Post has attachment


Menurut pengalamanku, yang sering disebut sebagai “makhluk halus” oleh orang Indonesia sebenarnya cuma bagian dari psyche, bagian dari jiwa orang yang mengklaim itu. Terkadang bahkan bukan klaim dari orangnya, melainkan “mitos” yang dipegang secara turun-temurun. Jadi, secara kultural memang memiliki bentuk dan “energi”. Tetapi semua itu ada di dalam psyche atau jiwa anggota-anggota lingkungan budaya tempat belief system itu dipakai.

Apa yang disebut sebagai “malaikat pelindung” di satu subkultur (dalam hal ini, Katolik Jawa) bisa diartikan sebagai “jin” di subkultur lainnya (Jawa Islam), dan bisa berarti “leluhur” di subkultur yang lain lagi (Jawa Abangan). So what?

Yang penting adalah kesehatan jiwa itu, kan? Yang penting bisa berfungsi secara optimal dan bertransformasi sehingga menjadi orang-orang yang lebih manusiawi, dan bukan menjadi seperti anjing-anjing yang menggonggong dan kalau digebuk mengaku bercanda saja.

Energi adalah energi dan bukan makhluk halus. E = mc2. Hukum kekekalan energi. Energi bisa menjadi massa dan sebaliknya bila ada kecepatan. Sangat mudah. Di sisi yang lain, “makhluk halus” adalah hasil konstruksi sosial. Karena itu mesti dilihat dulu, yang ngomong “makhluk halus” itu background budayanya apa.

Kalau memberi konseling ke klien, mau tidak mau harus mengikuti cara penalarannya. Tujuannya agar klien bisa mencapai stabilitas baru dan tenang mengarungi proses transformasi menuju bentuk stabilitas kejiwaan yang lebih tinggi.

Aku pengikut Carl Jung. Archetypes, istilah yang dibuat oleh Jung, dan mungkin itu terminologi yang lebih pas. Makhluk-makhluk halus itu sering kali bisa diinterpretasikan sebagai archetypes yang hidup di dalam jiwa klien itu sendiri. Dan memang memiliki energi yang besar sekali, sehingga bisa mendorong proses transformasi. Jika ditangani dengan benar, itu bisa digunakan untuk membantu menemukan solusi bagi permasalahan hidup yang sedang dihadapi oleh klien itu.

Post has attachment


Ketika mata ketiga aktif, seharusnya anda tumbuh menjadi manusia yang cerdas. Memahami sesuatu itu apa adanya. Intuisi anda bekerja, sehingga mampu membedakan ilusi atau halusinasi. Bukan malah terjebak kedalam delusi akut.

Orang yang mata ketiga nya aktif, sejatinya tumbuh menjadi manusia yang rasional. Bukan malah terperosok ke dalam dunia yang hanya dijejali fantasi dan imajinasi liar yang adanya dalam fikiran anda yang tak terkendali.

Apakah mata ketiga itu? Apakah simbol itu? Dan bagaimanakah cara menginterpretasikan simbol yang muncul di kesadaran manusia hidup itu? Tiga pertanyaan mendasar itu akan dicoba dijawab dalam percakapan-percakapandi buku ini. Semua percakapan itu dilakukan antarabulan Maret 2007 sampai dengan Maret 2008 melalui Yahoo Messenger dan email. Yang ditanyakan, itulah yang dijawab. Bertanya juga apa adanya saja, dan dijawab apa adanya juga. Semua berjalan apa adanya, tanpa dibuat-buat, tanpa rekayasa.

Bagian pertama berisi tanya-jawab seputar pengertian simbol. Bagian kedua tentang interpretasi simbol yang muncul dalam mimpi. Bagian ketiga, simbol yang muncul dalam penglihatan. Prinsip-prinsip interpretasi selalu sama, baik simbol itu muncul dalam mimpi maupun penglihatan, dan itu bisa ditelusuri dengan mudah di dalam tanya-jawab yang ada. Bagian ketiga merupakan satu sampel bagaimana suatu tanya-jawab tentang mata ketiga, simbol, dan interpretasinya itu berjalan dalam real time. Ada 12 (dua belas) tanya-jawab antara Jacky Chen (mahasiswa di Jakarta, 20 tahun) dan saya. Dan pembaca akan bisa melihat bahwa Jacky sedikit demi sedikit akhirnya memahami tentang mata ketiga, apa hubungannya dengan kehidupan kita sebagai insan spiritual, dan bagaimana menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara apa adanya.

