PENTINGNYA BERKOMUNIKASI

Sahabatku yang dirahmati Allah,.....

Barang kali ada diantara kita yang punya orang tua tapi merasa seperti tidak punya orang tua, punya saudara tapi merasa tidak memilikinya, punya sahabat tapi merasa jauh darinya dan lain sebagainya. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga ada seorang suami atau istri yang memiliki pasangan tapi merasa tidak memilikinya. Rakyat juga merasa tidak ada pemimpin atau pemerintah yang mengurusnya, padahal sebenarnya mereka itu ada. Itulah efek yang akan muncul dari kurang adanya komunikasi antara pihak satu dengan pihak lain yang berhubungan.

Banyak orang tua yang pergi diwaktu fajar sebelum anaknya bangun dan pulang larut malam setelah anaknya tertidur sehingga tidak pernah terjadi komunikasi antara anak dan orang tua. Dengan demikian jangan salahkan anak kalau ia mempunyai watak yang lain yang entah dari mana ia mendapatkannya. Seorang Bos juga kebanyakan dari mereka mengabaikan bawahannya. Padahal kesuksesannya itu juga ada campur tangan dari bawahannya. Pemerintah juga kebanyakan tidak banyak bermusyawarah dengan rakyat sehingga rakyat merasa tidak ada yang mengurusinya.

Sahabatku yang dirahmati Allah,.....

Janganlah sampai kita menjadikan orang-orang disekitar kita menjadi layaknya seekor kucing yang selalu mendapatkan sisa dari apa yang kita punya. Usahakanlah sebisa mungkin untuk membuat diri kita menjadi bermanfaat bagi orang lain. Sehingga saat orang tersebut jauh dari kita, atau ditinggal kita (wafat), ia akan merindukan kita, rindu dengan kebaikan kita dan mereka juga akan selalu mengenang kebaikan kita, bukan keburukan kita. Bukankah itu termasuk salah satu tanda akhir yang husnul khatimah,..........?

Untuk menciptakan komunikasi yang baik, kita harus peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Dengan demikian, maka kita akan hidup damai dilingkungan sekitar kita. Kita akan bisa merasakan kehadiran orang-orang yang ada di sekitar kita dan begitu pun sebaliknya. Hemmm,.. indah bukan? 

Dalam sebuah keluarga atau asrama, bisa dibilang baik kalau semua penghuni di dalamnya saling peduli dan mengasihi. Seorang pimpinan / Bos yang menjalin komunikasi baik dengan bawahannya, maka ia akan menjadi sosok yang disegani, dihormati dan selalu dirindukan. Pemerintah juga demikian, kalau sering menengok rakyat, rakyat pasti juga akan semakin hormat dan patuh dengan peraturan yang telah ditetapkan. Semua itu adalah hikmah dibalik terjalinnya komunikasi yang baik.

Namun demikian, menurut Ustadz Yusuf Mansur semua hal diatas masih bisa dibilang wajar dan biasa. Yang luar biasa menurut beliau adalah apabila kita juga bisa peduli dengan orang lain yang bukan siapa-siapa kita. Dengan memperdulikan orang lain, maka Allah akan semakin memperdulikan kita. Subhanallah,... 

Mengenai komunikasi yang baik, Allah telah memberi contoh dalam kalam sucinya di surah ash-Shaaffat ayat 102 mengenai dialog Nabi Ibrahim Khalîlullah dengan putranya Isma’il Alaihy as-Salam.

                            
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Dalam ayat tersebut tergambarkan bagaimana mesranya Nabi Ibrahim Khalîlullah ketika memanggil putranya Isma’il Alaihy as-Salam dengan sebutan “yâ bunayya – wahai anakku”. Padahal kita tahu bahwa saat itu Isma’il Alaihy as-Salam masih kanak-kanak, sedangkan Nabi Ibrahim Khalilullah, beliau merupakan penghulunya nabi, nabi yang agung. Subhanallah, meskipun demikian Nabi Ibrahim masih tetap mau mengajak Isma’il Alaihy as-Salam berdialog dalam menentukan langkah atau tindakan. Begitu pun dengan Isma’il Alaihy as-Salam, ia tak mau kalah mesra dalam memanggil ayahnya, yakni dengan sebutan “yâ abaty – wahai ayahku”.

