Profile cover photo
Profile photo
Made Bungloen
2 followers -
Saya suka menulis sambil ngopi. Yang saya tulis disini adalah opini pribadi
Saya suka menulis sambil ngopi. Yang saya tulis disini adalah opini pribadi

2 followers
About
Made's posts

Post has attachment
Aneh rasanya melihat ramainya postingan orang yang mendorong Ahok untuk menjadi calon Gubernur Bali pada Pilkada tahun 2018. Tambah ramai dengan narasi yang dibentuk oleh media nggak jelas kalau Ahok ditolak di Bali dan warga Bali seolah – olah anti Bhineka atau Intoleran karena menolak Ahok untuk jadi calon Gubernur Bali. Framing yang sungguh kampred bin ajaib.

Selidik punya selidik, muaranya ternyata ada di Jonru si tukang pelintir. Saya jadi mulai paham narasi ini mau dibawa kemana oleh Jonru dan cyber kampred-nya.

Belakangan ini, beberapa facebook grup Bali mendapatkan banyak sekali postingan bernada yang sama yang dilakukan oleh akun abal – abal. Postingan tersebut seolah – olah menyodorkan Ahok untuk calon Gubernur Bali. Jelas saja timses beberapa Cagub yang sudah lebih dulu menggadang calonnya masing – masing menyatakan penolakan. Dan ini tidak mewakili masyarakat Bali pada umumnya, karena hanya segelintir orang yang tergabung dalam grup facebook tersebut.

Beberapa grup facebook yang memiliki nama Bali memang sering menjadi ajang para pengusung Cagub untuk mencari dukungan di kalangan pengguna. Bahkan sering juga menjadi ajang untuk provokasi terhadap pengusung Cagub lain. Di Bali sendiri semenjak tahun 2016 sudah memunculkan beberapa nama yang akan diusung menjadi Cagub pada Pilkada 2018 nanti, diantarnya Koster, Sudikerta, Rai Mantra dan lain lain. Terang saja para pendukung Cagub tersebut menyatakan penolakan dengan berbagai alasan. Komentar penolakan inilah yang dijadikan narasi oleh si Jonru dan cyber kampred-nya untuk membentuk opini seolah – olah warga Bali menolak.

Tapi apakah penolakan dari akun facebook di grup tersebut bisa dinyatakan sebagai penolakan warga Bali? bukan Jonru namanya kalau bukan memprovokasi dengan salah logikanya. Apalagi kalau sudah mengerahkan cyber kampred-nya. Tujuannya tiada lain dan tiada bukan, seperti sebelum – sebelumnya, Jonru hanyalah seorang provokator, yang bertujuan memprovokasi, tidak lebih.

Bali tidak pernah mempermasalahkan apapun yang kalian masalahkan di Jakarta, apalagi sampai membawa agama untuk tunggangan politik. Belum pernah dalam sejarahnya di Bali ada politik yang menggunakan agama sebagai bahan kampanye. Kecuali memang dibawa oleh orang – orang yang sejenis sama kalian, dan itupun sudah mengalami penolakan semenjak kemunculannya di Bali.

Kalaupun nanti partai politik mengusung Cagub sipapun yang disodorkan untuk Bali, saya rasa Jonru dan cyber kampred-nya tidak perlu khawatir, kami warga Bali akan berpolitik dengan sehat, saya rasa kalian harus mengamati itu untuk menjadi contoh betapa kewarasan masih ada di Indonesia, terutama di Bali.

Kami warga Bali masih lebih beradab dan memiliki akal sehat daripada kalian yang hanya ahhh… sudahlah… Kami telah terbiasa hidup berdampingan dengan semua jenis manusia di Bali, kami telah terbiasa dengan segala perbedaan yang ada di Bali, jadi provokasi yang kalian bawa sepertinya harus kalian bawa ke tempat lain.

Terakhir, Jonru dan cyber kampred-nya memang bertugas sebagai provokator yang hanya akan menyebarkan provokasi, tidak akan jauh – jauh dari hanya sekedar provokasi. Kenapa kemudian Bali yang mejadi sasaran provokasi, kita bahas nanti.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Post has attachment
Tidak bisa kita pungkiri kalau masing – masing dari agama memiliki sikap konservatif yang dianut oleh penganutnya. Konservatif sendiri memiliki pengertian sikap mempertahankan tradisi yang sudah ada dan enggan atau cenderung menolak untuk menerima perubahan yang baru. Penganut sikap konservatif ini lebih banyak menentang adanya modernitas. Sikap konservatif banyak mengacu pada tradisi masa lalu. Para penganut sikap konservatif lebih banyak muncul karena kekhawatiran akan rusaknya tradisi dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu jika terjadi perubahan.

Saya memahami konservatif sebagai sikap yang berkenaan dengan tradisi dan budaya, tapi belakangan banyak yang menganggap sikap konservatif ini mengacu pada agama. Menurut saya terjadi sebuah kekeliruan pemahaman antara agama dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat saat ini.

Setiap agama memiliki tempat kelahiran, atau daerah asal dimana agama itu diturunkan. Dan setiap daerah asal agama tersebut memiliki sebuah tradisi yang lebih dulu ada. Para penganut awal dari tiap – tiap agama pastinya akan tetap dalam kesehariannya dan hidup dengan tradisi yang mereka miliki, hanya saja, mereka menyempurnakan tradisi dengan agama yang diturunkan di daerah tersebut.

