Post has shared content

NEK ora arep bid 'ah, gampang.
ojo nganggo HP, ojo kathokan, ojo cawetan, ojo nonton TV, ojo nganggo motor / speda ojo belajar tajwid, ojo moco kur an,jare hasil bid,ah, ojo solat jenazah: isine dongak ke mayit,ojo moco solawat isine wasilah, balio marang jaman jahiliyah ngqnggp onta. dsb.
nang kampung rasah ngopeni cangkeme wong sok pinter neng keblinger. hukum fiqih duwure selangit ning urung ngaji hukum dasare ,, ibarat tanpa sd,smp ,sma tapi langsung kuliah 

Post has shared content
QULLU BIT ATIN DHOLALAH ,PEMAHAMAN INI KALO DI ARTIKAN APA ADANYA ,TANPA ILMU , USUL FIQIH AKAN BERTENTANGAN DGN AMALAN UMAT ISLAM TDK TERHINDARKAN , KARNA DI SISI LAIN KITA HARUS MELAKUKAN YG BERTENTANGAN DGN HADIS INI, CONTOH, HUTBAH JUM AT DGN BHS INDONESIA, MEMBACA DAN PERCAYA TERJEMAHANBHS INDONESIA,BAIK DARI QUR AN ATAU HADIS(hadis dgn terjemahan indo), mempelajari ,tajwid, nahwu sorof, bahkan , penjilidan alkur an jg termasuk menyalahi,hadis ini', yang sebenarnya bid ah sendiri bukan hukum ,terapi dikembali pada hukum 5 , , maka barang siapa memaknai hadis itu dgn semua bid ah itu sesat tanpa terkecuali, maka sudah pazti org tersebut , akan terjerumus, jatuh pada kesesatan nyata, anehnya ,fatwa ini sering disampaikan oleh ustad ,yang mengaku ahlussunah, yang tingkat keilmuanya jauh dibawah ulama ,ahli tafsir, usul fiqih, manteq, alfiah ibnu malik ,sarah ,iklal, dan ilmu alat lainya , yang bertujuan meluruskan arti yg sesungguhny, ( ulama akan jadi ulama sejati ketika yang menyebut nya seorang alim ulama, ) ustad sejati ,bknlah muridnya yg bilang dia ustad, tapi ulama yg menyebutnya, )

Post has shared content
13 HIKMAH YANG MENGINSPIRASI

بِسْــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

1⃣ Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah maka Anda akan bahagia.

2⃣ Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka Anda akan menjadi kaya.

3⃣ Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka Anda akan termotivasi.

4⃣ Jangan menunggu dipedulikan orang baru Anda peduli, tapi pedulilah dengan orang lain, maka Anda Anda dipedulikan.

5⃣ Jangan menunggu orang memahami Anda baru Anda berusaha memahami dirinya, tapi pahamilah orang itu, maka orang itu akan memahami Anda.

6⃣ Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam diri Anda.

7⃣ Jangan menanti ada order baru bekerja, tapi bekerjalah, maka order akan menanti Anda.

8⃣ Jangan menunggu dicintai baru belajar mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka Anda akan dicintai.

9⃣ Jangan menunggu rezeki baru bertakwa, tapi bertakwalah maka rezeki akan menunggu Anda dari jalan yang tidak disangka-sangka.

🔟 Jangan menunggu ada contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka Anda akan menjadi contoh yg diikuti.

1⃣1⃣ Jangan menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukurlah, maka Anda akan bertambah sukses.

1⃣2⃣ Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah, maka Anda akan bisa.

1⃣3⃣ Jangan menunggu waktu luang untuk belajar, tapi luangkanlah waktu untuk belajar maka Anda akan menjadi orang berilmu.

