat + barokah kepada kedua orang tua dan keluarga kita tercinta.

آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Semoga bermanfaat...
Animated Photo

Post has attachment
terus berlari...
mencoba raih semua mimpi
terlena kadang terbagi
disetiap asa yg tak pasti

tak apalah...
yg kuingin takkan patah
selalu dan terus melangkah
meski persimpangan mengubah arah

kau dan aku apalah daya
meminta dalam doa
lelahpun sebentar sirna
oleh masa yg smakin tua

terus berlari....
yakin jadi motivasi
akan semua ikhtiar diri
percaya akan illahi Robbi


arief
Photo

Post has shared content
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Pagi shbtkuu....


🌟🌟🌟Yakin & Tawakal🌟🌟🌟



Allah Ta'ala berfirman:


"Setelah orang-orang yang beriman itu melihat pasukan serikat musuh mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya kepada kita dan Allah dan RasulNya itu berkata benar. Hal yang sedemikian itu tidaklah menambahkan kepada orang orang yang beriman tadi melainkan kelmanan dan penyerahan bulatbulat." (al-Ahzab: 22)


Allah Ta'ala berfirman pula:


"Para manusia berkata kepada orang orang yang beriman itu: "Sesungguhnya orang orang telah berkumpul untuk melawan engkau semua, oleh kerana itu takutlah kepada mereka." Tetapi hal itu makin menambah keimanan mereka. Mereka menjawab: Allah cukup menjadi pelindung kita dan sebaik baiknya yang dijadikan tempat bertawakkal.


Kemudian mereka kembali dengan mendapatkan kenikmatan dan keutamaan dari Allah, mereka tidak terkena sesuatu halangan pun dan mereka mengikuti keredhaan Allah dan Allah itu memiliki keutamaan yang agung." (ali lmran: 173 174)


Allah Ta'ala berfirman lagi:


"Dan bertawakkallah kepada Tuhan yang Maha Hidup yang tidak akan mati." (al Furqan: 58)


Lagi Allah Ta'ala berfirman:


"Dan kepada Allah, hendaklah orang orang yang beriman itu sama bertawakkal," (Ibrahim: 11)


Allah Ta'ala berfirman pula:


"Jikalau engkau telah bulat tekad untuk melaksanakan sesuatu maka bertawakkallah kepada Allah." (ali lmran: 159)


Ayat ayat  mengenai  hal  bertawakkal  itu  banyak dan  dapat dimaklumi.


Juga Allah Ta'ala berfirman:


"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia pasti mencukupi untuknya." (at Thalaq: 3)


Lagi firmannya Allah Ta'ala:


"Hanyasanya orang orang yang beriman itu, ialah mereka yang apabila disebutkan nama Allah, maka hati mereka itu menjadi ketakutan, juga apabila ayat ayatNya dibacakan kepada mereka, maka bertambah tambahlah keimanan mereka dan mereka itu sama bertawakkal kepada Tuhannya." (al Anfal: 2)


Ayat ayat perihal keutamaan bertawakkal itu pun banyak pula dan dapat pula diketahui.


Banyak sekali orang yang salah mengerti dalam melaksanakan ketawakkalan kepada Allah Ta'ala itu. Ada yang berpendapat, tawakkal ialah menyerah bulat bulat kepada Tuhan tanpa berbuat daya upaya dan usaha untuk mencari mana mana yang baik dan menyebabkan kebahagiaan. Ringkasnya enggan berikhtiar atau menyingsingkan lengan baju. Anehnya ia meminta yang enak enak belaka. Orang semacam di atas itu rupanya berpendapat, bahawa tidak perlu ia belajar, jika Tuhan menghendaki ia menjadi orang pandai, tentu pandai juga nantinya. Juga tidak perlu bekerja, jika Tuhan menghendaki ia menjadi kaya, tentu kaya juga nantinya. Atau ketika sakit, tidak perlu ia berubat, jika Tuhan menghendaki sembuh tentu sihat kembali pula. Semuanya itu samalah halnya dengan orang yang sedang lapar, sekalipun macam-macam makanan di hadapan mukanya, tetapi ia berpendapat, jika Tuhan menghendaki kenyang, tanpa makan pun akan menjadi kenyang juga. Cara berfikir semacam di atas itu, apabila diterus teruskan, pasti akan membuat kesengsaraan diri sendiri, bahkan merusak akalnya sendiri.


Adapun maksud tawakkal yang diperintahkan oleh agama itu ialah menyerahkan diri kepada Allah sesudah berdaya upaya dan berusaha serta bekerja sebagaimana mestinya. Misalnya meletakkan penyelak di muka rumah, setelah dikunci baik baik, lalu bertawakkal. Artinya apabila setelah dikunci itu masih juga hilang umpama dicuri orang, maka dalam pandangan agama orang itu sudah tidak bersalah, sebab telah melakukan ikhtiar supaya jangan sampai hilang. Hal yang semacam itu pernah terjadi di zaman Rasulullah s.a.w., iaitu ada seorang sahabatnya yang meninggalkan untanya tanpa diikatkan pada sesuatu, seperti pohon, tonggak dan lain-lain, lalu ditinggalkan.


Beliau s.a.w. bertanya: "Mengapa tidak kamu ikatkan?" Ia menjawab: "Saya sudah bertawakkal kepada Allah." Rasulullah s.a.w. tidak dapat menyetujui cara berfikir orang itu, lalu bersabda:


Artinya:


"Ikatlah dulu lalu bertawakkallah."


Ringkasnya tawakkal tanpa usaha lebih dulu adalah salah dan keliru menurut pandangan Islam.


Jikalau kita sudah dapat meletakkan arti tawakkal pada garis yang sebenarnya, maka sangat sekali dipuji dan pasti kita tidak akan kekurangan rezeki, sebab Allah Ta'ala akan menjamin bahawa kita akan diberi bahagian rezeki kita masing masing sebagaimana halnya burung yang pergi pagi pagi dalam keadaan kosong perut, sedang pada petang harinya telah menjadi kenyang.


Selain itu Allah berfirman bahawa sifat sifat kaum mu'minin itu di antaranya ialah selalu bertawakkal kepada Allah Ta'ala dengan pengertian tawakkal yang tidak disalah mengertikan.


FirmanNya:


"Hanyasanya orang orang yang beriman itu apabila nama Allah disebutkan, menjadi gentarlah hati mereka dan apabila ayat ayat Allah dibacakan, maka bertambahlah keimanan mereka dan hanya kepada Allah jualah mereka bertawakkal." (al-Anfal: 2)


Yang perlu kita perhatikan, sehubungan dengan persoalan ini ialah:


Dalam mengejar cita cita, supaya dapat berhasil kecuali amat diperlukan adanya sifat kesabaran, juga wajib disertai sifat tawakkal ini. Kerana yang menentukan berhasil atau tidaknya sesuatu maksud itu hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri. Lebih besar yang dicita citakan, wajib lebih besar pula sabar dan tawakkalnya, misalnya ingin menjadi seorang yang alim, ingin memajukan agama, ingin mendirikan sesuatu negara yang benar benar diredhai oleh Allah Ta'ala, ingin melaksanakan hukum hukum dan syariat Islam dalam negara dan lain lain sebagainya. Setelah bersabar dan bertawakkal wajib pula disertai doa, memohon kepada Allah semoga yang dicita citakan itu berhasil, jangan bosan bosan berdoa dan yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan. Insya Allah.


Adapun hadisnya ialah:


Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:


"Dipertontonkanlah padaku berbagai ummat, maka saya melihat ada seorang Nabi dan besertanya adalah sekelompok manusia kecil antara tiga orang sampai sepuluh, ada pula Nabi dan besertanya adalah seorang lelaki atau dua orang saja, bahkan ada pula seorang Nabi yang tidak disertai seseorang pun. Tiba tiba diperlihatkanlah padaku suatu gerombolan manusia yang besar, lalu saya mengira bahawa mereka itulah ummatku. Lalu dikatakanlah padaku: "Ini adalah Musa dengan kaumnya. Tetapi lihatlah ke ufuk sesuatu sudut." Kemudian saya pun melihatnya, lalu saya lihatlah dan tiba tiba nampaklah di situ suatu gerombolan ummat yang besar juga. Selanjutnya dikatakan pula kepadaku: "Kini lihatlah pula ke ufuk yang lain lagi itu." Tiba tiba di situ terdapatlah suatu kelompok yang besar pula, lalu dikatakanlah padaku: "Inilah ummatmu dan beserta mereka itu ada sejumlah tujuh puluh ribu orang yang dapat memasuki syurga tanpa dihisab dan tidak terkena siksa."


Kemudian Rasulullah s.a.w. bangun dan terus memasuki rumahnya. Orang orang banyak sama bercakap cakap mengenai para manusia yang memasuki syurga tanpa dihisab dan tanpa disiksa itu. Sebahagian dari sahabat itu ada yang berkata: "Barangkali mereka itu ialah orang orang yang telah menjadi sahabat Rasulullah s.a.w." Sebahagian lagi berkata: "Barangkali mereka itu ialah orang orang yang dilahirkan di zaman sudah munculnya agama Islam, kemudian tidak pernah mempersekutukan sesuatu dengan Allah." Banyak lagi sebutan percakapan percakapan mengenai itu yang mereka kemukakan.


Rasulullah s.a.w. lalu keluar menemui mereka kemudian bertanya: "Apakah yang sedang engkau semua percakapkan itu." Para sahabat memberitahukan hal itu kepada beliau. Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:


"Orang orang yang memasuki syurga tanpa hisab dan siksa itu ialah mereka yang tidak pernah memberi mentera mentera tidak meminta mentera mentera dari orang lain kerana sangatnya bertawakkal kepada Allah, tidak pula merasa akan memperolehi bahaya kerana adanya burung burung atau adanya hal yang lain-lain atau ringkasnya meyakini guhon tuhon atau khurafat yang sesat dan pula sama bertawakkal kepada Tuhannya."


