Post is pinned.Post has shared content
JAILANGKUNG...JAILANGKUNG.....
Photo

Post has shared content
Begini Kegalauan Awal Tim Sinkronisasi Anies-Sandi Yg Sepertinya Puyeng Berat! Share!

Admin  berita




TIM SINKRONISASI ANIS SANDI SEPERTINYA PUYENG BERAT

Setelah mencermati potensi penerimaan serta rencana pengeluaran yang akan disusun dalam RAPBD th 2018 mendatang, tim sinkronisasi bentukan Anis Sandi sepertinya puyeng berat. Jumlah rencana pengeluaran ternyata jauh diatas potensi penerimaan. APBD DKI bakal defisit nih ceritanya.

Padahal semua rencana penerimaan sudah dibuatkan estimasinya, termasuk berbagai terobosan kreatif misalnya; pengenaan pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan bermotor, penyesuaian zona nilai tanah, eksploitasi pajak hiburan, serta peningkatan jumlah wajib pajak yang dimonitor secara on line. Ternyata penerimaan yang masuk tetap belum mampu mengcover semua rencana pengeluaran. 

Jangan heran jika belum mulai bekerja mereka sudah merasa pesimis dan merencanakan berbagai kebijakan rasionalisasi serta efisiensi. Misalnya mengurangi tenaga PPSU, membatalkan program KJP KIP dobel dan berbagai kebijakan non populer yang akan diumumkan dalam waktu dekat.

Menurut info dari salah satu staf di tim sinkronisasi, hal ini diakibatkan Anis Sandi ingin intensitas pembangunan tetap melaju kencang seperti di pemerintahan Ahok, akan tetapi semua beayanya dimasukkan kedalam RAPBD, tak seperti Ahok yang berhasil mengundang partisipasi swasta untuk ikut menyumbang prasarana publik memakai dana CSR, sehingga tak semuanya dibebankan ke APBD.

Ditambah lagi adanya pembengkakan dana hibah untuk ormas ormas yang di masa pemerintahan Ahok sudah diminimalisir, sekarang justru dialokasikan lagi dalam jumlah besar.

Titik lemah terbesar yang dilakukan oleh tim sinkronisasi adalah ketidak percayaan diri mentargetkan PAD (pendapatan asli daerah) secara optimal. Jika Ahok Djarot di th 2015 meraih PAD 44 triliun dan di th 2016 mencapai 56 triliun, maka target PAD dibawah Anis Sandi pada th 2018 nanti malah justru dibawah 50 triliun. 

Mereka lebih senang memburu penerimaan dari Dana Perimbangan, yang akan dilakukan dengan menuntut pemerintah pusat memberikan Dana Alokasi Umum (DAU) lebih besar, serta meminta penyesuaian prosentase bagi hasil pajak dan bukan pajak. Sungguh tidak kreatif, dimana usaha sendiri melalui PAD tak dilakukan secara maksimal, tetapi justru lebih berharap pemberian dana dari pemerintah pusat.

Tim sinkronisasi juga tak berani membuat target yang maksimal dari pos lain lain pendapatan daerah yang sah, dan justru membiarkan banyak celah dan peluang dieksploitasi oleh pihak non pemerintah daerah. 

Mari kita semua mendoakan tim sinkronisasi agar puyengnya segera sembuh. Mereka puyeng harus membudgetkan program programnya Anis Sandi yang semuanya menyedot anggaran, tetapi tak ada program strategik memperbesar penerimaan.

Sumber: FP KataKita, Ditulis oleh: Udin Sangarudin


Photo

Post has shared content
Bukan PKI Yang Jadi Ancaman Tapi Radikalisme dan Terorisme

 0

BY RAHMATIKA ON MAY 25, 2017UMUM



Selama ini ada pihak-pihak yang gemar sekali meneriakkan isu PKI dan komunis. Kata mereka PKI akan bangkit. Bahkan ada yang menuding kalau Presiden Joko Widodo adalah anak PKI. Parahnya ada simpatisannya yang sampai menyerukan agar dilakukan tes DNA untuk membuktikan Presiden Jokowi anak PKI atau bukan. Iya, bigot bodoh yang tidak tahu apa yang bisa dan tidak bisa dilihat dari sebuah tes DNA.

