Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment
Pengakuan Rinjani, perusahaan terlalu leluasa menggarap kayu yang berada di wilayah Taikako. Fee yang diberikanpun tidak sesuai. Tanah-tanah di sana meski kawasan tanah negara dengan status hutan produksi, masyarakat sesungguhnya mengakui hutan-hutan tersebut milik suku mereka yang kepemilikannya diwariskan dari nenek moyang, jauh sebelum status hutan produksi ditetapkan pada tahun 1960-an

"Tanah kami (hutan milik suku dusun Taikako-red) luas yang digarap perusahaan Minas Pagai Lumber itu untuk mengambil kayu. Kami hanya dikasih Rp800 ribu kemaren itu sebagai fee tahun ini," jelas Rinjani.

Menurut Rinjani, fee yang diberikan PT. Minas Pagai Lumber sama sekali tidak mencukupi untuk kebutuhan hidupnya. "Saya sudah tua, tidak sanggup lagi untuk bekerja. Rp800 ribu per tahun itu tidak akan cukup untuk makan sehari-hari. Ya, seperti ini kondisi kami di sini, keseharian saya hanya mengkonsumsi ubi atau pisang sebagai makanan pokok," ungkapnya.

"Memang saya punya anak tiga orang, namun mereka juga sudah bekeluarga. Untuk menghidupi keluarganya saja susah, apalagi membantu saya," katanya...

http://www.mentawaikita.com/berita/421/hutan-digarap-perusahaan-warga-masih-hidup-dalam-kemiskinan.html

Post has attachment
Pengakuan Rinjani, perusahaan terlalu leluasa menggarap kayu yang berada di wilayah Taikako. Fee yang diberikanpun tidak sesuai. Tanah-tanah di sana meski kawasan tanah negara dengan status hutan produksi, masyarakat sesungguhnya mengakui hutan-hutan tersebut milik suku mereka yang kepemilikannya diwariskan dari nenek moyang, jauh sebelum status hutan produksi ditetapkan pada tahun 1960-an

"Tanah kami (hutan milik suku dusun Taikako-red) luas yang digarap perusahaan Minas Pagai Lumber itu untuk mengambil kayu. Kami hanya dikasih Rp800 ribu kemaren itu sebagai fee tahun ini," jelas Rinjani.

Menurut Rinjani, fee yang diberikan PT. Minas Pagai Lumber sama sekali tidak mencukupi untuk kebutuhan hidupnya. "Saya sudah tua, tidak sanggup lagi untuk bekerja. Rp800 ribu per tahun itu tidak akan cukup untuk makan sehari-hari. Ya, seperti ini kondisi kami di sini, keseharian saya hanya mengkonsumsi ubi atau pisang sebagai makanan pokok," ungkapnya.

"Memang saya punya anak tiga orang, namun mereka juga sudah bekeluarga. Untuk menghidupi keluarganya saja susah, apalagi membantu saya," katanya...

http://www.mentawaikita.com/berita/421/hutan-digarap-perusahaan-warga-masih-hidup-dalam-kemiskinan.html

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded