Post has shared content
KONSEKUENSI dari BERUCAP BAIK
Posted : Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
18 Oktober 2017

Konsekuensi dari Berucap Baik

Assalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim.

Sahabatku yang Insya Allah di Rahmati oleh Allah SWT, salam sejahtera, salam silaturahim.
Sahabat, kebahagiaan itu akan terasa sempurna ketika kita sudah melakukan semua kewajiban kepada Dzat Pencipta, dan kepada semua makhluk ciptaan Nya. Sahabat berucap itu merupakan hal yang sangat mudah dilontarkan, dibumbui dan dimaniskan. Tapi lebih sulit mempraktekan ke dalam perilaku yang mencerminkan sifat sifat mulia dan amal salih.
Allah SWT berfirman :
“ Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat) Maka tidaklah kamu berpikir?.”
( QS Al Baqarah : 44 ).
Firman Nya lagi :
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? .Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. “ ( QS Ash Shaff (61): 2-3 )
Sahabat, jika kita menyuruh orang lain melakukan amar ma’ruf sementara diri kita sendiri meninggalkannya, dan kita melarang orang melakukan kemungkaran sementara diri kita sendiri melanggarnya, Maka kita akan ditempatkan di dalam neraka, kemudian kita akan berkeliling dengan usus tang terburai seperti keledai yang mengelilingi alat penumbuk gandum. Maka para penghuni neraka akan bertanya kepada kita, mengapa kita binasa, jawab kita, “ Saya menyuruh kalian melakukan yang ma’ruf namun saya sendiri tidak melakukannya, dan saya melarang kalian menjauhi yang mungkar namun saya sendiri melakukannya.
“ Wahai yang mengajarkan ilmu kepada orang lain,
Apakah ada ilmu dalam dirimu.”
Seorang mubalig yang sangat terkenal bernama Abu Mu’adz Ar Razi, berdiri kemudian menangis, dan orang orang pun turut menangis. Ar Razi berkata :
“ Orang yang tidak bertakwa akan menyuruh orang lain bertakwa, seorang dokter yang harus mengobati ternyata tidak sehat.”

Adalah kebiasaan sejumlah ulama salaf untuk mengeluarkan sedekah terlebih dahulu sebelum menyuruh orang lain mengeluarkan sedekah. Baru kemudian ia menyuruh bersedekah, yang kemudian direspon dengan sangat antusias.
Seorang pemberi nasehat pada kurun awal penyebaran Islam, ingin menyuruh orang lain untuk membebaskan budak. Banyak sekali budak yang lewat dirinya meminta sumbangan kepada msyarakat. Langkah awal yang dilakukan adalah megumpulkan dana pada waktu yang cukup lama, kemudian baru membebaskan seorang budak. Setelah menjadi pelopor pembebasan budak, baru ia menyuruh orang lain. Langkahnya kemudian diikuti oleh banyak orang dan banyak budak yang dibebaskan.
Sahabat, janganlah kita menyeru kepada orang lain untuk melakukan perbuatan amar ma’ruf sementara diri kita sendiri lalai.
Semoga kita semua tidak termasuk kedalam golongan orang orang yang lalai, dan semoga kita semua selalu berada dalam limpahan rahmat kasih sayang dan lindungan Allah SWT, Aamiin yaa rabbal alamin.

Wabillahi taupiq wall hidayyah
Wassalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Sebagai bahan kajian dan renungan bagi kita semua, semoga bermanfaat.

Disadur dari : Buku La Tahzan – Penulis Dr ‘Aidh al Qarni – Penerbit Qisthi Press Jakarta.
Oleh : Taupiq Sanusi (Taufik)
Face Book : Komunitas Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
Photo

Post has shared content
BERSIKAPLAH RIDHA KEPADA ALLAH.
Posted : Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
17 Oktober 2017-10-17

Bersikaplah Ridha Kepada Allah.

Assalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim.

Sahabatku semua yang Insya Allah dimuliakan oleh Allah SWT.
Sahabat, sebagai satu konsekuensi dari pernyataan kita . “ Aku rela Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi.”. Adalah bahwa kita harus bersikap ridha kepada Allah SWT. Itu berarti, ridha dengan semua hukum Nya, ridha dengan Qadha’ dan Qadar Nya baik yang jelek maupun yang baik, yang pahit maupun yang manis.
Memilih milih dalam mengimani qadha’ dan qadar, tidak dibenarkan. Memilih milih disini maksudnya adalah kita ridha terhadap ketentuan ketentuan qadha’ yang sesuai dengan keinginan hati kita, namun tidak menerima bila tidak sesuai dengan keinginan dan tujuan kita. Sikap seperti ini tentu saja bukan sikap seorang hamba Allah.
Banyak juga tipe orang yang ridha kepada Rabb nya pada saat keadaan lapang, yang tidak menerima pada saat sedang diuji, yang taat pada saat senang, dan menentang pada saat sengsara.
Allah SWT berfirman :

“ Maka , apabila ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia kebelakang. Rugilah ia di dunia dan akhirat.” ( QS Al Hajj: 11 )

Seperti itulah keimanan orang orang badui Arab yang menyatakan masuk agama Islam. Jika dalam Islam mereka mendapatkan sesuatu yang baik: Hujan turun, susu yang melimpah, dan rerumputan yang tumbuh, maka mereka berkata, “ Ini adalah agama yang baik “.Mereka pun senantiasa taat dan menjaga agama mereka. Namun ketika mereka mendapatkan sesuatu yang sebaliknya: kekeringan,paceklik, kegersangan, kekurangan harta, dan panen yang tidak baik, maka mereka akan berbalik dan meninggalkan risalah dan agama mereka.
Dengan demikian, maka keislamannya adalah hawa nafsu, dan keislamannya adalah kesenangan terhadap hawa nafsu.
Orang yang dipilih oleh allah untuk beribadah, untuk melakukan kebajikan, dan untuk mengibarkan bendera agama, namun kemudian tidak ridha terhadap penghormatan ini, maka dia berhak mendapatkan kehancuran yang abadi.
Allah SWT berfirman :

“ Dan, bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan 9sampai di tergoda), maka jadilah dia termasuk orang orang yang sesat.” ( QS Al A’raf: 175 )

Ridha itu adalah pintu gerbang beragama. Siapa pun yang ber taqarrub kepada Rabb nya, yang senang dengan petunjuk Nya, yang tunduk kepada perintah Nya, dan yang berserah diri kepada hukum Nya pasti telah melewati pintu gerbang tersebut. Orang orang yang selalu mencari ridha Allah serta merindukan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, tidak akan menerima dunia sebagai ganti dari karunia yang agung ini.
Allah SWT berfirman :

“ Dan, kelak Rabb mu pasti memberikan karunia Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” ( QS Adh Dhuha:4 ).

Sahabatku semoga kita semua selalu berada dalam limpahan rahmat kasih sayang Allah SWT, dan Ridha Allah selalu menyertai kita semua dalam menjalani kehidupan di dunia ini, Aamiin yaa rabbal alamin

Wabillahi taupiq wall hidayyah
Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Sumber Rangkuman : Buku La Tahzan – Penulis Dr ‘Aidh al Qarni – Penerbit Qisthi Press Jakarta.
Di Rangkum : Taupiq Sanusi (Taufik)
Face Book : Komunitas Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
Photo

Post has shared content
Assalaamu'allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, Santun tengah malam, selamat beristirahat sahabat
Photo

Post has shared content
Assalaamu'allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, Santun tengah malam, selamat beristirahat sahabat
Photo

Post has shared content
BUKTI BUKTI KETAUHIDAN
Posted : Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
15 Oktober 2017.

Bukti Bukti Ketauhidan
Assalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Bismillahirrhmanirrahim.

Bukti ketauhidan itu banyak diantaranya :
Pertama : Memaafkan. Ini merupakan bukti ketulusan hati terhadap perilaku orang yang menyakiti. Sedangkan keinginan hati untuk diperlakukan dengan baik merupakan tingkatan yang lebih tinggi. Dan yang paling tinggi lagi ialah ketika ia bisa membalasnya dengan kebaikan, selanjutnya Ihsan, yakni membalas kejahatan yang ia lakukan dengan kebaikan.
Allah SWT berfirman:
“ Dan orang orang yang menahan kemarahan dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan(ihsan),” ( QS Ali Imran : 134 )
Firman Nya lagi :
“ Maka, barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” ( QS Asy Syura:40 )
Firman Nya lagi :
“ Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada .”
( QS An Nur:22 )
Dalam atsar disebutkan: “ Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menyambung tali silaturahmi dengan orang yang memutuskannya denganku, untuk memaafkan orang yang menzalimiku, dan memberi kepada orang yang pelit kepadaku.”