Mata ketiga memunculkan intuisi anda, di semua budaya seperti itu cara kerjanya. Yg beda cuma istilahnya. Mata ketiga disebut dengan berbagai nama. Begitu pula intuisi. Bahkan yg memakai juga punya seribu nama, palingtidak. Di Indonesia disebut manusia. Dalam bahasa Inggris men and women. Lelaki dan perempuan. Bukan tempel sesuatu di jidat, dan setelah itu bisa menerawang lewat bola kristal. Itu dukun masa lalu, sekarang jadi hiburan sirkus. Tidak serius. Kalau mau serius, cukup meditasi rutin biasa saja. Fokus di cakra mata ketiga anda, dan nikmati hidup. Intuisi anda akan muncul berurutan. Seperti acak, tapi sebenarnya urut.

Kalau memahami naskah secara berurutan, logis dan rasional namanya bukan intuisi. Tema pokok buku ini adalah tentang intuisi, yaitu bagaimana seseorang bisa langsung tahu dan mengerti walaupun tidak ada urutannya. Tiba-tiba tahu kenapa orang yg satu bisa bilang bahwa isinya begitu mudah dan cling! Mata ketiga atau intuisinya langsung terbuka. Merasa melihat dunia yg berbeda. Lebih cerah, bercahaya, tembus pandang bagai gelas-gelas kristal.Dan mengapa satu orang lainnya merasa melihat tembok belaka? Dimana-mana tembok, biarpun diikuti ke atas, ke bawah, pakai kaca pembesar, tetap merasa melihat tembok? Karena orang kedua ini intuisinya tidak berjalan, merasa harus menemukan kunci berdasarkan pengalaman mengurutkan fakta, yaitu data yg disodorkan satu persatu. Begitulah dua modus operandi umat manusia. Dan secara ngeyel dan guyon-guyon saya lemparkan satu demi satu kepingan solusinya. Dari jenis modus operandi yg intuitif. Sehingga mereka yg sudah siap bisa langsung memperolehnya. Terbuka intuisinya, bahkan tanpa perlu bersusah-payah memahami apa yg saya tuliskan. Cukup membaca dan nikmati saja. Dan langsung bisa muncul intuisinya.

Implisit di banyak percakapan berikut adalah konsep meditasi di cakra mata ketiga.

Cakra mata ketiga yg asli adalah kelenjar pineal, letaknya di tengah batok kepala anda. Kelenjar ini menghasilkan hormon melatonin yg menenangkan, makanya orang yg banyak meditasi pembawaannya tenang. Tubuh anda secara otomatis menghasilkan hormon melatonin ketika anda tidur di ruang yg gelap. Tapi hormon ini bisa juga dihasilkan melalui laku meditasi. Ketika anda meditasi di cakra mata ketiga, dalam ruang yg gelap atau remang-remang, maka hormon melatonin juga akan diproduksi. Anda akan menjadi tenang. Ada yg akan memperoleh penglihatan (atau halusinasi kalau pakai istilah psikologi), ada juga yg tidak. Penglihatan tidak terlalu penting karena tidak semua orang berbakat. Yg bisa dilakukan semua orang tanpa kecuali adalah meditasinya, yaitu fokus di cakra mata ketiga.

