Profile

Cover photo
kwon tyty
1,170 views
AboutPostsPhotosVideos

Stream

kwon tyty

Shared publicly  - 
 
OBAT PILIHAN : PROTON PUMP INHIBITOR
 Omeprazole
• Nama generik : Omeprazole
• Nama dagang : Lambuzole, Loklor, Losec, OMZ, Prilos, Protop, Pumpitor, Socid, Contral, Dudencer, Norsec, Opm, Onic, Promezol, Stomacer, Prohibit, Ulzol, Zollocid, Zepral, Lokev, Meisec, Omevell, Ozid
• Indikasi : pengobatan heartburn dan gejala lain yang berhubungan dengan GERD, pengobatan jangka pendek (4-8 minggu) erosive esofagitis yang didiagnosa secara endoskopi, pemeliharaan penyembuhan erosive esofagitis.
• Kontraindikasi : hipersensitif omeprazole, turunan benzimidazole (esomeprazole, lanzoprazole, pantoprazole, rabeprazole), atau terhadap komponen lainnya dalam formula
• Bentuk sediaan : kapsul
• Dosis dan aturan pakai :
• Oral
Anak-anak ≥ 2 tahun :
< 20 kg : 10 mg 1 x sehari
≥ 20 kg : 20 mg 1 x sehari
• Dewasa :
GERD dengan gejala : 20 mg/hari selama 4 minggu
Esofagitis erosif : 20 mg/hari selama 4-8 minggu
• Efek samping : Sakit kepala, pusing, ruam, diare, nyeri perut, mual, muntah, kentut, konstipasi, kehilangan rasa, lemah, nyeri punggung, infeksi saruran pernapasan atas, batuk
• Resiko khusus : Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan mnyusui. Resiko kehamilan : faktor C. Tidak dianjurkan bagi pasien menyusui.
Lansoprazole
• Nama generik : Lansoprazole
• Nama dagang : Betalans, Laz, Prosogan, Prolanz, Compraz, Digest, Gastrolan, Laproton, Lasgan, Protica, Solans, Sopralan, Ulceran, pysolan, Inhipraz, Loprezol
• Indikasi : pengobatan jangka pendek GERD dengan gejala, pengobatan jangka pendek semua tingkatan esofagitis erosif
• Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap lansoprazole, turunan benzimidazole (esomeprazole, omeprazole, pantoprazole, rabeprazole) atau terhadap komponen lainnya dalam formula
• Bentuk sediaan : kapsul
• Dosis dan atuan pakai :
Anak-anak 1- 11 tahun
Pada GERD, esofagitis erosif :
< 30 kg : 15 mg 1 x sehari
≥ 30 kg : 30 mg 1 x sehari
Catatan : dosis dapat ditingkatkan pada pasien jika gejala masih tampak setelah pengobatan 2 minggu atau lebih.(dosis maksimum 30 mg, 2 x sehari)
Anak-anak 12-17 tahun
GERD non-erosif : 15 mg 1x sehari hingga selama 8 minggu
Esofagitis erosif : 30 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu
Dewasa
GERD dengan gejala : pengobatan jangka pendek : 15 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu
Esofagitis erosif : Pengobatan jangka pendek : 30 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu, pengobatan dapat dilanjutkan 8 minggu lagi untuk pengulangan atau untuk pasien yang tidak sembuh setelah pengobatan selama 8 minggu; terapi pemeliharaan : 15 mg 1 x sehari
• Efek samping : Sakit kepala, nyeri perut, konstipasi, diare, mual.
• Resiko khusus : Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan mnyusui. Resiko kehamilan : faktor B, penggunaan selama kehamilan hanya jika dibutuhkan. Pada kerusakan fingsi hati dianjurkan penurunan dosis, sebaikanya tidak diberikan pada anak-anak < 1 tahun. Tidak dianjurkan bagi pasien menyusui.
Pantoprazole
• Nama generik : Pantoprazole
• Nama dagang : Pantozol
• Indikasi : Pengobatan dan pemeliharaan penyembuhan esofagitis erosif yang berhubungan dengan GERD. Mengurangi tingkat kekambuhan gejala heartburn dalam sehari dan malam hari pada GERD
• Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap pantoprazole, turunan benzimidazole (esomeprazole, omeprazole, lansoprazole, rabeprazole) atau terhadap komponen lainnya dalam formula.
• Bentuk sediaan : tablet
• Dosis dan aturan pakai :
Oral
Dewasa :
Pada Esofagitis erosif berhubungan dengan GERD :
Pengobatan : 40 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu , pengobatan dapat dilanjutkan 8 minggu lagi untuk pasien yang tidak sembuh setelah pengobatan selama 8 minggu.
Pemeliharaan penyembuhan : 40 mg 1 x sehari
Catatan : dosis yang lebih rendah (20 mg 1x sehari)telah terbukti sukses digunakan pada pengobatan dan pemeliharaan GERD ringan.
• Efek Samping : Nyeri dada, sakit kepala, insomnia, pusing, migrain, ansietas, ruam, hiperglikemia, hiperlipidemia, diare, kentut, nyeri perut, muntah, mual, konstipasi, dispepsia, gastroenteritis, kerusakan rektal, infeksi saluran kencing, perubahan frekuensi buang air kecil, keabnormalan fungsi hati., athralgia, nyeri punggung, nyeri leher, lemah,hypertonia, bronkitis, batuk, dyspnea, faringitis, rinitis, sinusitis, infeksi saluran pernafasan atas.
• Resiko khusus : Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan mnyusui. Resiko kehamilan : faktor B, penggunaan selama kehamilan hanya jika dibutuhkan. Tidak dianjurkan bagi anak-anak. Tidak dianjurkan bagi pasien menyusui.
 ·  Translate
1
Add a comment...

kwon tyty

Shared publicly  - 
 
GERD (Gastrointestinal Esophageal Reflux Disease)

PENGERTIAN
Gastrointestinal Esophageal Reflux Disease (GERD), merupakan gerakan membaliknya isi lambung (mengandung asam dan pepsin) menuju esophagus.

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Seiring dengan pertambahan umur maka produksi saliva, yang dapat membantu penetralan pH pada esofagus berkurang sehingga tingkat keparahan GERD dapat meningkat. Jenis kelamin dan genetik tidak berpengaruh signifikan terhadap GERD.

Faktor resiko GERD adalah kondisi fisiologis/penyakit tertentu, seperti tukak lambung, hiatal hernia, obesitas, kanker, asma, alergi terhadap makanan tertentu, dan luka pada dada (chest trauma). Sebagai contoh, pada pasien tukak lambung terjadi peningkatan jumlah asam lambung maka semakin besar kemungkinan asam lambung untuk mengiritasi mukosa esofagus dan LES.

PATOFISIOLOGI
Refluks gastroesofageal dikaitkan dengan cacat tekanan atau fungsi dari sfinkter esofageal bawah (lower esophageal sphincter/LES). Sfinkter secara normal berada pada kondisi tonik (berkontraksi) untuk mencegah refluks materi lambung dari perut, dan berelaksasi saat menelan untuk membuka jalan makanan ke dalam perut. Penurunan tekanan LES dapat disebabkan oleh :
(a) relaksasi sementara LES secara spontan
(b) peningkatan sementara tekanan intraabdominal
(c) LES atonik.

TANDA DAN GEJALA
Gejala klinis GERD digolongkan menjadi 3 macam, yaitu gejala tipikal, gejala atipikal, dan gejala alarm.
1.  Gejala tipikal (typical symptom)
Merupakan gejala yang umum diderita oleh pasien GERD, yaitu: heart burn, belching (sendawa), dan regurgitasi (muntah)
2. Gejala atipikal (atypical symptom)
Merupakan gejala yang terjadi di luar esophagus dan cenderung mirip dengan gejala penyakit lain. Contohnya separuh dari kelompok pasien yang sakit dada dengan elektrokardiogram normal ternyata mengidap GERD, dan  separuh dari penderita asma ternyata mengidap GERD. Kadang hanya gejala ini yang muncul sehingga sulit untuk mendeteksi GERD dari gejala ini. Contoh gejala : asma nonalergi, batuk kronis, faringitis, sakit dada, dan erosi gigi.
3.  Gejala alarm (alarm symptom)
Merupakan gejala yang menunjukkan GERD yang berkepanjangan dan kemungkinan sudah mengalami komplikasi. Disebabkan oleh refluks berulang yang berkepanjangan. Contoh gejala alarm: sakit berkelanjutan, disfagia (kehilangan nafsu makan), penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, tersedak.
Penting untuk diperhatikan bahwa keparahan gejala tidak selalu berkaitan dengan keparahan esofagitis, tetapi berkaitan dengan durasi reflux. Pasien dengan penyakit yang nonerosif dapat menunjukkan gejala yang sama dengan pasien yang secara endoskopi menunjukkan adanya erosi esophagus.

DIAGNOSIS
Endoskopi tidak perlu dilakukan pada pasien yang mengalami gejala tipikal, terutama jika pasien merespon baik terhadap pengobatan GERD. Endoskopi dilakukan pada pasien yang tidak merespon terapi, pasien yang mengalami gejala alarm, atau pasien yang mengalami gejala GERD terus menerus. Endoskopi dilakukan untuk melihat lapisan mukosa pada esophagus, sehingga dapat diketahui tingkat keparahan penyakit (erosif atau nonerosif) dan kemungkinan komplikasi yang telah terjadi.

TERAPI
Terapi GERD ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala-gejala pasien,  mengurangi frekuensi atau kekambuhan dan durasi refluks esofageal, mempercepat penyembuhan mukosa yang terluka, dan  mencegah berkembangnya komplikasi.
Terapi diarahkan pada peningkatan mekanisme pertahanan yang mencegah refluks dan / atau mengurangi faktor-faktor yang memperburuk agresifitas refluks atau kerusakan mukosa. Secara spesifik, yaitu:
1.Mengurangi keasaman dari refluksat.
2.Menurunkan volume lambung yang tersedia untuk direfluks.
3.Meningkatkan pengosongan lambung.
4.Meningkatkan tekanan LES.
5.Meningkatkan bersihan asam esofagus.
6.Melindungi mukosa esophagus.
Terapi GERD dikategorikan dalam beberapa fase, yaitu:
Fase I: mengubah gaya hidup dan dianjurkan terapi dengan menggunakan antasida dan/atau OTC antagonis reseptor H2 (H2RA) atau penghambat pompa proton (PPI).
Fase II: intervensi farmakologi terutama dengan obat penekan dosis tinggi.
Fase III: terpai intervensional (pembedahan antirefluks atau terapi endoluminal).

TERAPI NON FARMAKOLOGI
1.  Modifikasi Gaya Hidup
•Mengangkat kepala saat tidur (meningkatkan bersihan esofageal). Gunakan penyangga 6-10 inchi di bawah kepala. Tidur pada kasur busa.
•Menghindari makanan yang dapat menurunkan tekanan LES (lemak, coklat, kopi, kola, teh bawang putih, bawang merah, cabe, alkohol, karminativ (pepermint, dan spearmint))
•Menghindari makanan yang secara langsung mengiritasi mukosa esofagus (makanan pedas, jus jeruk, jus tomat dan kopi)
•Makan makanan yang tinggi protein (meningkatkan tekanan LES)
•Makan sedikit dan menghindari tidur segera setelah makan (jika mungkin 3 jam) (menurunkan volume lambung)
•Penurunan berat badan (mengurangi gejala)
•Berhenti merokok (menurunkan relaksasi spontan sfingter esofagus).
•Menghindari minum alkohol (meningkatkan amplitudo sfinter esofagus, gelombang peristaltik dan frekuensi kontraksi).
•Menghindari pakai pakaian yang ketat.
•Menghentikan, jika mungkin, penggunaan obat-obat yang dapat menurunkan tekanan LES (Antikolinergik, barbiturat, benzodiazepin (misalnya diazepam), kafein, penghambat kanal kalsium dihidropiridin, dopamin, estrogen, etanol, isoproterenol, narkotik (meperidin, morfin), nikotin (merokok) nitrat, fentolamin, progesteron dan teofilin).
•Menghentikan, jika mungkin, penggunaan obat-obat yang dapat mengiritasi secara langsung mukosa esofagus (tetrasiklin, quinidin, KCl, garam besi, aspirin, AINS dan alendronat).
2.  Pendekatan Intervensi
Pembedahan Antirefluks
Intervensi bedah adalah alternatif pilihan bagi pasien GERD yang terdokumentasi dengan baik. Tujuan pembedahan antirefluks adalah untuk menegakkan kembali penghalang antirefluks, yaitu penempatan ulang LES, dan untuk menutup semua kerusakan hiatus terkait. Operasi ini harus dipertimbangkan pada pasien yang
•gagal untuk merespon pengobatan farmakologi;
•memilih untuk operasi  walaupun pengobatan sukses karena pertimbangan gaya hidup, termasuk usia, waktu, atau biaya obat-obatan;
•memiliki komplikasi GERD (Barret’s Esophagus/BE, strictures, atau esofagitis kelas 3 atau 4); atau
•mempunyai gejala tidak khas dan terdokumentasikan mengalami refluks pada monitoring pH 24-jam.
Terapi Endoluminal
Beberapa pendekatan endoluminal baru untuk pengelolaan GERD baru saja dikembangkan. Teknik-teknik ini meliputi endoscopic gastroplastic plication, aplikasi endoluminal radiofrequency heat energy (prosedur Stretta), dan injeksi endoskopik biopolimer yang dikenal sebagai Enteryx pada penghubung gastroesofageal.

TERAPI FARMAKOLOGI
1.  Antasida dan Produk Antasida-Asam Alginat
Digunakan untuk perawatan ringan GERD. Antasida efektif mengurangi gejala-gejala dalam waktu singkat, dan antasida sering digunakan bersamaan dengan terapi penekan asam lainnya. Pemeliharaan pH intragastrik di atas 4 dapat menurunkan aktivasi pepsinogen menjadi pepsin, sebuah enzim proteolitik. Netralisasi cairan lambung juga dapat mengarah pada peningkatan tekanan LES.
Produk antasid yang dikombinasikan dengan asam alginiat adalah agen penetral yang tidak ampuh dan tidak meningkatkan tekanan LES, namun membentuk larutan yang sangat kental yang mengapung di atas permukaan isi lambung. Larutan kental ini diperkirakan sebagai pelindung penghalang bagi kerongkongan terhadap refluks isi lambung dan  mengurangi frekuensi refluks.
2.  Penekanan Asam dengan Antagonis Reseptor H2 (simetidin, famotidin, nizatidin, dan ranitidin)
Terapi penekanan asam adalah pengobatan utama GERD. Antagonis reseptor H2 dalam dosis terbagi efektif dalam mengobati pasien GERD ringan hingga sedang.
Kemanjuran antagonis reseptor H2 dalam perawatan GERD sangat bervariasi dan sering lebih rendah dari yang diinginkan. Respons terhadap antagonis reseptor H2 tampaknya tergantung pada (a) keparahan penyakit, (b) regimen dosis yang digunakan, dan (c) durasi terapi.
3.  Proton Pump Inhibitor (PPI) (esomeprazol, lansoprazol, omeprazol, pantoprazol, dan rabeprazol)
PPI lebih unggul daripada antagonis reseptor H2 dalam mengobati pasien GERD sedang sampai parah. Ini tidak hanya pada pasien erosif esofagtis atau gejala komplikasi (BE atau striktur), tetapi juga pasien dengan GERD nonerosif yang mempunyai gejala sedang sampai parah. Kekambuhan umumnya terjadi dan terapi pemeliharaan jangka panjang umumnya diindikasikan.
PPI memblok sekresi asam lambung dengan menghambat H+/K+-triphosphatase adenosin lambung dalam sel parietal lambung. Ini menghasilkan efek antisekretori yang mendalam dan tahan lama yang mampu mempertahankan pH lambung di atas 4, bahkan selama lonjakan asam setelah makan.
PPI terdegradasi dalam lingkungan asam sehingga diformulasi dalam tablet atau kapsul pelepasan tertunda. Pasien harus diinstruksikan untuk meminum obat pada pagi hari, 15 sampai 30 menit sebelum sarapan untuk memaksimalkan efektivitas, karena obat ini hanya menghambat secara aktif sekresi pompa proton. Jika dosisnya dua kali sehari, dosis kedua harus diberikan sekitar 10 hingga 12 jam setelah dosis pagi hari dan sebelum makan atau makan makanan ringan.
4.  Agen Promotilitas
Khasiat dari agen prokinetik cisaprid, metoklopramid, dan bethanechol telah dievaluasi dalam pengobatan GERD. Cisapride memiliki khasiat yang sebanding dengan antagonis reseptor H2 dalam mengobati pasien esofagitis ringan, tetapi cisaprid tidak lagi tersedia untuk penggunaan rutin karena efek aritmia yang mengancam jiwa bila dikombinasikan dengan obat-obatan tertentu dan penyakit lainnya.
Metoklopramid, antagonis dopamin, meningkatkan tekanan LES, dan mempercepat pengosongan lambung pada pasien GERD. Tidak seperti cisapride, metoklopramid tidak memperbaiki bersihan esofagus. Metoklopramid dapat meredakan gejala GERD tetapi belum ada data substantial yang menyatakan bahwa obat ini dapat memperbaiki kerusakan esofagus.
Agen prokinetik juga telah digunakan untuk terapi kombinasi dengan antagonis H2-reseptor. Kombinasi dilakukan pada pasien GERD yang telah diketahui atau diduga adanya gangguan motilitas, atau pada pasien yang gagal pada pengobatan dengan penghambat pompa proton dosis tinggi.
5.  Protektan Mukosa
Sucralfat, garam aluminium dari sukrosa oktasulfat yang tidak terserap, mempunyai manfaat terbatas pada terapi GERD. Obat ini mempunyai laju pengobatan yang sama seperti antagonis reseptor H2 pada pasien esofagitis ringan tapi kurang efektif dari pada antagonis reseptor H2 dosis tinggi pada pasien dengan esofagitis refrakter. Berdasarkan data yang ada, sukralfat tidak direkomendasikan untuk terapi.
1
Add a comment...
Story
Tagline
being grateful all the time
Introduction
..by the grace of God i am what i am,.. yet not i, but the grace of God which was with me.
Basic Information
Gender
Female
Work
Occupation
studying