Profile cover photo
Profile photo
Desa Tangkit Baru
13 followers -
Desa Tangkit Baru, oleh-oleh khas jambi, selai nanas goreng, dodol nanas, wajik nanas, rambutan goreng, ikan patin, nanas, ikan patin.
Desa Tangkit Baru, oleh-oleh khas jambi, selai nanas goreng, dodol nanas, wajik nanas, rambutan goreng, ikan patin, nanas, ikan patin.

13 followers
About
Posts

Post has attachment
Oleh-Oleh Khas Jambi

Post has attachment

Post has attachment
Dari berbagai bentuk usaha yang dikelola oleh masyarakat desa Tangkit Baru, namum belum dianggap berhasil pada masa itu untuk memenuhi hidup sehari-hari, sehingga masih memancing rasa gairah untuk membuka lagi jalur lain yang dianggap belum pernah diadakan percobaan, ternyata masih ada jalur usaha yaitu memelihara ikan.
    Untuk memelihara ikan, diadakanlah suatu percobaan dengan membuat empang pada bagian yang rendah "RAWA" dipinggir sungai, empang percobaan ini merupakan empang raksasa yang berukuran 300X300 depa = 9000 depa bujur sangkar atau dengan ukuran keliling 1200 depa. pembuatan empang tersebut talah menelan waktu selama 3 tahun namun belum selesai juga pembuatannya secara sempurna, melihat keadaan empang tersebut yang belum terselesaikan tetapi telah dapat diperkirakan bahwa ikan yang dapat terjaring didalamnya tidak kurang lebih dari 1 ton dan pada akhir tahun 1985 (pada masa itu) diperkirakan ikan yang dapat terjaring diperkirakan 2 kali lipat, selain dari pada itu masih banyak juga empang-empang yang dibuat dengan bermacam-macam ukuran.
    Dalam rangka pengembangan dan peningkatan usaha perikanan, maka pada tahun 1992 Puang Petta Haji Dunni (Penulis sejarah) mengadakan pertemuan dengan Kepala Dinas Perikanan Tingkat I Jambi di Telanai Pura Jambi, hasil pertemuan tersebut mendapatkan bantuan Rp.60.000 (Enam Puluh Ribu Rupian). Bantuan tersebut digunakan untuk pembelian papan Bakuling, kemudian Puang Petta Haji Dunni membuat disekitar atau disamping sebelah utara kediaman beliau di parit 8 yang sekarang menjadi makam tempat peristirahatan terakhir beliau dengan ukuran luas 3X8 meter yang berkedalaman 1,5 meter, dan papan yang dibeli tadi digunakan sebagai dinding didalam kolam agar ikan tidak membuat lubang dipinggir kolam.
    Pada tanggal 27-10-1982 Kepala Dinas Perikan Tingkat I Jambi, bersama 4 orang staf datang mengisi bibit ikan sejumlah 25 ekor atau dengan berat 5 kg, ikan tersebut adalah induk ikan keli/lele untuk, ikan tersebut sampai 2 tahun lebih tepatnya pada tanggal 1 Januari 1985 pada masa itu belum dapat di pastikan hasilnya dikarenakan kolam tersebut tidak diberi alas papan sehingga pada saat pengambilan ikan langsung terjun masuk kedalam lumpur, ikan lele ini hanya dapat dilihat sewaktu-waktu ketika hujan akan turun saja dikarenakan ikan lele ini secara berganti-gantian muncul pada permukaan air. Dengan prilaku ikan sedemikian ini menjadi bertanda bahwa hujan akan turun dan disinyalir hujan akan turun dengan lebatnya.
    Empang yang diharapkan dapat berproduksi hanyalah empang dengan sistim ikan masuk dengan sendirinya yang tidak perlu diisi dengan ikan seperti : ikan mujair, ikan mas, ikan lemak dan sebagainya, empang seperti ini hanya sedikit mendapat kesulitan pengawasan dikarenakan berjauhan dengan tempat tinggal terutama dimusim kemarau, kesulitan tersebut seperti adanya binatang Berang-berang yang datang secara bergerombolan memakan ikan dan prilaku berang-berang ini sifatnya memilih ukuran makanan dan ikan yang dimakan adalah ikan yang berukuran besar, binatang ini sulit diusir dan dibunuh sebab hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja yaitu pada malam hari.
Photo

Post has attachment
Didesa Tangkit Baru pada tahun 2000 kebawah tradisi makkaremo masih rutin dilakukan setiap tahunnya, apabila musim kemarau tiba masyarakat desa tangkit baru berbondong-bondong mencari ikan disebuah lubuk, berbekal parang panjang dan karung yang tak lupa membawa nasi bungkus dari rumah, namun banyak juga yang membawa bekal makanan hanya nasi dan garam karna pada saat istirahat hasil tangkapan dibakar dan dikasih garam untuk lauknya. perubahan waktu dan jaman modrn ini tradisi makkaremo sudah jarang terlihat meskipun tidak hilang.
Pencarian ikan ini juga mempunyai tempat-tempat ideal yang mana setiap tahunnya masarakat selalu mengunjunginya dan memberikan nama-nama khusus diantaranya di parit 10 nama nya lubuk terung tapi lubuk itu di gemari warga sungai terap, parit 9 masyarakat sering menyebutnya dengan sebutan Lubuk Abbisang Jala, parit 8 lubuk biawang, parit 7 disebut Sebrang, parit 6 disebut dengan Sungai Jernih dan tempat-tampat ikan yang lokasinya kecil disebut dengan Longkang.
Adapun nama-nama ikan yang di dapat diantaranya
1. Bale Bolong (ikan gabus)
2. Bale Tomang (ikan toman)
3. Bale buju' (???)
4. Bale serandang ( ??? ) sudah punah <---<< ikan ini unik bila desentuh dia pura-pura mati
5. Bale ceppe' (ikan Betok)
6. Bale jangkok ( ikan sepat)
7. Bale biawang (tembakang)
8. Oseng (ikan betok besar)
9. Bale aga firolah (fusa) hehe

Namun di antara sekian banyaknya lubuk, di Desa Tangkit Baru mempunyai sebuah empang yang cukup besar, masyarakat Desa Tangkit Baru menyebutnya dengan FANGEMPANG LOPPO'E, empang ini kepunyaan Syekh Muhammad Said (Puang Muhammad) yang digali secara gotong royong oleh masyarakat Desa Tangkit Baru tempo dulu. meskipun disebut empang, empang ini tidak diberi bibit, hanya saja setiap tahunnya rutin di bersihkan dan di ambil ikannya, dikarenakan setiap tahunnya empang ini tenggelam.
Photo
Wait while more posts are being loaded