Selain hal di atas yang telah dicontohkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah juga memberikan contoh lain melalui manusia paling mulia yang menjadi pilihanNya, yakni Rasulullah Shallallahu Alaihy wa Sallam.

Rasulullah Shallallahu Alaihy wa Sallam melalui sifat lemah lembut dan kasih sayang yang telah dikaruniakan Allah terhadap beliau, dikisahkan suatu hari tatkala Umar bin Abi Salamah masih kanak-kanak, Rasulullah pernah menasehatinya saat ia mau makan. Rasulullah Shallallahu Alaihy wa Sallam bersabda :

يَاغُلَامُ , سَمِّ اللَّهَ وَاكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَاكُلْ مِنْ مَا يَلِيْكَ
Wahai anak kecil, Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa yang dekat denganmu.

Subhanallah,............

Rasulullah Shallallahu Alaihy wa Sallam yang merupakan paling sempurna-sempurnanya makhluk bahkan sampai tidak bisa kita gambar kesempurnaannya, beliau dengan anak kecil bukan memanggil dengan sebutan “Hei” atau yang lainnya, tetapi beliau memanggil dengan kata yang sangat sopan, yakni “yâ ghulâm – wahai anak kecil”.

Mengenai filosofi hadis nabi di atas, Ustadz Yusuf Mansur menjelaskan bahwa dengan begitu Rasulullah Shallallahu Alaihy wa Sallam ingin mulai menanamkan tata krama sejak dini dan mengajarkan pula untuk tidak serakah. Dan dari hadist tersebut, nantinya bisa dikembangkan bukan Cuma Sammillaha dalam urusan makan, tapi juga Sammillaha dalam semua urusan, baik urusan kecil atau pun besar.

Sahabatku yang dirahmat Allah,....

Dengan adanya komunikasi yang baik, InsyaAllah kita juga akan mudah mengajak mereka untuk melakukan kebaikan. Kita akan punya peluang untuk mengolah lahan kebaikan yang nantinya bisa berbuah pahala.

Pesan Ustadz Yusuf Mansur, kalau kita mau merubah orang lain menjadi orang yang baik maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan merubah kita menjadi baik pula. Kalau kita mau mendekatkan orang lain kepada Allah, maka Allah juga akan semakin mendekat pada kita.

Tak terbayangkan bukan, ketika kita bisa dekat dengan pemegang kunci dunia? Pastilah hidup kita akan tenang, damai, aman, dan sejahtera, serta apa yang kita inginkan, di situ ada peluang lebar untuk bisa terkabul.

Semoga bermanfaat,........ 


Buat Apa Marah, Marah Itu Tak Ada Gunanya

Banyak korban akibat kemarahan kita. Bukan cuma orang yang membuat kita marah saja yang menjadi korban, tapi bisa juga orang-orang yang ada di sekitar kita yang tidak bersalah.

Saat keluarga tidak bisa mengontrol emosinya, saat orang lain banyak yang merindukan jodohnya, ia malah bercerai. Seorang bintang di lapangan bola saat ia tidak bisa mengontrol emosinya, kemudian ia menyesal saat akhirnya ia dikeluarkan dari lapangan. Juga seorang ibu yang saat ia tidak bisa mengendalikan emosi terhadap anaknya hingga keluar sumpah serapahnya, kemudian saat itu terjadi semua, ia baru akan menyesal.

Kemarahan bukanlah hal bisa menyelesaikan masalah, melainkan ia malah akan menambah masalah baru. Kemarahan itu membuang tenaga dengan sia-sia dan tidak berfaidah.

Saudaraku yang dirahmati Allah,...

Janganlah mudah marah. Contohlah Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam yang merupakan teladan teraik dalam kehidupa kita.

