Shared publicly  - 
Kurniawan Saputro originally shared:
 
Belajar jalan sambil kesandung.
Ceritanya saya sedang meneliti cuitan (tweet) yang bersliweran saat letusan kemarin. Setelah dikumpul-kumpul, ketemu jumlah cuitan dan pencuit yang luar biasa besar. Sekarang saya sedang berpikir, gimana caranya membersihkan data. Mana emas, mana loyang. Untuk itu saya perlu batasan. Pikir punya pikir, yang paling beralasan adalah memisahkan pencuit yang terlibat (emas) dari pengguna yang numpang lewat (loyang). Bukan berdasar siapa dia (berapa pengikutnya dll) atau berdasar dengan siapa dia bicara, karena intinya di sini adalah masalah Merapi itu sendiri (yang diwakili dengan kata kunci "Merapi"). Di dalam khasanah dunia media sosial, ini sering disebut dengan istilah "engagement."
Sekarang, soalnya bagaimana memilah data yang berjibun itu agar bermakna?
Beberapa langkah yang saya lakukan adalah:
1. Kelompokkan data berdasarkan pencuit, sehingga cuitan akan terkumpul menyatu pada orang yg mengucapkan. Urutkan cuitan berdasarkan waktu pengucapan, sehingga diperoleh cuitan yang berurutan.
2. Buang pengguna yang mencuit kurang dari 3 kali. Jrenggg! Inilah batunya. Sebegitu banyak pengguna itu harus dipilihi satu-satu, pakai mata dan tangan. Juling dan pegal hasilnya. Berapa lama ini akan selesai? Lebih dari 1 juta cuitan ...
3. Sembari menyortir, hitung juga cuitan masing-masing. Nanti ini akan menentukan siapa pencuit paling ramai dan pencuit paling sunyi.
Translate
1
Widiarsa Pawirodirjo's profile photoAmbar Sari Dewi Nasir's profile photoKurniawan Saputro's profile photo
9 comments
 
Manut. Nek sing jelas Kemis karo Jemuwah aku ngidul neng Sewon. Awane isa. Nek liya dina, kangsen nganggo pesan pendek wae, Mbar.
 
Nek kemis rada sore ya, jam 2 an. Nek jemuwah, awan ora apa-apa.
Add a comment...