Saya sih 100% tidak percaya kalau PKI masih ada. Jadi saya yakin bahwa isu itu cuma berusaha membangkitkan ketakutan lama masyarakat terkait tragedi PKI. Dan karena mereka tak tahu harus dengan cara apa lagi menjatuhkan Jokowi maka disebarkanlah isu tersebut.

Yang justru saya yakini sekarang menjadi setan di republik ini adalah radikalisme dan terorisme. Anda tidak percaya? Ya kalau tidak ada terorisme tidak akan ada kejadian ledakan bom seperti di Kampung Melayu. Kalau radikalisme cuma isapan jempol tidak akan ada dokter yang sampai menolak pasien dengan alasan BPJS itu riba, orang mengkafir-kafirkan orang lain, ibu-ibu dan anak-anak yang berjalan sambil teriak bunuh-bunuh, dll.

Ada postingan menarik tentang seorang WNI yang ada di Irak bernama Alto Labetubun. Ia berfoto sambil memegang secarik kertas sebagai pesan ke Presiden Jokowi. Dia berfoto di atas tanah kering dan cuaca panas di Yarmuk, Irak. Kota itu hancur lebur karena perang saudara antara pasukan ISIS atau Islamic State (IS) dan Pasukan Pemerintah Irak.

“Bapak Presiden Joko Widodo, Panglima TNI dan Bapak Kapolri. Ini Kota Mosul, Iraq hancur lebur dan puluhan ribu nyawa melayang sia-sia karena gerakan radikal!!! Tolong jaga Pancasila dan UUD 45 baik-baik agat Indonesia tidak hancur seperti Mosul. Salam dari anak Kepulauan Kei di Mosul,”

“Saya tergerak untuk berbagi pengalam saya di Irak dengan sesama warga Indonesia yang mungkin tidak pernah mengalami dan melihat secara langsung bagaiman rusak dan menderitanya saat dilanda perang saudara, apapun itu alasannya. Kota Mosul ini adalah salah satu bukti nyatanya,”

Alto melanjutkan cerita, Islamic State (IS) ingin mendirikan sebuah negara Islam di Irak dan Suriah. Mosul menjadi tempat di mana IS dideklarasikan pada Juni 2014 lalu.

“Tapi akhirnya IS terpukul mundur oleh warga dan tentara Irak sendiri. Walaupun sudah terpuku mundur, tapi kehancuran dan kematian puluhan ribu manusia tidak terhindar lagi,”.

“Harus diingat bahwa ideologi yang dimiliki oleh IS itu tidak didukung oleh masyarakat mayoritas di Irak. Tapi IS bisa berkembang dengan cepat karena rakyat yang mayoritas tersebut tidak melakukan perlawanan terhadap gerakan radikal ini dari awal, sehingga saat mereka sadar, segala sesuatu sudah terlambat. Silent Majority terjebak karena ketiadaan perlawanan dari mereka di awal pergerakan IS.”

“Pesan dari gambar di Mosul ini saya sampaikan dengan harapan agar masyarakat Indonesia yang mayoritas cinta damai dan cinta NKRI mendukung pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menjaga NKRI, sehingga kita yang hidup dalam kebhinekaan ini jangan sampai terpolarisasi sampai pada kondisi yang membahayakan kebinekaan Indonesia. Karena dalam perang, terutama perang saudara, kita semua akan menjadi korban,”

Ini seperti kondisi di negeri kita bukan? Mayoritas masyarakat termasuk Muslim di negara ini saya yakin tidak mendukung ideologi ISIS ataupun radikalisme. Namun mereka berkembang dan berani unjuk kekuatan karena mayoritas diam. Sementara mereka yang setuju berani unjuk gigi di jalanan, media sosial, berceramah, dll. Juga gencar menyelipkan propagandanya lewat broadcast messages di berbagai aplikasi.

Selama ini kalau ada teror kita cuma #kamitidaktakut atau kemudian mari berdoa. Doa itu penting, tapi apa doa saja cukup kalau kita tidak melakukan sesuatu? Melihat teman yang berpropaganda di Facebook kita memilih untuk melewati tulisannya begitu saja, unfriend, atau malah kita yang deaktif akun namun tidak sekalipun kita berani menulis sesuatu untuk melawan. Sementara mereka dan cyber armynya sangat kuat mempengaruhi masyarakat dengan media sosial. Iya media sosial yang dibuat oleh kafir yang suka mereka musuhi tapi buah karyanya mereka pakai.

