Post is pinned.Post has attachment

Definisi RIBA


Apa itu riba? Jawabnya: Riba memiliki beberapa jenis yang kadang satu sama lain terlihat sangat berbeda. Oleh karena itu, sulit bagi kita untuk merangkum berbagai jenis riba tersebut dalam sebuah definisi yang pas. Maka, dari pada kita menghabiskan tempat untuk berpayah-payah mencari definisi riba, lebih baik kita langsung biacara tentang contoh konkret dari jenis-jenis riba yang ada.

Jenis-Jenis Riba

Mayoritas ulama menyatakan bahwa riba bisa terjadi dalam dua hal, yaitu dalam utang (dain) dan dalam transaksi jual-beli (bai’). Keduanya biasa disebut dengan istilah riba utang (riba duyun)dan riba jual-beli (riba buyu’). Mari kita tinjau satu persatu:

Riba Dalam Utang

Dikenal dengan istilah riba duyun, yaitu manfaat tambahan terhadap utang. Riba ini terjadi dalam transaksi utang-piutang (qardh) atau pun dalam transaksi tak tunai selain qardh, semisal transaksi jual-beli kredit (bai’ muajjal). Perbedaan antara utang yang muncul karena qardh dengan utang karena jual-beli adalah asal akadnya. Utang qardh muncul karena semata-mata akad utang-piutang, yaitu meminjam harta orang lain untuk dihabiskan lalu diganti pada waktu lain. Sedangkan utang dalam jual-beli muncul karena harga yang belum diserahkan pada saat transaksi, baik sebagian atau keseluruhan.

Contoh riba dalam utang-piutang (riba qardh), misalnya, jika si A mengajukan utang sebesar Rp. 20 juta kepada si B dengan tempo satu tahun. Sejak awal keduanya telah menyepakati bahwa si A wajib mengembalikan utang ditambah bunga 15%, maka tambahan 15% tersebut merupakan riba yang diharamkan.

Termasuk riba duyun adalah, jika kedua belah pihak menyepakati ketentuan apabila pihak yang berutang mengembalikan utangnya tepat waktu maka dia tidak dikenai tambahan, namun jika dia tidak mampu mengembalikan utangnya tepat waktu maka temponya diperpanjang dan dikenakan tambahan atau denda atas utangnya tersebut. Contoh yang kedua inilah yang secara khusus disebut riba jahiliyah karena banyak dipraktekkan pada zaman pra-Islam, meski asalnya merupakan transaksi qardh (utang-piutan).

Sementara riba utang yang muncul dalam selain qardh (pinjam) contohnya adalah apabila si X membeli motor kepada Y secara tidak tunai dengan ketentuan harus lunas dalam tiga tahun. Jika dalam tiga tahun tidak berhasil dilunasi maka tempo akan diperpanjang dan si X dikenai denda berupa tambahan sebesar 5%, misalnya.

Perlu diketahui bahwa dalam konteks utang, riba atau tambahan diharamkan secara mutlak tanpa melihat jenis barang yang diutang. Maka, riba jenis ini bisa terjadi pada segala macam barang. Jika si A berutang dua liter bensin kepada si B, kemudian disyaratkan adanya penambahan satu liter dalam pengembaliannya, maka tambahan tersebut adalah riba yang diharamkan. Demikian pula jika si A berutang 10 kg buah apel kepada si B, jika disyaratkan adanya tambahan pengembalian sebesar 1kg, maka tambahan tersebut merupakan riba yang diharamkan.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, “kaum muslimin telah bersepakat berdasarkan riwayat yang mereka nukil dari Nabi mereka (saw) bahwa disyaratkannya tambahan dalam utang-piutang adalah riba, meski hanya berupa segenggam makanan ternak”.

Bahkan, mayoritas ulama menyatakan jika ada syarat bahwa orang yang berutang harus memberi hadiah atau jasa tertentu kepada si pemberi utang, maka hadiah dan jasa tersebut tergolong riba, sesuai kaidah, “setiap qardh yang menarik manfaat maka ia adalah riba”. Sebagai contoh, apabila si B bersedia memberi pinjaman uang kepada si A dengan syarat si A harus meminjamkan kendaraannya kepada si B selama satu bulan, maka manfaat yang dinikmati si B itu merupakan riba.

Riba Dalam Jual-beli

Dalam jual-beli, terdapat dua jenis riba, yakni riba fadhl dan riba nasi’ah. Keduanya akan kita kenal lewat contoh-contoh yang nanti akan kita tampilkan.

Berbeda dengan riba dalam utang (dain) yang bisa terjadi dalam segala macam barang, riba dalam jual-beli tidak terjadi kecuali dalam transaksi enam barang tertentu yang disebutkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda:

“Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, bur (gandum) ditukar dengan bur, sya’ir (jewawut, salah satu jenis gandum) ditukar dengan sya’ir, kurma dutukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

Dalam riwayat lain dikatakan:

“Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus semisal dengan semisal, sama dengan sama (sama beratnya/takarannya), dan dari tangan ke tangan (kontan). Maka jika berbeda jenis-jenisnya, juallah sesuka kamu asalkan dari tangan ke tangan (kontan).” (HR Muslim no 1210; At-Tirmidzi III/532; Abu Dawud III/248).

Ada beberapa poin yang bisa kita ambil dari hadits di atas:

Pertama, Rasulullah saw dalam kedua hadits di atas secara khusus hanya menyebutkan enam komoditi saja, yaitu: emas, perak, gandum, jewawut, kurma dan garam. Maka ketentuan/larangan dalam hadits tersebut hanya berlaku pada keenam komoditi ini saja tanpa bisa diqiyaskan/dianalogkan kepada komoditi yang lain. Selanjutnya, keenam komoditi ini kita sebut sebagai barang-barang ribawi.

Kedua, Setiap pertukaran sejenis dari keenam barang ribawi, seperti emas ditukar dengan emas atau garam ditukar dengan garam, maka terdapat dua ketentuan yang harus dipenuhi, yaitu: pertama takaran atau timbangan keduanya harus sama; dan kedua keduanya harus diserahkan saat transaksi secara tunai/kontan.

Berdasarkan ketentuan di atas, kita tidak boleh menukar kalung emas seberat 10 gram dengan gelang emas seberat 5 gram, meski nilai seni dari gelang tersebut dua kali lipat lebih tinggi dari nilai kalungnya. Kita juga tidak boleh menukar 10 kg kurma kualitas jelek dengan 5 kg kurma kualitas bagus, karena pertukaran kurma dengan kurma harus setakar atau setimbang. Jika tidak setimbang atau setakaran, maka terjadi riba, yang disebut riba fadhl.

Disamping harus sama, pertukaran sejenis dari barang-barang ribawi harus dilaksanakan dengan tunai/kontan. Jika salah satu pihak tidak menyerahkan barang secara tunai, meskipun timbangan dan takarannya sama, maka hukumnya haram, dan praktek ini tergolong riba nasi’ah atau ada sebagian ulama yang secara khusus menamai penundaan penyerahan barang ribawi ini dengan sebutan riba yad.

Ketiga, Pertukaran tak sejenis di antara keenam barang ribawi tersebut hukumnya boleh dilakukan dengan berat atau ukuran yang berbeda, asalkan tunai. Artinya, kita boleh menukar 5 gram emas dengan 20 gram perak atau dengan 30 gram perak sesuai kerelaan keduabelah pihak. Kita juga boleh menukar 10 kg kurma dengan 20 kg gandum atau dengan 25 kg gandum, sesuai kerelaan masing-masing. Itu semua boleh asalkan tunai alias kedua belah pihak menyerahkan barang pada saat transaksi. Jika salah satu pihak menunda penyerahan barangnya, maka transaksi itu tidak boleh dilakukan. Para ulama menggolongkan praktek penundaan penyerahan barang ribawi ini kedalam jenis riba nasi’ah tapi ada pula ulama yang memasukkannya dalam kategori sendiri dengan nama riba yad.

Keempat, Jika barang ribawi ditukar dengan selain barang ribawi, seperti perak ditukar dengan ke kayu, maka dalam hal ini tidak disyaratkan harus setimbang dan tidak disyaratkan pula harus kontan karena kayu bukan termasuk barang ribawi.

Kelima, Selain keenam barang-barang ribawi di atas, maka kita boleh menukarkannya satu sama lain meski dengan ukuran/kuantitas yang tidak sama, dan kita juga boleh menukar-nukarkannya secara tidak tunai. Sebagai contoh, kita boleh menukar 10 buah kelapa dengan 3 kg kedelai secara tidak kontan karena kelapa dan kedelai bukan barang ribawi.

Memahami Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah

Fadhl secara bahasa berarti tambahan atau kelebihan. Sedangkan nasii’ah secara bahasa maknanya adalah penundaan atau penangguhan.

Nah, sekarang mari kita mencoba untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh para ulama dengan istilah riba fadhl dan riba nasi’ah, meskipun sebenarnya, setelah kita memahami fakta tentang jenis-jenis riba, bukan suatu hal yang wajib untuk mengenal nama-namanya. Hanya saja, karena istilah riba fadhl dan nasi’ah ini sangat sering kita baca atau kita dengar, maka kita akan menemukan kesulitan untuk memahami tulisan atau pembicaraan yang mengandung kedua istilah tersebut.

Silahkan cermati kembali poin dua dan poin tiga pada penjelasan hadits yang baru saja kita lewati, setelah itu insyaallah kita bisa memahami apa yang disebut dengan riba fadhl dan riba nasi’ah. Riba fadhl adalah tambahan kuantitas yang terjadi pada pertukaran antar barang-barang ribawi yang sejenis, seperti emas 5 gram ditukar dengan emas 5,5 gram. Sedangkan riba nasi’ah adalah riba yang terjadi karena penundaan, sebab, nasi’ah sendiri maknanya adalah penundaan atau penangguhan.

Semua riba utang (riba duyun) yang telah kita bahas sebelumnya tergolong riba nasi’ah, karena semuanya muncul akibat tempo. Dalam konteks utang, riba nasi’ah berupa tambahan sebagai kompensasi atas tambahan tempo yang diberikan. contohnya utang dengan tempo satu tahun tidak berhasil dilunasi sehingga dikenakan tambahan utang sebesar 15%, misalnya. Maka, tambahan 15% ini merupakan riba nasi’ah. Juga dalam riba qardh dimana keberadaan tambahan telah disepakati sejak awal, semisal ada ketentuan untuk mengembalikan utang sebesar 115%. Ini juga termasuk riba nasi’ah (meski sebagian ulama ada yang memasukkannya dalam ketegori riba fadhl ditinjau dari segi bahwa ia merupakan pertukaran barang sejenis dengan penambahan).

Sementara itu, dalam konteks jual-beli barang ribawi, riba nasi’ah tidak berupa tambahan, melainkan semata dalam bentuk penundaan penyerahan barang ribawi yang sebenarnya disyaratkan harus tunai itu, baik keduanya sejenis maupun berbeda jenis. Contohnya seperti membeli emas menggunakan perak secara tempo, atau membeli perak dengan perak secara tempo. Praktek tersebut tidak boleh dilakukan karena emas dan perak merupakan barang ribawi yang jika ditukar dengan sesama barang ribawi disyaratkan harus kontan. Itulah mengapa, pertukaran barang ribawi secara tidak tunai digolongkan kedalam riba nasi’ah. Sebagian ulama menyebut penyerahan tertunda dalam pertukaran sesama barang ribawi ini dengan istilah khusus, yakni riba yad.

Kesimpulan

Riba bisa terdapat dalam utang dan transaksi jual-beli.

