Profile cover photo
Profile photo
Pengadilan Agama Bojonegoro
About
Pengadilan Agama's posts

Post is pinned.Post has attachment
PhotoPhotoPhotoPhotoPhoto
Rapat Dinas Optimalisasi Kinerja
49 Photos - View album

Post has attachment

Post has attachment
PhotoPhotoPhotoPhotoPhoto
Rapat Terbatas September 2015
11 Photos - View album

Post has attachment
PhotoPhotoPhotoPhotoPhoto
Upacara Ulang Tahun MA 2015
39 Photos - View album

Post has attachment

Post has attachment
Ketika ada petinggi partai yang mengaku partai dakwah di panggil KPK, banyak orang kaget, bingung bahkan mengumpat-umpat, masalahnya bukan kasus korupsinya tapi mengapa partai yang mengaku partai dakwah, yang petinggi partainya tampak islami, ke mana-mana dipanggil ust. fasih bahasa arab, (bahasa yang menjadi simbol Islam), pandai mengaji, sholat dan puasa tidak henti, bahkan hajinya berkali-kali. Kok melakukan sikap yang kontradiktif. Ada moral ganda, di satu sisi seakan-akan taat agama, tapi bersamaan dengan itu melakukan tindakan yang dilarang Agama. Mengapa tidak ada korelasi antara prilaku beragama dengan perbuatan yang di lakukan. Kenapa orang-orang yang kelihatan taat pada ritual agama hidupnya ada karakteristik prejudice, kepribadian otoriter, fanatisme kesukuan (etnosentrisme), konservatisme politik dan ekonomi, dan anti semitisme.
 
Para psikolog pernah berdebat tentang apa yang mereka sebut sebagai the great paradoxes of the psychology of religion. Mereka tidak mengerti mengapa agama yang mengajarkan persaudaraan, di antara sesama manusia melahirkan para pemeluk yang memiliki tingkat prasangka yang tinggi. Penelitian demi penelitian menunjukkan ada hubungan yang erat antara perilaku beragama (seperti rajin beribadah, Ia Sholat, Puasa, Haji, Zakat, pandai Mengaji, sering pergi ke masjid) dengan prasangka, Secara sederhana, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa makin rajin orang beribadah, makin besar prasangkanya pada kelompok manusia yang lain.
Prasangka adalah pandangan menghina terhadap kelompok lain. Anggota-anggota kelompok lain dianggap inferior, lebih rendah derajatnya, tidak sepenuhnya dianggap manusia. Untuk itu, kepada kelompok lain itu digunakan label-label atau gelar-gelar yang melepaskan mereka dari sifat kemanusiannya. Kita menyebut mereka munafik, sesat, pengikut setan, Bahkan mungkin dia kafir atau bukan dari kelompok kita. Setelah dicabut dari segala sifat manusianya, mereka tidak patut lagi dikasihani dan karena itu boleh saja difitnah, dirampas haknya, dianiaya, atau sedikitnya dicampakkan kehormatannya. Mereka dianggap sebagai sumber segala sifat buruk : malas, immoral, tidak jujur, bodoh, jahat, kejam, dan sebagainya. Jadi, sangat mengherankan, orang-orang saleh sering menampakkan prasangka (prejudice) lebih besar dari orang yang kurang saleh.
Allport berusaha menjawab paradoks ini dengan membagi dua macam keberagamaan: tidak dewasa dan dewasa. Keberagamaan yang tidak dewasa, agamanya anak-anak, memandang Tuhan sebagai “Bapak” yang bertugas melayani kehendaknya: merawat, menjaga, mengurus segala keperluannya. Keberagamaan seperti ini cocok untuk masa kanak-kanak, tetapi menjadi disfungsional ketika orang beranjak dewasa. Kelak Allport merevisi teorinya dengan menyebutnya keberagamaan ekstrinsik dan keberagamaan intrinsic. Menurut Allport, dalam orientasi ekstrinsik, orang menggunakan agama untuk tujuan-tujuan pribadi. Nilai-nilai ekstrinsik bersifat instrumental dan utilitarian. Agama digunakan untuk berbagai tujuan – mendapatkan rasa aman, status, atau pembenaran diri. Dalam bahasa teologi, tipe eksrinsik menghadap Tuhan tanpa berpaling dari dirinya. Buat orang yang berorientasi intrinsic, motif keagamaan diletakkan di atas segala motif pribadi. Sekedar contoh, ketika seorang Muslim berjuang, ia meletakkan ke – ridhoNya Tuhan di atas segala kebutuhan pribadinya. “Ridho dari Allah lebih besar” (Al Quran 9 : 72). Ia akan mengorbankan kepentingan kelompoknya jika kepentingan itu menyebabkan ia tidak dapat lagi memenuhi kehendak Ilahi.
Dalam hal puasa orang-orang intrinsic berusaha meniadakan diri dan menenggelamkan diri pada Allah Swt. Walaupun sebelum sampai ke situ, seorang intrinsic harus menjalankan tarekat puasa. Di sini ia mengendalikan semua alat inderanya yang lahir dan bathin dari melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Allah Swt. Ia bukan saja mengendalikan mulutnya dari menyebarkan gossip, intrik, makian, dan ancaman, tetapi juga mengendalikan daya khayalnya dari rencana-rencana jahat atau niat-niat buruk. Ia tidak saja menutup mata lahirnya dari pandangan yang dilarang Allah Swt, tetapi juga juga menutup daya pikirnya dari melakukan kelicikan, pengkhianatan, dan penyelewengan. Itulah cara beragama orang intrinsic.
Dengan sangat mengagumkan “survey membuktikan” bahwa Prasangka (prejudice) memang hanya berkaitan dengan orientasi keberagamaan yang ekstrinsik. Dalam istilah syariat puasa, prejudice dan juga penyakit-penyakit psikologis lainnya hanya berkaitan dengan orang yang menjalankan puasa untuk kehendak dirinya. Orang yang menikmati puasa hanyalah orang yang melakukan puasa karena keimanan dan karena memenuhi kehendak Ilahi. Inilah puasa yang difirmankan Tuhan : “Puasa hanyalah untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya.” Puasa yang dilakukan bukan untuk Allah Swt. adalah puasa tanpa jiwa. Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa.
____________________________
Penulis: Drs. H. Sholikhin Jamik,S.H.
Penggiat bidang Pengembangan Religion DJangleng Institute Bojonegoro.


Post has attachment
“Pada suatu hari seseorang menemui Nabi Syuaib, dan berkata “ Allah SWT telah melihat semua perbuatan buruk yang aku lakukan. Tetapi karena kasih sayangNya, Allah SWT tidak menghukumku. Saat Nabi Syuaib bertemu Allah SWT kemudian Allah SWT berbicara kepada Nabi Syuaib: Katakan kepada dia, Allah SWT telah menjatuhkan hukuman, tetapi kamu tidak menyadarinya. Bukankah kamu makin lama makin buta pada hal-hal yang bersifat rohaniah? Di kala kau berhenti tafakur, tumpukan karat menembus masuk ke cermin jiwamu. Tak ada lagi sinar di dalamnya, gelap gulita.

Post has attachment

Post has attachment
Bojonegoro - Briefing mengenai peluang kerjasama Pengadilan Agama Bojonegoro dengan Bank Syariah Mandiri Bojonegoro di Aula Pengadilan Agama Bojonegoro dengan pembicara marketing officer Bank Syariah Mandiri Bojonegoro.
PhotoPhotoPhotoPhotoPhoto
Briefing Peluang Kerjasama Oleh Bank Syariah Mandiri
17 Photos - View album

Post has attachment
PhotoPhotoPhotoPhotoPhoto
Kepegawaian
27 Photos - View album
Wait while more posts are being loaded