Profile cover photo
Profile photo
Arief Arbianto
130 followers -
Sebaiknya diam dan dianggapan bodoh drpd berbicara dan menegaskan anggapannya.
Sebaiknya diam dan dianggapan bodoh drpd berbicara dan menegaskan anggapannya.

130 followers
About
Posts

Post has attachment
Analisis cyber troops Desember 2018. Ternyata kubu sebelah rame karena akun2 BOT, bukan real human seperti percakapan di sosmed tentang Prabowo-Sandi 02.

Semakin yakin #2019GantiPresiden #2019PrabowoPresiden #2019PrabowoPresidenRI. Insya' Allah.

Post has attachment
Add a comment...

Post has attachment
Segerombolan makhluk dari kolam sebelah nekat melaporkan Anies Baswedan ke Bawaslu. Tuduhannya gubernur DKI kampanyein Prabowo.

Hehehe... Mereka pun lompat2 kegirangan krn Bawaslu menerima & lgsg proses pengaduan itu. Anies santai, datang sendiri ke 'sidang' Bawaslu.

Dan ternyata... Anies tidak sedang mengklarifikasi tuduhan konyol itu. Dia sedang melakukan "SILENT ATTACK".

Kasian Jae kl dah begini.

Post has attachment
Segerombolan makhluk dari kolam sebelah nekat melaporkan Anies Baswedan ke Bawaslu. Tuduhannya gubernur DKI kampanyein Prabowo.

Hehehe... Mereka pun lompat2 kegirangan krn Bawaslu menerima & lgsg proses pengaduan itu. Anies santai, datang sendiri ke 'sidang' Bawaslu.

Dan ternyata... Anies tidak sedang mengklarifikasi tuduhan konyol itu. Dia sedang melakukan "SILENT ATTACK".

Kasian Jae kl dah begini.

Post has attachment
Nurhadi-Aldo: Tukang Pijat Projo, Capres Fiktif, dan Bahasa Jorok

Beberapa minggu belakangan di beranda FB sering nongol meme politik parodi, yang menurut saya tidak lucu. Isinya tentang Capres fiktif Nurhadi-Aldo, menyindir panasnya kontestasi pilpres 2019.

Singkatan-singkatan menghasilkan kata jorok digunakan, yang tentunya tidak pantas buat anak-anak pengguna medsos. Dibaca orang dewasa pun tak layak.

Sayang hal jorok itu malah menjadi daya tarik. Pengikut akun FB, Twitter dan Instagram Nurhadi-Aldo membludak. Netizen secara random menjadi penyimak, termasuk akun bocah-bocah yang masih balita saat Mark Zuckenberg sudah kuliah.

Sebagai gerakan politik medsos, admin paslon fiktif ini memainkan posisi netral diantara konflik Cebong dan anti Cebong. Katanya ingin meredakan ketegangan karena pilpres. Komentator pun banyak berbau golput, atau mungkin orang-orang yang sudah putus asa dengan arah politik Indonesia, dimana calonnya dia-dia lagi dua lagi.

Soal mau netral atau golput terserah mereka lah, yang jelas saya akan memilih kandidat dengan hitungan mudharatnya lebih kecil. Misalnya Jokowi dengan Basyar Assad, berarti saya pilih Jokowi. Jokowi dengan Xi Jinping, masih Jokowi dong. Jokowi vs Netanyahu, saya jagokan Jokowi. Jokowi atau SBY, jelas SBY lah. SBY dengan Prabowo, tetap SBY. Jokowi atau Prabowo, kita cukup pilih Sandiaga Uno.

Sebagai bagian dari netizen atau warganet istilah lokalannya, saya ingin tahu siapa sosok-sosok yang berkaitan dengan meme Nurhadi-Aldo.

Mencari akun pak Nurhadi di jagad FB pasti sulitnya bukan main. Di kolom pencarian saja ketemu ratusan. Fotonya sama semua. Sudah pasti 100% akun bodong.

Eh ternyata secara tak sengaja ada teman yang membagikan sebuah screenshoot akun bernama “Nur Ha Di” di FB. Iseng cari, ketemu, pengikutnya 30 ribuan dan bukan akun baru.

Ini linknya:
https://www.facebook.com/pijat.alanurhadi

Awalnya saya masih belum yakin itu akun asli pak Nurhadi, petunjuknya adalah tukang pijat asal Kudus. Benar saja, di tahun 2012 beliau memposting lokasi di Kudus dan tengah memijat. Makin yakin saya itu adalah akun beliau. Postingannya bukan editan dari postingan yang sudah ada diganti isinya, seolah sudah lama posting biar kelihatan asli.

Diperkuat lagi liputan media mainstream bahwa pak Nurhadi pernah membuat gerakan “Komunitas angka 10” beberapa tahun lalu. Di akun itu diposting sejak tahun 2015. Kalau palsu tidak mungkin lah sudah dipersiapkan seperti itu.

Ketemu akunnya, tinggal lihat pak Nur Ha Di ini pilihan politiknya kemana. Apakah beliau akan memilih dirinya sendiri sebagai Capres Fiktif? Atau bergaya netral kayak admin Nurhadi-Aldo?

Oh tidak saudara, ternyata akun Nur Ha Di adalah pendukung Jokowi.

Memang mungkin saja yang posting itu orang lain, tapi untuk membuktikannya sulit. Jadi kesimpulan yang bisa ditarik adalah pak Nur Ha Di ini ada di kolam Projo.

Tak masalah bagi saya, itu hak beliau. Yang penting netizen harus tahu bahwa sosok fiktif idolanya ternyata tak netral. Nur Ha Di pro Jokowi, ente mau juga kah?

Lalu siapa sosok yang menggerakkan Capres fiktif berslogan jorok dengan mengambil image seorang tukang pijat dari Kudus itu.

Petunjukkan ada di wawancara media lagi, pak Nurhadi menyebut nama Edwin, seorang pemuda asal Yogyakarta. Pak tukang pijat ini dihubungi via messenger Desember lalu. Izin memakai foto dan namanya. Nurhadi juga tak tahu siapa Aldo yang dipasangkan oleh Edwin dengannya.

Gampang kalau mau mencari siapa mas Edwin, tinggal masuk ke pertemanan akun Nur Ha Di tadi. Ketik nama Edwin, dan ketemulah akun ini:

https://www.facebook.com/soekarno.menangis.1

Benarkah ini sosok mas Edwin yang membuat “guyon jorok” Capres fiktif sebelum pemilu?

Kemungkinan besar sih iya, di foto profil beliau ada percakapan dengan temannya tentang topik Nurhadi-Aldo. Sayangnya sulit mencari kemana preferensi politik mas Edwin ini karena keterbatasan postingan yang ia share pada publik.

Bagi para orang tua yang tidak setuju atau kesal dengan singkatan jorok yang dilihat anak kecil, silahkan mas Edwinnya dicari di Yogyakarta dan “dijewer” biar agak sopan dikit. Tapi jangan main persekusi ya.

Sebagai penutup, kita kembali ke Pilpres 2019, menurut ketum MUI Kyai Ma’ruf Amin sebelum jadi Cawapres, jangan pilih lagi calon yang ingkar janji ya…

Oleh Pega Aji Sitama
https://blog.masawep.com/2019/01/serial-negeriku/nurhadi-aldo-tukang-pijat-projo-capres-fiktif-dan-bahasa-jorok/

Post has attachment
Nurhadi-Aldo: Tukang Pijat Projo, Capres Fiktif, dan Bahasa Jorok

Beberapa minggu belakangan di beranda FB sering nongol meme politik parodi, yang menurut saya tidak lucu. Isinya tentang Capres fiktif Nurhadi-Aldo, menyindir panasnya kontestasi pilpres 2019.

Singkatan-singkatan menghasilkan kata jorok digunakan, yang tentunya tidak pantas buat anak-anak pengguna medsos. Dibaca orang dewasa pun tak layak.

Sayang hal jorok itu malah menjadi daya tarik. Pengikut akun FB, Twitter dan Instagram Nurhadi-Aldo membludak. Netizen secara random menjadi penyimak, termasuk akun bocah-bocah yang masih balita saat Mark Zuckenberg sudah kuliah.

Sebagai gerakan politik medsos, admin paslon fiktif ini memainkan posisi netral diantara konflik Cebong dan anti Cebong. Katanya ingin meredakan ketegangan karena pilpres. Komentator pun banyak berbau golput, atau mungkin orang-orang yang sudah putus asa dengan arah politik Indonesia, dimana calonnya dia-dia lagi dua lagi.

Soal mau netral atau golput terserah mereka lah, yang jelas saya akan memilih kandidat dengan hitungan mudharatnya lebih kecil. Misalnya Jokowi dengan Basyar Assad, berarti saya pilih Jokowi. Jokowi dengan Xi Jinping, masih Jokowi dong. Jokowi vs Netanyahu, saya jagokan Jokowi. Jokowi atau SBY, jelas SBY lah. SBY dengan Prabowo, tetap SBY. Jokowi atau Prabowo, kita cukup pilih Sandiaga Uno.

Sebagai bagian dari netizen atau warganet istilah lokalannya, saya ingin tahu siapa sosok-sosok yang berkaitan dengan meme Nurhadi-Aldo.

Mencari akun pak Nurhadi di jagad FB pasti sulitnya bukan main. Di kolom pencarian saja ketemu ratusan. Fotonya sama semua. Sudah pasti 100% akun bodong.

Eh ternyata secara tak sengaja ada teman yang membagikan sebuah screenshoot akun bernama “Nur Ha Di” di FB. Iseng cari, ketemu, pengikutnya 30 ribuan dan bukan akun baru.

Ini linknya:
https://www.facebook.com/pijat.alanurhadi

Awalnya saya masih belum yakin itu akun asli pak Nurhadi, petunjuknya adalah tukang pijat asal Kudus. Benar saja, di tahun 2012 beliau memposting lokasi di Kudus dan tengah memijat. Makin yakin saya itu adalah akun beliau. Postingannya bukan editan dari postingan yang sudah ada diganti isinya, seolah sudah lama posting biar kelihatan asli.

Diperkuat lagi liputan media mainstream bahwa pak Nurhadi pernah membuat gerakan “Komunitas angka 10” beberapa tahun lalu. Di akun itu diposting sejak tahun 2015. Kalau palsu tidak mungkin lah sudah dipersiapkan seperti itu.

Ketemu akunnya, tinggal lihat pak Nur Ha Di ini pilihan politiknya kemana. Apakah beliau akan memilih dirinya sendiri sebagai Capres Fiktif? Atau bergaya netral kayak admin Nurhadi-Aldo?

Oh tidak saudara, ternyata akun Nur Ha Di adalah pendukung Jokowi.

Memang mungkin saja yang posting itu orang lain, tapi untuk membuktikannya sulit. Jadi kesimpulan yang bisa ditarik adalah pak Nur Ha Di ini ada di kolam Projo.

Tak masalah bagi saya, itu hak beliau. Yang penting netizen harus tahu bahwa sosok fiktif idolanya ternyata tak netral. Nur Ha Di pro Jokowi, ente mau juga kah?

Lalu siapa sosok yang menggerakkan Capres fiktif berslogan jorok dengan mengambil image seorang tukang pijat dari Kudus itu.

Petunjukkan ada di wawancara media lagi, pak Nurhadi menyebut nama Edwin, seorang pemuda asal Yogyakarta. Pak tukang pijat ini dihubungi via messenger Desember lalu. Izin memakai foto dan namanya. Nurhadi juga tak tahu siapa Aldo yang dipasangkan oleh Edwin dengannya.

Gampang kalau mau mencari siapa mas Edwin, tinggal masuk ke pertemanan akun Nur Ha Di tadi. Ketik nama Edwin, dan ketemulah akun ini:

https://www.facebook.com/soekarno.menangis.1

Benarkah ini sosok mas Edwin yang membuat “guyon jorok” Capres fiktif sebelum pemilu?

Kemungkinan besar sih iya, di foto profil beliau ada percakapan dengan temannya tentang topik Nurhadi-Aldo. Sayangnya sulit mencari kemana preferensi politik mas Edwin ini karena keterbatasan postingan yang ia share pada publik.

Bagi para orang tua yang tidak setuju atau kesal dengan singkatan jorok yang dilihat anak kecil, silahkan mas Edwinnya dicari di Yogyakarta dan “dijewer” biar agak sopan dikit. Tapi jangan main persekusi ya.

Sebagai penutup, kita kembali ke Pilpres 2019, menurut ketum MUI Kyai Ma’ruf Amin sebelum jadi Cawapres, jangan pilih lagi calon yang ingkar janji ya…

Oleh Pega Aji Sitama
https://blog.masawep.com/2019/01/serial-negeriku/nurhadi-aldo-tukang-pijat-projo-capres-fiktif-dan-bahasa-jorok/

Post has attachment
Nurhadi-Aldo: Tukang Pijat Projo, Capres Fiktif, dan Bahasa Jorok

Beberapa minggu belakangan di beranda FB sering nongol meme politik parodi, yang menurut saya tidak lucu. Isinya tentang Capres fiktif Nurhadi-Aldo, menyindir panasnya kontestasi pilpres 2019.

Singkatan-singkatan menghasilkan kata jorok digunakan, yang tentunya tidak pantas buat anak-anak pengguna medsos. Dibaca orang dewasa pun tak layak.

Sayang hal jorok itu malah menjadi daya tarik. Pengikut akun FB, Twitter dan Instagram Nurhadi-Aldo membludak. Netizen secara random menjadi penyimak, termasuk akun bocah-bocah yang masih balita saat Mark Zuckenberg sudah kuliah.

Sebagai gerakan politik medsos, admin paslon fiktif ini memainkan posisi netral diantara konflik Cebong dan anti Cebong. Katanya ingin meredakan ketegangan karena pilpres. Komentator pun banyak berbau golput, atau mungkin orang-orang yang sudah putus asa dengan arah politik Indonesia, dimana calonnya dia-dia lagi dua lagi.

Soal mau netral atau golput terserah mereka lah, yang jelas saya akan memilih kandidat dengan hitungan mudharatnya lebih kecil. Misalnya Jokowi dengan Basyar Assad, berarti saya pilih Jokowi. Jokowi dengan Xi Jinping, masih Jokowi dong. Jokowi vs Netanyahu, saya jagokan Jokowi. Jokowi atau SBY, jelas SBY lah. SBY dengan Prabowo, tetap SBY. Jokowi atau Prabowo, kita cukup pilih Sandiaga Uno.

Sebagai bagian dari netizen atau warganet istilah lokalannya, saya ingin tahu siapa sosok-sosok yang berkaitan dengan meme Nurhadi-Aldo.

Mencari akun pak Nurhadi di jagad FB pasti sulitnya bukan main. Di kolom pencarian saja ketemu ratusan. Fotonya sama semua. Sudah pasti 100% akun bodong.

Eh ternyata secara tak sengaja ada teman yang membagikan sebuah screenshoot akun bernama “Nur Ha Di” di FB. Iseng cari, ketemu, pengikutnya 30 ribuan dan bukan akun baru.

Ini linknya:
https://www.facebook.com/pijat.alanurhadi

Awalnya saya masih belum yakin itu akun asli pak Nurhadi, petunjuknya adalah tukang pijat asal Kudus. Benar saja, di tahun 2012 beliau memposting lokasi di Kudus dan tengah memijat. Makin yakin saya itu adalah akun beliau. Postingannya bukan editan dari postingan yang sudah ada diganti isinya, seolah sudah lama posting biar kelihatan asli.

Diperkuat lagi liputan media mainstream bahwa pak Nurhadi pernah membuat gerakan “Komunitas angka 10” beberapa tahun lalu. Di akun itu diposting sejak tahun 2015. Kalau palsu tidak mungkin lah sudah dipersiapkan seperti itu.

Ketemu akunnya, tinggal lihat pak Nur Ha Di ini pilihan politiknya kemana. Apakah beliau akan memilih dirinya sendiri sebagai Capres Fiktif? Atau bergaya netral kayak admin Nurhadi-Aldo?

Oh tidak saudara, ternyata akun Nur Ha Di adalah pendukung Jokowi.

Memang mungkin saja yang posting itu orang lain, tapi untuk membuktikannya sulit. Jadi kesimpulan yang bisa ditarik adalah pak Nur Ha Di ini ada di kolam Projo.

Tak masalah bagi saya, itu hak beliau. Yang penting netizen harus tahu bahwa sosok fiktif idolanya ternyata tak netral. Nur Ha Di pro Jokowi, ente mau juga kah?

Lalu siapa sosok yang menggerakkan Capres fiktif berslogan jorok dengan mengambil image seorang tukang pijat dari Kudus itu.

Petunjukkan ada di wawancara media lagi, pak Nurhadi menyebut nama Edwin, seorang pemuda asal Yogyakarta. Pak tukang pijat ini dihubungi via messenger Desember lalu. Izin memakai foto dan namanya. Nurhadi juga tak tahu siapa Aldo yang dipasangkan oleh Edwin dengannya.

Gampang kalau mau mencari siapa mas Edwin, tinggal masuk ke pertemanan akun Nur Ha Di tadi. Ketik nama Edwin, dan ketemulah akun ini:

https://www.facebook.com/soekarno.menangis.1

Benarkah ini sosok mas Edwin yang membuat “guyon jorok” Capres fiktif sebelum pemilu?

Kemungkinan besar sih iya, di foto profil beliau ada percakapan dengan temannya tentang topik Nurhadi-Aldo. Sayangnya sulit mencari kemana preferensi politik mas Edwin ini karena keterbatasan postingan yang ia share pada publik.

Bagi para orang tua yang tidak setuju atau kesal dengan singkatan jorok yang dilihat anak kecil, silahkan mas Edwinnya dicari di Yogyakarta dan “dijewer” biar agak sopan dikit. Tapi jangan main persekusi ya.

Sebagai penutup, kita kembali ke Pilpres 2019, menurut ketum MUI Kyai Ma’ruf Amin sebelum jadi Cawapres, jangan pilih lagi calon yang ingkar janji ya…

Oleh Pega Aji Sitama
https://blog.masawep.com/2019/01/serial-negeriku/nurhadi-aldo-tukang-pijat-projo-capres-fiktif-dan-bahasa-jorok/

Post has attachment
Nurhadi-Aldo: Tukang Pijat Projo, Capres Fiktif, dan Bahasa Jorok

Beberapa minggu belakangan di beranda FB sering nongol meme politik parodi, yang menurut saya tidak lucu. Isinya tentang Capres fiktif Nurhadi-Aldo, menyindir panasnya kontestasi pilpres 2019.

Singkatan-singkatan menghasilkan kata jorok digunakan, yang tentunya tidak pantas buat anak-anak pengguna medsos. Dibaca orang dewasa pun tak layak.

Sayang hal jorok itu malah menjadi daya tarik. Pengikut akun FB, Twitter dan Instagram Nurhadi-Aldo membludak. Netizen secara random menjadi penyimak, termasuk akun bocah-bocah yang masih balita saat Mark Zuckenberg sudah kuliah.

Sebagai gerakan politik medsos, admin paslon fiktif ini memainkan posisi netral diantara konflik Cebong dan anti Cebong. Katanya ingin meredakan ketegangan karena pilpres. Komentator pun banyak berbau golput, atau mungkin orang-orang yang sudah putus asa dengan arah politik Indonesia, dimana calonnya dia-dia lagi dua lagi.

Soal mau netral atau golput terserah mereka lah, yang jelas saya akan memilih kandidat dengan hitungan mudharatnya lebih kecil. Misalnya Jokowi dengan Basyar Assad, berarti saya pilih Jokowi. Jokowi dengan Xi Jinping, masih Jokowi dong. Jokowi vs Netanyahu, saya jagokan Jokowi. Jokowi atau SBY, jelas SBY lah. SBY dengan Prabowo, tetap SBY. Jokowi atau Prabowo, kita cukup pilih Sandiaga Uno.

Sebagai bagian dari netizen atau warganet istilah lokalannya, saya ingin tahu siapa sosok-sosok yang berkaitan dengan meme Nurhadi-Aldo.

Mencari akun pak Nurhadi di jagad FB pasti sulitnya bukan main. Di kolom pencarian saja ketemu ratusan. Fotonya sama semua. Sudah pasti 100% akun bodong.

Eh ternyata secara tak sengaja ada teman yang membagikan sebuah screenshoot akun bernama “Nur Ha Di” di FB. Iseng cari, ketemu, pengikutnya 30 ribuan dan bukan akun baru.

Ini linknya:
https://www.facebook.com/pijat.alanurhadi

Awalnya saya masih belum yakin itu akun asli pak Nurhadi, petunjuknya adalah tukang pijat asal Kudus. Benar saja, di tahun 2012 beliau memposting lokasi di Kudus dan tengah memijat. Makin yakin saya itu adalah akun beliau. Postingannya bukan editan dari postingan yang sudah ada diganti isinya, seolah sudah lama posting biar kelihatan asli.

Diperkuat lagi liputan media mainstream bahwa pak Nurhadi pernah membuat gerakan “Komunitas angka 10” beberapa tahun lalu. Di akun itu diposting sejak tahun 2015. Kalau palsu tidak mungkin lah sudah dipersiapkan seperti itu.

Ketemu akunnya, tinggal lihat pak Nur Ha Di ini pilihan politiknya kemana. Apakah beliau akan memilih dirinya sendiri sebagai Capres Fiktif? Atau bergaya netral kayak admin Nurhadi-Aldo?

Oh tidak saudara, ternyata akun Nur Ha Di adalah pendukung Jokowi.

Memang mungkin saja yang posting itu orang lain, tapi untuk membuktikannya sulit. Jadi kesimpulan yang bisa ditarik adalah pak Nur Ha Di ini ada di kolam Projo.

Tak masalah bagi saya, itu hak beliau. Yang penting netizen harus tahu bahwa sosok fiktif idolanya ternyata tak netral. Nur Ha Di pro Jokowi, ente mau juga kah?

Lalu siapa sosok yang menggerakkan Capres fiktif berslogan jorok dengan mengambil image seorang tukang pijat dari Kudus itu.

Petunjukkan ada di wawancara media lagi, pak Nurhadi menyebut nama Edwin, seorang pemuda asal Yogyakarta. Pak tukang pijat ini dihubungi via messenger Desember lalu. Izin memakai foto dan namanya. Nurhadi juga tak tahu siapa Aldo yang dipasangkan oleh Edwin dengannya.

Gampang kalau mau mencari siapa mas Edwin, tinggal masuk ke pertemanan akun Nur Ha Di tadi. Ketik nama Edwin, dan ketemulah akun ini:

https://www.facebook.com/soekarno.menangis.1

Benarkah ini sosok mas Edwin yang membuat “guyon jorok” Capres fiktif sebelum pemilu?

Kemungkinan besar sih iya, di foto profil beliau ada percakapan dengan temannya tentang topik Nurhadi-Aldo. Sayangnya sulit mencari kemana preferensi politik mas Edwin ini karena keterbatasan postingan yang ia share pada publik.

Bagi para orang tua yang tidak setuju atau kesal dengan singkatan jorok yang dilihat anak kecil, silahkan mas Edwinnya dicari di Yogyakarta dan “dijewer” biar agak sopan dikit. Tapi jangan main persekusi ya.

Sebagai penutup, kita kembali ke Pilpres 2019, menurut ketum MUI Kyai Ma’ruf Amin sebelum jadi Cawapres, jangan pilih lagi calon yang ingkar janji ya…

Oleh Pega Aji Sitama
https://blog.masawep.com/2019/01/serial-negeriku/nurhadi-aldo-tukang-pijat-projo-capres-fiktif-dan-bahasa-jorok/

Post has attachment
Nurhadi-Aldo: Tukang Pijat Projo, Capres Fiktif, dan Bahasa Jorok

Beberapa minggu belakangan di beranda FB sering nongol meme politik parodi, yang menurut saya tidak lucu. Isinya tentang Capres fiktif Nurhadi-Aldo, menyindir panasnya kontestasi pilpres 2019.

Singkatan-singkatan menghasilkan kata jorok digunakan, yang tentunya tidak pantas buat anak-anak pengguna medsos. Dibaca orang dewasa pun tak layak.

Sayang hal jorok itu malah menjadi daya tarik. Pengikut akun FB, Twitter dan Instagram Nurhadi-Aldo membludak. Netizen secara random menjadi penyimak, termasuk akun bocah-bocah yang masih balita saat Mark Zuckenberg sudah kuliah.

Sebagai gerakan politik medsos, admin paslon fiktif ini memainkan posisi netral diantara konflik Cebong dan anti Cebong. Katanya ingin meredakan ketegangan karena pilpres. Komentator pun banyak berbau golput, atau mungkin orang-orang yang sudah putus asa dengan arah politik Indonesia, dimana calonnya dia-dia lagi dua lagi.

Soal mau netral atau golput terserah mereka lah, yang jelas saya akan memilih kandidat dengan hitungan mudharatnya lebih kecil. Misalnya Jokowi dengan Basyar Assad, berarti saya pilih Jokowi. Jokowi dengan Xi Jinping, masih Jokowi dong. Jokowi vs Netanyahu, saya jagokan Jokowi. Jokowi atau SBY, jelas SBY lah. SBY dengan Prabowo, tetap SBY. Jokowi atau Prabowo, kita cukup pilih Sandiaga Uno.

Sebagai bagian dari netizen atau warganet istilah lokalannya, saya ingin tahu siapa sosok-sosok yang berkaitan dengan meme Nurhadi-Aldo.

Mencari akun pak Nurhadi di jagad FB pasti sulitnya bukan main. Di kolom pencarian saja ketemu ratusan. Fotonya sama semua. Sudah pasti 100% akun bodong.

Eh ternyata secara tak sengaja ada teman yang membagikan sebuah screenshoot akun bernama “Nur Ha Di” di FB. Iseng cari, ketemu, pengikutnya 30 ribuan dan bukan akun baru.

Ini linknya:
https://www.facebook.com/pijat.alanurhadi

Awalnya saya masih belum yakin itu akun asli pak Nurhadi, petunjuknya adalah tukang pijat asal Kudus. Benar saja, di tahun 2012 beliau memposting lokasi di Kudus dan tengah memijat. Makin yakin saya itu adalah akun beliau. Postingannya bukan editan dari postingan yang sudah ada diganti isinya, seolah sudah lama posting biar kelihatan asli.

Diperkuat lagi liputan media mainstream bahwa pak Nurhadi pernah membuat gerakan “Komunitas angka 10” beberapa tahun lalu. Di akun itu diposting sejak tahun 2015. Kalau palsu tidak mungkin lah sudah dipersiapkan seperti itu.

Ketemu akunnya, tinggal lihat pak Nur Ha Di ini pilihan politiknya kemana. Apakah beliau akan memilih dirinya sendiri sebagai Capres Fiktif? Atau bergaya netral kayak admin Nurhadi-Aldo?

Oh tidak saudara, ternyata akun Nur Ha Di adalah pendukung Jokowi.

Memang mungkin saja yang posting itu orang lain, tapi untuk membuktikannya sulit. Jadi kesimpulan yang bisa ditarik adalah pak Nur Ha Di ini ada di kolam Projo.

Tak masalah bagi saya, itu hak beliau. Yang penting netizen harus tahu bahwa sosok fiktif idolanya ternyata tak netral. Nur Ha Di pro Jokowi, ente mau juga kah?

Lalu siapa sosok yang menggerakkan Capres fiktif berslogan jorok dengan mengambil image seorang tukang pijat dari Kudus itu.

Petunjukkan ada di wawancara media lagi, pak Nurhadi menyebut nama Edwin, seorang pemuda asal Yogyakarta. Pak tukang pijat ini dihubungi via messenger Desember lalu. Izin memakai foto dan namanya. Nurhadi juga tak tahu siapa Aldo yang dipasangkan oleh Edwin dengannya.

Gampang kalau mau mencari siapa mas Edwin, tinggal masuk ke pertemanan akun Nur Ha Di tadi. Ketik nama Edwin, dan ketemulah akun ini:

https://www.facebook.com/soekarno.menangis.1

Benarkah ini sosok mas Edwin yang membuat “guyon jorok” Capres fiktif sebelum pemilu?

Kemungkinan besar sih iya, di foto profil beliau ada percakapan dengan temannya tentang topik Nurhadi-Aldo. Sayangnya sulit mencari kemana preferensi politik mas Edwin ini karena keterbatasan postingan yang ia share pada publik.

Bagi para orang tua yang tidak setuju atau kesal dengan singkatan jorok yang dilihat anak kecil, silahkan mas Edwinnya dicari di Yogyakarta dan “dijewer” biar agak sopan dikit. Tapi jangan main persekusi ya.

Sebagai penutup, kita kembali ke Pilpres 2019, menurut ketum MUI Kyai Ma’ruf Amin sebelum jadi Cawapres, jangan pilih lagi calon yang ingkar janji ya…

Oleh Pega Aji Sitama
https://blog.masawep.com/2019/01/serial-negeriku/nurhadi-aldo-tukang-pijat-projo-capres-fiktif-dan-bahasa-jorok/
Add a comment...

Post has attachment
Enak dikunyah2 tulisan ini. Renyah dan agak pedas2 asem gitu.
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded