Menjawab pertanyaan
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป

Assalamu'alaikum ustadz/ah..
Klo dalam rumah tangga si istri sudah tdk kuat dengan perlakuan suami yg tempramental dan jarang pulang bagi suami keluarga nomor 2, apakah si istri berdosa jg jika istri pergi dari rumah meninggalkan semuanya .Afwan Ustadzah...apakah istri jg berdosa jiika dia menuntut haknya kepada suami. ๐Ÿ…ฐ2โƒฃ8โƒฃ
Jazakumullah Ustadzah

Jawaban
--------------

ูˆ ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆ ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆ ุจุฑูƒุงุชู‡ ุŒ
Untuk permasalahan KDRT sebaiknya diselesaikan secara hukum buat shock therapy ke suami atas semua perbuatannya, coba datang ke P2TP2A atau ke RKI bila di daerah anda ada karena disana ada penanganan lengkap, Istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin suami. Dari โ€˜usman bin โ€˜affan Ra berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda :

โ€œMAA KHARAJAT IMRA-ATUMMINBAITI ZAUJIHAA BI GHAIRI IDZNIHIILLAA LAโ€™ANAHAA KULLU SYAI-IN THALAโ€™AT โ€˜ALAIHISYSYAMSU HATTAL HIITAANI FIL BAHRI. โ€

โ€œTidaklah seorang isteri keluar dari rumah suaminya tanpa mendapat restunya, kecuali dilaknati oleh segala sesuatu yang tersiram matahari, hingga termasuk ikan ikan yang ada dilautโ€. (al hadits).

Kecuali jiwa nya terancam dia bisa lari dan meminta perlindungan hukum. Seorang istri boleh dan harus menuntut hak nya bila di perlakukan tidak adil atau di dzolimi, Semoga Allah mendamaikan rumah tangga anda dan Allah memberi hidayah untuk suamu anda dan Allah memaafkan semua kesalahan masa lalunya.
Wallahu a'lam.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒป


๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia...

๐Ÿ“† Jumat, 13 Sya'ban 1437 H / 20 Mei 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits


๐Ÿ“‹ Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 4)
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š Niat, Bagaimanakah itu?

โฃ Definisinya

Secara Lughah, niat adalah Al Qashdu (maksud/kehendak) dan Al Azm (tekad/kemauan kuat) untuk melakukan sesuatu. (Imam Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahfan, Hal. 136)

Dalam Al Mausu'ah disebutkan, makna niat secara mutlak adalah Al Qashdu. (Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/287)

Dia juga bermakna Al Hifzhu (penjagaan), nawallahu fulanan, yaitu Allah menjaganya (Hafizhahu). (Al Mausu'ah, 42/59)

Makna secara Syariat, hakikat niat adalah kehendak (Al Iradah) yang terarah pada sebuah perbuatan untuk mencari ridha Allah Taala dengan menjalankan hukumNya. (Fiqhus Sunnah, 1/42. Al Mausuah, 2/287. Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Menurut fuqaha Hanafiyah, artinya adalah kehendak ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah Taala. Kalangan Malikiyah mengatakan kehendak di hati terhapap apa-apa yang dikehendaki manusia untuk dilakukan, itu termasuk pembahasan Al Uzuum (tekad) dan Al Iradaat (kehendak), bukan pembahasan ilmu dan aqidah. Kalangan Syafi'iyah mengartikan kehendak terhadap sesuatu yang tersambung dengan perbuatannya. Ada pun fuqaha hanabilah mengartikan kemauan kuat di hati untuk melakukan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah Taala, menjadikan Allah Taala sebagai tujuannya bukan selainnya. (Al Mausu'ah, 42/59-60)

Ada beberapa istilah yang terkait dengan niat, yakni:

โœ… Al 'Azm (tekad), bermakna kehendak yang pasti setelah adanya keraguan (Jazmul Iradah bada taraddud). Hubungan antara niat dan Al 'Azm adalah keduanya merupakan marhalah (tahapan/tingkatan) dari kehendak. Al 'Azm merupakan ism (kata benda) yang lebih dahulu ada sebelum berwujud perbuatan. Sedangkan niat adanya langsung bersambung dengan perbuatan yang dibarengi dengan pengetahuan terhadap apa yang diniatkan.

โœ… Al Iradah (kehendak), artinya adalah Ath Thalab (tuntutan), Al Ikhtiyar (daya untuk memilih), dan Al Masyi'ah (kemauan). Jika dikatakan Araada syai'a artinya dia menghendaki sesuatu dan menyukainya. Secara istilah, Al Iradah adalah sifat yang mesti ada pada sesuatu yang hidup dan terjadinya pada perbuatan, pada satu sisi tidak pada sisi lainnya. (Lihat semua dalam Al Mausu'ah, 42/60)

โฃ Letaknya

Niat terletak di hati, demikianlah yang dikatakan semua literatur fiqih, kamus, tradisi dan akal manusia. Kami tidak perlu menyampaikan referensinya sebab hal itu sudah diketahui dengan mudah oleh semua manusia.

Berkata Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki:

( ูˆูŽุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ุจูุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ) ุฅุฌู’ู…ูŽุงุนู‹ุง ู‡ูู†ูŽุง ูˆูŽูููŠ ุณูŽุงุฆูุฑู ู…ูŽุง ุชูุดู’ุฑูŽุนู ูููŠู‡ู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูŽุตู’ุฏู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽูƒููˆู†ู ุฅู„ู‘ูŽุง ุจูู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽูƒู’ูููŠ ู…ูŽุนูŽ ุบูŽูู’ู„ูŽุชูู‡ู

(Niat itu di hati) berdasarkan ijma', dan mesti ada pada setiap amal yang disyariatkan karena niat adalah maksud, dan tidaklah perbuatan dianggap ada kecuali dengan adanya niat, maka tidaklah mencukupi jika melalaikannya. (Tuhfah Al Muhtaj, 5/285)

Mayoritas fuqaha kalangan Hanafiyah, dan ini juga pendapat Malikiyah, dan Syafiiyah, serta Hanabilah, menyatakan bahwa niat adalah syarat sahnya ibadah.

Pendapat mayoritas Syafi'iyah menyatakan bahwa niat adalah rukunnya ibadah.

Sedangkan kalangan Malikiyah menyatakan bahwa niat adalah fardhu (wajib) ketika wudhu. Berkata Al Mazari: itu adalah pendapat yang lebih terkenal (pada madzhab Maliki). Berkata Ibnu Hajib: itu adalah pendapat yang lebih benar. (Al Asybah wan Nazhair Libni Nujaim, Hal. 20, 24, 52. Al Mawahib Al Jalil, 1/182-230. Adz Dzakhirah, Hal. 235-236. Al Qawaid Al Ahkam, Hal. 175-176. Hasyiah Al Jumal, 1/103. Mughni Muhtaj, 1/148. Al Asybah Wan Nazhair Lis Suyuthi, Hal. 10, 43, 44. Kasyful Qina, 1/85, 313. Al Mughni, 3/91)

โฃ Melafazkan Niat

Ada pun melafazkan niat, tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan para tabi'in, bahkan imam empat madzhab. Wacana tentang melafazkan niat baru ada pada masa pengikut-pengikut mereka.

Sejak berabad-abad lamanya, umat Islam mulai dari ulama hingga kaum awamnya, berpolemik tentang melafazkan niat (At Talafuzh An Niyah), seperti lafaz niat hendak shalat:

"ushalli fardha subhi rak'ataini mustaqbilal qiblati adaan lillahi ta'ala," atau lafaz niat hendak wudhu: "nawaitu wudhu'a liraf'il hadatsil asghari lillahi ta'ala," atau lafaz niat hendak berpuasa Ramadhan: "nawaitu shaama ghadin an ada'i fardhusy syahri Ramadhana haadzihis sanati lillahi ta'ala, dan lainnya. Di negeri ini, kalimat-kalimat ini sering diajarkan dalam pelajaran agama di sekolah-sekolah dasar, umumnya pesantren, dan forum-forum pengajian.

Polemik ini bukan hanya terjadi di negeri kita, tapi juga umumnya di negeri-negeri Muslim. Di antara mereka ada yang membid'ahkan, memakruhkan, membolehkan, menyunnahkan, bahkan mewajibkan (namun yang mewajibkan telah dianggap pendapat yang syadz janggal lagi menyimpang).

Di sisi lain, tidak ada perbedaan pendapat tentang keberadaan niat di hati dalam melaksanakan ibadah. Mereka juga sepakat bahwa melafazkan niat tidaklah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, para sahabat, dan tabi'in, bahkan imam empat madzhab. Perbedaan mereka adalah dalam hal legalitas pengucapan niat ketika ibadah.

โฃ Menurut Pendapat Madzhab

Sebelumnya, mari kita tengok bagaimana pandangan para ulama madzhab tentang melafazkan niat dalam beribadah ritual.

Tertulis dalam Al Mausuโ€™ah:

ููŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูุฎู’ุชูŽุงุฑู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู†ูŽุงุจูู„ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏูŽุงุชู ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ ู„ููŠููˆูŽุงููู‚ูŽ ุงู„ู„ู‘ูุณูŽุงู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจูŽ .
ูˆูŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽูููŠู‘ูŽุฉู ูˆูŽุจูŽุนู’ุถู ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽุงุจูู„ูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ูŒ .
ูˆูŽู‚ูŽุงู„ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ููƒููŠู‘ูŽุฉู ุจูุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธู ุจูุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏูŽุงุชู ุŒ ูˆูŽุงู„ุฃู’ูˆู’ู„ูŽู‰ ุชูŽุฑู’ูƒูู‡ู ุŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ููˆูŽุณู’ูˆูŽุณูŽ ููŽูŠูุณู’ุชูŽุญูŽุจู‘ู ู„ูŽู‡ู ุงู„ุชู‘ูŽู„ูŽูู‘ูุธู ู„ููŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽุจู’ุณู

Pendapat kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) berdasarkan pendapat yang dipilih, dan Syafiโ€™iyah (pengikut imam Asy Syafiโ€™i) serta Hanabilah (Hambaliyah-pengikut Imam Ahmad bin Hambal) menurut pendapat madzhab bahwasanya melafazkan niat dalam peribadatan adalah SUNAH, agar lisan dapat membimbing hati.

Sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah menyatakan bahwa melafazkan niat adalah MAKRUH.

Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) mengatakan bolehnya melafazkan niat dalam peribadatan, namun yang lebih utama adalah meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka baginya dianjurkan untuk melafazkannya untuk menghilangkan kekacauan dalam pikirannya. (Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/67)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah menyebutkan:

ูˆู„ุง ูŠุดุชุฑุท ุงู„ุชู„ูุธ ุจู‡ุง ู‚ุทุนุงู‹ุŒ ู„ูƒู† ูŠุณู† ุนู†ุฏ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ุงู„ุชู„ูุธ ุจู‡ุง ู„ู…ุณุงุนุฏุฉ ุงู„ู‚ู„ุจ ุนู„ู‰ ุงุณุชุญุถุงุฑู‡ุงุŒ ู„ูŠูƒูˆู† ุงู„ู†ุทู‚ ุนูˆู†ุงู‹ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฐูƒุฑุŒ ูˆุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุนู†ุฏ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ: ุชุฑูƒ ุงู„ุชู„ูุธ ุจู‡ุง ุ› ู„ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠู†ู‚ู„ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ุงู„ุชู„ูุธ ุจุงู„ู†ูŠุฉุŒ ูˆูƒุฐุง ู„ู… ูŠู†ู‚ู„ ุนู† ุงู„ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ุฃุฑุจุนุฉ.

โ€œSecara qahโ€™i melafazkan niat tidaklah menjadi syarat sahnya, tetapi disunahkan menurut jumhur (mayoritas) ulama selain Malikiyah melafazkannya untuk menolong hati menghadirkan niat, agar pengucapan itu menjadi pembantu dalam mengingat, dan yang lebih utama menurut kalangan Malikiyah adalah meninggalkan pelafazan niat itu, karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tentang melafazkan niat, begitu pula tidak ada riwayat dari imam yang empat. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Jadi, secara umum kebanyakan ulama madzhab adalah menyunnahkan melafazkan niat, ada pun sebagian Hanafiyah dan sebagian Hanabilah memakruhkan. Sedangkan Malikyah membolehkan walau lebih utama meninggalkannya, kecuali bagi orang yang was-was maka dianjurkan mengucapan niat untuk mengusir was-was tersebut. Sedangkan para imam perintis empat madzhab, tidak ada riwayat dari mereka tentang pensyariatan melafazkan niat.

โฃ Pandangan Para Imam Kaum Muslimin

Berikut adalah pandangan para ulama yang mendukung pelafazan niat, baik yang menyunnahkan atau membolehkan.

โฃ Imam Muhammad bin Hasan Rahimahullah, kawan sekaligus murid Imam Abu Hanifah Rahimahullah.

Beliau mengatakan:

ุงู„ู†ู‘ููŠู‘ูŽุฉู ุจูุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ููŽุฑู’ุถูŒ ุŒ ูˆูŽุฐููƒู’ุฑูู‡ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‘ูุณูŽุงู†ู ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฌูŽู…ู’ุนู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽูู’ุถูŽู„

โ€œNiat di hati adalah wajib, menyebutnya di lisan adalah sunah, dan menggabungkan keduanya adalah lebih utama.โ€ (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/100)

โฃ Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki Rahimahullah

Beliau mengatakan:

( ูˆูŽูŠูŽู†ู’ุฏูุจู ุงู„ู†ู‘ูุทู’ู‚ู ) ุจูุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ูˆููŠู‘ู ( ู‚ูุจูŽูŠู’ู„ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽูƒู’ุจููŠุฑู ) ู„ููŠูุณูŽุงุนูุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูุณูŽุงู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจูŽ ูˆูŽุฎูุฑููˆุฌู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฎูู„ูŽุงูู ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽูˆู’ุฌูŽุจูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุดูŽุฐู‘ูŽ ูˆูŽู‚ููŠูŽุงุณู‹ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู

โ€œ(Disunahkan mengucapkan) dengan apa yang diniatkan (sesaat sebelum takbir) agar lisan membantu hati dan keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) dengan kalangan yang mewajibkan, walaupun yang mewajibkan ini adalah pendapat yang syadz (janggal), sunnahnya ini diqiyaskan dengan apa yang ada pada haji (yakni pengucapan kalimat talbiyah, pen).โ€ (Tuhfah Al Muhtaj, 5/285)

โฃ Imam Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah

Beliau mengatakan:

ูˆูŠู†ุฏุจ ุงู„ู†ุทู‚ ุจุงู„ู…ู†ูˆูŠ ู‚ุจูŠู„ ุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ู„ูŠุณุงุนุฏ ุงู„ู„ุณุงู† ุงู„ู‚ู„ุจ ูˆู„ุฃู†ู‡ ุฃุจุนุฏ ุนู† ุงู„ูˆุณูˆุงุณ ูˆู„ู„ุฎุฑูˆุฌ ู…ู† ุฎู„ุงู ู…ู† ุฃูˆุฌุจู‡

โ€œDianjurkan mengucapkan apa yang diniatkan sesaat sebelum takbir untuk membantu hati, karena hal itu dapat menjauhkan was-was dan untuk keluar dari perselisihan pendapat dengan pihak yang mewajibkannya.โ€ (Nihayatul Muhtaj, 1/457. Darul Fikr)

โฃ Imam Al Bahuti Rahimahullah

Beliau mengatakan ketika membahas niat dalam shalat:

ูˆูŽู…ูŽุญูŽู„ู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ูˆูุฌููˆุจู‹ุง ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูุณูŽุงู†ู ุงุณู’ุชูุญู’ุจูŽุงุจู‹ุง

โ€œTempatnya niat adalah di hati sebagai hal yang wajib, dan disukai (sunah) diucapkan lisan .. (Kasyful Qina', 2/442. Mawqi Islam)

Dan lain-lain.

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน


๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

Kemanakah Ruh Kita setelah Mati??
Dari Al-Barrak bin Azib radhiyallahu โ€˜anhu, beliau menceritakan,

Kami pernah mengiringi jenazah orang anshar bersama Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Sesampainya di kuburan, dan menunggu liang lahatnya dibenahi, Rasulullah duduk menghadap kiblat. Kamipun duduk di sekitar beliau dengan khusyu, seolah di kepala kami ada burung.

Di tangan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ada ranting, beliau tusukkan ke tanah kemudian beliau menengadah ke langit lalu beliau menunduk. Beliau ulang tiga kali. Kemudian beliau bersabda,

ุงุณุชุนูŠุฐูˆุง ุจุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุนุฐุงุจ ุงู„ู‚ุจุฑุŒ ู…ุฑุชูŠู†ุŒ ุฃูˆ ุซู„ุงุซุงุŒ (ุซู… ู‚ุงู„: ุงู„ู„ู‡ู… ุฅู†ูŠ ุฃุนูˆุฐ ุจูƒ ู…ู† ุนุฐุงุจ ุงู„ู‚ุจุฑ) (ุซู„ุงุซุง)
โ€œMintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur.โ€ Beliau ulangi dua atau tiga kali. Kemudian beliau berdoa: โ€œYa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.โ€ (tiga kali).

Kemudian beliau menceritakan proses perjalanan ruh mukmin dan kafir.

Sesungguhnya hamba yang beriman ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat dari langit, wajahnya putih, wajahnya seperti matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan hanuth (minyak wangi) dari surga. Merekapun duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut โ€˜alaihis salam. Dia duduk di samping kepalanya, dan mengatakan, โ€˜Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.โ€™ Keluarlah ruh itu dari jasad, sebagaimana tetesan air keluar dari mulut ceret, dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut.

Mereka memberinya kafan dan hanuth itu. Keluarlah ruh itu dengan sangat wangi seperti bau parfum paling wangi yang pernah ada di bumi. Para malaikat inipun naik membawa ruh itu. Setiap kali ketemu dengan malaikat yang lain, mereka akan bertanya: โ€˜Ruh siapakah yang baik ini?โ€™ Mereka menjawab, โ€˜Fulan bin Polanโ€™ โ€“ dengan nama terbaik yang pernah dia gunakan di dunia โ€“. Hingga sampai di langit dunia. Mereka minta agar pintu langit dibukakan, lalu dibukakan. Mereka naik menuju langit berikutnya, dan diikuti para malaikat langit dunia. Hingga sampai di langit ketujuh. Kemudian Allah berfirman, โ€˜Tulis catatan amal hamba-Ku di Illiyin.โ€™

โ€œTahukah kamu Apakah โ€˜Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis, Disaksikan oleh para malaikatโ€

โ€œKembalikan hamba-Ku ke bumi, karena dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.โ€ Maka dikembalikanlah ruhnya ke jasadnya. Kemudian mayit mendengar suara sandal orang yang mengantarkan jenazahnya sewaktu mereka pulang setelah pemakaman.

Kemudian datanglah dua malaikat yang keras gertakannya. (dalam riwayat lain: warnanya hitam biru) Lalu mereka menggertaknya, dan mendudukkan si mayit.

Mereka bertanya: โ€˜Siapa Rabmu?โ€™ Si mukmin menjawab, โ€˜Rabku Allah.โ€™ โ€˜Apa agamamu?โ€™, tanya malaikat. โ€˜Agamaku islamโ€™ jawab si mukmin. โ€˜Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?โ€™ Si Mukmin menjawab, โ€˜Dia Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.โ€™ Sang malaikat bertanya lagi, โ€˜Bagaimana amalmu?โ€™ Jawab Mukmin, โ€˜Saya membaca kitab Allah, saya mengimaninya dan membenarkannya.โ€™

Pertanyaan malaikat: โ€˜Siapa Rabmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?โ€™ Inilah ujian terakhir yang akan diterima seorang mukmin. Allah memberikan keteguhan bagi mukmin untuk menjawabnya, seperti firman-Nya,

ูŠูุซูŽุจูู‘ุชู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุจูุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุงู„ุซูŽู‘ุงุจูุชู ูููŠ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู
โ€œAllah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat..โ€ (QS. Ibrahim: 27)

Sehingga dia bisa menjawab: Rabku Allah, agamaku islam, Nabiku Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Tiba-tiba ada suara dari atas, โ€œHambaku benar, bentangkan untuknya surga, beri pakaian surga, bukakan pintu surga untuknya.โ€ Diapun mendapatkan angin surga dan wanginya surga, dan kuburannya diluaskan sejauh mata memandang.

Kemudian datanglah orang yang wajahnya sangat bagus, pakaiannya bagus, baunya wangi. Dia mengatakan, โ€˜Kabar gembira dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Kabar gembira dengan ridha Allah dan surga nan penuh kenikmatan abadi. Inilah hari yang dulu kamu dijanjikan.โ€™ Si mayit dengan keheranan bertanya, โ€˜Semoga Allah juga memberi kabar gembira untuk anda. Siapa anda, wajah anda mendatangkan kebaikan?โ€™ Orang yang berwajah bagus ini menjawab, โ€˜Saya amal sholehmu.โ€™ [suhnahallah.., amal shaleh yang menemani kita di kesepian, menemani kita di kuburan]

Kemudian dibukakan untuknya pintu surga dan pintu neraka. Ketika melihat ke neraka, disampaikan kepadanya: โ€˜Itulah tempatmu jika kamu bermaksiat kepada Allah. Dan Allah gantikan kamu dengan tempat yang itu.โ€™ Kemudian si mayit menoleh ke arah surga.

Melihat janji surga, si mayit berdoa: โ€˜Wahai Rabku, segerakanlah kiamat, agar aku bisa berjumpa kembali ke keluarga dan hartaku.โ€™ Lalu disampaikan kepadanya: โ€˜Tenanglah.โ€™

Sementara hamba yang kafir, ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah para malaikat dari langit, yang bengis dan keras, wajahnya hitam, mereka membawa Masuh (kain yang tidak nyaman digunakan) dari neraka. Mereka duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut, dan duduk di samping kepalanya. Dia memanggil, โ€˜Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju murka Allah.โ€™

Ruhnya ketakutan, dan terpencar ke suluruh ujung tubuhnya. Lalu malaikat maut menariknya, sebagaimana gancu bercabang banyak ditarik dari wol yang basah. Sehingga membuat putus pembuluh darah dan ruang tulang. Dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut. Kemudian diberi masuh yang mereka bawa. Ruh ini keluar dengan membawa bau yang sangat busuk, seperti busuknya bau bangkai yang pernah ada di muka bumi. Merekapun naik membawa ruh ini. Setiap kali mereka melewati malaikat, malaikat itupun bertanya, โ€˜Ruh siapah yang buruk ini?โ€™ Mereka menjawab, โ€˜Fulan bin Fulan.โ€™ โ€“ dengan nama yang paling buruk yang pernah dia gunakan ketika di dunia โ€“ hingga mereka sampai di langit dunia. Kemudian mereka minta dibukakan, namun tidak dibukakan. Ketika itu, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam membaca firman Allah,

ู„ูŽุง ุชูููŽุชูŽู‘ุญู ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽู„ูุฌูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู…ูŽู„ู ูููŠ ุณูŽู…ูู‘ ุงู„ู’ุฎููŠูŽุงุทู
(Orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya), tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-Aโ€™raf: 40)

Kemudian Allah berfirman, โ€˜Tulis catatan amal hamba-Ku di Sijjin, di bumi yang paling dasar.โ€™ Kemudian dikatakan, โ€˜Kembalikan hamba-Ku ke bumi, karena Aku telah menjanjikan bahwa dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.โ€™ Kemudian ruhnya dilempar hingga jatuh di jasadnya. Kemudian Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam membaca firman Allah,

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุดู’ุฑููƒู’ ุจูุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุฎูŽุฑูŽู‘ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ููŽุชูŽุฎู’ุทูŽููู‡ู ุงู„ุทูŽู‘ูŠู’ุฑู ุฃูŽูˆู’ ุชูŽู‡ู’ูˆููŠ ุจูู‡ู ุงู„ุฑูู‘ูŠุญู ูููŠ ู…ูŽูƒูŽุงู†ู ุณูŽุญููŠู‚ู
Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Haj: 31)

Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya, sehingga dia mendengar suara sandal orang mengiringi jenazahnya ketika pulang meninggalkan kuburan. Kemudian datanglah dua malaikat, gertakannya keras. Merekapun menggertak si mayit dan mendudukkannya. Mereka bertanya: โ€˜Siapa Rabmu?โ€™ Si kafir menjawab, โ€˜hah..hah.. saya gak tahu.โ€™ โ€˜Apa agamamu?โ€™, tanya malaikat. โ€˜hah..hah.. saya gak tahu,โ€™ jawab si kafir. โ€˜Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?โ€™ Si kafir tidak kuasa menyebut namannya. Lalu dia digertak: โ€œNamanya Muhammad!!โ€, si kafir hanya bisa mengatakan, โ€˜hah..hah.. saya gak tahu. Saya cuma mendengar orang-orang bilang seperti itu.โ€™ Diapun digertak lagi: โ€œKamu tidak tahu dan tidak mau tahu.โ€ Tiba-tiba ada suara dari atas, โ€œHambaku dusta, bentangkan untuknya neraka, bukakan pintu neraka untuknya.โ€

Diapun mendapatkan panasnya neraka dan racun neraka. Kuburnya disempitkan hingga tulang-tulangnya berserakan. Lalu datanglah orang yang wajahnya sangat buruk, berbaju jelek, baunya seperti bangkai. Dia mengatakan: โ€˜Kabar buruk untukmu, inilah hari dimana dulu kau dijanjikan.โ€™ Si mayit kafirpun menjawab, โ€˜Kabar buruk juga untukmu, siapa kamu? Wajahmu mendatangkan keburukan.โ€™ Orang ini menjawab, โ€˜Saya amalmu yang buruk.โ€™ โ€“ Allahul mustaโ€™an, amal buruk itu semakin menyesakkan pelakunya di lahatnya โ€“ kemudian dia diserahkan kepada makhluk yang buta, tuli, dan bisu. Dia membawa pentungan! Andaikan dipukulkan ke gunung, niscaya akan jadi debu. Kemudian benda itu dipukulkan ke mayit kafir, dan dia menjadi debu. Lalu Allah kembalikan seperti semula, dan diapun memukulnya lagi. Dia berteriak sangat keras, bisa didengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia. Lalu dibukakan untuknya neraka dan disiampkan tempatnya di neraka. Diapun memohon: โ€˜Ya rab, jangan Engkau tegakkan kiamat.โ€™

Hadis ini diriwayatkan Ahmad 18543, Abu Daud 4753, Syuaib Al-Arnauth menyatakan, Sanadnya shahih. Al-Albani menyatakan hadis ini hadis yang shahih

Post has shared content

Post has attachment
Photo

TAKDIR CINTA
saat cinta ini datang
laksana tetesan putihnya salju
dalam padang yang gersang
rinduku merambat hingga kelangit ketujuh
teriring doa dengan percikan air wudhu
yang mengharap rahmat dalam harapanku pada-Nya
rasa dan rinduku dengan cahaya-Nya
dalam takdir cinta kebersujud memohon ampunan-Nya
cinta dan rindu iringi aku
dalam lembah munajat pengharapanku
menggapai cinta Ilahi.
gugusan hari-hari dalam hati mensyukuri
hari baru penuh dengan sinar Ilahi
mengejar cinta-Nya
tak peduli kan kuterjang
biarpun kutembus padang ilalang
mengharap dalam gulitanya malam berada dalam pelukan Allah karena cintaku pada-Nya terukir dalam takdir cinta yg mendalam.

SAUDARA/IKU YG DI RAHMASTI ALLAH SWT.

SADAR maupun tidak kita lebih sering menghakimi seseorang yang menurut pandangan kita buruk. Padahal, bisa jadi orang yang kita anggap buruk justru lebih mulia di hadapan Allah dibandingkan kita. Kita sangat sering mencibir orang lain tanpa pernah melihat justru diri kitalah yang lebih pantas untuk dicibir.

Saudaraku,

Sangat mudah lisan ini menghina orang lain tanpa pernah bercermin, justru diri kitalah yang sangat hina dihadapan-Nya. Sungguh sangat mudah hati ini berprasangka pada orang lain. Namun sangat sulit hati ini berprasangka pada diri sendiri yang lebih sering riya dalam beramal.

Kita mungkin sama-sama lupa bahwa Allah tidak pernah tidur. Kita mungkin lupa atau berpura-pura lupa bahwa Allah yang menerbitkan matahari dari timur kemudian menenggelamkannya di barat. Dan menghiasi malam dengan bulan serta ribuan bintang. Jika alam semesta begitu mudah Allah atur dengan Kuasanya, apa lagi hati kita yang begitu mudah terbulak-balik.

๏ฟผ

Saudaraku,

Ketika banyak dari saudara kita yang mulai meninggalkan maksiat dan menuju kepada Allah. Sungguh, jagalah hati kita untuk tidak berprasangka padanya. Sungguh, jagalah lisan kita untuk mencibir dan memuji mereka secara berlebihan. Karena bisa jadi, lisan kitalah yang memperkeruh niatan seseorang untuk menuju Rabbnya.

Dalam bukunya Jalan Hijrahku, Febrianti Almeera menyampaikan sebuah paragraf yang seharusnya membuat kita sadar bahwa Allah Yang Maha Kuasa atas takdir kehidupan orang lain.

โ€œHari ini mungkin dia tidak berkerudung, esok lusa mungkin dia adalah yang paling ikhlas menutup auratnya. Hari ini dia mungkin seorang yang kasar dank eras, esok lusa mungkin dia adalah yang paling lembut tutur katanya. Hari ini mungkin dia orang yang paling ingkar kepada Allah SWT, esok lusa mungkin dia adalah yang paling istiqomah berbenah diri di hadapan-Nya. Kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu tentang masa depan seseorang. Maka, tugas kita bukanlah untuk mempermasalahkan orang. Melainkan mengajak siapapun bergerak bersama ke jalan Allah dan saling mendoakan. Jangan hina permulaan seseorang, karena kita tidak pernah tahu bagaimana akhirnya.โ€

Assalamualaikum..
Salam santun malamku
Untuk sahabat semua...

Karena Allah kita berjumpa, karena Allah kita bersama,
Karena Allah kita berjuang, karena Allah kita bersabar, karena Allah kita berpisah, dan karena Allah pula

kelak kita akan disatukan kembali, dan muda- mudahan di tempat yang terbaik di surgaNya
Inshaa allah

Aamiin Ya Allah yarobbal'alamiin.๏ปฟ
Wait while more posts are being loaded