Kedua, Keyakinan terhadap Qadha’, kita harus menyadari bahwa ia tidak menyakiti, kecuali itu merupakan ketentuan Qadha’ dan Qadar Allah. Sebab, seorang hamba sebenarnya hanya satu dari sekian sebab? Yang ada, dan bahwa penentu takdir sebenarnya adalah Allah. Oleh karena itu berserahlah kepada Rabb yang melindungi diri kita.

Ketiga, Penghapusan dosa. Kita harus menyadari bahwa kejahatan yang dilakukan orang lain kepada kita berarti dosa dosa kita dihapuskan, keburukan keburukan kita dileburkan, kesalahan kesalahan kita dimaafkan, dan derajat kita diangkat.
Allah SWT berfirman :
“ Maka, orang orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan aku hapuskan kesalahan kesalahan mereka.” ( QS Ali Imran:195 )
Di antara hikmah lain yang bisa diperoleh oleh seorang mukmin dalam hal ini adalah dicabutnya sumbu permusuhan.
Allah SWT berfirman :
“ Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
( QS Fushshilat:34 )
Rasulullah saw bersabda :
“ Orang muslim adalah orang yang menjaga orang orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya,”

Keempat , Munculnya kesadaran terhadap kekurangan diri kita, kesadaran seperti ini akan muncul justru krena dosa dosa yang telah kita lakukan.
Allah SWT berfirman:
“ Dan, mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud) padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat pada musuh musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “ Dari mana datangnya (kekalahan) ini? “ Ini dari (kesalahan) dirimu sendiri.” ( QS Ali ImranP:165 )
Ada satu hal positif yang mengharuskan kita memuji dan bersyukur kepada Allah, yakni keadaan kita yang diciptakan sebagai orang yang dizalimi, bukan yang menzalimi.
Allah SWT berfirman :
“ Sungguh kalau kamu menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali kali tidak akan menggerakan tanganku kepadamu untuk membunuhmu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam.”
( QS Al Ma’idah:28 ).

Kelima, Menunjukan sikap ramah, kita harus bersikap ramah kepada orang yang menyakiti kita, karena bagaimanapun dia berhak diperlakukan ramah. Tindakannya yang selalu menyakiti orang lain dan sikapnya yang terlalu berani menentang perintah Allah untuk tidak menyakiti orang muslim, menempatkannya dalam posisi orang yang harus kita sikapi dengan lembut dan ramah, dan posisi orang yang harus kita hindarkan dari keterpurukannya. Sabda Nabi saw: “ Tolonglah saudaramu yang zalim maupun yang dizalimi.”
Orang yang mampu mengekang jiwanya jauh lebih berani dari orang yang menaklukan kota.
Allah SWT berfirman :
“ Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb ku.”
( QS Yusuf:53 ).

Wabillahi taupiq wall hidayyah
Wassalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Sebagai bahan kajian untuk kita semua.
Semoga bermanfaat

Di Rangkum/di Ringkas : Taupiq Sanusi (Taufik)
Face Book : Komunitas Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
Sumber Rangkuman ; Buku La Tahzan – Penulis Dr ‘Aidh al Qarni – Penerbit Qisthi Press Jakarta.
Photo

Post has shared content
Sirah Nabi 7 - Sebagian Sifat Baik Bangsa Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ
Kategori: Sirah Diterbitkan pada 12 October 2017


Sirah Nabi 7 - Sebagian Sifat Baik Bangsa Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim.

Namun hendaklah tidak dilupakan, bahwa bukan berarti semua kerusakan ada pada Bangsa Arab. Ada juga sifat-sifat baik dan mulia yang tersebar di bangsa Arab, yaitu:
⑴ Ringan tangan untuk membantu
⑵ Memuliakan tamu
Bahkan disebutkan bahwasanya jika salah seorang di antara mereka hanya memiliki 1 ekor unta saja dan itu merupakan sumber penghasilannya (dengan diambil susunya dan lainnya), ketika ada tamu yang datang dari jauh dan tidak ada yang bisa digunakan untuk memuliakan tamunya maka dia akan memotong untanya agar bisa disuguhkan kepada tamunya.
Diantara orang jahiliyyah yang terkenal mulia dan dermawan adalah 'Amr bin Luhay Al-Khuzā'i, sebagaimana telah lalu dia memotong 10 ribu unta untuk jama'ah haji. Suatu kedermawanan yang sangat luar biasa, walaupun amalannya sia-sia karena dia adalah seorang musyrik, bahkan pelopor kesyirikan.
Ada juga seorang jahiliyyah bernama 'Abdullāh bin Jud'an, dia sangat dermawan dan terkenal akan kedermawanannya. Dia meninggal sebelum Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diutus menjadi seorang Nabi, tetapi Nabi mendapati masa 'Abdullāh bin Jud'an ini. Diantara kebaikannya adalah tatkala Syuhaib Ar-Rūmi datang kepadanya ketika masih budak, Syuhaib dibeli dan dibebaskan oleh 'Abdullah bin Jud'an, sehingga mereka tinggal bersama sampai 'Abdullāh bin Jud'an meninggal. Syuhaib kemudian dikenal sebagai Maula Ibnu Jud'an, karena yang membebaskan dia adalah 'Abdullāh bin Jud'an. Dia juga sering menyambung silaturahim dan sering mengundang tamu. Jika ada permasalahan, orang-orang akan berkumpul di rumahnya, bahkan ada persekutuan yang dinamakan dengan Al-Hilful Fudhul, yaitu terjadi kezhaliman di Mekkah, ada orang yang menjual barang lalu barangnya diambil tanpa dibayar oleh orang Quraisy, orang ini berteriak dan didengar oleh orang-orang Quraisy yang lain, lalu mereka berkumpul di rumah 'Abdullah bin Jud'an untuk mengatasi masalah ini, sampai-sampai Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sendiri pun mengingat hal tersebut.
Nabi ﷺ mengatakan:
لَقَدْ شَهِدْتُ فِى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِى بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ وَلَوِ أُدْعَى بِهِ فِى الإِسْلاَمِ لأَجَبْتُ
"Sungguh aku telah menghadiri di rumah Abdullah bin Jud'an suatu perjanjian yang aku tidak suka jika kehadiranku tersebut ditukar dengan onta merah. Seandainya dalam Islam (setelah saya sudah diutus menjadi Nabi) diajak pertemuan seperti itu maka saya akan penuhi." (HR Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro no 13461)
Ibnu Katsir menyebutkan suatu riwayat dalam Bidayah wa Nihayah bahwa saat terjadi perang Badr, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyuruh para shāhabat untuk mencari mayatnya Abū Jahl. Kemudian kata Beliau kepada para sahabat:
تَطْلُبُوْهُ بَيْنَ الْقَتْلَى، وَتَعْرِفُوْهُ بِشَجَّةٍ فِي رُكْبَتِهِ فَإِنِّي تَزَاحَمْتُ أَنَا وَهُوَ عَلَى مَأْدُبَةٍ لابْنِ جُدْعَانَ فَدَفَعْتُهُ فَسَقَطَ عَلَى رُكْبَتِهِ فَانْهَشَمَتْ فَأَثَرُهَا بَاقٍ فِي رُكْبَتِهِ
"Carilah mayat Abu Jahl diantara mayat-mayat, kalian akan mengetahuinya dengan bekas luka yang ada di lututnya, karena aku dan dia (tatkala masih kecil) saling dorong-dorongan di santapan jamuan undangan Abdullah bin Jud'an, maka aku pun mendorongnya dan ia pun terjatuh di atas lututnya, lalu lututnya terluka dan bekasnya masih ada di lututnya" (Al-Bidayah wa An-Nihaayah 3/266)
Namun kebaikan Abdullah bin Ju’dan ini tidaklah bermanfaat bagi dirinya. Dalam hadits, 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā pernah bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟
"Yā Rasūlullāh, bagaimana dengan 'Abdullāh bin Jud'an, waktu di zaman jahiliyah ia menyambung silaturahim, memberi makan kepada orang miskin, apakah bermanfaat bagi dia kebaikannya?
Nabi berkata:
لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
"Tidak bermanfaat, dia sama sekali tidak pernah berdo'a kepada Allāh: Yā Allāh ampunilah dosa-dosaku pada hari kiamat kelak." (HR Muslim no 214)
Dia mati dalam keadaan musyrik sama seperti 'Amr bin Luhay, meskipun mereka adalah orang yang sangat dermawan.
Diantara pembesar Arab jahiliyah lainnya yang sangat dermawan adalah Al-Hātim, ayahnya Adi bin Hātim. Hātim seorang yang sangat dermawan bahkan sering disebutkan cerita-cerita tentang kedermawannya, sampai-sampai dijadikan permisalan kedermawanan orang Arab. Anaknya, Adi bin Hātim masuk Islam dan menjadi salah satu shāhabat Nabi ﷺ. Anaknya pernah bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أَبِي كَانَ يَصِلُ الرَّحْمِ، وَيَفْعَلُ وَيَفْعَلُ، فَهَلْ لَهُ فِي ذَلِكَ يَعْنِي مِنْ أَجْرٍ؟
"Yā Rasūlullāh, ayahku dulu menyambung silaturahim dan dia melakukan ini dan ini, apakah dia dapat pahala?"
Maka kata Nabi:
إِنَّ أَبَاكَ طَلَبَ أَمْرًا، فَأَصَابَهُ
"Sesungguhnya ayahmu melakukan itu semua karena dia mencari sesuatu dan dia mendapatkan sesuatu tersebut." (HR Ahmad no 19387).
Dalam riwayat yang lain :
يَعْنِي الذِّكْرَ
"Yaitu (ayahmu) ingin disebut-sebut (dipuji)." (HR Ahmad no 18262, Ibnu Hibban no 332, Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro no 15019)
Inilah diantara kebaikan-kebaikan orang Arab meskipun mereka di zaman jahiliyyah.
Diantara sifat baik dan mulia orang Arab jahiliyyah yang lain adalah:
• menepati janji
• keberanian yang dimilikinya
• kejujuran (dusta merupakan perkara yang sangat menjatuhkan harga diri seseorang, mereka sangat menjunjung tinggi kejujuran meskipun menimbulkan kerusakan yang lain)
Dari sini, kita tahu bahwasanya kondisi orang Arab dari sisi agama dan akhlak sangat parah dan rusak, meskipun ada beberapa sisi akhlak yang baik. Oleh karena itu, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR Ahmad no 8952, al-Hakim dalam al-Mustadrok no 422, dan Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no 273 dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Artinya, sebelum beliau diutus sudah ada akhlak mulia dan beliau hanya diperintahkan untuk menyempurnakannya. Karena kondisi semacam inilah merupakan waktu yang tepat untuk diutusnya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam demi memperbaharui agama nenek moyangnya yaitu agama Nabi Ibrāhīm 'alayhissalām dan agama Nabi Ismā'īl 'alayhissalām, agama tauhid.

