Profile cover photo
Profile photo
Shinta Setiawan
5,111 followers -
A film geek. Presenting film news in public circle since July 2011.
A film geek. Presenting film news in public circle since July 2011.

5,111 followers
About
Shinta's posts

Post has attachment
Rilis hari ini bioskop.

Post has attachment
"Pembuat film ini boleh jadi terpengaruh ‘Negeri di Bawah Kabut’-nya Shalahuddin Siregar dalam meminjam cara bertutur, penempatan kamera serta interaksi antartokoh yang terekam pun menyiratkan hal itu. Namun, hanya sebatas itu saja, selebihnya ‘Tanah Mama’ menawarkan kisah yang tak kalah menarik untuk disimak serta dibaca bersama dalam ruang-ruang diskusi." - Shandy Gasella (Detik)

Post has attachment
"Pada akhirnya, Di Balik 98 bukan gambaran sempurna tentang sebuah peristiwa yang penting bagi negeri ini. Akan tetapi, jika tujuannya adalah mengenang kembali rasa yang timbul ketika peristiwa itu terjadi, film ini jauh dari gagal. Diwakili oleh para tokoh yang mengalami hal-hal yang banyak dialami orang-orang masa itu, memori tentang kegelisahan, kebingungan, kepedihan, juga harapan yang timbul dari dinamika yang terjadi di Mei 1998, bisa ditangkap dari sini. Bukan potret sejarah yang akurat, tetapi lebih kepada potret emosi dari mereka (dan kita) yang pernah melewatinya." - Reino Ezra Anreti (Muvila)

Post has attachment
"Nyali besar dan orang sinting saja tampaknya belum cukup untuk film superhero yang layak ditonton, “Garuda Superhero” sudah membuktikannya. Baiklah, film ini punya niat yang positif, tapi secara esekusi dan produk jadinya, niat hanyalah tinggal niat, filmnya sudah menghianati niat baiknya sendiri. Padahal saya sudah berharap “Garuda Superhero” bisa menghibur dengan segala kegilaannya, tidak perlu cerita bagus, makin konyol makin sempurna. Tapi seperti Durja—penjahat dalam film ini—ambisi mengalahkan segalanya dan tak peduli dunia mau hancur lebur, film ini pun tampaknya tidak peduli filmnya nantinya terlihat hancur dan berantakan seperti habis ditabrak asteroid." - Rangga Adithia (Flick Magazine)

Post has attachment
"Seperti di “Tampan Tailor”, Guntur Soeharjanto dan Alim Sudio lagi-lagi mampu menyertakan hati dalam filmnya. Itulah kenapa “Assalamualaikum Beijing” jadi terasa berbeda dari film drama lainnya. Didukung oleh penampilan akting manis dari Revalina dan performa yang tak kalah baiknya dari Morgan Oey, yang dapat ciptakan chemistry yang pada akhirnya membuat saya peduli dengan hubungan keduanya. Film ini kemudian sanggup memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh film sejenis, yaitu mempersilahkan penonton untuk menikmati cerita tanpa harus disiksa oleh rentetan adegan tangis-tangisan." - Rangga Adithia (Flick Magazine)

Post has attachment
"Karakter Merry Riana dimainkan Chelsea Islan dengan maksimal. Arahan Hestu Saputra membuat orang nyaris percaya Chelsea itu motivator juga. Tapi masalah utamanya adalah anakronisme akut dalam gambar. Salah satunya, ponsel pintar yang tak sesuai zaman — sungguh membodohi otak penonton." - Bobby Batara (All Film Magazine)

Post has attachment
"Pada akhirnya Pendekar Tongkat Emas memang hanya sebatas konteks tanpa eksekusi yang kuat. Plot sederhana bukan masalah utama. Seting antah-berantah tidak mengapa. Karakter dua dimensi masih bisa dimaklumi. Tapi gagalnya presentasi laga yang dibarengi dinamika yang kuat adalah pengganjal film untuk tampil lebih baik lagi. Secara umum film masih bisa dinikmati. Namun, ibarat tongkat emas itu sendiri, ia cantik dipandang, tapi tak begitu jelas kesaktiannya apa. Mubazir potensi, kalau kata orang." - Haris Fadli Pasaribu (Flick Magazine)

Post has attachment
"Duo sutradara Paul Tibbitt – yang memang telah berpengalaman dalam mengarahkan serial animasi televisi SpongeBob SquarePants – serta Mike Mitchell – yang bertugas untuk mengarahkan segmen live-action dalam film ini, mampu mengeksekusi jalan cerita dengan ritme penceritaan yang begitu cepat sehingga mempersempit ruang kedataran dalam penceritaan. Perpaduan animasi tradisional, CGI dan live-action dalam film ini juga berhasil disajikan dengan baik dan terasa nyata presentasinya." - Amir Syarif Siregar (Flick Magazine)

Post has attachment
"Tracers gagal untuk menampilkan sesuatu yang istimewa dalam presentasinya. Keberadaan parkour dalam jalan cerita film jelas hanya menjadi pewarna cerita tanpa pernah mampu dikelola dan diperluas lagi fungsi penceritaannya. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal bahwa koreografi aksi yang melibatkan gerakan-gerakan parkour di sepanjang film mampu tergarap dengan baik dan cukup mengagumkan untuk disaksikan. Lebih dari itu, Tracers hanya mampu tampil dengan kualitas penceritaan film aksi remaja yang ringan dan gampang tertebak arahnya." - Amir Syarif Siregar (Flick Magazine)

Post has attachment
"‘Run All Night’ memang masih menjadi pilihan jitu bagi Anda yang menggemari film laga. Apalagi bagi Anda penggemar aksi Liam Neeson, film ini tidak bisa Anda lewatkan. Tapi, melihat apa yang pernah dicapai oleh Neeson dan Collet-Serra, harusnya mereka berdua bisa melakukan yang lebih daripada sekedar terus berlari." - Candra Aditya (Detik)
Wait while more posts are being loaded