Instruksi tentang cara meditasi mata ketiga dari saya mudah saja, yaitu cukup duduk dengan punggung tegak. Bisa bersila, bisa di atas kursi. Yg penting punggung dan kepala tegak. Telapak tangan bisa diletakkan di atas paha. Lalu pandanglah ke atas dengan bola mata anda. Pandang dengan sudut 45 derajat. Napas biasa saja. Setelah itu anda bisa tutup mata anda perlahan-lahan, dengan posisi bola mata yg tetap memandang ke arah atas. Anda bisa tutup kelopak mata anda seluruhnya, bisa pula dibuka sedikit ujungnya. Diam saja, rasakan kesadaran anda yg berada di titik antara kedua alis mata. Anda sudah masuk ke gelombang otak Alpha, yaitu gelombang otak pertama menuju tingkat meditasi mendalam. Kalau anda teruskan meditasinya, anda akan bisa masuk ke gelombang otak Theta, dan bahkan Delta, yaitu gelombang otak tidur lelap. Gelombang otak yg rendah sekali, tetapi anda tetap sadar. Sadar bahwa anda sadar. Itulah meditasi mata ketiga, mudah sekali. Kalau dipraktekkan secara rutin tiap hari akan memunculkan kemampuan intuitif anda. Intuisi anda akan muncul dengan sendirinya.

Banyak istilah dalam bahasa Inggris yg tidak saya terjemahkan. Lebih mudah bagi saya menulis dalam istilah aslinya. Dan saya percaya, akan lebih mudah juga bagi pembaca apabila saya pakai bahasa Inggris sekali-sekali. Bukan sok berbahasa asing, melainkan seperti itulah cara saya bicara. Bicara saya menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari yg dicampur dengan bahasa Inggris, dan teman-teman bisa mengerti. Mengerti dan mungkin juga suka, makanya saya teruskan. Cara saya menulis adalah mengikuti apa yg muncul di dalam kepala saya, secara spontan saya tuliskan. Kalau yg munculdalam bahasa Inggris, saya tuliskan apa adanya. Makanya anda bisa menemukan awal kalimat dalam bahasa Inggris, dan lanjutannya dalam bahasa Indonesia. Mungkin bukan bahasa Indonesia yg baku, melainkan bahasa Jakarta, bahasa yg digunakan sehari-hari di Jakarta Barangkali gayanya dinilai ngeyel. Untuk menjadi waras kita harus ngeyel. Tanpa itu, kita susah jalan, karena begitu seriusnya mempertahankan khayalan. Khayalan spiritual banyak jenisnya di budaya kita; di khazanah cerita keluarga dekat, turun temurun. Dan dipandang serta ditangani dengan begitu seriusnya sehingga mau tidak mau kita harus ngeyel. Ngeyel artinya mempelesetkan apa yg dimaksud oleh orang yg berbicara. Ada kemungkinan, yg tidak ngeyel tetap tidak waras. Yg ngeyel ada kemungkinan bisa waras. Spiritualitas ngeyel, spiritualitas waras. Selamat membaca!

Post has attachment
SPIRITUAL INDONESIA

Disini tempat berbagi tentang apa saja, baik itu berupa pengalaman pribadi, pemikiran maupun pergulatan batin.

Kebebasan berbicara adalah juga dasar dari kehidupan kemanusiaan kita. Diskriminasi dalam segala bentuknya adalah tabu. Pemaksaan kehendak adalah kekanak-kanakan dan tidak bermanfaat. Disini tempat untuk menjadi diri sendiri. Seutuhnya.

Sebagian besar content disini adalah tentang pengalaman, diskusi, presentasi, debat hingga obrolan ringan para pelaku spiritual. Hal-hal sederhana tentang hidup. Singkatnya, Spiritual Indonesia adalah tentang kultivasi spiritualitas manusia Indonesia yg tentu saja bermacam-ragam. Tidak ada benar atau salah, melainkan pilihan. Apa pilihan anda, silahkan tuliskan, dan jelaskan apabila ada yg bertanya. Namanya berbagi. Dan itulah missi dari group ini. Oh (tentang berbagi and not memaki)

Post has attachment
Our
PHILOSOPHY

Pejalan spiritual bukan mereka yg duduk diam seolah tanpa masalah. Masalah selalu silih berganti datang di kehidupan. Yg penting bukan menghindarinya melainkan bagaimana memecahkannya. Spiritual bukan tentang katanya, tapi tentang nyatanya. Tentang pengalaman dalam menjalani proses hidup dengan kesadaran tinggi

Post has attachment
Ini bukan buku agama melainkan buku spiritual. Dalam arti tidak membawakan pandangan resmi lembaga keagamaan yg pastinya juga berbeda-beda tergantung alirannya, melainkan agama berdasarkan apa yg saya mengerti. Atau berdasarkan apa yg koresponden saya mengerti. Mewakili dirinya sendiri dan bukan lembaga agama.

Koresponden adalah rekan tanya-jawab saya, bertanya-jawab di sebagian buku ini. Saya kasih tanda T untuk tulisan yg berasal dari penanya. Dan saya kasih tanda J untuk jawaban saya. Tidak semua tulisan saya mengandung tanya-jawab. Sebagian besar tidak. Buku-buku saya sebelumnya sebagian besar berisikan tanya-jawab, tetapi tidak di buku ini. Sebagian besar saya bicara sendiri disini. Atau menulis sendiri. Yg dilakukan di Facebook. Sudah pernah diposting semuanya dengan tanggapan memuaskan.

Jadi jangan heran apabila saya berbicara seolah-olah anda bagian dari Komunitas Spiritual Indonesia, group spiritual umum berbahasa Indonesia terbesar di Facebook. Beranggotakan lebih dari 60 ribu orang pada saat naskah buku ini diselesaikan, dan masih bertambah terus setiap hari. Menurut saya tidak ada bedanya apakah anda ada di Facebook atau di luarnya. Apakah bagian dari komunitas saya atau bukan. Saya tahu anda akan bisa paham. Apabila anda angkat buku ini di toko buku, maka artinya ada pesan dari dalam buku ini untuk anda. Bacalah!

Walaupun saya tidak memberikan penjelasan menyeluruh tentang konsep-konsep yg saya gunakan, ternyata pembaca di Facebook bisa mengerti. Mungkin karena pengikut Facebook berpendidikan sarjana, paling tidak. Atau mungkin kebanyakan sudah terbuka pemikirannya. Sehingga saya pikir pantas untuk dibawa keluar dari dunia maya dan masuk ke dunia nyata. Kalau tadinya di Facebook sekarang di tangan anda.

Dari tujuh buku saya, tiga di antaranya bertemakan mata ketiga. Bisa disebut sebagai serial mata ketiga yg sudah terbit sampai jilid ke-3. Buku ini bisa disebut sebagai bagian dari serial mata ketiga juga, yaitu jilid ke-4. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar lagi tentang apa itu meditasi mata ketiga, apa dampaknya, dan apa hasilnya bagi kehidupan anda. Atau bagaimana membedakan meditasi dan halusinasi. Hal-hal seperti itu sudah dibahas di jilid-jilid sebelumnya. Di jilid ke-4 ini saya akan melangkah lebih jauh lagi dengan memperlihatkan secara langsung penggunaan mata ketiga dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu, bagaimana saya menyikapi kejadian dalam hidup saya seperti kehilangan kedua orang tua, trauma masa kecil dan berlanjutnya rasa keterasingan, sekaligus menerima curah hati banyak teman tentang apa yg mengganggu pemikiran dan emosi mereka. Semua asli percakapan nyata dan tidak dibuat-buat. Yg saya tanggapi apa adanya, berdasarkan pengalaman dan pemikiran saya yg juga tetap bergejolak melihat ketidak-adilan dalam masyarakat. Baik yg dibawa oleh tradisi maupun berbagai salah kaprah dan gagal paham yg masih berlangsung sampai saat ini.



Pada akhirnya mungkin anda akan bisa juga menyimpulkan bahwa pejalan spiritual bukan mereka yg duduk diam seolah tanpa masalah. Masalah selalu silih berganti datang di kehidupan kita. Yg penting bukan menghindari masalah melainkan bagaimana memecahkannya. Baik masalah pribadi maupun masalah berupa keganjilan dalam masyarakat. Yg kita tahu pasti akan berlalu suatu saat, dan yg kita juga tahu pasti bahwa kita berhak mengerti. Berhak menggunakan otak kita sendiri untuk berpikir dan berpendapat. Begitulah inti dari isi tulisan-tulisan saya yg dimuat di bagian kedua dari buku ini.

Dari tujuh buku saya yg telah terbit, buku ini adalah yg paling komprehensif, dalam arti mencakup segala macam aspek yg muncul di hadapan saya sebagai seorang praktisi meditasi mata ketiga selama setahun penuh dari bulan Februari 2015 sampai dengan bulan Februari 2016. Ganti berganti topiknya sesuai apa yg muncul di mata Netizen seperti saya. Dibicarakan bersama, didiskusikan bersama, paling akhir saya tuliskan sendiri. Utuh untuk setiap tulisan.

Tentang mata ketiga masih bisa anda temukan juga, dan masih bisa saya tuliskan secara singkat di bagian Kata Pengantar ini. Mata ketiga adalah intuisi anda. Bagian dari pikiran anda yg bisa langsung tahu tanpa susah payah lagi berpikir. Kenapa bisa begitu? Karena anda rutin meditasi mata ketiga, menggunakan cakra mata ketiga yg letaknya di bagian kepala. Anda sudah menekankan penggunaan kepala dan bukan lagi penggunaan bagian dada atau yg umumnya disebut sebagai hati. Menurut saya sudah waktunya kita pindah, naik ke atas, ke bagian kepala.



Rekan saya Petrus Tri Handoko menulis bagian pertama dari buku ini. Menceritakan latar belakang pribadinya sehingga bisa bercakap-cakap dengan Tuhan. Mas Tri akan menjelaskan sendiri apa yg dimaksudnya dengan Tuhan. Bagaimana bisa sedangkan orang lain yg belajar bertahun-tahun di lembaga keagamaan tidak bisa? Mungkin karena ada kejujuran. Jujur merupakan kunci juga dalam spiritualitas manusia. Tanpa kejujuran anda hanya akan berjalan di tempat. Berputar dan berputar tanpa bisa melangkah maju. Merepotkan diri anda sendiri dan orang lain. Merasa diri selalu benar dan iri melihat orang lain yg anda anggap tidak benar tetapi lebih berhasil dibandingkan anda. Sehingga anda mulai berpikir, mencari tahu. Mempraktekkan berbagai ragam disiplin spiritual seperti doa dan meditasi. Dan mulai melahirkan pengertian-pengertian baru walaupun mungkin belum berani anda tuliskan atau ucapkan.



Saran saya, ucapkan saja. Tuliskan saja. Tidak usah takut salah. Saya tidak takut salah karena saya tidak mengaku memiliki kebenaran. Apa yg saya tulis bisa salah. Baik karena kurang informasi ataupun alasan lainnya. Selain karena saya memang memandang dari sudut pandang saya sendiri. Saya menggunakan pendekatan simbolik. Unik, lain dari yg lain. Anda bahkan tidak akan mungkin memandang persis seperti saya. Pandangan tiap orang selalu bersifat pribadi, dan jelas paling bermanfaat bagi orang itu sendiri. Yg akan membantunya untuk bisa menerima diri dan melanjutkan kehidupan. Sehingga tidak usah terlalu dipikirkan kalau anda tidak atau belum mengerti banyak ketika pertama kali membaca. Atau anda hanya memahami sedikit dan akan coba memahami lebih banyak lagi di kesempatan membaca berikutnya. Normal saja yg seperti itu karena perjalanan spiritual memakan waktu seumur hidup. Pengertiannya maju sedikit demi sedikit. Puluhan tahun bagi seorang manusia, ratusan dan bahkan ribuan tahun bagi masyarakat. Yg penting anda paham tekniknya, dan segala penjabaran maupun pandangan anda tentang berbagai aspek kehidupan manusia bisa menyusul belakangan. Pasti ada.

Post has attachment


Meditas mata ketiga (MK3) adalah tema utama di dalam kumpulan artikel dan tanya-jawab berikut, yang berasal dari periode awal Oktober 2011 sampai akhir April 2012. Enam bulan penuh. Tentu saja itu bukan satu-satunya topik, ada yg lain lagi, bermacam-macam hal yg menarik perhatian saya. Atau berusaha menarik perhatian saya. Oh (tarik-tarikan).

