Pembahasan 211

Masih Tentang “MACAM-MACAM ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

1. Istighroq Ahadiyyah.
Yaitu menenggelamkan diri dalam samudra keesaan Alloh, sehingga tiada merasakan apapun, baik yang ditemukan, dilihat, didengar, difikir, diucapkan serta apapun adanya, semua itu menjadi tiada (fana’) dan hilang dari pandangan bathin justru yang terlihat hanya Alloh adanya, dan semua itu dalam pandangan bathin menjadi “laa maujuuda Illallooh” (tiada yang berwujud malainkan Alloh), kemudian “laa sifaata illallooh” (tiada yang bersifat melainkan Alloh), juga “laa af’aala illallooh” (tiada yang berbuat melainkan Alloh)

Keadaan seperti ini sebagaimana yang dialami oleh beliau “Abu Yazid Albustomi ra”, ketika beliau mengaku dirinya adalah “alhaq” atau “Alloh”, yang demikian adalah karena beliau didalam memandang segala sesuatu termasuk memandang kepada dirinya tersebut beliau tersebut dalam keadaan “istighroq” yaitu sedang mengalami istighroq ahadiyyah, sehingga beliau tidak melihat apapun termasuk dirinya sendiri melainkan Alloh yang maha nyata (Dhohir), demikian pula mungkin yang dialami oleh “Sunan Kali Jaga” ketika beliau diperintahkan untuk bertapa di tepi (pinggir) kali, maka tiada satupun yang ada dalam pandangan bathin beliau melainkan Alloh adanya, sehingga dikisahkan bahwa sampai rumput dan ilalang menjalari tubuhnya sedang ia tidak merasa dan sebagainya. Dan masih banyak lagi kisah-kisah lain yang serupa dengan cerita-cerita tersebut diatas.Namun intinya keadaan yang demikian adalah merupakan satu keadaan yang disebut “fana`” (rusak pandangannya kepada selain Alloh) akibat dari istighroq yang telah mencapai tingkatan tertinggi.

Adapun mengenai latihan untuk menghidupkan zauqiyyah tersebut agar bathin tersebut dapat merasakan keadaan fana’ tersebut adalah dengan mengistiqomahkan (membiasakan diri) melatihnya terutama pada waktu-waktu tertentu, dan waktu yang paling tepat adalah pada sepertiga malam setelah melakukan ibadah dan zikir ataupun wirid, adapun caranya :

a. Waktu pelaksanaan.

1. Setelah selesai melakukan wirid-wirid dan sebagainya (sebagai penutup) wirid.

Hendaknya setiap selesai melakukan wirid (wirid apa saja) baik yang khusus maupun yang umum selalu menyempatkan diri untuk melakukan istighroq ahadiyah tersebut, walaupun itu dilakukan hanya sebentar.

2. Setiap selesai sholat yaitu setelah sholat apa saja.

Waktu sehabis sholat itu adalah moment yang sangat tepat untuk melakukan istighrok tersebut, maka lakukan istigrok tersebut secara istiqomah setelah selesai membaca wirid-wirid tertentu setelah sholat (jika setelah sholat tersebut ada wirid-wirid yang biasa dibaca), tetapi jika tidak ada maka dapat langsung melakukan istighroq tersebut.

3. Menjelang berangkat tidur sampai tertidur.

Ketika berangkat tidur, pasti tidak bisa langsung tertidur, maka saat-saat menunggu waktu tertidur tersebut hendaknya diisi dengan istighroq ahadiyyah tersebut dan lakukan secara istiqomah (terus menerus).

4. Disaat waktu senggang kapan saja dan dimana saja.

Jika memiliki waktu-waktu senggang kapan saja dan dimana saja walau di wc sekalipun, maka istighroq ahadiyah tersebut sangat baik untuk dilakukan

Maka setengah dari pada manfaat melakukan latihan-latihan tersebut adalah dimana mata hati (zauqiyyah) tersebut, otomatis akan membuat mata hati tersebut semakin tajam, dan dapat menjadi sebab tersingkapnya rahasia-rahasia ketuhanan dan terbukanya pintu ma;rifat serta memasukinya.

b. Tekhnik pelaksanaan.

1. Diam dan jangan menyebut apapun baik dilisan maupun dihati kemudian Satukan fikiran dan perasaan (berkonsentrasi).

2. Tarik nafas dalam-dalam kemudian lepaskan atau hembuskan secara perlahan dan diatur (jangan sampai terengah-engah) tarikan nafas seperti ini hanya dilakukan pada waktu latihan tersebut dilakukan sebagai penutup wirid, adapun yang selainnya tarikan nafas tersebut dilakukan secra normal saja yang terpenting jangan sampai memburu.

3. Jangan lupa diawali dengan Basmalah serta niyat yang murni semata-mata hanya karena Allah dan jangan mengharap yang lain selain murni untuk melaksanakan perintah Allah (untuk ibadah) kepadaNya.

4. Bersamaan tarikan dan hembusan nafas yang teratur tersebut, visulisasikan (bayangkan) kan wujud diri, getaran dan desirannya yang terasa dan ditimbulkan dalam diri tersebut, ingatlah... seungguhnya semua makhluk termasuk diri yang sedang kita pandang tersebut adalah seperti “bayangan”, jadi bila bayangan itu “ada” pasti karena ada sesuatu yang menjadi sumbernya.

Dalam konsentrasi tersebut, pandanglah diri tersebut laksana bayangan, wujudnya adalah bayangan, desiran darahnya adalah bayangan, degup jantungnya adalah bayangan, yang terlintas pada fikirannya adalah bayangan, keinginannya adalah bayangan, semuanya adalah bayangan, kemudian bila hadir dihadapan diri satu wujud yang sangat mirip dengan diri sendiri sangat cantik atau tampan wujudnya dan terlihat bercahaya serta sangat mempesona dan sebagainya, maka itupun bayangan, mengalami gerak ga’ib itupun bayangan, mengalami semacam petualangan bathin juga bayangan, mendapat sirri-sirri dan sebagainya semua itupun bayangan, jangan pernah terpesona oleh apapun yang akan dialami, sebab semua itu hanya bayangan, sedangkan yang menjadi sumbernya adalah Allah yang maha Dhohir (nyata).

Dalam kondisi konsentrasi tersebut maksimalkan arah pandangan bathin (rasa) hanya untuk menyaksikan sumber bayangan tersebut bukan memandang dengan mata kepala tetapi dengan mata hati dan jangan berfikir bentuknya seperti apa sumber bayangan tersebut, tetapi rasakan keberadaannya, seperti arus listrik yang tidak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan keberadaannya.

5. Jika sekiranya telah selesai dan sudah cukup, maka tutuplah dengan bacaan surah Al fatehah satu kali.
Ingat jika mengalami satu pengalaman bathin dan sebagainya, maka menutup dengan bacaan suratul fatehah tersebut otomatis akan mengembalikan semuanya pada keadaan semula (keadaan basyariyah).

Lakukan hal tersebut secara istiqomah (terus menerus).

Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 212

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------


Pembahasan 210

Tentang “MACAM-MACAM ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

Jika pengertian-pengertian tentang fana’ dan baqo’ serta bihaqiqotil Muhammadiyah tersebut diatas telah difahami, maka selanjutnya dikatakan bahwa berlatih untuk dapat merasakannya secara langsung itulah yang dinamakan “Istighroq”, dengan demikian dapat diartikan bahwa istighroq itu adalah satu latihan yang sengaja dilakukan untuk tujuan agar zauqiyyah dapat merasakan langsung keadaan fana’ baqo’ serta bihaqiqotil muhammadiyyah tersebut. Otomatis istighroq tersebut berhubungan dengan berbagai masalah khususnya masalah latihan-latihan untuk menghidupkan zauqiyyah itu sendiri agar dapat merasakannya langsung melalui hidupnya zauqiyyah, adapun istighroq tersebut memiliki tiga cabang yaitu istighroq Ahadiyyah (merasakan fana’ terhadap wujud, sifat serta af’alNya Allah), kemudian istighroq Muhammadiyyah (dapat merasakan langsung didalam zauqiyyah bahwa tiada yang ditemukan, difikir, dikerjakan, dirasa, berdiam dan bergerak dan sebagainya melainkan hanya Allah), kemudian istighroq Bihaqiqotil Muhammadiyyah (dapat merasakan langsung didalam zauqiyyah bahwa tiada yang ditemukan, difikir, dikerjakan, dirasa, berdiam dan bergerak dan sebagainya melainkan Allah dalam bentuk Nur Muhammad saw), adapun penjelasan mengnai ketiga cabang istighroq tersebut berikut bagai mana melatihnya adalah sebagai berikut :

“Kesungguhnanmu didalam melatih ketajaman mata hatimu (Istighroq), itulah yang bernilai disisi Tuhanmu dan jangan engkau justru menyangka bahwa hasil itulah yang bernilai disisiNya, jika engkau istiqomah melatihnya kelak bathinmu akan peka terhadap apa-apa yang engkau temukan hingga tiada yang engkau temukan melainkan Tuhanmu”

Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 211

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------

Pembahasan 209

Masih Tentang “ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

b. Inti Bihaqiiqotil Muhammadiyyah.

Jika semua itu telah difahami, maka sesungguhnya ruh Nabi Muhammad saw tersebut adalah merupakan Nur yang senantiasa menjadi unsur penyusun wujudnya segala sesuatu, dan segala sesuatu itu diwujudkan (diciptakan) oleh Allah dari unsur Nur tersebut sehingga segala sesuatu itu menjadi wujud, sebab jika seandainya penciptaan tersebut tanpa melalui Nur tersebut, otomatis sesuatu yang dicipta tersebut tidak akan mampu menerima kehendak Allah untuk berwujud dan sebagainya.

Dengan demikian dapat diartikan bahwa tidak ada sesuatupun baik yang wujudiyah, sifatiyah serta af’aliyah dan sebagainya yang tidak mengandung unsur penyusun yang berupa Nur Muhammad tersebut, maka dengan hidupnya zauqiyyah (ma’rifat Billah biz zauq) tersebut niscaya akan dapat ditemukan bahwa jagat raya beserta isinya serta apapun yang selainnya (selain Allah) dan sebagainya, semua itu adalah Nur yaitu Nur Muhammad dimana syuhud kepada Nur tersebut otomatis syuhud pula kepada Allah yang merupakan sumber dari segala sumber wujudnya segala sesuatu apapun adanya.

Dan inti dari bihaqiqotil Muhammadiyyah tersebut adalah merupakan inti dan manifestasi (perwujudan) dari pada syahadat Rosul (asyhadu anna Muhammadar Rosululloh)



Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 210

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------

Pembahasan 208

Masih Tentang “ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tujuan utama diciptakannya semua makhluk (manusia) adalah supaya mereka mengenali Allah, dengan kema’rifatan kepadaNya tersebut, maka dikatakan ada dua peringkat makrifat didalam mengenali Allah tersebut.
Yang pertama adalah seseorang itu perlu mengenali Allah melalui sifat-sifatNya (sebagai mana telah diuraikan dalam ilmu tauhid dasar) yang didalamnya terdapat dalil-dalil yang menjadi bukti terhadap keberadaan bagi wujudNya Allah tersebut (ma’rifat Billah Bil aqli). Kemudian yang kedua adalah mengenali Zat Allah. dengan melalui pandangan zauqiyyah (ma’rifat Billah Biz zauq), maka ma’rifat biz zauq tersebut hanya ada dan terjadi di dalam jiwa atau ruh suci manusia yang berada dan bertempat didalam dirinya yang dhohir tersebut, sebagai mana firman Allah swt :
“Dan Kami telah perkuat dia (Isa) dengan roh kudus”. (Surah Baqarah, ayat 87).

Dan difirmankan oleh Allah :

"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat 110)

Maka ketahuilah bahwa apa-apa yang dianugerahkan sebagai ilmu makrifat itu adalah merupakan tahap penghabisan bagi tingkatan yang pertama. Dan ilmu ma’rifat tersebut merupakan permulaan dan rumah bagi setiap orang untuk kembali kepada Allah. Di sanalah ruh suci tersebut dijadikan yaitu ruh insan dimana ia dijadikan dalam bentuk yang paling baik yang dikatakan memiliki keistimewaan yang lebih dari ruh-ruh makhluk-makhluk lainnya dimana ia memiliki kemampuan untuk ma’rifat kepada Allah tersebut, keistimewaan-keistimewaan tersebut telah ditanam di tengah-tengah hati sebagai amanah Allah, diamanahkan kepada manusia agar disimpan dengan selamat, ketiak ia redup maka ia dapat bangkit dan nyata melalui taubat yang sungguh-sungguh dan usaha yang benar dengan mempelajari dan memahami agama kemudian mengamalkannya, dengan demikian keindahannya akan memancar kembali kepermukaan apabila seseorang itu mengingat Allah secara terus menerus, mengulangi kalimah “La ilaaha illallah” dan sebagainya. Pada mulanya kalimah ini diucapkan dengan lidah. Bila hati sudah hidup ia diucapkan di dalam, dengan hati. hal ini sebagai mana digambarkan seperti, bayi yang lahir di dalam hati, dibelai dan dibesarkan di sana. Hati memainkan peranan seperti ibu, melahirkannya, kemudian menyusui, memberi makan dan memeliharanya. Jika anak-anak diajarkan perkara keduniaan untuk kebaikannya, kemudian bayi hati itupun diajarkan makrifat kerohanian, maka sebagaimana fitrah anak-anak tersebut adalah bersih dari dosa, bersifat murni, bebas dari kelalaian, ego dan ragu-ragu sebagai mana kesucian bayi tersebut biasanya terlihat dalam bentuk zahirnya yang cantik dan sebagainya. Dalam mimpi, kesucian dan kemurnian bayi hati tersebut muncul dalam bentuk rupa malaikat. Manusia berharap mendapat ganjaran surga sebagai balasan kepada perbuatan baik tetapi hadiah-hadiah yang didatangi dari surga didatangkan ke mari melalui tangan-tangan bayi hati tersebut.

“Berada dalam surga kenikmatan.Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda,”. (Surah Waqi’ah, ayat 12 – 17 ).

“Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.”. (Surah Tur, ayat 24).


Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 209

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------

Pembahasan 207

Masih Tentang “ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

Wahai anak-anak Adam, saudara-saudara dan saudari-saudari! Bangunlah dan bertaubatlah karena hanya melalui taubat itulah kamu sekalian akan dapat kembali kepadaNya (fafirruu ilallooh) kemudian mendapatkan karunia berupa hikmah, maka berusaha dan berjuanglah dan jangan pernah berputus asa dari rahmatNya, sebagai mana perintahNya :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”. (Surah Imraan, ayat 133 & 134).

Masuklah kalian kepada jalan tersebut, dan bergabunglah dengan kelompok kerohanian (hamba-hamba Allah) untuk kembali kepada Tuhan kamu, sebab disebutkan bahwa kelak pada satu masa nanti jalan tersebut kelak tidak dapat dilalui lagi dan tidak ada lagi pengembara pada jalan tersebut.
Sungguh keberadaan manusia dibumi ini bukan untuk merusak tatanan bumi dan dunia ini, juga bukan untuk sekedar makan, minum dan buang air besar dan sebagainya dimana semua itu hanya semakin menyuburkan hawa nafsu (lawwamah), maka sungguh Ruh (Nur) Muhammad yang menjadi unsur penyusun diri tersebut akan menyaksikannya dan Baginda Nabi saw tersebut sungguh berduka cita melihat keadaan tersebut. Maka sesungguhnya beliau Baginda nabi saw tersebut telah mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari sebagai mana sabdanya,

“Duka citaku adalah untuk umat yang aku kasihi yang akan datang kemudian”.

Maka ketahuilah bahwa, bila lahir (syari’at) dan bathin (kema’rifatan) dapat menyatu maka akan menyampaikannya kepada derajat ketaqwaan yang tinggi disisi Allah yang maha agung, karena itulah Allah swt memerintahkan agar senantiasa memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani (bidang dhohiriyah) sehingga dengannya dapat memenuhi dan menjalankan aturan-aturan syari’at (untuk beribadah) kepadaNya dengan menyertakan bathin didalamnya (kema’rifatan) kepadaNya tersebut, maka bila lahir dan batin tersebut telah menjadi satu dimana syari’at dan makrifat telah menyatu didalam amalan-amalan pengabdian diri, otomatis akan terbuka baginya segala haqiqatnya, dan keduanya tersebut harus menjadi satu, sebab dikatakan bahwa kebenaran (hakikat) tersebut tidak akan diperoleh dengan hanya menggunakan pengetahuan yang didapat melalui pancaindera yang ditangkap hanya pada alam kebendaan, dan dikatakan semua itu tidak mungkin akan dapat mencapai sumber, yaitu Zat Allah sebab Ibadah (pengabdian diri) kepada Allah tersebut memerlukan kedua-duanya yaitu adanya peraturan syari’at dan makrifat kepada Allah didalamnya, sebagai mana firmanNya :

“wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun”
(Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku). (Surah Dzaariyat, ayat 56).

Maka bagai mana mungkin seseorang dapat mengenali-Nya kemudian bagai mana mungkin dapat memuji-Nya dengan sebenar-benarnya, meminta pertolongan-Nya dan beribadah kepada-Nya dan sebagainya bila tanpa kema’rifatan kepadaNya, maka kemakrifatan tersebut dapat dicapai dengan menyingkap tabir hitam (kotoran-kotoran hati) yang menutupi cermin hati seseorang, kemudian menyucikannya sehingga bersih dan mengkilap sehingga bercahaya, kemudian segala perbendaharaan rahasia-rahasia yang penuh keindahan yang tersembunyi otomatis akan memancar pada rahasia cermin hati tersebut. Allah Yang Maha Tinggi telah berfirman melalui rasul-Nya:

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku suka dikenali, lalu Aku ciptakan makhluk supaya Aku dikenali”.


Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 208

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------

Pembahasan 206

Masih Tentang “ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

Dan ketahuilah bahwa, haqiqat Ruh Muhammad saw. tersebut adalah zat yang berupa Nur yang merupakan hakikat unsur penyusun wujudnya segala sesuatu baik yang wujudiyah, sifatiyah maupun af’aliyah dari segala sesuatu itu, maka yang demikian adalah merupakan permulaan adanya seluruh alam beserta isinya, sebab dikatakan bahwa seandainya tidak ada Nur (Ruh) Muhammad yang menjadi unsur penyusun segala sesuatu tersebut, pastilah segala sesuatu itu tidak akan mampu menerima kehendak Allah untuk diwujudkan sehingga segala sesuatu itu tidak mungkin menjadi ada (wujud). Dan ini sesuai dengan sabda Nabi Saw :

“Aku diciptakan Allah dari NurNya dan diciptakan sekalian yang lain dari Nur (Ruh)Ku”.

Jika hal ini telah difahami, maka sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi tersebut telah menciptakan sekalian Ruh itu dari Ruh (Nur) Nabi Muhammad saw tersebut, dan diciptakannya apapun yang selainnya adalah merupakan manifestasi (perwujudan) dari Nur (Ruh) Nabi Agung Muhammad saw tersebut, untuk itulah didalam penciptaan, maka yang paling pertama-tama dicipta tersebut adalah ‘Ruh (Nur) Muhammad’ tersebut yang merupakan sumber dan asal usul serta unsur penyusun (secara bathin) dari setiap penciptaan segala sesuatu dan segala-galanya.
Dan ketahuilah bahwa empat ribu tahun setelah diciptakannya cahaya (Nur) Muhammad tersebut kemudian Allah menciptakan arasy dari Nur (cahaya) mata Muhammad saw. kemudian Allah ciptakan makhluk yang lainnya, kemudian Allah hantarkan roh-roh turun kepada peringkat penciptaan yang paling rendah yaitu kepada alam kebendaan, alam jirim dan badaniyah.

“tsumma rodadnaahum asfalasaafiliin”
(kemudian kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya) (Surah Tin, ayat 5)

Allah turunkan Nur tersebut dari tempat ia diciptakan, yaitu dari alam lahut, yaitu alam yang dhohir bagi Zat Allah, dhohir bagi keesaanNya, dan dhohir bagi wujudNya yang mutlak, kemudian dari alam tersebut ruh-ruh tersebut diturunkan kepada alam nama-nama Ilahi, kepada hakikat sifat-sifat Ilahi, hingga kepada alam asbab bagi akal, kemudian ruh-ruh tersebut diturunkan kepada alam kebendaan, alam jirim, air dan api, tanah dan angin dan sebagainya maka para ruh tersebut dinamakan “ruh manusia” yang merupakan sumber kehidupan bagi jasadiyah, kemudian Allah ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah dan sebagainya sebagai mana firman Allah swt :

(Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain). (Surah Ta Ha, ayat 55)

Setelah itu Allah memerintahkan kepada ruh-ruh tersebut untuk memasuki badan-badan (jasad) atas kehendakNya, dan para ruh itupun masuk, sebagai mana disebutkan :

(Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruhKu; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya…). (Surah Shad, ayat 72).

Hingga pada saatnya setelah waktu yang ditetapkan dimana akhirnya ruh-ruh itupun akan keluar meninggalkan jasad yang selama ini ditempatinya yaitu sebuah tempat yang berupa jasad, darah dan daging dan sebagainya (kematian), maka kebanyakan manusia lupa kepada asal usul kejadiannya dan mereka lupa tatkala Allah ciptakan mereka sewaktu masih berada pada alam arwah, sesungguhnya saat itu Allah telah bertanya kepada mereka (para Ruh) : “Adakah aku ini Tuhan kamu? Mereka telah menjawab:Iya,” kemudian mereka lupa kepada ikrar (janji) mereka tersebut dimana mereka telah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan mereka dan merekapun lupa kepada asal usul mereka, juga lupa kepada jalan untuk kembali kepada tempat asal mereka, bahkan untuk mengingatkan mereka agar tidak melupakan janji (ikrar) mereka tersebut betapa Allah itu dengan sifat Maha PengampunNya tersebut Allah masih memberikan ampunan terhadap mereka yang lupa tersebut (bagi mereka yang mau bertobat), kemudian dengan sifat penyayangNya, Allah menurunkan kitab-kitab suci dan rasul-rasul (utusan-utusan) kepada mereka agar mereka itu senantiasa mendapat peringatan atas janji (ikrar) serta terhadap asal usul mereka itu, sebagai mana firmanNya :

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): ""Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah"". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”. (Surah Ibrahim, ayat 5)

Maka para rasul-rasul telah diutus Allah kedunia ini, dan mereka melaksanakan tugas mereka sesuai dengan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadkemudian mereka mereka hingga mereka meninggalkan dunia ini (kematian). Maka tujuannya adalah tidak lain agar semua itu dapat menjadi peringatan (pengingat) untuk menyadarkan para manusia tersebut dari kelalaian mereka.

Maka sesungguhnya para manusia sejak zaman terdahulu (zaman manusia pertama) sulit sekali menerima peringatan-peringatan dari para rosul agar mereka kembali mengingat asal usul mereka tersebut, dan hanya mereka yang mau mendengarkan peringatan-peringatan (mengingatnya) tersebut otomatis hanya mereka yang akan kembali kepadaNya tetapi dikatakan bahwa para manusia yang mau kembali kepada-Nya tersebut justru sedikit sekali dan jumlah mereka dikatakan semakin berkurang dan terus berkurang ditelan zaman. Karenanya Nabi-nabi dan rosul terus diutus untuk menjadi pengingat kepada mereka yang lupa hingga diutuslah Ruhh Muhammad yang mulia, yang terakhir dari kalangan nabi-nabi, yang menyelamatkan manusia dari kehancuran dan kelalaian.

Maka Allah Yang Maha Tinggi mengutusnya untuk membuka mata manusia yaitu membuka mata hati mereka yang selama ini tertidur disebabkan mereka lupa pada asal usul mereka tersebut, membangunkan manusia dari kelalaian dan ketidaksadaran sehingga kelak menyatukan mereka kepada keindahan yang abadi, sebagai mana firman Allah :

“Katakanlah: ""Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Surah Yusuf, ayat 108).
Dan bersabda Nabi saw :

“Sahabat-sahabatku adalah umpama bintang di langit. Barang siapa dari mereka kamu ikuti, maka kamu akan menemui jalan yang benar”.

Maka ketahuilah, bahwa bashiroh (pandangan mata bathin) yang dimiliki oleh para Ruh hanya dapat dimiliki oleh mereka yang dapat kembali kepada Allah dengan mengingat kembali kepada asal usul mereka tersebut, hal ini telah diperingatkan oleh Allah sebagai mana firmanNya :

“Fafirruu Ilalloh” (maka kembalilah kalian kepada jalan Allah)

Maka dengan kembali kepada Allah tersebut akan terbuka baginya pengetahuan-pengetahuan dari alam gho’ib yang tersembunyi yaitu pengetahuan-pengetahuan yang mengalir dari kesadaran Ilahiy yang berawal dari kesadaran asal usul mereka itu sendiri, maka dikatakan bahwa semua ilmu di dalam dunia ini tidak akan menghidupkan pandangan basirah tersebut kecuali mereka mendapatkan pengetahuan yang datangnya dari alam ghaib yang tersembunyi yaitu pengetahuan yang mengalir dari kesadaran Ilahi tersebut sebagai mana disebutkan :

“Dan Kami telah ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami (ilmu laduni)”. (Surah Kahfi, ayat 65).

Maka untuk mencapainya tersebut yang perlu seseorang lakukan adalah mencari orang yang mempunyai pandangan bashiroh yang telah tajam dan menjadikannya guru (mursyid), kemudian menerima nasehat serta bimbingan darinya, maka orang yang demikianlah yang layak (memenuhi kriteria) untuk menjadi seorang guru, yang dapat memupuk pengetahuan orang lain serta mengarahkan kesadarannya untuk mengingat kepada janji (ikrar) asal usul kejadiannya kemudian melaksanakan janji (ikrar) tersebut.



Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 207

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------

Pembahasan 205

Masih Tentang “ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

a. Tentang Asal Mula Kejadian (Haqiqat Bathinun Nubuwwah).

Sesungguhnya yang paling pertama diciptakan oleh Allah swt sebelum Dia menciptakan segala sesuatu itu maka yang diciptakannya adalah Nur (Ruh) Muhammad yang berasal dari cahaya suci Keindahan-Nya. Sebagai mana disebutkan dalam hadis Qudsi Allah berfirman:

“Aku ciptakan ruh Muhammad dari Nur Wajah-Ku”.

Dan ini dinyatakan juga oleh beliau Nabi Muhammad s.a.w dengan sabdanya:

“Mula-mula Allah ciptakan ruhku sebagai ruh suci kemudian Allah menciptakan qalam kemudian Allah menciptakan akal”.

Maka yang dimaksud dengan awal mula penciptaan tersebut adalah haqiqat penciptaan awal (yang paling pertama diciptakan) yaitu penciptaan haqiqat dari bathin Beliau Nabi Muhammad s.a.w, Dia (Nur Muhammad) juga diberi nama yang indah-indah, kemudian Dia dinamakan Nur (cahaya suci), kerana Nur tersebut disucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalalNya Allah, sebagai mana firman Allah :

“qod jaa’akum minalloohi nuurun wakitaabum mubiin”
(Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan) (Al-Maaidah, ayat 15)

Kemudian Dia (Nur Muhammad) dinamakan akal (unsur penyusun akal) yang meliputi (akal universal) karena dia telah melihat dan mengenali segala-galanya. Kemudian Dia (Nur Muhammad) dinamakan qalam (unsur penyusun qalam) karena dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf sehingga ilmu-ilmu tersebut dapat dengan mudah dipelajari.


Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 206

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------

Pembahasan 204

Masih Tentang “ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

3. Pengertian Bihaqiqotil Muhammadiyyah.

“Sungguh haqiqat dari bathin Nabimu itulah yang berupa “Nur” yang selalu menjadi unsur penyusun dari penciptaan segala makhluk, hingga tiada sesuatupun yang wujud yang tanpa nurnya, dan sungguh wujudmu, sifatmu, af’almu bahkan wujud, sifat serta af’alnya seluruh makhluk itu adalah Nurnya nabimu.
Andai Nur Nabimu itu tidak dicipta oleh Tuhanmu, pastilah engkau dan seluruh makhluk itu tidak akan mampu menerima irodah Tuhanmu untuk dicipta, bukankah wujud, sifat dan af’al Tuhanmu itu tidak mungkin diserupakan”

Adapun “Bihaqiiqotil Muhammadiyyah”, adalah menyatunya jiwa kedalam haqiqat bathinun nubuwwah (Nur Muhammad) yang merupakan unsur penyusun segala makhluk. Sehingga dengan menyatunya jiwa tersebut mereka yang mengalaminya akan senantiasa menyadari bahwa didalam segala sesuatu yang ditemukannya (yang ada) apapun adanya baik yang wujudiyah, sifatiyah maupun af’aliyyah semua itu yang ditemukannya hanya Nur Muhammad adanya, dan yang demikian itulah yang merupakan inti dari haqiqat syahadat Rosul “wa`asyhadu anna Muhammadar Rosuululloh” (dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Alloh).

Maka untuk memahami konsep Nur Muhammad tersebut, terlebih dahulu harus difahami penjelasan-penjelasan mengenai “asal mula kejadian dan haqiqat bathinun nubuwwah” itu sendiri sebagai mana akan dijelaskan berikut :


Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 205

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------

Pembahasan 203

Masih Tentang “ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

“Fahamilah serta Renungkanlah……….
Jika engkau bercermin dimana engkau masih menyadari bahwa engkau itu berdiri dihadapan cermin, kemudian engkau juga menyadari bahwa didalam cermin itu ada bayangan yang menjadi tujuan dari focus pandanganmu, maka sungguh engkau itu mengalami baqo’ dimana engkau masih menyadari adanya cermin tetapi engkau menyadari didalamnya ada bayangan yang menjadi sifatnya cermin itu.
Sungguh ketika engkau menemukan makhluk dimana engkau masih menyadari keberadaannya tetapi dibalik keberadaannya makhluk itu engkau senantiasa menyadari adanya Tuhanmu yang menjadi sebab adanya makhluk itu, maka pandanganmu itulah yang dinamakan dimana engkau mengalami keadaan baqo’ dan tiadalah baqo’ itu melainkan didalamnya ada tiga keadaan yang engkau alami.
Ketika engkau menemukan wujudnya dirimu dan wujudnya semua makhluk yang engkau temui kemudian engkaupun menyadari dan merasakan adanya Tuhanmu yang menyertai wujud dirimu dan semua makhluk itu, maka sungguh engkau baqo’ didalam wujudNya Tuhanmu.
Ketika engkau menemukan sifat dirimu dan sifatnya seluruh makhluk yang engkau temui kemudian disaat yang sama engkaupun menyadari serta merasakan adanya sifat Tuhanmu yang menyertainya, sungguh engkau itu telah baqo’ terhadap sifat-sifatNya Tuhanmu itu.
Dan ketika engkau selalu menemukan perbuatanNya Tuhanmu didalam perbuatan-perbuatan dirimu dan perbuatan seluruh makhluk dimana engkau masih melihat adanya perbuatan dirimu dan perbuatan seluruh makhluk itu, sungguh engkau itu mengalami keadaan baqo’ terhadap perbuatan-perbuatanNya Tuhanmu.
Dan tahukah kamu, sesungguhnya kesempurnaan baqo’ itu adalah dimana engkau menemukan wujudnya makhluk, sifatnya serta perbuatannya engkau selalu menemukan bahwa didalamnya senantiasa terdapat wujud, sifat serta af’alNya Tuhanmu itu, dan tahukah kamu jika baqo’ itu adalah keadaan yang lebih sempurna dari keadaan fana’ sebelumnya, sebab jika engkau mengalami keadaan fana’ keadaanmu itu cenderung berbeda dari kebanyakan sesamamu, tetapi ketika engkau mengalami keadaan baqo’ engkau terlihat sama seperti mereka tetapi bathinmu itulah yang senantiasa hanya bersama Tuhanmu”

Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 204

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------

Pembahasan 202

Masih Tentang “ISTIGHROQ”

Saudaraku………..

