Profile cover photo
Profile photo
koeaing diandjingkeun
1,062 followers
1,062 followers
About
koeaing's interests
View all
koeaing's posts

Post has shared content

Post has shared content

Post has shared content
He really should have used a dry cleaner.
Animated Photo

Post has shared content

Post has shared content
Kapolda Jabar Anton Charliyan Akhirnya Akui Jadi Ketua Dewan Pembina GMBI..
0 politics 4:37 PM


Wisbenbae.blogspot.com . Kapolda Jawa Barat Irjen Anton Charliyan membenarkan bahwa ia merupakan Ketua Dewan Pembina Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI). Menurutnya, posisi itu ia jabat agar ormas tersebut beradab.

"Saya memang banyak membina. Tetapi saya membina agar mereka ini beradab. Bukan hanya satu, tapi banyak," kata Anton menjawab pertanyaan wartawan apakah dirinya merupakan dewan pembina GMBI atau bukan, Jumat (13/1/2017).

Di media sosial banyak ditemukan foto Anton tengah mengisi acara yang diselenggarakan GMBI. Dalam kurun waktu 12 jam terakhir, ada sejumlah akun Facebook yang memunculkan foto dan video Anton saat hadir di acara GMBI.

Nama ormas GMBI ramai dibicarakan belakangan ini lantaran markas mereka yang berlokasi di Ciamis dan Bogor dibakar massa. Peristiwa pembakaran terjadi pada Jumat (13/1) dini hari. Polisi menduga pelaku pembakaran adalah FPI.

Sehari sebelumnya, GMBI dan FPI melakukan aksi di depan Mapolda Jawa Barat. Dua ormas ini dalam posisi 'berhadap-hadapan'. Aksi dilakukan terkait pemeriksaan Habib Rizieq Shihab di Mapolda dalam kasus dugaan penodaan lambang, dasar negara Pancasila dan pencemaran nama baik Sukarno.

Usai aksi, terjadi keributan antar keduanya. FPI menyebut ada lima anggotanya yang dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani jahitan di lukanya.

"Ketika kami sedang istirahat makan siang di resto Sunda. Tiba-tiba mobil kita diserang, mereka konvoi di jalan kita sedang di dalam mobil diserang sama mereka, yang sampai dijahit itu ada lima orang," ujar Panglima FPI Maman Suryadi, Jumat (13/1).

http://wisbenbae.blogspot.com/2017/01/kapolda-jabar-anton-charliyan-akhirnya.html

Post has shared content
Ini dia Pemilik Hotel Alexis...
0 Bisnis 3:29 PM


Siapa pemilik Alexis Hotel di Jakarta? Belakangan Alexis menjadi sororotan sejak Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sedang mengupayakan penertiban kawasan Kalijodo. Diawali dengan tudingan Abraham Lunggana (Haji Lulung) yang menilai Ahok tak adil dalam upaya menertibkan lokalisasi Prostitusi di Jakarta.

Menurut Lulung, seharusnya pemerintah DKI juga berani menutup lokalisasi berkedok hotel berbintang semisal Alexis di Jakarta Utara.

Dikutip dari Liputan6.com pemilik Alexis Hotel, Alex Tirta, tegas membantah soal adanya penyalahgunaan izin tempat hiburan, “Tidak ada itu penyalahgunaan.”

Pengurus salah satu cabang olahraga di tingkat provinsi ini enggan berkomentar lebih jauh lagi terkait tudingan itu.

“No Comment, no comment, kita ngobrol yang senang-senang saja,” ujar Alex.

“Nggak usah hotel deh, emang kamu kira rumah nggak ada perzinahan? Kan terbukti itu hotel-hotel mewah. Nah itu kita nggak mau tanggung,” kata Ahok menjawab tudingan kedok prostitusi di balik bisnis hiburan di Alexis.