Agama yang diturunkan di daerah Arab, akan mengadopsi tradisi arab sebagai patokan prilaku untuk mengungkap nilai – nilai yang terkandung dalam agama tersebut, begitu juga agama yang terlahir di India, akan mengadopsi tradisi india, dan begitu juga agama yang lain. Secara otomatis, bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan nilai – nilai agama-pun akan menggunakan bahasa setempat dimana agama tersebut dilahirkan. Kalau saat itu sudah ada bahasa internasional seperti bahasa Inggris, bukannya tidak mungkin bahasa yang digunakan oleh tiap – tiap agama adalah bahasa inggris.

Agama dan tradisi bukanlah hal yang sama, mereka adalah dua hal yang berbeda. Agama bersifat universal, lintas tradisi, lintas budaya, tidak terbatas pada satu kelompok tertentu, sedangkan tradisi, berlakunya pada kelompok tertentu. Kekeliruan pemahaman ini yang menyebabkan banyak kalangan masyarakat kita yang justru terjebak dalam sikap konservatif yang berusaha untuk mengembalikan nilai – nilai tradisi ke masa lalu, bahkan ada pula yang mencoba mengganti tradisi setempat dengan tradisi yang dibawa dari tempat asal agama tersebut dilahirkan.

Banyak juga yang saya lihat mencoba mengembalikan nilai – nilai tradisi ke masa lalu karena pengaruh cerita – cerita kejayaan di masa lalu. Mereka berpikir dengan mengembalikan nilai tradisi ke masa lalu maka secara otomatis kejayaan masa lalu akan diraih. Pemahaman ini sangat keliru mengingat kompleksitas masalah di masa lalu dengan masa sekarang sudah sangat berbeda. Kompleksitas cara berpikir masyarakat jaman sekarang tidak sesederhana masa lalu, oleh karena itu diperlukan solusi atas permasalah yang tidak sederhana pula.

Sikap konservatif apalagi dibarengi dengan sikap fanatik dalam beragama hanya akan menimbulkan pertentangan di masyarakat. Semua agama memiliki nilai etika dan semua tradisi juga memiliki nilai etika. Hanya saja bahasa yang digunakan untuk menyampaikannya berbeda, tergantung dimana agama dan tradisi itu berkembang. Etika inilah yang bisa menghubungkan kehidupan antar penganut agama yang ada di Indonesia. Agama tanpa etika sama seperti menghilangkan sisi kemanusiaan dari penganut agama tersebut, begitu juga tradisi tanpa etika. Bisa kita bayangkan, tanpa etika, apa jadinya kehidupan masyarakat kita.

Tanpa satu benang merah penghubung antar manusia dalam kehidupan lintas agama dan lintas tradisi di dunia ini, saya rasa sangat sulit untuk kita bisa hidup berdampingan dengan manusia lainnya yang berbeda agama dan berbeda tradisi. Dunia hanya akan semakin sempit, karena ketika kita dipertemukan dengan agama atau tradisi yang berbeda, yang muncul dibenak kita hanyalah pertentangan, kita akan selalu berbicara benar dan salah tanpa pemahaman nilai – nilai dasar dari agama dan tradisi yang kita anut.

Berpegang teguh pada nilai – nilai tradisi dimana kita tinggal adalah sebuah keharusan, tapi kita tidak boleh lupa dengan etika dan sisi kemanusiaan dari agama dan tradisi tersebut. Sebuah agama tanpa etika bukanlah agama, begitu juga dengan tradisi tanpa etika bukanlah sebuah tradisi. Sesungguhnya tujuan adanya agama adalah menyempurnakan tradisi yang memanusiakan manusia.

Ahh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Post has attachment
Saya sering bertanya, siapa sih yang menentukan kalau kodrat perempuan itu hanya sebagai ibu rumah tangga dan bekerja di rumah mengurus keluarga? Apakah agama? Apakah budaya? Atau apakah insting alamiah dari setiap perempuan?.

Menurut saya, terjadi salah persepsi mengenai makna kodrat yang berhubungan dengan perempuan. Kodrat adalah sifat alamiah bawaan sejak lahir yang tidak mungkin dirubah. Lalu apa yang tidak bisa dirubah dari perempuan? Menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Itu saja kodrat sejatinya perempuan, tidak kurang, tidak lebih.

Banyak dari kita yang menyalah artikan antara kodrat dengan peran. Analogi berpikirnya seperti ini. Jika seorang perempuan dianalogikan pintar memasak, tapi kenapa chef terkenal justru di dominasi oleh laki – laki?. Jika perempuan dianalogikan lemah lembut dan cantik, tapi kenapa ada binaragawan perempuan, ada juga atlet MMA perempuan?. Jika perempuan dikatakan tidak bisa memimpin, tapi kenapa justru banyak perempuan yang sekarang memimpin perusahaan, bahkan counselor Jerman sendiri adalah seorang perempuan.

Peran bukanlah kodrat, peran pada awalnya hanyalah sebuah standar pembagian kerja menurut jenis kelamin, tanpa mengesampingkan atas hak masing – masing individu untuk diperlakukan sama dalam lingkungan sosialnya. Laki – laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk bersuara dan mengambil keputusan. Tapi seiring perkembangannya, peran justru melebar menuju pada dominasi satu jenis individu berdasarkan kelamin yang kemudian melahirkan budaya patriarki sekarang ini.

Dominasi laki – laki dalam budaya patriarki inilah yang melahirkan stigma perempuan menjadi masyarakat kelas dua, yang lebih kita kenal sebagai diskriminasi terhadap perempuan. Padahal kalau kita lihat lebih jauh, perempuan dan laki – laki tidaklah beda dalam hal peran. Apa yang bisa dilakukan oleh laki – laki, bisa juga dilakukan oleh perempuan, begitu juga sebaliknya. Justru menurut saya, perempuan yang bisa setara dengan laki – laki adalah perempuan yang hebat, karena perempuan dibatasi oleh kodrat yang tidak bisa mereka rubah sama sekali, sedangkan laki – laki tidak memiliki batasan kodrat apapun.

Budaya patriarki membentuk perempuan untuk tidak memiliki kemandirian hidup dan selalu bergantung terhadap laki – laki. Hal ini terjadi secara turun temurun karena didukung tidak adanya kemampuan atau daya saing seorang perempuan untuk bisa menunjukkan eksistensi diri karena terbatasnya akses yang mereka miliki. Banyak perempuan justru hanya menerima keadaan ini. Tidak banyak dari perempuan yang mencoba mendobrak batasan ini. Dengung emansipasi justru hanya menjadi jargon semata, tanpa adanya tindakan nyata dari kaum perempuan.

Mungkin saya terlalu menggeneralisir, tapi dalam pengamatan saya, maraknya budaya cabe – cabean, prostitusi ABG, pernikahan dibawah umur, adalah bentuk ketidakperdulian perempuan atas perjuangan mereka terhadap emansipasi. Jika perempuan mau mendobrak dominasi laki – laki oleh budaya patriarki, jalan satu – satunya adalah perempuan harus bisa mandiri dan menunjukkan eksistensinya. Tanpa itu, perempuan akan selalu bergantung kepada laki – laki. Dan bait lagu “wanita dijajah pria sejak dulu” akan terus berlaku dalam lingkungan masyarakat kita.

Selamat Hari Kartini.

Ahh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Post has attachment
Saya sempat berharap kalau perjalanan panjang menghapus politik indentitas akan berakhir dalam kontestasi Pilgub Jakarta kemarin. Ternyata harapan itu masih belum bisa terwujud, karena seperti yang kita ketahui, politik Identitas masih memegang peranan penting. Kesamaan kesempatan untuk semua orang untuk bisa menjabat dimana saja tanpa memandang Identitasnya harus kembali diperjuangkan dalam waktu yang agak lama. Mungkin dalam beberapa generasi kedepan.

Saya pesimis kartu identitas dan primordialisme tidak akan dimainkan pada Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 nanti. Saya malah cukup meyakini kalau politik identitas akan semakin marak di semua daerah di Indonesia. Jakarta adalah kiblat, kondisi yang ada di Jakarta akan sedikit banyak ditiru oleh daerah. Kalau itu berhasil di Jakarta, paling tidak akan berhasil di daerah. Itulah kenapa harapan atas Pilgub Jakarta kemarin sangat besar untuk membawa bangsa kita menuju bangsa yang lebih baik dengan mengesampingkan Identitas dan lebih mementingkan prestasi.

Saya pernah membayangkan Indonesia memberikan kesempatan yang sama untuk semua penduduknya untuk mengabdikan dirinya di setiap daerah yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan identitas yang melekat pada dirinya. Saya sempat membayangkan Indonesia bisa memberi kesempatan setiap warga negaranya untuk berjuang di setiap jengkal wilayah Indonesia tanpa mempersoalkan masalah mayoritas dan minoritas yang memenuhi wilayah tersebut. Bahkan saya sempat membayangkan untuk tidak pernah lagi terdengar kata mayoritas dan minoritas dalam hal identitas dalam setiap wilayah Indonesia.

Di mata saya, Pilgub Jakarta seperti sebuah ujian kenaikan kelas. Kita digiring untuk melihat harapan baru bagi banyak masyarakat kita yang memiliki kemampuan dan prestasi tapi masih belum bisa melepaskan belenggu identitas yang dimilikinya. Ahok mencoba mendobrak itu semua dan membuat banyak dari kita memiliki harapan baru. Tapi memang, harapan itu masih belum bisa kita realisasikan dalam waktu dekat ini.

Ada banyak pembicaraan di warung kopi yang meragukan Ahok sejak awal. Rata – rata mereka semua berpendapat, Ahok tidak akan bisa berbuat banyak untuk mendobrak politik identitas yang sudah melekat selama ini, bahkan mereka meragukan Ahok bisa menduduki jabatan gubernur kalau bukan limpahan dari Jokowi. Ahok hanya akan bisa maju dengan prestasi dan kemampuannya kalau dia bergabung menjadi mayoritas yang ada di Jakarta, atau istilah lainnya, Ahok harus pindah agama jika ingin menjabat di Jakarta.

Jakarta, secara sejarahnya adalah basis Islam Politik, artinya disana berkumpulnya umat Islam yang tidak memisahkan antara agama dan politik. Jakarta masih belum sepenuhnya bisa menerima sekularisme atau pemisahan antara agama dan masalah politik atau kenegaraan. Meskipun terlihat majemuk, cara pandang warga Jakarta masih belum bisa menerima sekularisme.

Sekularisme sendiri secara garis besar menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganak-emaskan sebuah agama tertentu. Sekularisme juga merujuk pada anggapan bahwa aktivitas dan penentuan manusia, terutama dalam masalah – masalah politis harus didasarkan pada apa yang dianggap sebagai bukti atau fakta, dan bukan berdasarkan pengaruh keagamaan.

Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan yang didasarkan pada agama tertentu. Hal ini dikatakan menunjang demokrasi dengan melindungi hak-hak kalangan beragama minoritas.

Kebanyakan agama masih akan mencoba untuk memengaruhi keputusan politik. Terutama agama yang memiliki aliran fundamentalis. Penentangan sekularisme kebanyakan memang datang dari agama dengan aliran fundamentalis. Sedangkan dukungan akan sekularisme kebanyakan datang dari minoritas yang memandang sekularisme politik dalam pemerintahan sebagai hal yang penting untuk menjaga persamaan hak.

Gambaran besar untuk melepaskan belenggu politik identitas di negara ini adalah dengan membawa kepada sekularisme atau pemisahan masalah politik atau kenegaraan dari masalah agama. Agama seharusnya memang dibawa kepada ranah pribadi, karena agama mengatur hubungan individu manusia dengan Tuhannya. Tanpa itu, adalah sebuah keniscayaan belenggu politik identitas ini akan bisa lepas dari setiap pemilihan kepala daerah, bahkan pemilihan presiden sekalipun di Indonesia ini.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Post has attachment
Ria adalah fakta bahwa di Bali memang ada praktek prostitusi terselubung yang masih belum tersentuh oleh aparat. Ria hanyalah satu dari banyak perempuan lainnya yang menekuni profesi ini. Kalau mau ditelusuri lebih jauh, ada banyak sekali perempuan seumuran dengan Ria yang menjalani profesi ini. Mulai dari umur 14 hingga 25 tahun-an. Mulai dari usia SMP hingga usia kuliah. Tarifnya pun beragam, Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan tergantung kepada siapa jasa tersebut ditawarkan.

Beberapa dari mereka pernah saya temukan sedang menawarkan jasanya sepulang sekolah dan masih mengenakan seragam, hanya atasannya yang diganti dengan baju kaos tapi masih mengenakan rok abu – abu. Mereka datang berdua, ada yang diantarkan oleh ibu – ibu setengah baya, ada juga oleh teman seumuran mereka.

Usia yang masih belasan justru menjadi nilai lebih bagi mereka yang menekuni profesi ini, pangsa pasar terbuka lebih luas dan lebih mudah untuk ditawarkan pada peminatnya. Mulai dari anak muda galau yang ingin coba – coba, hingga om – om yang kerap kali menjadikan mereka pelampiasan atas kejenuhan berhubungan dengan istrinya dirumah.

Ada beberapa jenis praktek penawaran jasa yang dilakukan, ada yang melalui mucikari, ada yang inhouse atau bisa langsung pilih di tempat, ada juga yang menawarkan jasa melalui penginapan – penginapan yang bertebaran di daerah Denpasar, Sanur, dan beberapa penginapan kecil lainnya. Biasanya mereka menitipkan nomor telepon mereka kepada penjaga masing – masing penginapan untuk dihubungi jika ada orang yang menginginkan jasa yang mereka tawarkan.

Belakangan saya amati, banyak yang menawarkan jasanya melalui media sosial. Beberapa group di Facebook sempat menjadi ajang berkumpulnya penjual dengan pembeli, lengkap dengan testimoni pengguna jasa bahkan ada kode penilaian tersendiri untuk masing – masing penyedia jasa.

Ada beragam motif yang melatar belakangi para perempuan ini menawarkan tubuh mereka, yang paling banyak saya ketahui mereka hanya mengejar uang. Ada beberapa yang memang menyukai hubungan yang berganti – ganti pasangan, daripada selingkuh dan di gratiskan, mending mereka menawarkan pelayanan yang berbayar, enaknya dapet, uangnya juga dapet, begitu pengakuan salah seorang yang saya temui.

Prilaku seks yang cenderung bebas di kalangan remaja jaman sekarang mungkin adalah salah satu faktor yang memicu semakin maraknya penyedia jasa tubuh di kalangan remaja. Kebanyakan dari mereka terlibat pada gaya hidup hedonis yang tidak mampu disediakan oleh orang tua mereka. Mereka memilih untuk memenuhi kebutuhan hidup hura – hura mereka dengan menjual tubuh sepulang sekolah, daripada mencari pacar yang hanya akan menghasilkan sakit hati, mending mereka cari uang ke om – om, begitu pengakuannya.

Jam kerja yang begitu singkat, kurang lebih satu jam, mereka bisa mendapatkan uang yang lumayan besar. Pada beberapa orang yang saya temui, per-hari mereka bisa menghasilkan uang antara 1-2 juta dengan melayani 5-8 orang. Pendapatan yang begitu besar dan menggiurkan kalau dibandingkan dengan kebanyakan orang yang bekerja pada perusahaan bahkan setara manager sekalipun.

Salah seorang penyedia jasa bahkan ada yang mengendarai kendaraan roda 4, kalau saya perkirakan cicilannya antara 3-4 juta per bulan, dengan lama cicilan 4 tahun. Bahkan tinggal di apartemen dengan sewa antara 2-3 juta per bulan. Bisa dibayangkan bertapa enaknya hidup yang ditawarkan oleh profesi ini.

Praktek prostitusi ini marak dalam kehidupan pariwisata di Bali. Ini adalah fakta. Bahkan semua orang tahu kawasan sanur yang sudah sejak lama menyediakan jasa ini. Kuta dengan gemerlap kehidupan malamnya juga samar – samar menyediakan praktek prostitusi. Kalau kita mau sedikit menyusuri, hampir setiap kabupaten di Bali ada praktek prostitusinya. Hanya saja ada yang terjamah dan ada yang tidak oleh aparat, ada yang terang – terangan, ada yang terselubung hanya melalui jaringan orang – orang tertentu saja.

Prositusi adalah masalah yang telah ada sejak lama, dan hingga kini tidak bisa dihapuskan. Bahkan pada buku karangan William Josephus Robinson berujul The Oldest Profession in the World: Prostitution yang terbit tahun 1929 dan The Story of the World’s Oldest Profession karangan Joseph McCabe yang terbit tahun 1932, menyebutkan bahwa prostitusi adalah pekerjaan tertua di dunia.

Surabaya mungkin bisa dibilang berhasil menutup Gang Dolly, Jakarta mungkin telah berhasil menutup Kalijodo, tapi dalam pandangan saya, penutupan ini tidak sepenuhnya bisa menghentikan masalah prostitusi yang terjadi di masyarakat. Bahkan cenderung menyuburkan praktek prostitusi liar. Masalah utama praktek prostitusi liar adalah penyakit kelamin termasuk penularan HIV/AIDS yang justru semakin susah dikendalikan.

Satu – satunya cara yang bisa dilakukan saat ini adalah mengendalikan prostitusi, atau istilah lainnya adalah melokalisasi prostitusi untuk mengendalikan penyebaran penyakit menular seksual. Ada banyak penelitian dan negara yang telah menerapkan cara ini dan memang berhasil mengatasi masalah prostitusi dan penyebaran penyakit menular.

Ria hanyalah satu pelaku prostitusi yang kebetulan digunakan jasanya oleh seorang penjual video porno. Dalam istilah lainnya, Ria hanyalah orang yang sedang sial bertemu orang yang salah sehingga videonya menjadi viral. Ria hanya sedang terjebak menjadi bintang film porno dadakan yang bisa saja terjadi pada perempuan lainnya yang tergiur akan uang yang ditawarkan oleh pembuat video porno tersebut.

Kita pernah tahu ada 2 orang model asal Bali yang pernah menjadi model telanjang sebuah majalah beberapa tahun silam. Apakah mereka pelaku prostitusi? Bukan, mereka hanya 2 model orang yang tertarik akan iming – iming bayaran yang lumayan besar untuk difoto dalam keadaan telanjang.

Yang harus dibidik untuk kasus video, photo berbau porno ini adalah pelaku perekam dan penyebar video atau photo tersebut. Menurut saya, Ria adalah korban yang bisa mengenai siapa saja yang tergiur akan besarnya bayaran yang diterima untuk berada dalam video atau photo tersebut. Pencegahan penyebaran hal – hal yang berbau pornografi memang seharusnya terletak pada pembuat konten yang berbau pornografi tersebut. Merekalah pelaku bisnis yang sebenarnya, merekalah yang mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan perempuan untuk berada pada konten yang mereka buat.

Sekali lagi, prostitusi hanyalah satu bagian dari kehidupan masyarakat kita yang telah ada sejak lama. Prostitusi tidak mengenal kalangan, dari kalangan bawah hingga atas ada banyak yang memanfaatkan jasa prostitusi dalam kehidupan mereka. Video porno adalah dampak lain dari adanya praktek prostitusi. Pelaku pembuat dan penyebar video porno inilah yang selayaknya ditangkap dan dikejar untuk mencegah penyebaran konten porno di masyarakat.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Post has attachment
Disadari atau tidak, kita semua yang memeluk sebuah agama adalah korban dari propaganda ketakutan yang semenjak lahir dihembuskan oleh orang – orang disekitar kita. Ada banyak aturan yang diberlakukan semasa kita kecil dengan menakut-nakuti pada hal – hal yang sama sekali tidak kita mengerti.

Dari kecil kita sudah di cekoki dengan doktrin surga dan neraka, dimana surga adalah keindahan dan neraka adalah segala macam siksaan. Ditambah lagi dengan berbagai ancaman atas kemarahan Tuhan yang sanggup menghukum siapa saja yang tidak berbuat baik. Atas dasar ketakutan inilah kita dibentuk untuk taat beragama dengan segala macam aturan yang berlaku dalam agama yang kita anut.

Kita dipaksa untuk mengikuti segala aturan agama agar terhindar dari siksaan neraka dan dijauhkan dari hukuman Tuhan. Kita bahkan tidak tahu surga itu apa atau neraka itu apa. Saya rasa hingga saat ini tidak ada sumber yang bisa menjelaskan seperti apa tepatnya surga atau neraka melalui refrensi pihak lain selain kitab suci agama masing – masing.

Propaganda ketakutan itu terbukti berhasil dan masih berjalan hingga kini.

Ketakutan adalah emosi dasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Rasa takut memang cenderung membuat manusia menutupi logika dan memilih jalan tercepat untuk menghilangkan rasa takut tersebut. Manusia secara refleks akan menghindar atau melarikan diri atas rasa takut, daripada menanyakan atau menghadapinya. Ketakutan ini adalah salah satu sisi lemah dari setiap manusia yang paling mudah untuk di ekploitasi agar manusia taat akan aturan.

Setiap manusia cenderung untuk merasakan ketakutan pada hal – hal yang tidak diketahuinya. Contohnya, hantu, Kebanyakan yang saya tahu, kesaksian atas hantu besifat subjektif, tidak berlaku di semua orang, atau bahasa lainnya, tidak semua orang bisa melihat hantu. Gambaran di film horor akan betapa mengerikannya hantu tersebut, membuat kita tergiring untuk percaya dan menyepakati kalau kita semua takut dengan hantu karena hantu itu jahat dan bisa membunuh kita.

Mungkin saja ada hantu yang baik, hantu yang cantik, atau mungkin sebenarnya tidak ada hantu sama sekali. Kita cenderung lebih mudah menyepakati kalau hantu itu jahat, karena dasar dari semua itu adalah ketakutan. Kita takut untuk mencari tahu yang sebenarnya, kita takut untuk membuktikan keberadaan hantu itu sendiri. Kita sudah terlanjur ditakut – takuti oleh film horor sehingga menutupi rasionalitas berpikir kita.

Dalam politik, ketakutan sering di eksploitasi oleh politisi untuk meraih dukungan.

Donald Trump memperoleh kemenangannya di Amerika Serikat dengan mengeksploitasi ketakutan masyarakat Amerika atas isu – isu tentang Islam. Pada tahun 2014 lalu, trauma dan ketakutan atas kebangkitan PKI adalah salah satu bentuk eksploitasi ketakutan yang dihembuskan oleh kubu Prabowo. Di Bali sendiri, AWK menggunakan ketakutan masyarakat Bali atas pendatang untuk memperoleh dukungan.

Di Jakarta, sekarang ini ada banyak jenis ekploitasi atas ketakutan masyarakat yang digunakan untuk menggerus suara pertahana. Ketakutan masyarakat atas penggusuran, Isu PKI, Invasi tenaga kerja china, dan isu – isu sejenis adalah bentuk eksploitasi ketakutan yang digunakan untuk memperoleh dukungan yang dilakukan oleh kubu anies-sandi.

Sebenarnya rasa takut adalah sifat alami, manusiawi, untuk kita semua. Tidak ada seorang-pun di dunia ini yang tidak memiliki rasa takut, bahkan binatang paling buas sekalipun memiliki rasa takut. Agar tidak dikuasai oleh rasa takut, kita sebaiknya mencoba belajar untuk berpikir rasional. Berpikir dengan logika dan perhitungan. Tidak mudah percaya pada apapun sebelum kita mencari tahu sendiri.

Kuncinya adalah tidak mudah percaya atas segala isu – isu menakutkan yang ditebarkan oleh orang lain sebelum kita mencari tahu dan menemukan buktinya sendiri. Disinilah rasionalitas kita sebagai manusia berperan, bahkan kita seharusnya tidak pernah takut dengan intimidasi apapun atas pilihan yang kita ambil. Karena orang yang melakukan intimidasi adalah orang yang sedang ketakutan.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Post has attachment
Sebulan belakangan ini saya tengah disibukkan dengan pekerjaan yang menyita hampir 90% waktu yang saya miliki. Kesempatan untuk ngopi bahkan tidur sekalipun sangat minim. Sampai kemarin, saya seperti orang buta yang duduk di warung kopi langganan saya. Perkembangannya pembicaraan disana begitu cepat. Saya harus meraba – raba ulang arah pembicaraan mereka.

Sebulan sebelumnya, pembicaraan masih berkisar pada perkembangan situasi politik di Jakarta, Ahok, Jokowi, FPI dan yang sejenisnya. Sekarang pembicaraan berubah menuju perkembangan sekte yang ada dalam Hindhu Bali. Kebetulan salah satu yang suka nongkrong di warung kopi tersebut tengah tertarik dengan Hare Khrisna, salah satu sekte yang tengah berkembang di Bali saat ini.

Semua memang sepakat kalau Bhagavad Gita adalah acuan yang paling pas untuk mempelajari Veda saat ini, karena Bhagavad Gita adalah rangkuman yang termudah untuk dipelajari. Kita semua paham kalau Bhagavad Gita diturunkan oleh Khrisna. Bukan berarti kita harus menjadi pengikut sekte Hare Khrisna, karena Bhagavad Gita diturunkan untuk seluruh umat. Kata kuncinya adalah seluruh umat manusia.

Dari sinilah topik pembicaraan sektarian ini berkembang menjadi pembicaraan akan superioritas antara sekte satu dan lainnya, ditambah lagi dengan beberapa orang yang memang tengah menekuni beberapa perguruan spiritual yang sedang berkembang saat ini.

Dari hanya manggut – manggut, saya berpikir, ada satu hal yang mereka semua lupakan. Mereka lupa kalau mereka semua adalah manusia. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi superior diantara manusia lainnya kalau mereka semua terlahir sama, sebagai manusia.

Menurut saya inilah kunci yang banyak dari kita lupakan belakangan ini. Pengaruh dan propaganda sektarian yang sedang gencar dalam bentuk berbagai aliran maupun sekte di Bali membentuk pengikutnya berpikiran eksklusif, atau berpikiran lebih istimewa daripada pengikut sekte lainnya. Padahal kalau kita mencoba untuk lebih waras, kita tidaklah lebih istimewa satu dan lainnya hanya karena kita mengikuti sekte atau aliran tertentu.

Kita semua terlahir sebagai manusia, dan akan tumbuh dan berkembang sebagai manusia, menuju akhir atau kematian kita akan tetap sebagai manusia. Yang membedakan kita satu dan lainnya adalah prilaku dan pemikiran kita sebagai manusia.

Disadari atau tidak, pola pikir eksklusif yang ditanamkan oleh masing – masing sekte atau aliran yang ada di Bali justru akan menjauhkan masing – masing pengikutnya dari akar budaya Bali yang telah ditanamkan oleh tetua kita semenjak dahulu. Bali menganut paham terbuka, itulah kenapa hampir semua jenis manusia bisa diterima di Bali semenjak dahulu, dari akar inilah muncul kesan orang Bali itu jujur dan ramah.

Mungkin ada yang masih ingat dengan bait “eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin” – jangan pernah mengira dirimu pintar, biarkan orang lain yang menilai. Bait ini dalam pandangan saya adalah nasehat dari tetua kita untuk berpikiran terbuka. Kita semenjak dahulu diajarkan untuk rendah diri dan terbuka akan sekian banyak pemikiran yang berkembang di dunia ini. Kita tidak diharuskan untuk menerima, tapi kita diajarkan untuk menghormati dan mencoba memahami kalau di dunia ini terdiri dari berbagai macam manusia dengan berbagai macam pemikiran yang berbeda. Perbedaan ini adalah kekayaan, dan tidak ada satupun pemikiran yang lebih diantara pemikiran lainnya.

Kalau kita coba telaah lebih jauh, oleh tetua kita di Bali, kita diajarkan untuk tetap sadar kalau kita manusia. Hanya manusia biasa. Semua keterbatasan sebagai manusia berlaku untuk kita semua. Apapun yang kita pelajari, sejauh apapun kita belajar, sebanyak apapun ilmu yang kita pelajari, kita akan tetap sebagai manusia, yang berubah hanyalah cara kita berpikir mengenai berbagai macam hal di dunia ini.

Semakin banyak kita bertemu orang – orang yang berbeda, semakin terbuka pandangan kita akan hidup dan kehidupan di dunia ini sebagai manusia, semakin bijaksana kita memandang berbagai hal di dunia ini, maka semakin sadarlah kita pada diri kita yang hanya seorang manusia dengan segala keterbatasan kita. Inilah inti nasehat “eda ngaden awak bisa” yang diajarkan oleh tetua kita.

Silahkan masing – masing dari kita mengikuti sekte atau aliran apapun yang kita anggap sesuai dengan pemahaman kita akan kehidupan spiritual kita, tidak ada salahnya kita mempelajari itu semua, tapi tetaplah sadar kalau kita semua hanya manusia dengan segala keterbatasan kita sebagai manusia.

Kita percaya akan kelahiran kembali, tapi kehidupan kita berjalan bukan pada saat kelahiran kembali tersebut. Kehidupan kita berjalan pada saat ini, pada saat yang sekarang ini. Yang paling layak kita lakukan saat ini adalah memanusiakan manusia, menghargai segala perbedaan pemikiran setiap manusia tanpa merasa lebih dari manusia lainnya. Niscaya kita akan seutuhnya menjadi manusia, Karena manusia yang seutuhnya sangat sulit kita temui saat ini.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

http://bungloen.com/belajar-menjadi-manusia/

Post has attachment
Inti dari semua yang saya bahas diatas adalah isi perut kita semua, yang sering kita sebut dengan kesejahteraan. Kita sebagai masyarakat lebih baik memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar kita. Jadi pertanyaan yang paling tepat untuk diajukan kepada calon pemimpin daerah adalah apa yang akan dia lakukan untuk kemudahan kita memenuhi kebutuhan dasar kita.

Disinilah politik itu berperan pada setiap proses pemenuhan isi perut semua orang, ada ungkapan lama yang masih saya ingat hingga kini, “kalau perut kenyang, diskusi soal apapun akan menuju pada pencerahan”. Intinya, kalau perut kita kenyang, membahas Agama, Ideologi, Platform Politik, dan lain sebagainya akan mengarah pada pengetahuan dan pencerahan, bukan gontok – gontokan penuh kebencian seperti sekarang ini.

Banyak dari kita yang justru tersesat pada politik dalam ranah yang tidak semestinya, membicarakan konspirasi yang pengetahuan kita sendiri tidak bisa menjangkau. Kita lupa kalau ada hak dasar dari setiap manusia untuk kesejahteraannya malah sering di abaikan oleh calon – calon kepala daerah. Mereka lebih memilih untuk berkutat pada isu – isu populer yang berbau SARA hanya untuk meningkatkan elektabilitasnya.

Ada baiknya kita kembali berpikir dan melepaskan semua politik identitas yang dihembuskan selama ini dan merubahnya pada pemikiran tentang apakah dengan memilih satu kepala daerah akan mempermudah atau mempersulit kita dalam memenuhi kebutuhan dasar kita masing – masing. Beranjak dari sini, mari kita teliti setiap jargon dan program yang dibawakan oleh calon – calon kepala daerah kita masing – masing. Kita sebaiknya tidak mudah percaya dengan isu – isu identitas yang dibawakan oleh calon – calon kepala daerah, karena calon yang membawakan isu identitas, biasanya tidak tahu cara memenuhi kebutuhan dasar kita.

Post has attachment
Dasar kultur dan pemikiran kebanyakan masyarakat Bali yang sering menabukan banyak sisi ilmu dengan dalih “aja wera” menurut saya menjadi salah satu sebab kurang berkembangnya ilmu tradisional Bali. Karena tidak boleh dipelajari oleh sembarang orang, berarti tidak boleh juga diteliti oleh sembarang orang, padahal, secara dunia yang modern seperti sekarang ini, segala ilmu telah ada metode penelitian dan pengujiannya secara ilmiah. Dengan dihadirkannya bukti secara ilmiah, maka dengan sendirinya penelitian akan bergulir dan berkembang menjadi ilmu – ilmu baru.

Jalan satu – satunya untuk mengembangkan dan menggiring ilmu leak ini ke arah yang lebih ilmiah adalah dengan membuka akses seluas – luasnya pada siapapun yang berminat untuk mempelajari dan meneliti ilmu leak itu sendiri. Ada banyak perguruan tradisional Bali yang mengajarkan ilmu leak secara keilmuan tapi beberapa memang belum bisa mempertanggung jawabkan secara ilmiah karena keterbatasan ilmu dan sumber daya untuk meneliti tentang segala aspek yang menyangkut ilmu leak itu sendiri.

Ketika nanti terjadi sebuah keselarasan antara ilmu leak dan bukti – bukti ilmiah, disinilah akan terlahir satu generasi baru yang saya istilahkan dengan leak terdidik atau leak berpendidikan. Karena darah bali tidak bisa lepas dari ilmu leak, dan untuk tetap melestarikannya dalam dunia modern ini kita sebaiknya membawa ilmu ini kedalam ranah ilmiah agar dasar – dasar kearifan lokal yang telah ada dalam falsafah hidup orang Bali bisa dikembangkan untuk manfaat yang lebih banyak kepada umat manusia.

Satu tambahan terakhir, dari sumber yang bisa dipercaya saya mendapatkan penjelasan kalau pengetahuan orang tentang yoga di dunia ini, yang terlengkap adalah yoga yang ada di Bali, bahkan mahaguru yoga yang ada di india melengkapi pengetahuannya tentang yoga di Bali. Tapi justru yang terkenal yoga itu berasal dari india. Kenapa bisa demikian? kita tanya seberapa perduli masing – masing dari kita terhadap kebudayaan Bali.

Post has attachment
Realita yang terjadi di lapangan adalah, kebutuhan petani kita sekarang ini tidak hanya cukup dengan makan nasi saja, mereka punya anak – anak untuk disekolahkan. Untuk sekolah, anak – anak mereka memerlukan transportasi berupa minimal motor, sekarang ini sudah tidak ada angkutan desa yang bisa mengantarkan anak – anak sekolah lagi. Minimal satu rumah ada satu motor. Mencicil motor dan membayar sekolah anak dengan hasil pertanian sekarang ini sungguh mustahil, apalagi untuk petani yang lahannya terbatas. Jalan singkat yang bisa mereka tempuh untuk memenuhi kebutuhan itu hanyalah dengan menjual lahan mereka dan mencoba menjadi petani penggarap.

Solusi dari masalah alih fungsi lahan pertanian sekarang ini bukan hanya retorika atau peringatan dan yang sejenisnya, solusinya ada pada jalur distribusi bahan pertanian seperti bibit, pupuk, obat – obatan, kepada petani, dan jalur distribusi produk pertanian ke pasar. Banyak yang masih belum melihat akar masalah ini. Kehidupan petani akan lebih baik kalau jalur distribusi bibit dan pupuk lancar, waktu produksi singkat, dan harga jual produk pertanian stabil. Itu akar masalah sebenarnya.

Yang ada sekarang ini, jalur distribusi bibit dan pupuk terhambat, penyaluran produk pertanian ditengahi oleh tengkulak. Bagaimana petani bisa sejahtera?

Satu kisah yang saya rasa bisa menjadi contoh untuk menyelesaikan masalah ini adalah cerita bagaimana petani cabai di Magelang – Jawa Tengah yang bernama Tunov Mondro Atmodjo mengurai akar masalah dan menemukan cara untuk memotong kendala dari penyediaan bibit hingga penyaluran produksi cabai. Sederhananya, akar masalahnya di uraikan dan dicarikan solusinya, dari sinilah hal – hal seperti alih fungsi lahan bisa dicegah.

Kalau petani sejahtera, bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan mampu menyekolahkan anak – anaknya dari hasil pertanian, saya rasa alih fungsi lahan akan drastis berkurang. Orang – orang yang saya temui lebih banyak yang tertarik untuk bertani daripada bekerja pada tempat lain, karena menurut mereka, petani itu adalah “bos” untuk diri mereka sendiri, tanpa ada orang lain yang memerintah dan ngatur – ngatur.
Wait while more posts are being loaded