Profile

Cover photo
IKATAN PARANORMAL INDONESIA DPC MADIUN
56 followers|7,229 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

 
DPW IKTAN PARANORMAL INDONESIA JAWA TIMUR : Pada tanggal 04-Juni 2012 menetapkan bahwa semua yang aktif dalam kepengurusan DPC Ikatan Paranormal Indonesia daerah agar segerah mempersiapkan susunan pengurus masing - masing daerah. ( DPC Ikatan Paranormal Indonesia Kab. / Kota Madiun - Jawa Timur ditunjuk sebagai IPI percontohan )
 ·  Translate
2
Add a comment...
 
MAKAN DULU AHHHH
 ·  Translate
1
Add a comment...
 
CAFE TULUNGAGUNG
1
 
DPC Ikatan Paranormal Indonesia Madiun : Mengucapkan Selamat " Natal 2011 dan Selamat Tahun Baru 2012 "
 ·  Translate
1
Add a comment...
 
PACITAN JAWA TIMUR
 ·  Translate
1
Add a comment...
Have them in circles
56 people
Didy Sinchan's profile photo
Pusaka Nusantara's profile photo
galih putra's profile photo
RADEN WANGSA PANEGES's profile photo
Satrio Pinandito's profile photo
widodogb sastro's profile photo
bhetoro Mulyo's profile photo
Aditia Pratama's profile photo
dyan dyan.riapratama's profile photo
 
KI BINTANG TIMUR
 ·  Translate
1
Add a comment...
 
ACARA DI DPW IPI JAWA TIMUR
 ·  Translate
1
 
Sejarah Perjuangan Rakyat Madiun

Jejak – Jejak Sejarah Kerajaan diMadiun dan Sekitarnya

Jejak-jejakpemerintahan kerajaan dan kolonial di Madiun dapat kita lihat dan pelajari daribanyak sumber, diantaranya catatan sejarah yang berupa cerita babat, prasasti,kitab-kitab dari para pujangga, catatan-catatan kuno,cerita rakyat, ceritatutur dalam lakon-lakon kesenian drama tradisional dan sisa-sisa peninggalansejarah, yang berupa artefak dan tradisi budaya yang berasal dari para leluhurkita jaman dahulu. Jejak Kerajaan Medang Kahuripan diMadiunPadaabad ke-8 M wilayah Madiun berada di bawah pemerintahan Mataram Kuno denganpenguasa Dinasti Sanjaya yang berpusat di sekitar Jogjakarta sekarang, tidaklepas dari konflik politik dan perebutan kekuasaan maka pusat pemerintahankerajaan Mataram Kuno berpindah beberapa kali dan sampai akhirnya pusatpemerintahan Mataram pada abad ke -10 pindah ke Jawa Timur kemudian disebutkerajaan Medang yang di kuasai oleh Dinasti Isyana sebagai penerus DinastiSanjaya dan Syailendra. Raja Medang terakhir adalah Sri Maharaja TeguhDarmawangsa Anantawikrama Tunggadewa, wilayah kerajaan Medang bagian baratberbatasan langsung dengan Kerajaan Wurawuri / Worawari yang pusat kerajaannyadi Lwaram yaitu kemungkinan di daerah Cepu Jawa Tengah ( Mungkin sekarang DesaNgloram, Cepu, Kab. Blora ). Hubungan Medang dan Wurawari memanas sejakKerajaan Wurawari berhubungan erat dengan Kerajaan Sriwijaya untuk merebutselat Malaka sebagai jalur perdagangan. Persaingan memuncak Prabu Darmawangsamengirim pasukan untuk menduduki Malaka tahun 990-992 M. Dalam perseteruantersebut. Madiun punya arti penting, sungai Madiun dijadikan sebagailalu-lintas perdagangan dan militer. Winangga ( Kelurahan Winongo) dijadikansebagai pelabuhan biduk. Dalam bidang pertanian Prabu Darmawangsa menuliskanperundang-undangan tentang Tata air pertanian pada salah satu batu di PrasastiSendang Kamal dengan Bahasa Kawi yang berisi kutipan Kitab Shiwasana yaituKitab UU Hukum yang mengatur kehidupan bernegara dan masyarakat menurut ajaranHindhu Syiwaise yaitu kita harus taat Tri Darma bhakti : Kita wajib berbaktipada Siwa, Negara dan masyarakat termasuk keluarga Pusat pemerintahan PrabuDarmawangsa berada di Wwatan, kemungkinan Wwatan berada di wilayah MaospatiMadiun atau daerah Ponorogo (desa Wotan), belum ada bukti kepastian keberadaandari Kerajaan ini. Pada saat pesta pernikahan putri Prabu Darmawangsa denganAirlangga, tiba-tiba Kota Wwatan diserang oleh pasukan Wurawari. Peristiwa initercatat dalam Prasasti Pucangan. Prabu Darmawangsa Teguh tewas dan Airlanggaberhasil melarikan diri ke Wonogiri ditemani Mpu Narotama, setelah tiga tahundalam pelarian Airlangga membangun kembali Kerajaan Medang di Watan Mas (dekatGunung Penanggungan). Airlangga naik tahta untuk melanjutkan wangsa Isyana diJawa Timur tahun 1009 M. setelah melakukan penaklukan-penaklukan semua daerahdiantaranya Raja Hasin dari (?), Raja Wisnuprabawa dari Wuratan, RajaWijayawarma dari Wengker (Ponorogo), Raja Panuda dari Lewa, Raja Putri dariWilayah Tulungagung dan pada tahun 1032 Prabu Airlangga menaklukan RajaWurawari serta menumpas pemberontakan Wijayawarma Raja Wengker. Wilayahkekuasaan Prabu Airlangga membentang dari Pasuruan Timur sampai wilayah Madiundan membangun istana baru di daerah Sidoarjo bernama Kahuripan.

Asal Mula Nama Madiun

Padamasa pemerintahan Ki Ageng Reksogati dan Pangeran Timur nama Madiun belum ada,daerah ini dulu disebut Kadipaten Puroboyo. Asal kata Madiun mempunyai banyakversi, yang ditinjau dari berbagai sudut pandang, diantaranya yaitu : gabungandari : kata “medi” (hantu) dan “ayun-ayun” (berayunan), yaitu dikisahkan ketikaKi Mpu Umyang / Ki Sura bersemedi untuk membuat sebilah keris di sendangpanguripan ( sendang amerta ) di Wonosari ( Kuncen, sekarang ) diganggugendruwo/ hantu yang berayun-ayun di pinggir sendang, maka keris tersebut diberinama ”Tundung Mediun”. Kemudian cerita lain berasal dari “Mbedi” (sendang)“ayun-ayunan” (perang tanding) yaitu perang antara Prajurit Mediun yangdipimpin oleh Retno Djumilah di sekitar sendang. Kata ”Mbediun” sendiri sampaisekarang masih lazim diucapkan oleh masyarakat terutama di daerah KecamatanKare, Madiun. Mereka mengucapkan Mbediun untuk menyebutkan Madiun, versiberikutnya adalah Madya-ayun yaitu Madya ( tengah ) ayun ( depan ), PangeranTimur adalah adik ipar dan juga salah satu bangsawaan Demak yang sangat dihormati oleh Sultan Hadiwijoyo di Kasultanan Pajang, maka pada waktu acarapisowanan beliau selalu duduk sejajar dengan Sultan Hadiwijoyo di Madya ayun (tengah depan )Madiun pada Masa Kerajaan MataramIslamPadaakhir Pemerintahan Majapahit atau Masa kejayaan Kasultanan Demak Bintoro diwilayah Madiun selatan terdapat Kadipaten Gegelang atau Ngurawan yang didirikanoleh Pangeran Adipati Gugur salah satu putra Prabu Brawijaya V. Denganperkawinan putra mahkota Demak Pangeran Surya Pati Unus dengan Raden Ayu RetnoLembah putri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan ( mungkinDolopo sekarang ) maka pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke DesaSogaten dengan nama baru yaitu Purabaya. Pangeran Surya Pati Unus menduduki TahtaKabupaten Purabaya menggantikan Kyai Ageng Reksogati yang sebelumnya diangkatoleh Kasultanan Demak sebagai pemimpin sekaligus penyebar agama Islam diwilayah Sogaten mulai tahun 1518 (Sogaten = tempat Kyai Reksogati) berdasarkanpenduduk setempat istana Purabaya di Sogaten disebut Bale kambang dan terdapatpula dusun Santren ( mungkin dulu tempat Pesantren Kyai Reksogati )

Pangeran Timur dilantik menjadi Bupati di Purabaya bersamaan dengan dilantiknyaHadiwijoyo sebagai Sultan Pajang tanggal 18 Juli 1568, pemerintahan berpusat diDesa Sogaten dan Sidomulyo sekarang. Sejak saat itu secara yuridis formalKabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah pemerintahan Kabupaten di bawahKasultanan Pajang ( sebagai penerus Demak). Padatahun 1575 pusat pemerintahan dipindahkan dari Sogaten ke DesaWonorejo/Wonosari di sebut juga Kutho Miring (Kuncen sekarang) yang letaknyalebih strategis karena diapit 2 sungai yaitu Kali Catur dan Nggandong, sampaitahun 1590. Padatahun 1586 Kesultanan Pajang Runtuh akibat adanya konflik internal dan serangandari Mataram, maka Panembahan Rama (sebutan lain pangeran Timur) menyatakanbahwa Purabaya adalah kabupaten bebas yang tidak terikat dengan hierarkiMataram, dengan tidak tunduknya Purabaya pada Panembahan Senopati, maka Mataramsegera mengirim expedisi militer untuk menaklukan Purabaya sebagai pimpinanKabupaten Mancanegara Timur (Brang wetan), tahun 1586 dan 1587. Namun prajuritMataram selalu menderita kekalahan yang cukup berat. Prajurit Purabaya dansekutu dipimpin oleh Raden Ayu Retno Djumilah yang telah mendapatkan mandatdari ayahnya Panembahan Rama. Retno Djumilah memimpin seluruh KabupatenMancanegara Timur diantaranya, Kabupaten Surabaya, Pasuruan, Kediri, Panaraga,Kedu, Brebek, Pakis, Kertosono, Ngrowo, Blitar, Trenggalek, Tulung, Jogorogodan Caruban. Pada tahun 1590, dengan berpura-pura menyatakan takluk dalam versilain atas saran Ki Mandaraka (Ki Juru Mertani) Panembahan Senopati mengutusseorang dayang cantik jelita bernama Nyai Adisara untuk menyatakan kekalahandengan membawa surat takluk dan sebagai tanda, Nyai Adisara membasuh kakiPanembahan Rama yang airnya nanti digunakan untuk siram jamas PanembahanSenopati, hal ini membuat Pasukan Purabaya dan sekutunya terlena, makaberangsur-angsur pulanglah pasukan sekutu dari Kabupaten Purabaya, dengan ahlistrategi Ki Juru Mertani dan 40.000 prajurit Mataram yang telah bersiap dibarat Kali Madiun menyerang pusat istana Kabupaten Purabaya, terjadilah peranghebat, tepat pada sore hari prajurit Madiun kalah dan banyak yang melarikandiri ke Surabaya, tinggalah Raden Ayu Retno Djumilah yang memang sudahditugaskan ayahandanya untuk mempertahankan Purabaya, dengan di bekali pusakaTundhung Mediun yang bernama Keris Kala Gumarang dan sejumlah kecilpengawalnya. Perang tanding terjadi antara Sutawidjaja dengan Raden Ayu RetnoDjumilah dilakukan disekitar sendang di dekat istana Wonorejo (daerah Demangan)
Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut oleh Sutawijaya dan melalui bujukrayunya, Raden Ayu Retno Djumilah dipersunting oleh Sutawijaya kemudiandiboyong ke istana Mataram sedangkan Panembahan Rama (Ronggo Jumeno) melarikandiri ke Surabaya, sebagai peringatan penguasaan Mataram atas Purabaya tersebutmaka pada hari Jum’at Legi tanggal 16 Nopember 1590 Masehi nama “Purabaya”diganti menjadi “Mbediyun ” atau Mediun. Situasi Perang Trunojoyo danSuropati di MadiunPadatahun 1676 terjadi pemberontakan Trunojoyo terhadap Amangkurat I di Mataramyang bekerjasama dengan VOC. Trunojoyo, pangeran dari Madura ini banyakmendapat dukungan dari berbagai kalangan. Setelah berhasil menguasai hampirseparoh wilayah Mataram, pasukan Trunojoyo menyerbu istana Mataram di Plereddan berhasil menguasai Mataram, hingga Sri Susuhunan Amangkurat I harusmenyingkir ke barat, sampai di Tegalwangi dan meninggal di sana (terkenaldengan Sunan Tegalarum), menggantikan ayahnya Pangeran Adipati Anom bergelarSusuhunan Amangkurat II, segera bersekutu dengan VOC untuk memberantas PasukanTrunojoyo. Akhirnya tahun 27 Desember 1679, Benteng pertahanan terakhirTrunojoyo dikepung 3000 prajurit VOC, Aru Palaka (Makassar) dan Mataram,Trunojoyo menyerah di lereng Gunung Kelud.Padawaktu perang Trunojoyo ini, Madiun di bawah Bupati Kyai Irodikromo atauPangeran Adipati Balitar (1645-1677) kemudian digantikan putranya PangeranTumenggung Balitar Tumapel (1677-1703). Menurut catatan VOC , dalam perang inirakyat Madiun bersikap statis walaupun dalam hatinya mereka lebih memihakperjuangan Trunojoyo melawan Susuhunan Amangkurat II yang bersekutu dengan VOC.Dukungan rakyat Madiun terhadap Trunojoyo hanya berupa dukungan moral danlogistik pada pasukan Trunojoyo yang berlindung di wilayah Madiun.Tanggal5 Nopember 1678, pasukan Amangkurat II dengan jumlah besar yang terdiri dariPrajurit Makassar, Malaya, Ambon dan juga Jawa setelah singgah di Desa KlagenGambiran kemudian berkemah di pinggir Kali Madiun di Desa Kajang. Disinipasukan Belanda dibawah Kapten Tack bergabung. Hari berikutnya merekameneruskan pengejaran terhadap Trunojoyo ke timur, di Desa Tungkur (saradan)Pasukan Trunojoyo mengadakan perlawanan sengit hingga pasukan Mataram terpaksabermalam di Caruban.
Tanggal 17 Nopember 1678 , pasukan gabungan ini menyeberangi sungai Brantasuntuk masuk ke wilayah pertahanan Trunojoyo di Kediri. PERANG SUROPATI
Untung Suropati adalah pelarian dariBanten, karena telah menghancurkan Pasukan Kuffeler yang akan menjemputPangeran Purbaya untuk dibawa ke Benteng Tanjungpura. Maka Untung Suropatimenjadi buronan Kompeni Belanda. Kemudian Untung Suropati pergi ke barat sambilmengantar istri Pangeran Purbaya ”Gusik Kusuma” pulang ke Kartasura. DiKartasura Suropati di terima baik oleh Sri Susuhunan Amangkurat II. Pebruari1686 Kapten Francois Tack terbunuh oleh Suropati di halaman istana Kartasura,ketika tentara VOC akan menangkap Suropati. Karena takut pada VOC, AmangkuratII merestui Suropati yang di bantu Patih Nerangkusuma (ayah Gusik Kusuma) pergike timur untuk merebut Kabupaten Pasuruan (Bupati Anggajaya). Dalam hal inirakyat Madiun mendukung Untung Surapati baik berupa harta-benda maupu bantuanprajurit Madiun. Maka VOC mendapat hambatan yang serius ketika melakukanpengejaran Pasukan Surapati ke timur melewati wilayah Madiun. Maka dengandemikian secara langsung Madiun ikut berperang melawan Kompeni Belanda, banyakpemimpin Madiun yang menjadi senopati perang melawan tentara VOC, diantaranyaSindurejo (kemudian menetap di Ponorogo), Singoyudo kemudian menetap danmenjadi cikal bakal Desa Candi, Bagi Kecamatan Sawahan. Pertempuran di Madiunbanyak memakan korban pihak tentara VOC yang pimpin Kapten Zaz.
Tahun 1703 sepeninggal Sri Susuhunan Amangkurat II, terjadi perang suksesi JawaI (1704-1708), yaitu perang perebutan kekuasaan Kartasura antara Amangkurat III(Sunan Mas) dengan pamannya yaitu, Pangeran Puger. Pangeran Puger kemudianpergi ke Semarang, beliau disana diangkat sebagai Susuhunan oleh para bangsawandan Pemerintah Belanda.
Bupati Madiun Pangeran Tumenggung Balitar Tumapel wafat karena usia tua, putrisulungnya Raden Ayu Puger menggantikan kedudukan Bupati Madiun, beliau jugamembantu mengirim prajurit-prajurit Madiun untuk membantu perjuangan Suropati.Tahun 11 September 1705 suami Bupati Madiun, Pangeran Puger memasuki istanaKartasura, dinobatkan menjadi raja Mataram Kartasura dengan gelar Sri SusuhunanPaku Buwono I, tentunya Raden Ayu Puger mengikuti suaminya bertahta diKartasura, sebagai penggantinya ditunjuklah saudaranya bernama Pangeran HaryaBalitar menjadi Bupati Madiun. Pada saat itu perang Surapati beralih ke timur,di Pasuruan yang telah di rebut Untung Surapati dan menduduki tahta BupatiPasuruan dengan gelar Tumenggung Wiranegara. Untuk mengurangi jatuhnya korban,Susuhunan Paku Buwono I memerintahkan Kabupaten Madiun untuk menghentikanperlawanan. Namun sudah terlanjur banyak korban dari Madiun, diantaranya KyaiRonggo Pamagetan, Tumenggung Surobroto, dan Pangeran Mangkunegara dari Caruban.
Tahun 1705 Pangeran Sunan Mas (Amangkurat III) diusir dari istana Kartasura danbergabung dengan Untung Surapati di Pasuruan. Tahun 1706 terjadi pertempuranhebat di Bangil, akhirnya Benteng Surapati dapat dihancurkan prajurit gabungan,Untung Surapati tewas tanggal 17 Oktober 1706. Peperangan masih dilanjutkanoleh putra Suropati yaitu Raden Pengantin, Surapati dan Suradilaga yang dibantu prajurit dari Bali sampai tahun 1708, yang akhirnya banyak melarikan diribergabung dengan Bupati Jayapuspita di Surabaya, Amangkurat III tertangkap dandi buang ke Srilangka. Setelah perang selesai, iring-iringan prajurit gabunganKartasura dan VOC kembali melalui Kertosono, Caruban, Madiun, Ponorogo,Kedawung dan sampai di Kartasura.
Setelah perang Trunojoyo dan Suropati, selama hampir 40 tahun keadaan Madiunaman dan tentram, VOC tidak mau ikut campur urusan pemerintahan di KabupatenMadiun. Bupati yang berkuasa pada waktu itu adalah Pangeran Harya Balitar,dilanjutkan Tumenggung Surowijoyo dan Pangeran Mangkudipuro hingga sampai masaPalihan Nagari. Madiun pada Masa Palihan NagariSurakarta dan Jogjakarta


PalihanNegari atau sering disebut sebagai Perang Suksesi Jawa III, yaitu ketikaterjadi peperangan antara Susuhunan Paku Buwono II dan III yang di bantupasukan VOC melawan Pangeran Mangkubumi yang di bantu Raden Mas Said (terkenaldengan Pangeran Samber nyawa), Perang ini berawal dari ikut campurnya VOC padaPemerintahan Surakarta dan di cabutnya hak Pangeran Mangkubumi atas tanahSukowati (wilayah Sragen) oleh Paku Buwono II, hal ini memang sudah diatur danmerupakan bagian dari politik ”devide et impera” Kompeni Belanda. Peperangandimulai 11 Desember 1749 sampai dengan 13 Pebruari 1755, para ahli sejarahperang ini sering disebut Perang Suksesi Jawa III. Dalam perang ini rakyat JawaTimur termasuk Mediun medukung penuh perjuangan Pangeran Mangkubumi dan RadenMas Said. Walaupun Mediun merupakan wilayah dari Kasunanan SurakartaHadiningrat, pada waktu itu yang menjadi Bupati adalah Pangeran Mangkudipuroyang merupakan Bangsawan dari Surakarta.
Pangeran Mangkudipuro (1725 – 1755) berkedudukan di Istana Kranggan, selakuBupati Wedono membawahi 14 bupati Mancanegara Timur memperkuat pertahanan diwilayah Brangwetan, sedangkan yang memegang pemerintahan sehari-hari diserahkankepada seorang Patih sebagai pejabat Bupati Mediun, yaitu Raden TumenggungMertoloyo ( 1726-1749)
Gubernur Jendral Jacob Mossel yang berkuasa di Bumi Nusantara (1750-1761)menugaskan Jendral Van Hogendorf untuk mengadakan perundingan dengan parapemimpin peperangan, dengan dengan bantuan Patih Pringgoloyo (patih Surakarta)Jendral Van Hogendorf berunding dengan Pangeran Mangkubumi tanpa sepengetahuanRaden Mas Said.
Raden Mas Said alias Pangeran Surjokusumo Prang Wadono, Pangeran Mangkudipurodan Tumenggung Mertoloyo yang merupakan Wedono Mancanegara Timur dan BupatiMediun tidak tahu-menahu pendekatan licik yang dilakukan Kompeni. Mereka terusmenyusun kekuatan dan bertempur melawan Kompeni dan Prajurit Paku Buwono III,Raden Mas Said dendam karena ayahnya yang bernama Pangeran Mangkunegara (saudara Susuhunan Paku Buwono II ) diasingkan oleh Belanda ke Sri langka.
Pada Hari Kamis, 13 Pebruari 1755, adalah awal pecahnya Mataram dengan adanyakesepakatan (perjanjian Gianti ) antara Pangeran Mangkubumi dengan KompeniBelanda. Salah satu isinya adalah Negara Mataram di bagi dua, dan PangeranMangkubumi diakui sebagai Sultan Jogjakarta bergelar ”Hamengku Buwono Senapatiing Alaga Abdul Rachman Sayidin Panatagama Kalifatolllah” dan berkuasa atasseparoh dari wilayah pedalaman Kerajaan Mataram Islam (Surakarta) termasukKabupaten Mediun dan sekitarnya.
Walaupun Pangeran Mangkubumi telah bertahta di Jogjakarta namun Bupati MadiunPangeran Mangkudipuro tetap tidak menghiraukan isi Perjanjian Gianti, terbuktidengan pemboikotan Mangkudipuro dalam penyerahan hasil bumi pada PemerintahanSultan Hamengku Buwono I. Secara kebetulan Kabupaten Sawo (Ponorogo) yang merupakanbagian dari kekuasaan kerajaan Jogyakarta ( oleh Jogja dikenal sebagai kukubaning sak wetane Gunung Lawu ) ada usaha untuk memisahkan diri (mbalelo) dariKerajaan Jogjakarta, kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono I mengutus BupatiWedono Madiun, Pangeran Mangkudipuro untuk menangkap Bupati Sawo, namun karenaPangeran Mangkudipuro setengah hati dalam melakukan tugasnya, maka beliauterluka dan kalah dalam peperangan, hal ini membuat Sri Sultan marah, makakedudukan Wedono Bupati Mancanegara Timur pun dilepas dan Pangeran Mangkudipurodisingkirkan dengan diberi kedudukan sebagai Bupati di Caruban. PenggantiMangkudipuro diangkatlah seorang panglima perang tangguh ”Raden Prawirosentiko”sebagai Bupati Mediun dan merangkap sebagai Wedono Bupati Mancanegara Timur,dengan gelar Pangeran Ronggo Prawirodirjo I dan masih menempati Istana lama diKranggan. Tahun 1784 Ronggo Prawirodirjo I wafat dan dimakamkan di PemakamanTaman yang kemudian oleh Sultan Hamengku Buwono ditetapkan sebagai TanahPerdikan. Raden Mangundirjo putra dari Ronggo Prawirodirjo I, naik tahtamenggantikan ayahnya sebagai Bupati Wedono Mancanegara Timur bergelar RonggoPrawirodirjo II (1784-1797) sebagai bupati ke 15. selain berkedudukan di Istanalama Kranggan beliau juga membangun kembali Istana Wonosari (Kuncen) sebagaiIstana Bupati Mediun yang baru,
Bupati ke 16 adalah Ronggo Prawirodirjo III (1797-1810) putra dari RonggoPrawirodirjo II, beliau juga menantu Sultan Hamengku Buwono II atau suami dariGusti Kanjeng Ratu Maduretno, di samping menjadi bupati beliau juga sebagaipenasehat Hamengkubowono II bersama Adipati Danurejo II dan TumenggungSumodiningrat. Ada 14 Bupati Brang wetan yang berada di bawah pengawasannya,Beliau berkedudukan di tiga Kraton yaitu Jogjakarta, Maospati dan Wonosari.Ronggo Prawirodirjo III gugur saat perang melawan tentara Belanda di Kertosono(17-12-1810), kemudian dimakamkan di pemakaman Banyu Sumurup. Tahun 1957 olehSultan Hamengku Buwono, Ronggo Prawirodirjo dimakamkan kembali di PemakamanGiripurno, Gunung Bancak beserta Permaisurinya yaitu GKR Maduretno dandinyatakan sebagai pejuang perintis melawan penjajahan Belanda.
Pada masa kepemimpinan Ronggo Prawirodirjo II, lahir pahlawan nasional putraMadiun yang bertugas sebagai senopati perang Pangeran Diponegoro, yang bernamaAli Basah Sentot Prawirodirjo.Perlawanan Rakyat Madiun terhadapBelanda

Pangeran Ronggo Prawirodirjo III termashur keperwiraanya, taat beribadah dansangat anti terhadap Kolonial Belanda. Beliau memperistri Putri Sultan HamengkuBuwono II, yaitu Gusti Kanjeng Ratu Maduretno. Kabupaten Mediun pada waktuPemerintahan Ronggo Prawirodirjo III berpusat di Maospati, namun karenakesibukannya sebagai penasehat Sultan maka beliau sering menetap di KratonJogjakarta. Didalam Kraton Kasultanan sendiri terjadi perseteruan antara RonggoPrawirodirjo III di bantu Tumenggung Sumodiningrat melawan Adipati Danurejo IIyang mengantek pada Belanda.
Sejak 31 Desember 1799, Kekuasaan VOC dibubarkan, dan 1 Januari 1880 digantikandengan ”Pemerintah Hindia Belanda” yang dipimpin oleh Mr.Willem Daendels yangberpangkat Gubernur Jenderal. Pada masa ini terjadilah perselisihan antaraWillem Daendels dengan Ronggo Prawirodirjo III, yang diawali dari permintaantata tertib upacara yang di tetapkan Daendels, yaitu dalam upacara pisowanan diIstana Jogjakarta, Residen Belanda dalam menghadap sultan saat masuk melaluialun-alun utara dengan naik kereta dan di kawal pasukan dengan payung kebesarandan duduk sejajar dengan sultan, serta harus mempersembahkan minuman, karenadianggap sebagai perwakilan Negeri Belanda. Dengan tata tertib tersebut, RonggoPrawirodirjo III sebagai penasehat sultan merasa terhina, dan menyatakan tidaksenang terhadap Belanda, terutama kepada Patih Danurejo II yang dipandangsebagai otak kekacauan yang dilakukan Belanda didalam Istana Jogjakarta.
Perselisihan yang paling hebat terjadi saat,Daendels menetapkan hutan-hutan diJawa termasuk wilayah Madiun menjadi milik Pemerintah Belanda, Hutan di wilayahMadiun di tebang dan di angkut ke Surabaya untuk membuat 20 kapal perangBelanda.
Bersamaan dengan itu, di luar istana banyak terjadi kerusuhan-kerusuhan yangmenurut Belanda, semuanya terjadi atas perintah Bupati Madiun. Kerusuhan itudiantaranya terjadi di wilayah Ponorogo yang merupakan wilayah KasunananSurakarta. Kemudian Perampokan dan pembunuhan yang dilakukan Demang Tirsana”Tirtowijoyo” juga dituduh sebagai kaki tangan Ronggo Prawirodirjo III. WillemDaendels minta kepada Sri Sultan agar Bupati Madiun Ronggo Prawirodirjo IIIbeserta kaki tangannya yang dianggap sudah menimbulkan kekacauan agardiserahkan kepada Belanda untuk mendapat hukuman, melalui Van Broom Belandamenyampaikan 4 tuntutan, yaitu :1. Sultan agar menerima upacara baruyang sudah ditetapkan Daendels.2. Mengembalikan Raden Danurejo IIsebagai Patih Kerajaan.(semula dipecat karena berpihak pada Belanda)3. Memberhentikan jabatan Patih RadenTumenggung Notodiningrat.
(karena beliau dianggap membahayakan Belanda)4. Memanggil Bupati Ronggo PrawirodirjoIII, agar menghadap ke Bogor supaya minta ampun pada Gubernur Jendral. Perlawanan Ronggo Prawirodirjo IIIterhadap Pemerintah BelandaKarenaSri Sultan Hamengku Buwono II tidak mengindahkan tuntutan Daendels diatas, makaIstana Jogja dikepung 1500 pasukan Belanda dengan persenjataan lengkap, hinggaakhirnya tuntutan tersebut berangsur-angsur dilaksanakan oleh Sultan. Dengandipenuhinya tuntutan tersebut maka Ronggo Prawirodirjo III memilih meninggalkanistana Jogjakarta kembali ke Maospati dan mengadakan perang gerilya terhadapBelanda. Beliau menyerukan ajakan kepada semua rakyat Mancanegara Timur danmasyarakat Tionghoa dengan menggunakan gelar baru ”Susuhunan Prabhu ing Alogo”dan Patih Madiun Tumenggung Sumonegoro mendapat gelar ”Panembahan SenopatiningPerang”
Pemberontakan Bupati Madiun ini mendapat perhatian serius dari Daendels, denganancaman penggantian Sultan oleh Belanda, maka dengan terpaksa Sri SultanHamengku Buwono II mengirim pasukan bersama Belanda untuk menangkap RonggoPrawirodirjo III, namun sampai tiga kali ekspedisi, Prajurit Jogjakarta danBelanda mengalami kekalahan. Barulah Desember 1810 dengan panglima perangPangeran Dipokusumo (saudara Pangeran Diponegoro) mampu menduduki istanaMaospati, Madiun. 17 Desember 1810 terjadi pertempuran dahsyat di Desa SekaranKertosono, hingga Pangeran Dipokusumo bisa langsung berhadapan dengan RonggoPrawirodirjo III, dengan tombak sakti ”Kyai Blabar” Ronggo Prawirodirjo IIIbertempur melawan Dipokusumo. Dalampertempuran ini terjadi sebuah konflik bathin pada diri Ronggo PrawirodirjoIII, yang di hadapi sekarang bukanlah Belanda tetapi saudara sendiri dankeberlangsungan tahta Sultan Hamengku Buwono II, akhirnya dengan berat hatiRaden Ronggo memilih mati dengan pusakanya sendiri ”Tombak Kyai Blabar” Dalamversi Babad : karena Pangeran Dipokusumo diperintahkan untuk membawa hidup ataumati, atas permintaanya sendiri beliau dibunuh dengan tombak Kyai Blabar olehPangeran Dipokusumo dalam perkelahian pura-pura. Demikianlah Raden RonggoPrawirodirjo III, Pahlawan Madiun menemui ajalnya sebagai korban Daendels danantek-anteknya ”Patih Danurejo II” dengan politik ”Devide et impera”
Untuk mengisi jabatan Bupati dan Wedono Mancanegara Timur dan atas jasanya makadiangkatlah Pangeran Dipokusumo oleh Sultan Hamengku Buwono II untuk mengisijabatan tersebut tahun 1810-1822. Politik pemerintahanya masih melanjutkanpolitik Ronggo Prawirodirjo III dengan tunduk sepenuhnya pada Jogjakarta dantidak menuruti sepenuhnya permintaan Belanda.Masa Perang Diponegoro di MadiunBupatiMadiun Pangeran Raden Ronggo Prawirodiningrat adalah putra ke enam RonggoPrawirodirjo III dengan ibu suri GKR Maduretno, saudaranya kandungnya adasebelas, yakni RA Prawironegoro, RA Suryongalogo, RA Pangeran Diponegoro, RASuryokusumo, Raden Adipati Yododiningrat (Bupati Ngawi), Raden RonggoPrawirodiningrat sendiri ( Bupati Madiun), RA Suronoto, RA Somoprawiro, RANotodipuro, dan RA Prawirodilogo. Sedangkan dari ibu selir putri asli Madiun,lahirlah Pahlawan Nasional Raden Bagus Sentot Prawirodirjo. Beliau sejak kecil hidupdilingkungan istana Jogjakarta. Padamasa pemerintahan Ronggo Prawirodiningrat ini, meletus perang Diponegoro danrakyat Madiun dan sekitarnya dari semua golongan mendukung perlawanan PangeranDiponegoro terhadap pemerintahan Belanda. Dari catatan Kapten Inf. P.J.F. Louwdan Kapten Inf. E.S. De Klerck menyatakan sebagai berikut :
Daerah Madiun dan sekitarnya yang ikut berperang adalah :
- Maospati
(tempat Bupati Wedono Madiun yang memegang komando tertinggi wilayahMancanegara Timur )
- Wonorejo
- Kranggan atau Wonokerto
- Muneng dan Bagi
- Keniten (Ngawi)
- Magetan ( terdiri dari 3 kabupaten)
- Bangil (Ngawi)
- Purwodadi (Magetan)
- Gorang-gareng (terdiri dari 2 kabupaten)
- Ponorogo ( terdiri dari 6 kabupaten)
- Caruban
- Lorog ( Pacitan)
- Panggul (Pacitan) Pada waktu permulaan perang , bupatidi wilayah Madiun yang memimpin perang sebagai Panglima daerah senagai berikut:
- Raden Mas Tumenggung Prawirodirjo ( saudara sepupu Pangeran Diponegoro )
- Raden Mas Tumenggung Prawirosentiko, Bupati kepala II di Tunggul/ Wonokerto
- Raden Mas Tumenggung Surodirjo, Bupati Keniten
- Raden Mas Tumenggung Yudoprawiro, Bupati Maospati
- Raden Mas Tumenggung Yudokusumo, Bupati Muneng
- Raden Mas Tumenggung Surodiwiryo, Bupati Bagi
- Raden Ngabehi Mangunprawiro, Bupati Purwodadi Pemimpinpeperangan yang berasal dari Madiun terdiri dua orang yaitu : Mas Kartodirjodan Raden Tumenggung Mangunprawiro, putra Tumenggung Mangunnegoro yang telahgugur dalam medan perang, selaku panglima perang Pangeran Diponegoro. Awal perangteradi di Kota Ngawi, Kawuh, Gerih dan Kudur Bubuk semuanya di perbatasanKabupaten Madiun. VanLewick, staf diplomatik Belanda berusaha untuk mengadakan perdamaian denganmengundang Bupati-bupati di wilayah Madiun, dengan iming-iming tertentu, diharapsemua Bupati tidak membantu Perang Diponegoro dan mengakui pemerintahan HindiaBelanda. Usaha Van lewick ini gagal karena mereka tetap menghormati sikapBupati Wedono Madiun.Jalannya peperangan, diantaranya sebagai berikut :
Tanggal 13 Nopember 1828, pasukan Belanda berhasil merebut Kota Ngawi denganpimpinan Kapten Theunissen Van lowick, kemudian pasukan Madiun bergeser keselatan Kota Ngawi, namun akhirnya dikepung Pasukan Belanda yang dibantuPrajurit Kabupaten Jogorogo (Kabupaten wilayah Surakarta) dan pasukan Madiunberhasil di kacaukan, sekitar 60 prajurit gugur. Tahun 1825, belanda mendirikanBenteng stelsel di Kota Ngawi.
Di Pacitan Peperangan dipimpin oleh Bupati Mas Tumenggung Joyokarijo, MasTumenggung Jimat dan Ahmad Taris, akan tetapi akhir Agustus 1825 daerah Pacitanberhasil dikuasai Belanda. Bupati Joyokarijo di pecat, sedang Tumenggung Jimatdan Ahmad taris ditangkap yang nasibnya tidak diketahui. Sebagai bupati baru,diangkatlah oleh Belanda Mas Tumenggung Somodiwiryo, akan tetapi tidak lamabertahta sebab 9 Oktober 1825 diserbu oleh pasukan Madiun yang dipimpin olehRaden Mas Dipoatmojo putra Diponegoro sendiri dan berhasil membunuh bupati barutersebut. Namun akhirnya awal Desember 1825 seluruh pasukan Madiun di Pacitanberhasil dipecah belah oleh Belanda, hingga Pacitan sepenuhnya di kuasaiBelanda.Setelahpertahanan di Ngawi jatuh ke tangan tentara Belanda, prajurit Madiun kembalimemusatkan pertahanan di Ibukota Wonorejo, Madiun. Dibawah Kapten Inf. Rosseryang membawa pasukan dari Madura, Benteng Ngawi, dan dibantu PrajuritMangkunegaran sedangkan dari selatan prajurit Kasunanan Surakarta di Ponorogo.Terjadilah perang hebat, pada tanggal 18 Desember 1825, hingga akhirnya pasukanMadiun berhasil dikalahkan, Pangeran Serang beserta istrinya gugur sebagaikusuma bangsa. Beliau adalah menantu Pangeran Mangkudiningrat yang antiInggris, akhirnya dibuang oleh Raffless ke Bengkulu (1812) sedangkan PangeranSerang sendiri adalah keturunan Sunan Kalijogo dari Kadilangu, Demak. Tanggal9 Januari 1826 Panglima Daerah Mas Kartodirjo berhasil di tangkap dan terbunuh.Walaupun demikian beberapa Bupati masih setia dan tetap bergabung denganPangeran Diponegoro. Secara formal sejak 9 Januari 1826, Bupati wedonoMancanegara Timur, Ronggo Prawirodiningrat sudah dibawah kekuasaan Belanda,beliau ditangkap dan dibawa ke benteng Ngawi. Tahun 1827 didirikan bentengBelanda beserta satu detasemen tentara dengan senjata lengkap di dekat IstanaBupati Wedono Madiun Wonorejo di Desa Kartoharjo. Juni tahun 1828 masih adapemberontakan-pemberontakan kecil di wilayah Madiun dengan pimpinan RadenSosrodilogo yang akhirnya tertangkap 3 Nopember 1828 SekarangBupati Madiun berkedudukan di Pangongangan yaitu ditengah Kota Madiun, sekarangdi Komplek Perumahan Dinas Bupati Madiun. Disinilah seterusnya Bupati Madiunsampai sekarang menjalankan pemerintahan, sedangkan makamnya ada di KelurahanTaman (dulu Desa Perdikan). Disini disemayamkan pahlawan-pahlawan pendiriKabupaten Madiun pada zaman lampau, sehingga kepada orang yang dipercayamenjaga/merawat makam tersebut diberikan hadiah satu wilayah Pedesaan sebagaitanah perdikan serta hak untuk memungut hasilnya, bersifat Orfelijik (turuntumurun).Nama Para Bupati / WedonoMancanegara Timur di MadiunKyai / Ki Ageng Reksogati 1518 –1568
( Perwakilan Demak / Penyebar Agama Islam )
1. Pangeran Timoer 1568 -1586
( disebut juga Panembahan Rama atau Ronggo Jumeno)
2. Raden Aju Retno Djumilah 1586 – 1590
3. Panembahan Senopati 1590 – 1591
( nama Purabaya dirubah menjadi Mbediun /Mediun )
4. Raden Mas Soemekar 1591 – 1595
5. Pangeran Adipati Pringgolojo 1595 – 1601
6. Raden Mas Bagoes Petak
( Mangkunegoro I )1601 – 1613
7. Pangeran Adipati Mertolojo
( Mangkunegoro II ) 1613 – 1645
8. Pangeran Adipati Balitar Irodikromo
( Mangkunegoro III ) 1645 – 1677 ( terjadi perang Trunojoyo)
9. Pangeran Toemenggoeng Balitar Toemapel 1677 – 1703
10. Raden Ajoe Poeger 1703 – 1704
( terjadi pemberontakan Untung Suropati sehingga RA Puger mengikuti suaminya keKraton Kartasura )
11. Pangeran Harjo Balater 1704 – 1709
(Sebagai saudara dan Menggantikan RA Puger)
12. Toemenggoeng Soerowidjojo 1709 – 1725
13. Pangeran Mangkoedipoero 1725 – 1755
( terjadi Palihan Nagari Jogjakarta dan Surakarta, Madiun di bawah PemerintahanJogjakarta, kemudian diangkatlah Raden Ronggo Prawiro Sentiko oleh HamengkuBuwono I sebagai Bupati Madiun bergelar Ronggo Prawirodirjo I, berkedudukan diIstana Kranggan )
14. Raden Ronggo Prawirodirdjo I 1755 – 1784
15. Pangeran Raden Mangundirdjo
(Ronggo Prawirodirdjo II ) 1784 – 1795
(Berkedudukan di Istana Kranggan dan Wonosari )
16. Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III 1795 – 1810
(Berkedudukan di Istana Wonosari, Maospati dan Jogjakarta)
17. Pangeran Dipokoesoemo 1810 – 1820
18. Raden Ronggo Prawirodiningrat 1820 – 1822
( beliau saudara lain ibu dari Bagus Sentot Prawirodirjo )
19. Raden Toemenggoeng Tirtoprodjo 1822 – 1861
20. Raden Mas Toemenggoeng Ronggo Harjo Notodiningrat 1861 – 1869
( karena kekuasaan Belanda, Bupati Notodiningrat hanya menjadi Kepala KantorPemerintahan Kolonial / Rijkbestuur )
21. R.M. Toemenggoeng Adipati Sosronegoro 1869 – 1879
( sebagai Rijsbestuur )
22. Raden Mas Toemenggoeng Sosrodiningrat 1879 – 1885
( Belanda membagi Karesidenan Madiun menjadi lima regenschappen yangmasing-masing punya kedudukan yang sama, yaitu Madiun, Magetan, Ngawi ,Ponorogo dan Pacitan )
23. Raden Arjo Adipati Brotodiningrat 1885 – 1900
24. Raden Arjo Toemenggoeng Koesnodiningrat 1900 – 1929
( muncul sekolah-sekolah formal di desa yang dikenal sebagai Volk School selanjutnyadisebut Vervolk School selam 2 tahun, tahun 1912 dibuka di Kertohardjo yaituSekolah Kartini. Tahun 1918, Kabupaten Madiun di pisah dengan wilayah perkotaansetelah adanya Gemeente Ordonatie berdasr Peraturan Pemerintah 20 Juni 1918. )
25. R.M. Toemenggoeng Ronggo Koesmen 1929 – 1937
26. R.M. Toemenggoeng Ronggo Koesnindar 1937 – 1953
( Jepang masuk ke Madiun )
27. Raden Mas Toemengoeng Harsojo Brotodiningrat 1954-1956
28. Raden Sampoerno 1956 – 1962
( sebagai Pejabat Bupati )
29. Kardiono, BA 1962 – 1965
( Partai Komunis Indonesia mendapat suara terbanyak dan calon Bupatinya R.Kardiono )
30. Mas Soewandi 1965 – 1967
31. H. Saleh Hassan 1967 – 1973
32. H. Slamet Hardjooetomo 1973 – 1978
33. H. Djajadi 1978 – 1983
34. Drs. H. Bambang Koesbandono 1983 – 1988
35. Ir. S. Kadiono 1988 – 1998
36. R. H. Djunaedi Mahendra, SH. M.Si 1998 – 2008
37. H. Muhtarom, S.Sos 2008-sekarangSebelummeletus Perang Diponegoro, Madiun belum pernah di jamah oleh orang-orangbelanda atau eropa lainnya. Namun dengan berakhirnya Perang Diponegoro, belandamenjadi tahu potensi daerah Madiun. Terhitung mulai tanggal 1 Januari 1832,Madiun secara resmi dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda dan dibentuklahsuatu tatanan pemerintahan yang berstatus karesidenan dengan ibu kota di DesaKartoharjo (tempat istana Patih Kartoharjo) yang berdekatan dengan istanaKabupaten Madiun di Desa Pangongangan.Sejaksaat itu mulailah berdatangan Bangsa Belanda dan Eropa lainnya, yang berprofesidalam bidang perkebunan dan perindustrian, yang mengakibatkan munculnyaberbagai perkebunan, yaitu perkebunan tebu dengan pabrik gulanya di PG.Pagotan, PG. Kanigoro, PG. Rejoagung, PG. Purwodadie di Glodok, PG.Soedono diGeneng, PG. Redjosarie di Kawedanan, perkebunan teh di Jamus dan Kare,perkebunan kopi di Kandangan Kare, perkebunan tembakau di Pilang Kenceng danlain-lain. Mereka bermukim di dalam kota di sekitar Istana Residen Madiun.Semuawarga Belanda dan Eropa yang bermukim di Kota Madiun, karena status yang merasalebih superior dari pada penduduk pribumi, mereka tidak mau diperintah olehPemerintah Kabupaten Madiun. Selanjutnya untuk melaksanakan segregasi(pemisahan) sosial, berdasarkan perundang-undangan inlandsche gementeeordonantie, oleh Departemen Binenlandsch Bestuur, dibentuk Staads GementeeMadiun atau Kotapraja Madiun berdasarkan Peraturan Pemerintah Hindia Belandapada tanggal 20 Juni 1918, dengan berdasarkan staatsblaad tahun 1918 nomor 326.Padaawalnya, walikota (burgemeester) dirangkap oleh asisten residen merangkapsebagai voor setter, yang pertama yaitu Ir. W. M. Ingenlijf, yang selanjutnyadiganti oleh Demaand hingga tahun 1927. Setelah tahun 1927 sampai dengansekarang, urut-urutan walikota yang pernah memimpin Kota Madiun adalah sebagaiberikut :
1. Mr. K. A. Schotman
2. Boerstra
3. Mr. Van dijk
4. Mr. Ali Sastro Amidjojo
5. Dr. Mr. R. M. Soebroto
6. Mr. R. Soesanto Tirtoprodjo
7. Soedibjo
8. R. Poerbo Sisworo
9. Soepardi
10. R. Mochamad
11. R. M. Soediono
12. R. Singgih
13. R. Moentoro
14. R. Moestadjab
15. R. Roeslan Wongsokoesoemo
16. R. Soepardi
17. Soemadi
18. Joebagjo
19. Pd. Walikota R. Roekito, BA
20. Drs. Imam Soenardji ( 1968 s.d. 1974 )
21. Achmad Dawaki, BA ( 1974 s.d. 1979 )
22. Drs. Marsoedi ( 1979 s.d. 1989 )
23. Drs. Masdra M. Jasin ( 1989 s.d. 1994 )
24. Drs. Bambang Pamoedjo ( 1994 s.d. 1999 )
25. Drs. H. Achmad Ali ( 1999 s.d. 2004 )
26. H. Kokok Raya, SH, M.Hum ( 2004 s.d. 2009 )
27. H. Bambang Irianto, SH, MM (2009 s.d. Sekarang ) Tanah-TanahPerdikan di MadiunDiwilayah Madiun dan sekitarnya terdapat beberapa kelurahan dan desa yang dahulukala pada masa pemerintahan Kesultanan Mataram berstatus sebagai tanah perdikanyang di bebaskan dari segala kewajiban pajak atau upeti karena daerah tersebutmemiliki kekhususan tertentu dan berhak mengurus rumah tangganya sendiri, yaitutanah perdikan Taman, Kuncen (Demangan), Kuncen (Caruban), Sewulan, Banjarsari,Giripurno (Magetan), Tegalsari (Ponorogo) dan Pacalan (Magetan)1. TanahPerdikan Tama
Tanah Perdikan Taman diberikan olehSultan Hamengku Buwono I kepada Bupati Ronggo Prawirodirjo I yang saat itumenjabat Bupati Wedono Timur (Monco Negari Timur) Kerajaan Mataram Bagian TimurGunung Lawu. Selanjutnya, tanah perdikan dengan otonomi khusus itu diserahkankepada Kanjeng Raden Ngabehi Kiai Ageng Misbach yang saat itu menjadi penasihatKanjeng Pengeran Ronggo Prawirodirjo I. Kemudian pada tahun 1754 dibangunlahmasjid Donopuro Masjid ini bangunan utamanya terbuat dari kayu jati denganukuran cukup besar yang ada di Kelurahan/Kecamatan Taman, Kota Madiun dikenalpara jemaah dan pengunjung sebagai Masjid Besar Kuno Madiun.
“Memang tak banyak yang mengetahui dulu nama asli Masjid Besar Kuno Madiun iniMasjid Donopuro. Hal itu sesuai dengan julukan pendirinya, yakni Kiai AgengMisbcah yang memiliki sebutan Kiai Donopuro,” terang, Raden Mas Suko Pramono,keturunan ketujuh Kanjeng Pengeran Ronggo Prawirodirjo I ini kepada Surya,Kamis (3/9). Baru setelah masjid kuno yang dikelilingi makam para mantan bupatiMadiun ini masuk dalam daftar peninggalan cagar budaya tahun 1981, maka namanyapun diganti menjadi Masjid Besar Kuno Madiun. Menurut Mas Suko Pramono, melaluimasjid kuno yang beratap joglo dengan tiga pintu masuk utama inilah syiar agamaIslam di wilayah Karesidenan Madiun terjadi. Lelaki yang akrab dipanggil RadenSuko ini menyebutkan sejumlah tradisi ke-Islaman yang saat itu menjadi saranasyiar agama di antaranya perayaan 1 Muharam yang diwarnai dengan pembacaan AlQur’an serta sajian makanan jenang sengkolo, nasi liwet, sayur bening, danlauk-pauk tradisional seperti tahu dan tempe. Dijelaskan, sayur bening yangdisajikan pada malam 1 Muharam memiliki arti kebeningan jiwa. Sedangkan nasiliwet berarti kebeningan atau kejernihan jiwa itu diharapkan dapat mengental dihati.Jenangsengkolo memiliki arti adanya harapan agar dijauhkan dari musibah. Sedangkanlauk tahu tempe mewakili makanan khas yang digemari rakyat kebanyakan. Selainmenyajikan aneka makanan tersebut bagi jemaah dan warga sekitar, masjid jugamenggelar seni Gembrung, berupa senandung sholawat yang diiringi alat musiksejenis jidor dan lesung (alat untuk menumbuk padi). Namun sekarang seni itusudah hampir musnah dan tak pernah diadakan lagi. Yang masih tersisa adalahGrebeg Bucengan (tumpengan) saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Sampai saat ini masjid kuno tersebut tidak pernah direnovasi sama sekali,kecuali hanya penambahan kanopi jika jemaah membeludak.
Dikatakan, baik bangunan dalam masjid maupun pendopo joglo masjid merupakanbangunan utama masjid kuno tersebut.
Di komplek masjid ini terdapat makam para mantan bupati Madiun, mulai dariKanjeng Pangeran Ronggo Prawirodirjo I dan penasihatnya Kiai Ageng Misbach,hingga sejumlah bupati Madiun penerusnya. 2. TanahPerdikan Kuncen
Beberapa peninggalan Kadipaten /Kabupaten Madiun salah satunya dapat dilihat di Kelurahan Kuncen, dimanaterdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Bupati Mangkunegara I, PatihWonosari dan para Bupati Madiun lainnya yang merupakan pahlawan-pahlawanpendiri Kota Madiun, selain makam para bupati, Masjid Tertua di Madiun masihkokoh menjadi saksi, yaitu Masjid Nur Hidayatullah, artefak-artefakdisekeliling masjid, serta sendang (tempat pemandian) keramat.Sejaktahun 2006 dilaksanakan kembali tradisi mataraman, yaitu grebeg maulud NabiMuhamad, SAW dengan acara kirab gunungan jaler dan gunungan estri dengandinaikan ke kereta kuda dari Masjid Kuncen menuju ke Masjid Donopuro Taman,atau dari Alun-alun Madiun menuju ke Masjid Taman.3. TanahPerdikan Banjarsari
Tahun 1762. Berawal dari kekalahanSultan Hamengku Buwono II dari Mataram gagal memenangi peperangan melawan PrabuJoko , seorang adipati Singosari di Malang. Adipati Singosari sebenarnya masihsentono (adik kandung) Sultan Hamengku Buwono. Namun ia melawan, dan bagisebuah kerajaan besar seperti Mataram, sebuah kekalahan tidak bisa diterima.Pangeran Ronggo, seorang Bupati Madiun, yang ditugaskan oleh Sultan HamengkuBuwono II untuk menemui seorang cerdik pandai dan bijak bestari, beliau adalahKiai Ageng Muhammad Besari di Tegalsari, Ponorogo. KepadaKiai Muhammad Besari, Pangeran Ronggo menyampaikan pesan sang Sultan agar maumembantu di medan peperangan.
Kiai Muhammad Besari menyanggupi. Karena usia beliau sudah tua beliau memanggilsantri muda sekaligus menantunya, Kyai Muhammad Bin Umar untuk berperang dibawah panji-panji Mataram. Kyai Muhammad Bin Umar baru saja menikah satu bulan.Namun, ia mematuhi perintah sang guru sekaligus mertuanya. Kyai Muhammad BinUmar melakukan pendekatan dan strategi yang ganjil dalam melakukan peperangan.Ia memerintahkan pasukan berhenti di dekat sungai Brantas, dan mendirikan kemahdi sana. Beberapa prajurit diperintahkan menanak nasi, sementara beliau sendirimemilih menunaikan shalat.
Kyai Muhammad Bin Umar memerintahkan 40 orang prajurit dan santri untukberangkat menuju Malang (Singosari).
Perang diselesaikan tanpa pertumpahan darah. Kyai Muhammad Bin Umar masuk keistana Singosari tanpa perlawanan. Prabu Joko menyerah tanpa syarat, iapundibawa ke Mataram tanpa diborgol. Permintaannya agar tak dihukum matidikabulkan oleh Kyai Muhammad Bin Umar.Prabu Joko sebenarnya heran bukankepalang. Ke mana pasukannya yang hebat dan pernah mengempaskan pasukan Mataramitu? Ia tak bisa menjawab. Tak ada yang bisa menjawab. Misteri baru terkuak,saat rombongan pergi meninggalkan Singosari. Prabu Joko melihat banyak anakkecil yang membawa galah bambu dan panah kecil. Mereka mirip betul dengantentara Mataram.
Rombongan berlalu melewati anak-anak kecil itu. Prabu Joko dengan masihmenyisakan keheranan, menoleh ke belakang, dan alangkah kagetnya dia: anak-anakkecil itu hilang dan yang terlihat adalah para prajurit Singosari yaituprajuritnya sendiri. Jelaslah semuanya: ia kalah wibawa di hadapan KyaiMuhammad Bin Umar.
Keberhasilan Kyai Muhammad BinUmar membawa Prabu Joko ke Mataram tanpapertumpahan darah membuat Raja Hamengku Buwono II gembira dan terkesan. Sebagaihadiah, Kyai Muhammad Bin Umar dipersilakan memilih wilayah hutan di mana punjuga di bawah kekuasaan Mataram untuk dijadikan desa. Wilayah itu akan menjadiwilayah otonom ( perdikan ) , tanpa dibebani pajak.
Kyai Muhammad Bin Umar memilih sebuah tanah di dekat Desa Sewulan yangditinggali Kyai Ageng Basyariyah, putra murid Kiai Muhammad Besari. Di utarasungai Catur, ia memberi nama desa itu Desa Banjasari. Dari sinilah beliaumulai meretas keberadaan desa perdikan Banjarsari yang kelak oleh anakketurunan Kyai Muhammad Bin Umar yakni Kiai Ali Imron memecah desa itu menjadidua bagian Banjarsari Wetan seluas 500 hektare dan Banjasari Kulon 700 hektare.
Kyai Muhammad Bin Umar memimpin Perdikan Banjasari selama 44 tahun. Iameninggal pada 1807 atau 1227 hijriah. Ia mewariskan sebuah masjid,Al-Muttaqin, yang didirikannya pada 29 September 1763. Sejak tahun 1963pemerintah menghapuskan daerah perdikan (otonom). Kepala pemerintahan desa padajaman perdikan dinamakan Kyai. Kyai terakhir dari Banjarsasi Wetan adalah KyaiR. Istiadji bin Kyai Ismangil, sedang Banjarsari Kulon Kyai R.Djojodipoero. Diperdikan tersebut terdapat rumah penyimpanan pusaka yang dinamakan “njerokidul” yaitu rumah pusaka peninggalan kyai yang memerintah Banjarsari Kulon,sedang “njero kulon” rumah pusaka yang ditempati keluarga besar kyai yangmemerintah Banjarsari Wetan yang sekarang ditempati oleh keluarga Abdul Khamid.4. TanahPerdikan Giripurno
Tanah perdikan Giripurno ditetapkanoleh Sultan Hamengkubuwono II Karena di Gunung Bancak Giripurno terdapat makamanak seorang raja, maka Giripurno dijadikan Perdikan. Kyai Baelawi kemudianditunjuk menjadi pengelola daerah Perdikan itu.
Kyai Baelawi, putra ke tiga Kyai Bin Umar, Perdikan Banjarsari, meninggalkanBanjarsari untuk menetap di Giripurno, Beliau di Giripurno mendirikan pondokpesantren. Rupa-rupanya beliau orang yang arif dan bijaksana dan banyakdidatangi orang karena kearifannya. Salah seorang yang meguru (berguru) kepadabeliau adalah Kanjeng Ratu Maduretno, putri Hamengku Buwono II, yang adalahjuga isteri Ronggo Prawirodijo III. Tidak menutup kemungkinan RonggoPrawirodijo III adalah murid beliau juga.
Selain Kanjeng gusti Ratu Maduretno (garwo padmi) beliau masih mempunyai isterilain yang berasal dari Madiun (garwo paminggir). Alibasah Sentot Prawirodirjoadalah putra dari Prawirodirjo III dengan garwo paminggir tersebut.
Setelah Maduretno memutuskan hubungan dengan ayahnya, Hamengku Buwono II, makabeliau memilih dimakamkan di Gunung Bancak, Giripurno.
Ronggo Prawirodirjo III adalah Wedono Bupati Brang Wetan dan sekaligus senopatiperang Hamengku Buwono II, Ketika Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I)memisahkan diri dari Surakarta dan Membangun Jogjakarta. Ronggo Prawirodirjo Iatau kakek Ronggo Prawirodirjo III yang berjasa mengamankan daerah-daerah baru,dan setiap kali berhasil menundukkan suatu daerah, beliau selalu diangkatmenjadi Bupati di daerah tersebut hingga pada akhirnya beliau diangkat menjadiWedono Bupati Madiun, membawahi bupati-bupati lainnya. Prawirodirjo II danPrawirodirjo III mewaris jabatan Prawirodirjo I. Tidak diperoleh cerita tentangPrawirodirjo II, kecuali bahwa cucu perempuannya kawin dengan Kyai PerdikanBanjarsari Wetan I. RonggoPrawiridirjo III adalah tokoh yang militan. Beliau sangat anti Belanda. Dalamhal ini beliau cocok dengan Hamengku Buwono II yang juga anti Belanda. NamunSurakarta saat itu bekerjasama dengan Belanda. Setelah perjanjian Gianti daerahTimur Surakarta “pating dlemok”, ada yang masuk Surakarta ada yang masukYogyakarta.
Di wilayah kekuasaan Belanda Ronggo Prawirodirjo III melakukan perang gerilyadan bumi hangus. Beliau mempunyai pengikut yang bisa digerakkan untukmengacaukan keadaan di daerah Kasunanan ketika beliau melintas dari Yogya keMadiun, misalnya dengan menggerakkan para “blandong”, yaitu penebang kayu dihutan yang dikuasai Belanda, untuk melakukan tebang liar.
Karena kemampuannya di bidang politik, Hamengku Buwono II sering membutuhkankehadiran Prawirodirjo III di Yogyakarta. Mungkin karena perannya yang cukupmenonjol itulah maka beliau masuk ke dalam cakupan fitnah Danurejo II yangmerupakan antek Belanda. Ketika Belanda menghendaki Ronggo Prawirodirjo IIIditangkap hidup atau mati, maka patih Danurejo II menyusun siasat untukmenangkapnya. Tanggal 13 Desember 1810 di utuslah panglima perang PangeranDipokusumo (saudara Pangeran Diponegoro) untuk menangkap Ronggo PrawirodirjoIII dan mampu menduduki istana Maospati, Madiun. 17 Desember 1810 terjadipertempuran dahsyat di Desa Sekaran Kertosono, hingga Pangeran Dipokusumo bisalangsung berhadapan dengan Ronggo Prawirodirjo III, dengan tombak sakti ”KyaiBlabar” Ronggo Prawirodirjo III bertempur melawan Dipokusumo.
Dalam pertempuran ini terjadi sebuah konflik bathin pada diri RonggoPrawirodirjo III, yang di hadapi sekarang bukanlah Belanda tetapi saudarasendiri dan keberlangsungan tahta Sultan Hamengku Buwono II, akhirnya denganberat hati Raden Ronggo memilih mati dengan pusakanya sendiri ”Tombak KyaiBlabar” Dalam versi Babad : karena Pangeran Dipokusumo diperintahkan untukmembawa hidup atau mati, atas permintaanya sendiri beliau dibunuh dengan tombakKyai Blabar oleh Pangeran Dipokusumo dalam perkelahian pura-pura. DemikianlahRaden Ronggo Prawirodirjo III, Pahlawan Madiun menemui ajalnya sebagai korbanDaendels dan antek-anteknya ”Patih Danurejo II” dengan politik ”Devide etimpera”
Jenazah Ronggo Prawirodirjo III dibawa ke Jogjakarta dengan upacara kebesarandi makamkan di Banyu Sumurup komplek makam Imogiri. GKR Maduretno, isteriRonggo Prawirodirjo memutuskan, tidak mau kembali ke Jogjakarta danmengembalikan busana raja kepada ayahnya. Ini berarti beliau memutuskanhubungan dengan kraton, kemudian setelah menderita sakit dan meninggal diistana Wonosari, GKR Maduretno memilih dimakamkan di Gunung Bancak. Ataspertimbangan keluarga pada bulan Februari 1957 oleh Sultan Hamengku Buwono IX,beliau dipindahkan makamnya ke samping makam isterinya, GKR Maduretno, diGunung Bancak setelah di semayamkan lebih dahulu di Masjid Taman Madiun.
Dengan kejadian ini Hamengku Buwono II merasa terpukul dan mencari tahu latarbelakangnya. Akhirnya terungkaplah pengkhianatan Patih Danurejo II, bahwa adapersekongkolan dengan Belanda dan Danurejolah yang memerintahkan penangkapanPrawirodirjo III hidup atau mati guna memenuhi permintaan Belanda, Danurejojuga telah mencuri stempel Kraton Jogjakarta untuk mengeluarkan perintahpenangkapan. Akhirnya Patih Danurejo II dihukum penggal di Kraton, yangkemudian dikenal sebagai “patih sedo kedaton”. 5. TanahPerdikan Sewulan
Situs Perdikan Sewulan adalah cagarbudaya peninggalan kerajaan Mataram yang masih tersisa hingga sekarang. Meskisudah berumur hampir tiga abad, arsitektur kuno yang terpajang masih kokohberdiri. Gapura besar berwarna putih berdiri kokoh. Ornamen kaligrafi menghiasisetiap bagian dari gapura itu. Di bagian paling atas tertulis Masjid AgungSewulan. Dan di kanan kirinya diberi corak bunga berjajar.
Situs Sewulan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Madiun. Apalagi, tempatini merupakan salah satu cagar budaya peninggalan kerajaan Mataram yangtersisa. Pembangunannya pada tahun 1714 oleh Kiai Ageng Basyariyah. Beliau duluadalah seorang Kiai pimpinan Pesantren dan juga sebagai penyebar Agama Islam diwilayah tersebut.Sejakberdirinya masjid bentuk bangunan masih dipertahankan. Seperti tembok yangtebalnya mencapai satu meter dan kolam tempat wudu yang terletak persis didepan masjid sama sekali belum tersentuh. ”Ini masjid tertua yang berada diMadiun, usianya hampir tiga abad,” tegas pria paro baya itu.
Kolam yang berukuran 4 x 5 meter itu sendiri sekarang jarang digunakan. Maklummasyarakat biasanya lebih memilih berwudu di tempat yang sudah disediakan. Tapisebagian warga pendatang masih percaya bahwa air dalam kolam itu bisamempercepat balita untuk bisa berjalan. Biasanya setelah mandi di kolam itu,beberapa bulan selanjutnya bisa berjalan
Banyaknya ukiran kaligrafi disetiap sudut membuat nuansa Islam semakin kental.Apalagi mimbar (tempat untuk kutbah) yang ada sekarang juga merupakan warisansejak berdirinya masjid tersebut. Meskipun demikian mimbar itu masih terlihatcukup elegan.
Tak hanya itu, masjid Sewulan juga menjadi kenangan Abdurrahman Wahid (Gus Dur)ketika masih kecil. Gus Dur merupakan salah satu keturunan kedelapan Kiai AgengBasyariyah. Jadi di Sewulan inilah, tempat bermain tokoh yang pernah menjadiPresiden RI itu, sebelum akhirnya hijrah ke Jombang. Selain Gus Dur, MenteriAgama Maftuh Basyuni juga tercatat sebagai keturunan Kiai Ageng Basyariyah. 6. TanahPerdikan Tegalsari, Ponorogo
Pada paroh pertama abad ke-18,hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari didesa Tegalsari, yaitu sebuah desa terpencil lebih kurang 10 KM ke arah selatankota Ponorogo. Di tepi dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yangmengapit desa Tegalsari inilah Kyai Besari mendirikan sebuah pondok yangkemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari.
Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkatkealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santriberduyun-duyun menuntut ilmu di Pondok ini. Mereka berasal dari hampir seluruhtanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadipondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar,misalnya desa Jabung (Nglawu), Bantengan, dan lainnya
Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagailatar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini. Alumni Pondokini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Diantara mereka ada yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, pejabatpemerintah, negarawan, pengusaha, dll. sebagai contoh adalah Susuhunan PakuBuwono II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; Raden NgabehiRonggowarsito (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur; dan tokohPergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto (wafat 17 Desember 1934).
Dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Paku Buana IInyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, diKerajaan Kartasura terjadi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh Raden MasGarendi Sunan Kuning, seorang Pangeran keturunan Tionghoa. Serbuan yangdilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehinggaKartasura tidak siap menghadapinya. Karena itu Paku Buwono II bersamapengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timurGunung Lawu. Dalam pelariannya itu dia sampai di Desa Tegalsari. Di tengahkekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning itulah kemudianPaku Buwono II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Besari. Penguasa Kartasuraini selanjutnya menjadi santri dari Kyai Wara` itu, dia ditempa dan dibimbinguntuk selalu bertafakur dan bermunajat kepada Allah, Penguasa dari segalapenguasa di semesta alam.
Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkatkeikhlasan bimbingan dan doa Kyai Besari, Allah SWT mengabulkan doa Paku BuwonoII. Api pemberontakan akhirnya reda. Paku Buwono II kembali menduduki tahtanya.Sebagai balas budi, Sunan Paku Buwono II mengambil Kyai Hasan Besari menjadimenantunya. Sejak itu nama Kyai yang alim ini dikenal dengan sebutan Yang MuliaKanjeng Kyai Hasan Bashari (Besari). Sejak itu pula desa Tegalsari menjadi desamerdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajibanmembayar pajak kepada kerajaan.
Setelah Kyai Ageng Hasan Bashari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuhbeliau yang bernama Kyai Hasan Yahya. Seterusnya Kyai Hasan Yahya digantikanoleh Kyai Bagus Hasan Bashari II yang kemudian digantikan oleh Kyai Hasan Anom.Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi,dari pengasuh satu ke pengasuh lain. Tetapi, pada pertengahan abad ke-19 ataupada generasi keempat keluarga Kyai Bashari, Pesantren Tegalsari mulai surut.
Alkisah, pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yangsangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, puteraPanghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Iasangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang kepadanya. Maka setelah santriSulaiman Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia diambil menantuoleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyaiuntuk memimpin pesantren saat beliau berhalangan. Bahkan sang Kyai akhirnyamemberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk mendirikanpesantren sendiri di desa Gontor.Peninggalan-Peninggalan PemerintahKerajaan di Madiun

1. Prasasti Sendang Kamal
Prasasti Sendang kamal berlokasi di dukuh Sumber, Desa Kraton, KecamatanMaospati, Kabupaten Magetan. Dari jalan Raya Solo Madiun sekitar 1 km dan adapapan bertuliskan “Prasasti Sendang Kamal +- 1 km” di kiri jalan.
Sebelum masuk ke lokasi situs ini, Anda akan melihat patung monyet dan gapurayang memperlihatkan tulisan Jawa dan 2 orang duduk bersila. Lalu saat masuk kedalam lokasi yang berukuran 35×15 meter ini, Anda akan melihat 3 batu prasasti,sebuah bangunan Belanda tak beratap, dan sebuah kolam di belakang bangunantersebut.
Prasasti ini sebenarnya berjumlah 4 tetapi menurut buku “Cagar Budaya PrasastiSendang Kamal” yang mengadopsi pula dari buku terpercaya, bahwa sebuah lagidibawa dan disimpan di Museum Betawi. Padahal, dari keempat batu prasasti yangdapat dibaca hanyalah yang berada di Museum Betawi ini.
Isi prasasti tersebut ada dua versi, salah satunya adalah bentuk pengabdianpunggawa kepada raja dengan mempersembahkan 400 ekor sapi. Kerajaan yangdimaksud adalah Kerajaan Kediri. Sedangkan mengapa dinamakan “Sendang Kamal”,ada berbagai versi dan salah satunya karena kolam yang berada di belakangbangunan Belanda itu pada saat digunakan mandi oleh salah satu bupati dariMadiun, airnya menjadi jernih yang warnanya putih kebiru-biruan mirip TelurKamal (kini sering disebut telur Asin dari telur bebek).2. Prasasti Mruwak (1108 Śaka/1186M)

Prasasti Mruwak. Isi pokok prasasti ini adalah penetapan Desa Mruwak menjadisīma. Sebab penetapan tersebut adalah adanya penyerangan dari pihak luar,sehingga Desa Mruwak dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi dari lokasisemula.
Prasasti Mruwak terbuat dari batuan andesit (upala prasasti) yang berbentukblok (balok) dengan variasi puncak setengah lingkaran. Tinggi prasasti ini 84cm, lebar 60 cm (atas) dan 45 cm (bawah), bagian bawahnya berbentuk bungapadma. Prasasti Mrwak beraksara dan berbahasa Jawa Kuna yang dipahatkan disemua sisinya. Bentuk hurufnya kasar, tidak teratur serta pada beberapa bagiansudah aus. Sisi lainnya ditumbuhi lumut dan jamur yang menyebabkan prasastitersebut rusak (Nasoichah,2007:23–24).
Penggunaan kata Mrwak dalam prasasti masih dipakai hingga sekarang sebagaipenyebutan nama Desa Mruwak. Dari pembacaan, diketahui Prasasti Mrwak berangkatahun 1108 Śaka (1186 M), menyebut tentang desa Mrwak dan nama DigjayaŚastraprabhu. Penyebutan nama raja ini juga ditemukan pada prasasti lain dengansebutan Śrī Jayawarsa Digwijaya Śastraprabhu. Nama Śastraprabhu disebutkan didalam dua prasasti. Pertama, Prasasti Mrwak dan kedua Prasasti Sirah Kĕtingyang berasal dari Dukuh Sirah Kĕting, Desa Bandingan, Kabupaten Ponorogo, JawaTimur yang berangka tahun 1126 Ś (Wardhani,1982:161).
Berdasar keterangan dalam Prasasti Mruwak, Desa Mruwak pernah mengalamiperpindahan tempat. Hal ini dikarenakan Desa Mruwak mendapat serangan daripihak luar. Seperti dapat dilihat dari isinya, Prasasti Mrwak yang berupaprasasti sīma diturunkan oleh śrī jaya prabhu yang yang tidak lain merupakanpenguasa wilayah Madiun dan Ponorogo. Peristiwa penyerangan tersebut disebutkandalam sambandha dan isi prasasti.
Dilihat dari identifikasi tempat, diketahui bahwa wilayah kekuasaan Śrī JayaPrabhu berada di sekitar Madiun dan Ponorogo (berdasarkan Prasasti Mrwak danSirah Kĕting), yaitu terletak di sebelah barat Gunung Wilis. Sedangkan DesaMruwak yang dijadikan sīma sendiri terletak di barat Gunung Wilis dan di tenggarasungai besar (berdasarkan Prasasti Mrwak). Bagian yang menarik dari PrasastiMrwak, bahwa letak Desa Mruwak yang digambarkan dalam prasasti tersebut masihdapat dibuktikan dengan toponimi saat ini. Sungai besar yang disebutkan dalamprasasti sampai sekarang masih ada, oleh penduduk setempat dinamakan KaliCatur.
Mengenai perpindahan tempat, Desa Mruwak berpindah dari tempat yang dekatdengan sungai ke tempat yang lebih tinggi, yaitu dekat gunung dan hanyaberjarak sekitar 1 km. Kondisi tersebut memungkinkan penduduk desa pada masaitu masih tetap bermatapencaharian sebagai petani sehingga perpindahan initidak terlalu signifikan. Namun apabila dilihat kondisi desa saat ini terdapatperbedaan penggunaan lahannya, dahulu bertani dengan menggunakan sawah datardengan lahan basah karena dekat sungai, kemudian beralih menjadi sawah berteraskarena berada pada lereng gunung. Kondisi yang berdekatan dengan sungaimemungkinkan dahulu masyarakat Desa Mruwak juga mencari ikan selain bertani,namun ketika berpindah sebagian kegiatannya berubah menjadi berburu di hutandan berladang. Penyebutan jenis-jenis binatang hutan seperti kera dan rusa,serta tanaman-tanaman perladangan seperti tanamawak menggambarkandilaksanakannya kegiatan tersebut.%n pare di dalam Prasasti Mr 3. Peninggalan Sejarah Nglambangan
Peninggalan Sejarah Nglambangan,merupakan situs peninggalan bersejarah yang berlokasi di desa Nglambangan,kecamatan Wungu, tepatnya berjarak 8 km kearah timur kota Madiun menuju desaDungus. Lokasi ini banyak dipergunakan untuk upacara ritual pada saatbulan-bulan syuro. Di tempat ini terdapat peninggalan-peninggalan pada jamanMajapahit, yang antara lain berupa; Pura Lambangsari, Pesiraman dantempat-tempat yang dianggap keramat oleh warga sekitarnya, tempat-tempatseperti: Rumah Eyang Kromodiwiryo, Watu Dakon yang dulunya digunakan untukmenyimpan pusaka, Punden Lambing Kuning, Lumbung Selayur, Sumur Kuno danSendang Jambangan.
Desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun. 50% Penduduknyabekerja sebagai petani dan sisanya adalah pegawai dan pedagang. Tanaman padimerupakan hasil bumi unggulan dari desa ini,, dalam satu tahun desa ini mampu 3kali panen padi, hal itu disebabkan para petani di desa ini menggunakan pompaair untuk mengairi sawah mereka sehingga walupun musim kemarau para petani didesa ini tetap bisa menanam Padi.Ditengah Desa terdapat sebuah situsyaitu Situs Punden Lambang Kuning atau yang lebih dikenal dengan nama PundenNglambangan. Oleh pemerintah Kabupaten Madiun situs ini telah diakui sebagaipeninggalan purbakala, sehingga keberadaanya perlu dilestarikan.
Pohon pohon yang berada dalam komplek situs ini telah berumur ratusan tahun,sehingga suasana dalam komplek situs ini amat tenang dan sejuk. Pada siang haribanyak penduduk desa yang berkumpul dan beristirahat, bahkan sewaktu aku keciltempat ini adalah tempat pilihan untuk kami bermain, ada yang main kelereng,ayunan, betengan, sepak bola, plantek dan kote’kan yaitu bermain musik dengancara memukul batu, akar dan beberapa pangkal pohon yang sudah mati merurutiramanya masing masing .Situs ini begitu ramai tidak seperti situs situs lainyang terkesan angker.
Pada setiap tahun di hari Jum’at legi di bulan suro atau Muharam warga desamengadakan bersihan atau bersih desa. Biasanya digelar pertunjukan wayang kulitpada malam hari, reog dan langen beksan sejenis tayub pada siang harinya, wargadesa berduyun-duyun membawa nasi tumpeng untuk selamatan sebagai wujud pujisyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan, panen hasil bumi, danterhindarkan warga desa dari bencana dan wabah penyakit.
Mungkin dari situs ini bisa diteliti kapan Desa Nglambangan ini berdiri, dansejarah apa saja yang bisa digali serta hubungannya dengan sejarahkerajaan-kerajaan yang pernah ada di pulau jawa, serta bisa dijadikan obyekpariwisata, sehinga dapat menambah penghasilan dan kemajuan pembangunan untukdesa ini. sayang sekali sampai saat ini belum ada perhatian lebih daripemerintah daerah maupun pusat ke arah itu.Madiun Pada Masa Perang Kemerdekaandan Pembangunan

Pada Zaman Jepang daerah ini menjadi Madiun Shi yang diperintah oleh seorangShi Tjo dan mempunyai wilayah 12 Desa, setelah Proklamasi Kemerdekaan, denganberlakunya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1948, maka Madiun Shi diubah menjadiKota Besar Madiun dengan wilayah 12 Desa dibawah perintah Walikota. Kemudiandemi pemerataan wilayah berdasar UU Nomor 22 tahun 1948 maka menuru SuratKeputusan Nomor 16 Tahun 1950 Kotapraja Madiun diperjuangkan diperluas denganmendapat tambahan dari Kabupaten Madiun yaitu 8 (delapan) Desa yakni Demangan,Josenan, Kuncen yang semula berstatus seperti Desa Perdikan Taman, Banjarejo,Mojorejo, Rejomulyo, Winongo dan Manguharjo. Kemudian dengan berlakunyaUndang-Undang Nomor 1 tahun 1957 sebagai pengganti Undang-undang Nomor 22 Tahun1948, Kota Besar Madiun berubah menjadi Kotapraja Madiun dengan wilayah 12 desadan diperintah oleh seorang Walikota, selanjutnya berdasar Undang-Undang Nomor24 Tahun 1958 diadakan perubahan batas-batas wilayah Kotapraja Madiun, karenamendapat tambahan wilayah sebanyak 8 (delapan) buah desa dari Kabupaten Madiun,sehingga wilayah Kotapraja Madiun menjadi 20 desa. Pelaksanaan perubahanbatas-batas ini diadakan pada hari Sabtu tanggal 21 Mei 1960 bertempat diKabupaten Madiun oleh Walikota dan Bupati. Kemudian dengan Undang-undang Nomor18 Tahun 1965 sebagai pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 1957, KotaprajaMadiun diubah dengan Kota Madya Madiun dengan wilayah 20 desa dan diperintaholeh Walikota Kepala Daerah. Selanjutnya dengan berlakunya Undang-Undang Nomor5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, sebagai pengganti UUNomor 18 tahun 1965, maka Kota Madya Madiun berubah menjadi Kotamadya DaerahTingkat II Madiun, dengan wilayah 20 desa dan istilah Walikota Kepala DaerahKotamadya Madiun diubah menjadi Walikota Madya Kepala Daerah Tingkat II Madiun.Dalam Tahun 1979 atas persetujuan DPRD Kotamadya dan Kabupaten Daerah TingkatII Madiun, diusulkan pemekaran daerah Kotamadya menjadi 27 Desa/Kelurahan.Dimana terhitung mulai tanggal 18 April 1983 wilayah Kotamadya daerah TingkatII Madiun yang semula 1 Kecamatan, meliputi 20 Kelurahan dengan luas 22,95 KM2berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 1982 dan Surat Gubernur KepalaDaerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 135.1/1169/011/1983 tanggal 19 Januari 1983bertambah menjadi 7 desa yang berasal dari Kabupaten Daerah Tingkat II Madiunyakni Desa Ngegong, Sogaten, Tawangrejo, Kelun, Pilangbango, Kanigoro danManisrejo, sehingga luas wilayah Kota Madya Daerah Tingkat II Madiun menjadi33,92 KM2 terdiri dari 3 Kecamatan dengan 20 Kelurahan dan 7 Desa dimanamasing-masing kecamatan terdiri dari 9 Kelurahan/Desa. Latar Belakang Berdirinya PemerintahKota Madiun

Desentralisasi Pemerintah Hindia Belanda yang berlangsung sejak awal abad XXIberjalan terus termasuk pula pembentukan Pemerintah Kota Madiun terpisah dariPemerintah Kabupaten Madiun, ada beberapa hal sebagai pertimbangan pokok yangmelandasi berdirinya Pemerintah Kota Madiun 1. Politik
Pada tahun 1911 didirikanlah SarekatIslam di Solo sebagai perkembangan bentuk baru dari Sarekat Dagang Islam yanglahir di Kota Solo juga pada dekade pertama abad XXI. Para pendirinya tidaksemata-mata untuk mengadakan perlawanan terhadap orang -orang Cina tetapi untukmembuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumiputera. Inimerupakan reaksi terhadap krestenings politik (politik pengkristenan) dari kaumZending, perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan dan penindasan oleh pihakambtenar-ambtenar bumiputera dan eropa.
Berdasarkan Anggaran Dasar Sarikat Islam bertujuan mengembangkan jiwaberdagang, memberi bantuan kepada anggota-anggota yang menderita kesukaran,memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya derajat bumiputera,menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang Islam, maka Sarekat Islam tidakberisikan politik. Tetapi seluruh aksi perkumpulan itu dapat dilihat, bahwaSarikat Islam lain tidak melaksanakan suatu persetujuan ketatanegaraan. Selaludiperjuangkan dengan gigih keadilan dan kebenaran terhadap penindasan danlain-lain keburukan bagi pihak pemerintah, dan disertai oleh wartawan-wartawanIndonesia yang berani. Periode Sarikat Islam itu dicanangkan oleh suatukebangunan revolusioner dalam arti tindakan yang gagah berani melawanpemerintah kolonial. Pemerintah Hindia Belanda, menghadapi situasi yangdemikian hidup dan mengandung unsur-unsur revolusioner, menempuh jalanhati-hati. Gubernur Jendral Idenburg meminta nasehat dari para residen untukmenetapkan kebijaksanaan politiknya. Hasilnya untuk sementara Sarikat Islamtidak diijinkan berupa organisasi yang mempunyai pengurus besar dan hanyadiperbolehkan berdiri secara lokal. Tindakan ini bertujuan untuk mematahkanSarekat Islam menjadi pergerakan politik berskala nasional. Tetapi waulupundemikian tetap terjalin adanya hubungan antar Sarekat Islam lokal lewatpengurus masing-masing. Sarekat Islam mendapat perhatian ekstra oleh PemerintahHindia Belanda, tentu saja mencakup Sarekat Islam di Madiun. 2. Sosial
Nama Madiun lahir pada tanggal 16Nopember 1690, untuk menggantikan nama lama Purabaya. Madiun sebagai tempat danpusat pemerintahan daerah Kabupaten di bawah Bupati terus berkembangsebagaimana umumnya kota-kota di pedalaman Jawa yang tumbuh dan berkembang padaJaman Madya. Pada Tahun 1830 Madiun dikuasai oleh pemerintah Hindia Belandayang sejak tahun itu pemerintah Hindia Belanda menjalankan culturstelsel yaitusistem tanam paksa di P. Jawa. Orang belanda mulai masuk di Madiun dan jumlahnyasemakin bertambah banyak terlebih setelah sistem tanam paksa dihapus pada tahun1970 diganti dengan tanaman bebas dan pengusaha bebas.
Orang kulit putih Belanda sebagai penguasa, orang Timur Asing yaitu orang Cinadan Arab yang dapat dikatakan mempunyai kedudukan kuat dalam percaturanekonomi, bergerak di berbagai bidang usaha terutama perdagangan dan produksi.Sedangkan pribumi sebagian besar merupakan petani, sebagian lainnya pekerjapertukangan dan buruh. Kehidupan pribumi lebih lemah ditambah perlakuan hukumketatapemerintahan yang diskriminatif sangat menyulitkan bagi pribumi untukdapat maju. Pertambahan penduduk di madiun sangat pesat pada hal dari segiekonomi mereka lemah jauh dari kemakmuran dan kesejahteraan, kehidupan yangmakmur sejahtera tidak indentik dengan angka kelahiran yang tinggi. Lapangankerja yang pertumbuhannya tidak sebanding dengan laju pertumbuhan pendudukpribumi, ditambah lagi kurangnya lahan persawahan dikarenakan jatuh kedalamperjanjian sewa tanah bagi kepentingan pengusaha pabrik gula untuk tanamantebu, maka berdampak terjadinya imigrasi intern oleh pribumi madiun ke daerahlain di pulau jawa, hal ini bisa dilihat dengan dibukanya jalan kereta api yangmenghubungkan Kalisat dan Banyuwangi pada tahun 1901 merupakan salah satupendorong bagi migrasi dari Jawa Tengah ke ujung Jawa sebelah Timur yang masihkosong. Sebagaimana dalam hal perkawinan terjadinya asimilasi etnis antara tigagolongan masyarakat. 3. Budaya
Orang Belanda menganggap dirinyasuperior terhadap orang tionghoa dan orang pribumi, demikian pula orangtionghoa menganggap dirinya lebih unggul terhadap orang pribumi, namu demikiandalam bidang budaya tidak sebarapa dalam pengaruh begitu terhdap budayapribumi. Dalam hal ini di Madiun tidak terasa pengaruhnya, gedung-gedungpemerintah dengan pilar-pilar berbentuk bulat penyangga bagian atas bangunanbukan berasal dari belanda melainkan adopsi dari seni bangunan romawi. Tiangdari bahan kayu jati masih dijumpai pada Masjid Raya Baitul Hakim Madiun.Khusus untuk bangunan air hasil arsitektur belanda terkenal mutunya sangatkokoh.
Sementara orang Tionghoa yang ikut-ikutan bangsa belanda merasa super terhadaporang pribumi, hampir dipastikan bahwa tiada pengaruh kebudayaan tionghoa bagiorang pribumi, pengaruh budaya mereka adalah petasan dan kembang api, terusuntuk pengembangannya terutama digunakan untuk kepentingan upacara yaitu berupamercon dan kembang api bukan untuk persenjataan api, dapat pula ditambahkanbudaya tionghoa yang ikut mewarisi usaha kerajinan tembikar di Indonesia adalahbarang porselin. Dalam Kontak budaya antara orang tionghoa dan pribumi salingmempertahankan tradisi budaya mereka masing-masing, mungkin lebih mengena kalaudikatakan saling menjaga tradisi budaya mereka tanpa terjadinya prosesakulturasi yang berarti.
Kalau di Madiun orang tionghoa beradaptasi diri dengan lingkungan mayoritaskomunitas pribumi dengan tujuan bahwa mereka tidak merasa terasing lagi puladari segi aspek-aspek kehidupan yang lain jelas memberikan keuntungan. Demikianpembauran dapat dipastikan tidak dapat terjadi baik pribumi maupun orangtionghoa nampak tetap menjaga kemurnian ras mereka masing-masing andaikataterjadi jumlahnya sangat kecil dan itupun dikarenakan alasan-alasan tertentu. 4. Ekonomi
Gubernur Jendral sebagai pucukpimpinan Pemerintah Hindia Belanda dalam pelaksanaan pemerintahan hanyabertugas sebagai pelaksana belaka. Adapun garis besarnya pemerintahanditetapkan oleh Pemerintah Pusat kerajaan Naderland. Salah satu tugaspemerintahan yang harus diemban Gubernur Jendral adalah hal ekonomi. PolaEkonomi pemerintah belanda adalah pola ekonomi liberal yang telah digariskanpemerintah pusat kerajaan Naderland, pada prinsipnya adalah pemberian kebebasanoleh pemerintah (penguasa) kepada pelaku-pelaku ekonomi dalam usaha produksisampai pemasaran didasarkan pada peraturan-peraturan perundang-undangan yangberlaku dalam arti pemerintah memberikan jaminan keamanan bagi para usahawanagar dapat berusaha secara optimal.
Akhirnya tiba pada suatu kesimpulan bahwa proses desentralisasi pemerintahandengan dibentuknya pemerintahan kota beserta dengan dewan kota nampak bahwa adakepentingan kuat dari pemerintah hindia belanda untuk memantapkan bahkan tidakmustahil untuk mempertahankan lestari berkuasa dan menguasai indonesia.Pembentukan Pemerintahan Kota beserta dengan Dewan Kota Madiun di dalamStaatsblad Van Nederlandsch-Indie (Lembaran Negara Hindia Belanda) No. 326tanggal 20 Juni 1918 oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda atas nama RatuKerajaan Belanda. lembaran negara ini terdiri dari 7 pasal :Pasal 1
Menunjuk pasal 8 Lembaran Negara No.137 tanggal 22 Pebruari 1907 bahwa Ibukota Madiun mempunyai wewenang mengaturkebutuhannya sendiri (yang sebelumnya diatur oleh penguasa lain) termasukmengurus jalan negara di lingkungan kerja Kota Madiun Pasal 2
Menunjuk ayat 1 pasal 68 a Peraturan kebijaksanaan Pemerintah Hindia Belandamenetapkan :
2.1. Daerah Madiun dengan Ibukota Madiun
2.2. Daerah Madiun dengan Ibukota Madiun disebut Kotapraja
MadiunPasal 3
Anggaran belanja Kotapraja Madiun ditetapkan tersendiri dari keuangan umumberjumlah f.28.175,- (dua puluh delapan ribu seratus tujuh puluh lima gulden) Pasal 4
4.1. Perkerataapian dan Taram diatur oleh Dinas tersendiri di luar terpisahdari Kotapraja Madiun, keuangan umum Hindia Belanda tidak mengatur terhadapkebutuhan
4.1.1. Perawatan, perbaikan, pembaharuan dan pelaksanaan pelbagai pekerjaantentang kendaraan umum, termasuk pekerjaan seperti penanaman lereng, pengerjaantanggul, tepi jalan dengan batu dan kayu, pintu air, parit dan sumur, dindingpangkalan, juga pekerjaan yang penting lainnya seperti lapangan, taman,memperpanjang got-got penting pada umumnya.
4.1.2. Penyiraman tanaman dan tepi jalan, mengangkat sampah di sepanjang jalanoleh kendaraan terbuka, jalan-jalan dan taman
4.1.3. Penerangan jalan
4.1.4. Penanggulangan kebakaran
4.1.5. Tempat Pemakaman umum dengan pengertian bahwa biaya untuk pelaksanaankerja yang diluar kebiasaan akan diberikan bantuan keuangan oleh Negara
4.2. Dalam kejadian yang istimewa dapat dengan permohonan yang mendapatpersetujuan Dewan Kotapraja, pekerjaan dilakukan oleh Negara Pasal 5
5.1 Pemeliharaan yang mengurus apa yang disebut dan dimaksud pasal 4 beradadidalam wilayah Kotapraja Madiun diserahkan kepada Kotapraja Madiun terlepasdari kepemilikannya, demikian juga desa-desa diluar Kotapraja Madiun sepertiDesa Mangunharjo dan Desa Sambirejo yang terletak di tepi kiri sungai Madiuntetap dikuasai oleh daerah-daerah pemukiman orang cina dan termasukpemeliharaan oleh Negara adalah puithis, dengan kewajiban penghuninya untukmenjaga dan mengembalikan dalam keadaan baik apabila terjadi pengrusakanKotapraja mengawasi tanpa hak kepemilikan atasnmya
5.2. Jembatan dan saluran air yang terletak dibatas kotapraja berdasar pasal 5.1.diatas, yang penting yang terletak di dalam Kotapraja
5.3. Gubernur Jendral membebaskan Kotapraja dari kewajiban yang berada dalampasal 5.1. tentang saluran air yang ditentukan untuk dibebas tugaskan Pasal 6
6.1. Untuk Kotapraja Madiun didirikan suatu dewan yang disebut dengan namaDewan Perwakilan Daerah Kotapraja Madiun.
6.2. Anggota Dewan berjumlah 13 orang, dengan susunan :
1. 8 (delapan) orang Eropa atau orang lain diluar Eropa yang
disamakan kedudukannya
2. 4 (empat) orang pribumi
3. 1 (satu) orang timur asing Komposisi keanggotaan DewanPerwakilan Daerah Kotapraja Madiun yang terdiri dari 8 (delapan) orang anggotaeropha atau orang lain yang disamakan kedudukannya, 4 orang pribumi dan 1 orangtimur asing, oleh karena musyawarah dewan dalam mengambil keputusan berdasarperanggota bukan pergolongan, tetap dewan dikuasai oleh orang belanda. 6.3. Kepala Pemerintah KotaprajaMadiun adalah Ketua Dewan. Pasal 7
7.1. Kecuali menentukan mengenai halitu dalam peraturan kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda, Surat KeputusanDesentralisasi dan Peraturan Dewan Daerah, berisi lingkungan kerja KotaprajaMadiun pada pasal 5, pengawasan yang dimaksud termasuk kebutuhan pemeliharaanyang diuraikan dalam pasal 4, sejauh mana hal itu tidak harus dibayar olehKotapraja Pribumi atau lainnya
7.2. Kecuali pemenuhan janji terhadap pemerintah dan penguasa lain, dewanmempunyai wewenang mengatur kebutuhan Kotapraja Madiun
7.3. Keragu-raguan atau perbedaan tentang batas kewenangan tugas pemerintahdari Kotapraja Madiun, dari penguasa lain dan dari Kotapraja Pribumi diputuskanoleh Gubernur Jendral.
Demikian bahwa staatshlad Van Nederlandsch Indie No. 327 tahun 1918 tanggal 20Juni tentang anggaran tahun pertama. Berdasar data primer pada staatsblad VanNederlandsch Indie, tahun 1918 No. 326 tanggal 20 Juni dan STVNI tahun 1918 N0.327 tanggal 2o Juni ditunjang data skunder yang bersifat literer, dapatdisimpulkan bahwa Pemerintah Kotapraja Madiun berdiri pada :
TANGGAL 20 JUNI 1918 , pada saat itu desa-desa mana yang ditetapkan menjadiderah Pemerintahan Kota Madiun tidak tercantum dalam Staatsblad No. 326 tahun1918 tanggal 20 Juni, Staatblad hanya menyebut dua Desa yaitu Desa Mangunharjodan Desa Sambirejo yang terleak disebelah kiri sungai Madiun dalam status bukanDesa Daerah Kota Madiun, suatu bentuk pengesahan bahwa kedua Desa tersebutdiatas berada dalam wewenang lain di luar Kota Madiun. Pada Bulan Maret 1942 Kota Madiundiduduki oleh pasukan Jepang dalam kerangka Perang Dunia II (Pemerintahpendudukan Jepang menyebut perang Asia Timur Raya), terdiri dari 12 Desa yaknit: 1. Desa Sukosari 7. Desa Kejuron
2. Desa Patihan 8. Desa Klegen
3. Desa Oro Oro Ombo 9. Desa Nambangan Lor
4. Desa Kartoharjo 10. Desa Nambangan Kidul
5. Desa Pangongangan 11. Desa Taman
6. Desa Madiun Lor 12. Desa Pandean Berdasar pada data dari masa awalpendudukan Jepang di Madiun itulah dapat diketahui bahwa masa hari jadiPemerintahan Kota Madiun, Desa Daerah Kota Madiun ada 12 Desa. Burgemeester(Walikota) Kepala Pemerintahan Kota Madiun pada masa itu dijabat oleh asistenresident dalam jabatan rangkap berarti disamping menjabat sebagai residenmerangkap Walikota. Pemerintah Kota Madiun didirikanoleh Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 20 Juni 1918 berlanjut pada masapendudukan Jepang Maret 1942, bersambung pada masa pemerintahan RepublikIndonesia 17 Agustus 1945, terselingi oleh Pemerintahan NICA (Nederlands IndiesCivil Administration) 19 Desember 1948 s/d 29 Desember 1949 dan berakhirkembali kedalam pemerintahan Republik Indonesia sejak pengakuan kedaulatanPerjanjian KMB (Konferensi Meja Bundar) tanggal 27 Desember 1949 sampaisekarang. Perkembangan Sepintas Kilas KotaMadiun pada masa kemerdekaan1. Susunan dan PerkembanganPemerintahan Madiun pada Masa Kedudukan Jepang dan KemerdekaanA. Pemerintahan Sementara
Dengan penyerahan tanpa syarat olehLetnan Jendral H. Terpoorten Panglima angkatan perang Hindia Belanda kepadatentara expedisi jepang di bawah Letnan Jendral Hithosi Imamura pada tanggal 8Maret 1942 berakhirlah pemerintahan Hindia Belanda dan dengan resmi ditegakankekuasaan Kemaharajaan Jepang.
Setelah itu diterbitkan Osamu Seirei (UU) No. 1 Pasal 1 tanggal 7 Maret 1942Isinya : Dai Nippon melangsungkan pemerintahan sementara di daerah-daerah yangditempati (khususnya di Jawa Sumatra) terlihat pada UU itu pejabat GubernurJendral dihapus, berarti istilah wilayah Propinsi telah dihapus tingkatpemerintahan tetap berlaku. B. Pemerintahan di Daerahberdasarkan Struktur Pemerintahan Pendudukan

Menurut UU No. 27 tahun 1942 tentang aturan pemerintahan daerah dan UU No. 28tahun 1942 tentang aturan pemerintah Syu (karesidenan) dan Tekubetsu Syi(Kotapraja = Istimewa) menyatakan bahwa UU No. 27 tahun 1942 itu mengaturperubahan tata pemerintahan berupa
Pemerintahan : Pemimpin :
Syu Residen Syu Co Residen
Ken Kabupaten Ken Co Bupati
Syi Kotapraja Syi Co Walikota
Gun Kawedanan Gun Co Wedana
Sen Kecamatan Sen Co Camat
Ku Desa Ku Co Lurah Jelas bahwa Gemeente Madiun tidakberubah atau dibubarkan atau dibentuk yang baru, hanya berubah dalam istilahnyayakni dahulu Stadagameente Madiun sekarang menjadi Syi = Kotapraja Madiunsebutan Walikota menjadi Syi Se Kan (=Kan menyebut orangnya) 2. Perkembangan PemerintahRepublik Indonesia
a. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1. Tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 berkumandang saentero
dunia pernyataan Kemerdekaan Indonesia
2. Tanggal 18 Agustus 1945 Jam 10.00 berkumandang saentero
dunia bahwa telah berdiri Negara Merdeka Republik Indonesia.
Alinea kedua ini yang berbunyi : … hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan danlain-lain … , muatan pemindahan kekuasaan berupa cita negara dan cita-citahukum yakni : bentuk negara berdaulat dan bentuk hukum nasional, keduanya merupakannorma pertama.
Norma pertama atau norma dasar ini sebagai sumbernya segala aturan hukumlainnya, sehingga tidak mungkin dapat dicari dasar hukum lainnya, sehinggatidak mungkin dapat dicari dasar hukumnya yang berlaku sebelumnya. Timbulnyanorma pertama membawa konsekwensi timbulnya negara yang baru dan hukum yangbaru dan tidak mungkin akan timbul sebelumnya yakni tatanan pemerintah penjajahBelanda/Jepang.
Akibat dari itu nama Nederlands Indie berubah menjadi Negara RepublikIndonesia. Semua perangkat di dalamnya tidak mengalami perubahan. Sesuai halitu nama Madiun Syi kembali menjadi Kotapraja Madiun.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan berdirinya Negara RepublikIndonesia. Terbitlah UU. No. 22 tahun 1948, isinya hanya melakukan perubahan-perubahanistilah, bukan pembentukan sesuatu yang baru, maka Madiun Syi menjadi KotaprajaMadiun yang dikepalai oleh seorang Walikota.
Berdasarkan UU. No. 22 tahun 1948 itu dan berdasarkan Surat Keputusan no. 168tahun 1948 demi pemerintahan daerah, maka perlu ada penataan wilayahdaerah/kotapraja baik yang menjelaskan urusan phisik maupun finansial.
Jelas hal itu bukan pembentukan Kotapraja baru. b. Pasal 18 UUD 1945 menyatakanbahwa pembagian daerah-daerah Indonesia atas Daerah besar dan kecil dengan bentuksusunan pemerintahannya ditetapkan dengan UU. dengan memandang dan mengingatdasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan hak-hak asal-usuldalam daerah-daerah yang bersifat istimewa.
Pasal tersebut memuat beberapa azas antaranya pemencaran seluas-luasnyakekuasaan untuk mengurus rumah tangga sendiri (otonomi ) kepada daerah-daerah.
Sistem pemerintahan daerah yang masih berlaku sekarang ini dibentuk menurut U.UNo. 1 tahun 1957 jo. UU. No. 6 tahun 1959 tentang sistem desentralisasi.
Jenis daerah dapat dibedakan :
- Daerah Swantantra,
- Daerah Istimewa,
- Daerah Kotapraja.
Daerah-daerah tersebut mempunyai tingkatan :
- Daerah Tingkat I ( Kotapraja Jakarta/Propinsi )
- Daerah Tingkat II ( Kotapraja = Kota Besar )
- Daerah Tingkat III ( Kotapraja Kecil )
Menurut UU tersebut Kotapraja Madiun memenuhi selaku Daerah Tingkat II ataudengan sebutan Kota Besar.
Daerah Kotapraja sebenarnya tidak lain dari pada Daerah Swantantra biasa, hanyawilayahnya meliputi kota-kota saja yang merupakan kelompok kediaman penduduksekurang-kurangnya sekitar 50.000 jiwa.
Untuk itu berdasarkan pada UU. No. 22 tahun 1948 dan berdasarkan pada SuratKeputusan no. 16 Tahun 1950 demi pemenuhan pemerintahan wilayah, maka KotaprajaMadiun mendapat tambahan dari delapan Desa yakni :
- Demangan – Josenan
- Kuncen ( Desa Perdikan ) – Banjarejo
- Mojorejo – Rejomulyo
- Winongo – Manguharjo
Selanjutnya dengan berlakunya UU no. 1 tahun 1957 sebagai pengganti UU no. 22tahun 1948, maka Kota Besar Madiun di ubah menjadi Kotapraja.
Berdasarkan UU. No. 24 Tahun 1958 diadakan batas-batas wilayah sehinggaKotapraja Madiun memiliki 20 Desa/Kelurahan. Pelaksanaan perubahan tersebutterjadi pada tanggal : 21 – 5 – 1960. c. Berdasarkan pada UU. No. 18 Tahun1965 sebagai pengganti UU. No. 1 tahun 1957, Kotapraja Madiun di ubah menjadiKotamadya Madiun yang diperintah oleh Walikotamadya sebagai Kepala Daerah,selanjutnya sejak berlakunya UU. No. 5 tahun 1974 tentang pokok-pokokpemerintahan daerah pengganti UU. No. 18 tahun 1965 Kotamadya Daerah Tingkay IIMadiun yang diperintah oleh seorang Walikota.
Pada tahun 1979 atas persetujuan DPRD Kotamadya Madiun diusulkan mendapattambahan tujuh desa dari wilayah Kabupaten Madiun sehingga Kotamadya Madiunmemiliki wilayah 27 Desa/Keluraha. Dimana terhitung mulai tanggal 18 – 4 – 1983wilayah Kotamanya Daerah Tingkat II Madiun yang semula terdiri atas 1 SuratGubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur No. 135/1169/011/1983 tanggal : 19– 1 – 1983 bertambah 7 Desa yang berasal dari Kabupaten Daerah Tingkat IIMadiun yakni :
- Desa Ngegong
- Desa Sogaten
- Desa Tawangrejo
- Desa Kelun
- Desa Pilangbango
- Desa Kanigoro
- Desa Manisrejo
2
IKATAN PARANORMAL INDONESIA DPC MADIUN's profile photokikux rizki's profile photo
2 comments
 
Berburu ilmu gaib
 ·  Translate
Add a comment...
People
Have them in circles
56 people
Didy Sinchan's profile photo
Pusaka Nusantara's profile photo
galih putra's profile photo
RADEN WANGSA PANEGES's profile photo
Satrio Pinandito's profile photo
widodogb sastro's profile photo
bhetoro Mulyo's profile photo
Aditia Pratama's profile photo
dyan dyan.riapratama's profile photo
Story
Tagline
IKATAN PARANORMAL INDONESIA DPC MADIUN