Namun Ahok tak mengabaikan kabar santer tentang dugaan prostitusi di Alexis itu. Dia akan mengerahkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) dan Satpol PP Pemprov DKI Jakarta untuk mengecek kebenaran kabar dugaan prostitusi di hotel itu. Jika benar terbukti, maka hotel dan segala hiburan di dalamnya itu akan ditutup.



Ahok menyebut Alexis ada dugaan praktik prostitusi, namun tidak bisa ditindak. “Di Alexis itu lantai tujuhnya surga dunia loh. Di Alexis itu bukan surga di telapak kaki ibu loh, tapi di lantai tujuh,” kata Ahok dalam sambutan kepada mahasiswa Departemen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia perihal Pembangunan Sosial, di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (16/2/2016).

Ahok meminta masyarakat membantunya mengumpulkan bukti adanya prostitusi di hotel dengan gedung warna hitam dan kuning itu. “Kamu foto saja! Kalau kamu ada bukti foto, kamu kirimkan ke kita,” ucap Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (22/2/2016).

Ahok menyatakan sulit bagi Pemprov DKI untuk memotret geliat seks transaksional di tempat itu. Tempat itu mempunyai perizinan sebagai tempat hiburan dan hotel, bukan prostitusi. Jika benar Alexis menyalahi perizinannya dengan menggelar prostitusi, maka sanksi akan dikeluarkan Pemprov DKI.

http://wisbenbae.blogspot.com/2017/01/ini-dia-pemilik-hotel-alexis.html

Post has shared content
Mengintip Cewek2 'Sorgawi' Hotel Alexis Jakarta dan kegiatan binalnya...
0 Entertainment 4:19 PM


Wisbenbae.blogspot.com – Sebuah pernyataan yang mengejutkan keluar dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok.

Ia menganalogikan bahwa Hotel Alexis ini sebagai surga dunia, surga dunia yang dimaksud disini adalah lebih merujuk ke prostitusi, tapi bukan seperti prostitusi yang ada di Kalijodo atau Gang Dolly, praktik prostitusi ini lebih ke kelas Kakap yang biasa memakainya.

Bahkan Ahok juga menyerukan bahwa lantai 7 merupakan sebagai tempat para tamu hidung belang yang menikmati praktik prostitusi. “Di hotel-hotel itu ada enggak prostitusi? ada, prostitusi artis di mana? di hotel. Di Alexis itu lantai 7 nya surga dunia loh (prostitusi). Di Alexis itu bukan surga di telapak kaki ibu loh, tapi lantai 7,” kata Ahok.

Tomo menyebut Hotel Alexis tempat melepas penatnya hidup di Jakarta. Bagaimana tidak, hotel itu menawarkan berbagai fasilitas hiburan yang memanjakan kaum adam, termasuk urusan pelampiasan syahwat.


Dia tidak segan menyebut hotel ini benar-benar maksimal menyediakan fasilitas hiburan malam yang dibutuhkan pengunjung. Mulai dari bar yang dilengkapi minuman alkohol berbagai jenis dan merek, diskotek dengan para DJ wanita seksi, spa, lounge dan kolam air hangat.

Setelah memarkir kendaraan di area yang disediakan, petugas keamanan akan mengarahkan tamu sesuai tujuan kedatangan. Misalnya, kalau tamu ingin menghabiskan malam di diskotek, akan diarahkan ke lantai 1. ‘Surga’ di lantai 7 bisa langsung dicapai dengan lift penghubung antara area parkir dan lokasi lantai. Tapi, kata dia, penjagaan sangat ketat.

Berikut Foto-foto Kegiatan Prostitusi Hotel Alexis:

http://wisbenbae.blogspot.com/2017/01/mengintip-cewek2-sorgawi-hotel-alexis.html

Post has shared content
Kawal Demo FPI, Tentara Cantik Berhijab Diterjunkan TNI !
0 Militair, politics 4:48 PM


Wisbenbae.blogspot.com, Jakarta Puluhan tentara wanita berhijab hitam berkumpul di beberapa titik di kawasan Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Tentara wanita itu belum berbaris, mereka masih menunggu apel pengamanan aksi unjuk rasa Ormas Front Pembela Islam yang rencananya di gelar Senin (16/1/3017) pagi di Mabes Polri.



Puluhan tentara Wanita itu ada yang berkumpul di depan museum Polri, di samping Divisi Hukum Mabes Polri, dan di beberapa titik lainnya.

Selain tentara wanita, setidaknya dari pengamatan Wisbenbae.blogspot.com, ada tujuh mobil water canon yang bersiaga. Ratusan personil polisi juga sudah berbaris rapi di beberapa titik menuju jalan Trunojoyo.

Mereka bersiap menjaga demo FPI. Mulai dari personel yang menenteng senjata laras panjang, hingga yang memakai baju preman ataupun yang memakai baju putih-putih langsung mengambil posisi usai apel pagi dan arahan dari komandan mereka.

Sementara itu, hingga pukul 07.30 WIB, belum terlihat kedatangan massa dari FPI. Meski jalur menuju Trunojoyo dari arah Tandean sudah mulai lumpuh dan tak bisa dilewati.

Demo FPI itu terkait insiden bentrokan antara massa FPI dan LSM GMBI di Jawa Barat beberapa hari lalu.

http://wisbenbae.blogspot.com/2017/01/kawal-demo-fpi-tentara-cantik-berhijab.html

Post has shared content
Ini Loh Do'a yang Dipanjatkan Julia Perez Saat Umrah...
0 Entertainment, Tombo Ati 4:57 PM


Jodoh tak masuk dalam daftar doa Julia Perez saat ia mengunjungi tanah suci untuk umrah.

Wisbenbae.blogspot.com, Jakarta Sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa, kebanyakan umat Muslim akan meminta apapun kepada Allah di hadapan Kabah. Termasuk urusan jodoh. Namun tidak dengan Julia Perez saat berkesempatan mengunjungi tanah suci untuk umrah.


Diakui Jupe, demikian dia disapa, jodoh tak masuk dalam daftar doanya. Justru dia lebih banyak bersyukur kepada Allah, atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan. Salah satunya menunaikan umrah di awal 2017 ini.


Julia Perez.
"Justru saya nggak doa jodoh, kali ini gak prioritas jodoh. Saya lebih ke terimakasih pada Allah, bersyukur. Di tahun 2016 ini wah lebih bersyukur saya," ucap Julia Perez, di Swissbell hotel airport, Cengkareng, Tangerang, Jumat (13/1/2017).

Soal pria, Jupe tak mematok target harus mendapatkan pria bule. Justru dia lebih memilih pria lokal. Hanya saja, saat ini Jupe belum memikirkan urusan jodoh. "Sudahlah nggak ada. Maunya orang Indonesia saja, kalau bule ribet," imbuhnya.



Julia Perez.

Julia Perez tidak sendirian menjalani perjalanan spiritual. Dia pergi umrah bersama orangtua, Ria Irawan beserta suaminya, Mayky Wongkar. Bahkan, mereka sempat berlibur ke Kairo usai menunaikan umrah.

http://wisbenbae.blogspot.com/2017/01/ini-loh-doa-yang-dipanjatkan-julia.html

Post has shared content

"Blokir media Islam dan jebakan Huntington" Oleh: Dr. Adian Husaini
0 politics, Tombo Ati 11:56 AM



Oleh: Dr. Adian Husaini*

PADA akhir Maret 2015, umat Islam Indonesia dihebohkan oleh peristiwa pemblokiran sejumlah media on-line Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Setidaknya ada 19 situs Islam yang diblokir, seperti panjimas.com, muslimdaily.net, kiblat.net, dakwahmedia.net, hidayatullah.com, eramuslim.com, dan lain-lain. Seperti dilaporkan oleh www.harianterbit.com, Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) yang juga Direktur Deradikalisasi Irfan Idris, menjelaskan, ada empat kriteria situs dinilai mengajarkan radikalisme.

“Ajakan propaganda mengafirkan pihak lain, tafkiri. Presiden dikafirkan, pemerintah dikafirkan, pemerintah thogut, pemerintah syirik,” katanya di Jakarta, Selasa (31/3/2015). Hal ini dikatakannya kepada perwakilan tujuh situs Islam yang mengajukan protes karena diblokir oleh Kementerian Kominfo Kemudian mendukung dan mengajak bergabung dengan ISIS atau Negara Islam. “Memaknai jihad dengan sempit,” katanya.

Selain itu ingin melakukan perubahan dengan cepat menggunakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Ia mengatakan, pihaknya memiliki tim kecil untuk menganalisis situs-situs yang dinilai radikal.

Terkait dengan 19 situs yang diblokir oleh Kemenkominfo atas permintaan BNPT, menurut dia, pihaknya mempunyai bukti-bukti materiil terkait situs-situs yang dinilai radikal. “Ada buktinya, saya ada gambarannya,” katanya.

Ketika catatan ini dibuat, berbagai pihak sudah memberikan pandangannya tentang kasus tersebut. Catatan ini tidak akan memasuki wilayah itu. Biarlah BNPT dan Kemkominfo mempertanggungjawabkan tindakannya, di dunia dan akhirat. Secara ringkas, dalam pandangan saya, jika situs-situs Islam itu melakukan tindakan yang salah – menurut ajaran Islam – mereka wajib diingatkan, diberitahukan kesalahannya, sebelum dijatuhi sanksi. Dengan pemberitahuan itu, maka situs-situs Islam itu bisa memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitasnya, sehingga semakin baik dan bermanfaat.

Jika situs-situs itu menyampaikan kebenaran Islam sebagai pelaksanaan kewajiban dakwah, dan kemudian diblokir, maka yang rugi justru pihak Kemkominfo dan BNPT sendiri. Sebab, mereka telah melakukan kezaliman dan menghalang-halangi orang menyampaikan dakwah yang jelas-jelas diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. (QS An-Nahl:125).

Tindakan itu akan menghadapkan mereka dengan Allah sendiri. Sementara para pengelola situs Islam itu justru diuntungkan, karena mereka mendapatkan pahala dan terbuka peluang besar doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Karena itu, kita mengimbau, agar semua pihak – khususnya yang muslim – segera menyelesaikan masalah ini dengan baik, melalui mekanisme musyawarah dengan hati yang ikhlas dan menekan perasaan dendam dan kebencian. Pada catatan kali ini, ada baiknya kita menelaah kembali pemikiran Samuel Huntington yang berisi saran-saran bagaimana seharusnya dunia Barat – khususnya AS – memandang dan memperlakukan Islam.

Bagian ini pernah saya terbitkan sebagai satu artikel di Harian Republika, saat Huntington baru saja menerbitkan bukunya yang baru berjudul Who Are We? Tahun 2004. Meskipun sudah berlalu 10 tahun, tulisan itu masih sangat relevan untuk kita telaah dan renungkan, agar kita tidak terjebak dalam pemikiran dan skenarionya yang merugikan kita sebagai satu umat dan satu bangsa.

**

Nama Samuel P. Huntington identik dengan wacana “Clash of civilizations”, meskipun wacana ini sudah diluncurkan oleh Bernard Lewis, melalui artikelnya berjudul “The Roots of Muslim Rage” di jurnal Atlantic Monthly, September 1990. Artikel Lewis ini merupakan persiapan untuk menentukan siapa “musuh baru” Barat pasca Perang Dingin.

Huntington kemudian mempopulerkan wacana Lewis. Pemikirannya tentang “clash of civilizations” – khususnya antara Islam dengan Barat – masih terus menjadi perbincangan luas. Bukan karena kualitas ilmiah wacana populer tersebut, tetapi karena banyaknya kecocokan antara pemikiran dan saran Huntington dengan perkembangan politik global saat ini. Khususnya, kebijakan politik Barat (terutama AS) terhadap Islam.

Buku terkenalnya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, lebih ditujukan sebagai bahan nasehat bagi pengambil kebijakan politik Barat, khususnya AS, dan bukan untuk satu kajian ilmiah dalam ilmu sosial. Ia menulis dalam pengantar bukunya: “This book is not intended to be a work of social science. It is instead meant to be an interpretation of the evolution of global politics after the Cold War. It aspires to present a framework, a paradigm, for viewing global politics that will be meaningful to scholars and useful to policymakers.”

Tahun 2004, Huntington kembali meluncurkan buku barunya, berjudul “Who Are We?: The Challenges to America’s National Identity” (New York: Simon&Schuster, 2004). Huntington adalah ilmuwan politik dari Harvard University yang juga dikenal sebagai penesehat politik kawakan Gedung Putih. Disamping pernah menduduki jabatan-jabatan prestisius di bidang akademis, Huntington juga aktif terlibat dalam perumusan kebijakan luar negeri AS. Tahun 1977-1978 ia bekerja di Gedung Putih sebagai ‘Coordinator of Security Planning for the National Security Council’.

Jika di dalam The Clash of Civilizations Huntington masih tidak terlalu tegas menyebut “Islam” sebagai alternatif musuh baru bagi Barat, maka dalam bukunya, Who Are We? ia menggunakan bahasa yang lebih lugas, bahwa musuh utama Barat pasca Perang Dingin adalah Islam – yang ia tambah dengan predikat “militan”. Namun, dari berbagai penjelasannya, definisi “Islam militan” melebar ke mana-mana, ke berbagai kelompok dan komunitas Islam, sehingga definisi itu menjadi kabur.

Dalam Who Are We? Huntington menempatkan satu sub-bab berjudul “Militant Islam vs America”, yang menekankan, bahwa saat ini, Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS. (This new war between militant Islam and America has many similarities to the Cold War). Jadi, Huntington memang menggunakan istilah ‘perang’ (war) antara AS dengan Islam militan. Jika saat berperang dengan Uni Soviet yang memiliki persenjataan seimbang dengan AS, masih digunakan istilah “Perang Dingin” maka sekarang predikat “Dingin” sudah tidak ada lagi.

Penggunaan istilah “war” merupakan refleksi kebijakan baru politik AS sebagaimana disarankan Huntington. Saat berdialog dengan Anthony Giddden, pada late spring 2003, Huntington mendukung dilakukannya “preemptive strike” terhadap kaum militan.

Nasehat Huntington memang telah dijalankan. Pada awal Juni 2002, doktrin preemptive strike (serangan dini) dan defensive intervention (intervensi defensif) secara resmi diumumkan. Melalui doktrin ofensifnya yang baru ini, AS telah mengubah secara radikal pola “peperangan” melawan “musuh”. Sebelumnya, di masa Perang Dingin saat menghadapi komunis, AS menggunakan pola containtment (penangkalan) dan deterrence (penangkisan). Kini menghadapi musuh baru – yang diberi nama Islam militan – AS menggunakan pola preemptive strike dan defensive intervention.*..

DARI kasus doktrin ‘preemptive strike’ ini tampak bagaimana pola pikir ‘bahaya Islam’ atau ‘ancaman Islam’ yang dikembangkan ilmuwan seperti Huntington, berjalan cukup efektif. Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran langsung, meskipun tanpa melalui persetujuan PBB. Pola pikir Huntington, bahwa ‘Islam’ lebih berbahaya dari ‘komunis’ juga tampak mewarnai kebijakan politik dan militer AS tersebut.

Tentu saja, yang penting kemudian adalah pendefinisian siapa yang dimaksud sebagai “musuh baru yang lebih bahaya dari komunis?” Dalam Who Are We? Huntington menyebut, yang disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usama bin Ladin atau al-Qaida group. Tetapi, banyak kelompok lain yang bersifat negatif terhadap AS. Kata Huntington, sebagaimana dilakukan oleh Komunis Internasional dulu, kelompok-kelompok Islam militan melakukan protes dan demonstrasi damai, dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Mereka juga melakukan kerja-kerja amal sosial.

Dengan definisi dan penggambaran seperti itu, banyak kelompok Islam yang dimasukkan ke dalam kategori militan, dan layak diserang secara dini. Tanpa menampilkan sebab-sebab dan fakta yang komprehansif, misalnya, Huntington menulis, bahwa selama beberapa dekade terakhir, kaum Muslim memerangi kaum Protestan, Katolik, Kristen Ortodoks, Hindu, Yahudi, Budha atau Cina. (In recent decades, Muslims have fought Protestan, Catholic, and Orthodox Christians, Hindus, Jews, Buddhists, and Han Chinese). Ia tidak menjelaskan, apakah dalam kasus-kasus itu kaum Muslim diperangi dan dizalimi, atau Muslim yang memerangi. Dalam menyinggung kasus Bosnia, misalnya, dia tidak memaparkan bagaimana kaum Muslim menjadi korban kebiadaban yang tiada tara di Bosnia. Dan ketika itu, AS dan sekutunya menjadi penonton yang baik atas pembasmian umat Muslim.

Samantha Power, dalam bukunya “A Problem from Hell: America and The Age of Genocide” (London: Flamingo, 2003), membongkar habis-habisan sikap tidak peduli AS terhadap praktik pembasmian umat manusia di berbagai tempat, termasuk di Bosnia. Buku ini memenangkan hadiah Pulitzer tahun 2003. Dalam kasus Bosnia, tulis Samantha, AS bukan hanya tidak berusaha menghentikan pembasmian etnis Muslim, tetapi malah memberi jalan kepada Serbia untuk melaksanakan kebiadaban mereka. (Along with its European allies, it maintained an arms embargo against the Bosnian Muslims from defending themselves). Untuk Bosnia, Samanta yang menjadi saksi berbagai kebiadaban Serbia di Bosnia, menulis judul “Bosnia: No More than Witnesses at a Funeral”.

Sebagaimana ilmuwan “neo-orientalis” lainnya, seperti Bernard Lewis, Huntington juga tidak mau melakukan kritik internal terhadap kebijakan AS yang imperialistik – sebagaimana banyak dikritik oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Noam Chomsky, Paul Findley, dan Edward Said. Ia tidak mengakui bahwa kebijakan AS yang membabi buta mendukung kekejaman dan penjajahan Israel adalah keliru dan menjadi satu sebab penting tumbuhnya ketidakpuasan dan kemarahan kaum Muslim dan umat manusia. Ia hanya mau menunjukkan bahwa Islam adalah potensi musuh besar dan bahaya bagi Barat dan AS khususnya. Ia menampilkan polling-polling di sejumlah negeri Islam yang menunjukkan, sebagian besar kaum Muslim sangat tidak menyukai kebijakan AS. Misal, sebuah polling di sembilan negara Islam, antara Desember 2001-Januari 2002, menampilkan realitas opini di kalangan Muslim, bahwa AS adalah “kejam, agresif, sombong, arogan, mudah terprovokasi dan bias dalam politik luar negerinya.”

Tetapi, Huntington tidak mau menampilkan fakta bahwa kebencian masyarakat Barat (Eropa dan rakyat AS sendiri) terhadap kebijakan-kebijakan politik AS juga sangat besar. Bahkan, jauh lebih besar dari apa yang terjadi di kalangan Muslim. Di dunia Islam, tidak ada demonstrasi besar-besaran diikuti ratusan ribu sampai jutaan orang dalam menentang AS seperti yang terjadi di berbagai negara Eropa dan di dalam AS sendiri. Banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Prof. Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’. Karena itu, sangatlah naif, bahwa ilmuwan seperti Huntington ini justru mencoba menampilkan fakta yang tidak fair dan sengaja membingkai Islam sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rhetoric of America’s ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam.”

Huntington, Bernard Lewis, dan kawan-kawannya terus berkampanye agar negara-negara Barat lain juga mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh utama Barat, setelah komunis. John Vinocur, dalam artikelnya berjudul “Trying to put Islam on Europe’s agenda”, (International Herald Tribune, 21 September 2004), mencatat, “But Huntington insists Europe’s situation vis-à-vis Islam is more acute.” Skenario inilah yang dirancang kelompok “Neo-konservatif” di AS, yang beranggotakan Yahudi-Zionis, Kristen fundamentalis, dan ilmuwan konfrontasionis. (Lihat buku The High Priests of War “ (Washington DC: American Free Press, 2004), karya Michel Colin Piper).

Tanpa pendefinisian yang jelas terhadap “Islam militan”, maka itu akan menyeret kaum Muslim lainnya. Itu, misalnya, menimpa Thariq Ramadhan dan Yusuf Islam, yang dilarang memasuki AS. Begitu juga ribuan warga Muslim yang menerima perlakuan tidak manusiawi. Dalam sub-bab berjudul “The Search for an Enemy”, Huntington mencatat, bahwa pasca Perang Dingin, AS memang melakukan pencarian musuh baru, yang kemudian menemukan musuh baru bernama “Islam militan”, setelah peristiwa WTC. Huntington menulis: “Some Americans came to see Islamic fundamentalist groups, or more broadly political Islam, as the enemy, epitomized in Iraq, Iran, Sudan, Libya, Afghanistan under Taliban, and to lesser degree other Muslim states, as well as in Islamic terrorist groups such as Hamas, Hezbollah, Islamic Jihad, and the al-Qaeda network… The cultural gap between Islam and America’s Christianity and Anglo-Protestanism reinforces Islam’s enemy qualifications. And on September 11, 2001, Osama bin Laden ended America’s search. The attacks on New York and Washington followed by the wars with Afghanistan and Iraq and more diffuse “war on terrorism” make militant Islam America’s first enemy of the twenty-first century.”

Di sini, tampak, bahwa sangatlah sulit dunia Islam menerima standar AS dalam soal Islam militan. Dunia Islam, misalnya, secara keseluruhan tetap menolak memasukkan Hamas di Palestina, sebagai kelompok teroris, sebab mereka melakukan perjuangan membebaskan negeri mereka dari penjajahan Israel. Buku Who Are We? memang masih merupakan kelanjutan garis berpikir Huntington dalam soal Islam dari buku The Clash of Civilizations. Sebagaimana Lewis, Huntington sudah jauh-jauh hari mengingatkan Barat agar mereka waspada terhadap perkembangan Islam. Sebab, Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah menggoyahkan dan mengancam peradaban Barat. (Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice).

Karena itulah, Huntington memperingatkan, pertumbuhan penduduk Muslim merupakan satu faktor destabilitas terhadap masyarakat Muslim dan lingkungannya. Jumlah besar kaum muda Muslim dengan pendidikan menengah akan terus memperkuat kebangkitan Islam dan militansi Islam, militerisme, dan imigrasi. Hasilnya, pada awal-awal abad ke-21, Barat akan menyaksikan kebangkitan kekuatan dan kebudayaan non-Barat dan sekaligus benturan antar-masyarakat non-Barat atau dengan Barat.

Sebagaimana buku The Clash of Civilizations, buku Who Are We? perlu dicermati dalam konteks skenario politik global terhadap Islam, yang sebenarnya merupakan satu upaya “viktimisasi Islam” untuk menutupi berbagai kesalahan kebijakan AS dan sejumlah sekutunya.

Kini, silakan dicermati, mengapa situs-situs Islam itu diblokir? Allah Maha Tahu dan Allah tak pernah tidur.[]

Depok, 3 April 2015

*Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

http://wisbenbae.blogspot.com/2015/04/blokir-media-islam-dan-jebakan.html
Wait while more posts are being loaded