Profile cover photo
Profile photo
Muhammad Yusuf
61 followers -
Tuhan akan malu apabila Manusia terus berdoa mengharap rido-Nya
Tuhan akan malu apabila Manusia terus berdoa mengharap rido-Nya

61 followers
About
Posts

Post is pinned.Post has attachment
Siapa yang lebih pantas menjadi DKI 1 priode 2017-2020?
-
votes visible to Public
0%
Ridwan Kamil
0%
Icsan Noordin Noorsy
100%
Ahok
Add a comment...

Di dalam seseorang bertasawuf, membutuhkan tarekat. Tarekat di dalam bahasa Arab yaitu Al-thariqah, jamaknya taraiq) secara etimologis berarti jalan, cara (Al-Kaifiyyah), metode, sistem (Al-Uslub), Mazhab, aliran, haluan (Al-Mazhab), keadaan (Al-Halah), pohon kurma yang tinggi (Al-Nakhlah Al-Thawilah), Tingkat, tempat berteduh, tongkat payung (‘Amud Al-Minzallah), yang mulia, terkemuka dari kaum (syarif Al-Qaum), goresan atau garis pada sesuatu (Al-Khatt Fil Sya’i).
Sedangkan tarekat menurut istilah tasawuf, tarekat berarti perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah. (Aziz: 2011: 1).
Dalam kitab Jami’ul Ushul fi Al-Auliya, Syaikh Ahmad Al-Kamsyakhanawi An-Naqsyabandi menuturkan bahwa thoriqoh adalah perilaku tertentu bagi orang-orang yang menempuh jalan kepada Allah, berupa memutus/meninggal tempat-tempat hunian dan naik ke maqom/tempat-tempat mulia.
Jalan tarekat untuk menuju ma’rifatullah dapat ditempuh melalui tahapan berikut: (Samsul: 2014: 291)
1. Tajjarud, yaitu melepaskan diri dari godaan dunia, sebab dunia selalu melalaikan manusia untuk berbakti kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dunia juga selalu mengganggu ibadah dan mengurangi rasa taqarrub kepada-Nya.
2. Uzlah, yaitu menyisihkan diri dari pergaulan dengan masyarakat ramai kemudian pergi meminta petunjuk dari syaikh.
3. Fakir, yaitu tidak mempunyai apa-apa dalam kategori duniawi. Orang yang memiliki banyak harta biasanya tidak sempet memikirkan Tuhan. Ia tidak punya waktu untuk beribadah dan menghambakan diri kepada Allah karena karena sibuk menghitung-hitung harta bendanya.
4. Dawam as-sukut, yaitu diam dan hanya berkata-kata jika bermanfaat. Disamping itu, seorang salik senantiasa berzikir kepada Allah dengan mengucapkan pujian, istigfar, tasbih, tahmid, menggagungkan agama Allah secara positif, serta mengaku lemah dan tidak berdaya.
5. Qillah al-Akli, maksudnya sedikit makan dan minum. Banyak makan dan minum menyebabkan kantuk dan malas sehingga menghabiskan waktu dan tidak menghasilkan sesuatu.
6. Qiyam al-Lail, maksudnya senantiasa bangun diwaktu malam dengan shalat malam, memperbanyak zikir, tasbih, tahmid, takbir dan istigfar.
7. Safar, maksudnya adalah mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menyempurnakan ajaran terekat yang telah diberikan oleh mursyidnya.



Tarekat berkembang secara pesat di hampir seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Perkembangan tarekat yang pesat membawa dampak positif bagi perkembangan dakwah, karena perkembangan tarekat juga merupakan perkembangan dakwah Islam.
Di antara aliran-aliran tarekat dalam berkembang dalam dunia Islam adalah sebagai berikut.

a. Tarekat Alawiyah

Istilah Alawiyah berawal dari nama pendiri aliran ini yaitu Imam Alawi bin Ubaydillah bin Ahmad bin Isa Al-Alawi, cucu dari Imam Ahmad bin Isa Al-Alawi (260-345 H) yang dikenal dengan al-Muhajir illa Allah.
Imam Ahmad bin Isa (al-Muhajir ila Allah) adalah Ahmad bin Isa bin Muhammad al-Naqieb bin Ali Al-Uraidi bin Jakfar al-Shadiq bin Muhammad al-baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.
Beliau adalah keturunan nabi Muhammad SAW., melalui garis Sayyidina Husain bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fathimah Al-Zahra binti Rasulullah , SAW. Ia lahir di Basrah , Irak, pada tahun 260 H. Ayahnya, Isa bin Muhammad, sudah lama dikenal sebagai orang yang memiliki disiplin tinggi dalam beribadah dan berpengetahuan luas. (Aziz: 2011:49)
Mula-mula keluarga Isa bin Muhammad tinggal di Madinah, namun karena berbagai pergolakan politik, ia kemudian hijrah ke Basrah dan Hadramaut. Sejak , kecil hingga dewasa, Imam Ahmad sendiri lebih banyak menimba ilmu kepada ayahnya dalam spiritual. Sehingga kelak ia terkenal sebagai tokoh sufi. Bahkan oleh kebanyakan para ulama pada masanya, Imam Ahmad dinyatakan sebagai tokoh yang tinggi hal-nya (keadaan ruhaniyah seorang sufi selama melakukan proses perjalanan menuju Allah).
Istilah Alawiyah atau Alawi juga digunakan bagi siapa saja yang menisbatkan diri kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Bahkan, simpatisan (Mawali)diri mereka pun juga disebut Alawi.
Di Maghrib juga ditemukan gelar Alawi, termasuk raja-raja mereka sekarang, dan moyang mereka masih keturunan dari Hasan ibn Qasim Al-Hasani, imigran dari Yanbu’ al-Nakhl ke Maghrib (Maroko) pada 664H/ 1265 M.
Tarekat Alawiyah juga boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengamalan wirid dan dzikir bagi para pengikutnya. Yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika mengamalkan tarekat ini. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Demikian pula, dalam pengamalan ajaran dzikir dan wiridnya, tarekat alawiyah termasuk cukup ringan, karena tarekat ini hanya menekankan segi—segi amaliyah dan akhlak (tasawuf amali dan akhlaqi). (Aziz: 2011: 51)



b. Tarekat Qadiriyah

Tarekat Qadiriyah adalah tarekat yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jilani (470-561 H/ 1077-1166 M) yang terkenal dengan sebutan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Al-Gauws atau “Quthb Al-Auliya” atau “Sulthan Al-Auliya”. Ia Sangat terkenal di kalangan masyarakat muslim. Manakib(biografi)nya sering dibaca oleh para pengikutnya, karena ia dipercaya sebagai seorang wali yang memiliki derajat tinggi. Tarekat Qadiriyyah menempati posisi yang amat penting dalam sejarah spiritualitas di dunia Islam, karena tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetapi juga sebagai cikal bakal munculya berbagai cabang tarekat di dunia Islam.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani lahir di desa Naif, kota Gilan, tahun 470 H (1077 H). Desa itu terletak 150 kilometer timur laut Baghdad. Ibunya seorang wanita shalihah bernama Fatimah binti Abdullah As-Sama’I Al-Husaini dan ayahnya bernama Abu Shalih, di mana garis silsilahnya sampai kepada Nabi SAW.
Ide mistik dan religius Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani termuat dalam karya-karyanya sebagai berikut: (Amsal: 2006:34)
1. Ghunyah li Thalib Thariq Al-Haqq yang dikenal umum dengan nama Ghunyah Ath-Thalibin. Itu merupakan karya komprehensif mengenai kewajiban yang diperintahkan dan jalan hidup yang Islami.
2. Al-Fath Ar-Rabbani adalah salinan dari 62 khutbahnya pada 545-546 Hijriah (1150-1152M)
3. Futuh Al-Ghaib merupakan rekaman dari 78 khutbahnya yang dikumpulkan oleh putranya, Abdur Razaq.
Di antara praktik spiritual yang diadopsi oleh tarekat Qadiriyyah adalah dzikir (terutama melantunkan asma Allah secara berulang-ulang). Dalam pelaksanaannya terdapat berbagai tingkatan penekanan dan intensitas. Ada zikir yang terdiri atas satu, dua, tiga dan empat gerakan. Zikir dengan satu gerakan dilaksanakan dengan mengulang-ulang asma Allah melalui tarikan napas panjang yang kuat. Napas ini seakan dihela dari tempat yang tinggi, diikuti penekanan dari jantung dan tenggorokan, kemudian dihentikan sampai napas kembali normal. Hal ini harus diulang secara konsisten untuk waktu yang lama. Sehubungan dengan itu, untuk memperoleh amalan tarekat tersebut diperlukan baiat.

c. Tarekat Syadziliyyah

Tarekat Syadziliyyah adalah tarekat yang dinishbahkan pendirinya yaitu Abu Hasan Ali Asy-Syadzili (539-656 H) ¬¬. Ia adalah seorang sufi Sunni yang berasal dari Syadziliyyah, Tunisia. Nama lengkapnya Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Abu Hasan As-Syadzili. Sejak kecil, ia sangat tekun menuntut ilmu, sampai-sampai ia menderita sakit keras yang hampir membutakan kedua matanya. As-Syadzili belajar kepada seorang sufi besar di masanya, yakni Abu Al-Abbas Al-Mursi (w.686H). kemudian ia pindah ke Tunisia dan seterusnya mengembara ke negeri-negeri muslim di Timur, termasuk mengunjungi kota suci Mekkah untuk melakukan ibadah haji beberapa kali. Dalam pengembaraan tersebut ia berguru kepada dua sufi lainnya yaitu Abu Abdillah bin Harazim dan Abdul-Salam bin Mayisy. Dari kedua gurunya As-Syadzili memperoleh khirqah, sebagai tanda bahwa ia sudah mencapai taraf pengetahuan dan kesufian yang memadai. Khirqah biasanya berbentuk sepotong kain atau pakaian dari guru yang dianggap mengandung kesucian dan menjadi kenang-kenangan bagi si murid sendiri.
Pada umumnya, tarekat ini dipengaruhi oleh ajaran dan pemikiran Al-Ghazali. Tarekat ini mempunyai silsilah sampai kepada Hasan putra Ali bin Abi Thalib dari Nabi SAW. Tarekat ini berlandaskan pada lima prinsip dasar yang harus menjadi ciri yang mewarnai sikap dan tingkah laku setiap pengikut Tarekat Syadziliah. Lima prinsip ini disebut Al-Ushul Al-Khamsa, yaitu:
1. Keatkwaan terhadap Allah SWT lahir dan batin, yang diwujudkan dengan jalan bersikap wara’ dan istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT.
2. Konsisten menggikuti Sunnah Rasul, baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang direalisasikan dengan selalu bersikap waspada dan bertingkah laku yang luhur.
3. Berpaling (hatinya) dari mahluk, baik dari penerimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah SWT (tawakkal)
4. Ridha kepada Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan, yang diwujudkan dengan menerima apa adanya (Qanaah/tidak Rakus) dan menyerah
5. Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan bersyukur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.

d. Tarekat Syattariyyah

Tarekat Syattariyyah pertama kali digagas oleh Syaikh Abdullah Syattar (W. 890 H/1429 M). Tarekat ini merupakan salah satu jenis tarekat yang dianggap shahih, diakui kebenarannya (mu’tabarah) dan telah berkembang di kalangan muslim Indonesia sejak awal paruh kedua abad XVII. Dalam konteks dunia Islam Melayu-Indonesia, Abdu Al-Rauf Al-Singkli (1024-1105 H/ 1615-1693 M) merupakan ulama yang paling bertanggung jawab dalam menyebarkan ajaran dan doktrin Tarekat Syattariyyah.
Jika ditelusuri lebih awal lagi, tarekat Syattariyyah sesungguhnya memiliki akar keterkaitan dengan tradisi Transoxania, karna silsilahnya terhubung lagi kepada Abu Yazid Al-Busthami (w. 873 M) dan Imam Ja’far Al-Shadiq (W.763 M).
Amalan Praktis tarekat Syattariyah antara lain ditekankan pada dzikir, baiat dan talkin. Talkin merupakan langkah yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum seseorang dibaiat menjadi anggota tarekat dan menjalani dunia tasawuf(suluk). Menurut Syekh Ahmad Al-Qusyasyi , Khalifah tarekat Syattariyyah di Haramain, di antara tata cara talqin adalah calon murid terlebih dahulu menginap di tempat tertentu yang ditunjuk Syekhnya selama tiga malam dalam keadaan suci (berwudhu).
Setelah menjalani talqin, hal yang harus ditempuh oleh seseorang yang akan menjalani suluk adalah baiat. Secara hakiki, baiat menurut al-Qusyasyi ungkapan kesetiaan dan penyerahan diri sari seseorang murid secara khusus kepada Syikhnya, dan secara umum kepada lembaga tarekat yang dimasukinya. Seorang murid yang telah mengikrarkan diri masuk ke dalam dunia tarekat, tidak dimungkinkan lagi untuk keluar dari ikatan tarekat tersebut. (al-Qusyasyi:33)
Meskipun teknis dan tata cara bai’ah dalam berbagai jenis tarekat sering kali berbeda satu sama lain, tetapi umumnya terdapat tiga hal penting yang harus dilalui oleh seorang calon murid yang akan melakukan bai’ah yakni: talqin al-Dzikr ( mengulang zikir-zikir tertentu), Akhu Al-ahd (Mengambil sumpah), libs al-Khirqah (mengenakan jubbah). (Sri Mulyati: 2005:175)

e. Tarekat Naqsyabandiyah

Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah adalah seorang pemuka tasawuf terkenal yaitu Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwasi al-Bukhari Naqsyabandi (717 H/1318 M- 791 H/1389 M), dilahirkan di sebuah desa Qashrul Arifah, kurang lebih 4 mil dari Bukhara tempat lahir Imam Bukhari. Ia berasal dari keluarga dan lingkungan yang baik . ia mendapat gelar Syekh yang menunjukan posisinya yang penting sebagai pemimpin spiritual (Fuad:1996:23).
Baha’uddin Naqsyabandi belajar ilmu tarekat kepada seorang wali quthub di Nasaf, Yaitu Sayyid Kulal Al-Bukhari (w. 772 H/ 1371 M). Amir Kullal Al-Bukhari adalah seorang khalifah Muhammad Baba As-Sammasi. Dari Amir Kullal inilah, Baha’uddin Naqsyabandi memulai silsilah tarekat yang didirikannya.
Tema pokok ajaran (asas) tarekat Naqsyabandiyah tercakup dalam 11 ajaran, 8 berasal dari Abdul Khaliq Ghujdawani dan 3 dari Baha’uddin Naqsyabandi: (Aziz:2011: 142-145)
1. Hush dar dam : “sadar sewaktu bernafas”, suatu latihan konsentrasi: sufi yang bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas, dan ketika berhenti sebentar diantara keduanya.
2. Nazar bar qadam: “menjaga langkah”, sewaktu berjalan, sang murid haruslah menjaga langkah-langkahnya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan agar tujuan-tujuan ruhaninya tidak dikacaukan.
3. Safar dar watan: “melakukan perjalanan di tanah kelahirannya”. Melakukan perjalanan bathin, yakni meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai mahluk yang mulia.
4. Khalwat dar anjuman: “sepi di tengah keramaian”. Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai “menyibukan diri dengan terus menerus membaca zikir tanpa memperhatikan hal-hal lainnya bahkan sewaktu berada ditengah keramaian orang.
5. Yard Kard: “Ingat”, “Menyebut”, terus-menerus mengulang nama-nama Allah.
6. Baz gasyt: “kembali”, memperbaharui. Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang, Sang murid harus membaca setelah zikir tauhid atau ketika berhenti sebentar di antara dua nafas, Formula ilahi anta maqsudi wa ridlaka mathlubi (Ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridhaan-Mulah yang ku cari)
7. Nigah dasyt: “waspada”. Yaitu menjaga pikiran dan perasaan terus menerus sewaktu zikir tauhid, untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran.
8. Yad dasyt: “mangingat kembali”. Penglihatan yang diberkahi secara langsung menangkap Zat Allah, yang berbeda dari sifat-sifat dan nama-nama-Nya.
9. Wuquf Az-Zamani: “Memeriksa Penggunaan waktu seseorang”. Mengamati secara teratur bagaimana seseorang menghabiskan waktunya.
10. Wuquf Al-Adadi: “memeriksa hitungan zikir seeorang”.
11. Wuquf Al-Qalbi: “menjaga hati tetap terkontrol”. Dengan membayangkan hati seseorang (yang di dalamnya secara batin dzikir di tempatkan) berada di hadirat Allah, maka hati tidak sadar akan yang lain kecuali Allah, dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras dengan zikir dan maknanya.

F. Tarekat Tijaniyah

Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Tijani (1150-1230 H/1737-1815 M) yang lahir di ‘Ain Madi, Aljazair Selatan, dan meninggal di Fez, Maroko, dalam usia 80 tahun. Syaikh Ahmad Tijani diyakini oleh kaum Tijaniyah sebagai wali Agung yang memiliki derajat tertinggi, dan memiliki keramat, karena didukung oleh faktor genealogis, tradisi keluarga, dan proses penepaan dirinya.
Ahmad Tijani lahir dan dibesarkan dalam lingkungan tradisi keluarga yang taat beragama. A. Fauzan Fathullah membagi riwayat Syaikh Ahmad Tijani ke dalam beberapa priode: Priode anak-anak (sejak lahir 1150 M- usia 7 tahun), priode menuntut ilmu (usia 7- belasan tahun), priodr sufi (21-31 tahun). Tarekat Tijaniyah memiliki aturan-aturan yang mengikat, priode iyadhah dan mujahadah (31-46 tahun), priode al-Fath al-Akbar (Tahun 1196 H), priode pengangkatan sebagai wali al-khatam (tahun 1214 H).
Tarekat Tijaniyah memiliki aturan-aturan yang harus ditegakkan oleh setiap pengamal tarekat tersebut. Aturan-aturan dalam tarekat Tijaniyah terdiri dari syarat-syarat dan tata karma (sopan santun) terhadap guru, sesama ikhwan, dan terhadap dirinya sendiri. Syarat-Syarat dalam tarekat Tijaniyah terbagi ke dalam dua bentuk: syarat kamaliyah (Syarat penyempurnaan), dan syarat lazimah (syarat pokok). Syarat kamaliah (syarat penyempurnaan) terbagi menjadi dua bagian: syarat lazimah yang berhubungan dengan pribadi murid, syarat lazimah yang berhubungan dengan wirid. Sedangkan tatakrama (sopan santun) yang harus ditegakkan oleh murid Tijaniyah terdiri dari tiga bagian: tata karma terhadap diri sendiri, tata karma terhadap syaikh, tata krama terhadap sama ikhwan.

G. Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN)

Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah ialah sebuah tarekat gabungan dari tarekat Qadiriyyah dan Tarekat Naqsyabandiyyah(TQN). Tarekat ini didirikan Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Ia dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan Shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. Ayahnya bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang menjadi bagian cara hidup masyarakat Kalimantan Barat. Beliau dikenal sebagai penulis kitab Fath Al-Arifin.
Syaikh Naguib al-Attas mengatakan bahwa TQN tampil sebagai sebuah tarekat gabungan karena Syaikh Sambas adalah seorang Syaikh dari kedua tarekat dan mengajarkannya dalam satu versi yaitu mengajarkan dua jenis zikir sekaligus yaitu zikir yang dibaca dengan keras (jahar) dalam tarekat Qadiriyah dan zikir yang dilakukan di dalam hati (khafi) dalam tarekat Naqsyabandiyyah (Syed Naquib: 1990:33).
Adapun kitab Fath Al-Arifin Karangan Syaikh Ahmad Khatib Sambas merupakan kitab sumber ajaran tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah. Manuskripnya hanya terdapat satu buah di perpustakaan Nasional, Jakarta. Kitab tersebut disusun oleh murid beliau Ma’ruf al-Palimbani. Kitab tersebut ditulis secara dengan sangat singkat, namun padat, berisi ajaran-ajaran TQN secara garis besar yang merupakan gabungan dari unsur-unsur ajaran Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah, yaitu cara membaiat, sepuluh macam lathaif, bentuk banyak dari lathifah berarti (titik) halus (di dalam tubuh manusia). Syaikh Sambas menerangkan tentang tiga syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang sedang berjalan menuju Allah, yaitu zikir diam dalam mengingat, merasa selalu diawasi Allah di dalam hatinya dan pengabdian kepada Syaikh, kemudian diakhiri dengan penjelasan rinci tentang dua puluh macam meditasi (muraqabah).
Tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah yang paling aktif dan dinamis yaitu di Suryalaya. Mursyidnya KH Abdul Shohibul Taj Al-Arifin (Abah Anom) telah berhasil mengembangkan cabang-cabangnya, bukan hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Abah Anom juga dikenal telah mendesain kurikulum khusus praktek zikir dan shalat untuk merehabilitasi remaja yang kecanduan obat terlarang dan narkotika dengan membangun pondok Inabah di beberapa cabang TQN Suryalaya, hingga sekarang ini telah berdiri 23 pondok Inabah di dalam dan luar negeri.
Abah Anom telah menulis beberapa karyanya yaitu Miftah Al-shudur, Ibadah sebagai metode pembinaan korban penyalahgunaan narkotika dan kenakalan remaja, Uqud al-Juman, Akhlaq al-Karimah/ Akhlaq al-Mahmudah berdasarkan Mudawamatu Dzikrillah dan menerbitkan maklumat secara tertulis yang disebarkanluaskan ke seluruh cabang TQN Suryalaya, sebagai nasihat dari waktu ke waktu.

Adapun amaliah TQN dilakukan dengan zikir harian. Zikir harian yang dilakukan setiap sesudah shalat wajib, dengan bacaan lailaha illa Allah 165 kali dengan bacaan keras dan diikuti dengan zikir khafi. Adapun yang disebut terakhir ini dianjurkan untuk dilakukan setiap saat. Khataman dilakukan dua kali seminggu, bahkan sejak musibah Irak berlangsung, khususnya di Pesantren Suryalaya, selain yang rutin dua minggu sekali ditambah dengan khataman yang dilakukan setiap hari selesai shalat Maghrib dan shalat Isya, kemudian diteruskan dengan shalat li daf’ al-bala ‘(menolak malapetaka) sebanyak 2 rakaat.

Add a comment...

Post has attachment
Sabar Tiada Batas
Sabar Tiada Batas
justucup.blogspot.com
Add a comment...

Post has attachment
Sabar Tiada Batas
  Kadang kita dihadapi oleh
kata-kata “sabar tidak ada batasnya”. Namun di era modern ini sifat ini begitu
mahal dan langka. Hal ini disebabkan dengan masalah yang pelik menghampiri
hidup manusia. Mulai dari kesabaran di dalam mencari kebutuhan hidup, kesab...
Sabar Tiada Batas
Sabar Tiada Batas
justucup.blogspot.com
Add a comment...

Ironis sekali jika guru agama Islam mendapat kesempatan mengajar hanya seminggu sekali di sekolah, padaha sekolah adalah Institusi transfer ilmu pengetahuan dan mendidik akhlak dan cara bergaul siswa. Dampaknya pesan Islam yang disampaikan tidak dapat dipahami secara menyeluruh. Adapun demikian penulis akan meninjau secara teoritik peran Guru Agama Islam di sekolah Umum. Sehingga hal ini bisa diketahui secara lebih luas baik pembaca maupun guru agama Islam.
Guru secara etimologi yaitu someone whose is to teach in a school or college. Melalui pengertian tersebut bahwa seorang guru harus memiliki kapasitas dan kualitas keilmuan untuk mentransfer ilmu kepada anak didiknya baik di sekolah maupun di tempat kursus.
Adapun guru menurut Ali Mudlofir, guru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal.
Pada pengertian guru di atas maka guru berperan secara keseluruhan di dalam kegiatan proses belajar hingga memberikan nilai secara objektif melalui output ujian akhir. Hal ini menggambarkan bahwa guru mempunyai pandangan secara utuh dan berhak memberikan keputusan secara objektif tentang siswa dan siswi yang diajarkannya.
Sebagai Perbandingan atas “cakupan” sebutan guru ini, di Filipina, seperti tertuang dalam Republic Act 7784, kata guru (teachers) dalam makna luas adalah semua tenaga kependidikan yang menyelenggarakan tugas pembelajaran di kelas untuk beberapa mata pelajaran, termasuk praktik atau seni vokasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (elementary and secondary level).
Adapun pendidik dalam Islam menurut Ahmad Tafsir adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam Islam orang bertanggung jawab tersebut adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik. Tanggung jawab itu disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal pertama karena kodrat, yaitu karena orang tua ditakdirkan menjadi orang tua anaknya, dan karena itu ia ditakdirkan pula bertanggung jawab mendidik anaknya, kedua karena kepentingan kedua orang tua, yaitu orang tua yang berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya, sukses anaknya adalah sukses orang tua juga.
Melihat perspektif definisi guru agama Islam di atas bahwa ada guru agama Islam secara Internal dan Eksternal. Adapun guru Agama Islam secara Internal yaitu orang tua kandung yang mengajarkan moral dan akhlak kepada anaknya mulai dari kecil hingga baligh sehingga terpatri sifat-sifat Islami berupa akhlak mahmudah (akhlak terpuji). Sedangkan guru agama secara eksternal yaitu seseorang yang dianggap orang tua umumnya di sekolah yang memberi pemahaman secara teoritik dan praktik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ajaran agama Islam.
Secara singkatnya Guru Agama Islam yaitu seseorang yang mendidik, mengajarkan, dan membimbing siswa dan siswinya dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam. Namun, di dalam pendidikan agama Islam tersebut harus memenuhi standard baku dari penanaman nilai-nilai Islami dari aqidah, syariat, dan akhlak. Karena ketiga aspek tersebut siswa-siswi dapat mengetahui Islam secara kaffah (menyeluruh).
Ahmad Tasir, di dalam bukunya “Ilmu pendidikan Islami” mengutip pernyataan Soejono tentang syarat guru dalam pendidikan agama Islam, sebagai berikut:
1. Tentang Umur, harus sudah dewasa
Tugas mendidik adalah tugas yang penting karena menyangkut perkembangan seseorang, jadi menyangkut nasib seseorang. Oleh karena itu, tugas itu harus dilakukan secara bertanggung jawab. Itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah dewasa; anak-anak tidak dapat dimintai pertanggungjawaban.
Di Indonesia, seseorang dianggap dewasa sejak ia berumur 18 tahun atau sudah nikah. Menurut ilmu pendidikan adalah 21 tahun bagi lelaki dan 18 tahun bagi perrempuan.
2. Tentang kesehatan, harus sehat jasmani dan ruhani
Jasmani yang tidak sehat akan menghambat pelaksana pendidikan, bahkan dapat membahakan anak didik bila mempunyai penyakit menular. Dari segi ruhani, orang gila berbahaya juga bila ia mendidik.
3. Tentang kemampuan mengajar, ia harus ahli
Ini penting sekali bagi pendidik, termasuk guru (orang tua di rumah) sebenarnya perlu sekali mempelajari teori-teori ilmu pendidikan. Dengan pengetahuannya itu diharapkan ia akan berkemampuan menyelenggarankan pendidikan dengan baik dan menghasilkan anak didik yang berkarakter.
4. Harus berkesusilaan dan berdedikasi tinggi
Syarat ini sangat penting dimiliki untuk melaksanakan tugas-tugas mendidik selain mengajar. Bagaimana guru akan memberikan contoh-contoh kebaikan bila ia sendiri tidak baik perangainya? Dedikasi tinggi tidak hanya diperlukan dalam mendidik selain mengajar; dedikasi tinggi diperlukan juga dalam meningkatkan mutu mengajar.
Munir Mursi tatkala membicarakan syarat guru kuttab (semacam sekolah dasar di Indonesia), menyatakan syarat terpenting bagi guru agama Islam adalah syarat keagamaan. Dengan demikian Syarat Guru dalam Islam adalah sebagai berikut:
1. Umur, harus sudah dewasa
2. Kesehatan, harus sehat jasmani dan ruhani
3. Keahlian, harus menguasai bidang yang diajarkannya dan menguasai ilmu mendidik (termasuk ilmu mengajar)
4. Harus berkepribadian muslim
Untuk itu, guru Agama Islam harus menguasai Ilmu Pendidikan Islam. Pendidikan Islam yang dimaksud yaitu yang berhubungan dengan al-Qur’an dan Hadits. Selain itu Pendidikan Islam berkaitan dengan hukum Islam secara menyeluruh untuk kehidupan manusia dan berhubungan antara dirinya dengan pencipta, alam semesta, dan kehidupan.
Sedangkan menurut Marimba, pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain seringkali beliau mengatakan kepribadian utama dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai Islam.
Melalui dua pengertian diatas mengenai pendidikan Islam, maka penulis mengambil perspektif maka pendidikan Islam yaitu pendidikan yang berdasarkan tuntunan Rasulullah, sebagaimana Rasulullah adalah penyempurna akhlak. Untuk itu untuk menyempurnakan akhlak diperlukan pembelajaran tentang akidah dan syariat Islam yang tidak menyimpang dari apa yang dilakukan Rasululah. Maka diperlukan kurikulum dengan proyek jangka pendek dan panjang. Proyek jangka pendek dengan mencatat ceramah-ceramah di acara-acara tabligh akbar. Sedangkan proyek jangka panjang dengan membuat kegiatan kelompok yang berkaitan dengan humanisme, yaitu bakti sosial, mengajar al-Quran ataupun bidang umum yang siswa-siswi mampu ke anak-anak yang mempunyai ekonomi menengah ke bawah. Hal ini diperlukan karena mata pelajaran agama Islam hanya didapat seminggu sekali di Sekolah Menengah Atas Negeri.
Selain itu metode pengajaran agama perlu diperhatikan oleh guru-guru agama Islam di sekolah tempat mereka mengajar. Al-Nahlawi memberikan metode pengajaran agama Islam yang efektif dan efisien sebagai berikut:
- Metode hiwar Qurani dan Nabawi ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Dalam percakapan itu bahan pembicaraan tidak dibatasi; dapat digunakan berbagai konsep sains, filsafat, seni, wahyu, dan lain-lain. Kadang-kadang pembicaraan itu sampai pada satu kesimpulan, kadang-kadang tidak ada kesimpulan karena satu pihak tidak puas terhadap pihak lain.
- Metode kisah Qurani dan Nabawi adalah metode yang dapat menyentuh hati manusia karena kisah tersebut menampilkan tokoh dalam konteksnya menyeluruh. Karena tokoh cerita ditampilkan dalam konteks yang menyeluruh, pembaca atau pendengar dapat dapat ikut menghayati atau merasakan isi kisah itu, seolah-olah ia sendiri yang menjadi tokohnya.
- Metode Amtsal adalah metode perumpamaan yang digunakan guru sebagai penyadaran sebagai siswa-siswi yang diajarnya. Metode ini tentu saja sama dengan metode kisah yaitu dengan berceramah atau membaca teks. Sebagai contoh guru menjelaskan kepada anak didiknya tentang surat Al-Ankabut ayat 41, Allah mengumpamakan sesembahan atau Tuhan orang kafir dengan sarang laba-laba:
“Perumpamaan orang-orang yang berlindung kepada selain Allah seperti laba-laba yang membuat rumah; padahal rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba”
- Metode peneladanan yaitu seorang guru harus memperlihatkan teladan bagi murid-muridnya. Karena murid-murid cenderung meneladani pendidiknya; ini diakui oleh semua ahli pendidikan, baik dari barat maupun dari timur. Pada dasarnya adalah karena secara psikologis anak memang senang meniru; tidak saja yang baik, yang jelek pun ditirunya.
- Metode pembiasaan adalah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas mengucapkan salam, itu telah dapat diartikan sebagai usaha membiasakan Bila murid masuk kelas tidak mengucapkan salam, maka guru mengingatkan agar bila masuk ruangan hendaklah mengucapkan salam, ini juga satu cara membiasakan.
- Metode ibrah dan I’tibar adalah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi, dengan menggunakan nalar, yang menyebabkan hati mengakuinya. Adapun metode mau’izah adalah nasihat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya.
- Metode targhib adalah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan. Targhib bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Tarhib demikian juga, akan tetapi tekanannya adalah targhib agar melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar menjauhi kejahatan,
- Metode pepujian yaitu metode bagaimana seorang guru mengenalkan kepada murid-murid tentang shalawat nabi Muhammad dan kalimat thayyibah agar dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
- Metode wirid yaitu murid diajarkan pengucapan doa-doa, berulang-ulang. Lafal doa itu bermacam-macam. Biasanya dibaca tatkala selesai salat. Ada juga wirid berupa zikir, ada juga dibaca berulang-ulang dalam jumlah tertentu.
Jika metode-metode tersebut dijalankan oleh guru Pendidikan Agama Islam maka akan menghasilkan murid-murid yang Islami. Artinya murid-murid tersebut akan membawa kesan bahwa dengan mempelajari agama Islam akan menambah kebaikan dan kesadaran untuk menumbuhkan sifat kenabian. Sifat kenabian tersebut mencakup shidiq, amanah, tabligh, dan fatonah.
Commenting is disabled for this post.

Post has attachment
Peran Guru Agama Islam di Sekolah
Ironis
sekali jika guru agama Islam mendapat kesempatan mengajar hanya seminggu sekali
di sekolah, padaha sekolah adalah Institusi transfer ilmu pengetahuan dan
mendidik akhlak dan cara bergaul siswa. Dampaknya pesan Islam yang disampaikan
tidak dapat dipah...
Add a comment...

Mengungkap angka 7 lewat cerita mistikus cinta
Add a comment...

Post has attachment

Post has attachment
Review Buku Apakah Wali itu Ada ?
Judul : Apakah Wali itu Ada? Penulis : Dr. Asep Usman Ismail, M.A Penerbit : RajaGrafindo Persada Tahun Terbit : 2005 Wali merupakan istilah yang ada di dalam dunia tasawuf.  Namun istilah ini begitu berat untuk dimaknai
oleh orang-orang awam. Hal ini diseb...
Add a comment...

ال الرسول صلى الله عليه و السلام : اعملوا فكل ميسر لِما خلق له
Add a comment...
Wait while more posts are being loaded