Profile

Cover photo
fadli adhin
2,061 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

fadli adhin

Shared publicly  - 
 
NAMA: FADLI ADHIN
NPM: 12212628
KELAS: 1EA24
 
SUKU ASMAT
 
 
Sejarah Suku Asmat
 
Seperti telah kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari berbagai jenis suku dengan aneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Suku-suku tersebut ada yang tinggal dipesisir pantai, perkotaan bahkan dipedalaman. Salah satu diantaranya Suku Asmat. Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya di antara berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini, Suku Asmat ada yang tinggal didaerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Dengan kondisi geografis demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai daerah perkampungan satu dengan lainnya. Secara umum, kondisi fisik anggota masyarakat Suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat. Disamping itu, Suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia, yang juga terdapat di New Zealand, Papua Nugini.
 
 
Kehidupan Adat Istiadat Suku Asmat
 
Suku Asmat adalah sebuah suku di papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. populasi Suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal dipesisir pantai dan mereka yang tinggal dibagian pedalaman. kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal cara hidup, sturktur sosial dan ritual. populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi kedalam dua bagian yaitu suku bisman yang berada di antara sungai sinesty dan sungai nin serta suku simai.
 
Adat Kebiasaan
 
Dalam kehidupan masyarakat Suku Asmat, masih banyak kebiasaan yang sangat aneh. Salah satunya, kebiasaan mereka yang sangat mengerikandan sulit diterima akal sehat, yaitu saat mereka membunuh musuhnya. Mereka masih menggunakan cara-cara zaman prasejarah. Setelah dibunuh, mayat musuh tersebut dibawa pulang ke kampung. Di kampung, mayat tersebut dipotong-potong, lalu dibagi-bagi keseluruh penduduk. Para penduduk itu berkumpul dan memakan potongan mayat bersama-sama.
Ketika memakan mayat itu bersama-sama, para penduduk menyanyikan lagu yang mereka sebut dengan lagu kematian. Tak cukup sampai di sana, mereka pun memenggal kepala si mayat. Otak mayat itu diambil, kemudian dibungkus dengan daun sagu. Setelah itu, otak tersebut dipanggang untuk dimakan bersama-sama.
Orang-orang Asmat pandai membuat hiasan ukiran. Hebatnya, mereka membuat ukiran tanpa membuat sketsa terlebih dahulu. Ukiran-ukiran yang mereka buat memiliki makna, yaitu persembahan dan ucapan terima kasih kepada nenek moyang. Bagi Suku Asmat, mengukir bukan pekerjaan biasa. Mengukir adalah jalan bagi mereka untuk berhubungan dengan para leluhur. Orang-orang Suku Asmat percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal dapat menyebabkan bencana bagi orang yang masih hidup, menyebabkan peperangan, juga menyebarkan penyakit. Untuk menghindari hal tersebut, orang-orang Suku Asmat akan membuat patung dan menyelenggarakan berbagai macam pesta. Di antaranya adalah Pesta Bis, Pesta Perah, Pesta Ulat Sagu, dan Pesta Topeng.
 
Berhias
 
Kehidupan Suku Asmat belum banyak terpengaruh oleh kehidupan modern. Salah satu contohnya adalah kebiasaan berhias. Mereka masih berhias sesuai dengan cara mereka sendiri. Mereka mencoreng wajah dengan berbagai warna. Warna-warna tersebut mereka peroleh dengan cara yang sangat sederhana. Warna yang mereka gunakan untuk menghias wajah adalah warna merah, putih, dan hitam. Untuk warna merah, mereka dapatkan dari tanah merah yang banyak di sekitar mereka. Warna putih mereka dapatkan dari kulit kerang yang sebelumnya ditumbuk sampai halus. dan warna hitam, mereka dapatkan dari arang kayu, yang juga ditumbuk sampai halus. Selain budaya, penduduk kampung syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti suku asmat pada umumnya. Ukiran bagi suku asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran suku asmat. Patung dan ukiran umumnya mereka buat tanpa sketsa. bagi suku asmat kala mengukir patung adalah saat dimana mereka berkomunikasi dengan leluhur yag ada di alam lain, itu dimungkinkan karena mereka mengenal tiga konsep dunia: Amat ow capinmi (alam kehidupan sekarang), Dampu ow campinmi (alam pesinggahan roh yang sudah meninggal), dan Safar (surga). Percaya sebelum memasuki dusurga arwah orang sudah meninggal akan mengganggu manusia. gangguan bisa berupa penyakit, bencana bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat sagu.
Konon patung bis adalah bentuk patung yang paling sakral. namun kini membuat patung bagi suku asmat tidak sekadar memenuhi panggilan tradisi. sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat pesta ukiran. mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp. 100 ribu hingga jutaan rupiah diluar papua.
 
Mata Pencaharian
 
Kebiasaan bertahan hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya di wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. suku asmat darat, suku citak dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu binatang hutan seperti ular, kasuari, burung, babi hutan, komodo dll. Mereka juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makanan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan.
 
Rumah Suku Asmat
Suku Asmat adalah suku yang memegang kuat filosofi hidup dan nilai-nilai kesopanan. Hal itu juga termasuk dalam cara mereka membangun rumah adat Suku Asmat tanpa adanya campur tangan jasa arsitek di dalamnya.
1.Rumah Jew 
 
 
Rumah adat Suku Asmat yang dikenal dengan nama Jew, adalah rumah yang khusus diperuntukkan bagi pelaksanaan segala kegiatan yang sifatnya tradisi. Misalnya untuk rapat adat, melakukan pekerjaan membuat noken (Tas Tradisional Suku Asmat), mengukir kayu, dan juga tempat tinggal para bujang. Oleh karena itu, rumah Jew juga disebut sebagai Rumah Bujang. Rumah ini unik karena dibangun sangat panjang, bahkan hingga mencapai 50meter. Karena masyarakat Asmat kuno belum mengenal paku, maka pembuatan rumah Jew sampai saat ini tidak menggunakan paku.    
 
2.Rumah Tysem
 
 
Ada satu lagi rumah adat Suku Asmat yaitu, Tysem. Rumah ini bisa juga disebut sebagai rumah keluarga, karena yang menghuni adalah mereka yang telah berkeluarga. Biasanya, ada 2 sampai 3 pasang keluarga yang mendiami Tysem. Ukurannya lebih kecil daripada rumah Jew. Letak rumah Tysem biasanya di sekeliling rumah Jew. Sebuah rumah Jew dapat dikelilingi oleh sekitar 15 sampai 20 rumah Tysem. Bahan membangun rumah Tysem hampir sama dengan bahan pembuat rumah Jew. Semua dari bahan alami yang terdapat di hutan sekitar lokasi Suku Asmat berada.
 
Pakaian Adat
 
Suku Papua di Irian Jaya memiliki beberapa keunikan yang begitu istimewa, adatistiadat, bahasa, dan terlebih pakaian adatnya. Baju adat Irian Jaya, Suku Asmat, adalah koteka. Koteka biasa dikenakan oleh kaum lelaki yang tinggal di sekitar wilayah Wamena. Koteka terbuat dari kulit labu yang panjang dan sempit, berfungsi untuk menutup bagian alat reproduksi kaum lelaki. Penggunaannya diikatkan pada tali yang melingkar dipinggang.
 
Kesenian
 
Siapa yang tak tahu Tifa? Itulah alat musik tradisional suku Asmat. Bentuknya bulat memanjang mirip seperti gendang. Di permukaan tifa terdapat ukiran, menggambarkan lambang yang diambil dari patung Bis. Patung Bis adalah patung yang dianggap sakral oleh suku Asmat. Tifa ini biasa dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional suku Asmat, yaituTari Tobe atau yang disebut dengan Tari Perang.
Tari Tobe sering dimainkan saat ada upacara adat. Tarian ini dilakukan oleh 16 orang penari laki-laki dan 2 orang penari perempuan. Dengan gerakan yang melompat atau meloncat diiringi irama tifa dan lantunan lagu-lagu yang mengentak, membuat tarian ini terlihat sangat bersemangat. Tarian ini memang dimaksudkan untuk mengobarkan semangat para prajurit untuk pergi ke medan perang.
 
SUMBER :
-http://indonesian-story.com/kunjungan/sejarah-adat-istiadat-suku-asmat/ -http://debuh.com/berita-uncategorized/makalah-suku-asmat-keterampilan-adat-istiadat/16818/  
 ·  Translate
1
Add a comment...

fadli adhin

Shared publicly  - 
 
Nama : Fadli Adhin
NPM : 12212628
Kelas : 1EA24
Tari Selamat Datang (Tarian Tradisional Papua)
 
 
Papua adalah kepulauan yang kebudayaannya sangat masih tradisional dengan keaslian adat istiadat dan kehidupan sehari-hari yang sangat kuno jika kita lihat dari segi era globalisasi seperti sekarang ini. Namun dengan hal tersebut papua mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu dari segi budaya,suku,ras dan etnis yang tidak banyak kita temukan di seluruh kepulauan Indonesia.
 
Saya akan membahas salah satu tarian yang berasal dari papua yang mempunyai keunikan dengan gerak dan alat musiknya, yaitu Tarian Selamat Datang.
 
Tarian selamat datang merupakan tarian yang menunjukkan kegembiraan hati penduduk dalam menyambut para tamu yang dihormati. Tarian ini biasa diperagakan pada saat kunjungan tamu, pada saat ada tamu kehormatan yang datang dari kota maupun desa tetangga tarian ini pasti dipersembahkan kepada para tamu kehormatan, untuk memberi rasa hormat dan rasa kegembiraan penduduk maupun ketua suku terhadap tamu kehormatan yang telah mengunjungi desa mereka.

Tarian ini memiliki gerakan khas seperti tari-tarian lain dari Papua yaitu gerakan yang semangat, dinamik dan menarik. Kekhasan yang lain adalah keunikan pakaian daerah serta aksesorisnya yang membuat tarian ini menarik, mungkin kalau kita melihat dari segi era globalisai seperti sekarang ini pasti kita melihat pakain maupun aksesoris dari tarian ini sangat kuno, karena tidak bisa dipungkiri bahwa zaman sekarang ini adalah zaman fashion. Tapi disitulah keunikan dari pakaian dan aksesoris tarian ini yang mengedepankan keaslian dan ketradisionalannya.

Tarian ini diiringi oleh musik yang dimainkan oleh beberapa orang atau Group musik. Regu musisi yang memainkan alat musik untuk mengiringi penari terdiri dari alat musik seperti Gitar, Ukulele, Tifa, dan Bass Akustik. Ukulele, Tifa dan Stem Bass yang biasanya semua alat musik ini di buat sendiri. Walaupun orang papua sangat tradisional tapi mereka bisa membuat alat musik yang bisa mengkolaborasikan alat musik tradisional dengan tarian ini sehingga menampilkan pertunjukan yang luar biasa yang bisa memuaskan hati pemirsa yang menonton pertunjukan Tarian ini.
 
SUMBER : http://paninggih.blogspot.com/2012/07/tarian-selamat-datang-dari-papua.html
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 ·  Translate
1
Add a comment...
Basic Information
Gender
Male