Kenapa saya menyodorkan meditasi mata ketiga sebagai alternatif? Jawab: karena selama ini hampir semua orang diajarkan untuk pegang dada atau cakra jantung, dengan salah kaprah yg keterlaluan, yaitu otaknya tidak dipakai untuk berpikir. Seolah-olah otak adalah Setan, dan perasaan adalah Tuhan. Ini salah kaprah yg sangat menyesatkan, dan banyak orang masih percaya itu. Oh (percaya mempercayai).

Meditasi mata ketiga mempunyai banyak manfaat. Selain secara implisit memindahkan pengertian kita dari perasaan ke pikiran, meditasi ini juga memunculkan intuisi. Intuisi artinya tahu sendiri tanpa melalui panca indra. Manfaat lainnya adalah tersambungnya kehidupan kita dengan Alam Semesta. Jadi, seperti ada yg menggerakkan segalanya sehingga apa yg kita niatkan bisa tiba-tiba muncul di depan mata. Oh (bahkan sebelum diucapkan)

Cara meditasi mata ketiga mudah saja, yaitu dengan menurunkan gelombang otak kita. Bukan dengan cara memperhatikan napas, melainkan dengan merasakan kesadaran kita berada di titik antara kedua alis mata. Rasakan saja kesadaran kita disana. Bisa juga dirasakan di tengah batok kepala. Atau, kalau mau cara paling cepat, dengan menggunakan bola mata kita. Mata menatap ke arah atas, lalu kelopak ditutup.

Posisi mata tetap mengarah ke atas. Dalam waktu satu atau dua menit saja, atau paling lama lima menit, anda akan sudah masuk gelombang otak Alpha, yaitu gelombang otak meditasi normal.

Kalau lebih lama lagi, gelombang otak anda akan turun terus memasuki gelombang otak Theta, yaitu meditasi mendalam. Bahkan bisa masuk gelombang otak Delta, yaitu gelombang otak tidur lelap. Tetapi anda tetap sadar, dan tetap meditasi. Itulah yg saya sebut gelombang otak kun fayakun, ketika anda bisa bilang amin kepada permintaan yg diajukan oleh orang lain. Orang lain yg berada di hadapan anda sudah ikut turun gelombang otaknya karena gelombang otak anda sendiri sudah berada di bawah sekali. Nah, karena penanya dan penjawab sudah sama-sama berada di gelombang otak rendah, maka apapun yg diminta, apabila memang sah, seperti penyembuhan sakit mental emosional, maka bisa dipenuhi oleh Alam Semesta. Penyembuhan sakit fisik secara spiritual juga dilakukan dalam gelombang otak rendah ini.

Saya berpendapat, kalau sebagian besar orang Indonesia sudah secara rutin bermeditasi / berdoa /berwirid/bernovena/berkontemplasi di gelombang otak Alpha ke bawah, maka kemajuan yg diharapkan tidak akan lama lagi akan segera tercapai. Selama ini kita salah kaprah, melakukan doa-doa di gelombang otak kerja fisik, yaitu gelombang otak Beta. Tentu saja doanya tidak manjur. Oh (mentes kemanjuran doa).

Untuk manjur, and in order that your jualan laris manis tanjung kimpul, then you may want to switch to meditasi MK3. Coba saja praktekkan. Bisa coba sendiri, instruksinya tersebar di ebook ini. Oh (antara merata dan tidak merata)

Ebook ini dipersembahkan kepada semua members Komunitas Spiritual Indonesia di facebook, di milis, dimana-mana. Special thanks to those who contributed, yaitu teman-teman yg telah berkorespondensi dengan saya, dan hasilnya dimasukkan dalam ebook ini.

Ebook ini pakai nama saya, tapi anda tahu penulisnya banyak. Ini ebook ke-9 (sembilan) yg keluar dari Komunitas Spiritual Indonesia. Suatu saat pasti akan diterbitkan. Oh (belum tahu kapan)

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded