Post has shared content
IZZAH ISLAM TINGGI HANYA DI SISTEM KHILAFAH

Kemuliaan (Izzah) Islam hanya akan tinggi ketika berada di dalam sistem Islam itu sendiri. Dulu Izzah Islam tinggi di dalam sistem Kenabian dan setelahnya Izzah Islam tinggi ketika berada didalam sistem Kekhalifahan, ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Saat ini, kita sangat miris dan prihatin dengan kenyataan ummat Islam seolah tidak memiliki Izzah, padahal jumlah mereka mayoritas tetapi seperti buih di lautan. Jumlah kita banyak tetapi seperti hidangan makanan yang siap di santap, lantaran meninggalkan sistem Islam. Sebagai bahan renungan, sebuah Hadist yang diriwayatkan dari Tsauban Radiallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, ummat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi hidangan di piring dan mengajak orang lain menyantap bersama”. Maka para sahabat pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?”. Sabda Nabi : “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut”. Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam, “Kerana ada dua penyakit, yaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.”Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?” Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Cinta akan dunia dan takut akan kematian”. Prediksi Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam didalam hadits di atas ternyata terjadi dewasa ini dan membuat prihatin dengan keadaan ummat Islam saat ini. Bagaimana tidak, satu orang kafir yang telah berani melecehkan Islam, tetapi ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa, mereka lemah hanya “Unjuk rasa” yang dilakukan oleh jutaan ummat Islam kepada penguasa dan celakanya penguasanya adalah penguasa yang meninggalkan ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Lucunya lagi mereka rela dan sepakat menghukum si Kafir tadi dengan hukum buatan manusia dan meninggalkan hukum Allah, artinya mereka sepakat untuk masuk Neraka karena rela walau sedetikpun berhukum pada hukum manusia dan meninggalkan hukum Allah, (lihat QS. Al Maidah ayat 44, 45, 47 dan 50), naudzubillahi mindzalik ! Ini terjadi di belahan dunia yang mayoritas berpenduduk Islam, bagaimana ketika ada orang, baik secara pribadi dan kelompok menghina Nabi, menghina Al Qur’an hanya “Unjuk Rasa” yang dilakukan oleh ummat Islam. Bedakan dengan zaman Islam yang gemilang dengan sistem Kekhalifahan nya. MUJAHIDIN HARUSNYA 1 BANDING 10 Dalam kancah sejarah Jihad Qital (perang) yang pernah terjadi, bahwa ummat Islam tidak pernah pasukannya lebih banyak jumlahnya dari pasukan orang kafir, pasukan ummat Islam selalu lebih sedikit jumlahnya dibanding jumlah pasukan orang-orang kafir, dan senantiasa ummat Islam dimenangkan oleh Allah Subahanahu wata’ala, karena ummat Islam berada di jalan yang benar, dibawah kepemimpinan yang benar, berada di sistem yang benar, Iqomatuddien dengan cara-cara yang benar, cara yang Allah ridha bukan cara selainnya serta mereka mencintai kematian, yakni rindu akan Syahid. Perang pertama ummat Islam, yakni Perang Badar, 313 orang muslim melawan 3.000 orang kafir Quraisy dan Allah menangkan ummat Islam. Perang Mu’tah, jumlah pasukan muslim 3.000 pasukan melawan 200.000 pasukan orang kafir dan Allah menangkan pasukan Muslim dan banyak fakta lainnya. Kalau dihitung secara matematis seharusnya satu orang mukmin yang mujahid, istiqamah dan berada di atas kebenaran seharusnya dapat mengalahkan 10 musuh-musuh Allah. Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Hai Nabi, korbankanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya meraka dapat mengalahkan seribu orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti…”. (QS. Al Anfal (8) : 65 – 66). Simak dua kisah ini untuk sama-sama kita renungkan. Kisah pertama terjadi pada masa Khalifah /Amirul Mukminin al-Mu’tashim Billah, Khalifah ke-delapan Bani Abbasiyah. Kota Amurriyah yang dikuasai oleh Romawi saat itu berhasil ditaklukkan oleh Khalifah al-Mu’tashim. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan. Dan di antara faktor yang mendorong penaklukan kota ini adalah karena adanya seorang wanita dari sebuah kota pesisir yang ditawan di sana. Ia berseru, “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!”. Setelah informasi itu terdengar oleh Khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut plus menaklukkan kota tempat wanita itu ditawan. Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai ukhti !” (sumber :hidayatullah.com). Kisah kedua, dikisahkan tentang Khalifah al-Hajib al-Manshur, salah seorang pemimpin Amiriyah di Kekhalifahan Andalusia yang menggerakkan pasukan utuh dan lengkap untuk menyelamatkan tiga wanita Muslimah yang menjadi tawanan di kerajaan Navarre. Saat itu kerajaan Navarre terikat perjanjian dengan al-Hajib al-Mansur yang salah satu perjanjiannya adalah pihak kerajaan Navarre tidak dibenarkan menawan seorang kaum muslimin atau menahan mereka. Kisah ini bermula ketika seorang utusan Kekhalifahan pergi menuju kerajaan Navarre. Saat sang utusan berjalan berkeliling dengan raja Navarre, ia menemukan tiga orang wanita Muslimah di dalam salah satu gereja mereka. Utusan ini pun akhirnya mengetahui bahwasanya wanita Muslimah tersebut ditawan di dalam gereja tersebut. Di sini, utusan Kekhalifahan marah besar dan segera kembali menemui Khalifah dan menyampaikan kasus tersebut. Maka Khalifah al-Manshur kemudian mengirim kan pasukan besar untuk menyelamatkan wanita tersebut. Dan betapa kagetnya raja Navarre ketika melihat pasukan yang siap untuk berperang. “Kami tidak tahu untuk apa kalian datang, padahal antara kami dengan kalian terikat perjanjian untuk tidak saling menyerang. Lagi pula kami sudah membayar jizyah..!”. Maka dengan lantang, pasukan kaum Muslimin pun mengatakan bahwasanya mereka, pihak kerajaan Navarre telah menawan beberapa wanita Muslimah. Pihak kerajaan menjawab, “Kami sama sekali tidak mengetahui hal tersebut”. Maka, setelah diperlihatkan tiga Muslimah yang ditawan, sang raja Navarre kemudian mengirimkan surat permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Khalifah al-Manshur dan menyampaikan bahwa ia akan menghancurkan gereja tersebut. Pasukan Kekhalifahan pun kembali ke negerinya dengan membawa ketiga Muslimah tersebut. (sumber :hidayatullah.com). Subahanallah, sungguh Izzatul Islam wal musimin dirasakan secara sempurna didalam sistem Islam yakni Kekhalifahan. Jangankan kehormatan dan kemuliaan Islam (Allah, Rasul, Al Qur’an dan lain sebagainya) yang sempat di hina, bahkan harga diri seorang muslimah pun di bela sampai titik darah penghabisan dan membuat gentar musuh-musuh Islam. Allahu Akbar ! ISLAM TINGGI KETIKA BERADA DI SISTEM YANG BENAR Ketika ummat Islam kembali ke jalur komando yang benar yakni sistem kepemimpinan Islam yang benar yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya maka saat itulah Allah akan menolongnya. Tetapi ketika ummat Islam mencampur adukan penegakkan dienul Islam (iqomatuddien) dengan sistem kepemimpinan yang batil, seperti Islam dicampur dengan Demokrasi, Islam di campur dengan Kapitalisme, Islam dicampur dengan komunisme, Islam dicampur dengan Liberalisme dan lain sebagainya maka tunggulah Azab Allah akan disegerakan, bukan pertolongan Allah yang akan datang, (QS. Al Baqarah (2) : 42). Ketika ummat Islam berada di jalur komando yang benar maka pasti akan Allah menangkan. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka Allah akan turunkan bala tentara malaikat kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat : 30). Allah berfirman, “Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Dien yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua Dien dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. Al fath : 28). Ummat Islam harus paham sistem kepemimpinannya dan tidak boleh mencampur adukan antara sistem kepemimpinan yang Haq dengan sistem kepemimpinan yang bathil. Ummat Islam didalam kehidupannya senantiasa terstruktural secara rapi dan terpimpin, belum ada sejarahnya ummat Islam ini tidak terpimpin. Ummat Islam tidak terpimpin terjadi ketika kekhalifahan Utsmaniyah terakhir tahun 1924 di Turki runtuh akibat konspirasi Yahudi melalui tangan Mustafa Kemal At Taturk hingga tahun 1997 M bahkan sebagiannya hingga saat ini, sejak itu ummat Islam seolah bingung dan tidak mengerti kepemimpinannya. Sistem kepemimpinan didalam Islam sebagaimana Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Senantiasa Bani Israil dipimpin oleh seorang nabi, setiap kali seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudah aku (Rasulullah). Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka bahkan berjumlah banyak…”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah). Islam senantiasa terpimpin, zaman dulu di pimpin oleh para Nabi dengan sistem Kenabian (An Nubuwah) dan ini hanya sampai Nabi Muhammad r, dan menurut hadits di atas setelah nya ummat Islam di pimpin oleh Khalifah /Amirul Mukminin dengan sistem Kekhalifahan hingga yaumil qiyamah dan tidak boleh digantikan dengan sistem-sistem yang selainnya. STRATEGI IQOMATUDDIEN YANG BENAR Nabi Shallahu alaihi wasalam bersabda,

َْﷲِ ﻭَﺍﻟﺴﻤْﻊ ُ ُ ﻭَﺍﻟﻄﺎﻋَﺔ ُ ﻭَﺍْﻬﹻﺠْﺮَﺓ ُ ﻭَْﻟﺠﹻﻬﹷﺎﺩ ُ ﻓِﻲ ْ ﺳَﺒﹻﻴْﻞﹺ ﻭَﺃﹶﻧﹷﺎ ﺁﻣُﺮُﻛﹹﻢ ﺑﹻﺨﹷﻤْﺲ ٍ، ﷲ ﺃﹶﻣَﺮَﻧِﻲ َ ﺑﹻﻬﹻﻦ َّ، ﺠَﻤَﺎﻋَﺔﹸ . “Dan aku menyuruh kalian dengan lima perkara yang Allah telah menyuruhku dengan lima perkara itu, yaitu berjama’ah (bersatu), mendengar dan taat, hijrah dan jihad fi sabilillah.” (HR. Ahmad dari Al Harits Al Asy’ari dan dishahihkan oleh Al Albani). Inilah yang dikenal dengan rukun penegakkan Islam (iqomatuddien) atau sering kita dengar dengan strategi dasar penegakkan Dienul Islam (Iqomatuddien). Sejalan dengan perintah Allah didalam QS. As Syuraa (42) : 13, “Tegakkan Dien dan Janganlah kamu berpeceh belah didalamnya”. Berjama’ah (bersatu) didalam sistem Islam yakni sistem Kekhalifahan, mendengar dan Tha’at kepada Ulil Amri (dulu Nabi dan setelahnya adalah Khalifah /Amirul Mukminin), Hijrah ke tempat yang mayoritas warganya setuju dengan syari’at Islam dan berjihad fi sabilillah yakni ketika hijrah ke tempat yang diterima syari’at Islam maka musuh-musuh Islam tidak akan senang dan sunatullahnya pasti akan memerangi, maka disinilah kita mempertahankannya dengan Jihad fi Sabilillah yang di pimpin oleh Khalifah /Amirul Mukimin tentunya. Sunatullah ini telah terjadi di zaman nabi dan para sahabat dan pasti akan berulang hingga Allah menangkan Islam dan Islam tegak secara kaffah (futuh). Semoga dengan penjelasan ini ummat Islam menyadari dan segera mengambil sikap, harus kemanakah wala’ (loyalitas) nya di alamatkan. Di dunia ini terbentang dua pilihan, apakah kita akan berjuang di jalan Allah (Hizbullah) dan Allah akan balas dengan kenikmatan Surga ataukah sebaliknya berjuang di jalan thagut (Hizbusyaithan / Sabilit Thagut) dan pasti kesengsaraan Neraka yang akan di dapatkan (QS. An Nisa : 76), Ini pilihan kita ! Ketika ummat Islam sudah sadar harus kemanakah wala’ nya dialamatkan dan segera meninggalkan sistem batil (sistem thagut) maka pasti Allah akan mendzahirkan Al Haq dan melenyapkan kebatilan (sistem batil) sebagaimana Allah berfirman, “Dan Katakanlah, “Yang benar (Al Haq) telah datang dan yang batil telah lenyap”, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (QS. Al israa (17) : 81). Renungkanlah ! Wallahu a’lam
Photo

ZZAH ISLAM TINGGI HANYA DI SISTEM KHILAFAH

Kemuliaan (Izzah) Islam hanya akan tinggi ketika berada di dalam sistem Islam itu sendiri. Dulu Izzah Islam tinggi di dalam sistem Kenabian dan setelahnya Izzah Islam tinggi ketika berada didalam sistem Kekhalifahan, ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Saat ini, kita sangat miris dan prihatin dengan kenyataan ummat Islam seolah tidak memiliki Izzah, padahal jumlah mereka mayoritas tetapi seperti buih di lautan. Jumlah kita banyak tetapi seperti hidangan makanan yang siap di santap, lantaran meninggalkan sistem Islam. Sebagai bahan renungan, sebuah Hadist yang diriwayatkan dari Tsauban Radiallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, ummat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi hidangan di piring dan mengajak orang lain menyantap bersama”. Maka para sahabat pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?”. Sabda Nabi : “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut”. Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam, “Kerana ada dua penyakit, yaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.”Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?” Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Cinta akan dunia dan takut akan kematian”. Prediksi Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam didalam hadits di atas ternyata terjadi dewasa ini dan membuat prihatin dengan keadaan ummat Islam saat ini. Bagaimana tidak, satu orang kafir yang telah berani melecehkan Islam, tetapi ummat Islam tidak bisa berbuat apa-apa, mereka lemah hanya “Unjuk rasa” yang dilakukan oleh jutaan ummat Islam kepada penguasa dan celakanya penguasanya adalah penguasa yang meninggalkan ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Lucunya lagi mereka rela dan sepakat menghukum si Kafir tadi dengan hukum buatan manusia dan meninggalkan hukum Allah, artinya mereka sepakat untuk masuk Neraka karena rela walau sedetikpun berhukum pada hukum manusia dan meninggalkan hukum Allah, (lihat QS. Al Maidah ayat 44, 45, 47 dan 50), naudzubillahi mindzalik ! Ini terjadi di belahan dunia yang mayoritas berpenduduk Islam, bagaimana ketika ada orang, baik secara pribadi dan kelompok menghina Nabi, menghina Al Qur’an hanya “Unjuk Rasa” yang dilakukan oleh ummat Islam. Bedakan dengan zaman Islam yang gemilang dengan sistem Kekhalifahan nya. MUJAHIDIN HARUSNYA 1 BANDING 10 Dalam kancah sejarah Jihad Qital (perang) yang pernah terjadi, bahwa ummat Islam tidak pernah pasukannya lebih banyak jumlahnya dari pasukan orang kafir, pasukan ummat Islam selalu lebih sedikit jumlahnya dibanding jumlah pasukan orang-orang kafir, dan senantiasa ummat Islam dimenangkan oleh Allah Subahanahu wata’ala, karena ummat Islam berada di jalan yang benar, dibawah kepemimpinan yang benar, berada di sistem yang benar, Iqomatuddien dengan cara-cara yang benar, cara yang Allah ridha bukan cara selainnya serta mereka mencintai kematian, yakni rindu akan Syahid. Perang pertama ummat Islam, yakni Perang Badar, 313 orang muslim melawan 3.000 orang kafir Quraisy dan Allah menangkan ummat Islam. Perang Mu’tah, jumlah pasukan muslim 3.000 pasukan melawan 200.000 pasukan orang kafir dan Allah menangkan pasukan Muslim dan banyak fakta lainnya. Kalau dihitung secara matematis seharusnya satu orang mukmin yang mujahid, istiqamah dan berada di atas kebenaran seharusnya dapat mengalahkan 10 musuh-musuh Allah. Allah Subahanahu wata’ala berfirman, “Hai Nabi, korbankanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya meraka dapat mengalahkan seribu orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti…”. (QS. Al Anfal (8) : 65 – 66). Simak dua kisah ini untuk sama-sama kita renungkan. Kisah pertama terjadi pada masa Khalifah /Amirul Mukminin al-Mu’tashim Billah, Khalifah ke-delapan Bani Abbasiyah. Kota Amurriyah yang dikuasai oleh Romawi saat itu berhasil ditaklukkan oleh Khalifah al-Mu’tashim. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan. Dan di antara faktor yang mendorong penaklukan kota ini adalah karena adanya seorang wanita dari sebuah kota pesisir yang ditawan di sana. Ia berseru, “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!”. Setelah informasi itu terdengar oleh Khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut plus menaklukkan kota tempat wanita itu ditawan. Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai ukhti !” (sumber :hidayatullah.com). Kisah kedua, dikisahkan tentang Khalifah al-Hajib al-Manshur, salah seorang pemimpin Amiriyah di Kekhalifahan Andalusia yang menggerakkan pasukan utuh dan lengkap untuk menyelamatkan tiga wanita Muslimah yang menjadi tawanan di kerajaan Navarre. Saat itu kerajaan Navarre terikat perjanjian dengan al-Hajib al-Mansur yang salah satu perjanjiannya adalah pihak kerajaan Navarre tidak dibenarkan menawan seorang kaum muslimin atau menahan mereka. Kisah ini bermula ketika seorang utusan Kekhalifahan pergi menuju kerajaan Navarre. Saat sang utusan berjalan berkeliling dengan raja Navarre, ia menemukan tiga orang wanita Muslimah di dalam salah satu gereja mereka. Utusan ini pun akhirnya mengetahui bahwasanya wanita Muslimah tersebut ditawan di dalam gereja tersebut. Di sini, utusan Kekhalifahan marah besar dan segera kembali menemui Khalifah dan menyampaikan kasus tersebut. Maka Khalifah al-Manshur kemudian mengirim kan pasukan besar untuk menyelamatkan wanita tersebut. Dan betapa kagetnya raja Navarre ketika melihat pasukan yang siap untuk berperang. “Kami tidak tahu untuk apa kalian datang, padahal antara kami dengan kalian terikat perjanjian untuk tidak saling menyerang. Lagi pula kami sudah membayar jizyah..!”. Maka dengan lantang, pasukan kaum Muslimin pun mengatakan bahwasanya mereka, pihak kerajaan Navarre telah menawan beberapa wanita Muslimah. Pihak kerajaan menjawab, “Kami sama sekali tidak mengetahui hal tersebut”. Maka, setelah diperlihatkan tiga Muslimah yang ditawan, sang raja Navarre kemudian mengirimkan surat permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Khalifah al-Manshur dan menyampaikan bahwa ia akan menghancurkan gereja tersebut. Pasukan Kekhalifahan pun kembali ke negerinya dengan membawa ketiga Muslimah tersebut. (sumber :hidayatullah.com). Subahanallah, sungguh Izzatul Islam wal musimin dirasakan secara sempurna didalam sistem Islam yakni Kekhalifahan. Jangankan kehormatan dan kemuliaan Islam (Allah, Rasul, Al Qur’an dan lain sebagainya) yang sempat di hina, bahkan harga diri seorang muslimah pun di bela sampai titik darah penghabisan dan membuat gentar musuh-musuh Islam. Allahu Akbar ! ISLAM TINGGI KETIKA BERADA DI SISTEM YANG BENAR Ketika ummat Islam kembali ke jalur komando yang benar yakni sistem kepemimpinan Islam yang benar yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya maka saat itulah Allah akan menolongnya. Tetapi ketika ummat Islam mencampur adukan penegakkan dienul Islam (iqomatuddien) dengan sistem kepemimpinan yang batil, seperti Islam dicampur dengan Demokrasi, Islam di campur dengan Kapitalisme, Islam dicampur dengan komunisme, Islam dicampur dengan Liberalisme dan lain sebagainya maka tunggulah Azab Allah akan disegerakan, bukan pertolongan Allah yang akan datang, (QS. Al Baqarah (2) : 42). Ketika ummat Islam berada di jalur komando yang benar maka pasti akan Allah menangkan. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka Allah akan turunkan bala tentara malaikat kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat : 30). Allah berfirman, “Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Dien yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua Dien dan cukuplah Allah sebagai saksi”. (QS. Al fath : 28). Ummat Islam harus paham sistem kepemimpinannya dan tidak boleh mencampur adukan antara sistem kepemimpinan yang Haq dengan sistem kepemimpinan yang bathil. Ummat Islam didalam kehidupannya senantiasa terstruktural secara rapi dan terpimpin, belum ada sejarahnya ummat Islam ini tidak terpimpin. Ummat Islam tidak terpimpin terjadi ketika kekhalifahan Utsmaniyah terakhir tahun 1924 di Turki runtuh akibat konspirasi Yahudi melalui tangan Mustafa Kemal At Taturk hingga tahun 1997 M bahkan sebagiannya hingga saat ini, sejak itu ummat Islam seolah bingung dan tidak mengerti kepemimpinannya. Sistem kepemimpinan didalam Islam sebagaimana Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, “Senantiasa Bani Israil dipimpin oleh seorang nabi, setiap kali seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada lagi nabi sesudah aku (Rasulullah). Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka bahkan berjumlah banyak…”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah). Islam senantiasa terpimpin, zaman dulu di pimpin oleh para Nabi dengan sistem Kenabian (An Nubuwah) dan ini hanya sampai Nabi Muhammad r, dan menurut hadits di atas setelah nya ummat Islam di pimpin oleh Khalifah /Amirul Mukminin dengan sistem Kekhalifahan hingga yaumil qiyamah dan tidak boleh digantikan dengan sistem-sistem yang selainnya. STRATEGI IQOMATUDDIEN YANG BENAR Nabi Shallahu alaihi wasalam bersabda,