'Ukkasyah bin Mihshan al Asadi, kemudian berkata: "Doakanlah saya  ya Rasulullah kepada Allah supaya Allah menjadikan saya termasuk golongan mereka itu tanpa hisab dan siksa dapat memasuki syurga." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Engkau termasuk golongan mereka." Selanjutnya ada pula orang lain yang berdiri lalu berkata: "Doakanlah saya kepada Allah supaya saya oleh Allah dijadikan termasuk golongan mereka itu pula." Kemudian beliau bersabda: "Permohonan seperti itu telah didahului oleh 'Ukkasyah." (Muttafaq 'alaih)


Lafaz 'Ukkasyah dengan mendhammahkan 'ain serta mensyaddahkan kafnya, tetapi boleh pula kafnya itu diringankan, yakni tidak disyaddahkan lalu dibaca 'Ukasyah. Namun begitu, dengan mensyaddahkan kafnya adalah lebih fasih.


Semoga manfaat.
Photo

Post has attachment
السلام عليكم ورحهةالله وبركاته.
Santun ashar sahabat hati...
Salam silaturrohim...

SAMBUNGLAH SILATURRAHIM
_________________ 💕💗

#Sahabat_yang-dirahmati-Allah...

"Sambunglah silaturahim, karna Allah akan lapangkan rejekimu dan panjangkan umurmu."

“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].

Sahabatku,
Dalam Islam Allah menyuruh umatnya untuk bersilaturrahmi dengan siapapun dan dimanapun. Sebab dalam kehidupan keseharian setiap individu selalu membutuhkan orang lain dan tidak bisa hidup sendiri. Silaturrahmi merupakan ibadah yang sangat mulia, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin hendaknyajangan melalaikannya, karena itu merupakan ibadah yang paling indah yang berhubungan dengan manusia, sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakanbya. Silaturrahmi adalah ibadah juga akhlak yang mulia.

Namun mengapa terkadang kita harus memutuskan tali silaturrahmi hanya karena persoalan sepele, yang notabene karena ada faktor pribadi dan keegoan diri. Alangkah indahnya bila kita bisa menjalin kasih sayang persaudaraan yang baik dengan siapa saja. Janganlah karena rasa ketidak puasan sebab ada ingin yang tak terpenuhi, karena khawatir akan jati diri dan sebagainya, menyebabkan terputusnya tali silaturrahmi.

Bersikaplah bijaksana dalam menyikapi sesuatu masalah, hal-hal yang harusnya bisa di toleransi dan tidak mengurangi kebaikan hendaknya menjadi pertimbangan bagi kita untuk mengambil sikap yang Arif, membuang permusuhan dan selalu menjaga kasih sayang baik itu dengan teman terutama dengan kerabat.

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan)perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
(QS. An-Nahl : 90)

Perintah memberikan bantuan kepada kerabat disini bermakna sebagai perintah untuk bersilaturrahmi. [Muhammad bin Mahdi (2002 : 4 : 73)]

"Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. Ar-Rum :38)

Perintah memberikan hak kepada kerabat itu menurut mayoritas muffasir adalah silaturrahmi dengan memberikan hadiah. [As-Sam'ani (1997 : 4 : 215)]

Sahabatku,
Kita bisa saling berlemah lembut dalam kata, saling mengasihi menyayangi, saling mengunjungi, saling memberi hadiah meski hanya hadiah sederhana saja.
Kecuali ada hal yang tidak bisa ditolelir lagi, misalnya karena banyak membawa dampak keburukannya dari pada kebaikan dalam jalinan tersebut. Namun hendaklah jangan lupa bahwa menyambung silaturrahim dapat meluaskan rezeki, (menjadikan terbukanya pintu rezeki) dan memanjangkan umur (menjadikan umur kita lebih barokah).

Dari Abu Huroiroh r.a. : "Rosulullah bersabda barang siapa yang ingin di luaskan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia mrnyambungkan silaturrahmi." (HR. Bukhori)

______________________________ 💕💗

Semoga bermanfaat...


source : http://Sabarjunianto.blogspot.com> 2016/01

@nursanti 21082017
Photo

Post has shared content
⚠Bahaya Dari Nasi Yang Dimasak Memakai Magic.Com⚠
#info_kesehatan
Tanpa kita sadari, ternyata kebiasaan kita yang memasak nasi memakai Magic Com ini justru telah menjadi Kebiasaan yang Jadi Pemicu Anak Menderita Kanker dan Diabetes.

Alkisah: Pengakuan Salah seorang pemasak nasi yang rutin menggunakan Magic Com.
Hari ini saya cukup Shock. Bagaimana tidak, karena ternyata kebiasaan yang selama ini saya anggap sepele, merupakan perbuatan berbahaya untuk anak anak saya. Istilahnya, saya sayang anak tapi saya pula yang setiap hari memberi anak racun.

Dengan info ini, Saya sangat berterima kasih pada sekolah Zara 'anak saya yang masih TK'. Karena mau mendatangkan seorang konsultan kesehatan untuk kami para orang tua dengarkan. Pak Anto dari Lembaga Konsultan Kanker Indonesia adalah pembicaranya. Ia sempat menjelaskan bedanya Myom, Tumor, Kista dan Kanker.

Tapi masalah ini tampaknya bisa di search di Google ya. Saya diartikel ini hanya ingin menceritakan ulang penjelasan Pak Anto yang membuat saya shock. BAHAYA NASI YANG DIMASAK MENGGUNAKAN MAGIC COM Ini adalah fakta pertama yang membuat saya shock. Tapi syukurlah kalimat tersebut hanya kalimat pembuka Pak Anto saja.

Karena nyatanya nasi dari magic com boleh dimakan. Namun dengan syarat, tidak boleh lebih dari 12 jam di dalam magic com dengan kondisi terus terusan dihangatkan. “Karena nasi yang terus dihangatkan dalam magic com, saat lebih dari 12 jam ia akan berubah menjadi 'RACUN'.”, kata Pak Anto memperingatkan. Sehingga ketika memasak nasi dan sudah matang , ia menyarankan untuk mengeluarkan nasi tersebut dari magic com dan dipindahkan saja di tempat nasi.

Ia melanjutkan, “Nasi yang baik adalah nasi yang dimakan saat sudah dingin, bukan nasi hangat. Karena nasi dingin memiliki kadar gula yang lebih rendah.”.
Inilah mengapa sekarang banyak anak yang menderita diabetes. Karena mereka terbiasa makan nasi hangat dari magic com. Beda dengan orang zaman dahulu yang dimasak di langseng kemudian jika sudah matang akan di letakkan di tempat nasi. Dengan demikian nasi tidak terus menerus dihangatkan.

Saya dan keluarga sering makan di luar. Jadi kadang masak nasi tapi ngga ada yang makan, so magic com jalan teruuus. Besoknya kadang nasi baru terjamah.
Hemm … yang jelas saya sering sekali meletakkan nasi di magic com lebih dari 12 jam.

Sekarang,… sejak ditatar Pak Anto, saya mulai melakukan: Usai habis matang, magic com langsung saya matikan dan nasi saya dinginkan.

Sumber:nilmu99.blogspot. Co. Id
Semoga bermanfaat ya?
Mohon maaf, bila ada salah kata
Terima Kasih 😊☺😊
Photo

Post has attachment
dingin masih terasa
nyanyian malam terdengar sirna
tiada jg lelahku
bersama indah ayatMu

secercah cahaya mentari
hangatkan sapanya
membasuh dingin hati
bangun jiwa dalam asa

embun pagiku yg sejuk
tawarkan tak hiraukan
akan semua hiruk pikuk
yg selalu menawan

kucoba langkahkan disetiap doa
walau raga tak lagi sempurna
Kaulah penguat jiwa
kala semua tak tak berdaya



arief
Photo

Post has shared content
Kupas Jurus Meditasi Hanacaraka

Hanacaraka sebenarnya adalah suatu ‘ilmu luhung’ yang sangat tinggi, maka saya mencoba membawa renungan saya kedalam meditasi untuk mendapatkan makna yang lebih mendalam dan berarti.
Dari renungan dan meditasi yang saya lakukan, perlahan lahan pengertian Hanacaraka yang hanya terdiri dari 20 suku kata tersebut menjadi semakin lama semakin meluas hingga mencakup segala apa yang pernah saya pelajari dan alami. Sampai kepada hal hal yang sekedar pernah saya baca, yang saya sendiri belum mengetahui kebenarannya, ternyata telah tersirat didalam Hanacaraka.
Suatu saat saya merasa bahwa mungkin saya telah menyimpang terlalu jauh dari pokok renungan dan tidak lagi sesuai dengan uraian Kyai Makrus yang saya jadikan bahan renungan semula, kecuali kalimat kalimat singkat yang menyertai ke 20 suku kata Hanacaraka.
Pengertian yang dapat kita ambil dari Hanacaraka tergantung dari Caraka kita masing masing, maka dibawah ini akan saya coba uraikan pengertian yang saya dapatkan, Karena keterbatasan kata kata dan bahasa.
Uraian empat jurus HANACARAKA
Keempat jurus Hanacaraka sebenarnya menyiratkan 4 tingkat alam kehidupan alam semesta yang tidak terbatas hanya kepada insan manusia diatas bumi ini.
Secara ringkas / garis besarnya:
1. Hanacaraka – menyiratkan dasar kesunyataan alam semesta pada tingkat yang tertinggi (mendasar). “ADA’nya Cipta, Rasa dan Karsa sebagai sumber Kekuasaan yang tertinggi. Alam Tritunggal (Ca, Ra, Ka) yang Maha Kuasa.
2. Datasawala – menyiratkan alam kehidupan pada tingkat Monad, Logos. (Atma?) yang berada diluar dimensi ruang dan waktu. Ke-Maha-Kuasa-an yang didasari oleh Cipta, Rasa dan Karsa yang ada pada setiap Logos / Monad mulai dilengkapi dengan ‘kehendak’ / ‘niat’ yang melahirkan “Ingsun”.


