Profile

Cover photo
yose aldo
Attended SMA Tarsisius II, Batusari, Jakarta
Lived in Jakarta
69 followers|58,809 views
AboutPostsPhotosYouTubeReviews

Stream

yose aldo

Shared publicly  - 
 
This tech is totally NOT new.
It's came from 1700.
But this tech can write a poem, draw a sketch pictures, with it's own hand.
Without any electronic devices, without any high tech processor, only using mechanic.
This is :
"THE AUTOMATON"

JAQUET DROZ PRESS CONFERENCE "AUTOMATES ET MERVEILLES"

*)event Asimo can't do anything like this. :D
1
yose aldo's profile photoJaquet Droz's profile photo
2 comments
 
That's totally magnificant.
I like those tech very much.
Add a comment...

yose aldo

Shared publicly  - 
 
Mengapa Dokter di Negara Maju Pelit Obat?

Belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dr. Knol.

“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection,” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see?” batinku meradang.

Ya, aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain.

“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.

“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”

Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter di sini pelit obat. Karena itu, aku membawa obat dari Indonesia.

Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya bertambah. Aku kembali ke dokter. Dia tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.

Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,

“Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau!

Setibanya di rumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.

“Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya. Mau 37, 38 apa 39 derajat, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!”

Sewaktu praktik menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi secuil-secuil ilmu kudapat. Seperti orang travelling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, dua hari ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas berdiam di Berlin dan Swiss, waktu habis. Tibalah saat pulang ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama. Banyak negara dan kota di Eropa belum disambangi. Itulah kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah yang kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng, kami mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, Lala, putri pertamaku sakit. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia. Batuknya tak hilang dan ingusnya masih meler. Lima hari kemudian, Lala kubawa ke huisart.

“Just drink a lot,” katanya ringan.

“Apa nggak perlu dikasih antibiotik, Dok?” tanyaku tak puas.

“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.

Lalu ngapain dong aku ke dokter,tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq!

“Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak.”

Ternyata isi obat Thyme itu hanya ekstrak daun thyme dan madu.

Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.

Putriku sembuh. Sebulan kemudian sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit.

“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya?”

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya, huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”

“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,”

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”

“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.

Aku pulang dengan perasaan malu. Barangkali si dokter benar, aku selama ini kurang belajar.

Setelah aku beradaptasi dengan kehidupan di Belanda, aku berinteraksi dengan internet. Aku menemukan artikel Prof. Iwan Darmansjah, ahli obat-obatan Fakultas Kedokteran UI.

“Batuk – pilek beserta demam yang terjadi 6 – 12 bulan masih wajar. Observasi menunjukkan kunjungan ke dokter terjadi 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.”

“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan penanganannya, Pertama, obat diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Duuh…kemana saja aku selama ini. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho!.

Di Belanda ‘dipaksa’ tak pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak, kondisi anakku jauh lebih baik. Mereka jarang sakit.

Aku tercenung mengingat ‘pengobatan rasional’. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yg kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan aku panik dan membawa ke dokter, sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional!

Sistem kesehatan Belanda menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Aku baru mengetahui ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga banyak negara termasuk Amerika Serikat, dipakai secara luas untuk anak-anak. Tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen tersedia di apotek dan boleh digunakan usia anak diatas 6 bulan, di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama anak demam.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan. Karena kekurangan dan ketidakmampuan penyakit anak sehari-hari, orang desa relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, cukup berduit, melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Aku sadar. Telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ konsultasi, memastikan diagnosa penyakit dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Di Indonesia, ke dokter = dapat obat?

Sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan. []

Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum,
 ·  Translate
1
Add a comment...

yose aldo

Shared publicly  - 
 
The super easiest way to have a lot of money.
Just copy and paste it.
Lol !!!
 
1
Add a comment...

yose aldo

Shared publicly  - 
 
BBM Controller application.
Trial version.
Developed by : Yose Aldo .
On Oct , 22 . 2013.

https://docs.google.com/file/d/0B84hSwKAccOXQ3NYYW9MUnlOLWM/edit?usp=sharing

This application was created to make it easier for us to manage BlackBerry Messenger ( BBM ) .

As many people already know , the Blackberry Messenger application that originally created just for hp Blackberry , beginning on October 22, 2013 can be used in smartphones - smartphone that uses the Android operating system .

With the application of BBM Controler , we can download the BBM application to disable ( turn off BBM app ) at any time more easily .

We DO NOT NEED :
- Disabling the internet connection in our Android smartphone ,
- Turning off our smartphones ,
- Uninstalling the BBM app,
- Hassle did " force close " ( settings > manage app > BBM > force close ) ,
- Turning off our WiFi connection .

So that we could stay focused use our smartphones for other purposes and stay connected with the internet connection .

BBM Controller app does NOT NEED :
- Access to the phonebook .
- Active all the time so it can spend our Android smartphone battery .
- Access to the internet .
- Access to contact in any application .
- Access to control every message entry / exit .
- This app does NOT uninstall your BBM application , but only make it non - active.

Requirements to be able to use BBM Controller application is :
+ Android Smartphone already in ROOT .
+ Android Smartphone applications already installed BBM.
+ Minimal Android is version 4.0 ( ICS ) .
+ Minimum ROM storage is 3 Megabytes.

Note :
> During the application of fuel off / non - active , then all BBM messages ( of contact of individuals, of groups , or Broadcast ) will not be entered into our Android smartphones .
> When the application is reactivated BBM ( it can be activated from the option "Activate fuel " or clicking the icon in the application drawer fuel our smartphones ) , then all the messages that have been sent to our BBM app will come automatically.
> If there is a message sent at the time of application of BBM we 're off / non - active , then the mark will appear at the fuel sender is a " D " or Delivered / Sent .

Please try using the Controller BBM application . :)

If you have problems with the application of fuel Controller , please contact yosealdo@gmail.com.
1
Ester Tjhoa's profile photo
 
kerennnnn!
Add a comment...
Have him in circles
69 people
Daniel Nwankwo's profile photo
Hendri Bekti's profile photo
adhi krisna's profile photo
muhammad gozali's profile photo
deni ikhsanudin's profile photo
Yudi Adipurnomo's profile photo
laiwai soon's profile photo

yose aldo

Shared publicly  - 
 
*•.¸˚*•.¸`*•.¸☆ ː̗̀☀̤̣̈̇ː̖́ ☆¸.•*˚
˚*•.¸`•.¸˚*•.¸.•*˚¸.•´¸.•*˚
╔╗╔╦══╦═╦═╦╗╔╗
║╚╝║══║═║═║╚╝║
║╔╗║╔╗║╔╣╔╩╗╔╝
╚╝╚╩╝╚╩╝╚╝• NEW YEAR •
> > > > 2 0 1 4 < < < <
,.•*´¸.•*˙,.•*´˚`*•.,˙*•.¸`*•.,
,.•*´¸.•*˙,.•*´ ★ ː̗̀☀̤̣̈̇ː̖́ ★

Semoga semua diberikan keselamatan, kesehatan, kesejahteraan, dan keberhasilan dalam segala hal.
‎( ~ _ ~ )
(“”)(“”) O:)•Amien• O:)


 ·  Translate
1
Ester Sd's profile photo
 
Amen... Tuhan memberkati Yose dan Keluarga:)
 ·  Translate
Add a comment...

yose aldo

Shared publicly  - 
 
Don't judge by the look of this picture, but just enjoy the simple way to make a 3D shape like this picture.
:)
+Ester Sd 
 
trippy #gif  
3
1
yose aldo's profile photoEster Sd's profile photoMark Gonzales's profile photoIrvan Adrian's profile photo
4 comments
 
Bener sekali
 ·  Translate
Add a comment...

yose aldo

Shared publicly  - 
 
Aplikasi BBM Controller.
Trial version.
Developed by : Yose Aldo.
On Oct, 22. 2013.

https://docs.google.com/file/d/0B84hSwKAccOXQ3NYYW9MUnlOLWM/edit?usp=sharing

Aplikasi ini dibuat untuk lebih memudahkan kita untuk mengatur aplikasi BlackBerry Messenger (BBM).

Seperti yang sudah diketahui banyak orang, aplikasi Blackberry Messenger yang awalnya dibuat hanya untuk hp Blackberry, sejak tanggal 22 Oktober 2013 sudah bisa digunakan di smartphone-smartphone yang menggunakan sistem operasi Android.

Dengan aplikasi BBM Controler ini, kita bisa men-non-aktifkan aplikasi BBM (mematikan aplikasi BBM) itu setiap saat dengan lebih mudah.

Kita TIDAK PERLU :
- Men-non-aktifkan koneksi internet pada smartphone Android kita,
- Mematikan smartphone kita,
- Meng-uninstall aplikasi BBM itu sendiri,
- Repot melakukan "force close" (setting > manage app > BBM > force close ),
- Mematikan koneksi WiFi kita.

Sehingga kita bisa tetap fokus menggunakan smartphone kita untuk keperluan yang lainnya dan tetap terhubung dengan koneksi internet.

Aplikasi BBM Controller ini TIDAK MEMBUTUHKAN :
- Akses ke phonebook.
- Aktif setiap saat sehingga bisa menghabiskan batere smartphone Android kita.
- Akses ke internet.
- Akses ke contact di aplikasi apapun.
- Akses untuk mengendalikan setiap pesan masuk / keluar.
- Aplikasi ini TIDAK meng-uninstall aplikasi BBM anda, melainkan hanya membuatnya non-aktif / mati saja.

Syarat untuk bisa menggunakan aplikasi BBM Controller ini :
+ Smartphone Android sudah di ROOT.
+ Smartphone Android sudah terinstall aplikasi BBM.
+ Minimal sudah terinstall Android versi 4.0 (ICS).
+ Minimal ROM tersisa 3 Megabytes.

Catatan :
> Selama aplikasi BBM dimatikan / non-aktif, maka semua pesan BBM (dari contact perorangan, dari group, maupun Broadcast) tidak akan masuk ke smartphone Android kita.
> Saat aplikasi BBM diaktifkan kembali (bisa diaktifkan dari pilihan "Activate BBM" maupun meng-klik icon BBM di application drawer smartphone kita), maka semua pesan yang sudah dikirimkan ke BBM kita akan masuk secara otomatis.
> Jika ada pesan dikirimkan pada saat aplikasi BBM kita sedang dimatikan / non-aktif, maka tanda yang akan tampil di BBM pengirimnya adalah "D" atau Delivered / Terkirim.

Silahkan dicoba menggunakan aplikasi BBM Controller ini. :)

Jika menemui masalah dengan aplikasi BBM Controller ini, silahkan hubungi yosealdo@gmail.com.
1
Add a comment...

yose aldo

Shared publicly  - 
1
Add a comment...
People
Have him in circles
69 people
Daniel Nwankwo's profile photo
Hendri Bekti's profile photo
adhi krisna's profile photo
muhammad gozali's profile photo
deni ikhsanudin's profile photo
Yudi Adipurnomo's profile photo
laiwai soon's profile photo
Education
  • SMA Tarsisius II, Batusari, Jakarta
    IPS, 1993 - 1996
  • Uksw, Salatiga, Jawa Tengah
    Marketing Management, 1996 - 2002
Basic Information
Gender
Male
Looking for
Friends, Networking
Apps with Google+ Sign-in
Story
Introduction
Wow !! It's me.
Places
Map of the places this user has livedMap of the places this user has livedMap of the places this user has lived
Previously
Jakarta - Malang - Semarang
Links
YouTube
Contributor to
Salah posisi di peta. Tolong diperbaiki.
Public - 8 months ago
reviewed 8 months ago
Mampu menjamin kualitas kecepatan koneksi internet.
Public - a year ago
reviewed a year ago
2 reviews
Map
Map
Map