َْﷲِ ﻭَﺍﻟﺴﻤْﻊ ُ ُ ﻭَﺍﻟﻄﺎﻋَﺔ ُ ﻭَﺍْﻬﹻﺠْﺮَﺓ ُ ﻭَْﻟﺠﹻﻬﹷﺎﺩ ُ ﻓِﻲ ْ ﺳَﺒﹻﻴْﻞﹺ ﻭَﺃﹶﻧﹷﺎ ﺁﻣُﺮُﻛﹹﻢ ﺑﹻﺨﹷﻤْﺲ ٍ، ﷲ ﺃﹶﻣَﺮَﻧِﻲ َ ﺑﹻﻬﹻﻦ َّ، ﺠَﻤَﺎﻋَﺔﹸ . “Dan aku menyuruh kalian dengan lima perkara yang Allah telah menyuruhku dengan lima perkara itu, yaitu berjama’ah (bersatu), mendengar dan taat, hijrah dan jihad fi sabilillah.” (HR. Ahmad dari Al Harits Al Asy’ari dan dishahihkan oleh Al Albani). Inilah yang dikenal dengan rukun penegakkan Islam (iqomatuddien) atau sering kita dengar dengan strategi dasar penegakkan Dienul Islam (Iqomatuddien). Sejalan dengan perintah Allah didalam QS. As Syuraa (42) : 13, “Tegakkan Dien dan Janganlah kamu berpeceh belah didalamnya”. Berjama’ah (bersatu) didalam sistem Islam yakni sistem Kekhalifahan, mendengar dan Tha’at kepada Ulil Amri (dulu Nabi dan setelahnya adalah Khalifah /Amirul Mukminin), Hijrah ke tempat yang mayoritas warganya setuju dengan syari’at Islam dan berjihad fi sabilillah yakni ketika hijrah ke tempat yang diterima syari’at Islam maka musuh-musuh Islam tidak akan senang dan sunatullahnya pasti akan memerangi, maka disinilah kita mempertahankannya dengan Jihad fi Sabilillah yang di pimpin oleh Khalifah /Amirul Mukimin tentunya. Sunatullah ini telah terjadi di zaman nabi dan para sahabat dan pasti akan berulang hingga Allah menangkan Islam dan Islam tegak secara kaffah (futuh). Semoga dengan penjelasan ini ummat Islam menyadari dan segera mengambil sikap, harus kemanakah wala’ (loyalitas) nya di alamatkan. Di dunia ini terbentang dua pilihan, apakah kita akan berjuang di jalan Allah (Hizbullah) dan Allah akan balas dengan kenikmatan Surga ataukah sebaliknya berjuang di jalan thagut (Hizbusyaithan / Sabilit Thagut) dan pasti kesengsaraan Neraka yang akan di dapatkan (QS. An Nisa : 76), Ini pilihan kita ! Ketika ummat Islam sudah sadar harus kemanakah wala’ nya dialamatkan dan segera meninggalkan sistem batil (sistem thagut) maka pasti Allah akan mendzahirkan Al Haq dan melenyapkan kebatilan (sistem batil) sebagaimana Allah berfirman, “Dan Katakanlah, “Yang benar (Al Haq) telah datang dan yang batil telah lenyap”, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (QS. Al israa (17) : 81). Renungkanlah ! Wallahu a’lam

Post has attachment

JANGAN PAKSAKAN ISLAM DI SISTEM YANG BUKAN ISLAM

17DESEMBER,2016



Zulkifli Rahman Al Khateeb

Sebagai seorang seorang muslim yang taat, tentu menginginkan dan mengupayakan agar dapat menerapkan Islam dalam kehidupan pribadi dan rumah tangganya, karena hanya dengan demikian itu, kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diraih. Sebagai komunitas muslim, tentu kita ingin menerapkan aturan Islam dalam komunitasnya, bahkan dalam masyarakat secara umum. Namun pada kenyataannya kita tidak berada dalam negri dengan pemerintahan Islam. Bagaimanakah solusi dalam menghadapi permasalahan ini? Berikut kita simak interaktif redaksi dengan Al Ustad Zulkifli Rahman Al Khateeb dalam mengupas tuntas hal ini :

Sesungguhnya kondisi yang sangat memprihatinkan, terjadi hampir di belahan dunia yang mayoritas berpenduduk Islam, jangankan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, dalam kehidupan pribadipun mereka tidak dapat menerapkannya dengan mudah. Bagaimana ustad menanggapi hal ini ?

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa negri kita ini adalah negara Demokrasi yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, bukan negara berdasar atas agama tertentu (baik Negara Islam, Kristen, Yahudi dll). Maka jelas bahwa kewajiban negara ini adalah melaksanakan Pancasila, UUD 45 dan GBHN, bukan melaksanakan ajaran agama tertentu. Hanya saja, negara menjamin kemerdekaan setiap warganya untuk melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.

Maka kita melihat setiap komunitas ummat beragama, bebas melaksanakan ajaran agamanya dalam komunitasnya sendiri. Contoh ummat Hindu di Bali, mereka punya komunitas sendiri dan kepemimpinan sendiri dalam melaksanakan ajaran agama mereka. Kita lihat juga ummat Katholik, misalnya, mereka tidak sibuk memaksakan ajaran katholik untuk diterapkan dalam NKRI. Mereka tidak merepotkan Negara Pancasila untuk menetapkan hari besar mereka, tidak juga untuk mengurusi derma yang mereka setorkan kepada para pendeta untuk diteruskan ke struktural diatasnya dari Pastor, Uskup, Kardinal hingga ke Paus, yang kemudian mereka kelola sendiri untuk disalurkan kepada komunitasnya sendiri sesuai ajaran agama yang mereka yakini. Mereka punya lembaga sendiri untuk mengurusi hal itu.

Semestinya ummat Islam juga harus memiliki lembaga sendiri yang independen untuk mengurusi urusan agama mereka secara Internasional yang disebut Khilafah. Islam punya sistem sendiri dalam menerapkan ajaranya yaitu sistem Khilafah yang merupakan “rumah” sendiri bagi ummat Islam. Hanya didalam “rumah” sendiri inilah ummat Islam dapat menerapkan Islam dengan mudah.

Faktor apa yang menyebabkan ummat Islam ini “lupa” atau belum mau peduli kepada sistem Islam, atau istilahnya “rumahnya sendiri”, ustad ?

Sudah terlalu lama ummat Islam tidak dipimpin oleh seorang Khalifah, yaitu sejak dibunuhnya Khalifah terakhir ummat Islam tahun 1924 di Turki dan tidak ada lagi penggantinya. Beberapa tahun setelah itu, ummat Islam di berbagai penjuru dunia kemudian mendirikan Negara-negara merdeka yang mereka sebut sebagai negara yang bersatu, berdaulat dan terbebas dari penjajahan. Termasuk negara kita yang di proklamasikan 21 tahun setelah runtuhnya Kekhalifahan kaum musimin (Khilafatul Muslimin). Ibarat anak ayam yang kehilanyan induk, ummat Islam bangsa Indonesia serasa menemukan Induk baru untuk menerapkan ajaran Islam. Mereka “lupa” bahwa ajaran Islam hanya dapat diterapkan secara leluasa di dalam sistemnya sendiri, bukan dalam sistem demokrasi.

Menurut ustadz, tidak tepat ummat Islam menuntut sistem demokrasi menjalankan ajaran Islam, bagaimana solusi seharusnya sesuai tuntunan ajaran Islam?

Memang demikianlah adanya. Kan lucu, kita berteriak menuntut penerapan ajaran Islam pada sistem yang bukan sistem Islam. Nah, solusi yang kita tawarkan kepada ummat Islam agar segera bergabung dengan Khilafatul Muslimin, menerapkan Islam dalam rumah kita sendiri. Kita bersatu dalam jama’ah kaum muslimin dan Imamnya, yaitu seorang khalifah yang kita taati sesuai ajaran Islam, kita dukung hingga menjadi besar dan kuat agar kita dapat menerapkan Islam secara kaaffah didalam “rumah kita sendiri”.

Ketika diajak bersatu di dalam “rumahnya sendiri” sebagian ummat Islam ada yang takut lantaran terkesan seolah membuat “negara di dalam negara”, Bagaimana ustad menaggapi hal ini ?

Sesungguhnya Khilafah adalah bukan negara. Khilafah adalah jama’ah yang dipimpin oleh seorang Khalifah, maka wasiat Rasulullah Shallahu alaihi wasalam, “Talzamu Jama’atal Muslimina wa Imamahum”, yang dimaksud jama’ah kaum Muslimin dan Imamnya itu adalah jamaahnya Abu Bakar As Shiddiq Radiallahu anhuma dan sahabat yang mengikutinya. Baik Rasulullah maupun Abu Bakar bukanlah kepala negara, bukan presiden dan bukan pula Raja, melainkan pemimpin Jama’ah yang disebut juga Imam. Mulai sejak jama’ahnya masih kecil ketika di Mekkah hingga menjadi besar di Madinah. Tetaplah berupa Jama’ah, tidak pernah berubah menjadi negara. Jika kita memahami hal ini secara benar, maka kita tidak perlu takut, karena memang kita tidak sedang membuat negara didalam negara.

Ada semacam kekhawatiran yang mungkin timbul di beberapa kalangan, jika persatuan Islam ini menjadi kuat dan mendominasi, apakah tidak menjadi ancamam bagi mereka. Bagaimana ustadz menjelaskan hal ini ?

Jika terjadi yang demikian itu, maka sebagaimana dahulu juga pernah terjadi, fakta sejarah membuktikan bahwa non Islam (ahlu dzimah) hidup bebas menjalankan keyakinan mereka dan dijamin dibawah sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Maka tidak heran jika ada non muslim yang menyatakan bahwa kami siap mendukung Kekhalifahan Islam jika memang benar diterapkan sesuai tuntunannya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.

Apa harapan ustad kepada ummat Islam dan kepada Kekhalifahan yang sudah di maklumatkan, melihat fenomena ummat Islam saat ini dengan banyaknya kelompok Islam seolah mereka bingung ?

Banyaknya kelompok dalam ummat Islam sekarang ini, sebenarnya tidak perlu membuat bingung, karena Rasulullah tidak memerintah kita untuk menyatukan semua firqoh, akan tetapi beliau memerintahkan untuk meninggal-kan semua firqoh. Bahkan jika tidak ada jama’ah dan tidak ada imam sekalipun kita tetap harus meninggalkan semua firqoh mesti harus menggigit akar pepohonan di hutan belantara. Apalagi sekarang sudah ada jamaah/Khilafatul Muslimin dan ada Imamnya yang jelas. Maka sudah saatnya ummat Islam segera melaksanakan wasiat Rasululllah Shallahu alaihi wasalam untuk iltizam pada jamaah kaum muslimin dan imam mereka. Wallahu a’lam

MAKLUMAT DITEGAKKANNYA KEMBALI KHILAFAH ISLAMIYYAH
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Qs As-Syuraa 13)

MA’LUMAT Diumumkan kepada seluruh kaum muslimin/muslimat dan segenap ummat manusia bahwa pada hari Jum’at, 13 Rabiul Awwal 1418 H bertepatan dengan 18 Juli 1997 M, telah terbentuk sebuah organisasi Islam sebagai wadah ummat Islam dalam berjama’ah melalui sistim kekhalifahan dan disebut KEKHALIFAHAN KAUM MUSLIMIN (KHILAFATUL MUSLIMIN) yang dipimpin oleh seorang Khalifah/Amirul Mu’minin dan insya Allah akan mendirikan perwakilannya di seluruh dunia di bawah kepemimpinan seorang Amir bagi tiap-tiap Wilayah ataupun Negara.

Jama’ah/Khilafatul Muslimin ini berasaskan Islam dan Kemerdekaan, bertujuan memakmurkan bumi dan mensejahterakan ummat manusia melalui pelaksanaan ajaran Allah dan Rasul-Nya bersama kebebasan penerapan ajaran semua agama sebagai pinsip dasar Jama’ah, tanpa memperkenankan seorang warganya membuat suatu ketentuan/aturan/norma-norma yang bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri. Jama’ah/Khilafatul Muslimin ini hanya akan memutuskan suatu perkara atau urusan yang menyangkut kepentingan ummat melalui MUSYAWARAH KEKHALIFAHAN secara transparan/penuh keterbukaan dan kebebasan berlandaskan al-akhlaqul karimah. Jama’ah/Khilafatul Muslimin ini akan berusaha maksimal untuk mewujudkan kerja sama antar ummat manusia sesuai ajaran Islam demi keadilan dan kesejahteraan mereka serta kelestarian alam semesta/rahmatan lil ‘alamin. Jama’ah/Khilafatul Muslimin ini cinta akan kedamaian dan tidak akan melancarkan permusuhan apalagi peperangan terhadap golongan manapun, kecuali hanya berkewajiban membela diri dari serangan kelompok/golongan yang memeranginya. KHALIFAH/AMIRUL MU’MININ dan para AMIR serta warganya akan berupaya membangun segala sarana kemanusiaan dan bergerak di segala bidang, di berbagai aspek kehidupan yang memungkinkan. Setiap Amir dalam suatu wilayah perwakilan/negara harus bersedia bila dicalonkan sebagai pemimpin di negerinya sendiri dengan tetap mempertahankan prinsip dasar JAMA’AH dan pelestarian norma-norma/hukum yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. WARGA Jama’ah/Khilafatul Muslimin ini adalah para pendaftar yang telah mendapatkan kartu tanda anggota warga Khilafatul Muslimin yang terdiri dari:

Muslim/muslimah tanpa diskriminasi rasial, golongan, kebangsaan maupun jabatan, dan berkewajiban menyerahkan infaq dan zakatnya kepada BAITUL-MAAL KEKHALIFAHAN ISLAM. Non Muslim yang mendambakan keadilan dan kesejahteraan ummat serta bersedia patuh terhadap KHALIFAH/AMIRUL MU’MININ sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama yang diyakininya dan rela menyerahkan SUMBANGAN menurut kemampuannya kepada BAITUL-MAAL KEKHALIFAHAN ISLAM, demi kesejahteraan bersama lahir & batin.

JAMA’AH/KHILAFATUL MUSLIMIN ini telah menunjuk seorang figur sebagai KHALIFAH/AMIRUL MU’MININ untuk sementara; “AL-USTAD ABDUL QADIR HASAN BARAJA“ sampai saat terselenggaranya MUSYAWARAH di tingkat INTERNASIONAL yang akan diikuti Insya Allah oleh para AMIR dan CENDEKIAWAN MUSLIM warga KHILAFATUL MUSLIMIN untuk memilih dan menetapkan KHALIFAH/AMIRUL MU’MININ bagi segenap Ummat Islam secara konvensional.

Diharapkan kepada seluruh cendekiawan muslim dan para pakar serta ummat Islam dimanapun berada, baik secara pribadi ataupun atas nama golongan/kelompok untuk dapat kiranya berpartisipasi dan menyampaikan tanggapannya ke alamat kantor pusat Kekhalifahan Islam (Khilafatul Muslimin) di:

Masjid Kekhalifahan Islam

Jl. WR. Supratman Bumi Waras, Teluk Betung, Bandar Lampung –Indonesia.

Telp./Fax. +62 721 474926 –480093

Website: www.khilafatulmuslimin.c om e-mail: contact@khilafatulmuslimin.com

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (Qs. Ar-Rum [30]: 31-32)

LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA KEMBALI KHILAFATUL MUSLIMIN Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah mewajibkan atas orang-orang beriman untuk menta’ati Allah, menta’ati Rasulullah dan Ulil Amri sesuai dengan Firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Surat An Nisaa Ayat 59.

Ulil Amri ummat Islam setelah wafatya Rasulullah tidak lain adalah Khalifah/Amirul Mu’minin/Imam Ummat Islam Sedunia. Dengan demikian keta’atan ummat Islam tehadap khalifah/Amirul Mu’minin adalah wajib ila yaumil qiyamah dan tidak boleh mengalami kekosongan serta akan dipertanggung jawabkan oleh setiap muslim/muslimah dihadapan Allah kelak, maka Khilafah Islamiyyah milik kaum muslimin atau Khilafatul Muslimin adalah satu-satunya wihdatul ummath /jama’ah ummat Islam sedunia berdasarkan Ad diin yang wajib ditegakkan dimuka bumi. Karena terwujud masyarakat Islami yang menjadi cita-cita kita, bersama kebebasan (kemerdekaan) ummat non muslim didalam melaksanakan peribatannya sesuai dengan keyakinan agama masing-masing.

Sejarah membuktikan bahwa kejayaan kaum muslimin dimasa lampau dikarenakan ummat Islam mampu mempertahankan keutuhan ummat , dibawah satu sistem kepemimpinan Islam yaitu : Khilafah Islamiyyah dengan pembuktian Sam’an Wa Tha’atan kepada Ulil Amri mereka (Khalifah/Amirul Mu’minin). Adapun kemunduran dan kehancuran kaum muslimin karena tidak mampu lagi mempertahankan sistem kekhalifahan tersebut, yang berakibat ummat terpecah belah menjadi beberapa golongan dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri (ashobiyah). Fenomena ini oleh Allah dinyatakan tegas sebagai suatu “Kemusyrikan” (Qs. Ar Ruum : 31-32) yang artinya sebagai berikut: “…… Janganlah kalian termasuk orang-orang Musyrik : yaitu orang-orang yang memecah belah Diin mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri”.

Khilafatul Muslimin telah ada sejak Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq sampai dengan Kekhalifahan Turki Utsmani yang hancur atas konspirasi Yahudi dibawah kepemimpinan Musthofa Kamal Attaturk pada tahun 1924. Dimana dalam perjalanannya mengalami pasang surut dan tidak semuanya sejalan dengna “Khilafah Alaa Minhajin Nubuwwah”. Usaha untuk membangun kembali Khilafatul Muslimin setelah kehancurannya, telah banyak dilakukan, namun tidak juga membuahkan hasil. Adapun usaha-usaha yang pernah dilakukan antara lain:

1. Pada tahun 1926 diadakan Kongres Kekhalifahan Islam (di Kairo)

2. Pada tahun 1926 Raja Ibnu Sa’ud memprakarsai Kongres Muslim Sedunia (di Mekah)

3. Pada tahun 1931 diadakan Konfrensi Islam Se-Dunia (di Aqsho, Yerussalem)

4. Pada tahun 1949 Konfrensi Islam Internasional Kedua (di Karatchi)

5. Pada tahun 1951 Konfrensi Islam Internasional Ketiga (di Mekah)

6. Pada tahun 1951 Pertemuan Puncak Ummat Islam (di Mekah)

7. Pada tahun 1964 Konfrensi Muslim Se-Dunia lagi (di Mekah)

8. Pada tahun 1969 pertemuan yang melahirkan Organisasi Konfrensi Islam disingkat OKI (di Rabat)

9. Pada tahun 1974 diadakan KTT Negara-negara Islam Lahore, dalam kesempatan ini Presiden dari beberapa Negara seperti Urganda, Mesir, Yaman Utara, Libia mengusulkan agar Raja Faishal dari Arab Saudimenjadi Khalifah/Amirul Mu’minin tetapi tidak bersedia.

10. Di Indonesia juga tidak ketinggalan Bapak H.O.S. Cokroaminoto sebagai pelopor mengemukakan gagasan Pan Islamisme dengan ketiga tahap perjuangan:

– Kemerdekaan Indonesia yaitu mengusir penjajah dari muka bumi.

– Kemerdekaan Islam di Indonesia, Islam sebagai satu-satunya sistem yang haq, bisa berlaku di Indonesia secara sempurna dan dilindungi oleh kekuasaan (NII)

– Kemerdekaan Islam di Dunia yaitu membentuk Khilafah Fil Ardhi sebagai penjabaran dari Mulkiyah Allah (kerajaan Allah dimuka bumi) Bapak H.O.S Cokroaminoto dengan Syarikat Islamnya (SI) pada tahun 1912, yang ditingkatkan kemudian menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) tahun 1930 dan akhirnya dilanjutkan oleh bapak Imam Sekarmaji Marijan Karto Soewiryo dengan memproklamirkan NII pada tanggal 12 Syawwal 1368 H/77Agustus 1949 (yang naskah proklamasinya ada di PBB) adalah juga mencita-citakan tegaknya kekhalifahan.

11. Muncul lagi Konfrensi Internasional Khilafah Islamiyyah di stadion tenis Indoor Senayan Jakarta pada hari Ahad 20 Mei 2000 Pukul 08.00-14.00 WIB. Disponsori oleh Syabab Hizbut Tahrir yang dihadiri oleh berbagai komponen ummat Islam (dalam dan Luar Negri) tapi hanya sampai pada menganjurkan tegaknya Kekhalifahan Islam.

12. Konfrensi yang serupa terulang kembali pada hari Ahad tanggal 28 Rajab 1428 H./12 Agustus 2007 M. bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta yang dihadiri oleh sekitar Dua Ratus RibuKaum Muslimin, namun pada akhirnya hanya berupa seruan dan Tabligh Akbar serta wacana/pengetahuan belaka, bukan pengamalan Sistem Kepemimpinan Islam (Khilafah).

Dari data-data tersebut diatas dapat kita ketahui bahwa Kekhalifahan tetap merupakan cita-cita kaum muslimin se-dunia namun upaya mengembalikan melalui kongres-kongres/konfrensi-konfrensi belum juga dapat memilih seorang Khalifah /Amirul Mu’minin, padahal Ulil Amri bagi Ummat Islam wajib adanya. Maka perlu segera diwujudkan seorang Khalifah/Amirul Mu’minin, dalam sistem kepemimpinan Islam (Khilafah Islamiyyah) sebagai satu-satunya solusi merealisir Wihdatul Ummah.

Untuk itu perlu adanya keberanian ummat Islam mempelopori tegaknya Khilafatul Muslimin sebagai satu kewajiban yang Mutlak, yang tidak boleh ditunda-tunda lagi tanpa perlu menunggu-nunggu kongres-kongres ataupun konfrensi-konfrensi yang hanya menghasilkan Kekhalifahan sekedar cita-cita belaka (bukan merupakan sistem kepemimpinan yang berjalan). Atas dasar tersebut diatas, maka Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ dari Indonesia membuat sebuah konsep “MA’LUMAT KHILAFATUL MUSLIMIN” pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal 1418 H / 18 Juli 1997 demi mewujudkan cita-cita kaum Muslimin (tegaknya kembali Kekhalifahan Islam), kemudian ditawarkan /diedarkan kepada orang-orang yang dianggap berhak dan pantas selama -+ dua tahun namun akhirnya atas restu beberapa orang sahabat, tawaran tersebut berpulang kepada yang membuat konsep itu sendiri Yaitu Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ , maka dengan sadar dan tawadhu serta terdorong oleh rasa takut kepada Allah dan sembari mengetahui akan kelemahan diri, bahwa beliau merasatidak sanggup memikul persoalan yang sangat Fundamental tersebut, namun untuk sekedar mempelopori buat sementara waktu dari ketiadaan Ulil Amri, terpaksa beliau memberanikan diri untuk memulainya, maka pada tahun 1999, setelah melalui proses tersebut diatas, secara resmi nama Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ dicantumkan dalam maklumat tersebut dan diumumkan keseluruh dunia.

Pada kongres Mujahidin 1 Indonesia dalam rangka penegakkan Syari’at Islam di Yogyakarta pada tanggal 5-7 Jumadil Ula 1421 H / 5-7 Agustus 2000 M, yang dihadiri ummat Islam, baik dari dalam maupun luar negeri, Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja’ telah membacakan kembali maklumat tersebut dan menyarankan agar peserta kongres memilih / menunjuk seorang Khalifah (Ulil Amri) pengganti beliau sebagai persyaratan tegaknya syari’at Islam, namun peserta kongres hanya memberikan dukungan serta menetapkan Kriteria seorang Imam tanpa menunjuk seorang Khalifah / Ulil Amri sebagaimana diusulkan oleh beliau. Kini bendera kekhalifahan telah mulai berkibar kembali, dan sepatutnyalah mendapatkan dukungan kaum Muslimin dimanapun berada. Akhirnya kami sangat mengharapkan sumbang saran, kritik dan nasehat dari kaum muslimin / muslimat agar Khilafatul Muslimin benar-benar menjadi wadah pemersatu Ummat Islam Se-Dunia dalam rangka mensukseskan penegakkan Syari’at Islam demi Izzatul Islam Wal Muslimin terealisasinya misi “Rahmatan Lil ‘Alamin”. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala selalu memberkahi dan meridhai hidup kita semu. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Demikianlah sekelumit latar belakang TERBENTUKNYA KEMBALI KHILAFATUL MUSLIMIN, semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat memelihara dan melanjutkan sistem kepemimpinan Islam yang telah lama hilang dari permukaan bumi. Alhamdulillahirabbil ‘Alamin.

KEWAJIBAN BERSATU DALAM JAMA’AH

GHULAMSHIDIQ 13SEPTEMBER,2015 BERITA

KEKHALIFAHAN 5

Setiap muslim wajib bersatu (berjama’ah) dalam sistem Khilafah berdasarkan :

I. AL QUR’AN

Qur’an Surat Al Baqoroh : 30 :

ﺃﹶﻋَﻢ ُ ﻣَﺎ َ ﺗﹷﻌَﻤُﻮﻥ َ ٣٠ ﻧﹹﺴَﺒﺢ ُ ﺑﹻﺤَﻤﺪِﻙ َ ﻭَﻧﹹﻘﹷﺪﺱَ ُ َﻚ ﻗﹷﺎﻝٓ َ ﺇِﻧﳴﻲ ﻣَﻦ ﻳُﻔﺴِﺪ ُ ﻓِﻴﻬﹷﺎ ﻭَﻳَﺴﻔِﻚ ُ ﻟﺪﻣَﺂءُ َ ﻭَﻧﹷﺤﻦ ﻟﺄﹶﺭﺽ ِ ﺧﹷﻠِﻴﻔﹷﺔٗ ﻗﹷﺎُﻮٓﺍ ْ ﺃﹶﺗﹷﺠﻌَﻞ ُ ﻓِﻴﻬﹷﺎ ﻭَﺇِﺫ ﻗﹷﺎﻝ َ ﺭَﺑﻚ َ ﻟِﻠﻤََٰٓﺌِﻜﹷﺔ ِ ﺇِﻧﳴﻲ ﺟَﺎﻋِﻞٞ ﻓِﻲ

Artinya : “lngatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi.” Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Keterangan : Menurut Tafsir Al-Qurtubi I ayat ini menjadi dasar wajibnya kaum muslimin mengangkat seorang Kholifah.

Qur’an Surat Ali Imron : 103

ءَﺍﻳَٰﺘِﻪِ َﻌَﻜﹹﻢ ﺗﹷﻬﺘﹷﺪُﻭﻥ َ ١٠٣ ﻓﹷﺄﹶﻧﻘﹷﺬﹶﻛﹹﻢ ﻣﻨﻬﹷﺎ ﻛﹷﺬﹶٰﻟِﻚ َ ﻳُﺒَﻴﻦ ُ ﻟﻪ ُ َﻜﹹﻢ ﺎـﺇِﺧﻮَٰﻧ ﻭَﻛﹹﻨﺘﹹﻢ ﻋََﻰ ٰ ﺷﹷﻔﹷﺎ ﺣُﻔﺮَﺓٖ ﻣﻦِ َ ﻟﻨﳲﺎﺭ ﻗﹹُﻮﺑﹻﻜﹹﻢ ﻓﹷﺄﹶﺻﺒَﺤﺘﹹﻢِٓ ﺑﹻﻨِﻌﻤَﺘِﻪ ﻋََﻴﻜﹹﻢ ﺇِﺫ ﻛﹹﻨﺘﹹﻢ ﺃﹶﻋﺪَﺁءٗ ﻓﹷﺄﹶﻒَ َ ﺑَﻴﻦْ ﺗﹷﻔﹷﺮﻗﹹﻮ ﻭَﺫﻛﹹﺮُﻭﺍ ْ ﻧِﻌﻤَﺖِ َ ﻟﻪ ﻭَﻋﺘﹷﺼِﻤُﻮﺍ ْ ﺑﹻﺤَﺒﻞ ِ ﻟﻪ ِ ﺟَﻤِﻴﻌٗﺎََ ﻭ

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Alloh, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk “

Keterangan: Ibnu Katsir mengatakan dengan ayat ini Alloh swt mewajibkan kaum muslimin untuk bersatu (berjama’ah) dan haram berpecah-belah (berfirqoh-firqoh).

Qur’an Surat An-Nissa : 59

ﺧﹷﻴﺮٞ ﻭَﺃﹶﺣﺴَﻦً ُ ﺗﹷﺄﻭِﻳ ٥٩ ﺗﹹﺆﻣِﻨﹹﻮﻥ َ ﺑﹻﻟﻪ ِ ﻭَﻟﻴَﻮﻡِ ِ ﻟﺄٓﺧِﺮَ ﺫﹶٰﻟِﻚ ﻓِﻲ ﺷﹷﻲءٖ ﻓﹷﺮُﺩﻭﻩ ُ ﺇَِﻰ ﻟﻪ ِ ﻭَﻟﺮﺳُﻮﻝ ِ ﺇِﻥ ﻛﹹﻨﺘﹹﻢ ﻭَﺃﹸﻭْﻟِﻲ ﻟﺄﹶﻣﺮ ِ ﻣِﻨﻜﹹﻢ ﻓﹷﺈِﻥ ﺗﹷﻨﹷٰﺰَﻋﺘﹹﻢ ﻳَٰٓﺄﹶﻳﻬﹷﺎ ﺬِﻳﻦ َ ءَﺍﻣَﻨﹹﻮٓﺍ ْ ﺃﹶﻃِﻴﻌُﻮﺍ ْ ﻟﻪ َ ﻭَﺃﹶﻃِﻴﻌُﻮﺍَ ْ ﻟﺮﺳُﻮﻝ

Artinya : “Hai orang-orangyang beriman, ta’atilah Alloh dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”

Keterangan : Seorang Muslim wajib memiliki tiga ketaatan : 1. Kepada Alloh swt dengan mengikuti Al-Qur’an. 2. Kepada Rasulullah saw dengan mengikuti sunnahnya. 3. Kepada ulil amri minkum dengan berkhilafah (karena ulil amri minkum setelah wafatnya Rasulullah saw adalah para kholifah atau amirul mukminin)

Qur’an Surat Al Anfal : 73

ﻟﺄﹶﺭﺽ ِ ﻭَﻓﹷﺴَﺎﺩٞ ﻛﹷﺒﹻﻴﺮٞ ٧٣ٍ ﺑَﻌﺾِ ﺇ ﺗﹷﻔﻌَُﻮﻩ ُ ﺗﹷﻜﹹﻦ ﻓِﺘﻨﹷﺔٞ ﻓِﻲ ﻭَﺬِﻳﻦ َ ﻛﹷﻔﹷﺮُﻭﺍ ْ ﺑَﻌﻀﹹﻬﹹﻢُ ﺃﹶﻭﻟِﻴَﺂء

Artinya : “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pellndung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Alloh itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Keterangan : Jika orang-orang kafir memiliki kepemimpinan secara universal (system kepausan) maka umat Islampun seharusnya memiliki kepemimpinan secara universal (system Khilafah) agar tidak terjadi fitnah dan kerusakan dibumi.

Qur’an Surat Al Hud : 118 – 119

ﺃﹶﺟﻤَﻌِﻴﻦ َ ١١٩ َﺄﹶﻣَﺄﹶﻥ َّ ﺟَﻬﹷﻨﳲﻢ َ ﻣِﻦ َ ﻟﺠﹻﻨﳲﺔِ ِ ﻭَﻟﻨﳲﺎﺱ ﻭَﻟِﺬﹶٰﻟِﻚ َ ﺧﹷَﻘﹷﻬﹹﻢ ﻭَﺗﹷﻤﺖ ﻛﹷﻠِﻤَﺔَ ُ ﺭَﺑﻚ ﻳَﺰَﺍُﻮﻥ َ ﻣُﺨﺘﹷﻠِﻔِﻴﻦ َ ١١٨ِ ﺇ ﻣَﻦ ﺭﺣِﻢَ َ ﺭَﺑﻚ ﻭََﻮ ﺷﹷﺂء َ ﺭَﺑﻚ َ َﺠَﻌَﻞ َ ﻟﻨﳲﺎﺱ َ ﺃﹸﻣﺔٗ ﻭَٰﺣِﺪَﺓََٗ ﻭ

Artinya : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. “

Keterangan : Manusia senantiasa berselisih dan berpecah belah kecuali orang-orang yang mendapat rahmat Alloh swt sajalah yang mau bersatu.

Qur’an Surat ASy Syu’ara : 13

۞ ﻳَﺸﹷﺂء ُ ﻭَﻳَﻬﺪِﻱ ٓ ﺇَِﻴﻪ ِ ﻣَﻦ ﻳُﻨِﻴﺐ ُ ١٣ ﺗﹷﺪﻋُﻮﻫﹹﻢِ ﺇَِﻴﻪ ﻟﻪ ُ ﻳَﺠﺘﹷﺒﹻﻲ ٓ ﺇَِﻴﻪ ِ ﻣَﻦ ﺗﹷﺘﹷﻔﹷﺮﻗﹹﻮﺍِ ْ ﻓِﻴﻪ ﻛﹷﺒُﺮ َ ﻋََﻰ ﻟﻤُﺸﺮِﻛِﻴﻦ َ ﻣَﺎ ﺇِﺑﺮَٰﻫِﻴﻢ َ ﻭَﻣُﻮﺳَﻰٰٓ ٰ ﻭَﻋِﻴﺴَﻰ ﺃﹶﻥ ﺃﹶﻗِﻴﻤُﻮﺍ ْ ﻟﺪﻳﻦََ َ ﻭ ﻭَﺬِﻱ ٓ ﺃﹶﻭﺣَﻴﻨﹷﺎ ٓ ﺇَِﻴﻚ َ ﻭَﻣَﺎ ﻭَﺻﻴﻨﹷﺎِٓ ﺑﹻﻪ ﺷﹷﺮَﻉ َ َﻜﹹﻢ ﻣﻦ َ ﻟﺪﻳﻦ ِ ﻣَﺎ ﻭَﺻﻰِ ٰ ﺑﹻﻪ ﻧﹹﻮﺣٗﺎ

Artinya : “Dia telah mensyariatkan hagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Alloh menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”

Keterangan : Setiap muslim mendapatkan amanah untuk menegakkan Ad-din dan haram berpecah belah dalam menegakkannya.

Qur’an Surat Ar-Rum : 31-32

۞ ﺣِﺰﺏﹺ ﺑﹻﻤَﺎ َﺪَﻳﻬﹻﻢ ﻓﹷﺮِﺣُﻮﻥ َ ٣٢ ﻓﹷﺮﻗﹹﻮﺍ ْ ﺩِﻳﻨﹷﻬﹹﻢ ﻭَﻛﹷﺎﻧﹹﻮﺍ ْ ﺷِﻴَﻌٗﺎ ﻛﹹﻞ ﺗﹷﻜﹹﻮﻧﹹﻮﺍ ْ ﻣِﻦ َ ﻟﻤُﺸﺮِﻛِﻴﻦ َ ٣١ ﻣِﻦَ َ ﺬِﻳﻦ ﻣُﻨِﻴﺒﹻﻴﻦ َ ﺇَِﻴﻪ ِ ﻭَﺗﳲﻘﹹﻮﻩ ُ ﻭَﺃﹶﻗِﻴﻤُﻮﺍ ْ ﻟﺼَﻮٰﺓََ َ ﻭ

Artinya : “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama merekadan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Keterangan : Alloh swt memerintahkan kita untuk bertobat dan menghukumi perbuatan memecah belah dan bergolong-golongan serta bangga dengan golongan selain yang dicontohkan Rasulullah saw dan sahabatnya sebagai perbuatan syirik.

Qur’an Surat Ali Imran : 105

ﻋَﺬﹶﺍﺏ ٌ ﻋَﻈِﻴﻢٞ ١٠٥ ﺑَﻌﺪ ِ ﻣَﺎ ﺟَﺂءَﻫﹹﻢ ُ ﻟﺒَﻴﻨﹷٰﺖﹸ ﻭَﺃﹸﻭَْٰٓﺌِﻚ َ َﻬﹹﻢََ ﻭ ﺗﹷﻜﹹﻮﻧﹹﻮﺍ ْ ﻛﹷﺬِﻳﻦ َ ﺗﹷﻔﹷﺮﻗﹹﻮﺍ ْ ﻭَﺧﺘﹷَﻔﹹﻮﺍ ْ ﻣِﻦ

Artinya : “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesu-dah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang men-dapat siksa yang berat”

Keterangan : Alloh swt melarang kaum muslimin untuk berselisih dan berpecah belah dan diancam oleh Alloh swt dengan azab yang pedih baik didunia maupun akhirat.

Qur’an Surat Al-An’am : 65

ﻧﹹﺼَﺮﻑ ُ ﻟﺄٓﻳَٰﺖ ِ َﻌَﻬﹹﻢ ﻳَﻔﻘﹷﻬﹹﻮﻥ َ ٦٥ ﺑَﻌﻀﹷﻜﹹﻢ ﺑَﺄﺱٍ َ ﺑَﻌﺾ ﻧﻈﹹﺮَ ﻛﹷﻴﻒ ﺃﹶﺭﺟُﻠِﻜﹹﻢ ﺃﹶﻭ ﻳَﻠﺒﹻﺴَﻜﹹﻢ ﺷِﻴَﻌٗﺎَ ﻭَﻳُﺬِﻳﻖ ﻋَﺬﹶﺍﺑٗﺎ ﻣﻦ ﻓﹷﻮﻗِﻜﹹﻢ ﺃﹶﻭ ﻣِﻦِ ﺗﹷﺤﺖ ﻗﹹﻞ ﻫﹹﻮ َ ﻟﻘﹷﺎﺩِﺭ ُ ﻋََﻰ ٰٓ ﺃﹶﻥ ﻳَﺒﻌَﺚ َ ﻋََﻴﻜﹹﻢ

Artinya : “Katakanlah : ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongangolongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya) “.

Keterangan: Allah akan menimpakan azab dan merasakan keganasan satu golongan atas golongan lain akibat perpecahan ummat,

II. AL-HADITS

Hendaklah kalian berjama’ah dan jangan bercerai berai, karena syetan bersama yang sendiri dan dengan dua orang lebih jauh. Barangsiapa ingin masuk ke dalam surga maka hendaklah komitmen kepada jama’ah” (HR At-Tirmidzi). Dari Arfajah bin Syuraih ra. Rasulullah saw berkata: “Sesunggungnya tangan Alloh (pertolongan Alloh) ada dalam jama’ah karena sesungguhnya syetan bergabung bersama orang yang memisahkan diri dari jama’ah” (HR. Nasai). Hendaklah kalian berjama’ah dan tinggalkanlah berpecah-belah. Sesungguhnya berjama’ah itu rahmat dan berpecah-belah itu azab (HR Ahmad). Dari Harist Al Asy’ari bahwa Nabi saw bersabda: “Dan saya perintahkan kepadamu lima hal dimana Alloh swt memerintahku akan hal tersebut: Berjamaaah, Menden-gar, taat, hijrah dan jihad. Sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan jama’ah sejengkal, maka telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika kembali. Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan Jahiliyah maka termasuk buih Jahannam. Seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, walaupun mengerjakan shalat dan puasa. Rasul saw menjawab: “Walaupun shalat dan puasa. Maka serulah dengan seruan Alloh yang telah menamakanmu muslimin, mukminin hamba Alloh” (HR Ahmad dan At-Turmudzi). Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw berkata: ” syetan berkeinginan kuat (untuk menggangu) kepada satu atau dua orang tetapi apabila mereka ada tiga orang, maka syetan tidak bersemangat lagi menggangu mereka” (HR At-Tirmidzi). Dari Mu’awiyah bin Abi Sofyan ra bahwa Rasulullah saw bersabda : Barang siapa mati dengan tidak memiliki imam maka ia mati dalam keadaan jahiliah (HR Ahmad) Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw berkata: “Dengar dan taatlah kalian (kepada amir kalian) walaupun yang dijadikan amir kalian adalah seorang hamba sahaya Habsyi yang kepalanya kecil bagai kismis” (HR. Muslim)

Keterangan : Seorang mukmin wajib memiliki amir untuk mendengar dan taat meskipun seorang budak Habsyi asalkan dia memimpin sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah.

Dari Huzaifah ra berkata, Rasulullah saw bersabda : ” Barang siapa yang memisahkan diri dari jama’ah dan memandang rendah wibawa amir, maka ia akan menjumpai Allah dalam keadaan kehilangan wajah dikedua sisinya” (HR. Ahmad). Dari Abdullah bin Umar ra dari nabi saw bersabda: Tidak halal tiga orang hidup di sejengkal tanah dibumi kecuali mengangkat diantaranya menjadi pemimpin (amir) (H.R. Ahmad)

Keterangan : Tiga orang saja harus mengangkat amir apalagi lebih dari tiga orang. Maka ummat islam wajib mengangkat seorang kholifahlAmirul Mu’minin.

Dari Ibnu Abbas ra dari Nabi saw bersabda:” Barangsiapa melihat sesuatu yang ia tidak sukai pada pemimpinnya, maka bersabarlah karena barangsiapa yang meninggalkan jama’ah sejengkal kemudian mati, kecuali mati dalam keadaan jahiliyah” (HR. Muslim) Dari Ibnu Umar dar Nabi saw bersabda : “Barang siapa mati tidak ada ikatan bai’at dilehernya maka dia mati seperti mati jahiliah” (HR. Muslim)

Keterangan : Menurut Imam An-Nawawi dalam syarah muslim bai’at yang dimaksud adalah menggangkat kholifah atau dalam sistem Khilafah.

Adalah Bani Israil di pimpin para nabi, apabila nabi wafat maka diganti oleh nabi yang lain. Tiada nabi lagi sesudahku yang ada adalah para kholifah dan berjumlah banyak (HR. Ahmad)

Keterangan : Hanya ada dua wadah menyatukan ummat yaitu sistem kenabian dan sistem Khilafah

Kesimpulan hadist : Bersatu atau berjama’ah dipimpin oleh seorang amir (pemimpin) hukumnya wajib dan wadah bersatunya umat Islam hanya ada dalam dua sistem : pertama Sistem kenabian dan kedua sistem Khilafah yang dipimpin oleh seorang Kholifah atau Amirul Mukminin.

III. SAHABAT

Kholifah Umar bin Al-Khatab ra. berkata : “Tiada Islam kecuali dengan berjama’ah, tiada berjama’ah kecuali dengan imamah/kepemimpinan, tiada imamah/kepemimpinan kecuali dengan bai’at, tiada bai’at kecuali dengan ketaatan” Ali bin Abi Thalib ra. berkata : ” Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan dengan kebathilan yang terorganisir”

IV. ULAMA

Imam Alauddin Al Kasani, ulama besar dari Mahzab Hanafi berkata : “Sesungguhnya mengangkat kholifah adalah fardlu tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul haq mengenai masalah ini” (Imam Al Kasani, Bada’l Ash-Shanaifi tartib Asy Syari, XIV/’406). Imam Al- Quthubi seorang ulama besar dari Mahzab Maliki menjelaskan : “Tafsir surat Al-Baqoroh ayat 30 bahwasanya ayat ini merupakan dalil paling asal mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/kholifah yang didengar dan ditaati” untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum kekholifahan, tidak ada perselisihan tentang kewajiban tersebut dikalangan umat Islam maupun dikalangan ulama kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sam (Imam Al-Qurtubi, Al-Jami’il Ahkam Al-Qur’an 1/264-265). Al-A’lamah Abu Zakaria An-Nawawi dari kalangan mahzab Syafi’i mengatakan : “Para imam mahzab telah bersepakat, bahwa kaum muslim wajib mengangkat seorang kholifah” (Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim XII/205) Imam Umar bin Adil Al-hambali, ulama mahzab Hambali menyatakan: “Ayat ini (QS Al-Baqoroh : 30) adalah dalil kewajiban mengangkat seorang imam /kholifah yang wajib didengar dan ditaati untuk menyatukan pendapat serta untuk melaksanakan hukum-hukum tentang kholifah. Tidak ada perbedaan tentang kewajiban tersebut dikalangan para imam (Imam Umar bin Adil Tafsir Al Lubaabfi Ulum al kitab 1/204). Hasil Mudzakarah Ulama di Surabaya pada bulan 8 Maret 2014 yang dihadiri 300 ulama dari seluruh Indonesia memutuskan bahwa “menegakkan khilafah adalah hukumnya fardhu kifayah sehingga meskipun kholifah itu meski diangkat oleh sekelompok orang hukumnya tetap sah” (Harian Surya, 9 Maret 2014)

V. FAKTA SEJARAH

Rasulullah saw wafat, jenazahnya tertunda selama tiga hari untuk dimakamkan karena ada kewajiban yang lebih penting yaitu mengangkat pengganti kepemimpin Rasulullah yakni kholifah/ amirul mukminin/ulil amri bagi kaum muslimin. Kurang lebih selama 13 abad umat Islam senantiasa mempertahankan persatuan dan kesatuannya dalam sistem khilafah karena hal itu merupakan sebuah kewajiban. (lihat daftar kekholifahan Islam). Fakta setelah kekholifahan runtuh maka umat Islam terkotak-kotak dalam sekat-sekat nasionalisme dan kelompok-kelompok organisasi buatan manusia yang membuat umat Islam menjadi lemah dan dikuasai oleh musuh-musuhnya.

VI. RENUNGAN

Dari dasar-dasar diatas dapatlah kita simpulkan bahwa bagi seorang muslim bersatu/berjama’ah dalam sistem khilafah adalah kewajiban yang mutlak dan meninggalkannya hu-kumnya haram. Sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa ber-khilafah dapat dilaksanakan dengan syarat: => Memiliki kemenangan politik dengan mengusai wilayah kedaulatan. => Dipilih oleh mayoritas ummat/ulama. => Kholifah adalah seorang imam mahdi yang telah dijanjikan oleh Alloh swt => Kholifah adalah seorang yang berasal dari suku quraisy => Dan lain sebagainya. Jika menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah wadah bersatunya umat Islam adalah sistem khilafah maka adakah keterangan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa : Kita boleh berpecah belah sebelum syarat-syarat diatas terpenuhi atau kita baru boleh bersatu setelah syarat-syarat tersebut terpenuhi, ternyata tidak ditemukan dalil yang membolehkan hal tersebut. Tidakkah kita takut akan azab Alloh akibat perpecahan (QS. Ali Imron : 105) yang merupakan dosa kesyirikan (QS. Ar-Rum : 31-32) sementara dosa kesyirikan adalah dosa yang tidak terampuni (QS An Nissa : 48) dan dapat menghapuskan amal (QS Az-Zumar: 65). Apakah kita tidak khawatir mati dalam keadaan su’ul khotimah karena Rasulullah berpesan kematian tanpa bai’at atau mengangkat imam/kholifah adalah kematian dalam keadaan jahiliah. Para Sahabat Rasulullah merasa berdosa tiga hari hidup tanpa ulil amri minkum sehingga hams menunda memakamkan mayat Rasulullah, untuk mengangkat seorang kholifah, bagai-mana dengan dosa kita yang telah berpuluh-puluh tahun hidup tanpa ulil amri minkum. Berkhilafah adalah salah satu ibadah yang hukumya wajib mutlaq, apakah kita harus menunggu sempurna syarat sehingga kita baru melaksanakan ibadah, bukankah bila kita telah berusaha memenuhi syarat syahnya ibadah, tetapi kita belum mampu memenuhinya ibadah kita tetap syah. Ketika kita membolehkan banyak kelompok atau bergolong-golongan. Sementara Alloh swt mewajibkan kita bersatu (satu wadah dan satu jama’ah), tidakkah kita termasuk orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Alloh swt. Bila kita mau bersatu dalam Khilafah maka Alloh swt akan mampukan kita sebaliknya jika kita tidak mau maka kita tidak akan mampu bersatu. Mungkinkah karena kita lebih mendahulukan ra’yu dan nafsu ketimbang wahyu sehingga kita tidak mau bersatu. Semoga dengan keterangan dan renungan ini kita bersegera merealisasikan perintah Allah swt, berjama’ah dengan sistem khilafah dengan niat hanya mengharap ridho Allah semata. Alhamdulillah dengan Rahmat Alloh swt telah dimaklumatkan KHILAFATUL MUSLIMIN sebagai wadah bersatunya ummat se-dunia pada hari Jum’at tanggal 13 Rabiul Awwal 1418 H atau 18 Juli 1997 M (DIHALAMAN DEPAN).
Wait while more posts are being loaded