Post is pinned.
Materi Hadist 29 pokok daripada perkara baik

Muadz bin jabal menanyakan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, beritahukanlah kepadaku amalan yang menjauhkanku dari neraka dan mendekatkanku ke dalam surga lalu Rasulullah berkata engkau menanyakan hal yang penting, dan untuk yang masuk surga diberikan kemudahan bagi Allah.Nabi menjelaskan perkara-perkara tersebut dengan memulainya dengan perkara kebaikan yang berupa amalan wajib. Amalan-amalan tersebut adalah;
1. Sembahlah Allah dan janganlah berbuat Syirik kepadaNya.

2. Tunaikan shalat

3. Tunaikan zakat

4. Tunaikan puasa di bulan ramadhan

5. Haji ke baitullah. 

setelah itu nab jelaskan tentang Pintu-pintu kebaikan yang sunnah

1. Puasa sebagai tameng atau benteng. Tameng yaitu untuk di dunia dan akhirat. Di dunia melindungi dari berbagai syahwat, dan di akhirat melindungi dari siksa neraka. 

2. Shodaqah. Akan menghapuskan dosa sebagaimana air bisa memadamkan api. Maka demikian dengan shadaqah dapat memadamkan dosa, yakni menghapus dosa. 

3. Shalat seseorang di tengah malam. Shalat seseorang di waktu malam, di mutlak kan untuk tengah malam. Malam itu dihitung dari maghrib sampai datang subuh. Maka tengah-tengahnya itu disebut tengah malam. Setelah tengah waktu kedua itulah waktu yang terbaik untuk shalat malam. Dalil ini yang menjadi dalil ulama syafiiyah, shalat malam terbaik mulai dari tengah malam. Namun jika di kompromi kan dengan riwayat lainnya, menunjukkan Allah turun di setiap sepertiga malam terakhir. Maka menunjukkan waktu yang paling bagus adalah shalat malam di sepertiga malam terakhir. Ada dua istilah shalat malam. Orang melakukan shalat witir sebelum tidur itu sudah di hitung shalat lail. Kalau ia tidur lalu ia bangun untuk melakukan shalat pada malam hari shalat maka itu namanya shalat tahajud. 

Lalu muadz bertanya lagi kepada nabi, Doa apa yang paling di dengar, nabi menjawab, doa pada tengah malam yang terakhir. Kemudian nabi mengatakan dan setiap akhir dari shalat yang wajib. Dalam riwayat lain dari Ibnu abid dunia, shalat apa yang paling bagus, nabi menjawab shalat setelah pertengahan malam. Doa apa yang paling afdol, kata nabi, setiap akhir shalat lima waktu. Ini yang menjadi dalil, anjuran berdoa selepas shalat lima waktu. Maka menunjukkan ada pensyariatan doa setelah shalat lima waktu, namun yang bagusnya itu doa dilakukan setelah dzikir selesai kita baca. Juga ada dalil dari quran setelah selesai ibadah maka berdoalah. 

Lalu nabi menanyakan kembali kepada muadz maukah engkau aku beritahukan Pokok Islam dan tiangnya Islam, puncaknya Islam itu apa? Lalu muadz menjawab tentu saja. 

Rasulullah menjawab, pokok segala perkara itu adalah Islam. Penjelasannya yang dimaksud Islam disini adalah dua kalimat syahadat. Tanpa orang bersyahadat maka amalan-amalannya tidak diterima. Jika tidak mengakui kalimat syahadat secara lahir dan batin, maka tidak ada Islam kepadanya. 

Tiangnya Islam adalah shalat. Penjelasannya, Salah satu tiang yang harus ada dalam bangunan Islam adalah shalat. Tiang disini dimaksudkan adalah tiang pokok. Jika shalat tidak ada maka Islamnya juga tidak ada, maka ini salah satu dalil orang yang meninggalkan shalat maka ia kafir. Tanpa ada tiang maka bangunan itu (Islam) dalam diri seseorang tidak ada. Sedangkan Puncak Islam adalah jihad. Jihad adalah sebaik-baik amalan selepas kewajiban-kewajiban. 

Nabi bertanya kepada muadz, maukah kau ku beritahu kepadamu kunci semua itu? Lalu nabi mengambil lidahnya lalu mengatakan, jagalah lisanmu ini. 

Dikatakan oleh Ibnu rajab, hadits ini menunjukkan bahwa menjaga Lisan, menahannya dengan benar maka itu adalah pokok segala kebaikan. 

Hasan al Basri mengatakan, ketahuilah bahwasanya omongan orang adalah pemimpin badannya, jika lisan ini berbuat salah maka anggota tubuh lainnya juga berbuat salah. Jika lisan ini selamat, baik maka anggota badan yang lainnya akan ikut baik. 

Yunus bin ubaid mengatakan, tidaklah aku meliha yang ada pada lisan seseorang, kalau aku lihat itu baik, maka pasti amalan-amalan yang lainnya dari badannya itu semuanya akan baik. 

Yahya bin abi katsir mengatakan, tidaklah aku lihat omongan itu baik kecuali aku melihat juga pada amalannya ikut baik. Namun jika omongannya rusak maka aku ketahui amalannya juga ikut tidak baik. 

Yunus bin ubaid mengatakan, aku tidak mendapati suatu kebaikan yang mempengaruhi badan lainnya yaitu lisan. Bisa jadi engkau dapati seorang puasa di siang hari, ia meninggalkan yang haram dan ia mengerjakan shalat malam namun sayangnya ia berkata dusta di siang hari. Namun tidak pernah engkau dapati lisannya baik maka tidak mungkin anggota badan lainnya berbuat buruk. 

beberapa dosa akibat dari Ketergelinciran lisan:

1. Syirik dalam ucapan. Ini yang paling berbahaya di sisi Allah. Karena kewajiban manusia kepada Allah adalah tidak berbuat Syirik. 

2. Berkata tentang Allah tanpa ilmu. Boleh jadi ia mengatakan sifat dan nama Allah tanpa ilmu, memutuskan hukum tanpa petunjuk Allah dan rasul. 

3. Berkata dusta atau sumpah palsu. 

4. Sihir

5. Menuduh wanita yang baik-baik berzina. 

6. Termasuk juga adalah ghibah

7. Adu domba. Membawa berita agar terjadi perselisihan antara kedua belah pihak.

Inilah dosa-dosa yang di akibatkan oleh lisan. 

Lalu lanjutan hadis mengatakan, apakah kami akan di hukum karena lisan ini, lalu nabi mengatakan, celaka ibumu, bukankah manusia ada yang di masukkan wajahnya ke neraka karena lisannya? 

Dalam riwayat lain, ada dua lubang yang memasukkan manusia ke dalam neraka, dari lubang mulut dan lubang kemaluan. 

Jadi kesimpulan dari hadits ke 29, ada hal-hal yang wajib dan juga sunnah yang diajarkan bagi kepada sahabat muadz bin jabal yang juga menjadi amalan bagi kita kaum muslimin. Juga nabi ajarkan kepadanya tentang pokok-pokok Islam, tiang Islam dan puncak Islam, dan inti dari pokok segala kebaikan adalah lisan. Maka jagalah lisan kita. 

WASIAT NASEHAT

Assalamualaikum War.Wab. Blog yang saya sajikan ini merupakan kumpulan Wasiat, Nasehat dan manaqib Para Ahlul Bait dan Dzurriyat Rasulullah SAW; diharapkan dengan membaca riwayat hidup mereka, bertambah cinta kita kepada Rasulullah SAW,keluarganya dan keturunannya. Amiin. koreksi dan saran anda saya harapkan. jika ada kesalahan, mohon dimaafkan. Semoga kita mendapat Ridho dan Rahmat Allah

Wasiat Nasehat ( Zuhud )

Orang Zuhud itu mempunyai tiga Syarat :

1. Sedikit sekali menggemari dunia, sederhana dalam menggunakan segala miliknya, menerima apa yang ada, juga tidak merisaukan segala sesuatu yang tidak ada, akan tetapi giat dalam bekerja, karena bekerja adalah mencari rizki, sedangkan mencari rizki, suatu kewajiban.
2. pujian dan celaan adalah hal yang sama, tidak bergembira bila mendapat pujian, juga tidak bersedih jika mendapat celaan atau hinaan.
3. mengutamakan ridho Allah swt dari pada ridho manusia atau merasa tenteram jiwanya bersama Allah swt dan merasa bahagia sebab dapat mentaati semua tuntutannya.
( Imam Hasan Basri )

Engkau harus berlaku Zuhud, sesungguhnya zuhudnya orang yang zuhud itu lebih baik dari perhiasan yang ada pada tubuh wanita yang menawan.
( Imam Syafi’i )

“Siapa yang merasa bahwa dalam dirinya terkumpul dua cinta, cinta dunia dan cinta kepada penciptanya, maka ia telah berdusta.”
( Imam Syafi’i )

“Ketahuilah bahwa orang yang jujur kepada Allah swt, ia akan selamat. Barangsiapa yang bersemangat dengan agamanya, ia pun akan selamat dari kerusakan, dan barangsiapa yang berlaku zuhud dengan urusan dunianya, niscaya kelak pahala Allah swt, akan nampak indah di matanya.”
( Imam Syafi’i )

“Berlakulah zuhud dalam menjalani hidup di dunia, dan cintailah kehidupan akhirat dan barangsiapa harum bau ( badan )nya, maka kecerdasannya akan semakin bertambah.”
( Imam Syafi’i )

“Sangat jauh jika bermaksud memaknai sehat atau kenyang tanpa mengalami sendiri rasa sehat atau kenyang. Mengalami mabuk lebih jelas daripada hanya mendengar tentang arti mabuk, meskipun yang mengalaminya mungkin belum pernah mendengar teori mabuk. Maka mengetahui arti dan syarat-syarat zuhud tidak sama dengan bersifat zuhud.”
( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

"Kehidupan seorang muslim tidak dapat dicapai dengan sempurna, kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap. Tahapan-tahapan itu antara lain : tobat, sabar, faqir, zuhud, tawakal, cinta, makrifat dan ridha. Karena itu seseorang yang mempelajari tasawuf wajib mendidik jiwa dan akhlaknya. Sementara itu, hati adalah cermin yang sanggup menangkap makrifat. Dan kesanggupan itu terletak pada hati yang suci dan jernih."
( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

”Tidaklah keabadian itu melainkan dengan perjumpaan dengan Allah swt, sedangkan perjumpaan dengan Allah swt itu adalah seperti kedipan mata, atau lebih cepat dari itu. Di antara ciri orang yang akan berjumpa dengan tuhannya adalah tidak terdapat sesuatu yang bersifat fana pada dirinya sama sekali. Sebab keabadian dan fana adalah dua sifat yang saling bertolak belakang.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

”Makhluk adalah tabir penghalang bagi dirimu, dan dirimu adalah tabir penghalang bagi tuhanmu. Selama kamu melihat makhluk, selama itu pula kamu tidak melihat dirimu, selama itu pula kamu tidak melihat tuhanmu.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

“Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah SWT. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanannya.”
“Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah SWT. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku mrnganggap orang itu hanyalah perantara saja,”
( Imam Qutb Irsyad Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad )

“Cabutlah ketajaman dari sarung pedang tabiatmu yang membelah akar cinta dari asalnya. Taburilah tanah dengan benih pohon-pohon kezuhudan, hingga menghasilkan qurb ( kedekatan ) kepada Allah swt, air telaga dari celah wishal ( persatuan dengan Allah swt ), dan pengetahuan pada puncak tujuan.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )



TASAWUF

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Perkembangan tasawuf tidak pernah lepas dari sejarah para nabi terutama Nabi Muhammad,  para Sahabat, para Tabiin dan seterusnya. Nabi Muhammad telah memberikan benih-benih tasawuf yang dapat di jadikan sebagai rujukan dalam segala perbuatanya. Baik sesuatu yang berhubungan dengan perilaku beliau, ucapan-ucapan beliau, dan sifat-sifat beliau. Pada zaman Nabi Muhammad belum muncul istilah tasawuf, namun kegiatan praktek sudah ada sebelum Nabi Muhammad diangkat sebagai rasul. Istilah pada zaman itu sering dikenal dengan “Zuhud”.  Kehidupan yang sama sekali tidak tertarik dengan kemewahan dunia.

Di masa Rasulullah,  gerakan tasawuf belum muncul, hal ini  di karenakan  pada masa itu belum dibutuhkan. Dengan ketaatan para sahabat atas perintah nabi dan mereka selalu menjadikan nabi sebagai contoh. Perilaku mereka tentang hidup kerohanian sangat mengental. Dengan kezuhudanya yang mereka lakukan itu menjadi hal yang paling baik daripada terpengaruh dengan kemewahan dunia. Kehidupan kerohanian mereka juga belum tercampur dengan masalah sosial politik, pemikiran-pemikiran dari bangsa barat, dan sesuatu yang berbau kefilsafatan.

Di masa pertengahanlah tasawuf dari pola pikir manusia dan ulama mulai mengkristal. Tasawuf masa itu sudah menjadi sebuah organisasi yang memiliki aturan, prinsip, dan sistem khusus. Tawasuf mereka langsung menjelma menjadi sebauah thariqah. Perkembangan tasawufinilah sangat berbeda dengan tasawuf yang dahulu.

2.2  Rumusan masalah

1)      Bagaimana Perkembangan Tasawuf  pada Masa Klasik ?

2)      Bagaimana Tahapan Perkembangan Tasawuf  pada Masa Pertengahan?

3)      Bagaimana Praktek dari Perkembangan Tasawuf di Masa Klasik dan Masa Pertengahan ?


BAB II

PEMBAHASAN


2.1 Bagaimana Perkembangan Tasawuf pada Masa Klasik

Tasawuf paada zaman dahulu dikatakan sebagai kehidupan rohani di karenakan ajaran ini mengandung perjuangan manusia dalam mendapatkan kehidupan yang sempurna di mata  Sang Pencipta. Kerohanian ini berupa ikhtiar manusia dalam mengalahkan gangguan hawa nafsu dan kehidupan kebendaan. Sejarah perkembangan kerohanian itu sendiri secara garis besar dibagi menjadi 2 yakni zuhud dan tasawuf. Istilah ini pada dasarnya belum ada pada zaman Rasulullah SAW dan tidak disebutkan dalam alqur’an, kecuali istilah zuhud.

Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘an syai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah. Zuhud juga tidak dapat dipisahkan dengan 2 keadaan yaitu pertama zuhuddijadikan sebagai bagian  yang tidak dapat dipisahkan daritasawuf. Kedua zuhud dijadikan sebagai akhlak moral dari sebuah perbuatan dan gerakan protes. Apabila zuhud ini tidak dapat dipisahkan dengan tasawuf , maka fungsi zuhud dalamtasawuf dijadikan sebagai maqam. Namun apabila zuhuddikatakan sebagai moral akhlak, maka fungsi zuhud disini berarti bagainmana upaya kehidupan agar mereka dapat menatap dunia yang fana’ ini. Pandangan dunia menurut mereka hanyalah sekedar tempat beribadah untuk menghantarkan keridhoan kepada Allah semata. Mereka sama sekali tidak terpengaruh dengan kemewahan dunia ini. Perbedaan pandangan zuhud disini memiliki perbedaan yang sangat kuat yaitu bahwa zuhud yang dikatakan sebagai maqam itu bersifat individual, sedangkan zuhud yanag kedua yang dikatakan sebagai akhlak dan moral itu bersifat individual dan sosial, dan sering  dipergunakan sebagai protes dari penyimpangan sosial. Dalam penamaan zuhud terdapat istilah lain yaitu zahid.

Pada dasarnya seseorang sebelum menjadi sufi, seorang calon harus terlebih dahulu menjadi zahid. Sesudah menjadi zahid, barulah ia meningkat menjadi sufi. Dengan demikian tiap sufi ialah zahid, tetapi sebaliknya tidak setiapzahid merupakan sufi. Kaum zahid lebih mengutamakan hidup kebatinan dan kerohanian dan menjuruskan perhatianya dan kehidupanya kearah Allah.

Dalam permulaan Tarikh Islam, kehidupan zuhudatau asketisme belum lagi merupakan suatu gerakan keagamaan yang meluas, yang diamalkan oleh seluruh masyarakat Islam, akan tetapi ia merupakan kegiatan dan kecendrungan pribadi, mengikuti petunjuk Islam al-Quran dan sunah Nabi. Kegiatan yang sama sekali tidak mementingkan kehidupan di dunia. Mereka hanya ingin mendekatkan diri kepada Allah. Mereka lebih gemar berjihad dijalan Allah dan berdakwah untuk mengabdikan diri kepada-Nya. Sikap zuhud inilah yang sering dikatakan sebagai ilmu pengantar dari kemunculan ilmu Tasawuf. Tahap awal perkembangan tasawuf itu dimulai pada abad ke 1-H sampai kurang lebih abad ke 2-H. Pada masa nabi belum muncul istilah-istilah, namun praktek ilmu-ilmu cabang sudah ada di masa nabi sebelum diangkat sebagai rasul. Kehidupan Nabi Muhammad SAW, dapat dijadikan sebagai suri tauladan. Perkembangan tasawuf pada masa klasik itu berkisar pada masa  Nabi Muhammad SAW, para Sahabat (Khulafaur Rasyidin), Tabi’in, masa Bani Umayah, dan masa Bani Abbasiyah.


Ø Tasawuf masa Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhanmmad SAW mempunyai banyak julukan yaitu Pembuka Negeri, Pemimpin Perang, dan Pesuruh Tuhan. Pada masa ini praktek tasawuf sudah dilakukan namun, belum menjadi istilah resmi hanya ada istilah zuhud. Istilah ini sudah dijelasan di atas. Kaumzuhad ini menjadikan Nabi Muhammad sebagai mursyidtertinggi dalam Islam dan mereka beranggapan beliau adalah manusia yang sempurna. Berasal dari tahanuutdan khalwat kehidupan kerohanian beliau yang dilakukan semasa beliau berada didalam Gua Hira. Gambaran perilaku beliau dijadikan sumber bagi para ahli sufi dalam pengalaman ajaran tasawuf. Beliauber’uzlah dengan menyatukan pikiran dan perasaan dalam merenungi alam dan beliau telah tenggelam dalam kebesaran Allah SWT. Aktifitas uzlah inilah yang banyak diambil pelajaranya, karena penyakit jiwa tidak bisa dihilangkan kecuali dengan ber ‘uzlah. Sifat sombong ,ujub, hasud, riya,dan cinta terhadap dunia, merupakan penyakit yang merusak jiwa dan hati nurani, meskipun secara lahiriyah manusia itu terlihat melakukan amalan shaleh. Didalam Gua Hira beliau terus mengingat Allah dan memuja-Nya, sehingga putuslah hubungan beliau dengan makhluk yang lainya. Beliau membersihkan diri dari noda-noda hati yang yang mengotori jiwa. Menurut Ibnu Atha’illah al-Iskandariyah bahwa “tiada lebih berguna bagi hati selain ‘uzlah. Dengan ‘uzlah hati memasuki lapangan tafakkur.” Dengan tafakkurseseorang bisa mendalami sebuah  hakikat arti dari kehidupan, merenungkan allah dengan lebih mengutamakan keridhaan-Nya.

 Tahannuts dan khalwat yang dilakukan Muhammad SAW bertujuan untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hatidalam menempuh liku-liku problema hidup yang beraneka ragam ini, berusaha memperoleh petunjuk dan hidayah dari pencipta alam semesta ini, mencari hakikat kebenaran yang dapat mengatur segala-galanya dengan baik. Dalam situasi yang sedemikianlah  Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah SWT yang penuh berisi ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan sebagai pedoman untuk ummat manusia dalam menempuh kehidupan dunia dan akhirat. Beliau telah dijadikan sebuah pedoman hukum karena beliau telahmenggabungkan kehidupan lahir dengan hidup kerohanian di dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan yang diajarkan guna memperkuat iman, kebersihan hati, keyakinan dan kekuatan bathin. Kehidupan kerohanian yang lain dari Nabi Muhammad ialah beliau merasa hina di karenakan beliau tidak bangun saat wahyu turun, salah satunya sabda-Nya “ Sesungguhnya  pada kejadian langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam, adalah menjadi ayat yang besar bagi orang  yang yakin” dan  beliau telah menyalahkan diri .

Semua kehidupan Nabi Muhammad selalu dijadikan referensi oleh para sufi, berawal dari pengalaman khalawat di Gua Hira, kebenaran mimpi Nabi Muhammad, masalah wahyu yang turun untuk beliau, pengalaman Isra mi’raj,  masalah misi perdamaian beliau dengan istri-istrinya dan kesederhanaan beliau dalam menyingkapi arti kehidupan. Beliau menjadi kehidupan kerohanian lebih tinggi dibandingkan dengan kemewahan belaka. Beliau mengajak kepada manusia bahwa hidup kemewahan di dunia hanyalah bersifat sementara, oleh karena itu beliau menganjurkan agar manusia itu lebih mendekatkan diri kepada Allah . pendekatan itulah yang dikatakan sebagai kehidupan yang abadi.


Ø Tasawuf masa sahabat

Tasawuf pada masa sahabat ini tetap tidak menghilangkan semua perilaku Nabi Muhammad sebagai contoh, meskipun Nabi Muhammad sudah wafat. Para sahabat yang menjadi pemimpin negara juga tetap melakukan sesuatu yang bersifat mendekatkan diri kepada Allah  dengan hidup kesederhanaannya seperti wara’, tawadhu, zuhudnya Nabi Muhammad SAW di tunjukan semata-mata hanya untuk Allah. Kehidupan tasawuf para sahabat  ini salah satunya Khulafaur Rasyidin. Seperti kezuhudan yang dilakukan oleh Abu Bakar as-Shidiq. Beliau menganggap bahwa lidah adalah organ tubuh yang mengancam seseorang untuk melakukan sesuatu untuk mendekakan diri kepada Allah, karena dari lidahlah manusia akan memasuki kawasan ujub. Ujubadalah penyakit hati yang bersifat menyombongkan diri namun terletak dalam hati atau bersifat dhamir, tidak kasap mata. Pandangan hidup beliau tentang kedermawaan adalah buah dari taqwa, sedangkan dalam kedermawaan ada kekayaan, kekayaan adalah buah dari keyakinan seseorang. Setelah seseorang dianggap kaya, maka orang itu akan memiliki martabat, martabat itulah sebenarnya diperoleh dari ketawadhuan orang itu sendiri.

Abu Bakar pernah mendapati berita yang gembira dari Rasulullah. Bahwasanya beliau akan menempati kedudukan menjadi pemimpin dari kelompok orang-orang yang ahli surga. Bahkan semua pintu surga pun akan berebut untuk memanggil nama beliau. Beliau sangat terkenal kezuhudanya yaitu beliau pernah hidup memakai sehelai kain saja. Apalagi dengan kedermawaanya membagikan semua hartanya untuk orang lain sampai beliau melupakan kebutuhan untuk dirinya sendiri. Dalam kepemimpinan beliau sebagai Khalifah beliau juga mempunyai keimanan yang begitu agung dan teguh. Beliau tidak penah goyah dengan pendiriannya,  tidak pernah ragu. Sikapnya yang sangat lunak dengan orang lain, pemaaf, dan kasih sayang.

Umar bin Khatab adalah Khalifah kedua yang dijadikan pengganti setelah abu bakar wafat. Beliau mempunyai jiwa yang bersih dan kesucian kerohanianya yang sangat tinggi. Umar bin Khatab paling  banyak berlindung terhadap kemampuannya sendiri. Apalagi perkara-perkara yang berhubungan dengan hatinya dan tabi’at nya. Beliau sangat khawatir dengan terpengaruhnya beliau dengan kemewahan dunia, keinginan nafsu, keinginan anak dan keluarganya. Suatu saat beliau pernah didapati menggunakan baju yang memiliki 12 tambalan dan pada kain sampingnya  terdapat 14 tambalan saat berpidato di atas mimbar. Semua perilaku beliau tidak sekedar untuk kepentingan pribadi , tetapi beliau juga ajarkan hidup kerohanian beliau terhadap orang lain seperti pembagian harta beliau untuk orang yang berhak mendapatkanya. Yang menjadikan pandangan kehidupan dari beliau adalah kesabaran dan keridhoan.  

Utsman bin Affan adalah Khalifah yang ketiga. Beliau termasuk Khalifah yang  telah diberikan kelapangan riski oleh allah. meskipun begitu, riski yang berlimpah itu tidak melalaikan beliau untuk mendekatkan diri kepada allah. Tangan beliau tidak pernah lepas dari al-qur’an, beliau selalu khawatir apabila malam tiba beliau akan ketinggalan menerima surat dari tuhannya. Bahkan dalam pemerintahan beliaupun terbunuh dalam posisi sedang membaca al-Qur’an. Tentang sikap beliau terhadap masalah duniawi bahwa harta mempunyai nilai sosial yang harus ditasarufkan kepada kepentingan umum. Dia pernah mengatakan bahwa “ seandainya aku tidak khawatir bahwa dalam Islam terdapat lobang yang dapat kututup dengan harta ini, pasti aku tidak akan mengumpulkannya”[1].

Ali bin Abi Thalib adalah khalifah yang ke empat. Jabatan beliau dalam memimpin umat islam pun tidak mengurangi hidup kerohanianya dengan Allah.kehidupan zuhudnya yaitu berupa pekerjaan beliau dan cita-citanya yang besar yang menyebabkan beliau tidak peduli dengan apa yang beliau pakai. Beliau juga pernah memakai pakaian yang robek karena mumuk. Apabila baju yang beliau pakai itu robek, maka beliau langsung menjahitnya dengan tangannya sendiri. Dengan ini justru beliau dapat mengkhusyukan hati, sehingga dengan kekhusyuanya beliau dapat dijadikan suri tauladan bagi orang yang beriman. Kezuhudan beliau ada yang berhubungan pola makam yang sederhana, yaitu beliau pernah makan tiga buah korma setiap hari dalam satu bulan. Beliau juga termasuk sahabat yangadil dan bijaksana.

                       Dalam hal ini gerakan tasawuf baru muncul paska era Shahabat dan Tabi'in tidak pada masa nabi di karenakan kondisinya tidak membutuhkan tasawuf. Perilaku umat masih sangat stabil,mereka patuh dengan apa yang diajarkan oleh nabi dan mereka juga selalu menjadikan sikap nabi yang terpuji itu sebagai suri tauladan. Sisi akal, jasmani dan ruhani yang menjadi garapan Islam masih dijalankan secara seimbang. Nabi, para Shahabat dan para Tabi'in pada hakikatnya  juga sudah sufi. Dengan keteladanan mereka yang keimanannya teguh, sikapnya lunak, pemaaf dan kasih sayang, dermawan dan mensyukuri nikmat-nikmat allah, jernih hatinya sehingga mereka dapat melihat nur Allah, karena nurnya Allah meliputi dan ADA pada segala sesuatu, baik di langit maupun bumi. Mereka juga tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Selalu ingat pada Allah Swt sebagai sang Khaliq.

 Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi kerohanian. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah).Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup.

Ø Tasawuf  Masa Bani Umayyah

Tasawuf pada masa Bani Umayah sudahlah berbeda dengan hidup kerohanian sebelumnya. Hal ini dikarenakan  hidup kerohanian disini sudah terkontaminasi dengan masalah sosial politik. Apalagi masalah terbunuhnya Utsman bin Affan yang berkepanjangan dengan masa-masa selanjutnya. Oleh karena itu munculah kelompok Bani Umayah, Syiah, Khawarij, dan Murji’ah. Tasawuf  pada masa Bani Umayah dilatar belakangi adanya kemewahan kekuasaan umayah dengan kehidupannya. Pemerintahan ini sangat kejam dengan sekelompok politik yang menentangnya. Puncak kekejaman ini sangat terlihat pada saat adanya perang karbala yang di dalamnya terbunuh  Husen bin Ali bin Abi Thalib. Akhirnya peristiwa ini memberikan pengaruh yang besar tentang sebuah penyesalan. Kelompok disini disebut kelompok tawwabun ( kelompok yang merasa dirinya banyak dosa sehingga selalu bertaubat kepada Allah).

 Dalam situasi ini kaum Muslimin yang merasa shaleh, mereka berkewajiban untuk menyerukan kehidupan zuhud, sederhana, tidak di pengaruhi oleh hawa nafsu,dll. Salah satu tokohtasawuf pada masa ini ialah Abu Dzar al-Ghifari. Beliau yang menerapkan keadilan dalam kehidupan sosial.Kezuhudan beliau adalah beliau hidup sebatangkara, tidak mempunyai tempat tinggal, beliau hidup di latar Masjid Nabawi. Beliau sangat sabar, wara’, danqana’ah. Disini pula muncul beberapa istilah baru, seperti buka’in (kelompok yang selalu mengucurkan air mata kepedihan), qashshash (pendongeng),nussak(ahli ibadah),’ubbaad(orang-orang yang mengabdikan dirinya semata-mata hanya untuk Tuhannya), rabbaniyyin(ahli keTuhanan). Istilah-istilah ini akan dijelaskan pada tahapan perkembangantasawuf di masa klasik dan pertengahan.




Ø Tasawuf  Masa Bani Abbasiyyah

            Tasawuf pada masa Bani Abbasiyah muncul di karenakan hadirnya Dzu Nun al-Misri.Beliau adalah orang  pertama yang memperkenalkan maqamat dalam dunia sufi. Pemikiranya yang sistematis yang dapat dijadikan penelitian para sufi. Kemudian muncul lagi seorang sufi bernama Surri al-Saqathi. Beliau memperkenalkan uzlah-uzlah yang tadinya bersifat individu atau perorang menjadi uzlah yang bersifat kolektif. Hal ini bertujuan untuk menghindari kehidupan dunia yang  penuh dengan pertentangan, intrik, dan pertumpahan darah. Di era inilah istilah sufi mulai muncul dari beberapa kalangan, sebutan khusus untuk mereka yang secara ketat dan tegas menghindari kehidupan yang fana dan lebih mengutamakan pendekatan diri terhadap Allah SWT.

Oleh karena itu, hidup kerohanian atau tasawuf  pada masa klasik sering menggunakan istilah zuhud, belum ada peresmian nama asli dari tasawuf  itu sendiri. Semua itu hanyalah sekedar praktek semata.

v  Sumber ajaran tasawuf

                  Dalam ajaran Islam, tasawuf juga tidak lepas bahwa sumbernya berasal dari al-Qur’an dan hadits. Tasawuf dianggap sebagai ajaran yang mistik, ajaran yang terletak pada batin dan perenungan. Perenungan inilah karena adanya penghayatan dari sumber tasawuf itu sendiri yaitu al-Qur’an dan hadits. Namun sumber tasawuf ini juga masih diperebutkan. Ada yang menyatakan bahwa sumber tasawuf  Islam adalah dari ajaran Islam itu sendiri. Selain itu ada pula yang menyatakan bahawa sumber dari tasawuf itu berasal dari Persia, Hindu, Nasrani, dan sebagainya. Salah satu prakteknya yaitu

·         Berasal dari pengaruh Hindu seperti  ucapan-ucapan doa dan nyanyian-nyanyian agama.sperti yoganya orang hindu banyak persamaan kehidupan dari riyadhah kaum shufi.

·         Berasal dari pengaruh Persia seperti zuhud dalam islam menyerupai zuhudnya para pendeta Imam Manu, begitu juga qanaahnya islam di serupai dengan qonaahnya mereka yaitu dengan hidup sederhana dan dilarang makan daging binatang, hal ini disamakan dengan Madzab Mazdak.

·         Berasal dari agama Nasrani seperti ajarannya, latihan kerohanian, khalawatnya, bahkan hingga pakaiannya. Adanya kehidupan yang kaya dan yang miskin, bertafakur dan berdiam diri.

·         Berasal dari pengaruh Filsafat Yunani seperti alam pikiran islam telah terpengaruh dengan Filsafat Aristoteles untuk kepercayaan tentang Zat Pencipta yang akhirnya tumbuhlah “Ilmuul Qalam”.

Pada dasarnya adanya pernyataan bahwa pengaruh tasawuf dari luar Islam sendiri itu tidaklah sampai pada  ajaran tasawuf  bagian inti atau isinya namun sekedar ada pada kulit ajarantasawuf itu sendiri. Kaum shufi itu sendiri, atau golongan Islam yang tidak masuk kedalam salah satu Madzhab. Kerohanian yang membantu kehidupan mereka, berkata bahwasanya pokok ambilan kerohanian itu ialah agama sendiri. Pertama al-Qur’an, ke-dua Hadits dan ketiga tidak kurang penting nya contoh tauladan dari Nabi Muhammad SAW, para Sahabat ,dan para Tabi’in yang sudah dijelaskan di atas.[2]

2.2  Tahapan Perkembangan Tasawuf Masa Klasik sampai Masa Pertengahan

§  Tasawuf Abad Pertama dan Kedua Hijriyah

 Menurut para ahli sejarah tasawuf, zuhud atau asketisimemerupakan fase yang mendahului lahirnya tasawuf pada abad pertama dan kedua Hijriyah. Dalam Islam, asketisisme mempunyai pengertian khusus. Asketisisme bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan dunia, tetapi asketisme ini adalah tidak ada keterikatan nafsu dengan dunia. Istilah yang populer digunakan pada masa awal tersebut adalah nussaak, zuhhaad dan ‘ubbaad. Nussaak merupakan bentuk jamak dari nasik, yang berarti orang-orang yang telah menyediakan dirinya untuk mengerjakan ibadah kepada Tuhan. Zuhhaad adalah bentuk plural dari zahid, yang berarti “tidak ingin” kepada dunia, kemegahan, harta benda dan pangkat. Sedangkan ‘ubbaad merupakan bentuk jamak dari abidyakni orang-orang yang telah mengabdikan dirinya semata-mata kepada Tuhan.

Pada dasarnya zuhud  adalah  permulaan dari munculnyatasawuf. Di masa ini belum muncul istilah tasawuf  namun prakteknya sudah ada sejak itu, seperti lahirnya hasan bashri yang memperkenalkan  ajaran  Khauf dan Raja’. Rasa takut dan berharap kepada Allah lah yang sering di ajarkan bagi para mursyid terhadap muridnya.

Sedangkan pengamalannya dari kehidupan rohani yaitu dengan mengurangi makan, menjauhkan diri dari keramaian duniawi dan mencela dunia seperti harta, keluarga, dan kedudukan. Abu al- Wafa menyimpulkan zuhud salah satunya yaitu menjauhkan diri dari kehidupan dunia untuk menuju kee kehidupan akherat, dengan melakukan sesuatu yang bersifat sederhana, praktis, dan bertujuan untuk meningkatkan moral.


§  Tasawuf Abad Ketiga dan Keempat Hijriyah

Pada abad yang ketiga dan keempat ini, tawasuf mulai mengalami pengembangan . istilah zuhud sudah diganti dengan istilah tasawuf . Bahkan  penamaan tasawuf di sinipun sudah hampir punah. Mereka lebih menggunakan tasawuf dengan istilah sufi. Corak-coraknya pun sudah berbeda sekali dengan yang dulu. Abad ini menggunakan tasawuf yang bersifat kefana’an yang fokus dengan persatuan hamba dan hubunganya dengan sang Khaliq(ittishal). Metode yang dikenal dengan istilah tingkatan (maqam) serta keadaan (hal), ma’rifat, tauhid, penyatuan atau hulul. Bahkan mereka menyusun aturan-aturan praktis bagi tarekat mereka dan mempunyai bahasa simbolis khusus yang hanya dikenal dalam kalangan mereka sendiri, yang asing bagi kalangan luar. Sejak saat itu muncul karya-karya tentang tasawuf, dengan para pengarang seperti Al-Muhasibi (w. 243 H), Al-Kharraz (w. 277 H), Al-Hakim Al-Tirmidzi (w. 285 H), dan Al-Junaid (w. 297 H). Sehingga dapat dikatakan bahwa abad ketiga Hijriyah merupakan tasawuf yang mencapai peringkat terjernih dan tertinggi, karena tokoh-tokoh sufi inilah yang kemudian di jadikan panutan para sufi yang hidup setelahnya.

Pemikiran mereka yang sangat cakap dalam bidang apapun. Maka terkenal pulalah ilmu mereka sebagai ilmu Batin, ilmu Hakikat, ilmu Wiratsah dan ilmu Dirayah. Semua istilah tersebut merupakan kebalikan dari ilmu Lahir, ilmu Syariah, ilmuDirasah, dan ilmu Riwayah .

Pada abad III dan IV hijriyah, terdapat dua alirantasawuf, yaitu aliran Tasawuf Sunni. Tasawuf sunni adalah tasawufyang pokok ajaranya sangat terikat dengan al-Qur’an dan Hadits serta mengkaitkan antara ahwal dengan maqamat mereka terhadap kedua sumber tersebut. Sedangkan yang kedua adalah aliran tasawuf “semi falsafi”. Para pengikut tasawuf ini cenderung dengana ungkapan-ungkapan yang ganjil(syathahiyat ) serta bertolak dengan keadaan fana’ menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan (ittihad atau hulul).[3]).[4]


§  Tasawuf Abad Kelima Hijriyah

Aliran tasawuf moderat atau sunni terus tumbuh dan berkembang pada abad kelima Hijriyah. Sementara aliran kedua yang bercorak semi-filosofis , mulai tenggelam dan kelak akan muncul kembali dalam bentuk lain pada pribadi-pribadi sufi yang juga filosof pada abad keenam Hijriyah dan setelahnya.

Tenggelamnya aliran kedua pada abad kelima Hijriyah, pada dasarnya disebabkan oleh berjayanya aliran teologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah melalui keunggulan Abu Al-Hasan Al-Asy’ari atas aliran-aliran lainnya. Tasawuf pada masa ini cenderung melakukan pembaruan dengan mengembalikannya ke landasan Al-Quran dan Sunnah. Di antara tokoh-tokohnya yang sangat terkenal yaitu Al-Qusyairi, Al-Hawari dan Al-Ghazali. Di sini akan dibahas pandangan atau kritik mereka terhadap penyimpangan tasawuf.

Abu Al-Qasim Al-Qusyairi merupakan tokoh yang sangat terkenal pada abad kelima Hijriyah terutama karena karya beliau yang sangat terkenal, al-Risalah al-Qusyairiyyah, yang sangat berpedoman pada Al-Quran dan Sunnah. Di awal mukadimahnya, Qusyairi melukiskan bahwa saat itu sudah amat langka para sufi sejati. Karena itu, Qusyairi menulis  kitab yang  ia menguraikan konsep-konsep tasawuf, maqamat wal ahwal, kondisi ruhaniah dan karamah para wali, serta diakhiri dengan biografi singkat mengenai para tokoh sufi ternama.

Tokoh sufi lain yang tasawufnya berasaskan doktrin Ahlus Sunnah ialah Abu Ismail Abdullah ibn Muhammad Al-Anshari atau yang lebih dikenal dengan Al-Hawari. Ia dipandang sebagai penggagas aliran pembaruan dalam tasawuf dan penentang para sufi yang terkenal dengan keganjilan ungkapan-ungkapannya, seperti Al-Busthami dan Al-Hallaj .

Karya Al-Harawi yang paling terkenal adalah Manazil al-Sairin ila Rabb al-Alamin. Dalam karya ringkas tersebut, ia memaparkan tingkat-tingkat ruhaniah yang mempunyai awal dan akhir.  Ketingkatan ini menurut al-Qusyairi dianalogikan dengan sebuah bangunan yang didalamnya harus ada pondasinya agar bangunan itu menjadi kokoh .oleh karena itu  tingkatan awal adalah dengan menegakkannya di atas keikhlasan serta mengikuti Sunnah.

Al-Harawi juga dikenal dengan teori fana’ dalam kesatuan, namun fana’nya berbeda dengan fana’ para sufi semi falsafi sebelumnya. Baginya fana’ bukanlah fana wujud sesuatu yang selain Allah, tetapi dari penyaksian dan perasaan mereka sendiri atau dengan kata lain, ketidaksadaran atas segala sesuatu selain yang disaksikan. 
Al-Harawi menganggap bahwa orang yang suka mengeluarkan ungkapan-ungkapan ganjil, maka hatinya tidak bisa tenteram, atau dengan kata lain ungkapan tersebut muncul dari ketidaktenangan. Sebab apabila ketenangan itu terpaku dalam kalbu mereka, maka akan membuat mereka terhindar dari keganjilan ucapan atau pun segala penyebabnya.

Setelah mendalami berbagai ilmu, seperti ilmu Fikih, Kalam, Filsafat dan Tasawuf, maka ia berkeyakinan bahwa jalan sufi adalah jalan terbaik bahkan pada titik ekstremnya.


§  Tasawuf Abad Keenam Hijriyah

  Tasawuf filosofis merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara pencapaian pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional filosofis. Terminologi filosofis tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat, yang telah mempengaruhi para tokoh-tokohnya. Tasawuf filosofis ini mulai muncul dengan jelas sejak abad keenam Hijriyah, meskipun para tokohnya baru dikenal setelah seabad kemudian.

Para pengkaji tasawuf filosofis, berpendapat bahwa perhatian para penganut tasawuf filosofis terutama diarahkan untuk menyusun teori-teori wujud dengan berlandaskan rasa (dzauq), yang merupakan titik tolak tasawuf mereka. Ibn Khaldun memaparkan ada empat karakteristik tasawuf filosofis yaitu

Pertama, latihan ruhaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri yang timbul darinya.

Kedua, iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya sifat-sifat rabbani, arsy, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, ruh, hakikat realitas segala wujud, yang gaib maupun yang tampak, dan susunan kosmos, terutama tentang Penciptanya dan penciptaannya.

Ketiga, peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.  Keempat, penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syahahiyyat), yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui, atau menginterpretasikannya.

 Adapun tokoh-tokohnya yang sangat terkenal yaitu Al-Suhrawardi dan Ibn Arabi. Di sini akan dielaborasi sekilas pandangan ketiga tokoh tersebut agar dapat memperjelas konsep tasawuf filosofis yaitu Al-Suhrawardi Al-Maqtul dikenal sebagai Shaykh al-Ishraq, guru filsafat cahaya. Walaupun ia meninggalkan banyak karya, namun karyanya yang paling terkenal dan mengantarkannya dirinya sebagai tokoh tasawuf filosofis adalahHikmah al-Isyraq. Kitab tersebut menguraikan pandangan-pandangannya tentang filsafat isyraqi atau tasawuf isyraqi(iluminatif),

yang didasarkan pada penalaran yang tersebar dan pemikiran sesuatu tanpa dipahami oleh orang lain, dengan latihan formal terhadap pikiran sekaligus pembersihan jiwa. Garis besar teori Suhrawardi dapat disingkat dalam nukilan berikut:

“Hakikat dari Cahaya Mutlak, Tuhan, memberi terang terus menerus, yang merupakan pengejawantahan dan menyebabkan segala sesuatu ada, memberikan kehidupan kepada segala sesuatu dengan sinarnya. Segalanya di dunia berasal dari Cahaya hakikat-Nya dan segala keindahan dan kesempurnaan adalah karunia dari kemurahan-Nya, dan mencapai terang ini sepenuhnya berarti keselamatan”.

Melalui paparan singkat di atas, sebenarnya dalam doktrin Wahdat al-Wujud, Tuhan betul-betul Esa karena tidak ada wujud hakiki, kecuali Tuhan; wujud hanya milik Tuhan. Alam tidak mempunyai wujud kecuali sejauh berasal dari Tuhan. Alam tidak lebih dari penampakan-Nya. Dengan demikian, doktrin ini hanya mengakui satu wujud atau realitas karena mengakui dua jenis wujud atau realitas yang sama sekali independen berarti memberi tempat kepada syirik atau menyembah tuhan lebih dari satu.


§   Tasawuf Abad Ketujuh Hijriyah dan Sesudahnya

 Periode abad keenam dan ketujuh Hijriyah tidak kalah penting dengan periode-periode sebelumnya. Sebab pada periode ini justru tasawuf telah menjadi semacam filsafat hidup bagi sebagian besar masyarakat Islam. Tasawuf menjadi memiliki aturan-aturan, prinsip, dan sistem khusus; di mana sebelumnya ia hanya dipraktekkan sebagai kegiatan pribadi-pribadi dalam dunia Islam tanpa adanya ikatan satu sama lain. Periode inilah kata “tarekat” pada para sufi mutakhir dinisbatkan bagi sejumlah pribadi sufi yang bergabung dengan seorang guru (syaikh) dan tunduk di bawah aturan-aturan terinci dalam jalan ruhani. Mereka hidup secara kolektif di berbagai zawiah, rabath, dan khanaqah (tempat-tempat latihan), atau berkumpul secara periodik dalam acara-acara tertentu, serta mengadakan berbagai pertemuan ilmiah maupun ruhaniah yang teratur.

 Tarekat secara etimologis berasal dari bahasa Arab,thariqah yang berarti al-khat fi al-syai (garis sesuatu), al-shirat dan al-sabil (jalan). Kata ini juga bermakna al-hal (keadaan). Dalam literatur Barat, menurut Gibb, kata thariqah menjadi tarika yang berarti road (jalan raya), way (cara), dan path (jalan setapak). Hanya saja ada perbedaan antara road dan path. Jika yang pertama merupakan jalan besar yakni syariat, maka yang kedua jalan kecil yakni yang secara khusus ditujukan sebagai tarekat atau perjalanan spiritual. Sedangkan secara praktis, tarekat dapat dipahami sebagai sebuah pengamalan keagamaan yang bersifat esoterik (penghayatan), yang dilakukan oleh seorang Muslim dengan menggunakan amalan-amalan berbentuk wirid dan zikir yang diyakini memiliki mata rantai secara sambung menyambung dari guru mursyid ke guru mursyid. lainnya sampai kepada Nabi Muhammad Saw, dan bahkan sampai Jibril dan Allah. Mata rantai ini dikenal di kalangan tarekat dengan nama silsilah (transmisi). Dalam tataran ini, tarekat menjadi sebuah organisasi ketasawufan.

 Secara lebih luasnya, dalam dunia sufistik menurut Schimmel, tarekat adalah jalan yang ditempuh para sufi, dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar’ sedangkan anak jalan disebut tariq. Kata turunan ini menunjukkan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri atas hukum Ilahi, tempat berpijak bagi setiap Muslim. Tidak mungkin ada jalan tanpa adanya jalan utama tempat ia berpangkal; pengalaman mistik tak mungkin didapat bila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati terlebih dahulu secara seksama, akan tetapi tariq atau jalan itu lebih sempit dan lebih sulit dijalani serta membawa santri (salik) dalam suluk atau pengembaraannya melalui berbagai persinggahan (maqam), sampai mungkin cepat atau lambat akhirnya ia mencapai tujuannya, yaitu tauhid sempurna; yaitu pengakuan berdasarkan pengalaman bahwa Tuhan adalah satu.

 Sebagai organisasi tasawuf atau metode spiritual yang praktis, tarekat memiliki metode yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Ada yang menggunakan program penyucian jiwa, zikir, tafakur, meditasi, mendengar musik dan menari, qiyamul laildan lain-lain. Tetapi tujuan mereka semuanya sama yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah semata (taqarrub ila Allah).

Walaupun sejak jauh sebelumnya organisasi tarekat telah hadir, seperti tarekat Junaidiyyah yang bersumber pada ajaran Abu Al-Qasim al-Junaid Al-Baghdadi (w. 297 H) atau tarekat Nuriyyah yang didirikan oleh Abu Hasan ibn Muhammad Nuri (w. 295 H), namun baru pada abad ketujuh Hijriyah dan sesudahnya inilah tarekat berkembang pesat.


 2.3 Praktek dari perkembangan tasawuf di masa klasik dan masa pertengahan

 Semua perkembangan tasawuf  dari abad ke abad memiliki ciri khas tersendiri yang membawa pengaruhnya di zaman sekarang. Pengajaran yang dilakukan oleh mereka di jadikan referensi para shufi untuk sebagai teladan. Praktek tasawuf mereka dapat diamalkan dan dapat di bandingkan antara tasawuf masa klasik dan masa pertengahan.

ü   Praktek tasawuf pada masa klasik

      Praktek kehidupan nabi muhammad SAW yang dapat dicerminkan sebagai contoh salah satunya:

·         Hidup zuhud (tidak mementingkan kehidupan dunia ).

·         Hidup qanaah ( menerima apa adanya).

·         Hidup taat kepada allah.

·         Hidup istiqomah (tetap beribadah).

·         Hidup mahabbah ( sangat mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi kecintaanya terhadap diri sendiri).

·         Minimal nabi membaca istighfar sebanyak 70 kali.

·         Melaksanakan sholat dua pertiga malam.

·         Rawatib serta shalat dhuha yang tidak kurang dari delapan rakaat setiap hari.

·         Shalat Tahajjud beliau juga tidak kurang dari sebelas raka’at.

·         Shalat dengan khusyu dan thuma’ninah yang sempurna.

Praktek kehidupan para sahabat salah satunya Khulafaur Rasyidun  yang dapat dicerminkan salah satunya :

·         Cara hidup yang  selalu memilih kesederhanaan dengan sifat yang mulia,seperti zuhud ,wara’,sabar, qana’ah,  kedermawanan, tawakal.

·         Selalu mencari ridho Allah.

·         Selalu menggunakan aspek perasaan dan berfikir dalam berperilaku.

·         Menyelidiki diri sendiri dam menyesali dosa.

·         Cinta dan mengharap keberadaannya di sisi-Nya.

Praktek kehidupan Bani Umayah dan Bani Abbasiyah yang dapat dicerminkan salah satunya:

·         Kezuhudanya terhadap dunia.

·         Bersikap adil dalam keadaan apapun.

·         Sabar, qana’ah, wara’.

·         Menghindari kehidupan yang fana’.

·         Mendekatkan diri kepada Allah sepenuhnya.


ü   Praktek tasawuf  pada masa pertengahan

·         Menjauhi kehidupan dunia yang berarti menghilangkan sifat-sifat yang merusak ibadah agar dekat dengan Allah SWT.[5]

·         Menjadikan adanya harta/kejayaan sebagai sebab yang bisa menjadikan sarana dan prasarana untuk kebaikan.

·         Selalu bersyukur apapun keadaanya dan bersikap qana’ah.

·         Menjadikan kehidupan yang fakir sebagai alat untuk konsentrasi ibadah dan berdzikir kepada Allah SWT



BAB III

PENUTUP

2.1  Kesimpulan

Kehidupan kerohanian pada masa klasik dengan masa pertengahan sangat berbeda. Bersamaan dengan  muncul beberapa pendapat tentang  penamaan kata “Tasawuf ”. Sumber-sumber ajaran tasawuf  mereka juga masih di perdebatkan. Dari masa ke masa tasawuf mengalami perkembangan dalam ajaranya, begitu juga para tokoh dalam mengajarkan pemahaman kepada para pengikutnya. Tahapantasawuf  itulah yang dapat membedakan antara tasawuf yang murni dengan tasawuf  yang sudah tercampur dengan ajaran yang lain.

 Hidup kerohanian yang sangat terkenal apalagi di setiap tokoh mempunyai sikap kezuhudanya masing-masing. Kezuhudan mereka yang membuat kehidupan mereka lebih berarti dengan hadirnya allah dalam benaknya. Ajaran yang tidak pernah hilang dari tasawuf adalah kewara’anya, sabar, dan qanaah. Harta, pakaian, kebutuhan sehari-hari, keluarga, dan kekuasaan bukanlah hal yang dijadikan sebagai penghalang mereka untuk tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Nabi, Sahabat dan para Tabi’in di jadikan sebagai penelitian para shufi dalam masalah tasawuf di masa klasik. Sedangkan para tokoh yang lain, seperti imam ghazali, ibn ata’illah dan para tokoh yang muncul pada abad  pertengahan (1250 H-1700 H), ajaran tasawufnya  yang sudah tercampur dengan ilmu filsafat dan kehidupan zuhud yang ekstrim.

Oleh karena itu, sejarah perkembangan tasawuf  itu meliputi masa pembentukan(abad 1-2 H), masa pengembangan(abad 3-4 H), masa konsolidasi(abad 5 H), masa falsafi(abad 6 H) , dan  masa pemurnian(abad 7 H dan seterusnya).

2.2  Saran

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan krtik dan saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang.




Tasawuf Dalam Hadist Dan Alquran


BAB 1

PENDAHULUAN


A.                Latar Belakang

Tasawuf merupakan kecenderungan mistisme universal yang ada sejak dahulu kala, berasaskan sikap zuhud terhadap keduniaan dan bertujuan membangun hubungan dengan al-mala’al-a’la yang merupakan sumber kebaikan, emanasi, dan ilumunasi. Tasawuf bukan monopoli umat tertentu, kebudayaan tertentu, agama tertentu, maupun aliran filsafat tertentu.

Banyak pendapat yang muncul mengenai asal-usul ajaran tasawuf. Beberapa diantaranya menyatakan bahwa ajaran tasawuf berasal dari agama-agama lain selain Islam. Ada pendapat yang menyatakan asal-usul tasawuf bersumber dari Budha atau Hindu, mereka lupa bahwa mengalirnya pengaruh India terhadap kebudayaan Islam terjadi pada masa yang akhir. Sementara ilmu kalam, filsafat dan sains, dalam Islam, cikal-bakalnya muncul di atas lahan yang dipengaruhi kebudayaan Yunani.

Secara pasti ajaran-ajaran tasawuf bersumber dari pedoman utama dalam agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadist. Di sini pemakalah mencoba memaparkan berbagai hal yang bersumber dari hadist Nabi Muhammad SAW. yang dijadikan sebagai dasar dan landasan tasawuf yang berkembang dalam agama Islam.


B.           Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalh ini antara lain:

1.      Bagaimana Landasan Tasawuf Islam dalam Hadist Nabi Muhammad SAW.?

2.      Bagaimana kehidupan Rasulullah SAW. yang dijadikan sebagai sumber tasawuf Islam?







BAB 2

PEMBAHASAN



A.          Landasan Tasawuf Islam dalam Hadist Nabi Muhammad SAW.

Timbulnya tasawuf dalam Islam bersamaan dengan kelahiran agama Islam itu sendiri, yaitu semenjak diutusnya Muhammad SAW. menjadi rasul untuk segenap umat manusia dan seluruh alam semesta. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi Muhammad sebelum diangkat menjadi rasul melakukan tahanuts dan khalwat di Gua Hira berulang kali, disamping untuk mengasingkan diri dari masyarakat kota Makkah yang sedang mabuk memperturutkan hawa nafsu keduniaan, juga Muhammad mencari jalan untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa dari noda-noda yang menghinggapi masyarakat di waktu itu.

Tahanuts dan khalwat yang dilakukan Muhammad tersebut bertujuan untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh liku-liku  problema-problema hidup yang beraneka ragam ini, berusaha mendapat petunjuk dan hidayah dari pencipta alam semesta ini, mencari hakikat kebenaran yang dapat mengatur segala-galanya dengan baik. Maka dalam situasi yang demikianlah Muhammad menerima wahyu dari Allah SWT. yang penuh berisi ajaran-ajaran dan peraturan-peraturan sebagai pedoman untik umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Nabi Muhammad SAW. sudah menjelang usia empat puluh tahun ketika beliau pergi ke Gua Hira melakukan tahanuts. Jiwanya sudah penuh iman atas segala apa yang telah dilihatnya. Beliau telah membebaskan diri dari segala kebathilan. Tuhan telah mendidiknya. Dengan sepenuh kalbu beliau menghadapkan diri ke jalan lurus, kepada kebenaran yang abadi. Beliau telah menghadapkan diri kepada Allah SWT. dengan sepenuh jiwanya agar dapat memberikan hidayah dan bimbingan kepada masyarakat yang sedang hanyut dalam lembah kesesatan.

Segala pola tingkah laku, amal amal perbuatan dan sifat-sifat Muhammad SAW. sebelum diangkat menjadi Rasul merupakan menifestasi dari kebersihan hati dan kesucian jiwanya yang sudah menjadi pembawaan sejak kecil.

Masyarakat Islam mengisi kehidupan rohani mereka dengan menurutkan himbauan dan ajakan agama yang digariskan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Pola pengamalan Rasulullah menjadi anutan para sahabat, tabi’in, dan tabi;it tabi’in dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Kehidupan dunia bagi mereka tidak menyebabkan lalai terhadap kehidupan akhirat dan begitu pula sebaliknya, karena kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang hakiki. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :

إِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا. وَاعْمَلْ لِأّخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا (ابن عساكر)

Artinya:

Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati besok pagi. (H.R. Ibnu ‘Asakir)

            Sumber pokok ajaran Islam berupa hadist Nabi SAW dengan jelas telah memuat landasan dari praktek tasawuf. Adapun hadist-hadist yang menunjukkann tentang pola kerohanian dalam Islam dan umumnya dinyatakan sebagai landasan ajaran-ajaran tasawuf antara lain:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ نَفْسَهُ

Artinya:

Barang siapa yang menegnal dirinya sendiri, maka akan mengenal Tuhannya.

إِنْ إِقْتَرَبَ الْعَبْدُ إِلَيَّ شبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ

Artinya:

Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika datang kepada-ku berjalan, maka Aku dating kepadanya berlari. (H.R. Bukhari)

Pandangan mengenai cinta kepada Tuhan berdasarkan ucapan Rasul yang menyampaiakn ucapan Tuhannya yaitu:

كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًّا فَأَحْبَبْ أَنْ أُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَبِيْ عَرَفُوْنِيْ

Artinya:

Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku menjadikan makhluk agar mengenalKu.

            Berdasarkan hal tersebut, maka ini sebenarnya adsalah cermin “Pencipta” jadi setiap apa yang ada akan kembali kepada sesuatu yang azali (yaitu Allah).

Hadist Qudsi yang lain:

لَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَ بَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَ لِسَنَهُ الَّذِيْ يَنْطِقُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَ رِجْلَهُ الَّتِيْ يَسْعَى بِهَا فَبِيْ يَسْمَعُ وَبِيْ يُبْصِرُ وَ بِيْ يَنْطِقُ وَ بِيْ يَعْقِلُ وَبِيْ يَبْطِشُ وَبِيْ يَمْشِيْ  

Artinya:

Senantiasalah seorang hamba itu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka apabila mencintainya, maka jadilah Aku pendengarannya yang dia pakai untuk melihat dan lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha. Maka denganKu lah dia mendengar, melihat, berbicara, berfikir, meninju, dan berjalan. (H.R. Bukhari-Muslim)

            Hadist di atas memberi petunjuk bahwa manusia dan Tuhan dapat bersatu. Diri mausia dapat melebur dalam diri Tuhan, yang selanjutnya dikenal dengan istilahfana’. Fananya makhluk terhadap khalik, yang mencintai dengan yang dicintai. Fana adalah bersatunya hamba dengan zat yang tinggi yang bisa dirabanya dengan hatinya. (Qamar Kailani: 18). Namun, istilah “lebur” atau “fana” ini, menurut kami, harus dipertegas bahwa antara Tuhan dan manusia tetap ada jarak atau pemisah, sehingga tetap berbeda antara Tuhan dengan hamba-Nya. Di sini hanya menunjukkan keakrabanantara makhluk dan Khaliqnya.

            Berikut ini dikemukakan beberapa hadist yang merupakan landasan lahirnya tasawuf:

1.      Aisyah berkata:

أَنَّ نَبِيَّاللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ الَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُز. فَقَالَتْ عَائِشَةُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ. قَلَ : أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرَا. (رواه البخاري و مسلم)

Artinya:

Adalah Nabi SAW. bangun shalat malam (qiyam al-lail), sehingga bengkak kakinya. Aku berkata kepadanya, ‘Gerangan apakah sebabnya, wahai utusan Allah, engkau sekuat tenaga melakukan ini, padahal Allah telah berjanji akan mengampuni kesalahanmu, baik yang terdahulu maupun yang akan datang? ‘ Beliau menjawab, ‘Apakah aku tidak akan suka menjadi seorang hamba Allah yang bersyukur?’ (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

2.      Rasulullah SAW. bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّيْ لَأَسْتَغْفِرُاللَّهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً. (رواه البخارى)

Artinya:

Demi Allah, aku memohon ampunan kepada Allah dalam sehari semalam tak kurang dari tujuh puluh kali. (H.R. al-Bukhari)

3.      Rasulullah SAW. bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَ اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ يَغْدُوْخِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا. (رواه الترمذي)

Artinya:

Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberikan rezeki pada kalian sebagaimana burung yang pergi dalam keadaan perut kosong dan pulang sudah kenyang. (H.R. at-Turmudzi)

            Faktor intern yang dapat dipandang sebagai penyebab langsung lahirnya tasawuf di dunia Islam, selain berupa pernyataan Al-Qur’an dan hadist, adalah perilaku Rasulullah sendiri. Sebagaimana telah dimaklumi, beliau di dalam bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) tidak jarang pergi meninggalkan keramain dan hidup menyepi untuk merenung dan berkontemplasi dan ber-tahannus di Gua Hira. Ternyata, di tengah-tengah kesendiriannya inilah, beliau berkomunikasi dengan Allah dan mendapat perunjuk-Nya.


B.        Kehidupan Rasulullah SAW. yang Dijadikan Sebagai Sumber Tasawuf Islam

            Jika mencermati sirah, sejarah Nabi SAW. maka akan terpapar dengan jelas bahwa ada hubungan erat antara pola hidup Rasulullah SAW. yang penuh kezuhudan dan kesederhanaan, dengan kehidupan kaum zuhud di masa permulaan Islam, kemudian kaum sufi sejati setelah mereka yang menempa diri mereka dengan aneka macam riyadhah dengan tujuan meminimalisir tuntutan-tuntutan fisik agar jiwa mereka mudah menjalankan berbagai macam ibadah, berkomunikasi dengan Allah, dan berdekatan dengan-Nya.

            Tidak ada yang lebih menunjukkan fakta ini daripada deretan khabar tentang perilaku kehidupan beliau yang dimuat dalam sejumlah hadist shahih.

a.       Kezuhudan dan Kesederhanaan Beliau dalam Hal Makanan dan Pakaian

            Salah satunya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hazim dari Rasulullah SAW. bahwa beliau sangat bersahaja dalam soal makan. Ia bercerita : Aku melihat Abu Hurairah memberi isyarat dengan jarinya beberapa kali, seraya berkata, “Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah ada dalam genggaman tangan-Nya, Nabi Allah SWT. tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut dengan mengonsumsi roti gandum sampai beliau meninggal dunia.” (H.R. al-Bukhari).

            Cerita Aisyah semakin mempertegas riwayat Abu Hazim dari Abu Hurairah ini sebab ia adalah orang terdekat beliau dan tentu saja ia lebih tahu bagaimana kezuhudan Rasulullah SAW. dalam hal makan. Masruq berkata: Aku pernah bertamu pada Aisyah ra., lalu ia mempersilahkanku makan. (Selesai makan) ia berkata, “Tidaklah aku kenyang karena makanan, melainkan aku ingin menangis.” Masruq berkata: Aku bertanya: “Kenapa?” Ia menjawab: “Aku teringat saat terakhir Rasulullah SAW. meninggal dunia. Demi Allah, beliau tidak pernah kenyang dari roti dan daging dalam sehari.” (Katanya) sampai dua kali. (H.R. at-Tirmidzi).

Perlu dicatat pula –mengingat nilai pentingnya— bahwa Rasulullah SAW. tidak menganggap pola makan minim sebagai kekhususan beliau yang tidak boleh diikuti oleh umatnya, namun, Rasulullah SAW. juga ingin agar umatnya menerapkan pola serupa karena hal itu mengandung unsure kesederhanaan dan tidak tenggelam dalam kenikmatan hidup.

            Apa yang diriwayatkan al-Hasan dari Rasulullah SAW. ini dperkuat oleh hadist-hadist lain yang cukup banyak dan berstatus shahih, diantaranya hadist yang diriwayatkan al-Miqdam bin Ma’di Yarkab. Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيِّ وِعَاءَ شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لاَمَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَ ثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَ ثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Artinya:

Manusia tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perut. Cukuplah bagi manusia beberapa suapan kecil yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Bila tidak dapat maka usahakanlah sepertigauntuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk napasnya. (H.R. at-Tirmidzi)

            Kesederhanaan makan Rasulullah SAW. bukan satu-satunya potret kezuhudan dan kesederhanaan beliau, namun, beliau juga begitu zuhud dan sederhana dalam berpakaian. Diriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah SAW. makan makanan kasar, memakai pakaian yang berbahan kasar, dan hanya sesekali mengenakan pakaian dari bulu domba. (H.R. al-Hakim).

b.      Kezuhudan dan Kesederhanaan Alas Tidur Rasulullah SAW.

            Rasulullah SAW. juga memakai las tidur berkualitas rendah karena lebih mengutamakan perilakua zuhud dan kesederhanaan daripada terlena dalam kenikmatan hidup. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Pada alas tidur yang sangat bersahaja dilatarbelakangi oleh keimanan beliau yang sempurna bahwa dunia hanyalah tempat tinggal sementara, bukan untuk selama-lamanya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra. Ia berkata: Rasulullah SAW. tidur di atas tikar lalu beliau bangun, tikar itu membekas di lambung beliau., kami berkata: Andai kami membuatkan hamparan lunak untuk Anda. Beliau bersabda: “Apa urusanku dengan dunia?! Aku di dunia tidak lain seperti seorang pengendara yang bernaung di bawah pohon, setelah itupergi meninggalkannya. (H.R. at-Tirmidzi).

            Di sini, tidak ada seorang pun yang dapat menyangkal dengan mengatakan bahwa riwayat tentang kebersahajaan alas tidur Rasulullah SAW. lebih dikarenakan bangsa Arab kala itu belum mengenal sarana-sarana hidup seperti masyarakat beradab, bukan karena factor kezuhudan beliau. Sirah nabawi sendiri menunjukkan kabatilan persepsi ini, begitu juga sejarah bangsa Arab. Sebab mereka telah menegnal berbagai fasilitas penanda peradaban sebagaimana yang dinikmati oleh para raja dari bangsa-bangsa lain. Buktinya, para sahabat pernah menawarkan kepada Nabi SAW. untuk membuat fasilitas-fasilitas kemewahan hidup layaknya para raja, namun, beliau menolaknya Karen akezuhudan beliau terhadap keduniaan. Diriwayatkan dari al-Hasan, ia berkata: Umar pernah menemui RAsulullah SAW. Ia melihat beliau tengah berbaring di atas tikar atau alas tidur. Ia bilang, aku melihat tikar tersebut membekas di pinggang Rasulullah SAW. Umar pun menangis. Nabi SAW. lalu bertanya kepadanya: “Wahai Umar, apa yang membuatmu menangis?” Umar menjawab, “Engkau ini Nabi Allah, sementara Kisra (raja Persia) dan Kaisar (raja Romawi) hidup bergelimag emas!” Rasulullah SAW. menukas, “Tidak ridhakah engkau jika mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?!” Umar menjawab, “Tentu!” beliau bersabda: “Seperti itulah seharusnya.”


c.       Kezuhudn dan Kesederhanaan Rasulullah SAW. Sebagai Pilihan Hidup

            Satu fakta kebenaran yang harus diungkapkan bahwa kezuhudan dan kesederhanaan Rasulullah SAW. bukanlah karena factor kemiskinan dan keterdesakan kondisi hidup, melainkan lebih karena sebuah pilihan dan kegemaran. Beliau lebih memilih hidup zuhud dan sederhana daripada menyiukkan diri dengan berbagai bentuk kenikmatan hidup di dunia yang fana. Diriwayatkan dari Abu Uamamah ra. Dari Rasulllah SAW. beliau bersabda:

عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّيْ لِيَجْعَلَلِيْ بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا قُلْتُ لاَ يَا رَبِّيْ وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَ أَجُوْعُ يَوْمًا وَقَالَ ثَلَاُثًا اَوْ نَحْوَ هَذَا فَإذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُك

Artinya:

Rabb-Ku pernah menawariku untuk mengubah padang pasir Makkah menjadi emas, namun, aku bilang: O Tuhan, aku hanya ingin kenyang sehari dan lapar sehari –beliau mengucapkan sebanyak tiga kali atau yang setara— Sehingga bila lapar, aku dapat menundukkan diri pada-Mu, mengingat-Mu, dan bila kenyang, aku bersyukurkepada-Mu, dan memuji-Mu. (H.R. at-Tirmidzi).


Ibadah Ekstra Rasulullah SAW.

            Jika mencermati kehiidupan Rasulullah SAW. tergambar jelas pula bahwa beliau banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan ibadah ekstra, dan ini menjadi sumber inspirasi bagi kaum zuhud awal, kemudian kaum sufi sepeninggal mereka dalam menjalankan pola ibadah serupa.

a.       Intensitas Shalat Rasulullah SAW.

            Rasulullah SAW. menurut sejumlah riwayat gemar melaksanakan shalat di tengah malam. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Bahwasanya Rasulullah SAW. melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aku bilang kepada beliau, “Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini, padahal Allah telah mengmpuni dosa Anda yang telah berlalu dan yang akan dating?!” Beliau menjawab, “Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).


b.      Intensitas Puasa Rasulullah SAW.

            Rasulullah SAW. juga mempeprbanyak puasa sunnah. Hadis-hadis mengenai hal ini cukup banyak, di antaranya yang diriwayatkan olehAnas bin Malik ra., ia berkata: “Rasulullah SAW. senang berpuasa dan sering kali tidak makan sampai kami mengatakan setahun ini Rasulullah SAW. berpuasa terus. Namun, di tahun berikutnya beliau tidak berpuasa sampai kami mengatakan beliau tidak suka berpuasa setahun penuh. Dan puasa yang paling beliau sukai adalah puas abulan Sya’ban. (H.R. Ahmad dan ath-Thabari).


c.       Syarat-Syarat Memperbanyak Frekuensi Ibadah

            Penting diisyaratkan di sini bahwa Rasulullah SAW. dalam sejumlah hadist melarang keras tindakan memperketat didi (tasyaddud) dalam masalah ibadah. Disebutkan dalam riwayat Muslim misalnya bahwa Zainab giat menjalankan qiyamullail. Saking bersemangatny, ia mengikatkan seutas tali di masjid sebagai penopang tubuh agar dapat terus-menerus melanjutkan shalat. Ketka Rasulullah SAW. mengetahui hal tersebut, beliau langsung melarangnya

            Kasus serupa menurut riwayat Muslim terjadi pada Haula’, yang ebrpantang tidur malam agar dapat memperbanyak ibadah, dan ketika Rasulullah SAW. menegatahuinya, beliau pun melarangnya. Larangan serupa disampaikan Rasulullah SAW. kepada Abdullah bin Amru yang konon bertekad untuk berpuasa terus-menerus dan qiyamullail sepanjang malam.

            Ketiga hadist yang berisi larangan Nabi SAW. untuk berlaku ekstrem dalam beribadah ini tidak serta merta mengurangi apalagi menafikan anjuran untuk memperbanyak ibadah. Sebab tujuan dari hadist Zainab adalah arahan bahwa shalat sebagai media hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, harus dilakukan dalam kondisi fit (bugar) agar pelaku dapat merasakan kenikmatan spiritual saat berkomunikasi dengan Allah, Tuhan sekalian alam. Sementara tujuan dari hadist al-Haula’ adalah pemberian peringatan bahwa aktifitas memperbanyak ibadah bagi orang yang tidak mampu tidak tidak dianjurkan. Sama halnya seperti orang yang qiyamullail sepanjang malam hingga melalaikan kewajiban atau mengabaikan hak adami (manusia) yang disyariatkan. Oleh karena itu, Rasulullah SAW. bersabda: “ Kerjakanlah amal sesuai kemampuan kalian, sesungguhnya Allah SWT. tidak pernah bosan sampai kalian sendiri bosan.”

            Begitu juga halnya dengan hadist Abdullah bin Amru, yang menurut an-Nawawi mengandung arahan dan pesan bahwa qiyamullail semalam suntuk dan menegrjakannya secara berkesinambungan setiap malam makruh hukumnya sebab ia akan menimbulkan kebosanan dalam beribadah.

            Adapun larangan Nabi SAW. pada Ibnu Amru untuk terus menerus berpuasa hanya berlaku khusus baginya karena dengan cahaya kenabian yang dimiliki, beliau tahu bahwa ia tidak akan mampu menjalankan hal tersebut secara kontinu. Sedangkan untuk selain Ibnu Amru, puasa demikian dianjurkan bagi yang memang mampu. Buktinya, Rasulullah SAW. mengizinkan Hamzah bin Amru untuk terus berpuasa meski dalam kondisi musafir karena beliau tahu ia mampu melaksanakannya.
























BAB 3

PENUTUP


A.    Kesimpulan

                Setelah kita mengetahui tentang asal usul tasawuf, kita dapat menyimpulkan bahwa para ahli ada yang berpendapat bahwa tasawuf sebagian berasal dari agama selain Islam. Namun, ajaran tersebut tidak terlalu mendominasi. Sementara ajaran Islam yang dijadikan sebagai landasan tasawuf bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist. Banyak hadist Rasulullah yang dijadikan sebagai sumber ajaran tasawuf ini. Namun, tidak hanya dari perkataan NAbi Muhammad SAW. yang dijadikan sebagia sumber ajaran tasawuf, perilaku keseharian beliau juga menjadi landasan dalam pengamalan ajaran tasawuf Islam.


B.     Saran

                Semoga setelah membaca makalah ini kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Alloh SWT, salah satunya dengan memperdalam ilmu tasawuf yang bertujuan untuk mensucikan diri. Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi kami sebagai penulis, umumnya bagi semua pembaca.





WASIAT NASEHAT
Assalamualaikum War.Wab. Blog yang saya sajikan ini merupakan kumpulan Wasiat, Nasehat dan manaqib Para Ahlul Bait dan Dzurriyat Rasulullah SAW; diharapkan dengan membaca riwayat hidup mereka, bertambah cinta kita kepada Rasulullah SAW,keluarganya dan keturunannya. Amiin. koreksi dan saran anda saya harapkan. jika ada kesalahan, mohon dimaafkan. Semoga kita mendapat Ridho dan Rahmat Allah SWT serta Syafaat Rasulullah SAW. Wass.Wr.Wb.

Wasiat Nasehat ( Umur )

“Siapa yang menginginkan khusnul khotimah dipenghujung umurnya, hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia.”
( Imam Syafi’i )

"Renungkanlah pendeknya umurmu. Andaikata engkau berumur seratus tahun sekalipun, maka umurmu itu pendek jika dibandingkan dengan masa hidupmu kelak di akhirat yang abadi, selama-lamanya.
Coba renungkan, agar dapat beristirahat ( pensiun )selama dua puluh tahun, dalam satu bulan atau setahun engkau sanggup menanggung berbagai beban berat dan kehinaan di dalam mencari dunia. Tetapi mengapa engkau tidak sanggup menanggung beban ibadah selama beberapa hari demi mengharapkan kebahagiaan abadi di Akhirat nanti?
Jangan panjang angan-angan, engkau nanti akan berat untuk beramal. Yakinilah bahwa tak lama lagi engkau akan mati. Katakan dalan hatimu :
Pagi ini aku akan beribadah meskipun berat, siapa tahu nanti malam aku mati. Malam ini aku akan sabar untuk beribadah, siapa tahu besok aku mati.
Sebab, kematian tidak datang pada waktu, keadaan dan tahun tertentu. Yang jelas ia pasti datang. Oleh karena itu, mempersiapkan diri menyambut kedatangan maut lebih utama daripada menpersiapkan diri menyambut dunia. Bukankah kau menyadari betapa pendek waktu hidupmu di dunia ini? Bukankah bisa jadi ajalmu hanya tersisa satu tarikan dan hembusan napas atau satu hari?
Setiap hari lakukanlah hal ini dan paksakan dirimu untuk sabar beribadah kepada Allah swt. Andaikata engkau ditakdirkan untuk hidup selama lima puluh tahun dan kau biasakan dirimu untuk sabar beribadah, nafsumu tetap akan berontak, tetapi ketika maut menjemput kau akan berbahagia selama-lamanya. Tetapi, ketika engkau tunda-tunda dirimu untuk beramal, dan kematian datang di waktu yang tidak kau perkirakan
( Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

"Jika engkau telah berusia empat puluh tahun, maka segeralah untuk memperbanyak amal shaleh siang maupun malam. Sebab, waktu pertemuanmu dengan Allah 'Azza wa Jalla semakin dekat. Ibadah yang kau kerjakan saat ini tidak mampu menyamai ibadah seorang pemuda yang tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Bukankah selama ini kau sia-siakan masa muda dan kekuatanmu. Andaikata saat ini kau ingin beramal sekuat-kuatnya, tenagamu sudah tidak mendukung lagi.
Oleh karena itu beramallah sesuai kekuatanmu. Perbaikilah masa lalumu dengan banyak berdzikir, sebab tidak ada amal yang lebih mudah dari dzikir. Dzikir dapat kamu lakukan ketika berdiri, duduk, berbaring maupun sakit. Dzikir adalah ibadah yang paling mudah.
Rasulullah saw bersabda :
وليكن لسانك رطبا بذكر اللّه
Dan hendaklah lisanmu basah dengan berdzikir kepada Allah swt.
Bacalah secara berkesinambungan doa' dan dzikir apapun yang mudah bagimu. Pada hakikatnya engkau dapat berdzikir kepada Allah swt adalah karena kebaikannya. Ia akan mengaruniamu…..
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

"Ketahuilah, sebuah umur yang awalnya disia-siakan, seyogyanya sisanya dimanfaatkan. Jika seorang ibu memiliki sepuluh anak dan sembilan diantaranya meninggal dunia. Tentu ia akan lebih mencintai satu-satunya anak yang masih hidup itu. Kamu telah menyia-nyiakan sebagian besar umurmu, oleh karena itu jagalah sisa umurmu yang sangat sedikit itu.
Demi Allah, sesungguhnya umurmu bukanlah umur yang dihitung sejak engkau lahir, tetapi umurmu adalah umur yang dihitung sejak hari pertama engkau mengenal Allah swt.
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

"seseorang yang telah mendekati ajalnya ( berusia lanjut ) dan ingin memperbaiki segala kekurangannya di masa lalu, hendaknya dia banyak membaca dzikir yang ringkas tetapi berpahala besar. Dzikir semacam itu akan membuat sisa umur yang pendek menjadi panjang, seperti dzikir yang berbunyi :
سبحان اللّه العظيم وبحمده عدد خلقه ورضانفسه وزنة عرشه ومداد كلماته
Maha suci Allah yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya, ( kalimat ini kuucapkan ) sebanyak jumlah ciptaan-Nya, sesuai dengan yang ia sukai, seberat timbangan Arsy-Nya dan setara dengan jumlah kata-kata-Nya.
Jika sebelumnya kau sedikit melakukan shalat dan puasa sunah, maka perbaikilah kekuranganmu dengan banyak bershalawat kepada Rasulullah saw. Andaikata sepanjang hidupmu engkau melakukan segala jenis ketaatan dan kemudian Allah swt bershalawat kepadamu sekali saja, maka satu shalawat Allah ini akan mengalahkan semua amalmu itu. Sebab, engkau bershalawat kepada Rasulullah sesuai dengan kekuatanmu, sedangkan Allah swt bershalawat kepadamu sesuai dengan kebesaran-Nya. Ini jika Allah swt bershalawat kepadamu sekali, lalu bagaimana jika Allah swt membalas setiap shalawatmu dengan sepuluh shalawat sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah Hadits Shahih?
Betapa indah hidup ini jika kau isi dengan ketaatan kepada Allah swt, dengan berdzikir kepada-Nya dan bershalawat kepada Rasulullah saw."
( Ibnu 'Atha illah Askandari )

WASIAT NASEHAT
Assalamualaikum War.Wab. Blog yang saya sajikan ini merupakan kumpulan Wasiat, Nasehat dan manaqib Para Ahlul Bait dan Dzurriyat Rasulullah SAW; diharapkan dengan membaca riwayat hidup mereka, bertambah cinta kita kepada Rasulullah SAW,keluarganya dan keturunannya. Amiin. koreksi dan saran anda saya harapkan. jika ada kesalahan, mohon dimaafkan. Semoga kita mendapat Ridho dan Rahmat Allah SWT serta Syafaat Rasulullah SAW. Wass.Wr.Wb.

Wasiat Nasehat ( Ilmu )

"Ilmu itu luas, sedangkan umur kita pendek, oleh karena itu, pilihlah ilmu yang sangat kamu butuhkan bagi agamamu dan tinggalkan yang lain.
Perumpaan seorang Mukmin di dunia ini adalah seperti seorang pasien di tangan perawatan dokternya. Ketika si pasien menginginkan sesuatu, sang dokter melarangnya, setelah dia sembuh, barulah sang dokter mengizinkannya. Begitu seorang Mukmin, terkadang ia menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain tetapi Allah swt tidak mewujudkan keinginannya tersebut hingga dia meninggal dunia dan masuk surga. ( sebab kalau diberikan di dunia, akan membuat dia tersesat )
( Sayyidina Salman Al-farisi )

“Ilmu dan Iman akan memudahkan orang untuk selalu Taqorrub ( mendekatkan diri) kepada Allah swt.”
( Imam Hasan Basri )

“Seseorang yang mencoba melakukan apa-apa yang dilarang Allah swt selain dosa syirik, masih lebih daripada dia berfikir dengan pandangan ilmu kalam.”
( Imam Syafi’i )

“Tujuan dari ilmu adalah mengamalkannya, maka ilmu yang hakiki adalah yang terefleksikan dalam kehidupannya, bukannya yang bertengger di kepala.”
( Imam Syafi’i )

“Tidak ada satupun ilmu yang ingin aku pelajari setelah aku memahami tentang masalah halal dan haram, kecuali ilmu kedokteran, tapi mengapa kita jauh terbelakang dibanding dengan orang-orang nasrani?”
( Imam Syafi’i )

“Cukuplah ilmu itu menjadi keutamaan bagi seseorang, ia bangga manakala disebut sebagai orang berilmu. Ia juga disebut bodoh manakala meninggalkan bagian dari pengetahuannya, dan jika kata bodoh itu ditujukan kepadanya, tentu ia akan marah.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa yang ingin menjadi seorang pemimpin, niscaya kedudukan yang didambakannya itu akan meninggalkannya, dan jika ia telah menduduki jabatan, maka ia akan ditinggalkan banyak ilmu.”
( Imam Syafi’i )

“Dasar ilmu adalah kemantapan dan buahnya adalah keselamatan. Dasar Wara’ ( menjaga diri dari sesuatu yang meragukan ) adalah Qona’ah ( menerima karunia Allah swt dengan dada yang lapang ) dan buahnya adalah ketenangan batin. Dasar Kesabaran adalah keteguhan hati dan buahnya adalah kemenangan. Dasar suatu Aktifitas adalah Taufiq ( pertolongan Allah swt ) dan buahnya adalah kesuksesan. Dasar Tujuan akhir dari segala Perkara adalah Shidiq ( benar ).”
( Imam Syafi’i )

“Orang yang mengkaji ilmu faraid, dan sampai pada puncaknya, maka akan tampil sebagai sosok orang yang ahli berhitung. Adapun ilmu hadits, itu akan tampak nilai keberkahan dan kebaikannya pada saat tutup usia. Adapun ilmu fiqih merupakan ilmu yang berlaku bagi semua kalangan baik muda maupun yang tua, karena fiqih merupakan pondasi dasar dari segala ilmu.”
( Imam Syafi’i )

“Seorang bijak menulis kepada seorang bijak lainnya : “wahai saudaraku, engkau telah dianugerahi ilmu, maka janganlah kamu kotori ilmumu dengan gelapnya dosa, sehingga kamu berada dalam kegelapan di saat para ahli ilmu berjalan dengan suluh ilmunya.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa menghendaki akhirat, maka hendaknya ia ikhlas dalam mencari ilmu.”
( Imam Syafi’i )

“Tidak ada orang yang mencari ilmu yang disertai dengan kemalasan; dan kekayaan menjadikan seseorang beruntung, namun keberuntungan itu akan melekat dalam diri orang yang senantiasa mencari ilmu dengan disertai semangat yang tinggi dan prihatin serta bersanding selalu dengan Ulama.”
( Imam Syafi’i )

“Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketabahan.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an, maka mulia nilainya. Barangsiapa berbicara tentang fiqih, maka akan berkembang kemampuannya. Barangsiapa menulis hadits, maka akan kuat hujjahnya. Barangsiapa mengkaji bahasa, maka akan lembut tabiatnya. Barangsiapa mengkaji ilmu hitung, maka akan sehat pikirannya. Barangsiapa tidak menjaga jiwanya, maka ilmunya tidak akan berguna baginya.”
( Imam Syafi’i )

“Pondasi dasar adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika tidak didapati dari keduanya, maka Qiyaslah berlaku. Jika hadits itu shahih, itulah yang disebut sunnah. Ijma’ itu lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada hadits ahad. Yang diambil dari hadits itu adalah teksnya, namun jika hadits tersebut mengandung banyak penafsiran, maka carilah yang mendekati makna teksnya.”
( Imam Syafi’i )

“Mencari ilmu lebih utama daripada shalat sunnah. Mempelajari hadits itu lebih baik daripada shalat tathawwu.”
( Imam Syafi’i )

“Ilmu terbagi dua ; ilmu kesehatan dan ilmu agama. Yang dimaksud dengan ilmu agama disini adalah ilmu fiqih, sementara ilmu kesehatan adalah ilmu kedokteran.”
( Imam Syafi’i )

“Pelajarilah dengan teliti suatu pengetahuan, agar engkau tidak kehilangan kedalaman arti kandungannya.”
( Imam Syafi’i )

“Tak pantas, siapapun mengatakan halal dan haram kecuali berlandaskan pada pengetahuan. Dan ilmu itu adalah apa yang yang tertulis dalam Al-Qur’an, hadits, ijma’ ataupun qiyas. Dari dasar inilah kesemuanya akan terungkap maknanya.”
( Imam Syafi’I )

“Andaikan aku ditakdirkan mampu menyuapkan ilmu kepadamu, pasti kusuapi engkau dengan ilmu.”
( Imam Syafi’I )

“Aku akan merasa bahagia, jika semua orang mempelajari ilmu ini, dan sama sekali tidak menyandarkannya padaku.”
( Imam Syafi’I )

“Betapa aku senang, jika semua ilmu yang aku ketahui dimengerti oleh semua orang, maka dengannya aku mendapat pahala, meskipun mereka tidak memujiku.”
( Imam Syafi’i )

“Menuntut ilmu membutuhkan tiga hal : memiliki keterampilan, umur ( waktu ) yang panjang dan mempunyai kecerdasan.”
( Imam Syafi’i )

“Jika kalian melihat kitab yang didalamnya ada catatan tambahan dan perbaikan, maka lihatlah kebenaran yang ada didalamnya.”
( Imam Syafi’i )

“Mereka yang menguasai bahasa arab adalah jin yang berupa manusia, mereka melihat apa yang tidak dilihat orang lain.”
( Imam Syafi’i )

“Sesungguhnya akal itu punya batas maximal, sebagaimana mata juga mempunyai batas pandang maximal.”
( Imam Syafi’i )

“Siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka harus disertai dengan ilmu; dan siapa menghendaki akherat, juga harus dengan ilmu.”
( Imam Syafi’i )

”Setelah semua kegelisahan itu, perhatianku ku pusatkan pada jalan sufi. Ternyata jalan ini tidak akan dapat ditempuh kecuali dengan ilmu dan amal. Langkahnya harus menempuh tanjakan-tanjakan batin dan penyucian diri untuk mengkondisikan kesiapan batin, kemudian mengisinya dengan zikir kepada Allah SWT.””Bagiku, ilmu lebih mudah daripada amal. Maka aku pun segera memulai perjalanan spiritualku dengan mempelajari ilmu para sufi terdahulu, membaca karya-karya mereka. Antara lain Quth al-Qulib karya Abu Thalib Al-Makki dan karya-karya Haris Al-Muhasibi. Juga ucapan-ucapan Junaid Al-Bagdadi, Asy-Syibli, Abu Yazid Al-Busthami “
( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

"Kalian menghadiri majelis ilmu hanya untuk mencari jalan keluar bagi permasalahan duniawi kalian, bukan untuk mengobati penyakit hati. Kalian tidak mendengarkan nasihat para penceramah, tetapi meneliti kesalahan mereka, kemudian menghina dan mentertawakannya, kalian juga bermain-main dalam majelis. Sesungguhnya kalian sedang mempertaruhkan diri kalian kepada Allah swt yang Maha Agung dan Maha Mulia. Segeralah bertobat, jamgan mencontoh musuh-musuh Allah 'Azza wa jalla. Berusahalah untuk mengambil manfaat dari apa yang kalian dengar."
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailany )


"Barang siapa duduk dalam majelis ilmu bersama seorang yang berilmu, tetapi tidak mampu menghapal sedikitpun ilmu yang disampaikan disana, maka dia telah mendapatkan tujuh kemuliaan :
1. Dia mendapatkan pahala yang disediakan bagi penuntut ilmu.
2. Selama duduk dalam majelis itu, dia terhindar dari perbuatan dosa.
3. Rahmat Allah swt menghampirinya ketika dia keluar dari rumah menuju majelis itu.
4. ketika orang-orang yang berada dalam majelis ilmu tersebut memperoleh rahmat, maka dia juga akan memperoleh bagian darinya.
5. Selama dia mendengarkan kajian di majelis itu, dia tercatat sebagai seorang yang sedang beribadah kepada Allah swt.
6. ketika dia sedih karena kurang mampu memahami kajian yang disampaikan, maka kesedihannya itu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
7. Di majelis itu dia akan melihat kemuliaan seseorang yang berilmu dan kehinaan seorang pendurhaka. Akhirnya dia akan menyukai ilmu dan membenci perbuatan fasik.
( Syekh Abul Laits )

“Keridhoan Allah swt dan Rasulnya terletak pada muthalaah( mempelajari dan memperdalam ) Al qur’an dan hadits serta kitab-kitab agama islam.”
( Al-Imam Auliya Al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus )

“Orang yang bahagia adalah orang yang disenangkan oleh Allah tanpa alasan tertentu dan orang yang sengsara adalah orang yang disengsarakan Allah tanpa sebab tertentu. Demikianlah menurut ilmu hakikat. Sedangkan menurut ilmu syariat; orang yang bahagia adalah orang yang oleh Allah diberi kesenangan dengan melakukan berbagai amal saleh, dan orang yang disengsarakan oleh Allah dengan meninggalkan amal-amal saleh dan melanggar syariat agama.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Sumber-sumber ilmu tidak akan berkurang sedikitpun dari generasi terkemudian, akan tetapi pada umumnya mereka datang dengan membawa wadah yang bocor, sehingga tidak memperoleh ilmu kecuali sedikit.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

“Camkanlah, jangan sampai kalian tidak mempelajari ilmu bahasa, Nahwu dan shorof. Karena ilmu bahasa merupakan dasar dan perantara kalian untuk memahami semua ilmu.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )

“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tidak akan meninggalkanmu di dunia maupun di akhirat. Ilmu adalah Alat. Meskipun ilmu itu baik, tapi hanyalah alat, bukan tujuan. Ilmu digunakan hanya untuk mencapai tujuan. Ilmu harus diiringi adab, akhlaq danniat-niat saleh. Ilmu demikian inilah yang dapat mengantarkan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Pelajarilah ilmu, tanamkan dalam hati niat untuk mengamalkannya, maka Allah swt akan mengembalikan semua yang hilang dari kalian.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Jika kau membaca sesuatu dan tidak dapat memahaminya, atau hatimu tidak hadir sewaktu membacanya, maka ulangilah lagi di waktu yang lain. Sebab setiap waktu memilki rahasia yang berbeda.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

"Saat-saat ini aku jarang melihat santri-santri atau siswa-siswa madrasah yang menghargai ilmu. Banyak aku lihat mereka membawa mushaf atau kitab-kitab ilmu yang lain dengan cara tidak menghormatinya, menenteng atau membawa dibelakang punggungnya. Lebih dari itu mereka mendatangi tempat-tempat pendidikan yang tidak mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mencintai ilmu tapi mencintai nilai semata-mata. Mereka diajarkan pemikiran para filosof dan budaya pemikiran-pemikiran orang Yahudi dan Nasrani."
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

"Apa yang akan terjadi pada generasi remaja masa kini? Ini tentu adalah tanggung jawab bersama. Al-Habib Ali pernah merasakan kekecewaan yang sama seperti yang aku rasa. Padahal di zaman beliau, aku melihat kota Seiwun dan Tarim sangat makmur, bahkan negeri Hadramaut dipenuhi dengan para penuntut ilmu yang beradab, berakhlaq, menghargai ilmu dan orang 'Alim. Bagaimana jika beliau mendapati anak-anak kita disini yang tidak menghargai ilmu dan para Ulama? Niscaya beliau akan menangis dengan air mata darah. Beliau menambahkan bahwa aku akan meletakkan para penuntut ilmu di atas kepalaku dan jika aku bertemu murid yang membawa bukunya dengan rasa adab, ingin rasanya aku menciun kedua matanya."
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

"Aku teringat pada suatu untaian mutiara nasihat Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas yang mengatakan; Ilmu adalah alat, meskipun ilmu itu baik ( hasan ), tapi hanya alat bukan tujuan, oleh karenanya ilmu harus diiringi adab, akhlaq dan niat-niat yang sholeh. Ilmu demikianlah yang dapat mengantakan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi."
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

WASIAT NASEHAT
Assalamualaikum War.Wab. Blog yang saya sajikan ini merupakan kumpulan Wasiat, Nasehat dan manaqib Para Ahlul Bait dan Dzurriyat Rasulullah SAW; diharapkan dengan membaca riwayat hidup mereka, bertambah cinta kita kepada Rasulullah SAW,keluarganya dan keturunannya. Amiin. koreksi dan saran anda saya harapkan. jika ada kesalahan, mohon dimaafkan. Semoga kita mendapat Ridho dan Rahmat Allah SWT serta Syafaat Rasulullah SAW. Wass.Wr.Wb.

Wasiat Nasehat ( Ujub & Tawadhu )

“Jika rasa ujub menghinggapi aktifitasmu, maka lihatlah keridhaan siapa yang kau harapkan, pahala mana yang kau suka, sanksi mana yang kau benci. Maka jika engkau memikirkan satu di antara kedua hal ini, niscaya akan hadir di depan matamu apa yang sudah kamu lakukan.”
( Imam Syafi’i )

”Bagaimana cara membebaskan diri dari ‘Ujub ( merasa bangga terhadap diri sendiri )?”
”Pandanglah segala sesuatu sebagai pemberian Allah swt, ingatlah bahwa Dia lah yang memberikan taufiq kepada kita sehingga dapat melakukan kebaikan, dan buanglah perasaan bahwa kita telah berbuat sesuatu. Kalau sudah demikian, niscaya kita akan selamat dari penyakit tersebut.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )




“Tawadhu’ adalah perkara yang sangat diidam-idamkan. Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukannya sendiri. Akan tetapi tawadhu’ dihadapan orang yang tidak bisa menghargai orang lain merupakan bentuk kezhaliman terhadap diri sendiri.”
( Imam Syafi’i )

“Hendaklah kamu bertawadhu dan tidak menonjolkan diri. Jauhilah sikap takabur dan cinta kedudukan.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

WASIAT NASEHAT

Assalamualaikum War.Wab. Blog yang saya sajikan ini merupakan kumpulan Wasiat, Nasehat dan manaqib Para Ahlul Bait dan Dzurriyat Rasulullah SAW; diharapkan dengan membaca riwayat hidup mereka, bertambah cinta kita kepada Rasulullah SAW,keluarganya dan keturunannya. Amiin. koreksi dan saran anda saya harapkan. jika ada kesalahan, mohon dimaafkan. Semoga kita mendapat Ridho dan Rahmat Allah

Wasiat Nasehat ( Zuhud )

Orang Zuhud itu mempunyai tiga Syarat :

1. Sedikit sekali menggemari dunia, sederhana dalam menggunakan segala miliknya, menerima apa yang ada, juga tidak merisaukan segala sesuatu yang tidak ada, akan tetapi giat dalam bekerja, karena bekerja adalah mencari rizki, sedangkan mencari rizki, suatu kewajiban.
2. pujian dan celaan adalah hal yang sama, tidak bergembira bila mendapat pujian, juga tidak bersedih jika mendapat celaan atau hinaan.
3. mengutamakan ridho Allah swt dari pada ridho manusia atau merasa tenteram jiwanya bersama Allah swt dan merasa bahagia sebab dapat mentaati semua tuntutannya.
( Imam Hasan Basri )

Engkau harus berlaku Zuhud, sesungguhnya zuhudnya orang yang zuhud itu lebih baik dari perhiasan yang ada pada tubuh wanita yang menawan.
( Imam Syafi’i )

“Siapa yang merasa bahwa dalam dirinya terkumpul dua cinta, cinta dunia dan cinta kepada penciptanya, maka ia telah berdusta.”
( Imam Syafi’i )

“Ketahuilah bahwa orang yang jujur kepada Allah swt, ia akan selamat. Barangsiapa yang bersemangat dengan agamanya, ia pun akan selamat dari kerusakan, dan barangsiapa yang berlaku zuhud dengan urusan dunianya, niscaya kelak pahala Allah swt, akan nampak indah di matanya.”
( Imam Syafi’i )

“Berlakulah zuhud dalam menjalani hidup di dunia, dan cintailah kehidupan akhirat dan barangsiapa harum bau ( badan )nya, maka kecerdasannya akan semakin bertambah.”
( Imam Syafi’i )

“Sangat jauh jika bermaksud memaknai sehat atau kenyang tanpa mengalami sendiri rasa sehat atau kenyang. Mengalami mabuk lebih jelas daripada hanya mendengar tentang arti mabuk, meskipun yang mengalaminya mungkin belum pernah mendengar teori mabuk. Maka mengetahui arti dan syarat-syarat zuhud tidak sama dengan bersifat zuhud.”
( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

"Kehidupan seorang muslim tidak dapat dicapai dengan sempurna, kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap. Tahapan-tahapan itu antara lain : tobat, sabar, faqir, zuhud, tawakal, cinta, makrifat dan ridha. Karena itu seseorang yang mempelajari tasawuf wajib mendidik jiwa dan akhlaknya. Sementara itu, hati adalah cermin yang sanggup menangkap makrifat. Dan kesanggupan itu terletak pada hati yang suci dan jernih."
( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

”Tidaklah keabadian itu melainkan dengan perjumpaan dengan Allah swt, sedangkan perjumpaan dengan Allah swt itu adalah seperti kedipan mata, atau lebih cepat dari itu. Di antara ciri orang yang akan berjumpa dengan tuhannya adalah tidak terdapat sesuatu yang bersifat fana pada dirinya sama sekali. Sebab keabadian dan fana adalah dua sifat yang saling bertolak belakang.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

”Makhluk adalah tabir penghalang bagi dirimu, dan dirimu adalah tabir penghalang bagi tuhanmu. Selama kamu melihat makhluk, selama itu pula kamu tidak melihat dirimu, selama itu pula kamu tidak melihat tuhanmu.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

“Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah SWT. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanannya.”
“Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah SWT. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku mrnganggap orang itu hanyalah perantara saja,”
( Imam Qutb Irsyad Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad )

“Cabutlah ketajaman dari sarung pedang tabiatmu yang membelah akar cinta dari asalnya. Taburilah tanah dengan benih pohon-pohon kezuhudan, hingga menghasilkan qurb ( kedekatan ) kepada Allah swt, air telaga dari celah wishal ( persatuan dengan Allah swt ), dan pengetahuan pada puncak tujuan.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )


WASIAT NASEHAT
Assalamualaikum War.Wab. Blog yang saya sajikan ini merupakan kumpulan Wasiat, Nasehat dan manaqib Para Ahlul Bait dan Dzurriyat Rasulullah SAW; diharapkan dengan membaca riwayat hidup mereka, bertambah cinta kita kepada Rasulullah SAW,keluarganya dan keturunannya. Amiin. koreksi dan saran anda saya harapkan. jika ada kesalahan, mohon dimaafkan. Semoga kita mendapat Ridho dan Rahmat Allah SWT serta Syafaat Rasulullah SAW. Wass.Wr.Wb.


Wasiat Nasehat ( Bid'ah )

“Bid’ah itu terbagi menjadi dua macam : segala sesuatu yang baru dan tidak sejalan dengan kitab, sunnah, atsar, ijma’ itu merupakan bid’ah dhalalah ( bid’ah yang sesat ). Sementara jika sesuatu yang baru itu tidak berseberangan dengan Al-Qur’an, hadits, atsar dan ijma’, maka sesuatu yang baru itu disebut bid’ah hasanah ( bid’ah yang baik ).”
( Imam Syafi’i )

“Ikutilah Sunnah rasul dengan penuh keimanan, jangan mengerjakan bid’ah, patuhlah selalu kepada Allah swt dan Rasulnya, janganlah melanggar. Junjung tinggi tauhid, jangan menyukutukan Allah swt, selalu sucikan Allah swt, dan jangan berburuk sangka kepadanya. Pertahankanlah kebenarannya, jangan ragu sedikitpun. Bersabarlah selalu, jangan menunjukkan ketidak sabaran. Beristiqomahlah dengan berharap kepadanya; bekerja samalah dalam ketaatan, jangan berpecah belah. Saling mencintailah, dan jangan saling mendendam.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

“Sesungguhnya terlalu memfasih-fasihkan bacaan adalah bid’ah. Andaikata salaf membaca Al-Qur’an seperti mereka yang suka memfasih-fasihkan bacaannya, tentu mereka tidak dapat menghatamkan Al-Qur’an dalam semalam.”
“Imam Ghazali juga pernah berkata bahwa hudhur dan khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an tidak mungkin dapat dirasakan oleh orang yang membaca Al-Qur’an dengan terlalu memfasihkan huruf dan memberi tekanan berlebihan pada tasyhid-tasyhidnya. Andaikata kalian curahkan seluruh konsentrasi kalian untuk merenungkan makna rahmat, pujian, rububiyyah, kekuasaan Allah SWT ( al-Malik) penghambaan, permohonan, permohonan hidayah, shirotol mustaqim yang ada dalam Fatihah, maka itu lebih baik.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Atthas dahulu melarang seseorang bergaul dengan Ahli bid’ah, orang-orang yang aqidahnya menyimpang dan orang-orang yang merendahkan kaum sholihin, Para Wali dan Ulama. Jika melewati tempat yang ada orang-orang yang memiliki salah satu sifat di atas, beliau menutupi kepalanya dan berjalan dengan cepat.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

WASIAT NASEHAT

Assalamualaikum War.Wab. Blog yang saya sajikan ini merupakan kumpulan Wasiat, Nasehat dan manaqib Para Ahlul Bait dan Dzurriyat Rasulullah SAW; diharapkan dengan membaca riwayat hidup mereka, bertambah cinta kita kepada Rasulullah SAW,keluarganya dan keturunannya. Amiin. koreksi dan saran anda saya harapkan. jika ada kesalahan, mohon dimaafkan. Semoga kita mendapat Ridho dan Rahmat Allah SWT serta Syafaat Rasulullah SAW. Wass.Wr.Wb.


Wasiat Nasehat ( Teman )

“Sabar adalah mahkota, kesetiaan adalah harga diri, memberi adalah kenikmatan, banyak bicara adalah membual ( omong kosong ), tergesa-gesa adalah kebodohan, kebodohan adalah aib, berlebih-lebihan ( dalam berkata ) adalah kebohongan, berteman dengan orang yang ahli berbuat hina adalah kejahatan dan berteman dengan ahli kefasikan adalah pusat prasangka buruk.”
( Imam Husein bin Ali Bin Abu Thalib Ra )

“Janganlah kamu merasa tidak suka berteman dengan seseorang, meskipun kamu telah mengira bahwa orang ini tidak akan bermanfaat bagi dirimu, karena sesungguhnya kamu tidak tahu kapan kamu akan membutuhkan temanmu itu.
( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Wahai putraku janganlah engkau berteman dengan orang fasik, karena sesungguhnya dia akan menjualmu dengan sesuap makanan atau lebih sedikit lagi dari hal itu yang ia belum memperolehnya, dan janganlah berteman dengan orang bakhil ( pelit ) karena sesungguhnya dia akan mentelantarkanmu di dalam apa yang dia miliki, sedangkan engkau sangat membutuhkannya, serta janganlah kanu berteman dengan seorang pembohong, karena sesungguhnya dia adalah seperti fatamorgana, ia membuat sesuatu yang jauh nampak dekat dihadapanmu dan membuat sesuatu yang dekat nampak jauh dari dirimu, demikian juga orang yang tolol, karena sesungguhnya ia ingin menguntungkan dirimu ( tapi karena ketololannya ) maka ia malah menyengsarakan dirimu, dan jangan pula dengan suka memutuskan tali persaudaraan, karena dia adalah orang yang mendapat laknat di dalam kitabullah, dengan firmannya : “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah swt, maka Allah swt menulikan telinga mereka dan membutakan penglihatan mereka.”
( Muhammad :22-23 )
( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Seburuk-buruknya seorang teman ialah yang hanya menemanimu ketika kamu kaya dan meninggalkanmu ketika kamu miskin.”
( Sayyidina Imam Muhammad Al-Baqir )

"Jika engkau berteman dengan para pecinta dunia, mereka akan menyeretmu untuk mencintai dunia. Jika engkau berteman dengan para pecinta Akhirat, maka mereka akan membawamu untuk mencintai Allah swt.
Rasulullah saw bersabda :
يحشر المرء على دين خليله, فلينظر أحد كم من يخالل
Seseorang akan dikumpulkan sesuai dengan agama temannya, oleh karena itu, setiap orang dari kalian hendaknya memperhatikan siapa yang ia jadikan sebagai teman.
( HR. tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad dengan matan berbeda ).
Sebagaimana ketika akan makan engkau memilih makanan yang enak dan tidak berbahaya dan juga ketika akan menikah kau pilih wanita cantik, maka ketika akan berteman pilihlah orang yang dapat menunjukkan kepadamu jalan menuju keridhaan Allah swt.
Ketahuilah, sesungguhnya kamu memiliki tiga teman :
1. Harta, ia akan meninggalkanmu saat kau mati.
2. Keluarga, mereka akan meninggalkanmu sendirian di dalam kubur.
3. Amal, ia tidak akan pernah meninggalkanmu.
Oleh karena itu, pilihlah teman yang tidak akan meninggalkanmu sendirian di dalam kubur dan akan akan selalu menghiburmu ( yaitu amal shaleh )."
( Ibnu Atha illah Askandari )
Wait while more posts are being loaded