3. Padhajayanya – menyiratkan alam kehidupan yang merupakan ‘manifestasi’ dari ‘kehendak’ / ‘niat’ dari jajaran Ingsun (Higher Selves) kedalam alam yang multi dimensi melalui proses evolusi alam semesta beserta seluruh penghuninya. Disini terciptalah dimensi ruang dan waktu serta timbulnya ‘perbedaan’ (dualisme) antara ingsun dan Ingsun (kawula lan Gusti)
4. Magabathanga – menyiratkan alam kehidupan dimana ingsun dengan bimbingan Ingsun (Guru Sejati) dan bantuan Bayu Sejati (bayangan kuasa Allah) melaksanakan ‘misi’nya (karsa) yang timbul dari ‘niat’ untuk ‘meracut’ busana manusia dialam fisik (alam kematian / tidak kekal). Alam jiwa dan raga.
Dengan meng-kaji keempat jurus diatas secara bolak balik dan berulang ulang, saya ‘mendapatkan’ pengertian tentang apa ‘misi’ kita sebenarnya dengan ‘turun’-nya kita ke dunia ini. Pengertian ini belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, dan juga belum pernah saya dapatkan dari ‘ajaran ajaran’ lain yang pernah saya ketahui. (Lihat MISI – Karsa manusia didunia ini.)
1. HANACARAKA - Dasar kesunyataan Ha-na-ca-ra-ka: Hana (ada) Ca, Ra, Ka (Cipta, Rasa, Karsa).

Ha – Huripku Cahyaning Allah. Hidup(ku) adalah cahaya Allah dimana Allah adalah sumber dari cahaya / kehidupan alam semesta. Lain dari definisi ‘hidup’ yang kita kenal selama ini, seluruh alam semesta sebenarnya penuh dengan kehidupan, mulai dari particle atom yang terkecil sampai kepada seluruh planet, bintang dan Galaxi beserta seluruh penghuninya, baik yang berada dalam dimensi kita, maupun dimensi dimensi lainnya yang tidak kita kenal/ketahui.

Na – Nur hurip cahya wewayangan. Nur hidup adalah cahaya yang membayang.
Terpengaruh oleh perlambang dalam permainan wayang, semula saya berkesan bahwa Allah adalah sumber cahaya kehidupan, Nur adalah cahaya yang membayang dan Caraka adalah wayangnya. Dalam konteks tersebut kita akan segera menganggap Caraka (utusan) sebagai Ingsun serta bayangan dilayar adalah ingsun (bayangan dari Ingsun).

Namun setelah saya renungkan kembali, ternyata jurus Hanacaraka ini menyiratkan dasar kesunyataan alam semesta yang berada dua tingkat diatas alam Ingsun. Ingsun baru muncul pada alam ketiga – Padhajayanya. (Maaf kalau pengertian saya tentang kata “Ingsun” mungkin kurang tepat.)

Baik dalam pengertian pertama maupun kedua, sebenarnya bisa kita simak rahasia penciptaan alam semesta yang mempunyai tiga aspek yang manunggal (Tritunggal). Dalam pengertian yang pertama, Ha, Na dan Caraka adalah ketiga aspek tersebut, sedangkan dalam pengertian kedua Caraka sendiri juga mengandung ketiga aspek yang sama yakni Cipta, Rasa dan Karsa.

Ca – Cipta rasa karsa kwasa.
Tritunggal Cipta, Rasa dan Karsa adalah aspek aspek yang mendasari kwasa / kekuasaan yang tertinggi (Maha Kuasa) diseluruh alam semesta.

Ra – Rasa kwasa tetunggaling pangreh.
Aspek Rasa (Rahsa sejati) yang terkandung didalam Tritunggal diatas merupakan aspek kendali dalam kekuasaan yang Maha Tinggi tersebut.

Ka – Karsa kwasa kang tanpa karsa lan niat.
Karsa, hasil ataupun ‘wujud’ dari Tritunggal diatas adalah kwasa / ke-Maha-Kuasa-an yang masih murni, yang belum diwarnai oleh keinginan ataupun kehendak.

Manifestasi dari Tritunggal (Caraka, utusan Allah) yang Maha Kuasa tersebut diatas terjelma / terjadi didalam alam Datasawala yang penuh dengan jajaran Monads, Logos dll. yang berkuasa penuh dalam alam manifestasinya masing masing.



2. DATASAWALA - Alam Monad / Logos (Atma?)

Da-ta-sa-wa-la menyiratkan alam kehidupan pada tingkatan Logos, (Solar / Planetary Logos) dan Monad / Atman. Pengalaman pribadi yang saya alami di bulan Agustus 1985 yang lalu memberikan gambaran tentang alam ini, dimana kesadaran saya terlebur dalam sebuah ‘bola cahaya’, atau lebih tepatnya (karena tak ingat bentuk, pinggiran/batasannya), semacam awan yang mula mula berwarna kelabu dan semakin lama semakin cemerlang.

Juga dialami adanya Rahsa kebahagiaan dan kebebasan yang tiada taranya (sempurna / perfect bliss) serta semacam ‘kesadaran’ tanpa menyadari siapa yang sadar, atas hubungan (inter-connected-ness) diantara ‘segalanya’, termasuk batuan, tumbuhan, hewan serta raga raga manusia walaupun tanpa ‘bentuk’ yang nyata maupun tenggang masa (diluar dimensi ruang dan waktu)

Semula saya mengira bahwa awan cemerlang tersebut adalah segalanya dalam alam semesta ini (ALL THAT IS), namun dari membaca berbagai literature seperti “The RA Material”, “The Only Planet of Choice” dll, saya menganggap bahwa apa yang saya alami mungkin baru mencapai tingkat Monadic atau Atman dan belum sampai kepada kemanunggalan yang tertinggi.

Meminjam istilah RA, yang menyebutnya sebagai “Social Memory Complex”, awan cemerlang tersebut merupakan kesatuan dari berjuta-juta Ingsun (Higher Self) yang ber-evolusi bersama-sama.

“The Only Planet of Choice” menyebutkan adanya 24 “Civilization” utama dengan beratus/ribu sub-civilisations seperti misalnya Atlantean (Atlantis dan Lemuria) yang tergabung dalam “Altean Civilization”. Dalam Al-kitab, 24 Civilization ini disebutkan sebagai 24 tua tua yang duduk disamping Tuhan. (mungkin di Wahyu / Revelation namun entah ayat yang mana)

Ternyata hal hal diatas sudah tersirat dalam rumusan Datasawala secara jelas:

Da – Dumadi kang kinarti
Tumitah/menjadi ada/terjadi dengan membawa maksud, rencana dan makna sebagai Karsa (‘hasil’/’wujud’) dari Tritunggal (Caraka) diatas.

Ta – Tetep jumeneng ing dzat kang tanpa niat.
Tetap berada dalam dzat (Nur hidup cahaya yang membayang) diluar dimensi ruang dan waktu serta masih murni, belum diwarnai oleh kehendak atau niat, walaupun sudah membawa maksud, rencana dan maknanya masing masing.

Sa – Sifat hana kang tanpa wiwit.
Sifatnya ‘ada’ namun tanpa asal usul. Kekal, berada diluar dimensi waktu dimana tidak ada perbedaan antara waktu lalu, sekarang maupun yang akan datang.

Wa – Wujud hana tan kena kinira.
Wujudnya ‘ada’ namun tak berbentuk. Manunggal, berada diluar dimensi ruang dimana tak ada perbedaan antara sini atau sana, dekat atau jauh, atas atau bawah, depan atau belakang.

La – Lali eling wewatesane.
Lupa ingat adalah batasannya. Tersirat dalam kalimat tiga kata diatas adalah terjelmanya free-will, niat, kehendak yang bebas, hanya dengan batasan ‘ingat’ ataupun ‘lupa’ akan maksud, rencana dan makna yang sudah digariskan semula sesuai Karsa Tritunggal diatas.



Dengan timbulnya ‘kehendak bebas’ maka ‘adalah’ / terjadilah Ingsun (Higher Self / Guru Sejati) yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Atman. Setiap Ingsun dilengkapi oleh ‘kehendak’ / niat sesuai dengan karsa, maksud, rencana dan maknanya masing masing.

Manifestasi dari kehendak yang sesuai dengan karsa menciptakan alam ketiga, alam Ingsun yang tersirat dalam rumusan Padhajayanya.

3. PADHAJAYANYA – Alam Ingsun dan ingsun
Pa-dha-ja-ya-nya menyiratkan terciptanya dimensi ruang dan waktu. Dengan adanya dimensi ruang terjadi pula ‘perbedaan’ antara Ingsun dan ingsun. Dan dengan adanya waktu terjadi pula proses evolusi.

Disini tersirat pula hakikat ingsun yang masih bersatu dengan sang Ingsun. Adanya ‘Rasa’ membuat semuanya ‘nyata’ tanpa melihatnya dengan mata, dan semuanya bisa dimengerti walaupun tanpa diajari. Namun demikian dalam alam ini ‘rasa’ yang ada belum dapat diwujudkan.

Per‘wujud’an (karsa) dari rasa tersebut baru ter-manifestasi-kan dalam alam berikutnya.

Pa – Papan kang tanpa kiblat. Papan tak berkiblat.
Kata kata “papan” dan “kiblat” menyiratkan adanya dimensi ruang yang baru pertama kali disebutkan dalam tingkat Padhajayanya. Dihubungkan dengan teori ilmu fisika alam, dalam kalimat ini tersirat terjadinya “Big Bang”. Perlu ditambahkan bahwa masih banyak dimensi dimensi lain diluar ketiga dimensi ruang yang kita kenal.

Dha – Dhuwur wekasane endhek wiwitane. Tinggi/luhur pada akhirnya, rendah pada awalnya.
Terciptanya dimensi ruang segera disusul dengan terciptanya dimensi waktu. Dan dalam kalimat sederhana diatas tersirat pula adanya proses ‘evolusi’ dalam ‘waktu’ yang bermula dari kesederhanaan.

Ja – Jumbuhing kawula lan Gusti. Bersatunya antara hamba dan Tuannya.
Dengan terjadinya dimensi ruang terjadi pula ‘perbedaan’ antara kawula dan Gusti walaupun masih berada dalam kesatuan.

Ya – Yen rumangsa tanpa karsa.
Adanya Rasa namun masih belum dilengkapi dengan karsa. (belum dapat di’wujud’kan).

Nya – Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki.
Dengan adanya Rasa semuanya di’rasa’kan nyata walaupun tanpa melihat dengan mata, dan semuanya bisa mengerti walaupun tanpa diajari.

Kedua kalimat terakhir diatas menggambarkan hakikat ingsun yang masih bersatu dengan sang Ingsun. Dalam alam Padhajayanya yang berdimensi waktu, baik Ingsun maupun ingsun mengalami proses evolusi.

Ingsun sebagai bagian tak terpisahkan dari Monad-nya di alam Datasawala, ber-evolusi di alam Padhajayanya dalam rangka manifestasi dari ‘kehendak’ (niat) yang ada padanya sesuai Karsa yang telah digariskan. Tergantung dari tahapan evolusi yang dicapai, Ingsun dapat merupakan ‘kumpulan’ dari ingsun ingsun yang tak terbilang banyaknya, dimana jajaran ingsun tersebut juga ber-evolusi dari hasil pengalamannya ber-karsa di alam Magabathanga.

4. MAGABATHANGA – Alam jiwa dan raga


Ma-ga-ba-tha-nga menyiratkan alam jiwa dan raga, dimana ingsun ber’karsa’ dengan cara ber re-inkarnasi berulang kali, untuk ‘hidup’ di alam ‘kematian’.

Dalam rangka me’wujud’kan rasa dengan ber’karsa’ dialam kematian, ingsun dibimbing oleh sang Ingsun (Guru Sejati) dan dibantu oleh Bayu Sejati yang merupakan bayangan dari kekuasaan yang tertinggi.

Karsa yang dilaksanakan dengan hidup di alam kematian adalah memberikan ‘hidup’ kepada unsur unsur yang ada (tanah, air, udara dan api) serta meracutnya sedemikian rupa sesuai dengan rasa yang hendak di-karsa-kan (diwujudkan).

Ma – Mati bisa bali. Mati bisa kembali.
Dalam hal ini, ingsun yang memasuki alam kematian memberikan ‘hidup’ kepada unsur unsur yang ada, akan kembali kealam kehidupan.

Ga – Guru Sejati kang muruki
Dalam rangka ber-‘karsa’, ingsun dibimbing oleh Ingsun (Guru Sejati)

Ba – Bayu Sejati kang andalani
Bayu Sejati yang merupakan bayangan kekuasaan yang maha tinggi merupakan bantuan yang dapat diandalkan dalam ber-karsa.

Tha – Thukul saka niat.
Karsa yang dilakukan dengan masuknya ingsun ke alam kematian timbul dari niat / kehendak yang luhur, yang timbul pada saat ‘lahirnya’ Ingsun sebagai bagian dari Monad di alam Datasawala.

Nga – Ngracut busananing manugsa
Meracut busana manusia ternyata adalah ‘misi’ utama dari ingsun yang menjelma sebagai manusia.
MISI – Karsa manusia di dunia ini.
Dari meng-kaji keempat jurus Hanacaraka secara bolak balik secara berulang kali selama dua minggu, pada akhirnya saya mendapatkan suatu gambaran tentang apa yang terjadi di alam semesta ini, dan apa sebenarnya ‘misi’ kita menjelma menjadi manusia secara berulang kali. Hal mana terjadi ketika saya mencoba menelusuri Hanacaraka dari bawah keatas, dari Nga sampai kepada Da dan secara tiba tiba teringat akan ajaran agama Hindu tentang Trimurti (Brahma, Wishnu dan Shiva) serta istilah Theosophy – The First, Second and Third Outpourings dalam buku “Man visible and invisible” yang menerangkan proses evolusi.
Gabungan agama Hindu, Theosophy dan Hanacaraka di jurus Datasawala, secara tiba tiba membuka suatu wawasan yang sama sekali baru bagi saya.
Jurus Datasawala diatas menyiratkan alam pada tingkat Logos dan Monad yang memanifestasikan kehendaknya di alam Padhajayanya melewati proses evolusi. Menurut ajaran Theosophy evolusi alam terjadi dalam tiga tahapan. The First Outpouring menciptakan alam elemental (mulai dari energy yang berevolusi sampai kepada unsur unsur kimia yang ada), The Second Outpouring memberikan bentuk kepada elemen elemen tersebut mulai dari terbentuknya bintang dan planet sampai kepada hewan. (Mineral, Vegetation and Animal Kingdoms), dan The Third Outpouring memberikan esensi ke-Allah-an yang akan mendorong evolusi dari Animal Kingdom melalui Manusia kembali ke Tuhan/Allah.
Disini juga terlihat analogy dengan Trimurti dari ajaran Hindu dimana Dewa Brahma (Pencipta) analog dengan The First Outpouring. Dewa Wishnu (Pemelihara) analog dengan The Second Outpouring dan Dewa Shiwa (Perusak) analog dengan The Third Outpouring yang merusak/merubah untuk mendorong terjadinya evolusi.