Riba dalam utang adalah tambahan atas utang, baik yang disepakati sejak awal ataupun yang ditambahkan sebagai denda atas pelunasan yang tertunda. Riba utang ini bisa terjadi dalam qardh (pinjam/utang-piutang) ataupun selain qardh, seperti jual-beli kredit. Semua bentuk riba dalam utang tergolong riba nasi’ah karena muncul akibat tempo (penundaan).

Riba dalam jual beli terjadi karena pertukaran tidak seimbang di antara barang ribawi yang sejenis (seperti emas 5 gram ditukar dengan emas 5,5 gram). Jenis ini yang disebut sebagai riba fadhl.

Riba dalam jual-beli juga terjadi karena pertukaran antar barang ribawi yang tidak kontan, seperti emas ditukar dengan perak secara kredit. Praktek ini digolongkan ke dalam riba nasi’ah atau secara khusus disebut dengan istilah riba yad.

Wallahu a’lam
Oleh: Ustadz Titok Priastomo.

Gambar - Skema Jenis-jenis Riba:
Photo

Post has attachment

Post has attachment
JADILAH MUSLIM KUAT & KAYA !!
https://youtu.be/moZw0xue230

Post has attachment
KPR.. Kredit Pakai Riba?

Ada empat cara orang punya rumah sendiri, nih rinciannya:
1. Faktor ketiban pulung/beruntung
Misal: Dibelikan orang tua, dapat warisan dari orang tua, menikah dengan anak tunggal yang bapaknya kaya raya dan menghibahkan seluruh hartanya, hehe.. Atau dapat undian hadiah rumah, kepilih jadi pemain bedah rumah TV, dapat dana hibah dari pemerintah, dapat bantuan dari luar negeri di lokasi bekas bencana, ikut transmigrasi, dan lain-lain, pokoknya gratiss.. tiss!
2. Menabung!
Yes ini cara paling tradisional, buat mereka yang punya tingkat kesabaran tinggi, hidupnya selow gak neko-neko. Sebulan nabung 5 juta, setahun dapat 60 juta, lima tahun dapat 300 juta, dah cukup untuk beli rumah dengan 2-3 kamar.

3. Nyicil membangun sendiri
Orang ini juga punya level kesabaran tinggi, tekad kuat menunda kesenangan demi punya rumah sendiri, kerja keras mewujudkan impian. Dalam setahun punya uang 100 juta misal belikan tanah, gak harus di tengah kota, dipinggiran malah tenang. Tahun kedua kumpul uang bikin pondasinya, tahun ketiga tabungan cukup untuk membangun temboknya, tahun ke empat memasang atap dan interiornya, tahun ke lima finishing halaman dan semua perlengkapan rumah. Mau masuk tahun ke 6 sudah ditempati, cash! Perjuangan panjang.. Pasti nikmat banget pas syukuran pindahan. Prinsip mereka gakpapa 5 tahun ngontrak dulu, daripada 20 tahun bayar cicilan bank.

4. Cara KPR.. Kredit Pakai Riba.. Eh! Bener gak sih kepanjangannya itu? Naah biar paham kamu baca ilustrasi di bawah ini. Intinya: Dalam Islam akad jual beli kredit dalam Islam itu boleh, tapi kalau sudah melibatkan akad hutang dengan kelebihan bayar, jadinya RIBA.. Yuk kita baca biar paham perbedaannya,

Materi ini saya dapatkan dari komunitas Syarea World, ada Ustadz Samsul Arifin pendiri komunitas Pengusaha Tanpa Riba yang menjelaskan detailnya.

SKENARIO KPR
---------------------
SKENARIO PERTAMA
JUAL BELI KREDIT – HALAL!
By @SyareaWorld on Twitter

D= Developer perumahan
B = Bank
N = Nasabah
Naskah disederhanakan, hanya untuk illustrasi saja.

Pada suatu hari Nasabah (N) datang ke Bank (B):
“Bro.. Aku malu nih.. sudah nikah masih numpang di rumah mertua. Aku pengen punya rumah sendiri.. Cuma kalau cash uangnya belum kumpul semua. Bisa bantu kan bro?”

Dengan sigap B menjawab:
“Bisa lah.. Kita kan teman.. Tapi rumah pertama jangan gede-gede dulu ya Bro.. Biar selalu deketan sama bini..”

N: Cerdas juga lo Bro.. Iya.. Type 21 RSS juga boleh deh.. Yang penting keluar dari rumah mertua!
B: Oke.. Aku cariin dulu ya! Aku ada teman yang jualan rumah sederhana nih.. Katanya mau bantu Ummat agar bisa punya rumah…
N: Hebat banget die Bro.. Segera kabarin klo udah dapet ya Bro!

Beberapa saat kemudian Bank (B) datang ke Developer perumahan (D)
B: Bro.. Aku ada pesanan rumah nih.. Ada yang RSS type 21 gak?
D: Siap Bro.. Ada tuh.. Itu sudah ready stok!.
B: Berapa duit bro? BIasa bro, mau kujaul lagi…
D: Siyyap bos.. 100 juta, bungkus.. Klo ke orang lain aku kasih 120 juta bro..
B: Oke bungkus deh... Ini check tunai 100 juta ya Bro..
D: Siyyaap.. Ini sertipikat dan kunci-kuncinya.
B: Thank you ya Bro…

Keesokan harinya Bank (B) mengajak Nasabah (N) datang ke lokasi proyek.
B: Bro.. Ini rumah pesananmu.. Cocok?
N: Yess Bro.. Pas banget.. Berapa harganya Bro?
B: Cuma 120 juta..
N: Kan dah kubilang duitnya gak cukup Bro.. Aku Cuma ada 20 juta nih.. Gimana Bro?
B: Ya udah.. sini yang 20 jutanya. Sisanya biar ringan, cicil saja 20 bulan x. Rp 5 juta sebulan. Oke apa okeh?
N: Okeh banget bro.. Thank you berraat bro.. 5 juta sebulan mah ringan kalau gitu Bro..
B: Hmmm.. Sebentar.. Bro.. ini untuk jaga-jaga saja ya.. Agar kita bisa sama-sama masuk sorga. Boleh minta jaminan gak Bro atas utang 100 juta itu?
N: Iya.. ya.. biar gak ninggalin utang. Ini BPKB mobil ya Bro.. Nilainya 150 juta.
B: Siip.. Bungkuss..
N: Bungkus deh.. ini 20 jutanya sebagai uang muka ya Bro. Hehehe.. Maap gak ada amplop, pake kantong plastik...
B: Siip.. Kuterima 20 jutanya ya Bro.. Ini sertipikat dan kunci-kuncinyanya.. Met #HoneyMooneveryDay ya Bro..

----------------------------

SKENARIO KEDUA
(bukan) JUAL BELI KREDIT, tapi RIBA dan FASAD – HARAM!
By @SyareaWorld on Twitter

D= Developer perumahan
B = Bank
N = Nasabah
Naskah disederhanakan, hanya untuk illustrasi saja.

Pada suatu hari Nasabah (N) datang ke Bank (B):
“Bro.. Aku malu nih.. sudah nikah masih numpang di rumah mertua. Aku pengen punya rumah sendiri.. Cuma kalau cash uangnya belum kumpul semua. Bisa bantu kan bro?”

Dengan sigap B menjawab:
“Bisa lah.. Kita kan teman.. Tapi rumah pertama jangan gede-gede dulu ya Bro.. Biar selalu deketan sama bini..”

N: Cerdas juga lo Bro.. Iya.. Type 21 RSS juga boleh deh.. Yang penting keluar dari rumah mertua!
B: Ngomong-ngomong, sudah dapat rumahnya?
N: Sudah sih Bro.. Pas weekend kemarin udah liat-liat sama bini. Ini brosurnya Bro
B: Hmmm… Berapa harganya?
N: Katanya 100 juta Bro.. Cuma uangku gak cukup, ada baru 20 juta nih..
B: Ya gpp.. Beli saja rumahnya. Bilang ke developer, gua yang beli. Wakilin gua ya! Bayar yang 20 juta ke developer, nanti yang 80 jutanya gua yang transfer ke developernya..

N: Lalu, aku ngembaliin talangannya yang 80 juta gimana Bro?
B: Tenang.. Gini saja, bayar saja tiap bulan 5 juta selama 20 bulan Bro.. Ringan kan?
N: Hehehe.. Iya ya.. Jadi ringan kalau cuma 5 jt sebulan. Bungkus deh Bro..

Kemudian Nasabah (N) datang ke Developer (D): Boss… saya beli deh rumah yang kemarin saya liat-liat sama bini. Udah ngebet pengen keluar dari rumah mertua nih.. Malu kedengeran sesuatu klo malem-malem…
D: Boleh, tapi bayarnye pigimane?
N: Ini ada duit kontan 20 juta. Sisanya dari Bank (B) yang mau transfer ke rekening Pak Bos. Sekalian Ane disuruh ngewakilin Bro B untuk beli rumah ini.
D: Siip.. 20 jutanye ane terima ye! Ini kunci-kuncinye. Sertipikat ane serahin ke Bro B ye..
N: Siyap Pak Bos…

Tidak berapa lama Developer (D) menerima uang dari Bank (B)
Dan Nasabah (N) mengangsur cicilannya kepada Bank
Sertifikat rumah ada di B sebagai jaminan.

JREEEENG!!! JREEENG!!
Apa bedanya hayoooo?
1. Skenario pertama adalah akad jual beli kredit antara Bank dan Nasabah, Bank sudah membeli rumah itu dulu dari Developer, baru dijual kredit kepada Nasabah. Akad ini boleh dalam Islam tapi tidak mungkin terjadi di Indonesia, karena aturan Bank Indonesia, baik Bank Konvensional atau Bank Syariah tidak boleh masuk ke sektor riil (yang melakukan jual beli langsung), kecuali besok ada "Bank Indonesia Syariah" yang benar-benar menjadi payung bagi Bank Syariah dengan melakukan akad yang benar-benar Syar'i.

2. Skenario kedua adalah akad hutang piutang dengan kelebihan bayar yang jatuhnya RIBA yang dilaknat oleh Allah. Rumah masih dimiliki oleh developer, kita bayar DPnya, kekurangan uangnya kita dipinjami oleh bank, kita bayar nyicil pokok dan bunganya kepada bank. Kalau gak bisa bayar rumah disita oleh bank karena dijadikan jaminan.

Naaah sudah paham yaa..
Yang sudah terlanjur KPR ya sudah, niatkan pada Allah untuk segera melunasinya, biar gak terjebak lama-lama dalam kubangan RIBA!
Caranya tunda kesenangan, naikkan pendapatan, cicil pokoknya minimal 6 kali angsuran, misal perbulan cicilan 3 juta, kalikan 6 jadi 18 juta. Tiap punya uang 18 juta datang ke bank, bilang mau bayar POKOK HUTANG, nanti hutang KPRnya akan cepat lunas, harusnya 15 tahun, eeeh dalam 5 tahun lunas..

Yang sudah ngampet buangeet pengen bebas riba, ya sudah rumahnya jual saja, pakai ilmu cara punya rumah nomer 2 atau 3, gakpapa 5 tahun ngontrak dulu, tapi nanti punya rumah cash!

Yang masih jomblo pengen punya rumah usai nikah? Yaaa cari calon istri anak tunggal, cantik wajahnya dan akhlaknya, bapaknya kaya raya tapi sudah tua... Duuh sempurna! 😁

Apapun masalah kita, hadapi!! Jangan cengeng! Dulu berani nekat urek-urek di bank ya jangan kabur!
Yang penting kita sudah taubat pada Allah untuk tidak menambah hutang riba lagi.. Dan fokusssss menyelesaikan hutang yang tercecer disana-sini, sebelum keburu dipanggil menghadap ilahi.. Hiiii ngeriiii...