Ada sebuah cerita tatkala Abu Bakar Radliyallahu ‘Anhu mendatangi putrinya ‘Aisyah yang juga merupakan Ummul Mukminin, beliau bertanya : “ Wahai putriku,.. Adakah satu amal yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam tatkala masih hidup dan belum aku amalkan?”. ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha menjawab : “Wahai ayahku, Engkau adalah teladan yang baik. Engkau telah melakukan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam”. Merasa tidak puas dengan jawaban putrinya, Abu Bakar meminta putrinya untuk mencoba mengingat-ingat kembali akan adakah amalan Rasul yang belum ia lakukan. Kemudian putrinya menjawab : “Baik, barang kali memang ada amal Rasul yang belum engkau lakukan wahai ayahku, yaitu ada seorang yahudi tua yang matanya buta yang ia senantiasa mencaci dan memaki Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam namun Rasulullah senantiasa baik kepadanya dan menyuapinya bubur di setiap harinya”. Abu Bakar bertanya : “Apakah Rasulullah tahu bahwa yahudi tua itu matanya buta?” Jawab ‘Aisyah : “Iya, Rasulullah mengetahuinya”. Baik, tetap buatkan bubur untuk bisa aku menyuapinya, kata Abu Bakar Radliyallahu ‘Anhu.

Akhirnya abu bakar mendatangi yahudi tua terebut dan menyuapinya. Saat Abu Bakar memberikan suapanya yang pertama, kemudian yahudi tua itu bertanya : “Siapakah engkau?”. Abu Bakar diam dan tetap menyupinya. Dikisahkan tatkala sampai pada suapan yang ketiga, yahudi tua tadi menolak suapan Abu Bakar yang ketiga dan bertanya, “Siapakah engkau. Engkau berbeda dengan orang yang biasa menyuapiku.” Abu Bakar baru menjawab : “Wahai pak tua, Rasulullah lah yang selama ini menyuapi kamu, dan sekarang Rasulullah telah tiada”. Yahudi tua tadi kemudian menangis dan memeluk Abu Bakar dengan mengucapkan syahadat. Ia masuk Islam karena mendapat hidayah dari Allah melalui sikap Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam yang mudah memaafkan, lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang. Subhanallah,........

Saudaraku yang dirahmati Allah,.....

Janganlah kita mudah marah. Saat kita ditipu, difitnah, dicaci, dimaki dan dimarahi, ikhlaskan saja semua itu karena sesungguhnya dari peristiwa itu, kita lah yang sebenarnya beruntung bukan orang yang menipu kita atau yang lain.

Cobalah saat kita ditipu, difitnah, dicaci, dimaki dan dimarahi, kita mengikhlaskanya. Kita yang pertama meminta maaf dan malahan kita berterimakasih kepada orang yang medzolimi kita itu.

Saat kita ditipu uang Rp. 20 juta atau lebih, kalau kita bisa mengikhlaskannya, maka uang kita itu akan bertambah menjadi dua kali lipat. Dalam salah satu buku yang ditulis oleh Ustadz Yusuf Mansur yang berjudul “Cara Hebat Buat Melipatgandakan Rizki”, beliau menyebutkan salah satu caranya yaitu dengan kita mengikhlaskan harta saat kita ditipu oleh orang lain.

Dengan kita bisa menerima apa yang dilakukan orang lain terhadap kita, meski kita dibuat dalam derajat paling rendah menurut mereka, jangan khawatir kalau bisa ikhlas dan menerimanya maka Allah lah yang nantinya akan meninggikan derajat kita.

Ustadz Yusuf Mansur pernah bercerita bahwa pada tahun 2004 tatkala diri beliau dibebani orang lain dengan hutang Rp. 400 juta, yang padahal beliau tidak tahu itu hutang apa, namun beliau mengikhlaskan semua itu dan memasrahkan urusan tersebut hanya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian buah dari sikap beliau tersebut hutang itu dijadikan lunas oleh Allah di tahun 2006. Dan kini seperti yang kita tahu, beliau telah menjadi seorang Guru yang kalamnya begitu asyik didengar, bisa mengetuk hati dan menyadarkan kita.

Saudaraku yang dirahmati Allah,...

Rasulullah telah mengingatkan kita dengan kalamnya yang mulia.

لَيْسَ الشَدِيْدُ بِالصُّرَاعَةِ , اِنَّمَا الشَدِيْدُ الذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبْ

“Orang yang kuat bukanlah seorang pegulat, melainkan orang yang kuat ialah orang yang mampu menguasai dirinya saat ia marah.”

Saat kita dicaci maki orang lain tanpa tahu alasannya, orang yang peduli dengan kita bisanya akan mengatakan, “Biarkan saja, nanti Allah yang akan membalasnya.” Ucapan seperti ini sangat familiar di telinga kita, dan ini memang benar serta ada hadistnya.

Pada suatu hari tatkala Abu Bakar sedang dicaci maki oleh seorang yahudi, Rasulullah yang berada di samping Abu Bakar hanya melihat dan diam saja. Perlu kita ketahui, Rasulullah diam buka karena Rasulullah tidak mampu membantu Abu Bakar, karena seandainya Rasulullah mau, beliau bisa memanggil Jibril sebentar kemuan yahudi itu pasti akan hancur. Rasullah diam tentunya ada kebaikan di sana. Rasulullah terus melihat Abu Bakar yang diam dengan caci dan makian yahudi itu. Namun karena mungkin kata-kata yahudi itu sudah di luar batas, akhirnya Abu Bakar membalas caci makinya. Melihat hal demikian Rasulullah langsung pergi.
Melihat Rasul pergi, Abu Bakar mengejar dan bertanya : “ Mengapa engkau pergi ya Rasulullah? Kemudian Rasulullah bersabda :

(يَا اَبَا بَكْرٍ) عِنْدَمَا يَشْتِمُكَ الرَّجُلُ كَانَ هُنَاكَ مَلَكٌ يُدَافِعُ عَنْكَ وَ عِنْدَمَا دَافَعْتَ عَنْ نَفْسِكَ فَذَهَبَ المَلَكُ فَذَهَبْتُ أَنَا

“Wahai Abu Bakar, tatkala seorang laki-laki dicaci maki, maka di sampingnya ada malaikat-malaikat yang mendo’akannya, dan ketika ia membalas caci makian itu, maka pergilah malaikat-malaikat itu, maka aku pun juga pergi.”

Saudaraku, hadist ini memang konteksnya untuk laki-laki, namun bukan berarti mengecualikan yang perempuan. Mungkin karena perempuan lebih lemah dari laki-laki, bisa saja malaikat yang mendo’akannya bertambah menjadi banyak. InsyaAllah.

Mari kita latih diri kita dengan banyak mengikhlaskan apa yang menimpa diri kita. Kita kembalikan semua urusan kita pada Allah yang merukan paling baik-baiknya tempat kembali. Allah itu Maha Pemurah, Maha Baik dan Maha Pengertian. Meskipun kita yang membuat masalah, Allah tetap berkenan untuk menyelesaikannya asal kita mau datang kepadaNya.

Saudaraku yang dirahmati Allah,....

Janganlah kita mudah mengeluh atas peristiwa yang menimpa kita. Tidakkah kita malu dengan do’a kita. Kita sering berdo’a untuk dijadikan termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar, dan kita berdo’a untuk diberikan derajat yang tinggi, namun ketika Allah hendak mengabulkan do’a kita melalui ujian dan cobaan yang diberikanNya, kita malah bilang ampun dan menyerah, mengaku tidak kuat lagi untuk menghadapi ujian tersebut.

Saudaraku yang dirahmati Allah,...

Semoga dengan memahami pelajaran ini, kita dijadikanNya termasuk orang-orang yang benar-benar sabar. Bukan sabar dalam lisan saja, namun juga sabar dalam hati nurani kita. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan kita derajat yang mulia di sisiNya, memasukkan kita dalam golongan orang-orang salih yang dicintaiNya. Amiiin,.. Amiiin,... Yaa Robbal ‘Alamiin,...

         ••     

“Orang-orang yang bertaqwa ialah mereka yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” Qs. Ali Imran : 134.

~¤Doa Ustadz Yusuf ¤~

Yaa Rabb,.. Engkau dan RasulMu mencontohkan bahwa Engkau adalah Maha Pemurah akan maaf dan ampunan. Betapa kami yang menyakitiMu dan menyakiti RasulMu, membawa dosa kepadaMu, tapi Engkau masih menurunkan karunia dan nikmatMu untuk kami. Engkau bahkan mengatakan kepada siapa saja yang berdosa untuk datang kepadaMu meski dengan membawa dosa sebesar gunung atau pun sebanyak buih di lautan, maka Engkau akan memberi ampunan dua kali lipat dari dosa yang dibawanya.

Yaa Rabb,... hamba adalah makhlik yang lemah. Berikanlah kekuatan pada kami untuk supaya kami bisa menahan amarah kami, nafsu kami, dan syahwat kami.

Yaa Rabb,.... Ampuni kami,....

Rabbanâ Âtina fî ad-Dunya hasanah, wa fî al-Âkhirati hasanah, waqinâ adzâb an-Nâr
Wa Shollallahu ‘Alâ Sayyidinâ Muhammad wa ‘Alâ Âli Sayyidinâ Muhammad
wa al-Hamdu lillâhi rabbil âlamînn,...


SABAR

 Pengertian Sabar
Sabar menurut bahasa berasal dari bahasa arab “Shabara” yang berarti mencegah atau menahan. Sedangkan menurut istilah, adalah menahan diri dari sifat kegundahan, dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang melanggar aturan, serta kuat dalam melawan berbagai godaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahakan kita untuk bersabar, sebagaimana dakam firmanNya :
------------------------------------------ Qs. Al-Baqarah : 154
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

 Sabar, Ciri Orang Beriman
Kesabaran merupakan salah satu ciri orang beriman. Sebagian ulama’ mengatakan bahwa kesabaran itu merupakan sebagian dari wujud iman. Antara sabar dan iman mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan, bagaikan kepala dengan jasadnya. Artinya tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad hidup yang tanpa memiliki kepala. Kesabaran seseorang akan menyempurnakan keimanannya, dan kesempurnaan tersebut telah digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam dalam hadist berikut ini, :
-------------------------------------------------------------- HR. Muslim
Dari Suhaib Radliyallahu ‘Anhu mengatakan : Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda : “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min, yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tesebut merupaka hal terbaik bagi dirinya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam mengambarkan bahwa orang beriman itu memiliki pesona yang menakjubkan. Pesona tersebut senantiasa memancar jika seseorang tersebut selalu berprasangka baik (positif thingking). Dia memandang segala persoalan dari sudut pandang positif dan bukan dari sudut pandang negatifnya. Sehingga dengan demikian, apapun yang diberikan Allah kepadanya, selalu disikapinya dengan sabar, arif, dan bijaksana. Contohnya, ketika seseorang mendapatkan kebaikan, kebahagiaan, kesenangan dan lain-lain, ia selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu pun saat ia mendapatkan musibah, dukacita, kesedihan,kemalangan, dan hal-hal negative lainnya, ia akan bisa menyikapinya dengan bersabar. Ia yakin bahwa yang diberikan Allah kepada makhlukNya tidak akan ada yang sia-sia atau dengan kata lain pasti ada manfaatnya. Ia akan mengartikan itu semua sebagai wujud kasih sayang Allah kepadanya. Dan memang biasanya Allah menguji kesabaran hambaNya melalui ujian berupa musibah yang diberikan kepadanya.

 Hikmah Dibalik Musibah
Ada banyak hikmah di dalam musibah. Di antaranya yaitu untuk membedakan siapa yang bertahan dan siapa yang lemah, siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang tidak benar-benar beriman.
Orang yang bertahan dalam menjalani cobaan atau ujian, ia akan keluar sebagai pemenang dan meraih derajat yang lebih tinggi. Cobaan akan menyeleksi siapa yang terbaik amal perbuatannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
-------------------------------- Qs. Al-Mulk : 2
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Ujian termasuk hikmah (kebijaksanaan) yang agung dari Allah. Bayangkanlah jikahidup ini berjalan datar, selalu damai, tenang, dan serba menyenangkan, tentu manusia tidak akan pernah mengerti arti hidup, dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Keadaan yang demikian itu justru membuatnya lupa daratan dan mudah lupa dengan Allah.

Fir’aun, yang konon katanya tidak pernah sakit dan setiap keinginannya selalu tercapai, justru akhirnya ia menjadi sombong. Puncak kesombongannya ialah dia mengikrarkan diri sebagai tuhan. Akibatnya dia ditenggelamkan Allah di laut merah. Oleh karena itu, ketika kita mengalamikemudahan dan merasakan kesenangan terus menerus, hendaknya lebih berhati-hati. Karena di situlah orang mudah terlena dan lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hikmah lain di balik musibah ialah sebagaimana perkataan ulama’, “Engkau tidak akan merinduka surga kecuali ketika engkau merasakan pahitnya dunia.” Surga di sini bisa juga diartikan sebuah kesuksesan. Jadi kita tidak akan sampai kepada kesuksesan jika tidak melalui kepahitan.

Ada subuah ungkapan, “Seberapa besar penderitaanmu maka sebesar itulah kebahagiaanmu.” Maka dengan demikian, setiap cobaan setiap cobaan yang kita alami jangan dianggap sebagai penghalang, tapi jadikan motifasi untuk meraih kesuksesan yang lebih besar lagi, sehingga bisa membuat kita lebih semangat.

Orang yang sering tertimpa musibah akan menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menjalani hidup ini. Ia akan menganggap musibah sebagai suatu anugrah. Seperti halnya orang sufi, mereka justru merindukan ujian dari Allah. Sebab mereka kawatir menjadi hamba yang lupa jika Allah tidak mengujinya.

Oleh karena itu, berbagai musibah yang mereka alami menyebabkan mereka selalu ingat kepada Allah Yang Maha Memberi Cobaan untuk mengetahui hamba-hambaNya yang benar-benar taat. Selain itu musibah juga bisa menjadikan mereka pandai bersyukur atas nikmat yang diberikanNya. Mereka juga ikhlas terhadap semua kehendakNya. Dengan begitu selamanya mereka selalu dekat dengan Allah Subhanahu waTa’ala. Musibah bagi orang-orang sufi adalah berkah. Sedang bagi orang awam, musibah dianggap sebagai malapetaka.

Diceritakan bahwa Ummu Salamah Radliyallahu ‘Anha kehilangan suaminya yang bernama Abu Salamah karena terbunuh di medan perang Badar. Kita tahu bahwa barang siapa yang mati di perang Badar, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam : “Jika Allah muncul kepada Ahli Badar maka Dia akan berkata : Lakukan apa yang kalian kehendaki, aku telah mengampuni kalian.”

Mendengar suaminya terbunuh, Ummu Salamah mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi râji’ûn, kemudian dirangkai dengan do’a, “Wahai Allah, berilah aku pahala dalam musibah ini dan berikanlah yang lebih baik darinya.”

Allah ternyata memberikan kebahagiaan kepada Ummu Salamah setelah ia melalui cobaan. Allah benar-benar mengganti Abu Salamah dengan yang lebih baik lagi, yaitu ia dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

 Cara Menyikapi Musibah

Hendaknya kita bersikap tegar dalam menghadapi musibah. Jangan berkeluh kesah kepada manusia, karena hal itu menandakan jiwa kita rapuh. Boleh memberitahukan apa yang kita alami kepada orang lain, tetapi bukan dengan berkeluh kesah. Seperti orang sakit mengadukan keadaannya kepada dokter, maka hal ini boleh. Atau saat ditimpa musibah berat kemudian mengumpulkan sanak keluarganya untuk musyawarah bagaimana jalan keluar dalam menghadapi musibah itu.

Berkeluh kesah kepada Allah juga merupakan sikap yang tidak sabar. Namun jika berkata, “ Ya Allah berilah aku pahala dari musibahku dan berilah ysn terbaik dariku.” Maka hal itu merupakan sikap ikhlas menerima musibah.


Cambuk Keberuntungan

Apa yang ada dipikiran kalian ketika kalian melihat seekor sapi pembajak sawah yang dipukul oleh majikannya???
Sebagian dari kita pasti ada yang berpendapat bahwa majikannya tersebut kejam dan tidak memiliki perikehewanan. Ya,.. dulu saya juga beranggapan seperti itu. Tapi saat diperhatikan dengan seksama, saya sadar ternyata saya salah. Karena alasan majikannya atau katakanlah petani tadi memukul sapi tersebut adalah agar sapi tadi tidak keluar dari jalur yang semestinya.
“aduh,... sakit,....” keluhan itulah yang pasti akan keluar dari mulut si sapi saat menerima cambukan dari majikannya, andai dia bisa bicara. Namun apa daya, ia hanya bisa mengatakan rasa sakitnya itu dalam bahasa sapi,.... “Mooooo,...”.
Dengan atau tanpa kita sadari, ternyata selama ini banyak dari kita yang bertingkah seperti sapi saat majikan kita yaitu Allah Subḥānahu wa Ta’āla ingin meluruskan jalan kita dari jalur yang telah Ia tetapkan.
Ketika kita diuji, diberi musibah atau bahkan di adzab didunia ini, kita sering menyalahkan Allah dan menuduhNya yang bukan-bukan. Padahal kalau kita tahu, sebenarnya yang dilakukan Allah itu adalah untuk mengembalikan kita pada jalan yang benar dan untuk menghapuskan dosa yang telah kita perbuat. Semua manusia pasti pernah melakukan dosa, tidak ada satu pun yang luput darinya.
Banyak dari kita yang mudah mengeluh saat semua hal tersebut atau sebagiannya menimpa diri kita. Kita tidak mau berpikir, apa hikmah atau maksud Allah memberikan hal tersebut kepada kita. Padahal jika kita mau berpikir, pasti kita akan mengucapkan “Alhamdulillah” atas segala musibah yang menimpa kita.
Bagaimana bisa seperti itu?? Coba kita pikirkan bersama-sama. Seandainya saat kita berada dijalur yang salah yang tidak sesuai dengan tuntunanNya (yang menunjukkan pada jalan kenikmatan), kemudian kita tidak diingtkan, maka kita tidak akan pernah sadar kalau kita telah salah jalur,m akibatnya kia akan semakin tersesat, tersesat, dan tidak tahu arah jalan pulang ke Syurga. Na’udzu billahi min dzālik,..
Dengan berpikir yang jernih, kita akan tahu bahwa saat kita diberi musibah berupa apapun oleh Allah Subḥānahu wa Ta’āla, sebenarnya saat itu pula Allah ingin mengingatkan kita kalau kita telah salah jalan, dan kita harus kembali ke jalan yang benar. Perlu kita ketahui, bahwa sebenarnya kita ini penduduk syurga, kita di dunia hanya berbelanja kebutuhan (amal) untuk kembali ke syurga kelak. Oleh karena itu Allah juga menunjukkan bagaimana cara kita berbelanja di tempat yang baik dan benar, serta menunjukkan harus lewat jalan mana agar bisa kembali ke rumah dengan cepat, yaitu dengan perantara Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa al-Salām. Oleh karena itu, kalau kita ingin selamat dari jebakan permainan dunia, dan ingin kembali ke rumah asal, maka daruslah kita mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa al-Salām.
Dengan menghidupkan sunnah Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa al-Salām, InsyaAllah kita akan selamat dari jebakan-jebakan tadi, dan kita bisa kembali ke rimah asal kita dengan selamat, yaitu Jannatu al-Na’īm.
Sekarang terserah kita, apakah kita mau seperti sapi yang selalu mengeluh saat menerima cambukan, atau kita ingin seperti manusia yang berakal? Semua tergantung kita, hidup adalah pilihan. Kalau seandainya ada diantara kita yang tidak selamat dari jebakan dunia, maka jangan salahkan takdir yang telah ditetapkan, karena Allah menetapkan takdir tersebut bukan karena Dia asal-asalan, melainkan Dia Maha Tahu perihal apa yang akan kita pilih nantinya. Jadi,.. pilihlah jalan yang benar, dan kembalilah ke rumah asalmu agar kamu bisa menikmati fasilitas yang telah disediakan di sana.
Kita telah dikaruniai akal untuk berpikir, jadi berpikirlah,.... jangan sia-siakan karunia tersebut. Dan mulai sekarang,.. “Stop Berkeluh Kesah, Ucapkan Alhamdulillah Saat Anda Menerima Musibah”. 

Wait while more posts are being loaded