2. Pengertian Baqo’.

Yang dimaksud Baqo’, adalah menemukan apapun yang selain Allah (menemukan makhluk) selalu dengan disertai kesadaran terhadap adanya Allah didalam apapun yang ditemukan tersebut. dan pengertian baqo’ tersebut hampir serupa dengan pengertian fana’ diatas, bila mereka yang mengalami fana’ tersebut keadaannya sama sekali tidak menyadari apapun selain Allah, maka lain halnya dengan mereka yang mengalami keadaan Baqo’ tersebut, dimana mereka yang mengalaminya masih menyadari keberadaan makhluk, hanya saja mereka selalu menemukan Allah didalam setiap sesuatu yang ditemukannya tersebut (pada makhluk), mereka senantiasa menyaksikan (syuhud) kepada adanya Allah didalam segala sesuatu yang ditemukannya tersebut, dan sebagai mana disebutkan bahwa :

“waliyyun Yabqoo fayarollooha fii kulli syai’in”
(ada seorang wali yang telah mencapai tingkatan baqo’ maka ia senantiasa melihat Allah didalam segala sesuatu)

Maka dikatakan bahwa tingkatan baqo’ ini adalah satu keadaan yang lebih sempurna dari keadaan fana’ tersebut diatas, sebab mereka yang mengalami baqo tersebut haliyahnya (keadaannya) dhohiriyyah mereka itu terlihat seperti umumnya manusia-manusia yang lainnya, diantara mereka ada yang berdagang, bekerja, bertani dan sebagainya tetapi bathin mereka itu hanya senantiasa berada dihadapan Hadhrotillah (senantiasa syuhud kepada Allah).

Maka keadaan “Baqo’” tersebut merupakan bentuk penerapan dan peresapan yang dapat menghidupkan jiwa (zauqiyyah) terhadap makna haqiqat “laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil adhiim” (tiada daya dan upaya sedikitpun melainkan atas kehendak Alloh), sehingga dengan meresapi makna haqiqat tersebut, segala sesuatu termasuk dirinya sendiri apapun adanya baik yang ditemukan, yang terlihat, yang terasa`, yang terlintas, yang terfikir, apapun semua menjadi ada dalam tiada, artinya sesuatu yang ditemukan tersebut masih terlihat ada (wujud) tetapi yang ditemukannya (disaksikannya) tersebut dalam sesuatu yang ditemukannya tersebut hanya Allah swt.

Keadaan mereka itu seperti orang yang memandang kepada “lukisan” walaupun dhohirnya ia menatap lukisan tersebut tetapi justru indahnya lukisan tersebut tidak menjadi perhatiannya bahkan sirna dari pandangannya dan justru yang terbayang dan terlihat olehnya adalah “si pelukisnya”, begitupun dengan mereka yang mengalami keadaan baqo’ tersebut maka didalam segala sesuatu yang ditemukan, dilihat, didengar serta apapun adanya, semua itu justru memperjelas wujud, sifat serta af’alNya Allah swt didalam didalam segala sesuatu yang ditemukannya.

Dengan demikian, maka mengalami keadaan baqo’ tersebut otomatis yang mengalaminya masih merasakan adanya sesuatu selain Alloh, tetapi wujudnya, sifat-sifatnya serta af’alnya segala sesuatu itu semata-mata karena sebab Allah sehingga menjadi berwujud, bersifat serta bera’fal, “laa syuhuuda Illalloh” (tiada yang dipandang atau disaksikan melainkan Alloh) dan mereka senantiasa menemukan Alloh didalam segala sesuatu.

Maka keadaan fana’ dan keadaan baqo’ tersebut merupakan manipestasi (perwujudan) dari “syahadat Tauhid” adanya, yaitu “asyhadu allaa ilaa ha`illallooh” (aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh).

Semoga Bermanfaat
Bersambung ke pembahasan 203

Note :
Fahamilah secara berurutan setiap pembahasannya, agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman (Terima kasih)

--------------------“”------------------
Wait while more posts are being loaded