Post is pinned.Post has attachment
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagi Para Sohibi & Sohibah yang ingin menyambung tali Silaturrahim ane undang ke group WA Pecinta Ahlul Bayt dengan cara sebutkan nama + no hp (wa) + daerah tinggal...
Photo

Post has shared content
Dari Walid wal Habibana Hasan
bin Jafar As, Segaf ,,,

" amalan yang paling baik di
Zaman ini " Wukuf " di hadapan
Aulia ,

duduk di hadapan Aulia lebih
baik dari pada ber Ibadah mulai.
dari hidup hingga matinya ,

baik Aulia itu yang masih hidup
atau yang telah berpindah
dan orang yang duduk di
hadapan Aulia tersebut di tulis
juga baginya sampai kehadirat
Alloh
Photo

Post has shared content
LIMA PESAN IMAM GHAZALI AGAR TERHINDAR DARI SIFAT UJUB DAN TAKABUR

Dalam kitab BIDAYATUL HIDAYAH Imam al-Ghazali menerangkan takabbur dan ujub dengan definisi yang mirip.

Katanya, orang yang takabur (mutakabbir) gusar ketika menerima nasihat tapi kasar saat memberi nasihat.

Siapa saja yang menganggap dirinya lebih baik dari hamba Allah yang lain, itulah mutakabbir.

Lantas bagaimana agar bisa keluar dari jeratan ini?

Imam al-Ghazali memberikan tips dengan mengembalikannya pada manajemen pikiran.

بل ينبغي لك أن تعلم أن الخير من هو خير عند الله في دار الآخرة، وذلك غيب، وهو موقوف على الخاتمة؛ فاعتقادك في نفسك أنك خير من غيرك جهل محض، بل ينبغي ألا تنظر إلى أحد إلا وترى أنه خير منك، وأن الفضل له على نفسك


"Ketahuilah bahwa kebaikan adalah kebaikan menurut Allah di akhirat kelak.
Itu perkara ghaib(tidak diketahui) dan karenanya menunggu peristiwa kematian. Keyakinan bahwa dirimu lebih baik dari selainmu adalah kebodohan belaka.

Sepatutnya kau tidak memandang orang lain kecuali dengan pandangan bahwa ia lebih baik ketimbang dirimu dan memiliki keutamaan di atas dirimu."

Ujub dan takabur adalah tentang dua entitas antara diri sendiri dan orang lain.

Yang ditekankan adalah bagaimana yang pertama menata pikiran agar terhindar dari perasaan lebih istimewa dari yang kedua.

Secara praktis, kiat-kiat yang ditawarkan Imam al-Ghazali adalah sebagai berikut:

Pertama, bila yang disebut orang lain itu anak kecil maka sadarlah bahwa ia belum pernah bermaksiat kepada Allah, sementara dirimu yang lebih tua sebaliknya.
Tak diragukan lagi, anak kecil itu lebih baik dari dirimu.

Kedua, bila orang lain itu lebih tua, beranggapanlah bahwa ia beribadah kepada Allah lebih dulu ketimbang dirimu, sehingga tentu orang tersebut lebih baik dari dirimu.

Ketiga, bila orang lain itu berilmu, beranggapanlah bahwa ia telah menerima anugerah yang tidak engkau peroleh, menjangkau apa yang belum kau capai, mengetahui apa yang tidak engkau ketahui.
Jika sudah begini, bagiamana mungkin kau sepadan dengan dirinya, apalagi lebih unggul?

Keempat, bila orang lain itu bodoh, beranggapanlah bahwa kalaupun bermaksiat orang bodoh berbuat atas dasar kebodohannya, sementara dirimu berbuat maksiat justru dengan bekal ilmu. Ini yang menjadi alasan atau dasar (hujjah) pada pengadilan di akhirat kelak.

Kelima, bila orang lain itu kafir, beranggapanlah bahwa kondisi akhir hayat seseorang tidak ada yang tahu.
Bisa jadi orang kafir itu di kemudian hari masuk Islam lalu meninggal dunia dengan amalan terbaik (husnul khâtimah).
Jika demikian, ia keluar dari dosa-dosa masa lalu sebagaimana keluarnya sehelai rambut dari adonan roti, mudah sekali.

Sementara dirimu?
Bisa jadi Allah sesatkan dirimu di ujung kehidupan, berubah haluan menjadi kafir, lalu menutup usiamu dengan amal terburuk (sûul khâtimah).
Dengan demikian, muslim dan kafir sekarang masih sangat mungkin berbalik nasib di kemudian hari.
Dirimu yang kini muslim mungkin di kemudian hari masuk kelompok orang yang jauh dari Allah dan dia yang sekarang kafir mungkin di kemudian hari masuk golongan orang yang dekat dengan Allah.

Tampak sekali Imam al-Ghazali hendak menutup peluang timbulnya ujub dan takabur dengan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam diri manusia.

Seolah beliau ingin mengatakan bahwa sepatutnya seseorang menghabiskan energinya untuk introspeksi (muhâsabah) kepada diri sendiri ketimbang sibuk menghakimi kualitas diri orang lain. Sebab, hakim sejati hanyalah Allah dan keputusan final yang hakiki hanya ada di akhirat, bukan di dunia ini. Wallâhu a‘lam.
Photo

Post has attachment
KELAHIRAN NABI ...
( Sholallohu Alaihi Sallam )
Dalam Untaian Puisi Para - Wali

Meski tiada kata yang cukup
mewakili untuk menggambarkan
ke luhuran Budi - NYA .

Dengan segala keterbatasannya
Para Ulama pecinta - NYA
merangkum saat saat kelahiran ,
dan Akhlaq - NYA
dalam untaian puisi yang indah

~ Asy Syeikh Al , Barzanji
melukiskannya dengan
ungkapan ,,,,

" Beliau adalah Nabi terakhir
dalam wujud , namun Nabi
pertama secara Maknawi ."


~ Dalam kitab adh Dhiya ' ul Lami
Habib Umar bin Hafidh BSA
menggambarkannya berupa
Dialog ketika Rosululloh di tanya
oleh seseorang ,,,

" Sejak ,kapankah keNabian mu?

dan beliaupun bersabda ,,,

" ke NabianKu sejak Adam
masih berupa Air & Tanah ."

Masih hal yang sama ,
" Shohibul Shimthudurror "
Habib Ali Al , Habsyi
mengutip sebuah Hadist ,,,

Dari Jabir bin Abdulloh Al , Anshori RA bahwasannya Ia pernah bertanya ,,,

" demi Ayah dan ibuku
ya , Rosululloh beritahukan kepada ku tentang sesuatu yang pertama di ciptakan Alloh sebelum yang lain .? "

Maka Rosululloh Sholallohu Alaihi Wasallam pun menjawab ,,,,

" Wahai , Jabir sesungguhnya
Alloh telah menciptakan Nur'
Nabimu Muhammad dari
( Nur - NYA ) sebelum
menciptakan sesuatu yang lain ."
( HR , Abdurozzaq )











Photo

Post has attachment
Masya Allah .... Anak Majelis Jakarta ; Raihan Gibran Membaca Solawat Di Hadapan Guru Mulia Habib Umar Bin Hafidz , Jadi Munsyid Tarim dong ??? ...... Insya Allah ... Barakallah...
https://youtu.be/Mdt2OVslW58

Post has attachment

Kisah Nyata: Keindahan Akhlak Sang Putri Kecil Habib Umar bin Hafidz

Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau:

“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:

“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:

“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang. Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?

Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu. Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya. Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku. Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru. Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus.

Wallohu ‘Alam.

(Diceritakann oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman, yang bersumber Mii AL Bein Yahya‎).

Post has attachment
Salammualaikum...hajar na'al musthofa ada yg minat ..hehe
Photo
Photo
17/10/17
2 Photos - View album

Post has attachment
Masya Allah .... Anak Majelis Jakarta ; Raihan Gibran Membaca Solawat Di Hadapan Guru Mulia Habib Umar Bin Hafidz , Jadi Munsyid Tarim dong ??? ...... Insya Allah ... Barakallah...
https://youtu.be/Mdt2OVslW58

Post has attachment
💌
يشتاق لك كل عاشق يا حبيب❤

Setiap perindu merindukanmu ya Habib...♡
.
.
.
و بعض الشوق قد لا ينطق و لا يكتب

Dan ada sebagian rindu yang tak dapat diucap bahkan ditulis.

الله يجمعنا معك في الدنيا و الآخرة.. يارب😭

Semoga Allah mengumpulkan kami bersamamu di dunia dan akherat.. Yaa Robb
Photo
Wait while more posts are being loaded