Wabillahi taupiq wall hidayyah
Wassalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Jakarta, 22-01-1439 H / 12-10-2017 M
Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja
Sumber : www.firanda.com
Dibagikan Ulang : Taupiq Sanusi ( Taufik )
Komunitas Face Book : Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
Photo

Post has shared content
Beberapa Kesalahan dalam Berdoa
Qonitah Edisi 07, Wirid

Beberapa Kesalahan dalam Berdoa
Al-Ustadz Idral Harits

Assalaamu’allaikum warahmatullahi Wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim.

Doa adalah ibadah yang utama dan mulia karena di dalamnya terlihat nyata kehambaan seseorang dan sikap kebergantungannya. Doa adalah pengakuan akan rububiyyah Allah subhanahu wa ta’ala . Rasa butuh seorang mukmin kepada Allah subhanahu wa ta’ala mendorongnya untuk mengakui rububiyyah Allah dan kehambaan dirinya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala . Oleh karena itu, setiap orang yang berdoa hendaknya memerhatikan masalah ini agar dia tidak mengotori doanya sehingga terhalang untuk dikabulkan.
Namun, kenyataannya, masih banyak kaum muslimin yang melakukan kekeliruan ketika berdoa. Sebagian mereka terjerumus ke dalam syirik akbar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam dan kekal di neraka jika meninggal dunia sebelum bertobat darinya. Ada pula yang menyimpang dalam berdoa, entah dengan ifrath (berlebihan) ketika berdoa atau dengan tafrith (meremehkan) sehingga tidak berdoa sama sekali. Padahal, melalui kedua cara inilah setan berusaha menghancurkan manusia, dan dia tidak peduli dari sisi mana dia memperoleh kemenangan.
Dalam pembahasan ini akan kita uraikan beberapa kekeliruan yang mungkin pernah kita lakukan ketika berdoa, khususnya kedua hal di atas. Kesalahan (i’tida`) dalam berdoa menghalangi terkabulnya doa, sebagaimana disebutkan oleh hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang telah lalu (lihat pembahasan “Penghalang Terkabulnya Doa” pada edisi sebelumnya, ed.). Dalam hadits tersebut ditegaskan bahwa doa itu pasti dikabulkan, tetapi dengan ketentuan harus menjauhi sikap i’tida` yang menghalangi terkabulnya doa tersebut. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ
“…tidak mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi....”[1]
Kesalahan dalam berdoa dapat terjadi dalam beberapa bentuk, baik terkait dengan cara meminta (berdoa) maupun sesuatu yang diminta.
Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi ketika berdoa.
• Berdoa dengan bacaan yang tidak terdapat dalam al-Qur’anul Karim dan as-Sunnah, lalu membuatnya sebagai syair atau sajak, dan tidak mau menggunakan lafadz yang biasa diucapkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,
قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ اْلأَيْمَنِ، وَقُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. فَإِنْ مُتَّ، مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ. فَقُلْتُ: أَسْتَذْكِرُهُنَّ: وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. قَالَ: لَا، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepadaku, “Kalau engkau hendak mendatangi pembaringanmu, berwudhulah seperti ketika hendak shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan tubuhmu, lalu bacalah,
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
‘Ya Allah, kuserahkan jiwaku kepada-Mu, kuhadapkan wajahku kepada-Mu, kupasrahkan urusanku kepada-Mu, dan kusandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu selain hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.’
Kalau engkau mati (sesudah itu), niscaya engkau mati di atas fitrah (Islam). Oleh sebab itu, jadikanlah kalimat ini sebagai ucapan terakhirmu.”
Saya menyebutkan kembali bacaan-bacaan doa tersebut, lalu saya katakan, “(Aku beriman) kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus.”
Beliau bersabda, “Bukan begitu, melainkan ‘(aku beriman) kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus’.”[2]
Tindakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menyalahkan ucapan al-Bara’ “rasul” sebagai ganti “nabi” mengandung hikmah bahwa lafadz-lafadz zikir bersifat tauqifiyyah (berdasarkan dalil, -ed.) dan memiliki keistimewaan serta rahasia yang tidak mungkin disisipi oleh kias, sehingga wajib dibaca sesuai dengan lafadz aslinya.[3]
Dari sini jelaslah betapa kelirunya orang yang menambah atau mengurangi lafadz doa yang diriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam walaupun maknanya benar. Minimalnya, dia kehilangan pahala sikap ittiba’ (meneladani) Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dalam berdoa.
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Oleh sebab itu, tidak ada hak bagi siapa pun untuk meninggalkan doa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam lalu memilih ungkapan-ungkapan lain.”
Beliau melanjutkan, “Akan tetapi, setan berhasil menguasai sebagian manusia lalu menggiring orang-orang yang berperilaku buruk dan membuat-buat doa baru sehingga melalaikan mereka dari meneladani Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam. Lebih buruk daripada itu, mereka berani menisbahkan doa-doa tersebut kepada para nabi dan orang-orang saleh.”[4]
• Melagukan bacaan doa.
Al-Munawi, dalam Faidhul Qadir, menukil keterangan dari Kamal bin Humam yang menyebutkan bahwa lagu dan irama yang dikenal oleh kaum muslimin saat ini tidak menjadi upaya pelaksanaan ibadah (doa). Sebab, perbuatan ini justru mendorong untuk ditolaknya ibadah (doa).[5]
• Meminta secara rinci dan bertele-tele.
Dari Abu Na’amah, dari putra Sa’d, dia berkata, “Ayahku mendengarku berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعِيمَهَا وَبَهْجَتَهَا وَكَذَا وَكَذَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَسَلَاسِلِهَا وَأَغْلَالِهَا وَكَذَا وَكَذَا. فَقَالَ: يَا بُنَيَّ، إنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: سَيَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ. فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ، إنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَ الْجَنَّةَ أُعْطِيتَهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْخَيْرِ، وَإنْ أُعِذْتَ مِنَ النَّارِ أُعِذْتَ مِنْهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الشَّرِّ
“Ya Allah, saya meminta kepada-Mu surga, kenikmatannya, kesenangannya, ini dan itu. Saya juga berlindung kepada-Mu dari neraka, rantai-rantai dan belenggunya, ini dan itu.”
Berkatalah ayahku, “Wahai Ananda, sungguh, saya pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Kelak ada suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa.’ Maka dari itu, hati-hatilah, jangan sampai engkau termasuk golongan mereka. Sesungguhnya kalau engkau diberi surga, pasti engkau diberi surga berikut semua kebaikan yang ada di dalamnya; dan jika engkau dilindungi dari neraka, niscaya engkau dilindungi darinya berikut semua kejelekan yang ada di dalamnya.”[6]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v menerangkan bahwa tidak semua doa itu diperbolehkan. Ada doa yang mengandung sikap berlebihan yang diharamkan. Adapun doa-doa yang berasal dari al-Qur’an, jelas tidak mengandung sikap berlebihan ini.
Melampaui batas dalam berdoa kadang terjadi pada lafadz yang panjang/bertele-tele, dan kadang terjadi pada maknanya, sebagaimana ditafsirkan oleh sahabat (dalam kisah di atas).[7]
Bunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam sangat menyukai kalimat yang ringkas dan padat dalam berdoa serta meninggalkan ungkapan yang tidak demikian.[8]
Termasuk i’tida` adalah memaksakan diri membuat irama ketika berdoa. Sebagian ulama memakruhkan sajak dalam berdoa jika dilakukan dengan memaksakan diri, bukan karena asli dari lafadz doa.[9]
• Meminta sesuatu yang tidak boleh diminta oleh seorang manusia. Misalnya, meminta kedudukan sebagai nabi, meminta kemudahan melakukan pekerjaan yang haram, meminta dikekalkan sampai hari kiamat, meminta agar keluar dari sifat asalnya sebagai manusia, atau meminta dijadikan sebagai orang yang maksum.
Semua doa yang bertentangan dengan hikmah Allah, atau berisi hal-hal yang menyelisihi perintah dan larangan-Nya, termasuk i’tida`.
1. Mengeraskan suara dan menangis secara berlebihan ketika berdoa.[10]
2. Berdoa kepada sesuatu selain Allah subhanahu wa ta’ala . Inilah i’tida` yang paling buruk dan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala .
3. Berdoa tanpa sikap merendahkan diri dan tunduk, ogah-ogahan; atau mendikte Allah, seolah-olah dia sudah berbuat sesuatu untuk “kepentingan” Allah sehingga Allah wajib mengabulkan permintaannya.
4. Beribadah kepada Allah dengan mengamalkan sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala , seperti menari-nari, dan sebagainya.
5. Berdoa dalam keadaan tidak merasa butuh terhadap sesuatu yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala .
6. Berdoa meminta disegerakannya azab.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah membesuk seorang sahabat yang kondisinya lemah seperti anak burung. Melihat kondisinya itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَيْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ؟ قَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَقُولُ: اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي بِهِ فِي اْلآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِي فِي الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سُبْحَانَ اللهِ، لَا تُطِيقُهُ أَوْ لَا تَسْتَطِيعُهُ، أَفَلَا قُلْتَ: اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ؟ قَالَ: فَدَعَا اللهَ لَهُ فَشَفَاهُ
“Apakah engkau pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah tentang keadaan ini?” “Ya,” jawab sahabat tersebut, “Saya berdoa, ‘Ya Allah, kalau Engkau menyiksaku karena ini di akhirat, segerakanlah untukku azab itu di dunia’.”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Mahasuci Allah, engkau tidak akan sanggup atau tidak mampu merasakannya. Mengapa engkau tidak berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah untuk kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka’?”
Sahabat itu pun berdoa dengan kalimat ini kepada Allah, lalu Allah menyembuhkannya.[11]
Adapun banyak-banyak berdoa atau sering-sering meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala tidak termasuk i’tida` dalam berdoa. Perhatikanlah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,
إِذَا سَأَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيُكْثِرْ، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ رَبَّهُ
“Apabila salah seorang dari kalian meminta (berdoa), hendaklah dia memperbanyak doanya karena sesungguhnya dia sedang meminta kepada Rabbnya.”[12]
Jadi, semakin sering dan banyak meminta kepada Allah, semakin jelas kehambaan dan hajat seseorang kepada Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعٗا وَخُفۡيَةًۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ ٥٥
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al–A’raf: 55)
Al–mu’tadi ialah orang yang melampaui batas dan melakukan hal-hal yang dilarang. Demikian menurut keterangan al-Qurthubi dalam Tafsir-nya.
Jadi, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas yang telah ditetapkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dalam hal doa dan permintaannya kepada Allah.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda,
إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الطَّهُورِ وَالدُّعَاءِ
“Sesungguhnya akan ada di umat ini suatu kaum yang melampaui batas dalam hal bersuci dan berdoa.”[13]
Termasuk sikap i’tida` juga adalah memintakan ampunan untuk orang yang mati dalam keadaan musyrik; atau meminta agar dibantu dalam hal kesyirikan, kekafiran, dan kefasikan.[14]
Yang jelas, semua yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam—khususnya yang terkait dengan lafadz doa atau cara melakukannya—dapat dikatakan sebagai perbuatan i’tida` dalam berdoa.[15]
Wallahu a’lam.
Wabillahi taupiq wall hidayyah
Wassalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Sumber : Majalah Qonitah Edisi 07 Wirid
Dibagikan ulang : Taupiq Sanusi (Taufik)
Face Nook : Komunitas Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com

[1] Lihat Tafsir al–Qurthubi tentang ayat ini.
[2] HR. al-Imam al-Bukhari (al–Fath 11/113) dan Muslim (4/2081).
[3] Majmu’ al-Fatawa (22/299).
[4] Al–Futuhat ar–Rabbaniyyah (7/11).
[5] Faidhul Qadir (1/291), dengan ringkas.
[6] Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1313).
[7] Majmu’ al-Fatawa (22/277).
[8] Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1315).
[9] Al-I’tida` fid Du’a (hlm. 26).
[10] Fathul Bari (8/198).
[11] HR. Muslim (no. 4853).
[12] Lihat Shahihul Jami’ (437).
[13] HR. Abu Dawud, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (87).
[14] Lihat Majmu’ al-Fatawa (1/130).
[15] Lihat Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar (2/71).
Photo

Post has shared content
Khadijah, Kekasih Sepanjang Masa Rasulullah
Posted: 07 Oct 2017 07:05 AM PDT

KEKASIH Sepanjang MASA
Oleh : Ustadzah Ummu Abdillah Shafa.

Assalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim

Siapa orangnya yang tidak ingin dikenang oleh orang yang dicintainya. Selalu diingat di hatinya, sering kali disebut namanya di lisannya, sekalipun yang dikenang telah lama tiada, mendahului berpulang keharibaan-Nya. Ibarat kekasih, dialah kekasih sepanjang masa. Tak dapat tergantikan di hati walaupun telah ada yang lain menemani.

Tak dapat terlupakan di ingatan walaupun telah berlalu banyak peristiwa. Rasa cinta kepadanya tidak terputus hanya karena terpisahkan kematian. Sungguh beruntung seseorang yang mendapatkan kasih sayang seperti itu.

Tentu ada sebab khusus yang membuat seseorang menjadi begitu berarti di hati orang lain. Namun, demikianlah kiranya jika kita mau menggambarkan rasa cinta dan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri pertama beliau. Dia adalah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha.

Jikalau kita memerhatikan kisah perjalanan kehidupan Khadijah bintu Khuwailid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita tidak akan merasa heran mengapa Khadijah radhiyallahu ‘anha mendapatkan tempat yang begitu mendalam di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebelum Allah mempertemukan mereka berdua, Khadijah memang sudah menjadi sesosok wanita yang matang dan pantas untuk menjadi pendamping pemimpin umat ini. Khadijah adalah seorang wanita yang mempunyai paras rupawan, mempunyai nasab yang mulia, memiliki harta, dan memiliki kematangan serta kedewasaan yang melebihi wanita yang lain di kalangan kaumnya.

Allah subhanahu wa ta’ala takdirkan pertemuan antara mereka berdua tentu bukan tanpa maksud. Risalah yang akan Allah embankan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah perkara yang ringan. Bahkan menanti di hadapannya berbagai gangguan dan rintangan yang harus dihadapi.

Mungkin itulah salah satu hikmah Allah subhanahu wa ta’ala memilihkan bagi Rasul-Nya Khadijah sebagai pendamping pertama dalam kehidupan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam muda memang terkenal kebagusan akhlak dan kejujurannya, sehingga tertariklah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha yang ketika itu dalam keadaan menjanda untuk memperkerjakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semakin lama bekerja bersamanya, semakin terlihat pesona kepribadian anak muda tersebut. Bahkan kekaguman Khadijah terhadap diri Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalahkan pandangan dan penilaiannya kepada para pembesar Quraisy yang tidak sedikit di antara mereka tertarik untuk melamarnya.

Kekaguman yang akhirnya berbuah kecondongan yang ada dalam hati Khadijah terhadap diri Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata tertangkap oleh shahabat Khadijah yaitu Nafisah bintu Munyah. Maka Nafisah kemudian mencoba mengutarakan hal tersebut ke hadapan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Takdir Allah memang mesti terlaksana. Sekalipun perbedaan usia antara Khadijah dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu berpaut umur yang cukup jauh, Allah memberikan kecondongan pula di hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam muda untuk menerima penawaran Nafisah yang meminta beliau menikahi Khadijah bintu Khuwailid.

Khadijah bintu Khuwailid yang ketika itu berusia 40 tahun, sedangkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 25 tahun.

Sungguh sebuah pernikahan yang mengandung banyak hikmah di dalamnya. Kebahagiaan demi kebahagiaan menyelimuti pernikahan mereka berdua. Lahirlah dari keduanya putra putri penyejuk hati. Al Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Khultsum, Fatimah, dan Abdullah. Sehingga jadilah kehidupan mereka penuh dengan rasa syukur dan limpahan rahmat dari Sang Maha Kuasa.

Kemapanan hidup yang mereka rasakan Allah jadikan salah satu sebab yang membawa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam muda dapat memaksimalkan dirinya mencari hakekat kehidupan di dunia. Kebersihan fitrah yang Allah berikan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak kecil hingga dewasa, terus berlanjut hingga beliau berkeluarga.

Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali memanfaatkan waktunya untuk menyendiri dari keramaian manusia untuk merenungi kebesaran dan keagungan penguasa semesta alam, menjauh dari segala kemusyrikan peribadatan yang dilakukan oleh kaumnya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali pergi ke Gua Hira di Jabal Nur, sebuah gua yang tidak terlalu besar, yang berjarak kurang lebih dua mil dari Kota Mekkah.

Sampai akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala kemudian berkehendak mengangkat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi seorang nabi dan Rasul di usia 40 tahun.

Di dalam keremangan Gua Hira, di bulan Ramadhan, datanglah malaikat kepada beliau seraya berkata “Bacalah!” Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Malaikat tersebut mengulangi perintahnya hingga ketiga kalinya, kemudian memegangi dan merangkul beliau hingga beliau merasa sesak kemudian melepaskan beliau dan berkata:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِنْ عَلَقٍ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ عَلَّمَ ٱلْإِنسَـٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” [QS. Al Alaq 1-5]

Dengan perasaan yang masih penuh dengan ketakutan, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti bacaan tersebut. Setelah peristiwa itu berlalu, maka pulanglah beliau dengan badan menggigil dan gemetar berkata kepada istrinya Khadijah, “Selimutilah aku, selimutilah aku!”.

Maka Khadijah radhiyallahu ‘anha sebagai soerang istri yang ketika itu telah berusia 55 tahun dapat berperan dengan baik untuk menenangkan dan menghibur hati suami yang sedang dilanda ketakutan.

Setelah dapat menenangkan diri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan apa yang telah terjadi, dan beliau mengutarakan kekhawatiran beliau terhadap dirinya sendiri, khawatir telah mengganggu pikiran dan kejiwaannya.

Maka Khadijah radhiyallahu ‘anha sebagai seorang istri yang sangat mengenal suaminya, berkata menenangkan, “Tidak demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau adalah orang yang suka menyambung tali persaudaraan, senang meringankan beban orang lain, senang memberi makan orang miskin, senang menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran.”

Maka Khadijah membawa suaminya pergi mengunjungi anak pamannya yang dikenal taat beragama, yaitu Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza. Waraqah adalah seorang Nasrani yang taat. Dia mengerti kitab Injil dan membacanya. Dia seorang yang tua dan buta.

Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan apa yang beliau alami, serta merta Waraqah berkata, “Itu adalah Namus, (Malaikat Jibril) yang diturunkan Allah kepada Musa. Andai saja aku masih muda pada saat itu, andai aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu…” “Benarkah mereka akan mengusirku?” Tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Benar, tidak ada seorangpun yang pernah membawa seperti yang akan engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada saat itu tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh,” ujar Waraqah meyakinkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Waraqah berkata demikian karena ia memahami apa yang dijanjikan Allah dalam kitab-kitab sebelumnya yaitu Taurat dan Injil, akan datang seorang nabi terakhir, penutup para nabi, dengan tanda-tanda yang dapat dikenali bagi yang mengetahui. Tapi takdir Allah menetapkan Waraqah tidak hidup lama setelahnya. Waraqah wafat pada saat-saat awal turunnya wahyu.

Setelah mendapatkan penjelasan dari Waraqah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sedikit tenang dan mulai tumbuh keyakinan di dalam diri beliau akan benarnya perkataan Waraqah. Akan tetapi perkara ini tidak berlalu begitu saja. Beberapa saat setelah wahyu yang pertama turun, beliau kembali berjumpa dengan malaikat yang menjumpai beliau di Gua Hira, dan turunlah kepada beliau Al Qur’an Surat Al Mudatsir: 1-7,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْمُدَّثِّرُ ۝١ قُمْ فَأَنذِرْ ۝٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۝٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۝٤ وَٱلرُّجْزَ فَٱهْجُرْ ۝٥ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ ۝٦ وَلِرَبِّكَ فَٱصْبِرْ ۝٧

“Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”

Maka dengan turunnya surat tersebut, tetaplah sudah perintah bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa wajib bagi beliau untuk memberikan peringatan kepada kaumnya, bahkan kepada umat manusia semuanya, untuk mengajari mereka menauhidkan Allah semata dalam setiap peribadatan, dan untuk memberi peringatan akan bahayanya menyekutukan Allah dalam perkara tersebut.

Tentu pihak pertama yang diharapkan dukungannya adalah keluarga tercinta yaitu istri dan anak-anak beliau. Maka Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, disusul ke empat putri mereka, Zainab, Ruqayyah, Ummu Khultsum, dan Fathimah. Sementara kedua putra mereka wafat dalam usia kanak-kanak. Kemudian mengikuti mereka, maula beliau Zaid bin Haritsah, kemudian anak paman beliau Ali bin Abi Thalib dan shahabat beliau Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhum.

Perjalanan dakwah baru dimulai. Apa yang dikatakan Waraqah terbukti sebagaimana tersebut dalam kitab terdahulu. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditentang, dihalangi dilecehkan bahkan diberikan gangguan-gangguan yang menyakitkan. Tapi yang demikian itulah sunnatullah.

Ketetapan Allah yang mesti terjadi. Dan gangguan itu adalah ujian dari Allah atas keimanan mereka. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الٓمٓ ۝١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝٢﴾وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَـٰذِبِينَ ۝٣

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.” [Q.S. Al Ankabut: 1-3].

Demikianlah. Masa-masa awal kenabian adalah masa perjuangan yang sangat berat. Celaan, hinaan, gangguan kepada keluarga Rasulullah semakin menjadi. Khadijah binti Khuwailid menghadapi segala keadaan dengan penuh kesabaran. Dengan segenap kemampuan dicurahkannya perhatian, dan dukungan kepada suaminya dari segala sisi. Hartanya, jiwanya, pikiran, tenaga, dan hatinya tertuju pada dakwah yang dibawa oleh suaminya.

Tidak pernah tebersit di dalam benaknya untuk mundur ke belakang, setelah mengetahui rintangan yang harus dihadapi. Bantuannya yang besar dalam mendukung dan meneguhkan hati suaminya menghadapi berbagai rintangan membuat perannya sungguh tidak mungkin terlupakan, menetap dan senantiasa terkenang di sudut hati Rasulullah yang paling dalam.

Bahkan ketika kafir Quraisy sepakat memboikot Bani Hasyim dan Bani Al Muthallib karena sebab dukungan dan pembelaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah radhiyallahu ‘anha senantiasa berada di sisi suaminya menghadapi masa-masa sulit tersebut. Sekalipun ketika itu usia Khadijah sudah melebihi 60 tahun.

Tiga tahun masa pemboikotan sungguh menjadi masa yang panjang disebabkan keadaan yang benar-benar sulit. Musyrikin Quraisy tidak membiarkan ada barang dagangan masuk ke dalam Makkah kecuali mereka pasti memborongnya agar Bani Hasyim dan Bani Al Muthallib tidak mendapatkan suatu apapun untuk kebutuhan mereka.

Harga dibuat menjadi begitu tinggi ketika barang telah berada di tangan mereka hingga Bani Hasyim tidak mampu membelinya. Rintihan kelaparan terdengar dari perkampungan mereka. Tetapi Rasulullah tetap berdakwah menyeru mereka kepada Islam.

Hingga akhirnya pada bulan Muharram tahun ke sepuluh dari nubuwwah, piagam pemboikotan yang mereka buat Allah takdirkan terkoyak. Allah memberikan pertolongan dan menuntaskan ujian kepada orang-orang yang beriman dengan kehendak-Nya. Musyrikin Quraisy menyaksikan sendiri piagam tersebut termakan rayap, dan terhapuslah isinya kecuali sepenggal tulisan bertuliskan “Bismika Allahumma” dan setiap tulisan yang ada kata Allah di dalamnya. SubhanAllah… Dan akhirnya musyrikin Quraisy memutuskan untuk menghentikan pemboikotan yang mereka lakukan.

Pemboikotan yang panjang memberikan dampak yang cukup besar bagi kesehatan Abu Thalib paman Rasulullah dan juga istri beliau Khadijah radhiyallahu ‘anha yang ketika itu telah berusia lanjut.

Keduanya tertimpa sakit yang cukup serius, bahkan kurang lebih 6 bulan setelah pemboikotan tersebut, Abu Thalib wafat. Sayangnya, Abu Thalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa membantu dan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mati dalam keadaan kafir, masih berpegang kepada agama nenek moyangnya. Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Teman-teman Abu Thalib senantiasa mendampinginya di saat-saat akhir kehidupannya, sehingga sulit bagi Abu Thalib untuk meninggalkan agama nenek moyangnya disebabkan kecondongannya kepada teman-temannya yang buruk. Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari teman-teman yang buruk.

Kurang lebih 3 bulan setelah kematian Abu Thalib, Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha wafat, tepatnya pada bulan Ramadhan tahun ke sepuluh nubuwwah, pada usia 65 tahun.

Sungguh tahun yang penuh duka bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kehilangan dua sosok yang selama ini sangat berperan di dalam kehidupan beliau. Terutama Khadijah. Dia adalah sosok pendamping setia, menyayangi sepenuh hati, menenangkan di kala gundah, membantu di kala susah, senantiasa bersama dalam suka dan duka. Pantaslah kiranya kenangan bersamanya tidak mungkin terlupakan. Bahkan teriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memuji Khadijah yang artinya, “Dia beriman kepadaku saat semua mengingkariku, dia membenarkanku saat semua mendustakanku, dia menyerahkan hartanya kepadaku saat semua tidak mau memberikannya, dan Allah mengkaruniakan kepadaku anak darinya yang Allah tidak memberikannya kepadaku dari wanita selainnya.” SubhanAllah…

Bukan hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan pujian dan pernyataan akan kebaikan Khadijah, tapi Jibril ‘alaihis salam pun pernah menyampaikan salam dan kabar gembira dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Khadijah akan adanya balasan baginya di surga dalam keadaan dia masih hidup.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Jibril ‘alaihis salam datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah Khadijah, dia datang kepadamu membawa bejana yang di dalamnya terdapat lauk, makanan dan minuman. Maka jika dia mendatangimu sampaikan salam kepadanya dari Rabb-nya dan dariku, dan sampaikan kabar gembira kepadanya tentang sebuah rumah di surga yang tidak ada kegaduhan di dalamnya dan tidak pula keletihan.” SubhanAllah.

Rasa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Khadijah radhiyallahu ‘anha tampak jelas terlihat. Sepeninggal Khadijah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali mengunjungi orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat dan kedekatan kepada Khadijah di masa hidupnya, sebagai bentuk menyambung tali kasih sayang dengan orang-orang yang pernah dekat dengan Khadijah.

Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih seekor kambing, beliau tidak lupa untuk menghadiahkan sebagiannya pada orang-orang terdekat Khadijah. Hal tersebut terasakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri tercinta Rasulullah sepeninggal Khadijah. Bahkan tak elak muncul kecemburuan dalam diri Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
“Tidaklah aku pernah cemburu kepada seorang wanita sebagaimana kecemburuanku kepada Khadijah. Sungguh dia telah wafat 3 tahun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku, (akan tetapi) aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali menyebutnya.”

Pantaslah kiranya kasih dan sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Khadijah radhiyallahu ‘anha terus terjaga sepeninggalnya. Kemuliaan Khadijah bukan hanya semata untuk meraih kecintaan suami, tapi didasari keimanan yang kuat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wanita yang mulia di sisi Rabbnya pantas mendapatkan balasan setimpal di dunia berupa kasih sayang yang besar dari suaminya, dan balasan di akhirat kelak berupa surga-Nya. Dan sudah sepantasnya pula wanita setelahnya menjadikannya sebagai suri teladan, dan mengambil pelajaran dari pelajaran hidupnya yang penuh kemuliaan. Semoga kita dimudahkan… amin.

Wabillahi taupiq wall hidayyah
Wassalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Sumber: Majalah Qudwah edisi 52 vol.05 1439 H dari http://ismailibnuisa.blogspot.co.id
Diposkan : Happy Islam
Dibagikan Ulang : Taupiq Sanusi ( Taufik )
Komunitas Face Book : Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
Photo

Post has shared content
Sirah Nabi 6 - Kondisi Moral Bangsa Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ
Kategori: Sirah Diterbitkan pada 09 October 2017

Kondisi Moral Bangsa Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim.


Adapun kondisi moral (akhlak) di kota Mekkah sebelum datangnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, orang-orang Mekkah dikenal sebagai orang-orang yang suka minum khamr. Banyak sekali syair-syair jahiliyyah yang isinya puji-pujian terhadap khamr. Lantaran betapa mendarah dagingnya khamr di masyarakat Makkah saat itu, sampai-sampai Allah menurunkan ayat yang mengharamkan khamr secara bertahap, tidak secara langsung sekaligus. Karena khamr adalah kebiasaan orang-orang Arab yang mandarah daging. Sebagaimana kebiasaan yang lain yaitu main judi.
Oleh karena itu, Allāh Subhānahu wa Ta'āla menurunkan firman-Nya:
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ
"Sesungguhnya syaithan ingin mengadu domba, menumbuhkan permusuhan dalam khamr dan perjudian..." (QS Al-Māidah : 91)
Kebiasaan buruk mereka yang lain adalah:
• praktek riba
• praktek menikahi bekas istri bapak mereka.
Padahal Allah Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
وَلا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ
"Janganlah kalian menikahi bekas istri bapak kalian." (QS An-Nisā : 22)
• praktek menikahi kakak beradik sekaligus.
Allah Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ
“(Diharamkan atas kamu mengawini) .. dengan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.” (QS An-Nisaa' : 23)
Ada lagi bentuk keanehan menikah yang mereka lakukan, seperti yang diceritakan oleh Ibunda 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā.
كَانَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْحَاءٍ فَنِكَاحٌ مِنْهَا نِكَاحُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَخْطُبُ الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ وَلِيَّتَهُ أَوْ ابْنَتَهُ فَيُصْدِقُهَا ثُمَّ يَنْكِحُهَا وَنِكَاحٌ آخَرُ كَانَ الرَّجُل يَقُولُ لِامْرَأَتِهِ إِذَا طَهُرَتْ مِنْ طَمْثِهَا أَرْسِلِي إِلَى فُلَانٍ فَاسْتَبْضِعِي مِنْهُ وَيَعْتَزِلُهَا زَوْجُهَا وَلَا يَمَسُّهَا أَبَدًا حَتَّى يَتَبَيَّنَ حَمْلُهَا مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي تَسْتَبْضِعُ مِنْهُ فَإِذَا تَبَيَّنَ حَمْلُهَا أَصَابَهَا زَوْجُهَا إِذَا أَحَبَّ وَإِنَّمَا يَفْعَلُ ذَلِكَ رَغْبَةً فِي نَجَابَةِ الْوَلَدِ فَكَانَ هَذَا النِّكَاحُ نِكَاحَ الِاسْتِبْضَاعِ وَنِكَاحٌ آخَرُ يَجْتَمِعُ الرَّهْطُ مَا دُونَ الْعَشَرَةِ فَيَدْخُلُونَ عَلَى الْمَرْأَةِ كُلُّهُمْ يُصِيبُهَا فَإِذَا حَمَلَتْ وَوَضَعَتْ وَمَرَّ عَلَيْهَا لَيَالٍ بَعْدَ أَنْ تَضَعَ حَمْلَهَا أَرْسَلَتْ إِلَيْهِمْ فَلَمْ يَسْتَطِعْ رَجُلٌ مِنْهُمْ أَنْ يَمْتَنِعَ حَتَّى يَجْتَمِعُوا عِنْدَهَا تَقُولُ لَهُمْ قَدْ عَرَفْتُمْ الَّذِي كَانَ مِنْ أَمْرِكُمْ وَقَدْ وَلَدْتُ فَهُوَ ابْنُكَ يَا فُلَانُ تُسَمِّي مَنْ أَحَبَّتْ بِاسْمِهِ فَيَلْحَقُ بِهِ وَلَدُهَا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْتَنِعَ بِهِ الرَّجُلُ وَنِكَاحُ الرَّابِعِ يَجْتَمِعُ النَّاسُ الْكَثِيرُ فَيَدْخُلُونَ عَلَى الْمَرْأَةِ لَا تَمْتَنِعُ مِمَّنْ جَاءَهَا وَهُنَّ الْبَغَايَا كُنَّ يَنْصِبْنَ عَلَى أَبْوَابِهِنَّ رَايَاتٍ تَكُونُ عَلَمًا فَمَنْ أَرَادَهُنَّ دَخَلَ عَلَيْهِنَّ فَإِذَا حَمَلَتْ إِحْدَاهُنَّ وَوَضَعَتْ حَمْلَهَا جُمِعُوا لَهَا وَدَعَوْا لَهُمْ الْقَافَةَ ثُمَّ أَلْحَقُوا وَلَدَهَا بِالَّذِي يَرَوْنَ فَالْتَاطَ بِهِ وَدُعِيَ ابْنَهُ لَا يَمْتَنِعُ مِنْ ذَلِكَ فَلَمَّا بُعِثَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ هَدَمَ نِكَاحَ الْجَاهِلِيَّةِ كُلَّهُ إِلَّا نِكَاحَ النَّاسِ الْيَوْمَ