Jangan lupa perbanyak doa ini:
Ayo dicatat, diapalkan, diamalkan. Doa yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW:
ALLAHUMA INNI AUDZUBIKA MINAL MA'TSAM WAL MAGHROM
"Ya Allah aku berlindung dari dosa dan jeratan hutang"

Salam,
@Saptuari
Photo

RUMAH HALAL, ALHAMDULILLAH.
RUMAH HARAM, NA'UDZUBILLAH..

Harta, kelak di hari perhitungan akan ditanya dan dihisab oleh Allah dalam 2 hal sebagaimana yang dikabarkan oleh Rosulullah Shallallahu 'alaihi wassalam.
Pertama, darimana atau dengan cara apa kita peroleh harta itu. Kedua, untuk apa harta tersebut dipergunakan.
Terkait darimana perolehan harta (khususnya rumah atau property), setidaknya ada 9 kemungkinan seseorang memilikinya dengan cara yang diharamkan. Apa saja ??

1. Rumah yang diperoleh melalui transaksi pinjaman dan atau kredit riba perbankan seperti KPR ribawi.
2. Rumah yang diperoleh melalui transaksi berakad ganda seperti "Leasing" atau Sewa Beli.
3. Rumah yang diperoleh dengan cara paksaan yaitu memaksa penjual untuk menjualnya.
4. Rumah yang diperoleh dengan cara membeli kepada pihak yang belum memilikinya secara sempurna.
5. Rumah yang diperoleh dengan transaksi akal-akalan atau ngakali riba seperti bay' inah.
6. Rumah yang diperoleh dengan akad kongsi tapi perkongsian tersebut tidak sesuai syariah.
7. Rumah yang diperoleh dengan cara membeli dari penjual yang masih anak-anak (belum baligh atau mumayiz)
8. Rumah yang diperoleh dengan cara membeli dari pihak yang sedang kehilangan akalnya (gila atau stress)
9. Rumah yang diperoleh dengan cara membeli dari pihak yang tidak berhak menjualnya, baik via perorangan atau developer.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ جَمَعَ مَالاً حَرَامًا ثُمَّ تَصَدَّقَ بِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ وَ كَانَ إِصْرُهُ عَلَيْهِ
Barangsiapa mengumpulkan harta haram kemudian menyedekahkannya, maka ia tidak memperoleh pahala darinya dan dosanya terbebankan pada dirinya
(HR Ibnu Hibban).

Dari Al-Qasim bin Mukhaimirah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنِ اكْتَسَبَ مَالًا مِنْ مَأْثَمٍ فَوَصَلَ بِهِ رَحِمَهُ أَوْ تَصَدَّقَ بِهِ أَوْ أَنْفَقَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، جَمَعَ ذَلِكَ كُلَّهُ جَمِيعًا فَقُذِفَ بِهِ فِي جَهَنَّمَ
Barangsiapa mendapatkan harta dengan cara yang berdosa lalu dengannya ia menyambung silaturrahmi atau bersedekah dengannya atau menginfakkannya di jalan Allah, ia lakukan itu semuanya maka ia akan dilemparkan dengan sebab itu ke neraka jahannam.” (Hasan lighairihi, HR. Abu Dawud dalam kitab Al-Marasiil, lihat Shahih At-Targhib, 2/148 no. 1721).

Masih nekad punya rumah dengan cara haram ??

Post has attachment
Lakukan ini : BANGUN KEKUATAN POLITIK ISLAM !!

https://youtu.be/nrexCdnRslI

Post has attachment
BPJS Halal atau Haram?

Post has attachment
15 Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Manusia


Sepakat kah sobat jika kebutuhan manusia itu tidak terbatas ? apalagi pada zaman yang terus berkembang ini, kebutuhan manusia semakin sangat beragam. Kebutuhan apa saja yang sobat tahu ?

Kebutuhan manusia menurut intensitasnya terbagi menjadi kebutuhan pokok/primer, sekunder dan tersier. Sedangkan menurut sosial dan budaya dikelompokkan menjadi kebutuhan sosial dan psikologis. Kemudian menurut subjek digolongkan menjadi kebutuhan individual dan kolektif.


Setelah mengenal jenis-jenis kebutuhan manusia, tahukah sobat faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan manusia itu ?

*Faktor Kondisi Alam
Faktor yang pertama adalah faktor kondisi alam, Bagaimana kondisi cuaca di kawasan tempat tinggal sobat ? jika tinggal di kawasan dingin, benarkah sobat membutuhkan selimut ataupun pakaian yang tebal yang mana dapat menahan hawa dingin ?

Lalu bagaimana sodara kita yang tinggal di kawasan panas ? benarkah mereka lebih membutuhkan pakaian yang tipis ?

Nah, ilustrasi di atas menjelaskan bahwa Kondisi alam akan sangat berkaitan dengan kebutuhan yang harus dipenuhi manusia. Artinya, manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar sesuai dengan kondisi alam dimana dirinya tinggal.


*Faktor Kepercayaan dan Agama Yang Dianut
Bagaimana agama mempengaruhi kebutuhan penganutnya ? contohnya bagi umat Hindu, sangat di larang bagi penganutnya untuk memakan makanan yang berbahan dasar atau mengandung sapi. Sedangkan bagi umat beragama islam, makan daging sapi sangat di perbolehkan.

Contoh tersebut sangat jelas menggambarkan adanya perbedaan, yang mana akan menyebabkan kebutuhan penganut agama satu sama lainnya akan berbeda pula.

