Post has attachment

Sabtu, Oktober 15, 2016
Latest:

10 ( dulu ) FAKTA UNIK SEPUTAR KURIKULUM 2013
10 Pesan Inspiratif Anies Baswedan. Jadi Tambah Yakin, Kita Semua Harus Berjuang untuk Pendidikan
Guru: Agent of Change
Teachers as Researcher
Sekolah Cuma 5 Jam, Tanpa PR & Ujian Nasional, Kenapa Pelajar di Finlandia Bisa Pintar ?

WIDIYANTO.com

berbagi untuk semua

ARTIKEL
TENTANG CMS
SOFTWARE ZONE
TUTORIAL
DOWNLOAD
About Me

abort
ARTIKEL ARTIKEL PENDIDIKAN
Aborsi Pendidikan
Sabtu, 5 Maret 2016 Mas Widiyanto
18

Tahun pembelajaran baru masih beberapa bulan ke depan. Namun, geliat mendapatkan siswa baru telah gencar digerakkan. Bagaimanapun, adanya siswa adalah keniscayaan bagi kehidupan sebuah sekolah.

Meski adanya siswa sebuah keniscayaan bagi keberlangsungan sekolah, adalah tragedi apabila demi keberlangsungan hidup sekolah, siswa hanyalah angka. Pada kondisi itu, siswa tak lagi disikapi dan digulati sebagai pribadi. Ia tak lebih sarana untuk menjaga keberlangsungan hidup sekolah. Nasibnya lebih rendah daripada martabat budak: ia cuma sarana tak berjiwa.

Adalah hal yang pantas disyukuri ketika masyarakat ikut terlibat mengelola pendidikan di negeri ini. Mereka melakukannya dengan membangun sekolah swasta. Ada beragam alasan mengapa membangun sekolah swasta. Kini, kita mengenal sekolah swasta berbasis agama dan swasta nasional.

Meski demikian, kini banyak sekolah swasta mulai kekurangan siswa, khususnya sekolah-sekolah swasta di daerah-daerah. Di daerah-daerah terjadi persaingan mendapatkan siswa baru.

Layaknya persaingan, berbagai jurus digunakan untuk menggaet siswa-siswa baru. Sayangnya, jurus-jurus persaingan yang dilancarkan acap kali jauh dari hakikat pendidikan. Itu semacam jurus mabuk. Jurus itu dimabukkan oleh target yang penting mendapatkan siswa.

Jurus-jurus mabuk itu berupa: rayuan gratis uang gedung dan uang sekolah bulanan selama sejumlah waktu; membangun sarana sehingga mengesankan sekolah megah dan mewah meski sarana itu belum tentu dibutuhkan; tawaran fasilitas antar-jemput; tawaran asrama; hingga—yang paling menyedihkan dan mengkhawatirkan—memainkan muslihat isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Akibatnya, begitu banyak persaingan mendapatkan siswa baru itu tak lagi sehat, kasar, pembual lagi licik. Namun, yang lebih tragis adalah sesungguhnya hakikat pendidikan sendiri yang ingin membentuk manusia yang tumbuh berkembang utuh bermartabat telah dihancurkan ketika dinamika pendidikan belum dimulai. Itulah aborsi pendidikan.

Aborsi pendidikan digencarkan kepada orangtua calon siswa baru yang diintimidasi dengan isu SARA ketika hendak menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah berbasis agama yang berbeda dengan agama yang dihayati. Aborsi pendidikan juga terjadi ketika sekolah menjanjikan pendidikan yang memanjakan siswa dengan aneka fasilitas. Pendidikan yang memanjakan siswa dengan sarana-prasarana efektif menghancurkan sendi-sendi karakter pembelajar siswa.

Sekolah yang gelisah

Janji fasilitas asrama juga berpotensi mengaborsi pendidikan. Ini bisa terjadi pada sekolah yang ketika didirikan tak dirancang sebagai sekolah yang terintegrasi dengan asrama.

Aborsi pendidikan jadi nyata ketika setelah pembelajaran dimulai pengelola sekolah tak memberdayakan diri dalam pengelolaan sekolah berasrama. Pengelola sekolah seperti menangkap kejenuhan dan kewalahan begitu banyak orangtua mendampingi anaknya dan memanfaatkannya hanya demi memperoleh siswa baru. Tanpa sadar, roh hedonisme dan pragmatisme terinjeksi pada sekolah itu justru sebelum dinamika pendidikan dimulai. Masih banyak wujud aborsi pendidikan yang lain.

Semoga para orangtua lebih sadar akan jebakan muslihat pencarian siswa baru bagi anak-anaknya. Sekolah-sekolah yang mencari siswa baru dengan jurus mabuk yang membabi buta itu adalah sekolah yang dikelola dengan gelisah. Dalam kegelisahan itu, mereka akan berjuang melindungi siswanya, bukan demi mendidik, tetapi hanya demi angka. Sebab, pada setiap siswa menjanjikan angka rupiah dari negara yang luar biasa.

Sekolah yang memainkan isu SARA dalam merekrut siswa baru juga berdinamika serupa. Muslihat menyelamatkan jiwa dalam jalur SARA menjadi alasan untuk mengikat siswa. Lalu mereka membangun benteng untuk memisahkan dan mengeksklusifkan. Dinamika pembelajaran pun kerap kali dirancang ekstrem dan eksklusif.

Tidakkah dengan cara semacam ini anak-anak kita sedang dikerdilkan, diciutkan horizon hidupnya, dan efektif memasukkan mereka dalam tempurung sempit hidupnya? Anak-anak kita tak lagi dididik dalam kemerdekaan dan kebermartabatannya. Anak-anak kita hanyalah sarana penuntas melepas dera kegelisahan pengelola sekolah.

Waspadalah! Cintailah anak-anak kita. Jadikan mereka tumbuh berkembang menjadi manusia bermartabat dengan memilih sekolah yang dikelola dengan bermartabat pula.


Sidharta Susila ; Pendidik di Muntilan

KOMPAS, 05 Maret 2016
Dipakai Bersama18

← Involusi Pendidikan Guru
Jalan Pintas Pendidikan →

You May Also Like
e7c2aLj
Tenangnya Hidup Offline
Rabu, 8 April 2015 Komentar Dinonaktifkan
LOGO-SMK2-JEMBATAN-sponsor
VIDEO PEMBELAJARAN EDMODO
Sabtu, 7 November 2015 Komentar Dinonaktifkan
4G LTE, Tak Sekadar Internetan Cepat
Selasa, 17 Februari 2015 Komentar Dinonaktifkan
STATISTIK

User sedang online: 1
Pengunjung Hari ini: 1.167
Kemarin: 1.645
Pengunjung Minggu ini: 16.087
Pengunjung Tahun ini: 556.946
Jumlah Pengunjung: 1.069.141
Total pengunjung: 196.192
Jumlah Posting: 182
Jumlah Halaman: 5
Jumlah Komentar: 9

Pos-pos Terbaru

10 Pesan Inspiratif Anies Baswedan. Jadi Tambah Yakin, Kita Semua Harus Berjuang untuk Pendidikan Kamis, 28 Juli 2016
Guru: Agent of Change Senin, 18 Juli 2016
Teachers as Researcher Senin, 4 Juli 2016
Sekolah Cuma 5 Jam, Tanpa PR & Ujian Nasional, Kenapa Pelajar di Finlandia Bisa Pintar ? Kamis, 2 Juni 2016
10 ( dulu ) FAKTA UNIK SEPUTAR KURIKULUM 2013 Rabu, 1 Juni 2016
Merawat Nalar Bangsa Senin, 2 Mei 2016
Cara Dual Boot Ubuntu 16.04 LTS dan Windows 10 (Full Tutorial) Sabtu, 9 April 2016
Senjakala Humanior Senin, 14 Maret 2016

CHAT HERE
pangeranwidiyanto
Komentar Terbaru

jesica pada Guru: Agent of Change
aslafwrv57h pada Masih Perlukah Ujian Nasional ?
aslafdsa1w9 pada Masih Perlukah Ujian Nasional ?
aslafjhookn pada Darurat Pendidikan Nasional
Anonim pada M Nuh dan Kisah Nabi Nuh, Metafora Kemendikbud Kita
About
REKOMENDASI

Untuk Impian Besar
Pahlawan di Dalam Diri
Mengembangkan Otoritas Profesional Guru
Menembus Batas
Wakaf Budaya, Belajar dari Sosok Umar Kayam
Paradoks Sekolah Lima Hari

KATEGORI

ARTIKEL
ARTIKEL AGAMA
ARTIKEL HUMANIORA
ARTIKEL PENDIDIKAN
ARTIKEL TEKNOLOGI
CMS BALITBANG
KURIKULUM 2013
MICROSOFT SOFTWARE
PENDIDIKAN
SERTIFIKASI GURU
SOFTWARE ZONE
TUTORIAL
TUTORIAL SOFTWARE

Wait while more posts are being loaded