'Āisyah berkata: "Sesungguhnya pernikahan pada zaman jahiliyyah ada 4 model:
⑴ Sebagaimana nikahnya orang sekarang, yaitu seorang datang melamar kepada calon mertua untuk menikahi anaknya.
⑵ Nikah istibdha' yaitu seorang lelaki yang tatkala istrinya haidh, dia tunggu sampai istrinya suci dari haidh. Setelah suci, istrinya diutus kepada lelaki yang terkenal hebat yang ingin mencari keturunan.
(Para ulama mengatakan, perbuatan semacam ini dilakukan oleh bukan orang Asyraf (Quraisy) tetapi kabilah-kabilah dengan nasab rendah. Setelah digauli oleh lelaki lain yang dinilai hebat, suaminya tidak boleh langsung menggauli istrinya sampai tahu bahwa istrinya hamil -pen)
⑶ Nikah borongan, yaitu sekelompok orang lelaki (kurang dari 10 orang), mereka mendatangi seorang wanita dan semuanya menggauli wanita tersebut. Setelah wanita itu hamil dan melahirkan, maka wanita itu boleh memilih siapa bapaknya dan lelaki itu tidak boleh menolak meskipun wajahnya mirip dengan lelaki yang lain.
⑷ Pernikahan terhadap wanita pezina.
Dahulu wanita pezina memiliki ciri khusus, terdapat bendera merah di rumahnya, mengisyaratkan bahwa dia siap dizinahi. Maka datanglah banyak lelaki untuk menzinai dan akhirnya hamil lalu melahirkan. Kemudian dilihat wajah anaknya mirip dengan lelaki mana yang pernah menggaulinya, maka itulah bapaknya.
Inilah model nikah yang pernah terjadi di zaman jahiliyyah.
Apa yang dituturkan ibunda Aisyah radhiallahu 'anha juga mengisyaratkan akan tersebarnya zina sebelum diutusnya Nabi Muhammad. Saking tersebarnya, sampai-sampai zina merupakan perkara biasa bahkan menjadi tradisi di tengah-tengah mereka, sehingga tidak lagi dianggap sebagai kemungkaran di mata mereka. Telah menjadi kebiasaan mereka, seorang lelaki yang memiliki kekasih-kekasih zina tanpa pernikahan. Allah mengisyaratkan hal tersebut dalam firmanNya :
وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ
”(Dan dihalalkan mengawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik.” (QS Al-Maidah : 5)

Sebaliknya tersebar pula wanita yang bisa memiliki banyak pacar lelaki untuk berzina dengan mereka tanpa hubungan akad nikah, sebagaimana yang Allah isyaratkan dalam firmanNya :
فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ
“Kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedangkan merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya.” (QS An-Nisaa' : 25)

Bahkan sebagian wanita dipaksa untuk berzina. Demikian juga sebagian budak wanita yang dipaksa oleh majikannya untuk mencari penghasilan dengan berzina.
Allah Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi.” (QS An-Nuur : 33)

Kerusakan moral lain yang terjadi adalah wa'dul banāt, yaitu mengubur anak perempuan hidup-hidup. Diantara sebab kenapa mereka menguburkan anak perempuan hidup-hidup:
⑴ Takut miskin, karena anak wanita tidak bisa kerja, mereka ingin punya anak lelaki yang bisa bekerja dan mencari rizki.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
"Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, Kami yang memberi rizqi kepada kalian dan kepada anak-anak kalian." (QS Al-Isrā : 31)
Firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang lain:
وَإِذَا الْمَوْؤُودَةُ سُئِلَتْ بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ
"Ketika anak-anak wanita dikubur/dibunuh tanpa dosa yang mereka lakukan." (QS At-Takwīr : 8-9)
Itulah sebab mengapa mereka membunuh anak-anak mereka, bahkan telah menjadi adat istiadat mereka.
Disebutkan bahwa pada zaman dahulu, terjadi peperangan antara suatu kabilah dengan kabilah yang lain. Tatkala terjadi pertemuan, putri dari kepala kabilah diambil oleh musuhnya dan ditawan. Dikisahkan bahwa wanita tersebut jatuh cinta kepada salah seorang musuh, akhirnya mereka pun menikah. Ketika ayahnya ingin mengambil anaknya, anaknya tidak mau kembali karena sudah jatuh cinta dan menikah dengan sang musuh tersebut. Ayahnya jengkel dan bersumpah jika memiliki anak perempuan akan dibunuh, dia tidak mau terjadi kehinaan seperti itu lagi. Maka mulailah setiap kali lahir anak perempuan, langsung dibunuh, begitu seterusnya sampai menjadi kebiasaan di kalangan orang Arab, diantara sebabnya adalah takut merasa hina.
⑵ Mereka mengetahui bahwa anak laki-laki akan mendatangkan kekuatan dan bisa berbangga dengan memiliki pengikut laki-laki yang banyak, sedangkan jika pengikutnya banyak wanita maka tidak akan ada faidahnya. Yang bisa berperang hanyalah anak laki-laki, sehingga mereka malu jika punya anak perempuan.
Adapun cara mereka membunuh anak-anak perempuan ada dua cara, sebagaimana dijelaskan para sejarawan, yaitu :
⑴ Begitu lahir langsung dibunuh
⑵ Ditunggu sampai anak tersebut sudah besar, bahkan disebutkan sampai ada laki-laki yang ingin menikahinya baru dibunuh.
Perbuatan ini merupakan kebiadaban yang dilakukan oleh sebagian orang Arab, bukan seluruh orang Arab. Oleh karena itu, para shāhabat tidak dikenal mereka dahulu membunuh anak-anak perempuan mereka. Adapun riwayat bahwasanya 'Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu membunuh anaknya adalah riwayat yang tidak benar. Dan merupakan hal yang sangat mengherankan, benci terhadap anak perempuan itu terwariskan sampai sekarang. Kita dapati sebagian kaum muslimin jika istrinya melahirkan anak perempuan maka dia menjadi jengkel, istrinya dimarahi mengapa melahirkan perempuan, padahal bukan kesalahan istrinya. Bahkan ada yang menceraikan istrinya karena melahirkan anak perempuan terus, kemudian dia menikah lagi. Sehingga, jika ada rasa benci karena dikaruniai anak perempuan maka itu merupakan warisan jahiliyyah.
Oleh karena itu, Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah memuliakan anak wanita, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan "Barangsiapa yang memelihara anak perempuan maka akan menjadi penghalangnya dari neraka." Padahal semua sudah ditakdirkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Allāh Subhānahu wa Ta'āla menyebutkan diantara sifat mereka, bahwasanya jika mereka tidak membunuhnya maka mereka akan menanggung malu.
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ
"Kalau diberi kabar kepada mereka bahwasanya anaknya perempuan maka wajahnya hitam, sembunyi dari kaumnya, apakah dia bunuh atau dia tahan." (QS An-Nahl : 58-59)
Kemudian diantara kerusakan bangsa Arab yang lain adalah sering berperang. Acapkali hanya karena masalah sepele maka meletuslah peperangan. Bahkan disebutkan oleh sejarawan terdapat beberapa macam peperangan dengan nama-namanya yang khusus yang disebabkan oleh alasan sepele. Diantara yang disebutkan oleh ahli sejarah adalah perang Al-Busus yang merupakan perang saudara yang disebabkan karena seekor unta antara Bani Bakr dan Bani Taglib, dimana keduanya (Bakr dan Taglib) adalah putra dari Wail. Pimpinan Bani Bakr memukul seekor unta milik seekor wanita Bani Taglib, yang kemudian menyebabkan unta tersebut berdarah hingga menyebabkan darahnya bercampur dengan susunya (artinya unta tersebut mati), hal ini membuat emosi wanita tersebut dan kemarahan wanita ini bisa membuat marah satu kabilah. Akhirnya terjadilah peperangan selama 40 tahun, dan telah terbunuh ribuan orang hanya gara-gara seekor unta. Awalnya Bani Taglib mengamuk dan membunuh 1 orang dari Bani Bakr. Lalu Bani Bakr tidak terima sehingga terjadilah peperangan, sampai dikenal namanya Harbul Busus, Allāhu a'lam (Busus nama wanita pemilik unta). (Lihat Al-Kamil fi at-Taariikh li Ibnil Atsiir 1/410-412)
Diantara peperangan lain yang pernah terjadi adalah gara-gara dua ekor kuda yang yang bernama Dahis milik Qois bin Zuhair dan kuda yang bernama Al-Gobro' milik Hudzaifah bin Badr, sehingga perang ini dikenal dengan perang Dahis wa al-Gobro'. Disebutkan bahwa kedua kuda tersebut bertemu dalam lomba balapan kuda, lalu Hudzaifah bin Badr meminta sekelompok untuk berdiri menunggu di lembah (jalur lari kedua kuda tersebut). Tugas mereka adalah memukul kuda Dahis jika kuda Dahis mendahului kudanya. Tatkala kuda Dahis akan menang, merekapun memukul wajah kuda Dahis sehingga ia tersungkur jatuh dan akhirnya menanglah kuda al-Gobro' milik Hudzaifah bin Badr. Setelah perlombaan selesai maka terjadilah peperangan antara 2 kabilah yaitu kabilah 'Abs dan Dzibyan yang menyebabkan ribuan orang terbunuh. (Lihat Ar-Roud al-Unuf 2/36)
Inilah kerusakan-kerusakan yang terjadi di bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi. Adapun di zaman ini, seringkali kita mendengar terjadinya pertengkaran dan peperangan hanya gara-gara pertandingan bola, satu sama lain saling mengejek lalu saling membunuh, bahkan negara yang satu mengejek negara yang lain, sungguh ini benar-benar sangat memalukan.

Wabillahi taupiq wall hidayyah
Wassalaamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Jakarta, 19-01-1439 H / 09-10-2017 M
Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja
Sumber : www.firanda.com
Dibagikan Ulang : Taupiq Sanusi ( Taufik )
Komunitas Face Book : Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
Photo

Post has shared content
SAHABAT KENAPA KITA PERLU BERISTIGHFAR ?
Posted : Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
09 Oktober 2017

Sahabat Kenapa Kita Perlu Beristighfar ?

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Bismillahirrahmaniraahim.

Sahabatku semua yang Insya Allah di muliakan Allah SWT, kita semua tahu bahwa setiap manusia itu pernah berbuat kesalahan/dosa, dan sebaik baik manusia yang berbuat dosa adalah yang bertaubat (dari kesalahan tersebut).
Sahabatku, bersih dan suci dari kesalahan adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi manusia, karena manusia bukanlah malaikat yang tidak memiliki nafsu, sehingga mereka selalu tunduk dan patuh pada perintah Allah SWT. Manusia adalah makhluk yang berada di antara sifat malakiyah dan syaithaniyah. Terkadang ia bisa condong pada sifat kebaikan dan ketundukan seperti malaikat. Dan terkadang pula ia bisa tergelincir pada sifat keburukan dan kedurhakaan seperti syaitan.
Dilihat dari segi penciptaannya, elemen pembentukan manusia tersusun dari unsur tanah yang berasal dari bumi dan unsur ruh yang berasal dari langit. Salah satunya menarik kebawah sementara bagian lainnya mengajak ke atas. Yang pertama dapat menenggelamkan manusia pada perangai binatang atau lebih buruk lagi, sementara lainnya dapat mengantar manusia ke barisan malaikat atau lebih tinggi lagi.

Ibnu Abbas ra, berkata ; “ Nabi Adam as lupa terhadap janji Allah, maka Beliau dinamakan manusia”. Karenanya tepat sekali ungkapan yang menyebutkan, al imana mahalul khata’ wanisyan ( manusia itu tempatnya salah dan lupa ).Akibat kealpaan itu, manusia dapat terperangkap melakukan kesalahan, pelanggaran, sampai kepada tindak kejahatan. Sekalipun kita telah berusaha semaksimal mungkin menjaga diri agar tidak terjerumus kepada perbuatan yang mendatangkan dosa, namun kadang kala kita tergelincir juga.
Dalam Al Qur’an, Allah SWT, telah menyebut manusia dengan berbagai predikat kenistaan,kelupaan dan kesalahan seperti dalam Firman Nya a.l :

“ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikulah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”
( QS. Al Ahzaab :72 )
Firman Nya lagi :

“ Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakan dari setitik air (mani), maka tiba tiba ia menjadi penentang yang nyata.” ( QS> Yasiin:77 )
Firman Nya lagi;

“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” ( QS. Al Ma’aarij:19 )

Demikianlah sahabat ,berbuat dosa, khilaf dan lupa memang sudah menjadi garis takdir manusia, Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa lepas dari salah dan lupa. Maka jika ada orang yang merasa tidak pernah berbuat salah atau dosa adalah orang yang menyalahi fitrah dan menyalahi hukum alam yang telah ditetapkan Allah dalam kehidupan ini.
Allah melarang kita mengklaim diri sebagai orang suci. Sebab hanya Allah lah yang lebih mengetahui hamba Nya yang bertakwa seperti dalam Firman Nya :

“.. maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
( QS. An Najm:32 )

Sahabat , tak seorang pun di dunia ini yang bisa terlepas dari maksiat secara keseluruhan. Jika tak melakukannya, maka dalam hati ada niat melakukannya. Jika tidak ada niat untuk melakukannya, maka hati tidak lepas dari godaan syaitan yang membisikan niat jahat dan melalaikan dari zikir Allah.
Sahabat, sesungguhnya ketidak mampuan kita melihat kesalahan dan dosa pada diri kita merupakan bukti bahwa sebenarnya kita sebagai manusia banyak memiliki salah dan dosa.Karena mengetahui bahwa manusia mudah tergelincir melakukan kesalahan dan dosa, maka Allah SWT dalam rahmat dan hikmh Nya yang sangat luas telah membuka pintu istighfar bagi hamba Nya, pintu memohon ampun setelah melakukan perbuatan dosa. Dia memberikan peluang kepada setiap hamba nya untuk meraih derajat dan ampunan Nya. Jadi siapa pun yang melakukan kesalahan dan dosa, tapi kemudian beristighfar dan bertaubat, mengetahui bahwa ia tidak akan melakukan Nya lagi . paling tidak akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi, maka ia memasuki pintu itu, dan dosa dosanya pun terhapuskan dari catatan amalannya.
Sahabat, seorang muslim yang baik itu bukan mereka yang tidak pernah berbuat salah dan dosa. Melainkan mereka yang segera mengintrospeksi diri dan beristighfar di setiap melakukan kesalahannya.
Rasulullah saw bersabda :

“ Sebaik baik umatku adalah mereka yang ketika berbuat kesalahan segera beristighfar, ketika berbuat kebaikan hatinya bahagia, dan ketika bepergian mereka mengqashar (shalat) dan berbuka (puasa).” ( HR Thabrani )

Ungkapan Nabi saw.’Ketika berbuat kesalahan segera beristighfar’ menunjukan bahwa mereka bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa dan kesalahan, tapi mereka adalah orang orang yang ketika berbuat khilaf dan mereka mengetahuinya mereka segera beristighfar pada Allah SWT.

Salam silaturahim sahabatku semua, semoga kita semuanya selalu berada di dalam limpahan hikmah, rahmat kasih sayang dan lindungan Allah SWT, Aamiin yaa rabbal alamin

Wabillahi taupiq wall hidayyah
Wassallamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

“ Sebagai bahan renungan dan kajian untuk kita semua “, semoga bermanfaat.
Sumber bacaan :
Buku Nikmatnya Istighfar (Satu Obat untuk Sejuta Kesulitan) Penulis Mahmud Asy Syafrowi – Penerbit Mutiara Media Yogyakarta.
Disusun : Taupiq Sanusi (Taufik)
Face Book : Komunitas Islam Jalan Menuju Surga-staupiq@gmail.com
Photo
Wait while more posts are being loaded