Profile

Cover photo
Eka Faiqah
23 followers|406 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

Eka Faiqah

Shared publicly  - 
 
 ahad, 27 Oktober 2013
semangat . . . .  ^^
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
PEMBUATAN DAN PEMASARAN DODOL SEHAT BERBAHAN BAKU
RUMPUT LAUT DAN BIJI DURIAN
BIDANG KEGIATAN
PKM-KEWIRAUSAHAAN
Diusulkan Oleh:
 
Ketua Kelompok:
NUREKA SUSILAWATI                 (11.231.001/2011)
Anggota Kelompok:
TRISNA WAHYUNI                                    (11.231.044/2011)
ERMASURYANI                              (11.231.028/2011)
 
 
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
MATARAM
2012
HALAMAN PENGESAHAN
1.      Judul Kegiatan : PEMBUATAN DAN PEMASARAN DODOL SEHAT
BERBAHAN BAKU RUMPUT LAUT DAN BIJI    DURIAN
2.      Bidang Kegiatan :       (  ) PKMP        (X) PKMK      (  ) PKM-KC
            (  ) PKMT        (   ) PKMM    
3.      Bidang Ilmu    : Pendidikan   
4.      Ketua Pelaksana Kegiatan
a.       Nama Lengkap      : Nureka Susilawati
b.      NIM                      : 11.231.001
c.       Jurusan                  : Pendidikan Kimia
d.      Perguruan Tinggi   : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram
e.       Alamat Rumah      : Jln. Pemuda no.55D
f.       No. Telp/ HP         : 085337763074
g.      Email                     : Ekaanizan@ymail.com
5.      Anggota Pelaksana Kegiatan/ Penulis : 2 (Dua) orang
6.      Dosen Pembimbing
a.       Nama                     : Yusran Khery, S.Si
b.      NIDN                    : 0809057101
c.       Alamat                  : Jln. Gunung Sari Lombok Barat
7.      Biaya kegiatan
a.       DIKTI                   : Rp. 12.500.000,-
b.      Sumber lain           : -
c.       Jangka Waktu Pelaksanaan : 5 Bulan
                                                                                    Mataram,14 Oktober 2012
Menyetujui,
Ketua Jurusan Pendidikan Kimia                               Ketua Pelaksana Kegiatan 
                                                                       
(Bq. Asma Nufida M, Pd)                                          (Nureka Susilawati)
NIP. 200611063                                                         NIM. 11.231.001
Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan                 Dosen Pendamping
 
(Ir. Subagio, M.Sc)                                                     (Yusran Khery, S.Si)
NIP. 065100590                                                         NIDN. 0814088501
ABSTRAK
Banyak jenis pati dari berbagai tanaman dapat dimanfaatkaan sebagai alternatif untuk tambahan bahan dalam formulasi tablet. Salah satu sumber yang telah dikembangkan sebagai eksipien farmasi adalah benih pati durian, yang relatif mudah untuk menemukan didaerah tropik diindonesia. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengamati kemampuan pati biji durain diperoleh dengan cara ekstrasi dengan metode pengeringan.
Pati sebagai tempel digunakan dalam granulasi dasar sebagai pengikat. Tablet dibuat secara granulasi basa dengan ketoprofen (25 ) sebagai model obat, kalsium fosfat dihidrate sebagai pengencer; Afisel PH 102 sebagai disintegran, stearat magnesium (1) dan bedak (2) sebagai pelumas. Plasebo formula dengan konsentrasi pati biji durian berbagai (5, 6,8,10) ditablet dibandingkan dengan pengikat lain pati singkong. Plasebo tablet formula dengan baik dengan kekeras dan kerapuhan yang digunakan dalam tablet ketoprofen formula dan dibandingkan dengan pati singkong sebagai bahan pengikat dengan konsentrasi yanmg sama. Formula dengan biji durian pati sebagai pengikat memiliki kekerasan yang lebih kecil dan raapuh lebih dari pati singkong sebagai binder. Dengan demikian tablet dengan pati biji durian sebagai pengikat memiliki disintegrasi lebih cepat waktu dari pad tablet dengan pati singkong sebagai pengikat. Uji disolusi ketoprofen untuk kedua rumus tidak memenuhi persyaratan pharmacopeial. 
 
 
 
 
 
A.    JUDUL PROGRAM
Judul program ini adalah “Pembuatan dan Pemasaran Dodol Sehat Berbahan Baku Rumput Laut dan Biji Durian”.
 
B.     LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki keanekaragaman hasil-hasil alam yang melimpah. Masyarakat Indonesia pada umumnya masih memperhatikan sekali terhadap hasil-hasil alam yang dimilikinya, baik itu yang digunakan sebagai bahan makanan pokok maupun yang digunakan sebagai pencegah atau pengobatan terhadap suatau penyakit, dan dari sekian banyak buah-buahan hasil alam yang demikian tersebut, salah Satu diantaranya ialah biji durian. Selama ini yang sering dimanfaatkan dari buah durian adalah daging durian, sedangkan bijinya sering terbung atau tidak dimanfaatkan, padahal biji durian apabila ditinjau dari komposisi kimianya, cukup berpotensi sebagai sumber gizi yaitu mengandung protein 9,79  karbohidrat 30  kalsium 0,27  dan fosfor 0,9  (trubus, 2003).
Biji durian juga memiliki kandungan pati yang cukup tinggi sehingga berpotensi sebagai alternatif pengganti bahan makanan atau bahan baku pengisi farmasetik. Biji durian sebagai bahan makanan memang belum memasyarakat di Indonesia. Pati merupakan karbohidrat asal tanaman sebagai hasil fotosintesis, yang disimpan dalam bagian tertentu tanaman sebagai cadangan makanan. Sifat pati tergantung pada jenis tanaman serta tempat penyimpanannya. Perbedaan terlihat antara lain pada viskositas dan daya lekat musilagonya atau pada sifat lainnya (Claus, 1965).
Dalam penelitian ini jika biji durian dikombinasikan dengan rumput laut maka kandungan gizi dan seratnya akan bertambah, karena kandungan pada rumput laut bisa membebaskan dari kotoran dan racun yang menumpuk dari waktu kewaktu dalam tubuh kita, membantu pencernaan dan penghapusan attravaerso limbah beracun keringat, tinja dan urin. Rumput laut juga bisa digunakan untuk pengobatan kanker. Tingginya tingkat konsumsi rumput laut akan berhubungan dengan rendahnya insiden kanker payudara pada wanita, hal itu disebabkan oleh kandungan klorofil rumput laut yang bersifat anti karsinogenik. Semua rumput laut kaya akan kandungan serat yang dapat mencegah kanker usus besar, malancarkan pencernaan dan meningkatkan kadar air dalam feses.
Berubahnya pola konsumsi masyarakat kepada bahan non sintesis dan ditambah dengan tingginya permintaan masyarakat akan makanan kesehatan dengan bahan-bahan alami yang tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan, maka bisnis makanan kesehatan menemukan momentum yang tepat untuk dikembangkan. Permintaan konsumen terhadap produk-produk makanan kesehatan tetap tumbuh maka hal ini berbeda dengan kondisi bisnis disektor lain seperti otomotif dan properti.
Melihat fakta-fakta tersebut dapat dikatakan bahwa produk yang berasal dari biji durian yang dikombinasikan dengan rumput laut pada dodol mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai produk yang menguntungkan. Salah satu bentuk dari inovasi dalam penfaatan makanan biji durian dan rumput laut sebagai bahan baku makanan kesehatan yang dapat menyehatkan bagi yang mengonsumsi. Pengembangan biji durian dan rumput laut sebagai produk makanan kesehatan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambahan (added value) biji durian dan rumput laut  menambah diversifikasi produk makanan kesehatan yang berbeda di pasaran.
 
C.      RUMUSAN MASALAH
1.      Potensi dari biji durian yang dikombinasi dengan rumput laut berkembang sangat pesat, terutama setelah diketahui manfaat yang baik untuk kesehatan.
2.      Tingginya permintaan konsumen terhadap produk makanan kesehatan dari bahan-bahan alami yang harganya dapat terjangkau.
3.      Peluang yang besar dari biji durian yang dikombinasi dengan rumput laut sebagai makanan kesehatan yang dapat menyehatkan tubuh.
 
D.    TUJUAN PROGRAM
Prodak ini bertujuan untuk:
1.      Mendapatkan keuntungan.
2.      Mendirikan usaha mandiri yang mampu membuka peluang kerja dan mengangkat perekonomian dalam masyarakat.
3.      Memberikan nilai tambah pada komuditas dalam negeri (Biji durian dan rumput laut).
4.      Meningkatkan daya tarik produk.
5.      Meningkatkan konsumsi biji durian dan rumput laut di masyarakat.
6.      Mengembangkan jiwa kreatifitas dan kewirausahaan pada mahasiswa.
 
E.      LUARAN YANG DIHARAPKAN
Produksi komersial yang dihasilkan adalah biji durian sebagai prodak makanan kesehatan dengan merek dagang “Dodol Biji Durian Kombinasi Rumput Laut” produk komersial ini dikemas dalam kemasan yang mengandung khasiat biji durian dengan harga yang terjangkau.
 
F.     KEGUNAAN PROGRAM
1.      Bagi Perguruan Tinggi
Munculnya produk “Dodol Biji Durian Kombinasi Rumput Laut” sebagai makanan kesehatan baru akan memicu jiwa kreatif inovatif mahasiswa dalam menciptakan sebuah produk makanan kesehatan baru yang bermanfaat bagi tubuh, sehat dan praktis. Kondisi ini dapat menumbuhkan iklim kompetitif dikalangan mahasiswa untuk bersaing melalui pengembangan intelektualitas dan kreatifitas, sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Program ini merupakan perwujudan dari Tridharma Perguruan Tinggi. Dengan program ini pula akan meningkatkan khasanah ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam penerapan teknologi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
2.      Bagi Mahasiswa
Dalam pelaksanaan program ini akan merangsang mahasiswa dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan, berfikir positif, kreatif, inovatif dan dinamis. Pelaksanaan program ini menuntut mahasiswa untuk dapat bekerja dalam tim yang akan menumbuhkan kesolidan dan kekuatan tim. Program ini akan menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam berkarya dalam menerapkan teknologi sederhana yang berhasil di guna. Program ini dapat menumbuhkan sikap kepedulian mahasiswa terhadap tuntutan konsumen dalam bidang makanan kesehatan.
3.      Bagi Masyarakat
Adanya produk ini akan membantu konsumen dalam pemenuhan kebutuhan makanan kesehatan yang sesuai dengan tren dan tuntutan masyarakat yang ingin kembali pada bahan-bahan alami, serba praktis, mudah dan murah, namun bermanfaat bagi tubuh. Produk dodol biji durian kombonasi rumput laut  ini dapat membantu mencegah mengobati beberapa penyakit seperti kanker, insiden payudara, mencegah kanker usus besar, melancarkan pencernaan, dll. Dengan adanya program ini, masyarakat diharapkan mampu dan lebih peduli terhadap kebutuhan makanan kesehatan yang begitu alami.
 
G.    METODE PELAKSANAAN
1.      Tahap kegiatan
Tahapan kegiatan dalam penyusunan proposal ini dapat dinyatakan dalam diagram berikut:
 
 
 
 





























 
 
 
 
 

                                                                                                              
 






























 
 
 
 
 
 
 
 
 

2.      Starategi Usaha
1.      Strategi Promosi
Promosi dodol biji durian kombinasi rumput laut ini akan dilakukan secara offline. Promosi secara offline dapat melalui media massa cetak (selebaran dsb). Serta dengan cara word of mouth. Produksi produk ini juga menerapkan pengenalan langsung kepada para konsumen dengan membagikan beberapa dodol biji durian gratis kepada konsumen sebagai promosi awal. Hal in bertujuan menarik minat konsumen, sehingga proses pengenalan produk berlangsung semakin cepat.
2.      Strategi Produksi
Proses pembuatan dodol biji durian kombinasi rumput laut ini hamper sama dengan pembuatan dodol-dodol pada umumnya, hanya saja yang membedakannya adalah pembuatan dodol yang terbuat dari bahan utama berupa biji durian dan rumput laut. Pertama-tama biji durian direbus dan dihaluskan dengan menggunakan blender, kemudian dicampur dengan rumput laut sampai rata dan menjadi ciri khas dari produk ini.
3.      Strategi Pemasaran
Setelah melakukan promosi produk, produk akan mulai dipasarkaan dengan menyewa sebuah tempat yang strategis didaerah kampus Ikip. Selain itu, pemasaraan itu juga akan dilakukan offline, dengan tujuan agar lebih mengembangkan usaha ini.
3.      Analisis Usaha
1.      Perincian Biaya Produksi
a.       Biaya Produksi (BP)
1.      Biaya tetap (BT)
Adapun perincian biaya tetap yang diperlukan dalam usaha pembuatan buah biji durian, yaitu:
No
Jenis modal kerja
Jumlah
Harga satuan
Harga total
1
Biji durian
30 buah
Rp 50.000,-
Rp 1.500.000,-
2
Tepung beras
5 bungkus
Rp 6.000,-
Rp 30.000,-
3
Tepung Ketan
5 bungkus
Rp 7.000,-
Rp 35.000,-
4
Gula pasir
3 kg
Rp 12.000,-
Rp 36.000,-
5
Santan
7 liter
Rp 2.500,-
Rp 17.500,-
6
Daun pandan
23 ikat
Rp 1.000,-
Rp 23.000,-
7
Rumput laut
3 Kg
Rp 15.000,-
Rp 45.000,-
Total
Rp 1.686.500,-
2.      Biaya tidak tetap (BTT)
Adapun perincian biaya tidak tetap yang dimaksud berupa biaya pembelian alat-alat produksi, sebagai berikut:
No
Jenis modal kerja
Jumlah
Harga satuan
Harga total
1.
Pisau
3 buah
Rp 5.000,-
Rp 15.000,-
2.
Blender
1 buah
Rp 310.000,-
Rp 200.000,-
3.
Kompor Hock
2 buah
Rp 140.000,-
Rp 280.000,-
4.
Sutil kayu
2 buah
Rp 7.000,-
Rp 14.000,-
5.
Wajan
1 buah
Rp 55.000,-
Rp 55.000,-
6.
Saringan santan
2 bauh
Rp 5.000,-
Rp 10.000,-
7.
Baskom
5 buah
Rp 5.000,-
Rp 25.000,-
8.
Loyang
3 buah
Rp 8.000,-
Rp 24.000,-
9.
Daun pisang
7 lembar
Rp 1.500,-
Rp 10.500,-
10.
Kertas minyak
7 lembar
Rp 2.500,-
Rp 17.500,-
11
Minyak tanah
3 liter
Rp 12.000,-
Rp 36.000,-
Total
Rp 687.000,-
3.      Perancanaan Pemasaran
Berdasarkan anggaran biaya diataas, total biaya produksi 450 bungkus dodol biji durian (BS) dalam waktu 1 bulan sebanyak:
BP = BT+BTT
BP (BS) = Rp 1.686.500,- + Rp 687.000,-  = Rp 2.373.500,-
a)      Hasil Usaha
HU = jumlah produksi x harga jual
HU (BS) = ( 450 x Rp 5.000,- ) = Rp 2.250.000,-
b)      Prediksi Laba atau Rugi
a)      Laporan laba atau rugi (L/R)
L/R= HU – BP, Karena HU > BP, maka
L (BS) = Rp 2.250.000,- - RP 2.373.500,-
            = Rp -123.500,-
4.      Prediksi Jangka Waktu Modal Kembali (JWP)
(JWP)    = (Investasi +BP) : (L x lama produksi)
JWP (G)= (Rp 300.000,- + Rp 2.373.000,-) : (Rp -123.500, x 1 bulan) = 24,5 1 bulan
Artinya, modal akan kembali setelah lama produksi 24.5 bulan (1 bulan).
5.      Break Event Point (BEP)
a)      Break event point (BEP)
BEP = BP : total produksi
BEP (BS) = Rp 2.373.000,- : 450 = Rp 5,27,-
Titik balik modal dodol buah biji durian akan didapat apabila harga jual persatuanya adalah Rp 5,27,-
b)      Benefit Cost (BC) Ratio
B/C rasiao = HU : BP
B/C rasiao (G) = Rp 2.250.000,- : Rp 2.373.000,- = 0,94
Artinya, dari sebanyak Rp 2.373.000,- biaya yang dikeluarkan akan diperoleh keuntungan sebesar 0,94 kali lipat, sehingga layak untuk diusahakan.
c)      Return of investmen (ROI)
ROI = (laba : BP) x 100
ROI (G) = Rp -123.500,- : Rp 2.373.000,-) x 100  
   = -5,20 .
Artinya, dari sebanyak Rp 2.373.000,- biaya yang dikeluarkan akan diperoleh keuntungan sebesar -5,20  untuk penggunaan modal usaha yang cukup efektif.
 
H.    JADWAL KEGIATAN
Adapun jadwal kegiatan dari proposal ini adalah sebagai berikut:
No
Kegiatan
Bulan Ke -
1
2
3
4
5
1
Pengajuan usaha PKM-K
 
 
 
 
 
2
Bimbingan kepada dosen pembimbing
 
 
 
 
 
3
Pengumuman diterima DIKTI
 
 
 
 
 
4
Tahap awal pelaksanaan program
 
 
 
 
 
5
Tahap inti (pembuatan produk)
 
 
 
 
 
6
Tahap inti (promosi dan pemasaran produk)
 
 
 
 
 
7
Tahap akhir (promosi dan pemasaran dan mutu produk)
 
 
 
 
 
8
Pembuatan laporan akhir
 
 
 
 
 
9
Revisi dan pengadaan laporan
 
 
 
 
 
10
Pengiriman laporan
 
 
 
 
 
 
I.       RANCANGAN BIAYA
Adapun rancangan biaya dalam penyusunan proposal ini adalah sebagai berikut:
1.      Total biaya yang diperlukan
No
Jenis Biaya
Harga
1
Biaya pembelian habis dipakai
Rp 1.686.500,-
2
Biaya peralatan penunjang
Rp 687.000,-
3
Biaya transportasi
Rp 50.000,-
4
Biaya-biaya lain
Rp 35.500,-
Total
Rp 2.459.000,-
a.       Pembelian Barang Habis Pakai
No
Jenis modal kerja
Jumlah
Harga satuan
Harga total
1
Biji durian
30 buah
Rp 50.000,-
Rp 1.500.000,-
2
Tepung beras
5 bungkus
Rp 6.000,-
Rp 30.000,-
3
Tepung Ketan
5 bungkus
Rp 7.000,-
Rp 35.000,-
4
Gula pasir
3 kg
Rp 12.000,-
Rp 36.000,-
5
Santan
7 L
Rp 2.500,-
Rp 17.500,-
6
Daun pandan
23 ikat
Rp 1.000,-
Rp 23.000,-
7
Rumput laut
3 Kg
Rp 15.000,-
Rp 45.000,-
Total
Rp 1.686.500,-
b.      Biaya Peralatan Penunjang
No
Jenis modal kerja
Jumlah
Harga satuan
Harga total
1.
Pisau
3 buah
Rp 5.000,-
Rp 15.000,-
2.
Blender
1 buah
Rp 310.000,-
Rp 200.000,-
3.
Kompor Hock
2 buah
Rp 140.000,-
Rp 280.000,-
4.
Sutil kayu
2 buah
Rp 7.000,-
Rp 14.000,-
5.
Wajan
1 buah
Rp 55.000,-
Rp 55.000,-
6.
Saringan santan
2 bauh
Rp 5.000,-
Rp 10.000,-
7.
Baskom
5 buah
Rp 5.000,-
Rp 25.000,-
8.
Loyang
3 buah
Rp 8.000,-
Rp 24.000,-
9.
Daun pisang
7 lembar
Rp 1.500,-
Rp 10.500,-
10.
Kertas minyak
7 lembar
Rp 2.500,-
Rp 17.500,-
11
Minyak tanah
3 liter
Rp 12.000,-
Rp 36.000,-
Total
Rp 687.000,-
c.       Biaya Transportsi
No
Nama
Harga total
1
Untuk pembelian bahan dan peralatan
Rp 30.000,-
2
Untuk observasi dan wawancara
Rp 25.000,-
3
Untuk promosi dan pemasaran
Rp 30.000,-
Total
Rp 85.000,-
d.      Biaya Lain-lain
No
Nama barang
Jumlah
Harga satuan
Harga total
1
Kertas HVS
1 rim
Rp 35.000,-
Rp 35.000,-
2
Print
11 lembar
Rp 250,-
Rp 2.750,-
3
Foto copy
30 lembar
Rp 150,-
Rp 4.500,-
4
Stof map folio
4 buah
Rp 500,-
Rp 2.000,-
5
Pulsa Modem
50 ribu
Rp 52.000,-
Rp 52.000,-
6
Pulpen
2 buah
Rp 3.000,-
Rp 6.000,-
7
Buku tulis
1 buah
Rp 1.500,-
Rp 1.500,-
Total
Rp 144.250,-
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
J.      LAMPIRAN-LAMPIRAN
Tepung beras dan tepung beras ketan               Kacang yang sudah blender
Gula  
Dodol yang dimasak
 
 
 
 
 
 
 ·  Translate
1
Add a comment...

Eka Faiqah

Shared publicly  - 
 
ahad, 27 oktober 2013
pemanfaatan sel surya pada energi Matahari
BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Sel surya adalah alat yang penting bagi kemajuan pengembangan teknologi energi. Alat ini bekerja melalui suatu mekanisme yang dikenal dengan nama efek fotovoltaik. Bila kita mendengar kata foto, tentu saja berkaitan dengan kata cahaya karena kata foto berasal dari kata foton yang berarti partikel cahaya atau unit-unit penyusun cahaya. Kata volt tentu saja berhubungan dengan bidang kelistrikan. Volt merupakan satuan yang digunakan untuk menyatakan besarnya tegangan/beda potensial antara 2 kutub yang berbeda (positif dan negatif).
Teknologi sel surya berkembang dari tahun ke tahun. Teknologi pertama yang berkembang adalah sel surya berbasis silikon. Teknologi ini cukup mahal, sehingga sulit untuk diaplikasikan dalam skala industri. Saat ini, telah berkembang sel surya pewarna tersensitasi (SSPT) yang merupakan sel surya generasi ketiga. Sel surya jenis ini menggunakan pewarna dari bahan alam, seperti temulawak dan buah mangsi. Prof. Dr. Syafsir Akhlus adalah dosen kimia ITS yang berkecimpung dalam bidang ini dan mendapat gelar Profesor karena keahliannya dalam bidang fotokimia. Begitu pentingnya pemanfaatan sel surya ini, mengingat cadangan bahan bakar fosil yang merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui dalam waktu singkat semakin menipis jumlahnya.
 
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan sel surya ?
2.      Bagaimana peran sel surya dalam kehidupan manusia ?
3.      Bagaimanakah perkembangan sel surya terhadap kehidupan manusia ?
 
1.3  Tujuan
A.      Tujuan Umum
1.       Untuk mengetahui apakah sel surya itu.
2.       Untuk mengetahui bagaimanakah peran sel surya terhadap kehidupan manusia.
3.       Untuk mengetahui bagaimanakah perkembangan sel surya dalam kehidupan manusia.
 
B.      Tujuan Khusus
1.       Untuk mengangkat sel surya dalam kehidupan manusia notbene sangat penting demi kemakmuran kehidupan.
2.       Untuk memberikan referensi dan tambahan pengetahuan masyarakat yang tadinya tidak mengerti menjadi paham mengenai sel surya.
3.       Memberikan motivasi dengan artikel ini masyarakat akan sadar pentingnya sel surya, kemudian termotivasi untuk memperdalam pengetahuan sehubungan dengan hal itu.
 
 
 
 
 
                         
 
 
 
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sebenarnya sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3x1024 joule pertahun. Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0,1% saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10% sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini. Perkembangan yang pesat dari industri sel surya (solar sel) di mana pada tahun 2004 telah menyentuh level 1000 MW membuat banyak kalangan semakin melirik sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan ini. Energi yang dikeluarkan oleh sinar matahari sebenarnya hanya diterima oleh permukaan bumi sebesar 69% dari total energi pancaran matahari.
1.      Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi sangat luar biasa besarnya yaitu mencapai 3x10 joule pertahun, energi ini setara dengan 2x 1017 Watt.
2.      Jumlah energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat ini. Dengan kata lain, dengan menutup 0.1% saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang memiliki efisiensi 10% sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di seluruh dunia saat ini.
1.      Prinsip Kerja
Cara kerja sel surya adalah dengan memanfaatkan teori cahaya sebagai partikel. Sebagaimana diketahui bahwa cahaya baik yang tampak maupun yang tidak tampak memiliki dua buah sifat yaitu dapat sebagai gelombang dan dapat sebagai partikel yang disebut dengan photon.
Penemuan ini pertama kali diungkapkan oleh Einstein pada tahun 1905. Energi yang  dan frekuensi l dipancarkan oleh sebuah cahaya dengan panjang gelombang  photon V dirumuskan dengan persamaan: 
E = h.c/λ
Dengan h adalah konstanta Plancks (6.62 x 10-34 J.s) dan c adalah kecepatan cahaya dalam vakum (3.00 x 108 m/s). Persamaan di atas juga menunjukkan bahwa photon dapat dilihat sebagai sebuah partikel energi atau sebagai gelombang dengan panjang gelombang dan frekuensi tertentu. Dengan menggunakan sebuah divais semikonduktor yang memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari rangkaian dioda tipe p dan n, cahaya yang datang akan mampu dirubah menjadi energi listrik.
Hingga saat ini terdapat beberapa jenis solar sel yang berhasil dikembangkan oleh para peneliti untuk mendapatkan divais solar sel yang memiliki efisiensi yang tinggi atau untuk mendapatkan divais solar sel yang murah dan mudah dalam pembuatannya. 
1.      Tipe pertama
Berhasil dikembangkan oleh para peneliti adalah jenis wafer (berlapis) silikon kristal tunggal. Tipe ini dalam perkembangannya mampu menghasilkan efisiensi yang sangat tinggi. Masalah terbesar yang dihadapi dalam pengembangan silikon kristal tunggal untuk dapat diproduksi secara komersial adalah harga yang sangat tinggi sehingga membuat solar sel panel yang dihasilkan menjadi tidak efisien sebagai sumber energi alternatif.
Sebagian besar silikon kristal tunggal komersial memiliki efisiensi pada kisaran 16-17%, bahkan silikon solar sel hasil produksi SunPower memiliki efisiensi hingga 20%. Bersama perusahaan Shell Solar, SunPower menjadi perusahaan yang menguasai pasar silikon kristal tunggal untuk solar sel. 
2.      Tipe Kedua
Solar sel yang kedua adalah tipe wafer silikon poli kristal. Saat ini, hampir sebagian besar panel solar sel yang beredar di pasar komersial berasal dari screen printing jenis silikon poli cristal ini. Wafer silikon poli kristal dibuat dengan cara membuat lapisan lapisan tipis dari batang silikon dengan metode wire-sawing. Masing-masing lapisan memiliki ketebalan sekitar 250350 micrometer. Jenis solar sel tipe ini memiliki harga pembuatan yang lebih murah meskipun tingkat efisiensinya lebih rendah jika dibandingkan dengan silikon kristal tunggal. Perusahaan yang aktif memproduksi tipe solar sel ini adalah GT Solar, BP, Sharp, dan Kyocera Solar. 
Kedua jenis silikon wafer di atas dikenal sabagai generasi pertama dari solar sel yang memiliki ketebalan pada kisaran 180 hingga 240 mikro meter. Penelitian yang lebih dulu dan telah lama dilakukan oleh para peneliti menjadikan solar sel berbasis silikon ini telah menjadi teknologi yang berkembang dan banyak dikuasai oleh peneliti maupun dunia industri.
Divais solar sel ini dalam perkembangannya telah mampu mencapai usia aktif mencapai 25 tahun. Modifikasi untuk membuat lebih rendah biaya pembuatan juga dilakukan dengan membuat pita silikon (ribbon si) yaitu dengan membuat lapisan dari cairan silikon dan membentuknya dalam struktur multi kristal. Meskipun tipe sel surya pita silikon ini memiliki efisiensi yang lebih rendah (13-15%), tetapi biaya produksinya bisa lebih dihemat mengingat silikon yang terbuang dengan menggunakan cairan silikon akan lebih sedikit.
Generasi kedua solar sel adalah solar sel tipe lapisan tipis (thin film). Ide pembuatan jenis solar sel lapisan tipis adalah untuk mengurangi biaya pembuatan solar sel mengingat tipe ini hanya menggunakan kurang dari 1% dari bahan baku silikon jika dibandingkan dengan bahan baku untuk tipe silikon wafer. Dengan penghematan yang tinggi pada bahun baku seperti itu membuat harga per KwH energi yang dibangkitkan menjadi bisa lebih murah. 
Metode yang paling sering dipakai dalam pembuatan silikon jenis lapisan tipis ini adalah dengan PECVD dari gas silane dan hidrogen. Lapisan yang dibuat dengan metode ini menghasilkan silikon yang tidak memiliki arah orientasi kristal atau yang dikenal sebagai amorphous silikon (non kristal). Selain menggunakan material dari silikon, solar sel lapisan tipis juga dibuat dari bahan semikonduktor lainnya yang memiliki efisiensi solar sel tinggi seperti Cadmium Telluride (Cd Te) dan Copper Indium Gallium Selenide (CIGS). 
Efisiensi tertinggi saat ini yang bisa dihasilkan oleh jenis solar sel lapisan tipis ini adalah sebesar 19,5% yang berasal dari solar sel CIGS. Keunggulan lainnya dengan menggunakan tipe lapisan tipis adalah semikonduktor sebagai lapisan solar sel bisa dideposisi pada substrat yang lentur sehingga menghasilkan divais solar sel yang fleksibel. Kedua generasi dari solar sel ini masih mendominasi pasaran solar sel di seluruh dunia dengan silikon kristal tunggal dan multi kristal memiliki lebih dari 84% solar sel yang ada dipasaran.
Gambar. Sebaran jenis solar sel yang berada di pasar komersial yang masih didominasi oleh solar sel generasi pertama (World market 2001 by Technology).
Penelitian agar harga solar sel menjadi lebih murah selanjutnya memunculkan generasi ketiga dari jenis solar sel ini yaitu tipe solar sel polimer atau disebut juga dengan solar sel organik dan tipe solar sel foto elektrokimia. Solar sel organik dibuat dari bahan semikonduktor organik seperti polyphenylene vinylene dan fullerene. 
Berbeda dengan tipe solar sel generasi pertama dan kedua yang menjadikan pembangkitan pasangan electron dan hole dengan datangnya photon dari sinar matahari sebagai proses utamanya, pada solar sel generasi ketiga ini photon yang datang tidak harus menghasilkan pasangan muatan tersebut melainkan membangkitkan exciton. Exciton inilah yang kemudian berdifusi pada dua permukaan bahan konduktor (yang biasanya di rekatkan dengan organik semikonduktor berada di antara dua keping konduktor) untuk menghasilkan pasangan muatan dan akhirnya menghasilkan efek arus foto (photocurrent). 
Tipe solar sel photokimia merupakan jenis solar sel exciton yang terdiri dari sebuah lapisan partikel nano (biasanya titanium dioksida) yang di endapkan dalam sebuah perendam (dye). Jenis ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Graetzel pada tahun 1991 sehingga jenis solar sel ini sering juga disebut dengan Graetzel sel atau dye-sensitized solar cells (DSSC). 
Graetzel sel ini dilengkapi dengan pasangan redok yang diletakkan dalam sebuah elektrolit (bisa berupa padat atau cairan). Komposisi penyusun solar sel seperti ini memungkinkan bahan baku pembuat Graetzel sel lebih fleksibel dan bisa dibuat dengan metode yang sangat sederhana seperti screen printing. Meskipun solar sel generasi ketiga ini masih memiliki masalah besar dalam hal efisiensi dan usia aktif sel yang masih terlalu singkat, solar sel jenis ini akan mampu memberi pengaruh besar dalam sepuluh tahun ke depan mengingat hargan dan proses pembuatannya yang sangat murah.
Pertumbuhan teknologi sel surya di dunia memang menunjukkan harapan akan solar sel yang murah dengan memiliki efisiensi yang tinggi. Sayangnya sangat sedikit peneliti di Indonesia yang terlibat dengan hiruk pikuk perkembangan tentang teknologi sel surya ini. Sudah seharusnya pemerintah secara jeli melihat potensi masa depan Indonesia yang kaya akan sinar matahari ini dengan mendorong secara nyata penelitian di bidang energi surya ini.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Divais solar sel yang murah dan mudah dalam pembuatannya.
1)      Tipe pertama   : Jenis wafer (berlapis) silikon kristal tunggal
2)      Tipe kedua      : Jenis wafer silikon poli kristal
2.      Energi yang  dan frekuensi l dipancarkan oleh sebuah cahaya dengan panjang gelombang  photon V dirumuskan dengan persamaan: E = h.c/λ
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
1.      K. West, Solar Cell Beyond Silicon, Riso International Energy Confrence, 2003.
2.      M. Gratzel, Nature 414 (2001) 338.
3.      S.M. Sze, Physics of Semiconductor Devices 2nd edition, Chapter 14, John Wiley and Sons 1981.
4.      Wikipedia encyclopedia, Solar cell, 2005 (http://en.wikipedia.org/wiki/solar_cell
5.      C. J. Brabec, N.S. Sariciftci, J.C. Hummelen, Advanced Functional Materials, 11 (2001) 15.
6.      B.A. Gregg, J. Phys. Chem. B 107 (2003) 4688.
 
 ·  Translate
1
Add a comment...

Eka Faiqah

Shared publicly  - 
 
PENDEKATAN,MODEL SERTA METODE PEMBELAJARAN
 
 
 
Disusun Oleh :
 
 
NAMA                         :          NUREKA SUSILAWATI
NIM                             :          11 231 001
KELAS                         :          V A     
                                    DOSEN PEMBINA      :           SURYATI, MPd.
 
 
 
JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
IKIP MATARAM
2012
 
PENDEKATAN,METODE SERTA MODEL PEMBELAJARAN
A.  Pengertian metode,pendekatan serta model pembelajaran
Dalam konteks pembelajaran, kita tentu tidak asing dengan istilah-istilah pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran. Namun banyak diantara para mahasiswa pendidikan (calon guru) dan bahkan para guru yang tidak memahami secara mendalam sehingga tidak bisa memberikan penjelasan apa sebenarnya persamaan dan perbedaan dari istilah-istilah tersebut. Sebagian mereka memahami sama terhadap istilah-istilah tersebut. Sebagian yang lain menganggap berbeda terhadap istilah-istilah tersebut, tetapi tidak mampu menjelaskan bagaimana perbedaannya. Dalam uraian berikut, saya mencoba menjelaskan perbedaan antara pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran; teknik pembelajaran; dan model pembelajaran. Masing-masing istilah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
 
Pendekatan pembelajaran adalah cara pandang guru terhadap proses pembelajaran, yang di dalamnya terdapat strategi-strategi pembelajaran dengan segala teorinya. Pendekatan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua yaitu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach) dan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered approach). Dari dua pendekatan pembelajaran tersebut selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran.
 
Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dengan tujuan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas dapat mencapai tujuan (goals) secara efektif dan efisien. Di dalam strategi pembelajaran terdapat perencanaan-perencanaan yang dibuat guru. Pada prinsipnya strategi pembelajaran bersifat konseptual berupa rencana keputusan yang akan diambil dalam proses pembelajaran. Ditinjau dari sisi strategi, dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: exposition-discovery learning dan group- individual learning . Sementara, dilihat dari sisi cara penyajian dan cara pengolahannya, dapat dibedakan menjadi dua pula yaitu strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Strategi pembelajaran masih bersifat konseptual, untuk pelaksanaannya diperlukan berbagai metode pembelajaran tertentu.
 
Metode pembelajaran dapat dikatakan sebagai cara yang harus ditempuh untuk mewujudkan rencana yang telah disusun guru dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis di kelas guna mencapai tujuan pembelajaran. Jadi, strategi adalah “a plan for achieving goals” sedangkan metode adalah “a way for achieving goals” . Ada banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mewujudkan strategi pembelajaran tersebut diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya. Sementara itu didalam metode pembelajaran terdapat teknik pembelajaran.
 
Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan metode pembelajaran. Sebagai gambaran, penerapan metode role playing pada kelas yang siswanya memiliki orang tua dengan rata-rata ekonomi tinggi, berbeda teknik perlakuannya terhadap siswa yang orang tuanya dengan rata-rata ekonomi rendah. Juga penerapan metode debat untuk kelas yang tergolong aktif, perlu digunakan teknik yang berbeda dibandingkan dengan kelas yang siswanya pasif. Seorang  guru dapat berganti-ganti teknik pembelajaran walau dalam kerangka metode pembelajaran yang sama.
 
Model pembelajaran adalah bingkai dari penerapan suatu pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran. Model pembelajaran adalah rangkaian strategi, metode, dan teknik pembelajaran dalam satu kesatuan yang utuh. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
Metode dibedakan dari pendekatan. Pendekatan lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode lebih menekankan pada teknik pelaksanaannya. Satu pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dalam pelaksanaan proses tersebut digunakan beberapa metode. Sebagai contoh dalam pembelajaran pencemaran lingkungan. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut dapat dipilih dari beberapa pendekatan yang sesuai, antara lain pendekatan lingkungan. Ketika proses pembelajaran pencemaran lingkungan dilaksanakan dengan pendekatan lingkungan tersebut dapat digunakan beberapa metode, misalnya metode observasi, metode didkusi dan metode ceramah. Supaya lebih jelas ikuti perencanaan yang dilakukan oleh seorang guru ketika akan memberi pembelajaran pencemaran lingkungan tersebut. Pada awalnya ia memilih pendekatan lingkungan, berarti ia akan menggunakan lingkungan sebagai fokus pembelajaran. Pada akhir pembelajaran melalui konsep pencemaran lingkungan siswa akan memahami tentang lingkungan sekitarnya apakah sudah tercemar atau tidak. Untuk merealisasikan hal tersebut ia menggunakan metode diskusi dan ceramah. Dalam pembelajarannya ia membuat suatu masalah untuk didiskusikan oleh siswa kemudian ia akan mengakhiri pembelajaran tadi dengan memberi informasi yang berkaitan dengan hasil diskusi. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa metode dan pendekatan dirancang untuk mencapai keberhasilan suatu tujuan pembelajaran.
B.  jenis-jenis Pendekatan Pada KBM
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran biologi antara lain sebagai berikut :
a.    Pendekatan tujuan pembelajaran
Pendekatan ini berorientasi pada tujuan akhir yang akan dicapai. Sebenarnya pendekatan ini tercakup juga ketika seorang guru merencanakan pendekatan lainnya, karena suatu pendekatan itu dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semua pendekatan dirancang untuk keberhasilan suatu tujuan, Sebagai contoh : Apabila dalam tujuan pembelajaran tertera bahwa siswa dapat mengelompokan makhluk hidup, maka guru harus merancang pembelajaran, yang pada akhir pembelajaran tersebut siswa sudah dapat mengelompokan makhluk hidup. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dapat berupa metode tugas atau karyawisata.
b.          Pendekatan konsep
 suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.
c.         Pendekatan lingkungan
 Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari – hari sering digunakan pendekatan lingkungan.
d.        Pendekatan inkuiri
 Penggunaan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dengan dunia fisik yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli peneliti ( Dettrick, G.W., 2001 ). Pendekatan inkuiri dibedakan menjadi inkuiri terpempin dan inkuiri bebas atau inkuiri terbuka. Perbedaan antara keduanya terletak pada siapa yang mengajukan pertanyaan dan apa tujuan dari kegiatannya.
e.         Pendekatan penemuan
Penggunaan pendekatan penemuan berarti dalam kegiatan belajar mengajar siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep tentang fenomena ilmiah. Penemuan tidak terbatas pada menemukan sesuatu yang benar – benar baru. Pada umumnya materi yang akan dipelajari sudah ditentukan oleh guru, demikian pula situasi yang menunjang proses pemahaman tersebut. Siswa akan melakukan kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan hal yang akan ditemukan.
f.          Pendekatan proses
 siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.
g.          Pendekatan interaktif ( pendekatan pertanyaan anak )
Pendekatan ini memberi kesempata pada siswa uuntuk mengajukan pertanyaan untuk kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan ( Faire & Cosgrove, 1988 dalam Herlen W, 1996 ). Pertanyaan yang diiajukn siswa sangat bervariasi sehingga guru perlu melakukan llangkah – langkah mengumpulkan, memilih, dan mengubah pertanyaan tersebut menjadi suatu kegiatan yang spesifik.
h.          Pendekatan pemecahan masalah
Pendekatan pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan. Dalam pendekatan ini ada dua versi. Versi pertama siswa dapat menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Versi kedua, hanya masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru berperan hanya dalam menyediakan bahan dan membantu memberi petunjuk.
i.       Pendekatan sains teknologi dan masyarakat ( STM )
Hasil penelitian dari National Science Teacher Association ( NSTA ) ( dalam Poedjiadi, 2000 ) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah ilmiah
j.       Pendekatan terpadu
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pemaduan dilakukan dengan menekankan pada prinsip keterkaitan antar satu unsur dengan unsur lain, sehingga diharapkan terjadi peningkatan pemahaman yang lebih bermakna dan peningkatan wawasan karena satu pembelajaran melibatkan lebih dari satu cara pandang. Pendekatan terpadu dapat diimplementasikan dalam berbagai model pembelajaran. Di Indonesia, khususnya di tingkat pendidikan dasar terdapat tiga model pemdekatan terpadu yang sedang berkembang yaitu model keterhubungan, model jaring laba – laba, model keterpaduan.
Perbandingan model pembelajaran terpadu Model keterhubungan Model jaring laba – laba Model keterpaduan.
k.      Pendekatan Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba(Suwarna,2005).
 Piaget (1970), Brunner dan Brand 1966), Dewey (1938) dan Ausubel (1963). Menurut Caprio (1994), McBrien Brandt (1997), dan Nik Aziz (1999)  kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar.
Menurut teori konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru. Rumelhart dan Norman (1978) menjelaskan seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaan atau tuning. Seseorang juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi, iaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Menurut Gagne, Yekovich, dan Yekovich (1993) konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing.
Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubungkaitkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Dalam proses ini, pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu perkara.
Kajian Sharan dan Sachar (1992, disebut dalam Sushkin, 1999) membuktikan kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivisme telah mendapat pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan berbanding kumpulan pelajar yang diajar menggunakan pendekatan tradisional. Kajian Caprio (1994), Nor Aini (2002), Van Drie dan Van Boxtel (2003), Curtis (1998), dan Lieu (1997) turut membuktikan bahawa pendekatan konstruktivisme dapat membantu pelajar untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian yang lebih tinggi dan signifikan.
 
l.        Pendekatan Deduktif – Induktif
a.       Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya(Suwarna,2005).
b.      Pendekatan Induktif
Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan.
Prince dan Felder (2006) menyatakan pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Di bidang sain dan teknik dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama mahasiswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan. Bransford (dalam Prince dan Felder, 2006) melakukan penelitian dibidang psikologi dan neurologi. Temuannya adalah: ”All new learning involves transfer of information based on previous learning”, artinya semua pembelajaran baru melibatkan transfer informasi berbasis pembelajaran sebelumnya.
Major (2006) menyatakan dalam pembelajaran dengan pendekatan deduktif dimulai dengan menyajikan generalisasi atau konsep. Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika. Contoh urutan pembelajaran: (1) definisi disampaikan; dan (2) memberi contoh, dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan siswa dengan maksud untuk menguji pemahaman siswa tentang definisi yang disampaikan.
Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya, menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual, siswa dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan prosedur-prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri.
Major (2006) berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan induktif efektif untuk mengajarkan konsep atau generalisasi. Pembelajaran diawali dengan memberikan contoh-contoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Siswa melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian membangun dalam suatu konsep atau geralisasi. Siswa tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa abstraksi, tetapi sampai pada abstraksi tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati.
Dalam fase pendekatan induktif-deduktif ini siswa diminta memecahkan soal atau masalah. Kemp (1994: 90) menyatakan ada dua kategori yang dapat dipakai dalam membahas materi pembelajaran yaitu metode induktif dan deduktif. Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif. Matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran “yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus” Soedjadi (2000: 16). Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif, pola pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara bergantian.
 
 
 
B. Jenis-jenis Model Pembelajaran
 
1.      Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Kontekstual adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran kontekstual dapat dilaksanakan dari TK SD SMTP SMTA dan PT.
 
Landasan Filosofis model Pembelajaran Kontekstual
Landasan filosofi CTL adalah konstruktivisme artinya filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak bisa dipisah-pisahkan harus utuh. Konstruktivisme berakar pada filsafat pragmatisme yang digagas oleh John Dewey pada awal abad ke 20 yaitu filosofi belajar yang menekankan kepada pengembangan minat dan pengalaman siswa.
 
ü  CTL mencerminkan konsep saling bergantungan.
ü  CTL mencerminkan prinsip deferensiasi
ü  CTL mencerminkan prinsip pengorganisasian diri
 
Komponen pembelajaran kontekstual, yaitu: (1) Konstruktivisme, (2) Inkuiri, (3) Bertanya, (4) Masyarakat belajar, (5) Pemodelan, (6) Refleksi, (7) Penilaian
Contoh-contoh pengkaitan dalam CTL di kelas :
Di kelas yang sudah tinggi para guru mendorong siswa untuk membaca, menulis dan berpikir dengan cara kritis dengan meminta mereka untuk fokus pada persoalan-persoalan kontroversial di lingkungan atau masyarakat (misalnya melakukan penelitian di perpustakaan, melakukan survey lapangan dan mewawancarai pejabat)
 
            Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual
 
1.      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3.      Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4.      Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
5.      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6.      Lakukan refleksi di akhir penemuan.
7.      Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
 
Ciri Kelas Yang Menggunakan Pendekatan Kontekstual
 
1.      Pengalaman nyata
2.      Kerjasama saling menunjang
3.      Gembira belajar dengan bergairah
4.      Pembelajaran terintegrasi
5.      Menggunakan berbagai sumber
6.      Siswa aktif dan kritis
7.      Menyenangkan tidak membosankan
8.      Sharing dengan teman
9.      Guru kreatif
 
Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual
1.      Memilih tema
2.      Menentukan konsep-konsep yang dipelajari
3.      Menentukan kegiatan –kegiatan untuk investigasi konsep-konsep terdaftar
4.      Menentukan mata pelajaran terkait(dalam bentuk diagram)
5.      Mereviu kegiatan-kegiatan & mata pelajaran yang terkait
6.      Menentukan urutan kegiatan
7.      Menyiapkan tindak lanjut
 
2.      Model Pembelajaran Kooperatif
 
Salah satu model pembelajaran adalah model cooperative learning yang sudah mulai diaplikasikan semenjak akhir tahun 1970-an. Menurut Ina (2008): Model cooperative learning beranjak dari dasar pemikiran getting better together yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh, dan mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan-keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat.
Melalui model cooperative learning, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam proses belajar mengajar, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya, dan sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Proses pembelajaran dengan model cooperative learning ini mampu merangsang dan menggugah potensi siswa secara optimal dalam suasana belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 6 orang siswa.
Pada saat siswa belajar dalam kelompok akan berkembang suasana belajar yang terbuka dalam dimensi kesejawatan, karena pada saat itu akan terjadi proses belajar kolaboratif dalam hubungan pribadi yang saling membutuhkan. Pada saat itu juga siswa yang belajar dalam kelompok kecil akan tumbuh dan berkembang pola belajar tutor sebaya (pear group) dan belajar secara bekerjasama (cooperative).
Sebagai dampak isntruksional dalam model cooperative learning adalah pemahaman, keterampilan berpikir kritis dan kreatif, kemampuan pemecahan masalah, kemampuan komunikasi, keterampilan mengunakan pengetahuan secara bermakna, proses pembelajaran yang efektif. Sedangkan dampak pengiringnya adalah menciptakan lingkungan kelas yang demokratis, dan efektif dalam mengatasi keragaman siswa, otonomi dan kebebasan siswa, kebebasan sebagai siswa, penumbuhan aspek sosial, interpersonal, dan intrapersonal.
 
Unsur-Unsur Model Coperative Learning
 
Menurut Roger dan Johnson dalam Noor (2008) tidak semua kerja kelompok dapat dianggap model cooperative leaming. Menurut Noor (2008) untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model cooperative learning harus diterapkan:
 
1.      Saling ketergantungan positif. Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya.
2.      Tanggung jawab perseorangan. Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran cooperative learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik.
3.      Tatap muka. Dalam pembelajaran cooperative learning setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
4.      Komunikasi antar anggota. Unsur ini juga menghendaki agar para pembejar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi
5.      Evaluasi proses kelompok. Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu.
 
Menurut Nur dalam Widyantini (2006), unsur-unsur dalam model cooperative learning sebagai berikut:
 
1.      Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya,
2.      Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama,
3.      Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya,
4.      Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi,
5.      Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya,
6.      Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
 
Langkah-langkah Model Cooperative Learning
 
Noor (2008) menyatakan bahwa ada beberapa langkah yang harus dilakukan berdasarkan komponen model cooperative learning dapat dilihat pada tabel 2 berikut:
Tabel 2 Langkah-langkah model cooperative learning
NO
LANGKAH-LANGKAH
TINGKAH LAKU GURU
1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Pengajar menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa belajar
2
Menyajikan informasi
Pengajar menyajikan informasi pada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kelompok belajar
Pengajar menjelaskan pada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
 
4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Pengajar membimbing kelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas
5
Evaluasi
Pengajar mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
6
Memberikan penghargaan
Pengajar mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
 
Pengelompokan Siswa dalam Model Cooperative Learning
Pengelompokan heterogenitas merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam model cooperative learning. Kelompok heterogenitas bisa dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang sosiolekonomi dan etnik, serta kemampuan akademis (Noor,2008). Namun dalam penelitian ini, hanya dikelompokkan berdasarkan kemampuan akdemis. Menurut Noor (2008) dalam hal kemampuan akademis, kelompok cooperative learning biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang. Makanisme pengelompokan dapat dilihat pada gambar berikut:
 
Tabel 3. Kelebihan dan kekurangan variasi kelompok model cooperative learning   (Noor,2008)
VARIASI
KELOMPOK
KELEBIHAN
KEKURANGAN
Kelompok Berpasangan
a. Meningkatkan partisipasi
 
b. Cocok untuk tugas sederhana
c. Lebih banyak kesempatan untuk kontribusi masing masing anggota kelompok
d. Interaksi lebih mudah
e. Lebih mudah dan cepat membentuknya
 
a. Banyak kelompok yang akan melapor dan dimonitor
b. Lebih sedikit ide yang muncul
c. Jika ada perselisihan, tidak ada penengah
 
Kelompok Bertiga
a. Jumlah ganjil; ada penengah
 
a. Banyak kelompok yang akan melapor dan dimonitor
 
 
 
 
b. Lebih banyak kesempatan untuk kontribusi masingmasing anggota kelompok.
c. Interaksi lebih mudah
 
b. Lebih sedikit ide yang muncul
 
 
c. Lebih mudah dan cepat membentuknya
 
Kelompok
Berempat
a. Mudah dipecah menjadi berpasangan
b. Lebih banyak ide muncul
c. Lebih banyak tugas yang bisa dilakukan
 
d. Guru mudah memonitor
 
a. Butuh banyak waktu
 
b. Butuh sosialisasi yang lebih baik
c. Jumlah genap menyulitkan pengambilan suara
d. Kurang kesempatan untuk kontribusi individu
e. Siswa mudah melepaskan diri dari keterlibatan dan tidak memperhatikan
 
Kelompok
Berlima
a. Jumlah ganjil memudahkan proses pengambilan suara
b. Lebih banyak ide muncul
c. Lebih banyak tugas yang bisa dilakukan
 
 
d. Guru mudah memonitor kontribusi
 
a. Membutuhkan lebih banyak waktu
 
b. Membutuhkan sosialisasi yang lebih baik
c. Siswa mudah melepaskan diri dari keterlibatan dan tidak memperhatikan
d. Kurang kesempatan untuk individu
 
 
 
1 .Model pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal
            Pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal adalah tipe pembelajaran koopeatif dimana siswa membuat pertanyaan yang akan dikirim ke kelompok yang lain (lie, 2008: 58).
            Teknik belajar mengajar berkirim salam dan soal memberi siswa kesempatan untuk melatih pengetahuan dan keterampilan mereka. Sehingga akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan memjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya.
Langkah- langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe berkirim salam dan soal menurut lie adalah :
a)      Guru membagi siswa dalam kelompok dan setiap kelompok ditugaskan untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang akan dikirim ke kelompok lain. Guru bisa mengawasi dan membantu memilih soal-soal yang cocok.
b)      kemudian, masing- masing kelompok mengirimkan satu orang utusan yang akan menyampaikan salam dan soal dari kelompoknya.
c)      Setiap kelompok mengerjakan soal kiriman dari kelompok lain.
d)     Setalah selesai, jawaban masing- masing kelompok dicocokan dengan jawaban kelompok yang membuat soal.
Kegiatan berkirim salam dan soal bisa digabung dengan beberapa teknik yang lain. Pada tahap pembuatan soal, siswa memakai teknik berpikir-berpasangan-berempat, teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain dan optimalisasi partisipasi siswa . pada saat mencocokan jawaban, siswa bisa mengirim utusan seperti pada teknik dua tinggal dua tamu, pada tknik ini memberi kesempatan kelompok untuk membagikan hasil dan informasi denag kelompok lain.  
 
 
3.      Model Inqury Training
 
Untuk model ini, terdapat tiga prinsip kunci, yaitu pengetahuan bersifat tentatif, manusia memiliki sifat ingin tahu yang alamiah, dan manusia mengembangkan indivuality secara mandiri. Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara berkelanjutan, prinsip kedua mengindikasikan pentingkan siswa melakukan eksplorasi, dan yang ketiga— kemandirian, akan bermuara pada pengenalan jati diri dan sikap ilmiah.
Model inquiry training memiliki lima langkah pembelajaran (Joyce & Weil, 1980), yaitu:
a.       menghadapkan masalah (menjelaskan prosedur penelitian, menyajikan situasi yang saling bertentangan),
b.      menemukan masalah (memeriksa hakikat obyek dan kondisi yang dihadapi, memeriksa tampilnya masalah),
c.       mengkaji data dan eksperimentasi (mengisolasi variabel yang sesuai, merumuskan hipotesis),
d.      mengorganisasikan, merumuskan, dan menjelaskan, dan menganalisis proses penelitian untuk memperoleh prosedur yang lebih efektif.
Sistem sosial yang mendukung adalah kerjasama, kebebasan intelektual, dan kesamaan derajat. Dalam proses kerjasama, interaksi siswa harus didorong dan digalakkan. Lingkungan intelektual ditandai oleh sifat terbuka terhadap berbagai ide yang relevan. Partisipasi guru dan siswa dalam pembelajaran dilandasi oleh paradigma persamaan derajat dalam mengakomodasikan segala ide yang berkembang. Prinsip-prinsip reaksi yang harus dikembangkan adalah: pengajuan pertanyaan yang jelas dan lugas, menyediakan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki pertanyaan, menunjukkan butir-butir yang kurang sahih, menyediakan bimbingan tentang teori yang digunakan, menyediakan suasana kebebasan intelektual, menyediakan dorongan dan dukungan atas interaksi, hasil eksplorasi,formulasi, dan generalisasi siswa.
Sarana pembelajaran yang diperlukan adalah berupa materi konfrontatif yang mampu membangkitkan proses intelektual, strategi penelitian, dan masalah yang menantang siswa untuk melakukan penelitian. Sebagai dampak pembelajaran dalam model ini adalah strategi penelitian dan semangat kreatif. Sedangkan dampak pengiringnya adalah hakikat tentatif krilmuan, keterampilan proses keilmuan, otonomi siswa, toleransi terhadap ketidakpastian dan masalah-masalah non rutin.
 
 
4.      Model Problem-Based Instruction
 
Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik (Arends et al., 2001). Dalam pemrolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik, siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka masalah, mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun fakta, mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah.
Model problem-based instruction memiliki lima langkah pembelajaran (Arend etal., 2001), yaitu:
1)      guru mendefisikan atau mempresentasikan masalah atau isu yang berkaitan (masalah bisa untuk satu unit pelajaran atau lebih, bisa untuk pertemuan satu, dua, atau tiga minggu, bisa berasal dari hasil seleksi guru atau dari eksplorasi siswa),
2)      guru membantu siswa mengklarifikasi masalah dan menentukan bagaimana masalah itu diinvestigasi (investigasi melibatkan sumber-sumber belajar, informasi, dan data yang variatif, melakukan surve dan pengukuran),
3)      guru membantu siswa menciptakan makna terkait dengan hasil pemecahan masalah yang akan dilaporkan (bagaimana mereka memecahkan masalah dan apa rasionalnya),
4)      pengorganisasian laporan (makalah, laporan lisan, model, program komputer, dan lain-lain), dan
5)      presentasi (dalam kelas melibatkan semua siswa, guru, bila perlu melibatkan administator dan anggota masyarakat).
Sistem sosial yang mendukung model ini adalah: kedekatan guru dengan siswa dalam proses teacher-asisted instruction, minimnya peran guru sebagai transmitter pengetahuan, interaksi sosial yang efektif, latihan investigasi masalah kompleks. Prinsip reaksi yang dapat dikembangkan adalah: peranan guru sebagai pembimbing dan negosiator. Peran-peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan selama proses pendefinisian dan pengklarifikasian masalah.
Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah: lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, artikel, jurnal, kliping, peralatan demonstrasi atau eksperimen yang sesuai, model analogi, meja dan korsi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu.
Dampak pembelajaran adalah pemahaman tentang kaitan pengetahuan dengan dunia nyata, dan bagaimana menggunakan pengetahuan dalam pemecahan masalah kompleks. Dampak pengiringnya adalah mempercepat pengembangan self-regulated learning, menciptakan lingkungan kelas yang demokratis, dan efektif dalam mengatasi keragaman siswa.
 
 
 
 
5.      Metode pemecahan masalah (Problem Solving)
 
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
a.       Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
b.      Berpikir dan bertindak kreatif.
c.       Memecahkan masalah yang dihadapi secara  realistis.
d.      Mengidentifikasi dan melakukan penyeledikan.
e.       Mengidentifikasi dan mengevaluasi hasil pengamatan
f.       Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadap dengan tepat
g.       Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut :
a.       Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Missal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan menngamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
b.      Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
Pembelajaran berdasarkan masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajuka pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
 
Langkah-langkah:
a.       Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistic yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
b.      Guru membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhbungan dengan masalah tersebut ( menetapkan topic, tugas, jadwal, dll).
c.       Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dn pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
d.      Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
e.       Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
 
Kelebiahan:
a.       Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
b.      Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain
c.       Dapat memperoleh dari berbagai sumber
Kekurangan:
a.       Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai
b.      Membutuhkan banyak waktu dan dana
c.       Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini
 
6.      Numbered Heads Together
 
Numbered Heads Together adalah suatu matode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
                                                                                                                                                                                                                                                               Langkah-langkah :
a.       Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjaakannya
b.      Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap kelompok dapat mengerjakannya.
c.       Guru memanggil salah satu nomor siswa denagn nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka
d.      Tanggapan dari teman yang lain kemudian guru menunjukan nomor yang lain
e.       Kesimpulan
Kelebihan
*        Setiap siswa menjadi siap semua
*        Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh
*        Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai
 
Kelemahan
*        Kemungkinan nomor yang panggil, dipanggil lagi oleh guru
*        Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru
 
C. Macam-Macam Metode Pembelajaran
1.    Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah murid pada waktu dan tempat tertentu. Dengan kata lain metode ini adalah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ini disebut juga dengan metode kuliah atau metode pidato.
 
Ø  Keunggulan Metode Ceramah
a.    Guru mudah menguasai kelas.
b.    Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.
c.    Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
d.    Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
e.    Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
Ø      Kelamahan Metode Ceramah
a.    Mudah terjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
b.    Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) yang besar menerimanya.
c.    Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan.
d.    Guru lebih aktif sedangkan murid pasif karena perhatian hanya terpusat pada guru saja.
e.    Murid seakan diharuskan mengikuti segala apa yang disampaikan oleh guru, meskipun murid ada yang bersifat kritis karena guru dianggap selalu benar.
 
Metode ceramah ini dalam pembelajaran kimia adalah sturktur atom karena banyak pembahasan yang berhubungan dengan sejarah atom sehingga guru harus menjelaskan pertama kali yang merumuskan atom tersebut dan perkembangan atom. Selain struktur atom masih banyak pembelajaran kimia yang menggunakan metode ceramah.
 
2.    Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengajar dengan cara memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.
Tujuan metode ini adalah:
Ø  Memotivasi atau memberi stimulasi kepada siswa agar berfikir kritis, mengeluarkan pendapatnya, serta menyumbangkan pikiran-pikirannya.
Ø  Mengambil suatu jawaban actual atau satu rangkaian jawaban yang didasarkan atas pertimbangan yang saksama
Macam-macam diskusi yaitu diskusi informal, diskusi formal, diskusi panel, dan diskusi simpusium.Metode diskusi adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian materi melalui pemecahan masalah, atau analisis sistem produk teknologi yang pemecahannya sangat terbuka. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan siswa bila diskusi itu melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan masalah. Jika metoda ini dikelola dengan baik, antusiasme siswa untuk terlibat dalam forum ini sangat tinggi. Tata caranya adalah sebagai berikut: harus ada pimpinan diskusi, topik yang menjadi bahan diskusi harus jelas dan menarik, peserta diskusi dapat menerima dan memberi, dan suasana diskusi tanpa tekanan.Metode ini tepat digunakan untuk materi kimia unsur karena banyak yang harus didiskusikan oleh suatu kelompok. Misal logam alumunium, besi, tembaga dan lain-lain.
 
3.    Metode Pemecahan Masalah ( Problem Solving )
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan suatu permasalahan, yang kemudian dicari penyelasainnya dengan dimulai dari mencari data sampai pada kesimpulan.
Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga merupakan metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan. 
Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam penggunaan metode problem solving mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan.
Mencari data atau keterangan yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.
Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut.
Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut.
Menarik kesimpulan.
Ø  Keunggulan-keunggulan metode problem solving (metode pemecahan masalah)
Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan siswa kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. 
Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
Ø  Kelemahan-kelemahan metode problem solving (metode pemecahan masalah)
Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran.
Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.
Metode pemecahan masalah ini dalam materi kimia adalah koloid. Misal guru mengangkat tema apakah air susu dan jeli termasuk golongan aerosol, sol, emulsi, buih, atau gel?.
 
5.    Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Jadi, metode tanya jawab adalah interaksi dalam kegiatan  pembelajaran yang dilakukan dengan komunikasi  verbal, yaitu dengan memberikan siswa pertanyaan untuk dijawab, di samping itu juga memberikan kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan kepada guru.
 
Ø  Keunggulan-keunggulan dari metode tanya jawab
Pertanyaan menarik dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun ketika siswa sedang ribut, yang mengantuk kembali tegar dan hilang kantuknya.
Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan cara berpikir, termasuk daya ingatan.
Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
Ø  Kelemahan-kelemahan dari metode tanya jawab
Siswa merasa takut, apalagi bila kurang dapat mendorong siswa untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.
Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.
Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa.
Metode tanya jawab ini tepat digunakan dalam materi tata nama senyawa dan persamaan reaksi. Karena di sini dituntut siswa bisa menjawab dan membuat soal. Misal rumus kimia HNO3 itu namanya apa?.
 
6.    Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Jadi, bisa disimpulkan bahwa metode tugas dan resitasi adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan memberikan tugas tertentu kepada siswa untuk dikerjakan dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam materi pelajaran dan dapat pula mengevaluasi materi yang telah dipelajari. Sehingga siswa akan terangsang untuk belajar  aktif baik secara individual maupun kelompok.
 
Ø  Keunggulan-keunggulan metode tugas dan resitasi
Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang konstruktif.
Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas sebab dalam strategi ini siswa harus mempertanggung jawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah dikerjakan.
Memberikan kebiasaan siswa untuk giat belajar.
d.      Memberikan tugas siswa untuk sifat yang praktis.
Ø  Kelemahan-kelemahan metode tugas dan resitasi
Tidak jarang pekerjaan yang ditugaskan itu diselesaikan dengan meniru pekerjaan orang lain.
Karena perbedaan individu, maka tugas apabila diberikan secara umum mungkin beberapa orang diantaranya merasa sukar sedangkan sebagian lainnya merasa mudah menyelesaikan tugas tersebut.
Apabila tugas diberikan, lebih-lebih bila itu sukar dikerjakan, maka ketenangan mental para siswa menjadi terpengaruh.
Metode tugas dan resitasi tepat untuk materi kelarutan dan hasil kelarutan karena dalam meteri tersebut terdapat banyak rumus dan soal yang harus dikerjakan dengan menggunakan rumus.
 
7.    Metode Eksperimen
Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajar.
Dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode eksperimen, siswa diiberikan kesempatan untuk mengalami  sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti proses, mengamati objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan tentang suatu permasalahan terkait materi yang diberikan. Peran guru sangat penting pada metode eksperimen, khususnya dalam ketelitiandan kecermatan sehingga tidak terjadi kekeliruan dan kesalahan memaknai kegiatan eksperimen dalam kegiatan pembelajaran.
Ø  Keunggulan-keunggulan metode eksperimen
Metode ini dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran dan kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau buku saja.
Dapat mengembangkan sikap untuk studi eksploratis tentang sains dan teknologi, suatu sikap dari seorang ilmuan.
Metode ini didukung oleh azas-azas didaktik modern.
Ø  Kelemahan-kelemahan metode eksperimen
Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan mahal.
Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan dan ketabahan.
Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan dan pengendalian.
Metode eksperimen ini digunakan pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit karena siswa ingin mengetahui apakah larutan tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh guru atau tidak. Misalnya larutan HCl dalam teori larutan ini bersifat elektrolit dan dapat menghantarkan arus listrik serta lampu nyala. Dalam metode eksperimen ini siswa ingin membuktikan apakah benar larutan HCl itu termasuk larutan elektrolit.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
Dirdjosoemarto dkk. 2004. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Bandung : FPMIPA UPI dan JICA IMSTEP.
Roestiyah. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Syah Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosda Karya
Amy J. Phelps & Cherin Lee. (2003). The power of practice : what students learn from how we teach. Journal of Chemical Education, 80 (7), 829 – 832.
 
Ball, D. L. (1988). Unlearning to teach mathematics. East Lansing : Michigan State University, National Center for Research on Teacher Education.
 
Brandt, Ronald. (1993). What do you mean professional. Educational Leadership. Nomor 6 50, March.
 
Canella & Reiff .(1994). Individual constructivist teacher education: Teachers as empowered learners. Teacher Education Quarterly, 21(3), 27-28.
 
Carolin Rekar Munro. (2005). “Best Practices” in teaching and learning : Challenging current paradigms and redefining their role in education. The College Quarterly. 8 (3), 1 – 7.
 
Colin Marsh. (1996). Handbook for beginning teachers. Sydney : Addison Wesley Longman Australia Pry Limited.
 
Constance Blasie & George Palladino. (2005). Implementing the professional development standards : a research department’s innovative masters degree program for high school chemistry teachers. Journal of Chemical Education. 82 (4), 567 – 570.
 
Dedi Supriadi. (1999). Mengangkat citra dan martabat guru. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa.
 
Depdiknas. (2005). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas
 ·  Translate
1
Add a comment...
In her circles
92 people
Have her in circles
23 people
ance boekittinggi's profile photo
Edwar Iswardi's profile photo
Adhityo Nugroho's profile photo
Yusuf Hadi's profile photo
Mustova Achmad's profile photo

Eka Faiqah

Shared publicly  - 
 
subhanallah....^_^
 
SubhanAllah..
Growth Muslim in England 
1
Add a comment...

Eka Faiqah

Shared publicly  - 
 
 Ahad, 27 Oktober 2013
kumpulan soal-soal dasar-dasar kependidikan MIPA

1.         Bagaimanakah perkembangan pendidikan di Indonesia  ?
Jawabanya: 
Perkembangan pendidikan di Indonesia salah satunya ialah: Perkembangan kurikulum.
Kurikulum sendiri memiliki pengertian sebagaimana dalam UU SPN No 20 Tahun 2003 pada bab I pasal I (Muhammad. Joko,2007:82) yaitu: Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum dimulai sejak adanya kurikulum 1975 yang berpengaruh pada kurikulum 1984 dan 1994.
1.         Kurikulum 1975
Pendidikan di Indonesia sudah dimulai sejak proklamasi kemerdekaan atau tepatnya tanggal 17 Agustus 1945. sejak saat itu telah terjadi beberapa kali pembaharuan kurikulum mulai dari singkat sekolah dasar hingga menengah. Pembaharuan kurikulum tersebut dilakukan untuk membuat pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, menurut Jasin (1987), sudah dilakukan lima kali pembaharuan kurikulum. Pembaharuan tersebut adalah:
a.       Pembaharuan pertama kali dilakukan pada tahun 1947.
Pembaharuan tersebut dilakukan untuk mengganti seluruh sistem pendidikan kolonial Belanda. Pembaharuan yang pertama atau disebut dengan rencana pelajaran 1947 ini menekankan pada pembentukan karakter manusia.
b.       Pembaharuan yang kedua terjadi dengan keluarnya rencana pendidikan 1964. Pembaharuan kurikulum ini didasarkan pada usaha untuk mengejar ketertinggalan pendidikan di Indonesia di bidang ilmu alam (science) dan matematika.
c.       Pembaharuan yang ketiga terjadi karena dikeluarkannya kurikulum 1968.
d.       Pembaharuan ini terjadi bersamaan dengan beralihnya sistem pemerintahan dari orde lama ke orde baru. Keadaan tersebut menuntut adanya pembaharuan dalam segala aspek kehidupan yang salah satunya adalah pendidikan.
e.       Pembaharuan yang keempat terjadi seiring dengan diterbitkannya kurikulum 1975/1976/1977. Kurikulum ini ditandai dengan adanya usha yang sistematis dalam penyusunan kurikulum tersebut. Bahan-bahan yang bersifat empiris dijadikan dasar dalam penyusunan kurikulum ini.
2.       Kurikulum 1984
Kurikulum ini manggantikan kurikulum 1975 yang didasarkan pada surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 0461/U/1983 tentang perbaikan kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan kerja industri pada masa itu.
3.       Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 berisi tentang kewenangan pengembangan yang seluruhnya beada ditanagn pusat dan daerah sehingga sekolah tidak begitu terlibat, kemudian tidak terjadi penataan materi, jam pelajaran serta struktur program siswa hanya dianggap sebagai siswa yang harus menerima semua materi dan tanpa mempraktekannya.
4.       Kurikulum 2004 (KBK)
KBK tidak ditetapkan dalam UU atau Peraturan Pemerintah. Alasan mengubah kurikulum 1994 menjadi KBK karena mutu pendidikan di Indonesia yang kurang baik dan banyak siswa yang tidak menerapkan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan, selain itu mereka dituntut untuk menghafal materi tanpa memahaminya sehingga apa yang telah diuji maka materi itu akan dengan mudah lupa. Oleh karena itu dengan mengubah kurikulum 1994 menjadi KBK diharapkan dapat menekankan kurikulum pada kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai siswa dalam menyelesaikan pembelajaran.
 
Menurut Paul (2007:43), kompetensi merupakan “kemampuan yang dapat berupa keterampilan, nilai hidup siswa yang mempengaruhi cara mereka berpikir dan bertindak”. Secara umum KBK memiliki enam karakteristik menurut Muhammad Joko (2007:102) yaitu:
1.         System belajar dengan modul
2.       Menggunakan keseluruhan sumber belajar
3.       Pengalaman lapangan
4.       Strategi individual personal
5.       Kemudahan belajar dan
6.       Belajar tuntas
 
2.       Apa pengertian dari jalur pendidkan  ?
Jawabanya:
Jalur pendidikan merupakan: Wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangakan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
 
3.       Hubungan dan pengaruh lingkungan, faktor pribadi (kondisi fisik) dan tingkah laku terhadap meningkat dan menurunnya proses pembelajaran.
Jawabanya:
Salah satu menurun dan meningkatnya faktor pendidikan ialah dengan adanya hubungan antara pengaruh lingkungan dan faktor pribadi seseorang. Hubungan antara faktor pribadi dengan lingkungan itu sangat kaitan erat, ketika faktor pribadi seseorang rusak maka perlu ditanyakan lagi. Apakah ada pengaruh dari faktor keluarga atau faktor lingkungan, tapi biasanya dapat dilihat pengaruh lebih besar itu dari faktor lingkungan. Maka dari itu, dengan adanya faktor lingkungan yang kurang baik maka faktor pembaharuan dalam dirinya juga kurang baik, akibatnya gaya tirupun akan mengikuti seperti apa yang ada pada gaya hidup di lingkunganya.
ü Contoh; lingkungan tempat tinggalnya disana banyak orang pemabuk, maka ketika dia bergabung atau berteman dengan orang pemabuk maka dia juga akan menjadi orang pemabuk. Tapi sebaliknya jika dilingukungan tempat tinggalnya dia berteman dengan orang yang soleh, maka diapun juga akan menjadi orang soleh.
 
 
4.       Apakah setiap ilmu baru akan menghasilkan tekhnologi baru. Sebutkan contoh pendidikan yang menghasilkan tekhnologi baru tersebut.
Jawaban:
Ø tidak semuanya ilmu baru menghasilkan tekhnologi baru, kadangkala ilmu yang lama lebih menghasilkan banyak pengetahuan tentang  tekhnologi.
Ø Contoh pendidikan yang menghasilkan tekhnologi baru diantaranya; pendidikan jarak jauh. Nah pendidikan jarak jauh ini dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Pendidikan jarak jauh ini berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyaraakat yang tida dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau regular. Nah pendidikan ini dapat digunakan dengan cara belajar yang sifatnya online.
 
5.       Contoh pengaruh hubungan Mipa dan tekhnologi dalam masyarakat ?
Jawaban:
Pengaruh hubungan Mipa dan tekhnologi itu sangat erat, dahulu Mipa hanyalah Mipa dan tekhnologi hanyalah teknologi tanpa ada kaitan dengan Mipa. Tapi sekarang antara mipa dengan tekhnologi itu sangat berkaitan erat antara satu dengan yang lainnya. Ada salah satu teori yang menyatakan seperti dibawaah ini teorinya:
Nana Syaodih S mengemukakan bahwa sebenarnya sejak zaman dahulu tekhnologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan tekhnologi.
Ø Misalakan: pada zaman dahulu manusia memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah. Nah sesungguhnya mereka sudah menggunakan tekhnologi tapi dengan tekhnologi yang ssederhana. 
 
6.       Bagaimana perkembangan Mipa dan tekhnologi didunia dewasa ini khususnya pada jurusan Kimia ?
Jawabanya:
·        Kalau kita melihat sekarang ini; perkembangan Mipa sangat beda dengan Mipa yang duhulunya. Kalau Mipa yang duhulu dalam proses pembelajaran materi hanya diberikan dosen dengan cara mencatat dipapan tuils. Sedangkan sekarang dosen tidak cape-cape untuk mencatat, tapi dengan menggunakan LCD mahasiswa/I sudah dapat belajar dengan melihat dilayar. Itulah salah satu kemajuan tekhnologi yang ada pada jurusan kimia.
 
7.       Bagaimana kaitan antara dampak negative yang ada pada tekhnologi  ?
Jawabanya:
Dampak negative yang ada pada tekhnologi ialah: Kadang kala orang salah menggunakan tekhnologi dengan cara melihat hal-hal yang tidak sepatutnya untuk dilihat, itulah sebabnya kebanyakaan orang tidak tau apa dampak dan apa pengaruh dari tekhnologi itu sendiri.
Waktunya terbuang karena berlama-lama didepan computer hanya untuk fb’an, Chetting, Browsing ataupun sebagainya, Hal itulah yang membuat seseorang tidak kenal waktu.
 
8.       Sebutkan contoh Ipa sebagai produk ilmiah ?
Jawaban:
Produk ilmiah yang dimaksudkan disini ialah berupa fakta, konsep, prinsip, atau hukum dan juga teori.
Contohnya: logam jika dipanaskan akan memuai,
·        Konsep tentang: magnet, listrik, sel, cahaya, dan sebagainya.
·        Prinsip ialah: generalisasi yang meliputi kaitan antar konsep-konsep.
 
9.       Bagaimana hubungan antara system dengan pendidikan ?
Jawaban:
Hubungan system dengan lingkungan sangat berkaitan erat, seperti halnya hubungan antara romeo and Juliet, kalau tidak ada romeo mana mungkin Juliet bisa hidup sendiri, begitu juga kalau tidak ada Juliet mana mungkin romeo bisa hidup sendiri.
Atau pemisalan yang lain ialah buku tampa pulpen mana mungkin buku ada isinya buat nulis, begitu juga dengan pulpen kalau tidak ada buku mana mungin pulpen bisa menulis. Nah itu artinya pendidikan juga sangat kaitan erat dengan system. Dimana pendidikan itu sendiri artinya sebagai berikut:
ü Pendidikan adalah: Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar pesertas didik secara aktif mmengembangkan potennsi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendaliaan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
 
10.     Bagaimana menumbuhkan kesenangan belajar Mipa dikalangan peserta didik didunia dewasa ini  ?
Jawabanya:
Salah satunya ialah:
1.         Dengan memberikan inspirasi-inspirasi baru terhadap mahasiswa/I
2.       Memberikan pengajaran yang secara harfiarnya belum pernah diberikan pada sesi-sesi sebelumnya.
3.       Memberi motiivasi kepada mahasiswa/I agar bersemangat dalam proses perkuliahan.
 
11.       Apakah strategi pembelajaran dan bagaimanakah strategi pembelajaran dalam pendidikan Mipa itu sendiiri ?
Jawabanya:
·        Strategi pembelajaran ialah; pokok pembahasan tentang materi atau silabus yang ada pada suatu program di Universitas itu sendiri untuk mencapai yang namanya suatu proses mata kuliah dalam pembelajaranya.
·        Strategi dalam pembelajaran Mipa menurut saya ialah:
1.         Belajar dengan cara dosen memberikan pengarah, mahasiswa/I mendengar apa yang disampaikan dosenya dan mencatat point-point  yang penting.
2.       Memberikan tugas berkelompok dan mempresentasikan didepan kelas,dll. Masiih banyak lagi  yang lainnya yang dapat kita ketahui pada strategi pembelajaran Mipa.
 
12.     Komponen-komponen yang ada dalam system pendidikan ?
Jawabanya:
Komponen yang ada pada system pendidikan Nasional yaitu: keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai  suatu tujuan pendidikan nasional.
 
13.     Jelaskan hakikat ipa sebagai sikap ilmiah  ?
Jawabanya:
hakikat ipa sebagai ilmiah yaitu mempelajari gejala-gejala alam melalui observasi, ekspermentasi, dan analisis yang rasional. Nah, Saintis menggunakan sikap tertentu (scientific attitude) misalnya berusaha bersikap objektif dan jujur bila ia sedangkan mengumpulkan, menyusun dan menganalisis data.
 
14.     Dampak negative lain dari Mipa dan tekhnologi serta pengaruhnya terhadap masyarakat ?
Jawabanya:
1.         Membuat seseorang malas dalam segala urusan, karena sudah berada diidepan alat tekhnnologi.
2.       Membuat orang salah menggunkan tekhnolgi tersebut
3.       Ketika seseorang menjauh dari tekhnologi, orang tersebut  ibarat tidak bisa bernapas. Nah, itulah dampak negative dari tekhnologi.
 
 
 
 
15.     Bagaimana pendapat anda jika didalam pendidikan Mipa tidak ada hubungan dengan tekhnologi?
Jawabanya:
Pendapat saya: jika didalam Mipa tidak ada tekhnologi maka suatu proses pembelajaran agak sedikit lama dan meperhambat proses pembelajaran itu sendiri. Karena didalam Mipa sangat membutuhkan tekhnologi,
Misalkan: tekhnologi LCD, dosen membuutuhkan LCD untuk bisa memberikan materi kepada anak didiknya agar dapat dipahami. Selain itu tekhnologi yang lain ialah dengan adanya computer mahasiswa/I tidak cape lagi dengan menulis tangan, tapi dengan adanya computer mereka bisa mengerjakan tugas mereka dengan cara mengetik.
 
16.     Contoh metode peningkatan propesi guru  ?
Jawaban:
1.         Jika ingin menjadi guru yang cerdas dan berpengatuhuan yang banyak ialah dengan cara, harus banyak belajar, membaca, dengan membaca ilmu akan bertambah dan pengetahuan akan menjadi luas.
2.       Jangan menjadi seorang guru yang berbuat curang. Maksudnya ialah apabila di saat ujian seorang guru tidak boleh berbuat curang dengan cara menyontek karena itu perbuatan yang sangat hina untuk dirinya dan dimata Allah Swt.
 
17.     System penddikan yang bagaimana yang harus diterapkan di Indonesia  ?
Jawabanya:
System pendidikan yang berupa,
1.         Pendidikan formal yaitu: jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
2.       Pendidikan informal adalah: jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
3.       Pendidikan nonformal adalah: jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
18.     Bagaimana ciri-ciri Mipa itu sendiri ?
Jawabanya:
1.         Adapun ciri-ciri STS yang membedakannya dengan yang lebih bersifat tradisional adalah:Tradisional STS Mempelajari konsep, hukum, dan teori yang biasa ada dalam buku.
2.       Mempelajari Issue/masalah social terkait IPA yang ada disekitarnya. Dilaboratorium, Verifikasi sesuai dengan buku. Pada praktikum, mengetes sesuai kemampuan dan mencari data yang diinginkan.
3.       Siswa Pasif dan selalu oleh guru Siswa Aktif dalam hal mencari Informasi Pengetahuan dan Belajar hanya dilakukan dan didapatkan dilingkungan sekolah Belajarnya bukan hanya pada lingkungan sekolah Fokus/arah pelajaran ditentukan oleh guru/buku Focus/arah dianggap penting dan tergantung siswa tidak adanya pembahasan tentang kedepannya misalnya karier Selalu dikaitkan dengan masa depan dan karier siswa Isi/materi dan informasi hanya diperoleh dari guru dan buku Isi/materinya bebas dan relevan dengan lingkungan guru bekerja sendiri Adanya kerjasama antara guru satu sama lain (bidang studi lain) Secara umum memiliki kelas ilmiah yang tiap periodenya melebihi tahun pelajaran Pendidikan terstruktur.
 
19.     Apa saja yang harus ada dalam proses belajar ?
Jawaban:
Yang harus ada dalam proses belajar mengajar ialah :
1.         Guru
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dapat dilakukan oleh tim pengajar atau guru tunggal. Hal ini tergantung pada kondisi sekolah. Bila di suatu sekolah guru IPA  terdiri atas guru fisika, kimia, biologi, maka dalam penyusunan silabus, perencanaan pembelajaran, penggunaan media, dan strategi mengajar sebaiknya dibuat bersama hingga penyusunan alat penilaiannya.
 
 
2.       Peserta didik
Bagi peserta didik, pembelajaran terpadu dapat mempertajam kemampuan analitis terhadap konsep-konsep yang dipadukan, karena dapat mengembangkan kemampuan asosiasi konsep dan aplikasi konsep. Pembelajaran terpadu perlu dilakukan dengan variasi metode yang tidak membosankan. Aktivitas pembelajaran harus lebih banyak berpusat pada peserta didik agar dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.
3.       Bahan Ajar
Bahan ajar  yang digunakan tidak hanya buku bidang kajian saja,  tetapi dapat dari  berbagai bidang kajian yang direkatkan oleh tema. Peserta didik dapat juga mencari berbagai sumber belajar lainnya. Bahkan bila memungkinkan mereka dapat menggunakan teknologi informasi yang ada. Aktivitas peserta didik dalam penugasan dapat menjadi nilai tambah yang menguntungkan.
4.        Sarana dan Prasarana
Dalam pembelajaran terpadu diperlukan berbagai alat dan media pembelajaran. Karena digunakan untuk pembelajaran konsep yang direkatkan oleh tema, maka penggunaan sarana pembelajaran dapat lebih efisien jika dibandingkan dengan pemisahan bidang kajian. Memang tidak semua konsep dapat dipadukan. Konsep-konsep yang dipilih untuk direkat oleh tema dapat menghemat waktu dan ruang.
 
20.   Berdasarkan penjelasan anda simpulkan tentang hakikat pendidikan  ?
Jawabanya:
Dari pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hakikat pendidikan adalah: Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
 
 
21.     sebutkan macam-macam jalur pendidikan di Indonesia  ?
jawabanya:
jalur pendidikan di Indonesia diantaranya ialah:
1.         Jalur pendidikan formal, mencakup
1.         Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk:
·        Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat.
·        Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.
2.       Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
Ø Pendidikan menengah terdiri atas:
1)        Pendidikan menengah umum
2)      Pendidikan menengah kejuruan
Pendidikan menengah berbentuk diantaranya:
1.         Sekolah Menengah Atas (SMA)
2.       Madrasah Aliyah (MA)
3.       Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
4.       Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
3.       Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan: Jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat berbentuk:
1.         Akademi
2.       Politeknik
3.       Sekolah tinggi
4.       Institute
5.       Universitas
2.       Jalur pendidikan Informal, meliputi
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri  Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.
3.       Jalur pendidikan Informal
Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
·        Pendidikan nonformal meliputi:
1.         Pendidikan kecakapan hidup
2.       Pendidikan anak usia dini
3.       Pendidikan kepemudaan
4.       Pendidikan pemberdayaan perempuan
5.       Pendidikan keaksaraan
6.       Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja
7.       Pendidikan kesetaraan
8.       Pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
 
22.    Pengertian jalur pendidikan ?
Jawabanya:
Jalur pendidikan adalah: Wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
 
 
23.   Bagaimana perkembangan pendidikan di Indonesia  ?
Jawabanya:
Perkembangan pendidikan di Indonesia diantaranya:
1.         Perkembangan Kurikulum
a.       Kurikulum 1975
b.       Kurikulum 1984
c.       Kurikulum 1994
d.       Kurikulum 2004 (KBK)
e.       Kurikulum 2006 (KTSP)
 
 
 
 ·  Translate
1
Add a comment...
People
In her circles
92 people
Have her in circles
23 people
ance boekittinggi's profile photo
Edwar Iswardi's profile photo
Adhityo Nugroho's profile photo
Yusuf Hadi's profile photo
Mustova Achmad's profile photo
Links
YouTube
Basic Information
Gender
Female