[Risalah ini saya dapati disebar tanpa ada nama penulisnya dan Saya koreksi seperlunya. Semoga Allah merahmati dan membalas penulisnya dengan kebaikan]

➖➖➖➖➖➖➖➖
📝 @abinyasalma
(not as the author or translator)

📂 Grup al-Wasathiyah wal I'tidål

Reposted by :
👥 Grup wa manhaj salaf
Channel telegram salafyways
https://goo.gl/vLphkg
Photo

Post has shared content
Jangan anggap kalau rizki itu hanya fulus
Bismillahirrahmaanirrahiim

7 DZIKIR PEMBUKA PINTU RIZQI
______________________________________________

⚫.Memperbanyak membaca,La Hawla wala Quwwata illa billah
"Barangsiapa yang lambat datang rizqinya hendaklah banyak mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah.[HR.At Tabrani]

⚫.Membaca,Laa ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin
"Barangsiapa setiap hari membaca La ilaa Illallahul Malikul Haqqul Mubin maka bacaan itu akan menjadi keamanan dari kefakiran dan menjadi penentram dari rasa takut dalam kubur".
[HR.Abu Nu'aim dan Ad Dailami]

⚫.Membaca,Subhanallah wa bihamdihi Subhanallahil Adzim.
"Dari setiap kalimat itu seorang MALAIKAT yang BERTASBIH kepada Allah Ta'alaa sampai hari kiamat yang pahala tasbihnya diberikan untukmu".
[HR.Al Mustaghfiri dalam Ad Da'awat].

⚫.Membaca Surat Al Ikhlas
"Barangsiapa membaca surat al ikhlas ketika masuk rumah maka berkah bacaan mengilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya".
[HR.Tabrani]

⚫.Membaca Surat Al Waqiah
"Barangsiap membaca surat al waqi'ah setiap malam...maka TIDAK akan ditimpa kesempitan hidup".
[HR.Al Baihaqi dalam Syu'ab Al Imam]

⚫.Membaca Shalawat keatas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
Dari Umar bin Khattab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali shalawat maka Allah akan membalas sepuluh kali shalawat dan mengangkatnya sepuluh DERAJAT".
[Dikeluarkan Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad,Ibnu Abu Syaibah..al Bazzar..Ibnu Syahiin dan al ismaili dengan sanad ma'lul]

⚫.Melazimkan istighfar
"Barangsiapa melazimkan istighfar maka niscaya Allah akan mengeluarkan dia dari kesusahan dan memberikan rizqi dari arah yang tidak diduga duga".
[HR.Ahmad,Abu Dawud dan Ibnu Majah]

Photo

Post has shared content
🌙RENUNGAN DI PENGHUJUNG RAMADHAN🌙
Kualitas amaliah kita kepada Allah subhanahu wata'ala tidak diukur melalui jumlah, kuantitas, berat, dan ringannya ibadah. Akan tetapi, diukur oleh jiwa yang ikhlas. Keikhlasan itu hanya muncul dari jiwa yang zuhud, hati yang tidak dipenuhi oleh hasrat, kecuali hanya kepada Allah. Karena itu, walaupun kecil, sedikit, dan barangkali sepele, jika amaliah itu muncul dari jiwa yang zuhud, nilainya justru besar dan banyak.

Sebaliknya, jika amaliah itu dihitung dengan kuantitas, bahkan dilakukan oleh ribuan orang, tapi keikhlasan dan kezuhudan tidak tertanam dalam hatinya, sebanyak apa pun amaliah itu tetap dinilai kecil. Bagi seorang zahid, amaliah adalah sesuatu yang muncul dari jiwa yang kosong dan dari kepentingan nafsu duniawi. Karena itu, "Dua rakaat dari seorang alim yang zahid itu lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah orang yang beribadah, tapi penuh ambisi duniawi," terang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan melalui Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu

Dengan demikian, ukuran kualitas amal kita terletak dari keikhlasan dan kezuhudan meraih ridha Allah subhanahu wata'ala dan surga-Nya. Nah, Ramadhan sebenarnya datang untuk meletakkan pemahaman kita dalam 'halte' ini. Kita berpuasa lalu berbuka. Kita tegakkan yang wajib, bahkan ditambah dengan yang sunah, tangan kita terbuka dan membentang sedekah, yang semua itu harus dikendarai dengan penuh keikhlasan dan kezuhudan sehingga akan mudah sampai pada terminal ridha dan surga-Nya.

Kini, secara perlahan, Ramadhan yang agung akan meninggalkan kita. Tinggal menghitung hari, kita akan menyelesaikan ibadah puasa dan setelah itu berlebaran. Lantas muncul pertanyaan, apa yang telah kita dapat selama bulan penuh rahmat dan ampunan ini? Apakah ada sesuatu yang baru dapat kita petik dari hikmah puasa yang bakal kita terapkan dalam kehidupan kita setelah Ramadhan? Apakah puasa kita kali ini tidak jauh beda dengan puasa-puasa sebelumnya?

Berbagai pertanyaan itu patut kita sampaikan dalam rangka merenungkan kembali apa yang telah kita lakukan selama menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak yang mengatakan, kecenderungan kita lebih banyak melaksanakan ibadah puasa sebagai ritual rutin karena bulan Ramadhan akan selalu ditemui setiap tahun. Banyak orang berpuasa karena memang waktunya berpuasa. Kita berpuasa malah karena kebanyakan orang berpuasa. Artinya, puasa tidak lebih karena mengikuti tradisi.

Tentu saja kita semua tidak mau dituduh berpuasa karena mengikuti tradisi. Bagaimanapun, ada juga dalih bahwa kita berpuasa karena benar-benar mau mengikuti ajaran agama. Ada yang ingin kita kejar yaitu kesucian diri dan kemenangan. Ada yang ingin kita incar, yaitu menjadi manusia ikhlas, zuhud, dan istikamah dalam merangkai ketakwaan.

Dalam takwa, ada keseriusan dan ketaatan. Berarti Ramadhan menempa kita untuk menjadi manusia yang serius dalam ketaatan kepada-Nya. Dengan demikian, kesucian diri itu akan kita dapatkan dan kemenangan pun bisa kita raih, yaitu kembali kepada kesucian dan meraih kemenangan di hari yang fitri.

Oleh:Ustadz Muhammad Arifin Ilham
Semoga bermanfaat, menjadi renungan kita semua.
Photo

Post has shared content
✔Ta’ati Suamimu, Surga Bagimu


Surga atau Neraka Seorang Istri

Bismillaah...

✔Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Suami adalah surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi keridhoan Allah. Istri yang tidak diridhoi suaminya karena tidak taat dikatakan sebagai wanita yang durhaka dan kufur nikmat.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah pun menjawab bahwa diantarantanya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. (HR Bukhari Muslim)

✔*Kedudukan Hak Suami*

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri). (HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, “hadis hasan shahih.” Dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani)

Hak suami berada diatas hak siapapun manusia termasuk hak kedua orang tua. Hak suami bahkan harus didahulukan oleh seorang istri daripada ibadah-ibadah yang bersifat sunnah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh bagi seorang perempuan berpuasa sementara suaminya ada di rumah kecuali dengan izinnya. Dan tidak boleh baginya meminta izin di rumahnya kecuali dengan izinnya.” (HR Bukhari Muslim)

Dalam hak berhubungan suami-istri, jika suami mengajaknya untuk berhubungan, maka istri tidak boleh menolaknya.

“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR Bukhari Muslim)

✔*Berbakti Kepada Suami*

Diantara kewajiban seorang istri atas suaminya juga adalah, hendaknya seorang istri benar-benar menjaga amanah suami di rumahnya, baik harta suami dan rahasia-rahasianya, begitu juga bersungguhnya-sungguh mengurus urusan-urusan rumah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Dan wanita adalahpenanggungjawab di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR Bukhari Muslim)

Syaikhul Islam berkata, “Firman Allah, “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diriketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An Nisa [4]: 34)

Ayat ini menunjukkan wajibnya seorang istri taat pada suami dalam hal berbakti kepadanya, ketika bepergian bersamanya dan lain-lain. Sebagaimana juga hal ini diterangkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Majmu Al Fatawa 32/260-261 via Tanbihat, hal. 94, DR Shaleh Al Fauzan)

Berkhidmat kepada suami dengan melayaninya dalam segala kebutuhan-kebutuhannya adalah diantara tugas seorang istri. Bukan sebaliknya, istri yang malah dilayani oleh suami. Hal ini didukung oleh firman Allah, “Dan laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita.” (QS. An Nisa [4]: 34)

Ibnul Qayyim berdalil dengan ayat diatas, jika suami menjadi pelayan bagi istrinya, dalam memasak, mencuci, mengurus rumah dan lain-lain, maka itu termasuk perbuatan munkar. Karena berarti dengan demikian sang suami tidak lagi menjadi pemimpin. Justru karena tugas-tugas istri dalam melayani suami lah, Allah pun mewajibkan para suami untuk menafkahi istri dengan memberinya makan, pakaian dan tempat tinggal. (Lihat Zaad Al-Ma’aad 5/188-199 via Tanbihat, hal. 95, DR Shaleh Al Fauzan)

Bukan juga sebaliknya, istri yang malah menafkahi suami dengan bekerja di luar rumah untuk kebutuhan rumah tangga.

✔Tidak Keluar Rumah Kecuali Dengan Izin Suami

Seorang istri juga tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami. Karena tempat asal wanita itu di rumah. Sebagaimana firman Allah, “Dan tinggal-lah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian.” (QS. Al Ahzab [33]: 33)

Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan.” (Tafsir Al Quran Al Adzim 6/408). Dengan demikian, wanita tidak boleh keluar rumah melainkan untuk urusan yang penting atau termasuk kebutuhan seperti memasak dan lain-lain. Jika bukan urusan tersebut, maka seorang istri tidak boleh keluar rumah melainkan dengan izin suaminya.

Syaikhul Islam berkata, “Tidak halal bagi seorang wanita keluar rumah tanpa izin suaminya, jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat nusyuz (durhaka), bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.”

Penutup

Semua ketentuan yang telah Allah tetapkan di atas sama sekali bukan bertujuan membatasi ruang gerak para wanita, merendahkan harkat dan martabatnya, sebagaimana yang didengungkan oleh orang-orang kafir tentang ajaran Islam. Semua itu adalah syariat Allah yang sarat dengan hikmah. Dan hikmah dari melaksanakan dengan tulus semua ketetapan Allah di atas adalah berlangsungnya bahtera rumah tangga yang harmonis dan penuh dengan kenyamanan. Ketaatan pada suami pun dibatasi dalam perkara yang baik saja dan sesuai dengan kemampuan. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan kepada kita semua keluarga yang barakah.***Wallahu ‘alam.



Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc
Artikel Muslim.Or.Id



Sumber: https://muslim.or.id/9109-taati-suamimu-surga-bagimu.html
Photo

Post has shared content
KEWAJIBANKU KEBAHAGIAANKU

Banyaknya warna-warni kehidupan berumah tangga merupakan sumber percekcokan dan sekaligus hiasan taman pasutri.

Banyak pasutri yang melalui kehidupannya dengan kesenjangan, sehingga muncul banyak percekcokan.

Dan tidak sedikit percekcokan yang terjadi berakhir pada goncangnya bangunan rumah tangga sampai roboh dan tidak menyisakan sedikitpun sisi-sisinya. 

Namun juga tidak sedikit pasutri yang justru mendapat anugerah sangat besar dari percekcokan yang terjadi antara keduanya.

Simpul cinta kasih yang semakin kuat, keakraban yang mendalam, penghargaan dan penghormatan antara pasutri yang tinggi, dan banyak lagi anugerah lainnya yang menghiasi taman pasutri.

Kalau kita pelajari kenyataan di atas, maka tanggung jawab tiap-tiap diri pasutri kepada pasangannya memiliki peran sangat besar atau bahkan paling besarnya faktor penyebab keretakan sekaligus kokohnya bangunan rumah tangga.

Kapan saja tanggung jawab itu terabaikan maka semakin rapuhlah pilar bangunan rumah tangga. Sebaliknya, kapan saja tanggung jawab tertunaikan dengan baik maka tegak dan kokohlah pilar rumah tangga tersebut.

Dalam masalah tanggung jawab ini Allah telah menetapkan kaidahnya dalam firman-Nya:

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."   (QS. al-Baqoroh [2]: 228)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan hal ini dalam sabda beliau:

“Bertaqwalah kepada Allah, wahai para suami, terhadap isteri-isteri kalian. Sesungguhnya kalian telah mengambil mereka sebagai isteri dengan jaminan keamanan dari Allah, dan kalian menghalalkan farji-farji mereka dengan kalimat Allah. Ingatlah di antara kewajiban mereka yang merupakan hak kalian adalah jangan sampai mereka mengizinkan laki-laki manapun yang tidak kalian suka menginjak pembaringanmu, bila mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak membuat rusaknya tubuh mereka, sedangkan di antara kewajiban kalian yang merupakan hak mereka adalah kalian cukupi sandang dan pangan mereka, yang demikian itu hendaknya ditunaikan dengan cara yang baik.”   (HR. Muslim: 2137)

Ayat dan hadits di atas menetapkan tentang hak dan kewajiban tiap-tiap diri pasutri. Di mana hak-hak isteri adalah tanggung jawab suami menunaikannya, sedangkan hak-hak suami merupakan tanggung jawab isteri menunaikannya, semua ini sesuai dengan timbangan kebaikan bersama, tidak berlebihan sehingga sia-sia dan tidak pula kurang dari apa yang dibutuhkan sehingga menzhalimi.

Dari sini ada hal yang harus dipahami oleh tiap-tiap diri pasutri tentang hak-hak serta kewajiban mereka terhadap pasangannya, bahwa hak-hak para isteri adalah apa yang harus ditunaikan oleh para suami mereka dengan baik, sedangkan hak-hak para suami adalah apa yang harus ditunaikan oleh isteri-isteri mereka dengan baik pula. 

Sehingga para isteri tidak akan menerima hak-hak mereka sebagai seorang isteri bila suaminya tidak bertanggung jawab menunaikan kewajibannya, demikian juga para suami tidak akan mendapatkan hak-hak mereka sebagai seorang suami bila isteri enggan menunaikan kewajibannya atau menelantarkannya. Sehingga seharusnya tiap-tiap diri pasutri menunaikan apa yang wajib ia tunaikan bagi pasangannya dengan baik.

Sebagaimana yang telah kita ketahui dan telah kita pahami serta rasakan, bahwa kita merasa sangat bahagia bila hak-hak kita terpenuhi dengan baik, dan sebaliknya sangat menderita dan sengsara bila hak-hak kita terabaikan, apalagi bila ditambah di atasnya ada beban kewajiban.

Bagaimana perasaan suami yang isterinya tidak memahami atau bahkan tidak mau tahu hak-hak suaminya, betapa merana suami yang tidak terpenuhi hak-haknya lantaran isteri tidak tahu kewajibannya sebagai isteri.
Demikian juga betapa berat beban penderitaan isteri tatkala suaminya buruk akhlaqnya, tidak lagi mau tahu kebutuhan isterinya bahkan tidak memberikan kebaikan apapun meski sekedar bermanis muka dan bertutur kata yang santun kepada isterinya sekalipun, nas’alullahal ‘afiyah wassalamah.

Oleh karena itu, wahai saudaraku para suami, juga saudariku para isteri, ilmuilah kewajiban-kewajibanmu sebagai seorang suami maupun sebagai seorang isteri lalu tunaikanlah dengan baik sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala serta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan hal itu. 

Wahai para suami, berikanlah hak-hak isterimu dengan baik, sesungguhnya isterimu memiliki hak-hak yang harus kalian tunaikan.

Demikian juga kalian wahai para isteri, jangan telantarkan hak-hak suami kalian, sesungguhnya di pundak-pundak kalian ada tanggung jawab menunaikan hak-hak suami kalian.

Adalah sekedar sebuah impian yang tidak pernah akan terwujudkan bila seorang suami mendamba kebahagiaan hidup berumah tangga dengan isterinya sementara ia tidak menunaikan kewajibannya.

Demikian pula sekedar khayalan dan fatamorgana belaka harapan para isteri menjadi figur isteri idaman dan pujaan bagi para suami serta harapan para isteri menggapai kebahagiaan, kalau ia enggan menunaikan kewajibannya.

Ketahuilah, bahwa kebahagiaanmu sangat bergantung pada tertunaikannya hak-hakmu, sementara hak-hak masing-masing kalian tidak akan didapat selain dengan saling menunaikan kewajiban.

Maka, bila kita menghendaki kebahagiaan, hendaknya kita tunaikan kewajiban, sebab tertunaikannya kewajiban adalah pangkal didapatkannya kebahagiaan.

Dengan ma’unah Allah dan izinNya, kita gapai kebahagiaan dengan saling menunaikan kewajiban.

Wallahu A’lamu bish showab, Wahuwal Muwaffiq.

Sumber : https://alghoyami.wordpress.com
Photo

Post has shared content
WANITA PEMEGANG BARA API


Di zaman sekarang ini, banyak wanita, kaum Muslimah, yang kehilangan suri tauladan.

Betapa banyak diantara kita yang menjadikan orang-orang fasik sebagai contoh dalam kehidupan, atau paling tidak yang paling sering kita baca dan dengar kisahnya, menyebut mereka sebagai bintang.

Padahal dari kisah-kisah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, ada banyak tokoh wanita yang patut dijadikan suri tauladan. Merekalah bintang yang sesungguhnya.

Dimana posisi kita dibandingkan dengan Masyitha, wanita tukang sisir puteri Fir’aun, yang tetap teguh menyaksikan anak-anaknya satu persatu dimasak ke dalam minyak panas untuk membuat dirinya berpaling dari tauhid kepada Allah, hingga akhirnya dia dan bayinya beserta seluruh anaknya mati dalam siksaan Fir’aun itu?

Pada saat ini, kita hanya sekedar mendengarkan cemoohan orang-orang bodoh dan benci terhadap ajaran Islam, yang mengatakan bahwa mengenakan jilbab adalah tanda keterbelakangan, kita menjadi malu dan rela menanggalkan hijab dan membuka aurat, padahal kita juga menginginkan surga!

Dimana posisi kita dibandingkan dengan Asiah, sang Ratu isteri Fir’aun, yang rela meninggalkan kedudukannya sebagai wanita utama di dunia, di kerjaan seseorang yang paling berkuasa saat itu, dengan tabah menjalani siksaan yang begitu pedih untuk memeprtahankan aqidahnya, hanya berharap kepada Allah untuk menjadikannya pemilik rumah di Surga.

Sedangkan kita pada saat ini, hanya sekedar menampakkan agama dan menjalankan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam pun kita malu, dan bahkan mencemooh orang-orang yang teguh di atas sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Padahal kita juga mengharapkan Surga!

Sungguh, seseorang yang hendak menegakkan agamanya pada hari ini terasa sangat berat.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

”Akan datang suatu zaman kepada manusia di mana orang yang memegang agamanya ibarat orang yang menggenggam bara api.”  (HR Tirmidzi 2140)

Tulisan ini mengajak kita untuk mengenal dan meneladani mereka, wanita penggenggam bara api.

Wanita-wanita yang teguh di atas agamanya, meski harus mengorbankan dirinya. 

Para wanita yang diabadikan dalam sejarah Islam akan ketinggian kedudukannya di sisi Allah, karena keteguhan mereka di atas akidah dan keimanan terhadap Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Ustadz Abu Zubair Hawaary


Photo

Post has shared content
MAHKOTA YG DAHSYAT....

1. Mahkota Dzikir:

Laa ilaaha illAllahu wahdahu laa syarikalah lahul mulku wallahul hamdu wahuwa 'alaa kulli sya'in qadiir.

2. Mahkota Tasbih:

Subhanallah wabihamdihi 'adada khalqihii waridha nafsihii wa zinata 'arsyihii wa midaada kalimaatihi

3. Mahkota Doa :

Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafil 'aakhirati hasanatau waqinaa 'adzaa bannaar

4. Mahkota Istighfar:

Allahumma Anta rabbii Laa ilaaha illaa anta, khalaktani wa anaa abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wawa'dika mas tatha'tu, a' uudzubika min
syarri maa shana'tu, wa abuu'u laka bini'matika 'alayya wa abuu'u bidzanmbii faghfirlii fa innahu laa yaghfirufz dzunuuba illaa anta.

5. Mahkota Perlindungan:

Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil Ardhi walaa fis-samaa-i wahuwas samii'ul 'aliim.

6. Mahkota Pelepas Bencana:

Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzh-dzhalimiin.

7. Mahkota Penenang Hati:

Laa haula walau quwwata illaa bilaahil 'aliyyil 'adzhiim.

*Saudaraku...jadikanlah Mahkota-mahkota ini menghiasi kepala dan membasahi Lisanmu.

-Bagikan Doa-doa ini dengan niat baik mudah-mudahan Allah mengangkat segala Cobaan dan Musibah kita di dunia dan di Akherat.

Mari amalkan dan bagikan karena engkau tidak tahu pahala mana yang akan memasukkanmu ke dalam Surga Allah.. Aamiin Allahumma Aamiin
Photo

Post has shared content
"TENTANG PENGERTIAN IKHLAS"
*TENTANG PENGERTIAN “IKHLAS”*
“KEIKHLASAN” yang dituntut di sini (ibadah & ubudiyah) sehari” seorang mu’min adalah segala macam keikhlasan sesuai dengan tingkat masing-masing orang (ikhlasnya seorang syari’at,ikhlasnya seorang thoriqot,ikhlasnya orang ma’rifat ,ikhlasnya orang haqiqat).

1- Ikhlasnya orang biasa adalah terbebasnya amal perbuatannya dari segala bentuk riya’ seperti pamer, ingin dipuji, ingin dilihat atau didengar orang, ingin balasan dari manusia, ingin dianggap baik, ‘ujub (membanggakan diri) dan sebagainya sehingga amalnya murni dilakukan untuk mengharap balasan dari Alloh semata, baik mendapat surga atau pun terbebaskan dari neraka. Ini adalah tingkatan ikhlas kebanyakan orang.

2- Dalam tingkatan ikhlasnya seorang thoriqot ini seorang salik (penempuh jalan menuju Alloh) melihat adanya perannya sendiri dalam amal yang ia lakukan dan berharap dengan itu ia akan memperoleh balasan yang baik dari Alloh. Adapun ikhlasnya para muhibbin (orang-orang khusus yang cinta mati terhadap Alloh) lebih tinggi dari tingkatan orang biasa tersebut.

Para muhibbin melakukan amal kebaikannya bukan karena ingin balasan surga atau dijauhkan dari neraka, melainkan murni dipersembahkan pada Alloh karena Dia memang berhak untuk itu.

Bagi mereka, Alloh memang sepatutnya disembah tanpa harus memberi balasan apapun pada yang menyembah dan yang menyembah tidak layak menuntut apapun dari Alloh karena ibadahnya merupakan kewajiban yang memang harus dilakukan. Betapa luhur dan sulitnya tingkatan ini, tapi meski demikian dalam tingkatan ini seorang salik juga masih melihat adanya
perannya sendiri dalam amal yang dilakukannya.

3-Dalam tingkat ini Sebagian ulama ahli hakikat, di antaranya Syaikh al-Qusyairi,menjelaskan tentang Ikhlasnya orang ma’rifat adalah maqom khos serta menyebut tingkatan di atas sebagai tingkatan iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu kami menyembah) yang berarti kami tidak menyembah siapa pun kecuali pada-Mu dan kami tidak mempersekutukan-Mu dengan yang lain.

Yang ditekankan dalam tingkatan ini adalah penyatuan tujuan amal, yakni murni pada Alloh atau sering juga disebut dengan al-‘amal lillah (tindakan untuk Alloh).

Ada tingkatan yang lebih tinggi lagi dari keduanya, yaitu tingkatan para muqarrabinAL-Muwakhhidiin (haqiqat) yaitu orang” yang didekatkan oleh Alloh pada-Nya dengan melalui panggilan (HIDAYATU AL-IMAAN BI AL-TAUHID) .

Istilah ini dipakai dalam dunia sufi untuk menunjukkan bahwa kedekatan pada Alloh pada hakikatnya bukan hal yang dicapai tapi diberi sehingga istilahnya adalah “Yang didekatkan”, bukannya “Yang mendekatkan diri” atau pun “Yang sudah dekat”).

Dalam tingkatan tertinggi ini, seorang salik tidak lagi melihat adanya peran dirinya sendiri dalam amal perbuatan yang ia lakukan. Baginya semua apa yang terjadi di dunia ini murni dengan kehendak Alloh tanpa campur tangan siapa pun.

Amal perbuatannya dianggap bagian dari kehendak & kuasa Alloh itu dan karenaNya hanya Alloh yang berperan di dalamnya, bukan dirinya sendiri sehingga dalam hatinya sama sekali tidak terbesit adanya minta balasan atau merasa bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu untuk dipersembahkan pada Alloh (TABARRI ‘AN KHAULII MA’AL QUWWATI LILLAH) .

Ulama ahli TAUHID menyebut tingkatan muqarrabin ini sebagai tingkatan iyyaka nasta’in (hanya kepad-Mu kami minta tolong) dalam arti kami tidak minta tolong dengan apapun selain-Mu, tidak dengan diri kami, daya kami atau pun kekuatan kami sendiri.

Jika tingkatan sebelumnya adalah al-‘amal lillah (tindakah untuk Alloh), maka tingkatan ini adalah al-‘amal billah (tindakan sebab/dengan Alloh). Ini adalah tingkatan tauhid yang sempurna yang sesuai dengan makna la hawla wa la quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Alloh).

Seorang syeikh imam al-ghozali ra berpesan :

ﺻﺤﺢ ﻋﻤﻠﻚ ﺑﺎﻻﺧﻼﺹ ﻭﺻﺤﺢ ﺍﺧﻼﺻﻚ ﺑﺎﻟﺘﺒﺮﻱ ﻋﻦ ﺣﻮﻝ ﻣﻊ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﻟﻠﻪ
“Perbaiki tindakanmu dengan ikhlas dan perbaiki keikhlasanmu dengan membebaskannya dari daya dan kekuatanmu kecuali dengan daya & kekuatannya alloh semata”.

Masing-masing Tindakan / amaliyah melahirkan suatu bentuk hikmah tersendiri.
Misalnya, hati telah sadar akan keutamaan puasa sunah, maka secara otomatis akan menjadi pendorong untuk melakukan ibadah puasa sunah.

Bila di hati telah timbul kesadaran tentang keutamaan bersikap lemah lembut, maka akan menjadi pendorong untuk timbulnya sikap lemah lembut dan begitu seterusnya. Tiap perbuatan lahiriyah selalu mengikuti kecenderungan-kecenderungan bathiniyah. Apabila batinnya telah cenderung pada hal-hal tertentu, maka raga pun akan terdorong untuk melakukannya.

Sebaiknya seorang salik (penempuh jalan kesufian) mengikuti kecenderungan hatinya tersebut agar ibadahnya menjadi maksimal, bukan mengikuti kecenderungan hati orang lain. Semisal, seseorang dianugerahi kemantapan dan kesenangan untuk mengkhotamkan al-Qur’an melebihi kesenangannya melakukan ibadah lain, maka ikuti saja kemauan hati itu dengan banyak-banyak
mengkhatamkan al-Qur’an. Tak perlu dia buru-buru ingin mengikuti langkah Guru
A. yang ahli wirid semalaman atau Guru
B. yang ahli belajar dan mengajar sehari semalaman penuh atau Guru
C. yang ahli puasa setiap hari atau Guru
D. yang ahli sholat sunah ratusan rakaat tiap harinya dan sebagainya.pelajari pelan-pelan
syarat sahnya belajar dengan bimbingan sang ahli di bidangnya ????

Bila saja bila muridiin dan muhibbiin terburu-buru mengikuti langkah orang lain yang pada dasarnya dianugerahi motivasi hati yang berbeda oleh Alloh, maka kemungkinan ibadah yang dia lakukan tidak akan maksimal hikmahnya.Biarlah semuanya mengalir dengan sendirinya. Tekuni saja apa yang menjadi kecenderungan hatimu hingga nanti Alloh memberimu kecenderungan hati untuk melakukan hal-hal yang lain lagi sebagai tanda tingkatanmu telah bertambah.
Tatkala itu terjadi, tambahlah amalanmu dengan amalan lain yang sesuai dengan kecenderungan hati yang baru itu.

Photo
Wait while more posts are being loaded