Profile cover photo
Profile photo
ZARMI PICANCANG
85 followers -
AWAL AGAMA MENGENAL ALLAH
AWAL AGAMA MENGENAL ALLAH

85 followers
About
ZARMI's interests
View all
ZARMI's posts

Post has shared content

Post has attachment
CARA MENINGKATKAN KECERDASAN OTAK
DENGAN MENGHAPAL AL-QURAN

Post has attachment
CARA MENINGKATKAN KECERDASAN OTAK DENGAN MENGHAPAL AL-QURAN
CARA
MENINGKATKAN KECERDASAN OTAK DENGAN
MENGHAPAL AL-QURAN Mungkin sudah banyak dari
pembaca yang sudah mengetahui tentang manfaat membaca Al Qur’an untuk janin,
untuk kesehatan mata dan untuk kehidupan sehari-hari. Namun, artikel yang akan
dibahas kali in...

Post has attachment
Cara Mengcrop Foto Menjadi Lingkaran

Post has attachment
**
Cara Mengcrop Foto
Menjadi Lingkaran Cara
memotong foto di photoshop   Bagaimana
cara memotong foto dengan photoshop Cs6 atau cs5, cs4, cs3, cs2 atau cs
berapapun yang cepat dan gampang serta simpel bin sederhana? Gimana sih ya
langkah-langkah atau tahap me...

Post has shared content
#TINGKATAN SYAHADAT

1.Syahadat Taqlid
Yaitu syahadatnya Muslim pada Allah yang Hanya Mengenal NAMA saja.

2.Syahdat Fii Ayaatillah
Yaitu syahadatnya Muslim yang menemukan Allah Azza Wajalla dengan AKAL nya dan Hatinya membenarkan /yakin pada Allah dengan melihatah/menyaksikan TANDA-TANDA Allah.

3.Syahadat Fii Sifatillah dan Af'alillah
Yaitu syahadatnya Muslim yang menyaksikan Sifat dan Perbuatan Allah Dhohir dan Batin (Ainul Yaqin).

4.Syahadat Fii Dzatillah
(Haqqul Yaqin).
Dan syahadat seseorang dianggap Shah apabila syahadatnya minimal dengan syahadat yang ke 2 yaitu Syahadat Fii Ayatillah.

Secara garis besarnya syahadat dibagis atas 3 bagian yaitu pengucapan, pengakuan dan penyaksian
Photo

Post has shared content
Ketika Keadilan Dipertanyakan!



Oleh: Shamsi Ali

Presiden Nusantara Foundation dan Muslim Foundation of America


PERKENANKAN saya minta maaf terlebih dahulu ke teman-teman China karena saya bukan anti China. Toh Islam itu adalah agama semua ras dan etnis. Juga kepada teman-teman Kristiani karena saya bukan anti Kristen. Anda semua adalah saudara saya walau kita beda keyakinan.

Saya juga minta maaf kepada para pemilih Jakarta. Karena saya menghormati pilihan anda. Toh saya juga tidak punya hak pilih di Jakarta. Saya yakin anda memilih seoarang kandidat karena anda menilai dia terbaik untuk Jakarta. Dan karenanya seperti saya, anda ingin yang terbaik bagi Jakarta dan Indonesia.

Justeru yang ingin saya sampaikan adalah kekecewaan saya terhadap perlakuan hukum yang berbeda kepada warga Indonesia. Saya melihat dengan jelas perlakuan yang berbeda-beda (discriminative) dalam penegakan hukum. Ada timbang pilih dalam penegakan hukum.

Saya melihat ketidak adilan itu jelas. Mungkin saya kurang ilmu, atau tidak paham dengan istilah-istilah legal. Karenanya saya minta maaf.

Sesungguhnya dalam tahun-tahun terakhir saya mulai bangga dengan penegakan hukum di negara ini. Dan itu bagi saya adalah kegwmbiraan sekaligus optimisme. Bahwa di tengah berbagai permasalahan bangsa, akan masalah mulai terbenahi.

Betapa tahun-tahun terakhir penegak hukum, KPK khususnya, telah banyak menahan pejabat atau mantan pejabat karena sangkaan penyelewengan alias tersangka. Tentu terlalu banyak jika saya sebutkan satu per satu yang ada di benak saya. Mungkin beberapa saja yang saya anggap paling populer, atau juga karena kedekatan pribadi dengan saya.

Dua mantan menteri agama ditangkap karena statusnya sebagai tersangka menyelewengkan dana haji. Yang prrtama adalah Dr. Said Aqil Al-Munawar. Dan yang kedua adalah Surya Darma Ali yang sebagai Ketum PPP ketika itu.

Kasus lainnya adalah seorang perempuan aktifis Muhammadiyah, kebanggan umat, mantan Menteri Kesehatan RI, Siti Fadhilah. Beliau juga ditahan karena statusnya sebagai tersangka. Padahal sejatinya beliau berhasil menentang pemaksaan kehendak orang untuk menerima vaksin produk mereka.

Dua kasus terakhir ini barangkali sepanjang ingatan saya adalah yang paling aneh, bahkan pada level tertentu sangat pahit menerimanya. Tapi anggap itulah benar dalam pertimbangan hukum. Mereka memang harus ditangkap karena status “TERSANGKA” tadi. Ya tidak apa. Mungkin memang begitulah seharusnya.

Kedua kasus itu adalah adalah kasus mantan ketua KPK, Abraham Samad dan mantan Menteri dan pengusaha sukses, Dahlan Iskan. Abraham Samad ditahan alias ditangkap karena sangkaan (tersangka) menyelewengkan wewenang dalam pemalsuan dokumen pengurusan paspor. Sementara Dahlan Iskan ditahan karena sangkaan (tersangka) menjual aset daerah secara salah.

Salah seorang wakil ketua KPk juga ditangkap karena adanya sangkaan kesalahan alias tersangka, Bambang Wijayanto.

Apapun realita yang sesungguhnya dari tuduhan kepada mereka semua, saya menghormati keputusan penangkapan itu karena status mereka sebagai tersangka. Sekali lagi karena status tersangka. Mungkin memang begitulah harusnya hukum dijalankan. Bahwa yang “berstatus tersangka” harus ditahan.

Bahkan jika tidak salah ingat, mantan presiden kedua RI, Soeharto, juga sempat tersangka di tahun 2000. Beliau tidak sempat ditahan hanya karena beliau terjatuh sakit keras sejak penetapan itu. Atas dasar humanitarian beliau tidak mengalami penahanan atau penangkapan itu.

Tersangka tapi bebas?

Yang membingungkan kemudian adalah jika mereka semua itu ditahan karena status TERSANGKA, kenapa ada perlakuan lain kepada tersangka lainnya? Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang saat ini telah ditetapkan sebagak tersangka, tidak saja belum ditahan, tapi justeru masih menjabat sebagai gubernur non aktif DKI. Bahkan masih merasa tidak bersalah dan sangat percaya diri maju sebagai calon pada pemilihan gubernur tahun depan.

Pertanyaan saya adalah apakah memang ada perbedaan “treatment” ketika seseorang tersangka? Artinya ada yang berstatus tersangka yang harus ditahan. Dan ada juga yang berstatus tersangka tapi tetap bebas?

Kalau kata “tersangka” itu memiliki defenisi yang sama dalam hukum, kenapa harus ada perbedaan perlakuan? Ada yang tersangka dan ditahan. Tapi ada juga yang tersangka tapi masih bebas?

Sebagai orang awam saya hanya bisa terheran-heran dan geleng kepala. Kalau saya melihat jasa dari masing-masing tersangka dan ditangkap itu sungguh trenyuh hati ini.

Abraham Samad barangkali adalah seorang sosok penegak hukum yang akan dicatat oleh sejarah negeri ini. Kesederhanaan dan keluguannya sebagai putra Makassar menjadikannya berani menembus kekebalan koruptor. Itu sebabnya pernah disebut-sebut akan menjadi cawapres saat itu.

Dahlan Iskan adalah sosok pebisnis yang sukses. Kesederhanaan hidup menjadikannya tidak pernah terlalu rakus dengan dunia. Bahkan di saat menjadi pejabat tinggi negeri ini beliau tidak mengambil gaji. Semua didedikasikan untuk bangsa dan negara ini.

Lalu di mana keistewaan Ahok itu? Kenapa Ahok di saat telah ditetapkan sebagai tersangka masih tidak disentuh, kecuali pelarangan keluar negeri?

Perlakuan yang berbeda dalam menyikapi kasus hukum, tersangka, dari satu orang ke orang lain, jelas adalah bentuk ketidak adilan. Dan inilah yang menjadikan saya dan jutaan umat yang peduli menjadi resah.

Ini bukan masalah agama. Bukan pula masalah etnis. Ataupun karena dorongan politik. Karena bagi saya Pancasila dan UUD adalah konsensus kebangsaan. Dan konsensus ini menjamin hak semua warga, apapun agama dan etniknya untuk memilih dan dipilih.

Oleh karenanya tuntutan umat untuk dilakukan perlakuan sama kepada semua di hadapan hukum harus didukung. Sebuah negara banyak ditentukan oleh hukum dan penegakan hukumnya. Sehingga tuntutan teman-teman untuk hadirnya “equal treatment” kepada semua warga adalah amanah konsritusi.

Bukan sebaliknya justeru ditakutkan. Apalagi dianggap makar. Sebaliknya tuntutan ini harus dilihat sebagai pengawalan hukum. Dan dengan sendirinya sesungguhnya adalah pengawalan terhadap bangsa dan negara dari pengrusakan yang mungkin tidak disadari.

Wallahu a’lam!

New York, 25 Nopember 2016


Photo

Post has shared content
#Macam_Macam_Dzikir_Dalam_Tharekat#

Dari segi materi lafalnya, dzikir ada 3 macam

1) Seseorang melafalkan ismu dzat Allah Allah sebanyak-banyaknya

sebagaimana firman Allah dalam surat Hamim Sajadah ayat 30,
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata : Tuhan kita adalah Allah, kemudian mereka tekun maka turunlah malaikat pada mereka, dan malaikat itu memberi kabar : gembiralah kalian dengan apa yang telah dijanjikan pada kalian.” Dan hadits Nabi diriwayatkan Thabrani dan Baihaqi. Rasulullah bersabda kepada sayyidina Ali : “Ya Ali, pejamkan kedua matamu, lekatkan (rapatkan) kedua bibirmu, naikkan lidahmu dan berkatalah (berzikirlah) Allah Allah.”

Allah berfirman :
Katakanlah, Allah-lah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. al An’am : 91)
Rasulullah bersabda :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لاَ يُقَالَ فِى اْلاَرْضِ : اَلله ….اَلله
Hari kiamat tidak akan terjadi sampai di atas bumi ini tidak ada lagi orang yang menyebut Allah,… Allah. (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)
Seorang yang berzikir lafal Allah Allah mesti disertai dengan ‘wukuf qalbi’ yakni waktu mengucapkan ismu dzat tersebut di hatinya, seseorang memperhatikan mengalirnya lafal itu dari hati. Wukuf qalbi adalah hadirnya Mursyid pada hati seseorang, sehingga tidak ada yang diingat kecuali lafal Allah Allah itu pada wajah sang Mursyid. Hal ini andaikata bisa diumpamakan maka keadaannya Mursyid dan Allah itu seperti air dan teh yang menyatu dan bercampur. Mana airnya mana tehnya susah dibedakan, keduanya serupa. Tetapi air tidak akan menjadi teh dan teh pun tidak akan menjadi air. Itulah perbedaan Tuhan dan hamba.

Hamba dan Tuhan diumpamakan pula sebagai kawat dan listrik. Keduanya tidak bisa dibedakan. Kawat itu menyerupai listrik dan listrik pun menyerupai kawat. Akan tetapi kawat tidak akan menjadi listrik dan listrik pun tidak akan menjadi kawat.

Dzikir yang disertai wukuf qalbi atau hadir mursyid adalah dzikir yang berada di maqam fana, yang disebut dengan fana pada mursyid yakni murid meleburkan diri pada ruhani mursyid. Dzikir fana pada mursyid merupakan pendahuluan fana kepada Allah. Dzikir yang tidak disertai wukuf qalbi atau dzikir yang tidak disertai mengingat maknanya adalah dzikir yang lupa. Hal ini serupa dengan jasad tanpa ruh. Dzikir yang demikian itu tidak mengandung pahala dan khasiat apapun.

Adapun makna lafal Allah Allah ialah antara lain : Allah adalah maksud tujuanku, Allah adalah yang aku cari, Allah adalah yang aku cintai, wahai Allah engkaulah yang aku maksud, Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah adalah zat yang ada, Allah adalah zat yang disembah dan engkau adalah Allah tidak yang lain. Akan tetapi pendapat yang paling benar menurut guru-guru thareqat Naqsyabandi, penyebutan Allah tidak disertai dengan rangkaian kata seperti tersebut di atas. Menyebut Allah cukup melirik nama zat Tuhan tanpa diembel-embeli atau dirangkai, karena tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Allah. Kalau Allah diserupakan dengan makhluknya berarti bertentangan dengan pernyataan al Qur’an.

2)Dzikir nafi dan isbat

Dzikir nafi isbat yaitu dzikir dengan mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah” (Laa Ilaaha = Nafi, meniadakan Tuhan-Tuhanan lain ; Illallah = Isbat, menetapkan Allah saja sebagai Tuhan). Jadi makna kalimat tauhid itu adalah tiada Tuhan selain Allah. Jelasnya ada lima makna dari kalimat itu antara lain : Pertama, tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah; Kedua, tidak ada yang dituju kecuali Allah; Ketiga, tidak ada yang dicari kecuali Allah; Keempat, tidak ada yang wujud di alam ini kecuali Allah; Kelima, tidak ada yang dicintai kecuali Allah.

Menurut Rasulullah Saw lafal dzikir yang paling utama adalah dzikir Laa Ilaha Illallah sebagaimana sabda beliau,

اَفْضَلُ مَاقُلْتُ اَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبِلِي لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
“Yang paling utama apa yang saya ucapkan dan yang diucapkan para nabi sebelum aku adalah Laa Ilaaha Illallah Wahdahuu Laa Syariikalah (Tiada Tuhan selain Allah dengan Maha Esanya dan tiada sekutu bagi-Nya).”

Dalam hal ini juga Rasulullah bersabda,
“Siapa yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha illallah Wahdahuu Laa Syariikalah Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa Alaa Kulli Syai’in Qadiir’ (tiada Tuhan selain Allah dengan Esa-Nya tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu) dibaca setiap hari sebanyak seratus kali, maka kebaikannya menandingi atau sebanding dengan memerdekakan sepuluh budak, dan dicatat untuknya kebaikan seratus macam, dan seratus macam kejelekannya dihapus. Di samping itu dia bebas dari godaan syetan pagi harinya sampai sore. Dan seorang pun tidak bisa mengungguli amalannya kecuali orang yang membaca kalimat itu lebih banyak darinya.”

Pelaksanaan dzikir Laa Ilaaha Illallah itu harus memakai cara. Adapun cara yang paling bagus adalah cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada sayyidina Ali dalam sebuah hadis sebagai berikut:

Sayyidina Ali bertanya. Bagaimana aku berzikir Ya Rasulullah? Maka Rasulullah menjawab. Caranya, pejamkan kedua matamu dan dengarkanlah dari aku sebanyak tiga kali, dan ucapkanlah seperti apa yang aku ucapkan, waktu engkau mengucapkan itu, aku mendengar, maka Rasulullah mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah’ sebanyak tiga kali, dengan kedua mata terpejam. Kemudian sayyidina Ali mengucapkan seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah.

3)Dzikir dengan lafal nama kekasih Allah

Nama-nama kekasih Allah Swt baik yang berpangkat nabi, rasul dan berpangkat waliyullah dari kalangan shidiqin, syuhada’ dan shalihin dapat dibuat untuk berdzikir dalam rangka dzikir kepada Allah Swt. Karena mereka senantiasa dzikir kepada Allah Swt dalam keadaan apa saja. Dzikir mereka telah dibalas oleh Allah Swt. Bahkan Allah telah berdzikir kepada mereka. Dalam kaitan ini Allah Swt berfirman dalam surat al Baqarah ayat 152

Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur akan nikmat-Ku.
Nama Nabi Muhammad telah diangkat derajatnya sejajar dengan nama Allah Swt. Di mana tiada orang yang membaca kalimah syahadat atau kalimah tauhid (Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah) kecuali nama Muhammad disertakan di sampingnya sehingga menjadi dua kalimah syahadat
(Wa Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah) dalam hal ini di ungkapkan pula oleh Allah dalam surat ai Insyirah ayat 4,
“Dan Kami telah tinggikan sebutan namamu.”

Dzikir berbalas ini juga dilakukan oleh Allah Swt terhadap khalifah Allah dan orang-orang mukmin sebagaimana tertera dalam hadits qudsi :

Dalam beberapa kitab yang memuat kompilasi hadits shahih, Nabi Saw bersabda :

قَالَ الله ُتَعَالَى: اَناَ عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى وَاَنَا مَعَهُ اِذَا ذَكَرَنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَاِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
Allah Swt berfirman, Aku ini (bertindak) sesuai dengan prasangka hamba-Ku padaku. Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun menyebutnya sendiri. Jika dia mengingat-Ku di tengah-tengah orang banyak, maka aku akan menyebutnya di tengah-tengah orang banyak yang lebih mulia dari pada orang banyak saat ia mengingat-Ku. (HR. al Bukhari dan ahli hadits lainnya).

Orang-orang yang telah mencapai pangkat “didzikirkan Allah” adalah orang-orang yang dikasihi atau orang-orang yang menjadi kekasih Allah Swt seperti firman Allah dalam hadits qudsi berikut ini :

اِنَّ اَوْلِيَائِ مِنْ عِبَادِ وَاَحِبَّائِ مِنْ خَلْقِ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ بِذِكْرِ وأُذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ
Sesungguhnya para Wali-Ku dari golongan hamba-Ku dan para Kekasih-Ku dari golongan makhluk-Ku adalah orang-orang yang diingat apabila Aku diingat. Dan Aku diingat apabila mereka diingat. (HR. at Tabrani, al Hakim dan Abu Na’im)

Bapak Prof. DR. Kadirun Yahya menafsirkan tentang hadits di atas sebagai berikut:
“Sebut nama Wali-Ku / Kekasih-Ku, Aku telah hadir pada sisinya. Sebut nama Muhammad dalam shalawat, Allah langsung hadir pada sisinya dan bersama Nabi Muhammad datang kepada kita untuk memberi pertolongan. Hal ini jelas Kata Allah bahwa: Nama-Ku tak bercerai dengan nama Muhammad dan nama Wali-Ku / Kekasih-Ku.”


#Dari segi keras dan lembutnya: Dzikir Jahr dan Dzikir Khafi#

Dzikir terbagi ke dalam dua macam : Dzikir jahr dan dzikir khafi. Masing-masing keduanya mempunyai pijakan dalil dari al Qur’an dan sunah. Berdzikir dengan lisan bisa dilakukan dengan melafalkan huruf perhuruf secara lantang (bersuara). Karenanya, dzikir jenis ini tidak mudah untuk dipraktekkan setiap saat. Sebab pada saat melakukan jual beli di pasar dan yang sejenisnya sama sekali akan mengganggu seorang yang sedang berdzikir. Dengan demikian, otomatis lisannya akan berhenti berdzikir.

Berbeda halnya dengan dzikir hati, yaitu dzikir dengan mengonsentrasikan diri pada suatu makna
(di dalam hati) yang tidak tersusun dari rangkaian huruf dan suara. Karenanya, seorang yang sedang melakukan dzikir jenis ini tidak akan terganggu oleh apapun juga

Berdzikirlah mengingat Allah dengan hatimu tanpa bersuara. Tanpa diketahui oleh orang lain dan tanpa ada lafal dan ucapan yang dikeluarkan.
Dzikir jenis ini adalah cara berdzikir yang paling utama.
Jenis dzikir ini banyak diamalkan oleh para tokoh.
Oleh karena itulah, para pembesar thareqat naqsyabandi lebih memilih dzikir hati. Juga karena hati merupakan tempat pengawasan Allah, tempat bersemayam iman, tempat bersumbernya rahasia dan tempat bertenggernya cahaya. Hati yang baik akan mengakibatkan jasad seluruhnya menjadi baik. Begitu juga hati yang buruk akan berdampak menjadikan jasad menjadi buruk. Ini seperti yang telah dipaparkan oleh Rasulullah Saw.

Karenanya, seorang hamba tidak dikatakan mukmin, jika hatinya tidak terpaut pada apa yang harus diimaninya. Begitu juga ibadah yang menjadi tujuan tidak akan sah jika tidak menyertainya dengan niat (di dalam hatinya). Para imam sepakat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh anggota tubuh tidak akan diterima kecuali dengan peranan hati. Hati sendiri dapat berperan (mampu berjalan sendiri) tanpa dituntun oleh anggota tubuh lainnya. Jika hati sudah tidak berperan lagi, maka keimanan seseorang tidak akan diterima. Ini disebabkan karena iman merupakan sikap pembenaran apa yang diimani oleh hatinya dengan tulus.

☂ ☂ ☂ ☂ ☂ ☂ ☂ ☂ ☂

Dalil-dalil keutamaan dzikir
Allah berfirman :

Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka. 
(QS. al Mujadilah : 22)
Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. 
(QS. al Hujurat : 3)

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu. 
(QS. al A’raf : 205)

Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu? 
(QS. al Mujadilah :

Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. 
(QS. al A’raf : 55)
Hadits al Baihaqi dari Aisyah ra. :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ الله عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْضُلُ الذِّكْرُ (اى الخفى) عَلَى الذِّكْرِ (اى الجهر) بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا اِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ رَجَّعَ الله ُالْخَلاَئِقَ اِلَى حِسَابِهِ وَجَائَتِ الْحَفَضَةُ بِمَا حَفَظُوْهُ وَكَتَبُوْا: قاَلَ تَعَالَى اُنْظُرُوْا هَلْ بَقِيَ لِعَبْدِى مِنْ شَيْئٍ؟ فَيَقُوْلُوْنَ مَا تَرَكْنَا شَيْئًا مِمَّا عَلِمْنَاهُ وَحَفِظْنَاهُ اِلاَّ وَقَدْ اَحْصَيْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ فَيَقُوْلُ الله تَعاَلَى: اِنَّ لَكَ عِنْدِى حَسَناً وَاِناَّ اَجْزِيْكَ بِهِ وَهُوَ الذِّكْرُ الْخَفِى
Dari Aisyah ra. beliau berkata bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Dzikir (dengan tidak bersuara) lebih unggul dari pada dzikir (dengan suara) selisih tujuh puluh kali lipat. Jika tiba saatnya hari kiamat, maka Allah akan mengembalikan semua perhitungan amal semua makhluk-makhluknya sesuai amalnya. Para malaikat pencatat amal datang dengan membawa tulisan-tulisan mereka. Allah berkata pada mereka Lihatlah apakah ada amalan yang tersisa pada hamba-Ku ini? Para malaikat itu menjawab, kami tidak meninggalkan sedikit pun amalan yang kami ketahui kecuali kami mencatat dan menulisnya. Allah lalu berkata lagi (pada hamba-Nya itu), kamu mempunyai amal kebaikan yang hanya Aku yang mengetahuinya. Aku akan membalas amal kebaikanmu itu. Kebaikanmu itu berupa dzikir dengan sembunyi (tak bersuara).” (HR. al Baihaqi)


Abu Awanah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam masing-masing kitab kumpulan hadits shahih mereka, juga al Baihaqi di sebuah hadits berikut :

خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِى وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي وَقَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الذِّكْرُ لاَ تَسْمَعُهُ الْحَفْظَةُ يَزِيْدُ عَلَى الذِّكْرِ تَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا
Sebaik-baik dzikir adalah dzikir dengan samar (khafi) dan sebaik-baiknya rezeki adalah rezeki yang mencukupi, Nabi juga bersabda : “Dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat pencatat amal (maksudnya dzikir khafi) mengungguli atas dzikir yang dapat didengar oleh mereka (dzikir jahri) sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (HR. al Baihaqi)

☂ ☂ ☂ ☂ ☂ ☂ ☂ ☂ ☂

Menurut ulama :
Yang mentakhrij hadits tersebut, hadits itu dinilai sebagai hadits hasan lighairihi. Hadits-hadits lainnya yang berbicara tentang keutamaan dzikir khafi masih banyak sekali.

Sebagian orang yang telah mencapai tahapan makrifat mengatakan,
“Berdzikir dengan hati adalah pedangnya orang-orang yang meniti jalan ruhani. Dengan dzikir itu, mereka bisa membunuh habis musuh-musuh mereka dan menjadi tameng dari bahaya-bahaya yang merongrong mereka.” Orang-orang yang telah makrifat ini juga berkata, “Siapa saja yang diinginkan baik oleh Allah, maka akan dibukakan penutup hatinya dan ditanamkan keyakinan di dalamnya.”

Syaikh Abu Said al Kharraj berkata,
“Jika Allah ingin menjadikan seorang hamba sebagai kekasihnya, maka dia akan membukakan pintu pengingatnya. Jika hamba tersebut sudah merasa kelezatan dalam mengingatnya, maka dia akan membukakan pintu keakrabannya lalu diangkatlah hamba itu ke tempat yang serba nikmat dan senang gembira. Setelah itu dia akan mendudukkan hamba tersebut di atas kursi tauhid. Kemudian disingkapkan tirai yang menutupinya. Hamba itu lalu dimasukkan ke suatu ruangan tersendiri. Di sanalah, ia akan bisa melihat kebesaran dan keagungan-Nya. Ketika pandangannya tertuju pada kebesaran dan keagungan-Nya, maka dia sudah tidak merasa lagi sebagai makhluk. Karena saat itu ia telah menjadi masa yang fana. Lalu dia pun selalu berada dalam lindungan-Nya dan merasa terbebas dari berbagai pengakuan-pengakuan dirinya.”

Khalid bin Ma’dan berkata,
“Seorang hamba pasti mempunyai dua mata di mukanya yang digunakan untuk melihat fenomena dunia. Selain itu, ia juga memiliki dua mata lagi yang terletak di dalam hatinya yang digunakan untuk melihat fenomena akhirat. Ketika Allah menginginkan hamba tersebut menjadi orang yang baik, maka dia akan membukakan kedua mata hamba itu yang ada di dalam hatinya. Dengan demikian, kedua mata hatinya itu mampu melihat rahasia-rahasia keghaiban yang dijanjikan Allah. Lalu ketika Allah menginginkan hambanya, maka Allah tidak memperdulikan apa yang ada dalam hatinya.”

Ahmad bin Hadrawaih juga berkata,
“Hati adalah wadah. Jika wadah itu penuh dengan kebajikan maka cahaya-cahaya kebajikan (yang ada di dalamnya) akan keluar menyinari anggota-anggota tubuhnya. Jika wadah itu penuh dengan kebathilan, maka kegelapan yang ada di dalamnya akan bertambah ketika sampai pada anggota tubuhnya.”

