Pasal 78 UU Perlindungan Anak,  menyebutkan, setiap orang yang mengetahui dan membiarkan anak dalam keadaan bahaya atau mengalami kekerasan, tapi tidak melaporkan, maka orang tersebut dipidana 5 tahun. Namun pada prakteknya, sering kita melihat di Ibu Kota Jakarta,  para perempuan dewasa mengeksploitasi anak-anak untuk mendapat rasa iba dari pengguna jalan (terutama mereka yang bermobil) dengan mencubit  sang anak hingga menangis. Karena iba,  banyak dari pengguna jalan melemparkan uang untuk si ibu. Bukan melaporkan ke aparat setempat. Mengapa demikian? Karena kurangnya sosialisasi undang-undang tsb. Dan tak ada tindakan dari aparat , padahal tanggungjawab merekalah untuk melakukan tindakan atas eksploitasi dan kekerasan yang di lakukan pada anak. Pemerintah bertanggung jawab menjamin perlindungan anak sebagai lembaga yang menjadi pelaksana UU sebagaimana ditegaskan dalam UU Perlindungan Anak ( 23/2002 ) bahwa setiap anak berhak mendapat perlindungan dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Bagaimana menurut anda?

Saya baru saja keliling Manado selama 4 hari. Saya kagum pada pemda setempat. karena selama saya disana tidak melihat adanya eksploitasi dan kekerasan pada anak dalam rangka "menghiba" pada pengguna jalan. Yang ada, untuk "keluarga yang berkekurangan" oleh dinas pariwisata disana anak-anak diberi pelatihan fotografi, refleksi, dan membuat cindera mata - yang kemudian keahlian anak-anak tersebut di perdayakan di tempat-tempat wisata, seperti obyek wisata bukit kasih. Luar biasa! Sebuah solusi yang seharusnya di tiru pemda-pemda lainnya terutama pemda DKI sebagai ibu kota negara: rekrut anak jalanan, beri pelatihan dan salurkan di tempat-tempat pariwisata. Bukan di jebloskan ke panti depsos, diberi pengarahan dan di lepaskan kembali. Tokh pajak yang ada juga diperuntukan untuk mereka..

Terima kasih untuk yg telah bergabung..

Apa yg terjadi pada masa remaja anak Indonesia sungguh sangat memprihatinkan: tawuran antar pelajar bukan hanya di kota kota besar tp sdh merambah ke desa desa yg dulu hidup damai dg toleransi yg sangat tinggi. Siapa yg salah tdk perlu di perdebatkan. Tp mari berbagi pemikiran bagaimana mengembaljkna anak bangsa untuk tdk membuang toleransi dan menjadi anak yg dpt mengelola emosinya ke hal yg positif.
Wait while more posts are being loaded