Kembali ke Hanacaraka dari atas ke bawah, dari Ha sampai ke Nga, terlihat jelas bahwa “Ngracut busananing manugsa” adalah misi ingsun dan Ingsun untuk berpartisipasi dalam proses evolusi di bumi ini sebagai bagian dari The Third Outpouring.
Dihubungkan dengan ajaran Seni pernapasan Tapak Panca, misi untuk meracut busana manusia ini adalah sama dengan mengajak dan mendorong saudara saudara kita yang 9 untuk ber-evolusi. Saudara saudara kita tersebut sebenarnya merupakan bagian dari planetary logos bumi ini (Gaia) yang merupakan sub-logos dari Solar Logos yang mempunyai ‘acara’nya sendiri dalam memanifestasikan Cipta, Rasa, Karsa yang ada padanya. Kita adalah ‘tamu’ yang datang untuk membantu.
Cerita tentang benua Atlantis yang tenggelam (hancur) menimbulkan pemikiran bahwa mungkin perkembangan evolusi yang terjadi pada saat itu telah menyimpang dari jalur evolusi yang sudah digariskan sebelumnya oleh Solar Logos dan kehendaki oleh Gaia.
Apakah perjalanan misi kita, manusia saat ini, masih sesuai dengan jalur evolusi Gaia yang telah digariskan????
Silahkan melanjutkan renungan ini
Animated Photo

Post has attachment


teduh...
kubersadar dinuansa kasihmu
damai...
dalam peluk rindumu

tak bisa...
kuurai kala senja berkabut
tak mampu..
kubendung sungai nelangsa

hanya mata yg terpejam
diantara relung yg dalam
hanya bayang yg menghampiri
disisa kasih yg murni


arief
Photo

Post has attachment
السلام عليكم ورحهةالله وبركاته.
Selamat malam sahabat hati...
Selamat rehat diperaduan kasih keluarga tercinta.

8 TIPE MANUSIA DENGAN 8 KARAKTER
________________________ ❄🌾

مَنْ جَلَسَ مَعَ ثَمَانِيَةِ أَصْنَافٍ مِنَ النَّاسِ، زَادَهُ اللَّهُ ثَمَانِيَةَ أَشْيَاءَ :

١. مَنْ جَلَسَ مَعَ الْأَغْنِيَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ حُبَّ الدُّنْيَا وَالرَّغْبَةَ فِيهَا،

٢. وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُقَرَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الشُّكْرَ وَالرِّضَا بِقِسْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى،

٣. وَمَنْ جَلَسَ مَعَ السُّلْطَانِ، زَادَهُ اللَّهُ الْكِبْرَ، وَقَسَاوَةَ الْقَلْبِ،

٤. وَمَنْ جَلَسَ مَعَ النِّسَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الْجَهْلَ، وَالشَّهْوَةَ، وَالْمَيْلَ إِلَى عُقُولِهِنَّ،

٥. وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصِّبْيَانِ، زَادَهُ اللَّهُ اللَّهْوَ وَالْمِزَاحَ،

٦. وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُسَّاقِ، زَادَهُ اللَّهُ الْجُرْأَةَ عَلَى الذُّنُوبِ، وَالْمَعَاصِيَ وَالْإِقْدَامَ عَلَيْهَا، وَالتَّسْوِيفَ فِي التَّوْبَةِ،

٧. وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصَّالِحِينَ، زَادَهُ اللَّهُ الرَّغْبَةَ فِي الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابَ الْمَحَارِمَ،

٨. وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْعُلَمَاءِ، زَادَهُ اللَّهُ الْعِلْمَ وَالْوَرَعَ.

“Barangsiapa sering bergaul dengan 8 tipe orang berikut, Allah akan menambahkan 8 hal untuknya :

🌀 Barangsiapa sering bergaul dengan orang-orang kaya, Allah akan menambahkan rasa cintanya terhadap dunia.

🌀 Barangsiapa sering bergaul dengan orang-orang miskin, Allah akan menambahkan rasa syukur dan rela terhadap pembagian Allah.

🌀 Barangsiapa sering bergaul dengan penguasa, Allah akan menambahkan rasa sombong dan hati yang keras.

🌀 Barangsiapa sering bergaul dengan para wanita, Allah akan menambahkan kebodohan, syahwat dan cara berpikir seperti wanita.

🌀 Barangsiapa sering bergaul dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan permainan sia-sia dan canda tawa.

🌀 Barangsiapa sering bergaul dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahkan keberanian untuk melakukan dosa dan maksiat serta menunda-nunda taubat.

🌀 Barangsiapa sering bergaul dengan orang-orang shalih, Allah akan menambah rasa cintanya kepada ketaatan dan menjauhi hal-hal yang diharamkan.

🌀 Barangsiapa sering bergaul dengan para ulama, Allah akan menambahkan ilmu dan waro (menjauh dari perkara samar).

Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam bersabda:

«الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ؛ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»

“Seseorang akan cenderung mengikuti cara hidup temannya. Maka hendaknya setiap orang memperhatikan siapa yang ia jadikan sebagai temannya.”

___________
[Tanbihul Ghafilin, Imam Abul Laits as-Samarqandi, hal. 442]

______________________________ ❄🌾


Semoga bermanfaat...


#Islamkitaindah #hikmah

Photo
Wait while more posts are being loaded