Profile cover photo
Profile photo
Ryan Setyono
About
Ryan's posts

rtai politik pun turut berkonstribusi di dalam pemikiran politik. Tepatnya terdapat empat partai yang mendominasi pada masa itu. Empat partai tersebut adalah PKI, PNI, NU, dan Masyumi. Akan tetapi, keempat partai tersebut saling bersaing sesuai dengan ideologinya masing-masing. Persaingan tersebut masih berkaitan dengan pembagian pemikiran politik di Indonesia menjadi lima aliran oleh Feith dan Catles(1998) yang dipengaruhi oleh ketegangan antara dua sisi,yaitu nilai tradisional Indonesia dan pengaruh dari Barat.
 Aliran yangpertama adalah nasionalisme radikal, yakni aliran yang direpresentasikan oleh PNI. Aliran ini percaya bahwa nasionalisme merupakan faktor persatuan yang dapat mempersatukan rakyat (Feith dan Catles, 1998: lviii). Yang kedua adalah komunisme. Sesuai dengan singkatannya, Partai Komunis Indonesia, partai ini merepresentasikan aliran komunisme. Digadang-gadang, golongan komunis lebih drastis dibandingkan dengan partai besar lainnya dalam memutuskan ikatan dengan masa lampau dan mengambil konsep-konsep pemikiran dari (Feith dan Catles, 1998: lvi). Aliran yang ketiga adalah Islam. Aliran ini direpresentasikan oleh dua partai, yaitu NU dan Masyumi. Meskipun memiliki aliran yang sama, gaya hidup pemimpin dari kedua partai ini saling berbeda dan kegiatan politik keduanya pun menunjukkan permusuhan yang cukup tajam (Feith dan Catles, 1998: lv). Dan, dua aliran yang tersisa, yaitu (1) tradisionalisme Jawa dan (2) sosialisme demokrasi, merupakan aliran pemikiran yang tidak secara jelas memasukkan diri dalam salah satu dari keempat partai yang telah disebutkan sebelumnya. Meskipun begitu, kedua aliran ini tetap memberikan pengaruh sekaradanya di dalam partai-partai tersebut (Feith dan Catles, 1998: lv).
 Berbeda dengan pemikiran Feith dan Catles, menurut Ir. Soekarno (1964)  terdapat tiga rumpun ideologi utama yang menaungi seluruh organisasi politik di Indonesia. Hal ini sesuai dengan hasil tulisannya sendiri pada tahun 1926, yakni Nasionalisme, Islam, dan Marxisme. Nasionalisme di sini berbeda dengan nasionalisme yang sebelumnya. Nasionalisme yang dikemukakan oleh Feith sebelumnya lebih bersifat radikal, yaitu yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998) amat keras dalam menuntut perubahan. Bagi Soekarno (1964), Nasionalis yang sejati adalah nasionalis yang bukan chauvinis dan bukan semata-mata suatu hasil tiruan dari nasionalisme Barat. Dari ketiga idelogi ini, muncul berbagai partai sebagai cerminan dari idelogi-idelogi tersebut pada tahun 1950-1955. Marxisme dicerminkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan Partai Murba. Nasionalisme dicerminkan oleh Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia Raya (PIR), dan partai-partai kecil lainnya. Namun, pembagian ideologi ini tidak luput dari sebuah kendala. Sifat dari masing-masing ideologi ini terlalu heterogen, sehingga antara ideologi yang satu dengan yang lainnya terdapat suatu kontras yang cukup mecolok (Feith, 1988: liv).
 Pada masa Demokrasi terpimpin, Soekarno mendapati bahwa pemerintahannya kurang dapat berjalan harmonis dengan militer kala itu. Namun Soekarno beranggapan bahwa melegalkan partai-partai yang berbasis aliran tertentu dapat membantunya untuk setidaknya menyeimbangkan kekuatannya dengan militer melalui parlemen dan MPRS yang dapat memudahkan dalam mempatenkan segala aturan dan kebijakan yang dibuatnya. MasaDemokrasi terpimpin kemudian ramai akan pluralitas dalam aliran yang diusung oleh masing-masing partaipolitik.  Selanjutnya muncul Nasakom sebagai wujud nyata dari keberagaman tersebut yang mana pada prinsipnya menggabungkan nasionalisme, agama, dan komunisme dalam satu wadah. Akan tetapi paham Nasakom ini menuai kritik dari sejumlahkalangan yang akhirnya memunculkan dua partai terlarang yaitu Masyumi dan PartaiSosialis Indonesia, dengan mengusung aliran tradisionalisme jawa dan sosialisme demokratis (Hindley, 1970:31).
 Meninjau masa Revolusi Bersenjata (1945-1949), secara umum pemikiran politik saat itu diwarnai oleh pencarian atas landasan utamadari pergolakan nasional yang kemudian menghasilkanPancasila (Alfian, 1971:194). Pancasila yang merupakan ideologi yang diusung bangsa pada masa kini dalam silanya mengandung unsure pengaruh dari tigai deologi yang disebutkanoleh Soekarno, yaitu Nasionalisme, Islam,  dan Marxisme
 Terdapat banyak tipe ideologi yang berkembang di dunia ini dan variasi pengaplikasiannya berbeda-beda. Indonesia tidak dapat serta merta meilih salah satu idelogi dan menggunakannya dalam kehidupan bernegara karena identitas nasional dan karakteristik negara ini berbeda dengan negara manapun, apalagi jika harus menggunakan ideologi yang hampir seluruhnya lahir dari pemikiran Barat. Karena itu, ideologi yang menjadi dasar pandangan hidup bangsa Indonesia adalah ideologi Pancasila. Ideologi yang berdasarkan pada dasar negara Indonesia yaitu Pancasila telah mencakup ideologi-ideologi yang relevan dengan karakter bangsa Indonesia. Dalam sisi islamisme, telah dicakup sila pertama “ketuhanan yang Maha Esa”. Menggunakan ideologi yang telah diusahakan Ir. Soekarno yaitu Nasakom, nasionalis telah terpeta dalam sila ke tiga “persatuan Indonesia” sementara sisi Marxisme dan Komunisme yang menekankan kesetaraan telah terangkum dalam sila ke lima “keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” kendati tidak se radikal keinginan pihak-pihak pada masa G30S/PKI. Dalam bukunya, “Mendayung Diantara Dua Karang” Moh. Hatta menjelaskan tentang bagaimana ideologi Pancasila berusaha berada ditengah ideologi-ideologi yang saling beradu sehingga tidak terlalu condong ke ekstrem kanan ataupun kiri. Ideologi Pancasila mengaplikasikan berbagai ideologi yang ada dengan bumbu Pancasila sehingga relevan digunakan dengan karakter bangsa Indonesia.
 Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setelah perjuangan kemerdekaan Indonesia, pergolakan internal tidak terpuaskan dengan tercapainya kemerdekaan Indonesia. Seperti layaknya negara yang baru saja berdiri, Indonesia meraba-raba jati dirinya. Tahap penyesuaian ini juga termasuk pada arus-arus ideologi yang masuk di Indonesia. Arus ideologi yang seakan menyerang Indonesia, awalnya muncul karena perkembangan pemikiran politik modern. Menurut Feith dan Catles (1988), terdapat lima aliran ideologi yang berpengaruh di Indonesia yaitu, Nasionalisme Radikal, Komunisme, Islam, Tradisionalisme Jawa dan Sosialis Demokrasi. Aliran-aliran ini mencerminkan partai-partai politik yang terbentuk di Indonesia. Nasionalisme radikal menghasilkan PNI, Komunisme sesuai dengan namanya menghasilkan partai Komunis Indonesia, Islam menghasilkan dua partai yang bertentangan yaitu NU dan Masyumi. Sedangkan Tradisionalisme Jawa dan Sosialis Demokrasi tidak secara jelas mendefinisikan dirinya dalam suatu partai, hanya terkandung dalam salah satu partai yang telah ada. Aliran – aliran partai yang disebutkan oleh Presiden Ir. Soekarno (1926) berbeda dengan Feith dan Catles, yakni Nasionalisme, Islam, dan Marxisme. Ir. Soekarno menitik-beratkan Nasionalisme tapi bukan, Nasionalisme gaya barat. Nasionalisme yang dimaksudkan adalah Nasionalisme yang berakar pada persatuan akan persamaan nasib penjajah. Ideologi-ideologi yang ada dikombinasikan dalam suatu ideologi yang sesuai dengan karakter kebangsaan Indonesia dengan berdasar pada Pancasila sebagai dasar negara. Sila-sila yang terkadung dalam Pancasila telah mencakup ideologi-ideologi seperti Marxisme, Nasionalisme dan keagamaan.
 Menurut penulis, sebagai dasar negara yang fleksibel oleh perkembangan zaman, Pancasila relevan digunakan sampai kapanpun. Dengan Pancasila, negara Indonesia tidak mengkotak-kotakkan rakyatnya dalam golongan ideologi tertentu melainkan satu dalam ideologi Pancasila. Pancasila digunakan sebagai dasar dan peta yang menuntun arah bangsa Indonesia ditengah era atau ideologi apapun sehingga tidak “terpeleset” dari karakter dasar bangsa ini.

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment

Post has attachment
Wait while more posts are being loaded