Sudah waktunya kita bergerak melawan. Sebelum terlambat. Apa kita mau seperti di Irak atau Marawi di mana anggota kepolisian hingga dosen dipenggal? Rakyat sipil jadi korban. Mayat berjatuhan.

Mulai sekarang kita harus ingat. Musuh kita adalah radikalisme dan terorisme. Bukan musuh semu berupa PKI yang mereka gemborkan.

Kita tak bisa lagi diam!


Photo

Post has shared content
Pernyataan Berbahaya Kapitra Ampera, Pengacara Rizieq Shihab

 0

BY ARGO ON MAY 25, 2017POLITIK

Kapitra Ampera, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa GNPF-MUI yang juga adalah pengacara Rizieq Shihab, melontarkan pernyataan yang sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan NKRI.

Kapitra menyatakan bahwa seharusnya negara berterima kasih dengan kepergiannya Rizieq ke Arab Saudi. Menurut Kapitra, kalau Rizieq tidak bertolak ke Arab Saudi, maka orang Islam akan menyerang dan saling bunuh dengan pendukung Ahok.

“Loh iya, kemarin kan habis rame kan, Ahok kalah, Ahok ditahan, kan ribut kan. Kalau habib datang pas waktu itu bagaimana? ribut nggak kira-kira orang Islam, lalu ditahan memalukan,  ribut nggak kira-kira, lalu kalau ribut itu, kita menyerang kepada yang sana, lalu baku bunuh, mau jadi apa negara ini,” ujar Kapitra Ampera di Jakarta Selatan, Rabu (24/5).

“Harusnya negara ini berterima kasih sama habib menahan diri untuk tidak pulang agar tidak terjadi konflik horizontal, supaya suasana tetap kondusif,” lanjut Kapitra.

Pernyataan-pernyataan Kapitra sudah kebablasan seolah-olah koridor hukum di negara ini tidak berlaku lagi, seolah-olah ingin mengatakan bahwa negara Indonesia harus berterima kasih kepada Rizieq Shihab yang pergi ke Arab Saudi dan tidak pulang ke Indonesia, sehingga faktor keamanan negara Indonesia lebih terjamin.

Selain itu, Kapitra juga menambahkan bahwa pemerintah patut berterima kasih karena di bulan Ramadhan nanti, warga bisa tenang beribadah tanpa ada demo-demo.

“Apalagi mau bulan puasa, orang biar bisa khusuk ibadah, nggak takut ada demo nggak takut ada ini ada itu. kan berterimakasih seharusnya,” ujar Kapitra.

Pernyataan-pernyataan Kapitra jelas-jelas sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan NKRI. Ada beberapa point yang saya rangkum dari ucapan-ucapannya yang tendensius tersebut, yaitu sebagai berikut;

1. Situasi keamanan di Indonesia semuanya tergantung hanya pada satu orang, yaitu Rizieq Shihab.

2. Orang Islam akan bikin keributan jika Rizieq Shihab ditahan.

3. Orang Islam akan serang dan saling bunuh dengan para pendukung Ahok.

4. Akan terjadi konflik horizontal jika Rizieq Shihab ditahan.

5. Aksi-aksi demo dan kekerasa berupa penyerangan dan pembunuhan adalah ranah orang Islam.

Pertama, pada point 1, Kapitra menyatakan bahwa situasi keamanan di Indonesia tergantung hanya pada satu orang, yaitu Rizieq Shihab. Ini pernyataan yang merendahkan kredibilitas negara, merendahkan dan menghina eksistensi institusi TNI dan Polri sebagai alat negara, seolah-olah aman atau kacaunya NKRI ini, tergantung Rizieq Shihab.

Padahal, memangnya siapa Rizieq Shihab? Presiden bukan, Menteri bukan, Wakil Rakyat juga bukan, Ulama juga bukan (Ulama tidak ada yang csbul), kok bisa-bisanya mendewakan manusia satu ini setinggi langit melebihi segalanya.

Kedua, untuk point 2 sampai point 5 adalah pernyataan yang sangat berbahaya dan tendensius. Pertanyaannya, umat Islam yang mana yang dia maksud? Kalau Islam garis keras penganut paham kekerasan dan radikalisme yang sering teriak-teriak bunuh, gantung, gorok, seperti FPI dan GNLF MUI itu, mungkin iya.

Tapi kalau umat Islam yang moderat, Islam Nusantara yang berwawasan luas dab menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, tidak akan mungin berprilaku liar seperti golongan mereka yang Islam garis keras itu. Jadi tolong jangan menggeneralisasi seluruh umat Islam.

Gerakan radikalisme yang diusung oleh Rizieq Shihab, Kapitra Ampera, Novel Bamukmin, Munarman, dan kelompok FPI sudah sangat keterlaluan dan sangat mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga timbulnya polarisasi dalam masyarakat.

Oleh karena itu, agar terciptanya keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Presiden Jokowi harus segera mengambil sikap dan ketegasan, bukan hanya gebuk dan tendang lagi, tapi juga banting, yaitu dengan:

1. Menerbitkan Dekrit Presiden atau Perpres yang melarang aktivitas individu, kelompok atau organisasi dalam bentuk apapun yang radikal dan intoleran, khususnya FPI, GNPF-MUI, HTI, FUI, dan ormas-ormas lainnya yang berkiblat dalam aliran radikalisme agama, termasuk Ikhwanul Muslimin.

2. Menerbitkan Dekrit Presiden atau Perpres yang melarang partai politik apapun memayungi dan memanfaatkan individu, kelompok dan organisasi dengan paham radikalisme agama untuk kepentingan politik.

3. Menerbitkan Dekrit Presiden atau Perpres yang melarang penyebaran paham radikalisme agama di kampus-kampus, sekolah-sekolah, Masjid, Pesantren, termasuk di lembaga-lembaga pemerintahan dan non pemerintahan, yang meracuni pola pikir masyarakat untuk bertindak radikal, anarkis, dan intoleran.

4. Memerintahkan Kepolisian untuk menindak tegas aktor-aktor politisi, parpol-parpol pengacau, termasuk lembaga dan ormas keagamaan, jika ada segala bentuk tindakan dan ucapan yang memprovokasi dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Kura-kura begitu.


Photo

Post has shared content
Badut-badut Politik Bermunculan, Setelah JK Buka Borok, Hari Ini Zulkifli Hasan Buka Koreng. Agama Jangan Dipolitisasi!

 0

BY ALIEMS SURYANTO ON MAY 25, 2017POLITIK



Zulkifli Hasan & JK

Pahlawan bertopeng badut itu pada akhirnya satu persatu muncul bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Orang-orang yang dulu diam dan menikmati cara kasar nan jorok menjijikkan dengan melakukan politisasi agama di masjid dan melakukan intimidasi agat memilih pemimpin muslim, pada akhirnya menyerukan agar tidak melakukan politisasi agama.

Setelah sebelumnya JK selaku wapres dan Ketua DMI mengeluarkan edaran agar masjid (baca disini)  tidak dipakai untuk kegiatan kampanye, kali ini Ketua MPR sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional menyerukan agar agama tidak dijadikan sebagai alat politisasi.

“Tidak boleh memakai agama sebagai politisasi menyerang satu sama lain. Pilkada Jakarta kemaren itu kebablasan, karena itu melampaui batas. Untungnya Indonesia punya Pancasila.” Zulkifli Hasan (Sumber)

Saya sungguh muak membaca pernyataan orang satu ini. Seolah-olah rakyat itu bodoh semua. Seolah-olah kami ini tidak ingat apa yang telah dia perbuat di Pilkada Jakarta lalu! Bapak satu ini bilang pilkada kemarin kebablasan, siapa pihak yang kebablasan yang dimaksud? Bukankah dia selama ini ada di pihak yang menggunakan agama sebagai alat untuk menjatuhkan Ahok?

Untuk melawan lupa, di putaran pertama Pilkada Zulkifli dengan PAN bersama dengan PPP dan PKB merapat ke Cikeas untuk mendukung Agus-Silvi yang diduga sebagai inisiator awal dari pergerakan dan aksi massa 411 & 212 lewat fatwa pesanan dari SBY.

Setelah Agus-Silvi tersungkur di putaran kedua ketika PPP serta PKB balik badan mendukung Ahok, PAN ternyata tetap konsisten untuk melawan Ahok dengan bergabung dengan Anies-Sandi. PAN seperti juga JK tetap diam membatu, menikmati politisasi ayat serta mayat untuk menjungkalkan Ahok.

Zulkifli di acara Sosialisasi 4 Pilar MPR di Aula Gubernuran Sulut, Jalan Sonder Remboken, Manado, Rabu (24/5/2017) yang dihadiri anggota dan alumni resimen mahasiswa itu menyebut nilai Pancasila juga harus dijadikan pandangan hidup. Perbedaan tak boleh dikatakan hal yang melemahkan, tapi harus dijadikan kekuatan dan dijadikan perilaku.

“Bersedia bersatu untuk kemerdekaan Indonesia. Ini toleransi yang luar biasa, kalau kita masih ribut soal suku, soal agama, mundur saja sebagai bangsa. Jangan lagi suku, agama menjadi masalah,” kata Zulkifli.

“Perilaku seperti apa? Tidak boleh siapa pun melarang menjalankan agama. Perbedaan bukan sebagai kelemahan tapi satu kekuatan,” ujarnya. nilai toleransi, Zulkifli juga menekankan nilai nasionalisme yang terdapat pada sila ke-3. Nilai tersebut menurutnya masih belum diimplementasikan secara menyeluruh. “Sila ke-3 masih jauh, saya berpendapat kita belum berhasil mengimplementasikan Pancasila ini,” katanya.

Zulkifli seolah lupa, bagaimana bisa mengimplementasikan Pancasila sehingga sila ke-3 Persatuan Indonesia bisa terwujud jika dia bersama kelompoknya justru merangkul pihak-pihak penentang Pancasila seperti FUI, HTI, FPI untuk bersama-sama melawan Ahok. Bagaimana bisa menyatukan rakyat Indonesia jika ormas-ormas penyebar kebencian terhadap orang kafir dan tidak sealiran dengan mereka serta ormas pembenci demokrasi ini justru malah dirangkul?

Persatuan Indonesia hanya bisa terwujud jika semua elemen bangsa saling menghargai satu sama lain, satu rasa sebagai orang Indonesia dalam bingkai bhinneka tunggal ika, saling menghormati perbedaan suku, agama, ras dan memiliki hak serta kewajiban yang sama sesuai Pancasila dan UUD 1945. Persatuan Indonesia tidak akan pernah terwujud jika selalu ada jurang pemisah antara mayoritas dan minoritas, antara ras pribumi dan keturunan antara agama mayoritas dengan agam minoritas.

Lalu kemana saja orang yang dianggap tokoh penting dan punya nama di belantika perpolitikan Indonesia ini kemarin pada waktu Pilkada DKI? Apa yang telah kalian perbuat untuk menjaga persatuan Indonesia dan mencegah politisasi agama? Nothing!! Semuanya diam, tiarap bahkan dalam senyap merekalah yang justru menghancurkan persatuan itu dengan memecah belah sesama anak bangsa hanya karena berbeda dalam memilih calon gubernur.

Merekalah yang justru punya andil membuat bangsa ini tercerai berai dan terpolariasi hanya karena ada calon dari kalangan minoritas dan beragama non muslim yang maju sebagai calon pempin di DKI Jakarta. Dan calon itu adalah Ahok! Iya,  hanya kepada Ahok mereka melakukan segala cara licik untuk menjungkalkannya, tidak kepada calon lainnya, walaupun di daerah lain juga ada calon pemimpin yang berasal dari kalangan minoritas.

Mereka seolah-olah hendak menegaskan hanya Ahok seorang yang boleh diperlakukan beda. Ahok boleh dan halal untuk di kasari,  boleh diserang sisi primordialnya, boleh diancam, boleh diapapun juga yang penting Ahok tumbang!

Pernyataan saya tidak megada-ada! Kalau ada yang bilang Ahok wajar diperlakukan seperti itu karena sikap Ahok yang kasar dan tidak layak sebagai pemimpin dan Ahok telah melukai hati umat muslim karena dianggap menista kitab suci, itu semua bullshit belaka! Hanya akal-akalan politisi busuk dan lawan-lawan Ahok yang terus mengolahnya, menggoreng di sana sini sehingga publik terutama umat muslim yang logikanya terpelintir ikut terpengaruh membenci Ahok.

Ahok memang kasar tapi kasarnya Ahok ditujukkan kepada oknum maling, begal, garong yang hendak mengakali uang rakyat. Ahok kasar dan keras kepada oknum politisi busuk yang memakai agama dan kitab suci untuk kepntingan politik. Dan ketika Ahok berani menyentil oknum tersebut dan menyinggung kitab suci,  Booom….!! Ahok dibakar dan diledakkan, dihancurkan sampai dengan titik nadirnya, lengser sebagai gubernur dan hidup dibalik jeruji penjara.

Nah, badut-badut inilah yang akhirnya muncul, menyeru kembali ke Pancasila, menyeru rekonsiliasi, menyeru untuk bersatu dan menyeru berhenti mempolitisasi agama, berhenti melakukan kampanye di Masjid. Karena apa!? Karena Ahok sudah kalah, Ahok sudah tamat, Ahok sudah habis.  Kalau Ahok masih ada, mustahil rasanya seruan-seruan itu akan keluar dari mulut mereka.

Wahai para badut, STOP dan sudahi semua akrobat busuk kalian. Kami sudah muak! 

Begitulah Badut-badut,


Photo

Post has shared content
PhotoPhotoPhotoPhotoPhoto
25/05/17
9 Photos - View album

Post has attachment
inilah pelaku bom bunuh diri tadi malam

Post has shared content
Menca-Mencle, Bicara Tidak Konsisten, Wacana Tentang PPSU Dirubah “Tidak Ada Penggurangan”

 0

BY BANI ON MAY 25, 2017POLITIK

Mari kita teriakan preeet bersama-sama! Preeet!

Kalau pak Jokowi bilang gebuk sudah sangat mencerminkan sebuah sikap, kalau kita cukup preet saja untuk menunjukan sikap kita terhadap Anies-Sandi.

Entah apa yang difikirkan oleh mereka, soal sikapnya yang selalu berubah-rubah dengan mengikuti kondisi dan tekanan tertentu.

Bagi saya pribadi pernyataan mereka yang kerap berubah-rubah itu adalah hasil dari sebuah tekanan warga karena gagasan mereka, rupanya tidak berjalan dengan mulus, sehingga terjadi perubahan.

Sudah memutuskan ini, ternyata warga mencibir, dirubahlah dulu sementara, yang penting pada eksekusinya nanti bisa dilakukan secara cantik? Atau langsung saja diterapkan gagasan tanpa perlu diberitakan ke khalayak publik.

Seakan-akan Rakyat Bodoh Dan Tidak Tau Yang Sebenarnya 

Judul berita sangat mengiterpetasikan sebuah isi dari pemberitaan itu sendiri, dari judul berita berikut sudah sangat jelas, artinya akan ada pengurangan “Anies-Sandi Pimpin DKI, Petugas PPSU Bakal Dikurangi”  Tanggal 23/5/2017

Dan itu juga diperkuat oleh isi pemberitaannya,

“Jadi PPSU itu ke depannya nggak perlu sebanyak ini karena masyarakat mengelola sendiri (sampah mereka),” lanjutnya.

“Iya, nanti ke depan mungkin (dikurangi),” katanya. Kendati demikian, ia pun enggan menyebut jumlah pengurangan tersebut. 

Setelah memberikan keresahan kepada publik, khususnya para pasukan orangye, Tim Anies-Sandipun buru-buru klarifikasi, dengan membantah hal tersebut.

Tim Anies-Sandi Pastikan Jumlah Petugas PPSU Tidak Akan Dikurangi Tanggal 24/5/2017

Dari judul saja, sudah keliatan berbeda, judul pemberitaan pertama, dikurangi, judul pemberitaan kedua tidak akan dikurangi, sekarang mari kita lihat isi beritanya.

Naufal mengatakan, program pengelolaan sampah lingkungan secara mandiri yang akan dijalankan pada 2018 tidak berkaitan dengan pengurangan jumlah petugas PPSU.

“Tidak ada hubungannya antara warga bisa mengelola sampah sendiri dengan jumlah PPSU karena PPSU ngurusi fasilitas publik,” ujar Naufal di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (24/5/2017).

Naufal mengatakan, Anies dan Sandi justru ingin meningkatkan kompetensi petugas PPSU. Salah satunya dengan mengadakan program kewirausahaan OK-OCE (One Kecamatan, One Center for Entrepreneurship) untuk petugas PPSU.

“Tidak akan ada pengurangan PPSU, justru kami pengin mereka naik kelas. Caranya gimana? Lagi-lagi OK-OCE, semua aspek bagaimana mereka bisa naik kelas,” kata Naufal.

Mari kita diskusikan bersama.

Padahal sebelumnya dikatakan bahwa,

“Jadi PPSU itu ke depannya nggak perlu sebanyak ini karena masyarakat mengelola sendiri (sampah mereka),”

Artinya karena jumlah PPSU cukup banyak, dan sudah ada peran warga, maka tidak perlu lagi memperkejakan cukup banyak. Gagasan yang ditangkap sudah sangat jelas. Maka akan ada pengurangan

Kemudian gagasan tersebut dibantah dengan mengatakan tidak ada hubungannya?

“Tidak ada hubungannya antara warga bisa mengelola sampah sendiri dengan jumlah PPSU karena PPSU ngurusi fasilitas publik,”

Kemudian dia berdalih PPSU mengurusi fasilitas publik, sedangkan warga untuk lingkungan mereka sendiri?

Padahal harusnya sudah jelas, PPSU juga sebenarnya berperan penuh pada lingkungan warga, karena selama ini warga tidak bisa mengelola sampah mereka dengan baik.

Mereka sering kali kerap membuang sampah sembarangan, dan kalau ini diserahkan hanya ke warga otomatis lingkungan warga tersebut pastinya sangat kotor, dan bisa menyebabkan banjir.

Jadi bagaimana bisa hanya fasilitas publik saja? Secara logika, ruang kerja PPSU akan lebih sempit dong? Tidak luas, kalau demikian, artinya masuk akal sekali pemberitaan paling pertama, buat apa jumlah PPSU banyak? Bisa dikurangi harusnya, karena yang dikerjakan PPSU juga sedikit, hanya terbatas pada fasilitas publik saja.

Dan yang lebih konyolnya itu adalah soal Naik Kelas

“Tidak akan ada pengurangan PPSU, justrukami pengin mereka naik kelas. Caranya gimana? Lagi-lagi OK-OCE, semua aspek bagaimana mereka bisa naik kelas,” kata Naufal.

Dengan OK-OCE petugas PPSU akan naik kelas, artinya disini jelas, maksudnya petugas PPSU akanberhenti, karena sudah jadi pengusaha OK OCE.Otomatis disini dia mengakui bahwa akan dipecatlah PPSU, untuk mereka berikutnya berwirausaha.

Karena tidak mungkin toh, dia bekerja menjadi PPSU, sembari menjadi pengusaha, tidak akan fokus kerjanya merangkap seperti itu. Otomatis dipecatlah PPSU, maka diberikan lah pelatihan OK-OCE agar pekerja termotivasi.

Kalau jadi pengusaha atau tidaknya nanti, itu tidak ada jaminan.

Dalih yang berubah-rubah seperti ini, sama saja seperti:

Bicara OK OCE tidak akan masuk anggaran APDB, eh sekarang masuk APBD.Menolak Reklamasi, eh ditanya solusi bungkam membisuMenutup Alexis, eh ngikutin Perda dan bukan program utamaKJP plus-plus, eh tidak bisa di cairkan karena berbarengan dengan KIPDP 0 Rupiah, minim gaji 3juta eh berubah minim gaji 7juta, rakyat miskin punya gaji 7juta? Helow

Berjanji tapi palsu, ngomong berubah-rubah. Maju kotanya bahagia pejabatnya!


Photo

Post has shared content
Usai Ahok Cabut Permohonan Banding, Kembali Ia Jadi Sorotan Media Internasional

Admin  berita




CeriaNews.com - Saat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dijatuhi hukuman penjara 2 tahun, media internasional ramai memberitakan. sebelum hal itu pun Ahok telah menjadi sorotan dunia. Kini ia kembali ramai diperbincangkan lantaran mencabut permohonan bandingnya. Keputusan ini memang cukup mengejutkan.

Tak hanya media lokal saja yang memberitakannya, pencabutan banding atas kasus penodaan agama dengan Ahok sebagai terdakwa ini juga diberitakan oleh media internasional.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Veronica Tan, beserta adik Ahok, Fify Letty Indra bersama Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika BTP yang mendampingi kasus dugaan penodaan agama menjelaskan perihal pencabutan memori banding.

Konferensi pers digelar di Gado-Gado Boplo, Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat, Selasa (23/5/2017). Veronica Tan meneteskan air matanya saat membacakan sepucuk surat yang ditulis oleh suaminya di balik tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Terlihat Veronica mengenakan kebaya kuning itu tak kuasa menahan air matanya saat menjelaskan permintaan Ahok yang menerima putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dengan vonis 2 tahun penjara.

Berikut deretan media-media Internasional yang turut memberitakan putusan Ahok untuk mencabut banding atas kasus penodaan agama yang menjeratnya!

1. Newsweek





Portal berita Newsweek ini memberitakan pencabutan banding oleh Ahok ini dengan judul 'Jailed Former Jakarta Governor Ahok Will Drop Appeal Against Blasphemy Conviction', menuliskan bahwa Ahok mencabut banding pada sebuah konferensi pers yang diwakili oleh sang istri Veronica Tan.

Newsweek juga menuliskan Veronica Tan yang menangis saat membacakan pernyataan resmi yang ditulis oleh Ahok langsung di balik jeruji Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Tak hanya itu, Newsweek juga menuliskan bahwa alasan Ahok mencabut banding tersebut adalah khawatir dengan warganya yang nanti bergejolak dan semakin banyaknya bentrokan yang terjadi jika Ahok terus melanjutkan banding yang ia ajukan pada 11 Mei 2017 silam.

2. The New York Times


Sama seperti Newsweek, portal berita asal Amerika Serikat, The New York Times ini juga memberitakan pencabutan banding yang dilakukan oleh Ahok.
Mengangkat beritanya dengan judul 'Governor of Jakarta Withdraws Appeal of Blasphemy', The New York Times menuliskan pencabutan banding ini bukanlah sebuah paksaan namun berasal dari hati dan hasil diskusi keluarga.

The New York Time juga menuliskan keputusan tak terduga dari Ahok ini diambil karena ditakutkan bisa memperpanjang ketegangan agama dan etnis di negara mayoritas memeluk agama Islam di dunia.

Portal berita ini juga mengungkapkan penuntutan yang dilakukan kepada Ahok ini dipandang sebagai sebuah settingan yang dilakukan oleh rival politiknya dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

3. Strait Times




Portal berita negara tetangga Singapura, Strait Times pun turut memberitakan pencabutan banding yang dilakukan oleh Ahok ini. Strait Times menuliskan berita ini dengan judul 'Jailed Jakarta governor's appeal against blasphemy conviction dropped to allow prosecutors to appeal sentence, family says', menuliskan keputusan pencabutan banding atas kasus yang tengah menjerat Ahok ini berasal dari permintaan keluarga.

Strait Times juga menuliskan saat-saat Veronica Tan menangis pada saat membacakan surat dari Ahok pada saat konferensi pers yang dilakukan pada, Selasa (23/5/2017).

Tak hanya itu, Strait Times juga menjabarkan latar belakang dari Ahok dijatuhkan hukuman 2 tahun penjara hingga pencabutan banding.

4. ABC News




Berita ABC News dengan judul 'Jakarta's former governor Ahok dropping appeal against jail sentence for blasphemy', menuliskan keputusan Ahok untuk mencabut banding adalah untuk kebaikan negara.

Demi keadaan negara yang kondusif, Ahok rela menerima vonis penjara 2 tahun yang ia terima atas kasus penodaan agama yang menjeratnya. ABC News juga menjelaskan bahwa sang istri, Veronica Tan mendukung keputusan Ahok untuk menerima vonis tersebut.

Oleh karena itu, Veronica menjadi wakil Ahok untuk membacakan surat pernyataan resminya pada konferensi pers yang digelar pada, Selasa (23/5/2017).

5. Aljazeera



Aljazeera menjadi portal berita internasional yang tidak pernah ketinggalan dalam memberitakan seluk beluk Ahok. Kali ini ia memberitakan pencabutan banding yang dilakukan Ahok dengan artikel yang berjudul 'Jakarta's ex-governor Ahok drops blasphemy appeal'.

Aljazeera menuliskan saat-saat Veronica Tan yang menangis ketika membacakan surat dari Ahok pada konferensi pers terkait pencabutan banding pada kasus penodaan agama yang menjerat Ahok. Aljazeera juga menuliskan keputusan tersebut sangat mengejutkan dan di luar perkiraan.

Keputusan pencabutan banding tersebut dipicu karena banyaknya unjuk rasa dan bentrokan yang terjadi antara pendukung Ahok dan masyarakat lainnya. Ahok tidak mau hal tersebut berkelanjutan maka dari itu ia lebih memilih untuk menerima vonis 2 tahun penjara yang dijatuhkan untuknya.

Sumber: Berantai.com


Photo

Post has shared content
Wait while more posts are being loaded