Contoh lain seperti perbedaan pada alat pemenuhan kebutuhan untuk menjalankan ibadah. Orang islam membutuhkan pakaian Muslim untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan umat Kristiani membutuhkan pohon natal serta bingkisan bingkisan untuk merayakan Natal.

*Faktor Adat Istiadat
Mengapa adat dikatakan dapat mempengaruhi dari kebutuhan yang dimiliki oleh setiap manusia ? Sebagai contohnya, upacara adat saat acara perkawinan dari masing-masing daerah/suku pasti memiliki perbedaan dan keunikannya masing-masing. Adat pernikahan Suku Batak tentu berbeda dengan Suku Sunda, begitupun daerah-daerah lainnya.

Dengan demikian, sudah terlihat pengaruh adat bagi kebutuhan manusia, dikarenakan adat dan tradisi akan mempengaruhi perilaku dan tujuan hidup kelompok masyarakat yang ada di tempat tersebut.

*Faktor Pekerjaan
Bagaimana pekerjaan memepengaruhi kebutuhan ? sebagai contoh, profesi guru akan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan profesi sebagai petani. Profesi guru membutuhkan perlengkapan mengajar seperti alat tulis, sedangkan profesi petani membutuhkan alat-alat seperti cangkul, traktor, pupuk, bibit, dan alat pertanian lainnya .

*Tingkat Peradaban
Kira-kira apa kebutuhan manusia pada jaman purba dahulu ya ? mungkin mereka hanya membutuhkan makanan, dan tempat tinggal seadanya, hanya untuk bertahan hidup.


Sedangkan pada perkembangan peradaban saat ini membuat kebutuhan manusia semakin banyak, baik dalam segi jumlah maupun jenisnya. Karena manusia akan selalu berupaya untuk mencapai kemakmuran dengan memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Sebagai contoh, dahulu sepeda motor sebagai barang mewah, namun sekarang setiap manusia membutuhkan kendaraan agar bisa mengefisiensikan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan dan mudah untuk berpindah tempat.

Jadi, tingkat peradaban juga sangat mempengaruhi kebutuhan manusia.

*Faktor Penghasilan
Bagi sekelompok orang yang mempunyai penghasilan pas-pasan, tentunya hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja. Namun bagaimana dengan kebutuhan seseorang yang memiliki penghasilan yang tinggi ? seseorang dengan penghasilan yang besar cenderung memenuhi kebutuhan primer, bahkan hingga kebutuhan sekunder dan tersier nya.

*Faktor Umur
Sebagai contoh, kebutuhan anak-anak tentunya akan jauh berbeda dengan kebutuhan orang dewasa. Faktor umur tentu berpengaruh pada kebutuhan yang dimiliki masing-masing individu.

*Faktor Tingkat Kepuasan
Keinginan dan tingkat kepuasan orang satu dengan lainnya berbeda-beda. Pada akhirnya berpengaruh dengan kebutuhan hidup yang dimilikinya. Jika ada seseorang yang tidak mudah puas dengan yang dimiliki, secara otomatis, dia akan membuat tingkat kebutuhannya lebih banyak dibandingkan dengan orang lain.

*Faktor Hobi Atau Kegemaran
Hobi apa saja yang sobat tahu/miliki ? memancing kah ? sepak bola ? badminton kah ? bagi seseorang yang memiliki hobi badminton, tentu akan membutuhkan berbagai perlengkapan badminton seperti raket, shuttelkock, sepatu ket dan lainnya.

*Faktor Pendidikan
Faktor pendidikan juga ikut mempengaruhi kebutuhan manusia. Contohnya, kebutuhan anak SD tentu akan berbeda dengan anak SMA atau bahkan yang sedang kuliah.

*Faktor Jenis Kelamin
Jika sobat adalah seorang pria, mungkinkah membutuhkan lipstick untuk konsumsi pribadi ? tidak mungkin, karena lipstick digunakan oleh seorang wanita. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa faktor jenis kelamin bisa mempengaruhi.

*Teknologi
Saat ini, siapakah yang tidak memiliki handphone ? handphone adalah bagian dari teknologi yang hampir setiap orang memilikinya. Handpone sebagai alat untuk menghubungkan satu orang dengan orang lainnya, di tempat yang berbeda. Nah pada zaman dahulu, apakah ada teknologi seperti handphone atau laptop ? sepertinya tidak, namun saat ini di Pare, karerna kemajuan teknologi saat ini, membuat orang-orang berbondong-bondong untuk membeli nya dengan tujuan mempermudah pekerjaan mereka.

*Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk adalah jumlah orang yang ada di sebuah lingkungan atau keluarga. Apabila anggota keluarga kita banyak, tentu kebutuhan keluarga kita akan bertambah pula.

*Faktor Penyakit
Jika seseorang terserang penyakit, maka akan terjadi perubahan kebutuhan, mengapa ? karena bisa saja, salah satu bagian tubuh yang sakit tersebut membutuhkan perawatan dan pengobatan yang lebih besar dibandingkan anggota/bagian tubuh yang sehat lainnya.

*Iklan atau Promosi
Saat ini media massa sudah sangat masif memasarkan suatu produk. Iklan dan promosi menjamur di berbagai media seperti televisi, radio dan di internet. Munculnya iklan ini akan sangat mempengaruhi kebutuhan manusia, karena seseorang akan terpengaruh akan membeli sesuatu setelah melihat iklan yang muncul di perangkat hp atau di televisi.

Demikianlah pembasahan tentang Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Manusia, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Terima kasih banyak atas kunjungannya.
Photo

Post has attachment
APAKAH “BENAR” ITU?

Perdebatan tentang produk pemikiran manusia itu akan masuk dalam kategori ilmiah atau tidak, sangat ditentukan oleh pengetahuan manusia terhadap definisi “benar” itu sendiri. Mengapa? Jika manusia itu tidak tahu tetang definisi “benar”, Maka manusia akan masuk wilayah perdebatan yang tidak berujung pangkal, terhadap apa yang dimaksud dengan “kebenaran ilmiah”, “metode ilmiah” dan sebagainya.
karya-ilmiah-yang-baik
Apakah "benar" itu?

Termasuk juga, seluruh pembahasan tentang bangunan ilmu pengetahuan yang mampu dilahirkan oleh manusia, apakah akan dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan yang ilmiah atau tidak, alat ukurnya juga hanya satu, yaitu: apa yang dimaksud dengan “benar” itu. Jika manusia “salah” dalam mendefinisikan tentang “benar”, maka manusia tidak akan pernah memperoleh kebenaran selamanya.

Benar menurut manusia adalah adalah: pernyataan yang sama dengan kenyataan. Degan kata lain, suatu pernyataan yang dibuat manusia itu dapat dikatakan benar, jika pernyataan tersebut sama dengan kenyataan. Contohnya: jika ada orang yang mengatakan bahwa “gunung itu ada”. Pernyataan itu dikatakan “benar” apabila pada kenyataannya gunung itu memang benar-benar ada. Pernyataan itu dapat dikatakan “salah”, apabila gunung itu ternyata tidak ada.

Contoh yang lain adalah, jika ada orang yang mengatakan bahwa “gunung itu berwarna biru”. Pernyataan itu dikatakan “salah” apabila dalam kenyataannya, setelah didekati dan dibuktikan dalam penglihatan jarak yang dekat, ternyata gunungnya berwarna coklat. Jika ada orang yang mengatakan bahwa di dalam perut bumi yang diinjaknya itu ada minyaknya. Pernyataan ini dikatakan “benar”, jika di perut bumi di bawah telapak kakinya itu memang benar-benar ada kandungan minyaknya.

Termasuk juga, jika ada orang yang mengatakan bahwa “Tuhan itu ada”. Pernyataan ini dapat dikatakan benar, apabila dalam kenyataannya Tuhan itu memang benar-benar ada. Sebaliknya, pernyataan itu dikatakan salah, apabila dalam kenyataannya Tuhan itu ternyata tidak ada. Kalau ada yang mengatakan bahwa “surga itu ada”, maka pernyataan itu benar jika surge itu benar-benar ada. Jika ada orang yang mengatakan bahwa “di surga itu ada bidadari cantik yang berjumlah 1 juta”. Pernyataan itu salah, jika ternyata jumlah bidadari itu ada satu setengah juta. Demikian seterusnya.

Inilah yang dimaksud dengan definisi “benar” menurut manusia. Setelah manusia tahu tentang definisi benar, lantas apa yang ingin diketahui manusia selanjutnya? Dalam kehidupan ini, ada banyak hal yang ingin diketahui oleh manusia. Mulai dari pengetahuan yang paling sederhana, yang ada di sekitar mereka, sampai hal-hal yang jauh dari penginderaan mereka. Manusia adalah makhluk yang serba ingin tahu.

Berkaitan dengan banyaknya pengtahuan yang ingin diperoleh manusia inilah, maka kita dapat membuat tingkatan-tingkatan pengetahuan yang dapat dicapai oleh manusia. Marilah kita lihat satu per satu tingkatan tersebut, mulai dari tingkatan yang paling rendah.

Pengetahuan Tingkat I
Pengetahuan Tingkat II
Pengetahuan Tingkat III
Pengetahuan Tingkat IV
Pengetahuan Tingkat V
Pengetahuan Tingkat VI
Pengetahuan Tingkat VII

Lebih detil, baca Buku:
Ekonomi Islam Mazhab HAMFARA
Photo

Post has attachment
Pengertian Mudharabah, Syarat, Rukun Dan Contohnya

Menurut Ulama Fiqih kerjasama “mudharabah” (perniagaan) sering juga disebut dengan “Qiradh” atau memotong. Karena pemilik modal memotong sebagian hartanya agar diperdagangkan dengan memperoleh sebagian keuntungan.
Mudharabah berasal dari kata “dharb” yang artinya memukul atau berjalan. Memukul dalam bidang ekonomi islam adalah proses memukulkan kakinya dalam menjalankan usahanya. Disamping itu, secara istilah mudharabah merupakan akad kerjasama usaha antara dua pihak yaitu pihak pemilik dana sebagai pihak pertama yang menyediakan seluruh dana, dan pihak pengelola dana sebagai pihak kedua yang bertindak sebagai pengelola dan keuntungan usaha dibagi sesuai kesepakatan semua pihak, sedangkan jika mengalami kerugian finansial disebabkan kesalahan manajemen (kelalaian) maka ditanggung oleh pengelola dana.
jika kerugian bukan karena kesalahan manajemen (kelalaian pengelola) maka ditanggung pemilik modal.

Pengertian Mudharabah Menurut Madzhab

1. Mazhab Hanafi

Definisi Mudharabah adalah akad atas suatu syarikat dalam keuntungan dengan cara penyerahan mata uang tunai kepada pengelola dengan mendapatkan sebagian dari keuntungannya apabila diketahui dari jumlah keuntungannya.

2. Mazhab Syafi’i

Mudharabah adalah suatu akad yang memuat penyerahan modal kepada pihak lain agar melaksanakan usaha dan keuntungan yang dihasilkan dibagi antara mereke berdua.

3. Mazhab Hambali

Mudharabah adalah pemberian modal tertentu dengan jumlah yang jelas secara keseluruhan dan semaknanya kepada orang yang mau melakukan usaha dengan memperoleh bagian tertentu dari hasil keuntungannya.

Jadi dari pengertian tersebut, mudharabah bisa diartikan sebagai akad kerjasama usaha diantara dua pihak yaitu pihak pertama sebagai shahibul maal yang menyediakan modal (100%), sedangkan pihak lain sebagai pengelola.

Keuntungan usaha yang dibagi diatur dengan kesepakatan dalam kontrak perjanjian, dan apabila mendapati kerugian karena kelalaian si pengelola, maka pengelola lah yang harus bertanggungjawab atas kerugian tersebut.

Macam-Macam Mudharabah
Akad mudharabah jika dilihat dari segi transaksi yang dilakukan pemilik modal dengan pekerja oleh ulama fiqih dibagi menjadi dua, diantaranya:

1. Mudharabah Mutlaqah

Definisi Mudharabah mutlaqah adalah penyertaan modal tanpa syarat. Pengusaha atau mudharib bebas melakukan usaha apa saja dan mengelola modalnya sesuai dengan keinginannya asalkan bisa mendatangkan keuntungan.

Teknik mudharabah mutlaqah dalam bank adalah kerjasama antara bank dengan mudharib atau dalam hal ini nasabah yang bisa mengelola suatu usaha yang produktif dan halal atau yang mempunyai keahlian atau keterampilan lainnya. Hasil atau keuntungan yang didapatkan dari penggunaan dana dibagi berdasarkan nisbah yang telah disepakati.

Contoh produk mudharabah mutlaqah adalah Tabungan Mudharabah dan Depostio Mudharabah.

2. Mudharabah Muqayyadah

Mudharabah muqayyadah adalah penyertaan modal dengan syarat-syarat tertentu. Artinya tidak semua usaha bisa dijalankan dengan modal tersebut, jadi hanya usaha yang telah ditentukan (perjanjian) yang boleh dikelola.

Teknis mudharabah muqayyah dalam bank adalah akad kerjasama antara shahibul maal dengan bank. Modal yang diterima dari shahibul maal dikelola bank untuk diinvestasikan ke dalam proyek yang ditentukan oleh pemilik modal terkait. Hasil keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai nisbah yang telah disepakati bersama.

Contoh produk Mudharabah Muqayyadah adalah

Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet (investasi terikat) adalah pengelolaan dana yang mempunyai syarat sehingga mudharib hanya melakukan mudharabah di bidang tertentu, waktu, cara dan tempat tertentu saja. Jenis mudharabah ini merupakan simpanan khusus (restricted investment) yaitu pemilik dana menentukan syarat yang harus dipatuhi oleh pihak bank. Contohnya, disyaratkan untuk bisnis tertentu atau nasabah tertentu.
Al Mudharabah Muqayyadah Of Balance Sheet adalah jenis mudharabah yang penerahan dana mudharabah langsung kepada pelaksana usahanya. Bank bertugas sebagai perantara yang mempertemukan antara pemilik dana dengan pelaksana usaha.
Pemilik dana juga dapat menentukan syarat dalam mencari kegiatan usaha yang akan dibiayai yang harus dicari oleh bank dengan kriteria yang sesuai.

Syarat Mudharabah
Akad mudharabah harus memenuhi persyaratan berikut ini:

Masing-masing pihak memenuhi persyaratan kecakapan wakalah.
Modal (ra‟s al-mal) harus jelas jumlahnya. Bukan berupa barang dagang, artinya harus berupa harga tukar (tsaman) dan penyerahan harus tunai seluruhnya kepada pengusaha.
Sebelum adanya pembagian keuntungan milik bersama, presentase keuntungan dan waktu pembagian harus disepakati bersama dan dinyatakan dengan jelas.
Modal yang sudah diserahkan oleh pemodal akan dikelola pengusaha dan mempunyai hak tanpa campur dari pihak pemodal.
Kerugian ditanggung sepenuhnya oleh pemodal. Pihak pekerja juga mengalami kerugian meskipun bukan dari modal, tapi dari hasil kerjanya.

Rukun Mudharabah
Akad mudharabah akan terlaksana apabila memenuhi rukun berikut ini:

Pelaku (pemilik modal maupun pelaksana usaha)
Pada dasarnya Rukun dari akad mudharabah sama dengan rukun jual beli, dan ditambah satu faktor yaitu nisbah keuntungan. Transaksi dalam akan mudharabah melibatkan dua pihak. Pihak pertama sebagai pemilik modal (shahibul maal) dan pihak kedua sebagai pengelola usaha (mudharib atau amil). Jadi, tanpa dua pihak ini tidak akan terlaksana akad mudharabah.

Obyek mudharabah (modal dan kerja).
Faktor selanjutnya adalah konsekuensi logis dari tindakan yang dilakukan pelaku. Pihak shahibul maal menyerahkan modal sebagai obyek mudharabah dan keahlian (kerja) diserahkan oleh pelaksana usaha sebagai obyek mudharabah.

Persetujuan kedua belah pihak (ijab-qabul).
Persetujuan dari kedua pihak adalah konsekuensi prinsip sama sama rela (an-taroddin minkum). Artinya, kedua pihak harus sepakat untuk sama sama mengikatkan diri dalam akan mudharabah. Si pemilik modal setuju sebagai tugasnya untuk menyediakan dana, dan disisi lain pelaksana usaha setujua dengan tanggungjawabnya menyerahkan keahlian kerjanya.

Nisbah keuntungan.
Faktor berikutnya adalah nisbah. Nisbah adalah rukun yang tidak ada dalam akad jual beli, menjadi ciri khas pada mudharabah. Nisbah mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh pihak yang terkait dalam akad mudharabah. Imbalan untuk pemodal atas penyertaan modal, dan imbalan kepada mudharib atas kontribusi kerjanya. Dengan Nisbah atau pembagian keuntungan inilah yang dikatakan bisa mencegah terjadinya perselisihan diantara mereka.

Nisbah bisa ditentukan dengan perbandingan atau prosentase, contohnya 50:50, 60:40, 70:30.

Demikianlah pembahasan Pengertian Mudharabah, Rukun, Contoh dan Macam-Macamnya.
Semoga bermanfaat bagi pembaca dan terimakasih banyak atas kunjungannya. Like and share ya ! 🙂
Photo
Wait while more posts are being loaded