Dzunnun al Mishri berkata,
“Satu jam dengan hati yang baik lebih utama dari pada ibadah seluruh manusia dan jin. Jika malaikat saja tidak masuk rumah yang di dalamnya terpadat gambar atau patung, maka bagaimana para pembawa kebajikan itu mau masuk pada seseorang yang di dalam hatinya dipenuhi dengan sesuatu selain Allah?”

Seorang agung yang telah menggapai tahapan makrifat, Abu al Hasan al Syadzili berkata”,
Sebiji atom amalan–amalan hati sama nilainya dengan amalan-amalan lahiriah (anggota tubuh).
Photo

Post has shared content

Titik huruf ba'
==========
Akan saya ulas tentang titik huruf ba' biar tuntas maksudnya agar engkau tidak lagi kebingungan.........

ba' itu adalah samudra batin, batin yaitu sesuatu yang ada didalam diri sendiri, tiada wujud rupa, namun bisa engkau fahami dalam dirimu sendiri...... bukan ini itu, namun bisa engkau mengerti adanya secara haqqul yakin dalam dirimu sendiri, itulah batin........

dibawah huruf ba' itu ada titik. maksudnya adalah didalam samudra batiniah itu ada satu titik, yaitu satu titik hayali, dalam batin yang sulit sekali dijelaskan dengan kata kata........

titik di bawah huruf ba' itu adalah huruf nun yang diperkecil menjadi titik........ maksudnya didalam samudra batin kita itu ada satu titik yang berisi nun, nun itu adalah nur yaitu lautan cahaya ilahiyah (uluhiyah), namun bukan cahaya sebagaimana lampu neon, tetapi adalah cahaya yang dimaksud dengan iman sejati, tanpa bisa digambar gambarkan....... Walau demikian bisa dimengerti dengan hati dan fikiran yang jernih.........

Diatas nun itu ada sebuah titik, titik itu adalah huruf ha' yang diperkecil....... ditengah huruf ha' itu hanya ada kekosongan yang tak bisa dikata katakan, yaitu sunyi sesunyi sunyinya, kosong se kosong kosongnya, dimana pengertian tentang jati diri, dan tentang TUHAN akan difahami siapapun tanpa terkecuali tatkala ia bisa mencapainya.......

ba' ==> nun ==> ha' ==> kosong

didalam batin itu ada setitik cahaya, dan didalam setitik cahaya itu ada kekosongan yang asing tak dikenali, hanya bisa dimengerti dalam bahasa rasa sejati........... Itulah kenyataan tentang TUHAN....... tak perlu sibuk mencari lagi walau seluruh kitab engkau kaji, seluruh guru engkau berguru, akhirnya akan menuju apa yang kukatakan ini........

Mudah2an engkau sudah faham.......... "rasakan jangan fikirkan"


Post has shared content
NING, NENG, NUNG, NANG

Siapa sejatinya diri kita sebagai manusia? Pertanyaan ini sederhana, dapat dikemukakan jawaban paling sederhana, maupun jawaban yang lebih rumit dan rinci. Jawaban masing-masing orang tidak bisa diukur secara benar-salah. Cara menjawab siapa diri manusia hanya akan mencerminkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kesejatian Tuhan. Hal ini sangat dipermaklumkan karena berkenaan dengan eksistensi Tuhan sendiri yang begitu penuh dengan misteri besar. Upaya manusia mengenali Sang Pencipta, ibarat jarum yang menyusup ke dalam samudra dunia. Yang hanya mengerti atas apa yang bersentuhan dengannya. Itupun belum tentu benar dan tepat dalam mendefinisikan. Tuan memang lebih dari Maha Besar. Sedangkan manusia hanya selembut molekul garam. Begitulah jika diperbandingkan antara Tuhan dengan makhlukNya. Namun begitu kiranya lebih baik mengerti dan memahamiNya sekalipun hanya sedikit dan kurang berarti, ketimbang tidak samasekali.

Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda.Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia saling bertentangan satu sama lainnya. Tetapi kedua unsur tidak dapat dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Terpisahnya di antara kedua unsur pembentuk manusia akan merubah eksistensi ke-manusia-an itu sendiri. Yakni di satu sisi terjadi kerusakan / pembusukan dan di sisi lain keabadian. Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda yakni fisiknya dan energinya. Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi batu-baterai berikut fungsinya. Dua unsur dalam manusia yakni; immaterial dan material, metafisik dan fisik, roh dan jasad, rohani dan jasmani, unsur Tuhan dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag). Marilah kita urai satu persatu kedua unsur pembentuk eksistensi manusia tersebut

Unsur Bumi

Jasad manusia wujudnya disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api). Jasad wadag menurut istilah barat sebagai body atau corpus, merupakan wadah atau bungkus unsur Tuhan dalam diri manusia. Unsur wadah tidak bersifat langgeng (baqa '), sebab unsur wadah terdiri dari bahan baku bumi, maka ia terkena rumus mengalami kerusakan sebagaimana rumus bumi.

Unsur Tuhan

Sebaliknya, unsur Tuhan bersifat kekal abadi tidak terjadi rumus kerusakan. Unsur Tuhan (Zat Tuhan) dalam tubuh manusia diwakili oleh metafisik manusia yakni unsur roh (spirit atau spiritus). Roh merupakan derivasi unsur Tuhan yang paling paling akhir dan paling erat dengan bahan baku metafisik manusia (Baca Posting; Mengungkap Misteri Tuhan). Dan spirit diartikan sebagai roh, ruh atau sukma. Roh bersifat suci (roh kudus / ruhul kuddus), tidak tercemar oleh "polusi" dan kelemahan-kelemahan duniawi.Karakter roh adalah berkiblat atau berorientasi kepada martabat kesucian Tuhan. Arti kata roh sangat berbeda dengan entitas jiwa (soul), hawa atau nafas (nafs), animus atau anemos (Yunani), dalam bahasa Jawa apa yang lazim disebut nyawa. Sekalipun berbeda istilah, tetapi memiliki makna yang nyaris sama.

Pertemuan Unsur Bumi dan Unsur Tuhan

Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni unsur bumi dan unsur Tuhan.Di antara kedua unsur tersebut terdapat "bahan penyambung", dalam literatur barat disebut soul atau jiwa (yang ini terasa kurang pas), Islam; nafs, Yunani; anemos, dan dalam bahasa Indonesia; udara, Jawa; nyawa (badan alus). Udara, jiwa, anemos, soul, atau nyawa merupakan satu entitas yang kira-kira tidak berbeda maknanya, berfungsi sebagai media persentuhan atau "lem perekat" antara roh (spirit) dengan jasad (body / corpus). Udara, nafs, anemos, soul, jiwa, nyawa bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus).

Hubungan Unsur Tuhan dengan Unsur Bumi dalam Laku Prihatin

Setiap bayi lahir memiliki tingkat kesucian yang dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih. Kesucian berada dalam wahana nafs atau hawa yang masih bersih belum tercemar oleh "polusi" keduniawian. Udara / nyawa / nafs diuji bolak-balik di antara dua kutub; yakni kutub jasmaniah yang berbasis di jasad (corpus) dan kutub ruhaniyah yang berbasis pada roh (spirit). Unsur roh bersifat suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material duniawi (dosa). Roh suci sebagai "utusan" Tuhan dalam diri manusia yang dapat membawa ketetapan / pedoman hidup. Sehingga roh dapat berperan sebagai obor yang memancarkan cahaya (spektrum) kebenaran dari Tuhan. Dalam perspektif Jawa roh suci (utusan Tuhan) tidak lain adalah apa yang disebut sebagai Guru Sejati. Guru Sejati tampil sebagai juru nasehat untuk hawa, jiwa atau nafs.

Hawa Nafsu; Ibarat Satu Keping Mata Uang

Udara (nafs) atau jiwa yang tunduk kepada roh suci (guru sejati) akan menghasilkan udara (nafs) yang disebut nafsu positif-meminjam istilah Arab-sebagai an-nafs al-muthmainah .. Sebaliknya jiwa atau hawa yang tunduk pada keinginan jasad disebut sebagai nafsu negatif. Nafsu negatif terdiri tiga macam; nafsu lauwamah (kepuasan biologis; makan, minum, tidur dst), nafsu amarah (amarah / angkara murka), dan nafsu shufiyah (mengejar kenikmatan psikis; misalnya seks, sombong, narsism, gemar dipuji-puji). Udara memiliki dua kutub nafsu yang bertentangan ibarat satu keping mata uang yang memiliki dua sisi. Akan tetapi kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara berbarengan. Bila kita ingin menampilkan gambar angka, maka letakkan nilai nominal di sisi atas, sebaliknya jika kita berkehendak melihat gambar burung kita letakkan gambar angka di bawah. Apabila seseorang mengaku bisa melihat kedua sisi satu keping mata uang dalam waktu yang sama, maka seseorang dikatakan berjiwa munafik alias kehidupan yang palsu hanya berdasarkan pengaku-akuan bohong.

Manusia Bebas Mencoblos Memilih

Pada setiap bayi lahir, Tuhan telah menciptakan udara dalam keadaan putih / suci.Manusia memiliki kebebasan menentukan apakah hawa nafsunya akan berkiblat kepada kesucian yang bersumber pada roh suci (ruhul kuddus), atau sebaliknya ingin berkiblat kepada kemungkaran jasad / raga (unsur duniawi).

Kadang kala Tuhan Maha Pemurah menganugerahkan seseorang untuk mendapat "bocoran soal" akan rahasia "ilmu Tuhan" melalui pintu hati (qalb) yang di sinari oleh cahyo sejati (Nurullah). Yang lazim disebut sebagai ungkapan dari (hati) nurani.Petunjuk dari Tuhan ini diartikan sebagai wirayat, wahyu, risalah, Sasmita gaib, ilham, wisik dan sebagainya. Dalam posting ini kami tidak membahas model dan macam petunjuk Tuhan tersebut.

Laku Prihatin adalah Jihad Sejati

"Penundukan" roh terhadap hawa nafsu negatif adalah penundukkan terhadap segala yang berhubungan dengan material (syahwat) atau kenikmatan ragawi. Dengan kata lain yakni penundukan unsur "Tuhan" terhadap unsur bumi. Dalam ilmu Jawa dikatakan sebagai jiwa yang tunduk pada kareping rahsa / rasa sejati (kehendak Guru Sejati / kehendak Tuhan), serta meredam rahsaning karep (kemauan hawa nafsu negatif).Segenap upaya yang mendukung proses "penundukan" unsur Tuhan terhadap unsur bumi dalam khasanah Jawa disebut sebagai laku prihatin. Dengan laku prihatin, seseorang berharap jiwanya tidak dikendalikan oleh keinginan jasad. Maka di dalam khasanah spiritual Kejawen, laku prihatin merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati. Seperti ditegaskan dalam serat Wedhatama (Jawa; Wredhotomo) karya KGPAA Mangkunegoro IV; bahwa ngelmu iku kalakone kanthi laku. Laku prihatin dalam istilah Arab sebagai aqabah, yakni jalan terjal mendaki dan sulit, karena seseorang yang menjalani laku prihatin harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsu yang negatif. Di mana ia sebagai sumber kenikmatan keduniawian. Maka apa yang disebut sebagai Jihad yang sesungguhnya adalah perang tanding di medan perang dalam kalbu antara tentara Muslim nafsu positif melawan tentara Amerika nafsu negatif. Disebut kemenangan dalam berjihad apabila seseorang telah berhasil "meledakkan bom" di pusat kekuasaan setan (hawa nafsu negatif) dalam hati kita. "Bahan peledaknya" bernama C4 dan TNT laku prihatin dan olah batin (wara 'dan amr ma'ruf nahi munkar).

Target Utama dalam "Berjihad" (Laku Prihatin)

Perjalanan spiritual dalam bentuk laku prihatin, memiliki target membentuk hawa nafsu positif atau nafsul muthmainnah. Karena si nafs atau hawa tersebut telah stabil dalam koridor rumus Tuhan (qodrat atau qudrah diri) atau dalam bahasa sansekerta lazimnya disebut sebagai swadharma. Roh yang berada pada tataran pencapaian ini, dalam bahasa Ibrani, ruh disebut sebagai syekinah yang diturunkan ke dalam kalbu dan berhasil merebut (amr) kebaikan (ma'ruf). Jika udara tidak berdaya karena kuatnya arus nafsu negatif yang dimasukkan jasad lewat pintu panca indera, maka kepribadian manusia dikuasai oleh "milisi" kekuatan batin yang oleh Freud diberi nama ego. Ego cenderung berkiblat pada jasad (duniawi). Maka sudah menjadi tugas hawa (id) untuk membangkang dari keinginan ego agar supaya membelot kepada kekuatan hawa positif (super ego). Hasilnya maka manusia dapat dikendalikan sesuai dengan kodrat dirinya sebagai khalifah Tuhan. Jadilah manusia yang tetap berada pada orbitnya (qodrat / rumus Tuhan), yakni apa yang dimaksud menjadi titah jalma menungsa kang sejati, yaiku nggayuh Kasampurnaning gesang, (untuk meraih) sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu.

Sangat terasa bahwa Tuhan sungguh lebih dari Maha Adil, setiap manusia tanpa kecuali dapat menemukan Tuhan melalui pintu nafs, jiwa, atau hawanya masing-masing, karena Tuhan telah membekali jiwa manusia akan kemampuan menangkap sinyal-sinyal suci dari Hyang Mahasuci. Sinyal suci yang diletakkan di dalam rahsa sejati (sirullah) dan roh sejati (ruhullah). Sudah merupakan rumus (Tuhan), apabila seseorang dapat meraih dharma-nya atau kodrat-dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, maka kehidupannya akan selalu menemukan fasilitas. Sebaliknya hawa nafsu negatif (setan) senantiasa menggoda udara / nafs manusia agar supaya hawanya berkiblat kepada unsur bumi.

Menjadi Pribadi yang Menang

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan "Baratayudha / Brontoyudho" (jihad) antara kekuatan nafsu positif (Pendawa Lima) melawan nafsu negatif (100 pasukan Kurawa). Perang berlangsung di medan perang yang bernama "Padang Kurusetra" (Kalbu). Peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang (jihad fi sabilillah) atau perang di jalan kebenaran.

Kemenangan Pendawa Lima diraih tidak mudah. Dan sekalipun kalah pasukan Kurawa 100 selamanya sulit dibrantas tuntas hingga musnah. Maknanya sekalipun hawa nafsu positif telah diraih, artinya hawa nafsu negatif (setan) akan selalu mengincar kapan saja si hawa lengah. Kejawen mengajarkan berbagai macam cara untuk memenangkan peperangan besar tersebut. Di antaranya dengan laku prihatin untuk meraih kemenangan melalui empat tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dalam nada suara salah instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong dan Bonang yang menimbulkan bunyi; Ning, Neng, Nung, Nang.

1. Neng; artinya jumeneng,

berdiri, sadar atau bangun untuk melakukan tirakat, semedi, maladihening, atau mesu bud i. Konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi gelombang Tuhan.


2. Ning; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi)

agar menyambung dengan daya rasa-sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Dalam kondisi "mati raga" kita menciptakan keadaan batin (hawa / jiwa / nafs) yang hening, khusuk, bagai di alam "awang-Uwung" namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Sehingga kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati.

3. Nung; artinya Dunung.

Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan Dunung (tahu / jelas) untuk mendapatkan anugrah agung dari Tuhan Yang Mahasuci . Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Hyang Mahasuci melalui rahsa lalu ditangkap roh atau sukma sejati, diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya selalu bermanfaat untuk orang banyak.

4. Nang; artinya menang;

orang yang tahu dengan jelas (puncak ma'rifat), akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya. sehingga amal perbuatan baik yang tak terhitung lagi akan menjadi benteng untuk diri sendiri . Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin. Kemenangan yang berupa anugrah, kenikmatan, dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yang dapat memberi manfaat (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta. Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu kecukupan, tentram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan dalam hidup (meraih ngelmu beja).

Neng adalah syariatnya, Ning adalah tarekatnya, Nung adalah hakekatnya, Nang adalah makrifatnya . Ujung dari empat tahap tersebut adalah kodrat (Sastrajendra Hayuning Rat pangruwating diyu)
Wait while more posts are being loaded