Profile cover photo
Profile photo
Tanam Ide Kreasi
167 followers -
"Menanam kata, menuai cerita"
"Menanam kata, menuai cerita"

167 followers
About
Tanam's posts

Post has shared content
Penyu merupakan hewan yang dilindungi dan keberadaannya terancam punah. Di Pantai selatan khususnya terdapat 5 Jenis Penyu yang teridentifikasi. Manusia merupakan penyelamat utama keberadaan mereka di samping ancaman terbesar juga. Selamatkan atau hilang!

Yuk nonton film dokumenter ini di AlineaTV

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment
Kota Bandung miskin wahana literasi. Tulisan tajam dari Anton Kurnia.

Seru!

Post has attachment
Pernahkah kamu bertanya, jika negara kita adalah negara yang kaya, mengapa kemiskinan masih ada? Jika keadilan dan hukum tegak, mengapa masih ada kejahatan dan penindasan? Jika negara kita memang berasaskan kemanusiaan yang adil dan beradab mengapa masih ada pelanggaran hak asasi manusia? Pertanyaan-pertanyaan itu barangkali pernah kita pertanyakan, pernah kita pikirkan dan pernah kita utarakan. Tapi tak ada yang benar-benar bisa menjawab, tak ada yang benar-benar bisa memberi tahu kita mengapa.

Pelan-pelan kita generasi muda “dipaksa menerima” bahwa negara ini sedang baik-baik saja, semua damai sejahtera. Kepada kita generasi muda, dikatakan bahwa mereka yang sedang protes di Papua adalah kaum separatis, bahwa mereka yang dibantai di Aceh adalah pemberontak, bahwa mereka yang dibunuh di Timor Leste adalah pengacau, mereka yang diculik sepanjang peristiwa ‘98 adalah pengkhianat negara yang harus dibasmi, mereka yang terbunuh di tahun 65 dan sesudahnya adalah sebuah keharusan zaman yang tidak bisa diganggu gugat. Sehingga kejahatan kepada mereka harus dilakukan, hak hak mereka sebagai manusia dilucuti, dan kita dibuat untuk “melupakan” mereka.

Manakala reformasi terjadi, mulai banyak yang bicara soal masa lalu, di sana sini kita mulai akrab dengan kampanye melawan lupa, menolak lupa, menolak bungkam dan sebagainya. Tapi sebenarnya yang kita tolak apa? Siapa yang kita lawan? Kita bicara kepada siapa? Dan apa yang berusaha membungkam kita? Upaya-upaya inipun kemudian timbul tenggelam, hingga tak terdengar, dan lantas terlupakan lagi di tengah hiruk pikuk kesibukan kita.

Suka tidak suka, sadar tidak sadar, kita, yaitu kamu dan aku, adalah generasi yang buta masa lalu. Kita adalah generasi yang ingatannya telah dihapus. Kita adalah generasi yang jikalau ingin tahu harus mencari tahu sendiri atas tahun tahun yang hilang dari pelajaran sejarah. Kita, kamu dan aku, generasi yang lahir setelah reformasi berdiri, adalah generasi yang menerima potongan-potongan sejarah. Bahwa di masa lalu, ada masalah, yang masih belum selesai dan dibiarkan begitu saja hingga kini.

Kita, aku dan kamu, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita ingin ingat. Tapi mengingat siapa? Dan mengapa harus diingat? Kita ingin menjalani apa yang dikatakan Milan Kundera, novelis Ceko, hidup adalah perjuangan melawan lupa. Tapi ia tak pernah selesai menjelaskan, barangkali juga merumuskan, apa yang coba dilupakan dalam hidup kita. Itu sebabnya kita perlu membentuk sebuah gerakan. Sebuah gerakan untuk terus menerus mencari dan mengingat. Kita perlu merapatkan barisan. Kamu dan aku, bersama-sama, mengingat bahwa masa lalu kita bermasalah dan mendiamkannya adalah sebuah kejahatan.

Barangkali kita perlu menjadi barisan pengingat, sebuah gerakan kebudayaan yang lahir dari generasi yang melek masa lalu. Barisan pengingat adalah gerakan sederhana, yang tugas utamanya adalah mengingat. Mengingatkan diri sendiri dan juga mengingatkan yang lain tentang masa lalu bangsa kita dan kebenaran.

Tapi kebenaran seperti apa yang hendak kita ingat?

Dalam sebuah sajaknya penyair besar Widji Thukul bernak berkata “Jika kita menghamba pada ketakutan / Kita memperpanjang barisan perbudakan.” Kebenaran yang kita terima hari ini adalah kebenaran versi penguasa. Ada kebenaran-kebenaran lain yang menunggu dicari, menunggu diketahui dan menunggu  untuk disebarkan. Kebenaran perihal siapa dan apa yang sebenarnya tengah terjadi di republik ini.

Kita perlu menjadi pengingat yang mengetahui rekam jejak masa lalu pemimpin kita dan calon-calon pemimpin masa depan bangsa ini: kita harus tahu siapa mereka, apa yang telah mereka lakukan di masa lalu. Kita perlu menjadi pengingat bagi orang yang kita sayangi agar mereka tak lagi lupa, agar tidak salah memilih pemimpin kita.

Kita ingin mengingat seorang ayah, suami, buruh, penulis puisi, sahabat, manusia Indonesia yang cinta bangsanya, seorang bernama Wiji Thukul. Wiji Thukul adalah ayah dari dua orang anak. Ia adalah suami dari seorang istri. Anak dari seorang ibu. Karib, sahabat, teman, rekan, seniman, penyair yang pernah menjadi individu yang dekat dengan keberadaan orang lain. Wiji Thukul bisa jadi siapa saja. Ia bisa jadi ayahmu, suamimu, anakmu, kekasihmu, sahabatmu, seseorang yang pernah kamu rayakan keberadaannya. Lantas suatu hari hilang begitu saja. Tanpa alasan. Tanpa penjelasan.

Kita mengingat Wiji Thukul karena ia penanda, rajah yang melekat dalam ingatan kita akan seorang ayah, seorang suami, seorang manusia yang dihilangkan. Kami ingin ambil bagian aktif untuk mengingatnya, menjadikannya bagian dari hidup kita, ingatan kita akan masa lalu bangsa ini karena pernah ada seorang ayah, suami, manusia baik yang dihilangkan, bernama Wiji Thukul.

Maka ikutlah dalam Barisan Pengingat. Ikutlah menjadi seseorang yang menjadi onak dalam daging, menjadi slilit, menjadi mimpi buruk siapapun yang kelak akan jadi pemimpin kita. Kamu hanya cukup menulis, cukup bernyanyi, cukup berkicau, dan lebih dari itu, cukup mengingatkan orang-orang yang kamu cintai.

“Ayo Gabung ke kami Biar Jadi mimpi Buruk Presiden!” – Wiji Thukul

Untuk terlibat menjadi Barisan Pengingat, silakan follow @JadiPengingat atau like Facebook Pages: https://www.facebook.com/pages/Jadi-Pengingat/250715998427263

Post has attachment
Mendesain Proposal Internet Governance Forum 2013

Post has attachment

Post has attachment
Di balik novel Da Vinci Code

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded